The Riddle

The Riddle
02. Teror


__ADS_3

Mungkin setiap pagi tidak tentu cuacanya cerah, seperti halnya pagi ini, baru jam 05:21 hujan mulai turun dan membasahi tanah. Memaksa para pengendara sepeda motor harus memakai jas hujan saat ingin bepergian.


Berani tidak berani mereka harus menerobos derasnya hujan demi sampai ke tempat tujuan, tak menggoyahkan niat mereka untuk bepergian.


"Ck, kenapa harus hujan sih ajg, bolos aja kali ya, tapi nanti gimana kalo gak naik kelas coba? Bodo amat" kata Malvin saat membuka tirai kamar nya yang memperlihatkan awan mendung dan rintik hujan mulai deras.


"Malvin, udah jam 6 kok belum siap-siap ayo buruan nanti telat" kata sang ibu mengetuk pintu kamar sang anak.


"Ya Bu" balas Malvin malas, dia sudah berniat bolos tapi ibunya memaksa, yaudah mau gimana lagi?


Malvin berangkat dan pulang pakai motor, walau dia anak berkecukupan keluarga mereka hanya mempunyai satu unit mobil yang setiap hari dipakai sang ayah untuk bekerja.


"Ayah udah berangkat?" Tanya Malvin kepada sang ibu.


"Udah dari tadi, buruan siap-siap nanti telat" balas sang ibu acuh.


Mau tak mau dia harus menuruti perintah sang ibu, walau ya sangat malas untuk meniatkan pergi ke sekolah.


(⌐■-■)


Sedangkan yang sudah berada di sekolah sudah siap menanti, ternyata banyak juga siswa-siswi yang mempunyai niat ke sekolah di cuaca penghujan seperti ini.


"Zzzz... Dingin bangsat, Wuh..." Gumam Kenan sembari memeluk tubuhnya sendiri.


"Lah lu gak bawa jaket? Pantes aja kedinginan" kata Dion.


"Enggak, soalnya gimana ya... Isi tas gue udah penuh nanti kalo diisi jaket malah tambah penuh" balas Kenan dengan polosnya.


"Ck, goblok" lirih Ekanta sambil menatap layar ponselnya.


Bukan apa-apa Ekanta berada bersama mereka, tapi karena teman-temannya belum ada yang datang. Sedangkan yang bersamanya Kenan dan Dion.


"Lu kenapa disini? Kenapa gak sama temen Lo se circle hah? Ganggu aja" sewot Dion.


"Terserah gue lah, kenapa Lo ngatur-ngatur hah? Masalah?" Balas Ekanta tak kalah sewot.


"Dion, udah heh.." lerai Kenan dengan suara pelan sambil menghadang Dion agar tak melakukan hal yang kelewatan.


"Dasar aneh" kata Ekanta lalu melenggang pergi keluar.


Ekanta sifatnya keras kepala, cuek, dan mudah emosi, jadi kalau sedikit saja dia terpancing maka akan susah di lerai.


Sedangkan Dion anaknya suka berantem, pemarah dan gak suka kalo ada yang ngejek dia ataupun teman-temannya, dan ga segan-segan buat berkelahi.

__ADS_1


Kenan anaknya kalem cuman agak aneh, unik dan konyol, sering dia diangggap gila karena kepribadian spesial yang dia miliki.


…ᘛ⁐̤ᕐᐷ


Okey, mungkin semua siswa-siswi sudah pada berdatangan karena sudah jam 8, dan sudah waktunya untuk memulai pembelajaran jam pertama.


Tidak ada yang janggal sampai jam pertama selesai.


"Malv, lu liat Ekanta gak sih? Tadi dia kan izin ke toilet tapi sampe sekarang jam pertama selesai belum balik juga, kira-kira kemana tuh bocah" tanya Hanan kepada Malvin.


"Halah palingan juga mampir ke kantin, orang kegitu anaknya" balas Malvin acuh.


"Masa? Gue tadi abis dari kantin ganemu tuh keberadaan nya" ucap Hanan.


"Lo abis dari kantin depan atau belakang? Biasanya tuh bocah nongki di kantin belakang" balas Malvin masih acuh.


"Em mungkin. Eh lu pernah liat si Jian nggak sih? Udah hampir 2 hari gue gak liat dia masuk sekolah" ujar Hanan.


"Gatau"


"Hah... Lu kalo diajak bicara gaada serius-serius nya, gue mau cari si Eka" kata Hanan lalu pergi.


Sedang asik dengan gamenya, Malvin tidak menghiraukan sekitarnya, dia seorang diri didalam kelas dan hanya ditemani ponsel dan minuman soda. Keheningan tak berlangsung lama karena ia mendapati sepasang mata tengah mengintip dari ujung jendela.


Prang...


"AJG... Bngst.. apaan sih!" Kaget Malvin sampai ponselnya terjatuh ke lantai.


Apa yang ia temukan? Sebuah batu yang dibalut kertas dan ditali dengan tali rami. Sangat mencurigakan.


Tak ingin mati penasaran, ia pun menghampiri benda yang dilempar dari luar.


Sebelum ia membuka benda di lantai, ia terlebih dahulu memeriksa luar jendela yang menjadi tempat seseorang tadi melempar batu kearahnya.


Tidak ada siapapun, walaupun ada pasti itu tak lepas dari orang-orang yang berada di lingkungan sekolah. Namun siapa?


"Ck, gimana kalo gue yang disalahin karena kacanya pecah? Mending gue pergi dari sini" gumam Malvin lalu menutup kaca yang pecah tadi dengan gorden dan membawa batu yang dilemparkan tadi ke toilet.


ಠ ل͟ ಠ


"Eka, lu... Kok pucat begitu sih? Sakit?" Tanya Gion kepada Eka yang ia temui di toilet belakang tengah termenung dengan pandangan kosong dan wajah pucat pasi.


Tak menjawab, Eka hanya menggelengkan kepalanya seiring Gion bertanya hal yang menurutnya tidak sesuai dan akan menggangguki jika sesuai dengan apa yang sesuai.

__ADS_1


"Ayo gue anterin ke UKS" ajak Gion, namun lagi-lagi Eka menolak.


"Lu bisa cerita gak sama apa yang Lo alami? Siapa tau gue bisa bantu" kata Gion.


"E-enggak" balas Eka terbata-bata.


"Kenap-"


Drttt....


Karena ponselnya menerima panggilan, Gion pun langsung mengeluarkan nya dari saku dan mengangkat nya.


"Halo, Jian tumben Lo telfon gue ada apa?"


"*Gue gak tahu harus gimana tapi gue sekarang ada di toilet setelah ada orang aneh pake Hoodie hitam bawa pisau ngejar gue, tolongin gue, gue terjebak disini*"


"Hah?! Yang bener aja?"


"*Iyaa, buruan kesini, toilet belakang*"


Eka yang tadinya hanya menatap kosong kini kembali ketakutan. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Eka, lu mau ikut atau disini? Atau gue panggilin Kenan buat nemenin Lo?" Tanya Gion.


"G-gue disini, panggil Kenan buruan.." balas Eka.


"Yaudah bentar biar gue chat dia dulu" kata Gion.


"Gi, Jian bilang ada orang aneh pake Hoodie hitam bawa pisau ngejar kan? Gue tadi liat dia ada di belakang gedung lagi ngintip-ngintip, Untung aja dia gak liat gue. Meski begitu gue tetep aja takut" jelas Eka.


"Kalo menurut Lo itu siapa? Lo liat gak muka nya?" Tanya Gion ingin memastikan.


"Sayangnya dia pake masker jadi gue gak bisa liat wajahnya, Hoodie nya juga nutupin kepala" balas Eka.


"Kalo dia sampe bawa pisau segala pasti dia orang bahaya, tapi pasti masih anak sini" kata Gion.


"Iya, itu bikin gue ketakutan sampe kayak gini, pasti sekarang juga Jian lagi ngerasain hal sama kayak gue tadi. Bukannya gamau nolong tapi gue juga takut, yagimana ga takut coba orang dia bawa pisau" jelas Eka.


"Hi everybody" sambut Kenan dari belakang yang membuat keduanya tersentak kaget.


"Ken, Lo temenin Eka disini gue ada janji" kata Gion lalu pergi dari sana dengan berlari.


"Ken, sejak kapan Lo punya Hoodie hitam?" Tanya Eka yang hanya menundukkan kepalanya, enggan menatap teman disampingnya. Melainkan Kenan hanya tersenyum canggung.

__ADS_1


__ADS_2