The Riddle

The Riddle
10. Someone behind the tree


__ADS_3

Kini semuanya sudah berkumpul di rumah Malvin yang menjadi tempat tujuan mereka. Saat pertama kali masuk pekarangan rumah sudah disambut dengan bendera kuning, serta banyak orang yang mungkin adalah tetangga dan kerabat korban.


Lima pemuda tersebut masuk namun tidak mendapati keberadaan Malvin, entah dimana ia berada. Dua jasat yang ditutup kain putih yang sudah di kelilingi orang-orang.


"Permisi, Malvin nya kemana ya?" Tanya Hanan sopan kepada seorang wanita paruh baya tersebut.


"Dia masih di kamar, kata tantenya sih gak berani keluar" balas wanita yang ditanyai Hanan.


"Kita boleh masuk? Kita temen-temennya Malvin" tanya Hanan kembali dan mendapat anggukan dari wanita tersebut.


"Permisi, Malvin" ucap Gion dengan nada lirih sembari mengetuk pintu kamar Malvin.


Setelah ia mengetuk pintu kurang lebih tiga kali, baru ia merasakan derap langkah kaki yang menuju pintu.


"Iya, dia lagi tidur" balas pemuda didalam, bukan Malvin namun Abang nya.


"O-oh oke, kita temen-temennya Malvin, aku Gion" balas Gion lalu melanjutkan dengan perkenalan.


"Iya, gue Arsena atau panggil aja Arsen, kakak keponakan nya Malvin. Oh ya bicaranya formal aja, gak kebiasaan gue" balas nya yang bernama Arsen tersebut.


"Lo gak ikut ke ruang tengah?" Pertanyaan nyalang terlontar dari bibir Kenan, sangat tidak beradab, mentang-mentang disuruh bicara formal malah nyalang.


"Enggak, soalnya Malvin nanti kebangun dan bakal nangis kalo sendirian, dia masih syok" balas Arsen santai, tak mengindahkan bahasa yang dipakai Kenan untuk bertanya, menurutnya itu sudah biasa.


"Yaudah kak, kita mau gabung sama yang lain. Eh kak, tapi nanti Malvin ikut ke pemakaman gak? Secara kan ini kali terakhir bertemu?" Kata Jian.


"Pasti ikut, nanti bakal gue bangunin kalo udah waktunya" balas Arsen.


"Yaudah kak" sahut Jian lalu menggiring keempat temannya itu ke ruang tengah dimana orang-orang sudah berkumpul disana.


/╲/\╭(•‿•)╮/\╱


"Malv bangun, mau ikut ke rumah terakhir nya bunda gak?" Tanya Arsen sembari menggoyangkan tubuh sang adik rada kencang.


"Emmm... Gamau... Gamau liat mereka..." Rengek Malvin tak mau membuka mata.

__ADS_1


"Heh ayoo... Ditinggal loh nanti" goda Arsen.


"Malvin gak tega... Gak mau nangis lagi... Mataku udah bengkak"Malvin kembali merengek.


"Yakin deck? Nanti pas acara udah selesai gak bisa liat lagi loh. Gue tahu Lo kuat dan gak nangis, Lo kan Malvin" ujar Arsen dengan memberi semangat kepada adiknya ini.


"Dih... Oke gue mau, tapi pake kacamata hitam ya, gue gamau muka bengkak gue terekspos" sahut Malvin lalu bangkit dari tempat tidur nya, meraih sisir dan merapikan rambutnya lalu megambil kacamata hitam miliknya.


"Beeh.. keren banget adek gua... Udah ayok keburu ditinggal" kata Arsen lalu menggiring sang adik luar kamar.


Semua pasang mata tertuju ke orang yang baru saja keluar kamar dengan kacamata hitam nya, yaelah siapa sih yang gak jadi tontonan kalo tampilannya paling mencolok?


"Malv..." Lirih Kenan menyuruh Malvin untuk keluar dari rumah karena mereka sudah akan mulai berjalan, menuju pemakaman.


Yang dimaksud pun menggubris dan berlari menuju gerombolan orang yang lima diantaranya adalah sahabat nya. Bang Arsen sampe ditinggal saking senengnya Malvin ketika temen-temennya tak diundang tapi Dateng, rasanya beuh... Kayak dapet sahabat yang pengertian level hard.


Diawali dengan mebakar kelapa tua didepan keranda sebelum berangkat dilanjut dengan berdoa sebelum berangkat.


"Malv, yang kuat ya, semua yang ada di dunia itu gaada yang abadi, kita, gue dan semua yang hidup pasti akan mati" kata Hanan sembari merangkul pundak Malvin.


"Maaf. Oh ya, Malv, Lo tau sesuatu gak sih sama kejanggalan nya?" Ujar Kenan.


"Kejanggalan? Emang gue pernah cerita ke lo-lo pada? Kalian tau apa?" Balas Malvin kembali bertanya, dengan tatapan tajam ke Kenan.


"Kan mereka ketimpa musibah, nah ada kejanggalan gak sama kejadian itu" jelas Kenan.


"Gue pikir iya, soalnya aneh aja gitu, ayah gue kalo bawa mobil itu santai dan gak ceroboh, tiba-tiba dapet kabar gitu ya kaget lah gue" balas Malvin emosional.


"Emm, gue mau tanya. Kemaren malem kan gue lagi rebahan dikamar sambil main hp, ada yang lempar batu kerikil tapi anehnya bisa mecahin kaca jendela gue, ada kertasnya tulisannya..." Kata Jian seraya mengingat-ingat.


"Apaan? Awas aja lupa, gue gaplok Lo pake batu" kata Kenan yang dirundung rasa penasaran malah digantung.


"Heh udah jangan berisik, bentar lagi pemakaman udah mulai" bisik Hanan kepada teman-temannya agar diam.


Tak sampai pelaksanaan dimulai, suara dering telepon dari salah satu diantara mereka mengagetkan mereka yang tengah serius dengan acara.

__ADS_1


"Hehe, maap, gue angkat duluan ya" kekeh Gion lalu melenggang pergi menuju bawah pohon rindang di sekitar pemakaman.


"Iya halo, ada apa?"


*Nak, bisa pulang sebentar, ini ada acara mendadak ke rumah kakek mu jadi kamu harus pulang dan ikut, ini acara keluarga dan kamu udah tahu kan kalo acara keluarga gak boleh terlewat dari semua anggota keluarga? Udah sekarang mending pamitan*


"Bun, tapi gak enak kalo pamitan masalahnya udah mau mulai masa harus pamit pulang?"


*Gapapa, jelasin semuanya ke temen kamu*


"Iya deh, Gion bakal pulang Bun"


*Tut..Tut..*


"Ehm, guys maap soalnya gue ada acara keluarga mendadak, gue mau pamit pulang duluan ya, bunda gue udah nunggu dirumah" kata Gion menghampiri teman-temannya.


"Acara keluarga ya, gapapa juga sih kalo penting ya bisa Lo tinggal. Gapapa kan Malv?" Ucap Jian seraya menoleh ke Malvin.


"Ya gapapa, Lo juga kan punya kesibukan yaudah lah, toh masih ada yang lain" balas Malvin dengan senyuman yang ia tunjukkan.


"Yaudah, bye" sahut Gion lalu berlari ke arah belakang, kelihatannya dia sedang buru-buru.


Seusai acara pemakaman selesai, orang-orang sudah mulai berhamburan pulang, tersisa 5 orang pemuda yang masih setia menemani Malvin berdoa, oh ya jangan lupa Arsen.


Kenan menyenggol lengan Jian dengan kuat sampai Jian hampir oleng ke kanan kalau saja ia tidak seimbang. "Lo kenapa sih? Aneh banget"


"Gue gabut, pengen pulang" bisiknya.


"Tunggu bentar"


"Pesan masuk, 'Apa kamu sadar kalau salah satu temanmu pergi?', hah?"


Melihat se keliling dan... Ya... Hanya tersisa 4 orang disana.


Seperti ada yang janggal, sepasang mata sedang m ngintip dari balik pohon.

__ADS_1


Ia seperti mengucapkan sesuatu, terlihat dari bibirnya yang berbicara namun tidak terdengar seperti, '*kau selanjutnya*'


__ADS_2