
Bab1
Tatkala hampir berusia tiga belas tahun, tangan abangku, Jem,
patah di bagian siku. Setelah sembuh, dan ketakutan Jem bahwa dia tak akan pernah bisa bermain football menghilang, dia jarang menyadari cederanya. Lengan kirinya sedikit lebih pendek daripada yang kanan; saat berdiri atau berjalan, punggung tangannya tegak lurus dengan badan, jempolnya sejajar dengan paha. Dia sama sekali tak peduli, sepanjang bisa mengoper dan menendang.
Setelah cukup banyak waktu berlalu sehingga kami bisa menengok ke masa lalu, kami kadang mengobrolkan kejadian- kejadian yang mengarah pada kecelakaan tersebut. Aku bersikeras bahwa keluarga Ewell-lah yang memulai semuanya, tetapi Jem, yang lebih tua empat tahun dariku, mengatakan bahwa rentetan masalah itu diawali jauh sebelumnya. Menurutnya, awal yang sebenarnya terjadi pada musim panas ketika Dill datang, saat Dill kali pertamanya memberi kami gagasan untuk memaksa Boo Radley keluar.
Aku berkata, jika Jem ingin mengambil sudut pandang yang lebih luas, masalahnya dimulai oleh Andrew Jackson. Andaikan Jenderal Jackson tidak menggiring suku Indian Creek menjauhi hulu sungai, Simon Finch tak akan pernah mendayung ke hulu Sungai Alabama. Lalu, di mana kami sekarang berada jika Simon Finch tidak melakukannya? Karena sudah terlalu besar untuk membereskan perselisihan melalui adu tinju, kami berkonsultasi kepada Atticus, ayah kami. Dia mengatakan bahwa kami berdua benar.
Sebagai orang Selatan, merupakan aib bagi sebagian anggota keluarga kami bahwa tak ada nenek moyang kami yang berperan di pihak mana pun dalam Pertempuran Hastings"pertempuran menentukan di Hasting, Inggris, pada 1066 antara Inggris dan Nor- mandia. Yang kami miliki hanyalah Simon Finch, apoteker pemasang jerat dari Cornwall yang kesalehannya hanya bisa dikalahkan oleh kekikirannya. Di Inggris, Simon kesal menyaksikan kaum Metodis diburu oleh saudara-saudara mereka yang lebih liberal. Dan karena Simon menganggap dirinya penganut Metodis, dia menempuh per-jalanan mengarungi Samudra Atlantik menuju Philadelphia, dari sana ke Jamaika, lalu ke Mobile, dan berakhir di Saint Stephens. Dengan mempertahankan ajaran John Wesley yang melarang terlalu banyak berkata-kata dalam jual-beli, Simon menghasilkan banyak uang dari mengobati orang. Namun, dia merasa khawatir kalau-kalau tergoda melakukan hal-hal yang bukan untuk kebesaran Tuhan, seperti memakai emas dan pakaian mewah. Jadi, setelah melupakan pandangan panutannya tersebut tentang perbudakan, Simon membeli tiga orang budak dan dengan bantuan mereka membangun kediaman di tepi Sungai Alabama sekitar enam puluh kilometer di atas Saint Stephens. Hanya sekali Simon kembali ke Saint Stephens untuk mencari istri, dan bersamanya menurunkan anak cucu yang kebanyakan perempuan. Simon hidup sampai usia tua dan mati meninggalkan kekayaan yang melimpah.
Menurut kebiasaan, kaum lelaki dalam keluarga Finch menetap di rumah yang dibangun Simon, Finch"s Landing, dan mencari nafkah dari menanam kapas. Segalanya tersedia di tempat itu: sekalipun tampak sederhana dibandingkan perkebunan-perke- bunan mewah di sekitarnya, Landing menghasilkan semua yang diperlukan untuk bertahan hidup kecuali es, tepung gandum, dan pakaian, yang dipasok oleh kapal sungai dari Mobile.
Simon mungkin akan memandang perseteruan antara Amerika Utara dan Amerika Selatan dengan kemarahan tanpa daya, karena hal itu telah melucuti semua hak milik keturunannya, kecuali tanah. Namun, tradisi menetap di sana tetap tak berubah sampai jauh setelah pergantian abad ke-20 saat ayahku, Atticus Finch, berangkat ke Montgomery untuk belajar ilmu hukum, dan adik laki-lakinya ke Boston untuk belajar ilmu kedokteran. Saudari mereka, Alexan- dra, menjadi satu-satunya Finch yang tetap tinggal di Landing: dia menikahi lelaki pendiam yang menghabiskan sebagian besar waktu- nya berbaring di tempat tidur gantung di pinggir sungai sambil menduga-duga apakah tangkai pancingnya telah berhasil menang- kap ikan.
Setelah ayahku lulus ujian pengacara, dia kembali ke Maycomb dan memulai praktiknya. Maycomb, sekitar tiga puluh kilometer di sebelah timur Finch"s Landing, merupakan ibu kota Maycomb County. Kantor Atticus di gedung pengadilan hanya berisi gantungan topi, tempolong, papan dam, dan sebuah kitab Undang- Undang Alabama yang tak bernoda. Dua klien pertamanya adalah sepasang korban tiang gantungan terakhir di penjara Maycomb County. Atticus sudah mendesak mereka agar menerima kebaikan negara dengan mengaku Bersalah dalam pembunuhan tingkat dua, dan lolos dari kematian. Namun, mereka berdua adalah anggota keluarga Haverford, nama yang sepadan dengan dungu di May- comb County. Mereka membunuh seorang pandai besi terkemuka di Maycomb karena kesalahpahaman tentang kepemilikan seekor kuda, dengan sembrono melakukannya di depan tiga orang saksi. Bersikeras bahwa "keparat itu layak dibunuh" merupakan pem- belaan yang cukup baik bagi siapa pun. Mereka ngotot mengaku Tak Bersalah untuk pembunuhan tingkat satu. Jadi, tak banyak yang dapat dilakukan Atticus bagi kliennya selain menghadiri ekse- kusi mereka; peristiwa yang mungkin menjadi awal ketidaksukaan mendalam ayahku pada praktik hukum pidana.
Selama lima tahun pertamanya di Maycomb, Atticus mem- praktikkan penghematan berlebihan. Beberapa tahun setelahnya, dia menanamkan pendapatannya untuk pendidikan adiknya. John Hale Finch lebih muda sepuluh tahun dari ayahku, dan memilih belajar ilmu kedokteran pada masa kapas tak lagi berharga; namun setelah menyekolahkan Paman Jack, Atticus memperoleh penghasilan yang lumayan dari praktik hukumnya. Dia menyukai Maycomb, dia lahir dan besar di sana; dia kenal orang-orangnya, mereka kenal dia, dan karena Simon Finch yang produktif, Atticus bersaudara dengan hampir semua keluarga di kota itu melalui darah dan perkawinan.
Maycomb adalah sebuah kota tua yang kelelahan saat kali pertama aku mengenalnya. Saat musim hujan, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur merah; semak tumbuh di trotoar, gedung pengadilan melesak di alun-alun. Dahulu, cuaca terasa lebih panas; anjing hitam menderita pada siang musim panas; bagal kerempeng kepanasan yang menghela kereta Hoover mengibas-ngibas lalat dalam bayangan pohon ek di alun-alun. Kerah baju kaku kaum lelaki tampak lusuh pada pukul sembilan pagi. Kaum wanita mandi sebelum tengah hari, setelah tidur siang pukul tiga, dan saat senja tiba mereka menyerupai kue teh lembut yang berlapis keringat dan bedak wangi.
Pada masa itu, aktivitas dijalankan dengan lambat. Orang- orang melenggang melintasi alun-alun, menyeret kaki keluar-masuk toko-toko di sekitarnya, santai dalam mengerjakan apa pun. Satu hari terasa lebih panjang dari dua puluh empat jam. Tak ada ke- tergesaan karena tak ada tempat yang dituju, tak ada yang bisa dibeli, juga tak ada uang untuk membeli, dan tak ada yang patut dilihat di luar batas Maycomb County. Namun, pada masa itu, sebagian orang dihinggapi keoptimisan samar-samar: penduduk Maycomb County baru memahami bahwa tak ada yang perlu ditakutkan selain ketakutan itu sendiri.
Kami tinggal di jalan perumahan utama di kota"Atticus, Jem, dan aku, ditambah Calpurnia, koki kami. Aku dan Jem menganggap ayah kami lumayan: dia bermain bersama kami, membaca untuk kami, serta menghormati kami dengan tidak pernah mencampuri urusan kami.
Calpurnia beda lagi. Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang; dia menderita rabun jauh; matanya juling; tangannya selebar rangka tempat tidur dan dua kali lebih keras. Dia selalu mengusirku keluar dapur, bertanya mengapa aku tak bisa bersikap sebaik Jem padahal dia tahu bahwa Jem lebih tua dariku, serta memanggilku pulang saat aku belum ingin pulang. Perselisihan kami selalu hebat dan berat sebelah. Calpurnia selalu menang, terutama karena Atticus selalu berpihak padanya. Dia telah bersama kami semenjak
Jem dilahirkan, dan sepanjang ingatanku aku selalu merasakan penindasannya.
Ibu kami meninggal saat aku baru berumur dua tahun, jadi aku tak pernah merasa kehilangan. Dia berasal dari keluarga Graham di Montgomery; Atticus bertemu dengannya ketika dia dipilih sebagai anggota badan legislatif negara bagian untuk kali pertama- nya. Atticus separuh baya saat itu, ibu kami lima belas tahun lebih muda. Jem dilahirkan pada tahun pertama perkawinan mereka; empat tahun kemudian aku lahir, dan dua tahun kemudian ibu kami meninggal karena serangan jantung mendadak. Kata orang, penyakit keturunan. Aku tidak merindukannya, tetapi kupikir Jem merasa kehilangan dirinya. Dia mengingatnya dengan sangat jelas, terkadang, saat kami sedang bermain, dia menghela napas panjang, lalu mendadak meninggalkanku dan bermain sendiri di belakang garasi. Saat dia bertingkah seperti itu, aku tahu sebaiknya aku tidak mengganggunya.
Ketika aku hampir menginjak usia enam tahun dan Jem hampir sepuluh tahun, batas jarak bermain musim panas kami (jarak panggil Calpurnia) adalah rumah Mrs. Henry Lafayette Dubose dua rumah di sebelah utara rumah kami, serta Radley Place, tiga rumah di sebelah selatan rumah kami. Kami tak pernah tergoda untuk melanggarnya. Radley Place dihuni oleh makhluk tak dikenal yang gambarannya saja cukup untuk membuat kami menjaga kelakuan selama berhari-hari. Sementara itu, Mrs. Dubose benar-benar menyeramkan.
Pada musim panas itulah, Dill memasuki kehidupan kami.
Pagi-pagi sekali, ketika aku dan Jem mulai bermain di peka- rangan belakang, kami mendengar suara yang berasal dari petak sawi Miss Rachel Haverford, tetangga sebelah rumah kami. Kami mendekati pagar kawat untuk melihat kalau-kalau ada anak anjing"anjing rat terrier Miss Rachel sedang hamil tua"alih-alih kami menemukan seseorang sedang duduk, memandangi kami.
Ketika duduk, dia tampak tidak lebih tinggi daripada tanaman sawi. Kami menatapnya hingga dia berbicara:
"Hai."
"Hai juga," kata Jem ramah.
"Aku Charles Baker Harris," katanya. "Aku bisa membaca." "Terus kenapa?" kataku.
"Barangkali saja kau ingin tahu. Kalau ada yang perlu dibaca,
aku bisa ...."
"Umurmu berapa tahun?" tanya Jem, "empat setengah?"
"Hampir tujuh."
"Yah, pantas," kata Jem, menudingkan jempolnya ke arahku. "Scout ini sudah bisa baca sejak lahir, padahal sekolah juga belum. Untuk anak hampir tujuh tahun, kelihatannya kau kecil sekali."
"Aku kecil, tapi sudah tua," katanya.
Jem menyibakkan rambutnya supaya bisa melihat lebih baik. "Bagaimana kalau kau ke sini, Charles Baker Harris?" katanya. "Ya Tuhan, nama macam apa itu?"
"Tapi tidak lebih lucu dari namamu, kan? Bibi Rachel bilang, namamu Jeremy Atticus Finch."
Jem merengut. "Aku kan sudah besar, cocok pakai nama seperti itu," katanya. "Namamu lebih panjang dari badanmu. Taruhan, lebih panjang tiga puluh senti."
"Orang-orang memanggilku Dill," kata Dill, berkutat menyusup lewat kolong pagar.
"Lebih gampang lewat atas daripada lewat bawah," kataku. "Asalmu dari mana?"
__ADS_1
Dill berasal dari Meridian, Mississippi, sedang melewatkan musim panas bersama bibinya, Miss Rachel, dan akan melewatkan setiap musim panas di Maycomb mulai sekarang. Keluarganya berasal dari Maycomb County. Ibunya, yang bekerja untuk seorang
fotografer di Meridian, memasukkan foto Dill ke Lomba Anak Me- nawan dan memenangi lima dolar. Dia memberikannya kepada Dill, yang pergi ke bioskop dua puluh kali dengan uang itu.
"Di sini tak ada pemutaran film, kecuali film tentang Yesus di gedung pengadilan kadang-kadang," kata Jem. "Pernah nonton film yang bagus?"
Dill pernah menonton Dracula, suatu informasi baru yang menggerakkan Jem untuk mulai memandangnya dengan rasa hormat. "Ceritakan pada kami," katanya.
Dill makhluk ajaib. Dia mengenakan celana pendek linen biru yang dikancingkan pada kemejanya, rambutnya seputih salju dan menempel ke kepala seperti bulu bebek; dia setahun lebih tua dari- ku, tetapi aku menjulang di sisinya. Selagi dia menceritakan kisah tua itu, mata birunya meredup dan mencerah; tawanya mendadak dan riang; dia punya kebiasaan menarik jambul di tengah keningnya.
Ketika Dill menghancurkan Dracula menjadi abu, dan Jem berkata filmnya kedengarannya lebih seru daripada bukunya, aku bertanya kepada Dill, di mana ayahnya, "Kau belum cerita apa-apa tentang dia."
"Aku tidak punya."
"Sudah meninggal?"
"Tidak ...."
"Jadi kalau dia belum meninggal, kau pasti punya, kan?"
Pipi Dill merona dan Jem menyuruhku diam, tanda pasti bah- wa keberadaan Dill sudah diteliti dan dianggap bisa diterima. Semenjak itu, hari-hari musim panas kami selalu berakhir dengan kepuasan. Kegiatan yang selalu membuat kami senang adalah: memperbaiki rumah pohon kami yang terletak di antara dua pohon mindi raksasa di pekarangan belakang, meributkan segala hal, memainkan seluruh drama yang diangkat dari karya-karya Oliver Optic, Victor Appleton, dan Edgar Rice Burroughs. Dalam hal ini, kami beruntung ada Dill. Dia memainkan peran yang tadinya dipaksakan padaku"kera dalam Tarzan, Mr. Crabtree dalam The Rover Boys, Mr. Damon di Tom Swift. Demikianlah kami mengenal Dill sebagai Merlin kecil, yang kepalanya disesaki rencana nyentrik, keinginan aneh, dan khayalan ganjil.
Namun, pada akhir Agustus, repertoar kami sudah menjadi hambar akibat pengulangan yang tak terhitung, dan pada saat itulah Dill memberi kami gagasan untuk memaksa Boo Radley keluar.
Radley Place memesona Dill. Meskipun sudah ada peringatan dan penjelasan dari kami, tempat itu menyedotnya seperti bulan menarik air, tetapi dia hanya berani mendekatinya sebatas tiang lampu di tikungan, jarak yang aman dari gerbang Radley. Di sanalah dia berdiri, memeluk tiang besar, menatap dan bertanya-tanya.
Radley Place menjorok ke tikungan tak jauh dari rumah kami. Kalau berjalan ke selatan, kami akan berhadapan dengan berandanya; trotoar membelok dan memanjang di sisi peka- rangannya. Rumah itu rendah, dulunya berwarna putih dengan beranda depan yang luas dan daun jendela hijau, tetapi warna putihnya sudah lama menggelap menjadi sewarna dengan pe-karangan abu-abu batu di sekelilingnya. Genting yang dikeroposi hujan menjuntai dari tepian serambi; pohon ek menghalangi matahari. Sisa-sisa tiang pagar bagaikan orang mabuk menjaga halaman depan"halaman telantar yang tak terawat"yang banyak ditumbuhi semak-semak dan rumput liar.
Di dalam rumah itu, tinggal sesosok hantu jahat. Kata orang memang ada, tetapi aku dan Jem belum pernah melihatnya. Kata orang, dia keluar pada malam hari ketika bulan sedang tinggi, dan mengintip lewat jendela. Kalau bunga azalea membeku dalam cuaca dingin yang singkat, itu gara-gara dia mengembuskan napasnya pada bunga itu. Kejahatan kecil diam-diam di mana pun yang terjadi di Maycomb adalah ulahnya. Pernah kota kami diteror oleh serangkaian kejadian malam yang mengerikan: ayam dan hewan peliharaan ditemukan terpotong-potong; meskipun pelakunya adalah Crazy Addie, yang akhirnya menenggelamkan diri di Pusaran Barker, orang masih memelototi Radley Place, enggan membuang kecurigaan awal mereka. Orang Negro tak akan melewati Radley Place malam-malam, lebih baik melintas ke trotoar seberang dan bersiul sambil berjalan. Pekarangan sekolah Maycomb berbatasan dengan sisi belakang tanah Radley; dari kandang ayam Radley, pohon kacang pecan yang tinggi menggugurkan buahnya ke pekarangan sekolah, tetapi kacang-kacang itu bertebaran tak tersentuh oleh anak-anak. Kacang pecan Radley bisa mematikan. Bola bisbol yang terpukul masuk ke halaman Radley berarti hilang dan tak perlu dipertanyakan.
Keadaan menyedihkan rumah itu dimulai bertahun-tahun sebelum aku dan Jem lahir. Keluarga Radley, yang disambut baik di mana pun di kota, menutup diri; suatu kecenderungan yang tak termaafkan di Maycomb. Mereka tidak ke gereja"rekreasi utama Maycomb"tetapi beribadat di rumah; Mrs. Radley jarang, bahkan mungkin tak pernah, menyeberang jalan untuk rehat kopi pagi hari bersama para tetangganya, dan pastinya tak pernah bergabung dengan kelompok apa pun di gereja. Mr. Radley berjalan ke kota pada pukul 11.30 setiap siang dan kembali cepat-cepat pada pukul 12.00, kadang-kadang membawa kantong kertas cokelat yang oleh para tetangga diduga berisi belanjaan keluarga. Aku tak pernah tahu bagaimana Mr. Radley tua mencari nafkah"kata Jem, dia "membeli kapas", istilah sopan untuk menganggur"tetapi Mr. Radley dan istrinya sudah tinggal di sana bersama kedua putranya sepanjang ingatan siapa pun.
Daun pintu dan jendela rumah Radley tertutup pada hari Minggu, satu lagi hal yang asing bagi kebiasaan Maycomb: pintu hanya tertutup jika ada yang sakit atau cuaca dingin. Di antara semua hari, Minggu adalah hari untuk acara bertamu sore hari yang formal: perempuan mengenakan korset, lelaki mengenakan jas, anak-anak mengenakan sepatu. Akan tetapi, menaiki tangga depan Radley dan berseru, "Ha-i" pada Minggu sore adalah sesuatu yang tak pernah dilakukan tetangga mereka. Rumah Radley tak punya pintu kawat. Aku pernah bertanya kepada Atticus, apakah pintu itu pernah ada; Atticus bilang ya, tetapi sebelum aku lahir.
Menurut omongan para tetangga, ketika putra bungsu Radley masih belasan tahun, dia berkenalan dengan beberapa anggota keluarga Cunningham dari Old Sarum"suku besar dan mem- bingungkan yang tinggal di bagian utara county"dan mereka pun membentuk semacam geng di Maycomb. Tidak banyak yang mereka lakukan, tetapi cukup banyak untuk menjadi bahan omongan warga kota dan membuat mereka mendapatkan peringatan secara terbuka dari tiga mimbar: mereka nongkrong di tukang cukur; mereka naik bus ke Abbottsville pada hari Minggu dan pergi ke bioskop; mereka menghadiri acara dansa di Dew-Drop Inn & Fishing Camp, neraka judi di tepi sungai yang mengaliri county; mereka bereksperimen dengan wiski ilegal. Tak ada warga Maycomb yang cukup berani untuk memberi tahu Mr. Radley bahwa putranya salah memilih teman bergaul.
Hakim bertanya kepada Mr. Conner mengapa dia menyertakan tuntutan yang terakhir; Mr. Conner berkata mereka menyumpah begitu lantang, sehingga dia yakin setiap perempuan di Maycomb mendengar mereka. Sang hakim memutuskan untuk mengirim anak-anak itu ke sekolah kejuruan negeri; kadang-kadang, anak- anak dikirim ke tempat itu tanpa alasan selain memberi mereka makanan dan rumah yang layak: tempat itu bukan penjara dan bukan hal yang memalukan. Mr. Radley merasa sebaliknya. Jika hakim membebaskan Arthur, Mr. Radley akan memastikan pemuda itu tak akan membuat onar lagi. Karena tahu bahwa perkataan Mr. Radley bisa dipegang, hakim dengan senang hati membebaskan Arthur.
Anak-anak lain pergi ke sekolah kejuruan dan menerima pen- didikan menengah terbaik di negara bagian; salah seorang dari mereka bahkan dapat diterima di sekolah teknik terkemuka di Auburn. Pintu rumah Radley tertutup pada hari biasa maupun hari Minggu, dan putra Mr. Radley tak terlihat lagi selama lima belas tahun.
Namun, tibalah suatu hari, yang hampir terhapus dari ingatan Jem, ketika Boo Radley terdengar dan terlihat oleh beberapa orang, tetapi bukan oleh Jem. Kata Jem, Atticus tak pernah bicara banyak tentang keluarga Radley: ketika Jem menanyainya, satu-satunya jawaban Atticus adalah: pikirkan urusanmu sendiri dan biarkan keluarga Radley memikirkan urusan mereka, itu sepenuhnya hak mereka; tetapi ketika peristiwa itu terjadi, kata Jem, Atticus meng- geleng dan berkata, "Mm, mm, mm."
Jadi, Jem mendapatkan sebagian besar informasi dari Miss Stephanie Crawford, tetangga kami yang pemarah, yang mengaku tahu semua detail tentang peristiwa itu. Menurut Miss Stephanie, Boo sedang duduk di ruang tamu, menggunting beberapa artikel dari Maycomb Tribune untuk ditempelkan dalam klipingnya. Ayahnya memasuki ruangan. Ketika Mr. Radley lewat, Boo menghunjamkan gunting itu pada kaki orangtuanya, mencabutnya, mengelap gunting yang bernoda darah ke celananya, dan melanjutkan kegiatannya.
Mrs. Radley berlari menjerit-jerit ke jalanan, mengatakan bahwa Arthur sedang membantai mereka semua, tetapi ketika sheriff tiba, dia menemukan Boo masih duduk di ruang tamu, mengguntingi Tribune. Usianya tiga puluh tiga tahun saat itu.
Kata Miss Stephanie, Mr. Radley tua berkata, tak akan pernah ada anggota Radley yang masuk rumah sakit jiwa mana pun, ketika dia mendengar saran bahwa melewatkan satu musim di Tuscaloosa mungkin bisa membantu Boo. Boo tidak gila, dia hanya kadang- kadang tidak bisa menjaga kelakuan. Boo boleh dikurung, kata Mr. Radley mengalah, tetapi dia tetap bersikeras bahwa Boo tidak boleh dituntut: dia bukan kriminal. Sheriff tak tega memenjarakannya bersama orang Negro, jadi Boo dikurung di ruang bawah tanah gedung pengadilan.
Perpindahan Boo dari ruang bawah tanah kembali ke rumah hanya samar-samar diingat Jem. Kata Miss Stephanie Crawford, sebagian dewan kota berkata kepada Mr. Radley bahwa jika dia tidak menerima Boo kembali, Boo akan mati berlumut akibat udara yang lembap. Lagi pula, Boo tidak bisa selamanya hidup dibiayai pemerintah.
Tak ada yang tahu bentuk intimidasi yang digunakan Mr. Radley agar Boo tak keluar rumah, tetapi Jem menyimpulkan bahwa Radley merantainya ke tempat tidur hampir sepanjang waktu. Atticus berkata tidak, bukan seperti itu, ada cara-cara lain untuk menjauhkan seseorang dari orang lain.
Sesekali aku melihat Mrs. Radley membuka pintu depan, berjalan ke tepi beranda, menyirami bunga kananya. Namun, setiap hari aku dan Jem melihat Mr. Radley berjalan menuju dan kembali dari kota. Dia lelaki kurus yang tampak tangguh dengan mata tak berwarna, begitu tak berwarna sehingga tidak memantulkan cahaya. Tulang pipinya menonjol dan mulutnya lebar, dengan bibir atas tipis dan bibir bawah tebal. Kata Miss Stephanie Crawford, dia begitu lurus, sehingga dia hanya memandang sabda Tuhan sebagai satu-satunya hukum, dan kami percaya karena postur Mr. Radley memang lurus seperti tongkat.
Dia tak pernah berbicara kepada kami. Kalau dia lewat, kami menunduk dan berkata, "Selamat pagi, Sir," dan dia menjawabnya dengan batuk. Putra sulung Mr. Radley tinggal di Pensacola; dia pulang pada hari Natal, dan dia adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah kami lihat memasuki atau meninggalkan tempat itu. Semenjak Mr. Radley membawa pulang Arthur, kata orang, rumah itu mati.
Tetapi, tiba suatu hari ketika Atticus berkata bahwa dia akan menghukum kami jika kami membuat keributan di halaman, lalu sebelum dia pergi, dia meminta Calpurnia untuk menggantikannya menghukum kami jika Calpurnia mendengar kami bersuara. Mr. Radley sedang sekarat.
Dia meninggal dengan perlahan-lahan. Kuda-kuda kayu merintangi jalan dan batas-batas tanah Radley, bongkahan jerami diletakkan di trotoar, lalu lintas dialihkan ke jalan belakang. Dr.Reynolds memarkirkan mobilnya di depan rumah kami dan berjalan ke rumah Radley setiap kali dia dipanggil. Selama berhari-hari, aku dan Jem berjingkat-jingkat di halaman. Akhirnya, kuda-kuda disingkirkan, dan kami berdiri menonton dari beranda depan ketika Mr. Radley melakukan perjalanan terakhirnya melewati rumah kami.
"Lelaki terkeji yang pernah ditiupkan napas oleh Tuhan telah meninggal," gumam Calpurnia, dan dia meludah dengan syahdu ke halaman. Kami memandangnya kaget karena Calpurnia jarang mengomentari cara hidup kaum kulit putih.
Para tetangga menyangka bahwa ketika Mr. Radley meninggal, Boo akan keluar, tetapi sangkaan mereka keliru: kakak Boo kembali dari Pensacola dan menggantikan Mr. Radley. Satu-satunya perbedaan antara dia dan ayahnya adalah usia mereka. Kata Jem, Mr. Nathan Radley juga "membeli kapas". Namun, Mr. Nathan mau berbicara kepada kami kalau kami mengucapkan selamat pagi, dan kadang-kadang kami melihatnya datang dari kota membawa majalah.
Semakin banyak kami bercerita kepada Dill tentang keluarga Radley, semakin banyak dia ingin tahu, semakin lama dia berdiri memeluk tiang lampu di tikungan, semakin banyak dia bertanya- tanya.
"Dia sedang apa ya, di dalam," Dill biasa bergumam. "Sepertinya dia baru saja melongokkan kepala lewat pintu."
__ADS_1
Kata Jem, "Dia suka keluar kok, kalau sedang gelap gulita. Miss Stephanie Crawford bilang, dia pernah bangun tengah malam dan melihat Mr. Nathan Radley memandang tepat dirinya dari jendela ... dan kepala lelaki itu seperti tengkorak yang memandanginya. Memangnya kamu belum pernah bangun malam-malam dan mendengarnya, Dill? Jalannya seperti ini"" Jem menyeret kakinya di atas kerikil. "Memangnya menurutmu kenapa Miss Rachel mengunci pintu rapat-rapat pada malam hari? Pagi-pagi aku sering melihat jejaknya di halaman belakang dan suatu malam aku men- dengarnya menggaruk pintu kawat belakang, tetapi dia sudah pergi waktu Atticus sampai di sana."
"Kira-kira seperti apa, ya tampangnya?" kata Dill.
Jem memberikan gambaran masuk akal tentang Boo: tinggi badannya dua meter, dilihat dari jejaknya; dia memakan tupai dan kucing yang bisa ditangkapnya mentah-mentah, karena itu tangan- nya selalu bernoda darah"kalau kau memakan hewan mentah- mentah, kau tak akan pernah bisa mencuci bersih noda darahnya. Ada bekas luka panjang bergerigi melintasi wajahnya; giginya yang tersisa kuning dan busuk; matanya menonjol, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu.
"Ayo kita coba membuat dia keluar," kata Dill. "Aku ingin lihat seperti apa dia."
Kata Jem, kalau Dill mau mati, dia tinggal pergi dan mengetuk pintu depan.
Serbuan pertama kami terjadi hanya karena Dill mem- pertaruhkan buku The Gray Ghost untuk dua buku Tom Swift milik Jem, bahwa Jem tak akan berani melewati gerbang Radley. Seumur hidupnya, Jem tak pernah menampik tantangan.
Jem memikirkannya selama tiga hari. Kukira dia lebih menghargai kehormatan daripada kepalanya karena Dill dengan mudah membujuknya, "Kau takut," kata Dill, pada hari pertama. "Tidak takut, cuma mempertimbangkan," kata Jem. Hari berikut- nya, Dill berkata, "Hanya menaruh jempol kaki di halaman depan saja, kau takut." Jem bilang dia tidak takut, buktinya, dia telah melewati Radley Place setiap hari sekolah sepanjang hidupnya.
"Selalu berlari," kataku.
Tetapi, Dill berhasil menaklukkannya pada hari ketiga, ketika dia berkata kepada Jem bahwa warga Meridian tentunya tidak sepenakut penduduk Maycomb, bahwa dia belum pernah melihat orang yang begitu penakut seperti orang-orang Maycomb.
Itu sudah cukup untuk membuat Jem melangkah ke tikungan, lalu berhenti dan bersandar pada tiang lampu, mengamati gerbang yang terayun-ayun pada engsel buatan sendiri.
"Kuharap kau tahu bahwa dia akan membunuh kita semua, Dill Harris," kata Jem, ketika kami mengejarnya. "Jangan salahkan aku waktu dia mencongkel matamu. Kau yang memulai, ingat."
"Kau masih takut," gumam Dill sabar.
Jem ingin Dill tahu pasti bahwa dia tidak takut pada apa pun, "Cuma aku tak bisa memikirkan cara untuk membuat dia keluar tanpa dia menangkap kita." Selain itu, Jem juga harus memikirkan keselamatan adik perempuannya, diriku.
Ketika Jem berkata begitu, aku tahu dia takut. Jem juga mengkhawatirkan keadaanku waktu aku menantangnya melompat dari atas rumah, "Kalau aku mati, kamu bagaimana?" tanyanya. Lalu dia melompat, mendarat tanpa cedera, dan rasa tanggung jawabnya menghilang sampai dia dihadapkan pada Radley Place. "Kau mau mundur dari tantangan?" tanya Dill. "Kalau iya, berarti""
"Dill, hal-hal seperti ini harus dipikirkan," kata Jem. "Coba kupikir sebentar ... ini seperti membuat kura-kura keluar ...."
"Bagaimana itu?" tanya Dill.
"Nyalakan korek di bawahnya."
Aku memberi tahu Jem, kalau dia membakar rumah Radley, aku akan mengadukannya kepada Atticus.
Dill bilang, menyalakan korek di bawah kura-kura itu perbuatan keji.
"Bukan keji, hanya untuk membujuknya"toh kura-kuranya tidak benar-benar dibakar," geram Jem.
"Dari mana kau tahu korek itu tidak akan melukainya?" "Kura-kura tidak bisa merasa, bodoh," kata Jem. "Memangnya kau pernah jadi kura-kura?"
"Ya ampun, Dill! Nah, biar kupikir dulu ... mungkin kita bisa menggoyangnya ...."
Jem berdiri berpikir begitu lama, sampai Dill mengalah sedikit, "Aku tak akan bilang kau mundur dari tantangan, dan aku akan menukar The Gray Ghost kalau kau ke sana dan menyentuh rumah- nya."
Wajah Jem mencerah. "Menyentuh rumah, itu saja?"
Dill mengangguk.
"Yakin, cuma itu? Aku tak mau nanti kau meneriakiku buat melakukan hal lain lagi begitu aku kembali."
"Iya, itu saja," kata Dill. "Mungkin nanti dia keluar mengejarmu kalau dia melihatmu di halaman, lalu Scout dan aku akan menyer- gapnya dan memeganginya sampai kita bisa berkata padanya bahwa kita tak akan menyakitinya."
Kami meninggalkan tikungan, menyeberangi jalan samping yang melintas di depan rumah Radley dan berhenti di gerbang.
"Ayo," kata Dill. "Aku dan Scout akan menyusul."
"Iya, iya," kata Jem, "tak usah memburu-buru."
Dia berjalan ke pojok tanah Radley, lalu kembali lagi"seolah- olah sedang memutuskan cara terbaik untuk masuk"mengerutkan kening dan menggaruk kepala.
Lalu, aku mengejeknya.
Jem membuka gerbang dan berlari ke samping rumah, menepuk dengan telapak tangannya dan berlari kembali melewati kami, tidak menunggu untuk melihat apakah serangannya berhasil. Aku dan Dill mengikutinya rapat. Setelah aman berada di beranda kami, terengah-engah dan kehabisan napas, kami melihat ke belakang.
Rumah tua itu masih sama, reyot dan sakit, tetapi seraya kami menatap melewati jalan, kami merasa melihat daun jendela"dalam bergerak. Klik. Gerakan kecil, hampir tak terlihat, dan rumah itu kembali tidur.
__ADS_1