The Riddle

The Riddle
04. Behind the darkness


__ADS_3

Hari sudah mulai sore, mereka yang awalnya mendapat jadwal pulang siang harus mengulur waktu demi otopsi dan permasalahan jenazah siswi tadi.


Kedatangan polisi tadi sangat membuat anak-anak penasaran. Namun begitu tetap saja jenazah tidak boleh dilihat karena kondisinya mengenaskan.


Bagaimana tidak? Ia terjatuh dari lantai 4 yang membuatnya harus kehilangan nyawa dengan kepala pecah dan juga patah tulang dimana-mana. Bagaimana reaksi keluarga nya?


"Jian, gue mau minta maaf perihal tadi gak bisa nolong Lo" kata Malvin menghampiri Jian.


"Buat apa?" Tanya Jian bingung.


"Gue tadi ada di toilet belakang dan liat Lo dikejar sama orang misterius tadi, cuman gue langsung sembunyi disalah satu bilik" jelas Malvin.


"Berarti Lo ada disana juga tadi?" Tanya Jian memastikan.


"Iya, gue disitu buat baca tulisan yang dilempar tadi, gue takut makanya gue milih disana" balas Malvin.


"Yaudah, santai aja" kata Jian langsung merangkul pundak Malvin.


"Jian, coba lu ceritain gimana ceritanya Lo bisa tahu perihal hal ini?" Sambung Jian dengan pertanyaan.


"Lo mau liat?" Ajak Malvin dengan senyuman yang ia tunjukkan.


"Dikelas Lo?" Balas Jian dengan pertanyaan juga.


"Iya, semoga aja belom dibuang, ayok ke kelas gue" balas Malvin lalu memutar arah ke arah kelasnya.


"Emang apa yang buat Lo panik sampe segitunya tadi? Tadi tuh muka Lo pucet banget gue liat sampe gue sangka sakit" tanya Jian diperjalanan agar tak hening dan juga meloloskan pertanyaan yang sudah lama terserat setelah kejadian tadi pagi.

__ADS_1


"Karena orang misterius tadi lemparnya ke jendela kaca dan sampe pecah, posisi gue ada di dalem kelas sendirian setelah Hanan pergi mau cari si Eka. Gue takutnya ada anak lain atau bahkan ada guru yang lewat dan salah paham makanya gue buru-buru keluar kelas dan mutusin buat buka dan ngumpet di toilet belakang yang emang posisinya berada di belakang" jelas Malvin panjang lebar.


"Lu tahu muka orangnya? Atau ciri-ciri nya gitu?" Tanya Jian.


"Enggak, dia serba tertutup tapi dia sempet ngintip gue dari luar kelas, dari segi matanya gue gak kenal solnya jaraknya agak jauh" balas Malvin.


Singkat cerita mereka berdua sudah sampai di kelasnya Malvin jadi mereka sudah mulai menggeledah seisi kelas guna mencari barang yang mereka cari, yaitu sebuah batu dan tali rami.


"Ji, tolong nyalain lampu nya, gelap" suruh Malvin yang mulai merasa penerangan di ruangan tersebut mulai gelap.


"Dimana saklar nya?! Kagak temu anjr" kata Jian kebingungan namun menggunakan nada tinggi untuk bertanya.


"Ada di sebelah kiri papan tulis, cari aja disitu ada dan kalo ada tekan bagian bawah" ujar Malvin.


"Yang mana woe?!" Tanya Jian mulai emosi pasalnya belum juga ketemu.


Cetak...


"Apa ini? Lo kagak pernah bener kalo disuruh-suruh, kesel gue" kata Malvin setelah lampu berhasil dinyalakan.


BRAKK...


"Woy siapa tuh?!" Panik Jian setelah mendengar suara benda terjatuh.


"Tikus mungkin" balas Malvin santai dan langsung berbalik.


Wah ternyata mereka tidak hanya berdua.

__ADS_1


"Aaaaaaa..."


◖⁠⚆⁠ᴥ⁠⚆⁠◗


"Hanan, besok kira-kira masuk sekolah gak ya? Tadi kan sempet ada kejadian siswa jatoh dari lantai 4, gue harap besok libur, gue tuh takut sama darah gue phobia" kata Kenan sembari bersandar di pundak Hanan.


"Kayaknya sih masih masuk soalnya urusannya udah kelar hari ini jadi besok mungkin bakalan masuk kayak biasa" balas Hanan.


"Gue beneran penasaran deh sama Aleena tadi, apa sangkutannya gitu sama kita, dan apa penyebab kematian nya" ujar Kenan masih bersandar di pundak Hanan.


"Mungkin yang dimaksud korban kedua udah terselesaikan dengan Aleena salah satu korbannya" kata Hanan.


"Tapi Aleena bukan temen kita" sahut Kenan sembari bangkit dari senderannya.


"Kok lu gitu? Dia pacarnya Fanza tapi kita gatau, bukannya kita sempet deket juga sama Aleena karena Fanza sering bawa dia ikut sama kita?" Ujar Hanan.


"Hm, terserah lu dah gue gak peduli" balas Kenan dengan cuek lalu mengambil ponselnya dari atas meja dan memainkannya.


"Gue juga sempet naruh curiga sama Aleena dan Fanza eh beneran mereka pacaran" kata Hanan.


"Mereka itu gak cocok" sahut Kenan dengan julid.


"Udah ah jangan ngomongin orang yang udah meninggal, gak baik" ucap Hanan.


"Han, Kayaknya gue tahu sesuatu, kenapa bisa Aleena yang udah lost kontak dari kita bisa terbunuh, karena dia saksi pembunuhnya si Fanza ditempat kejadian. Dan perihal alasan kematian Aleena mungkin dia di dorong sama seseorang dari lantai 4" jelas Kenan.


"Lo dapat kesimpulan dari mana?" Tanya Hanan curiga.

__ADS_1


__ADS_2