
Bab14
Meskipun tidak lagi mendengar berbagai hal tentang keluarga
Finch dari Bibi Alexandra, kami mendengar banyak hal dari warga kota. Setiap Sabtu, dipersenjatai dengan koin lima sen, ketika Jem mengizinkanku mengikutinya (sekarang dia benar-benar alergi dengan kehadiranku kalau kami di tempat umum), kami berkelit menembus kerumunan orang yang berkeringat di trotoar dan kadang mendengar "Itu anak-anaknya" atau "Mereka anggota
keluarga Finch." Saat berbalik untuk menghadapi pencela kami, kami hanya akan melihat dua orang petani yang sedang memeriksa kantong enema di jendela Toko Mayco. Atau dua wanita desa bertubuh gempal yang mengenakan topi jerami dan duduk di
gerobak Hoover.
"Mereka akan dibiarkan berkeliaran dan memerkosa seluruh penduduk desa kalau kita bergantung pada pemimpin county ini," adalah salah satu komentar asal-asalan yang kami dapatkan dari seorang pria kurus ketika dia berpapasan dengan kami. Aku lang-
sung ingat bahwa aku harus menanyakan sesuatu kepada Atticus.
"Memerkosa itu apa?" tanyaku malam itu.
Atticus menatapku dari balik korannya. Dia sedang duduk di kursinya yang terletak di samping jendela. Seiring bertambahnya usia kami, aku dan Jem menganggap bahwa kami sudah cukup murah hati telah memberi Atticus waktu tiga puluh menit untuk menyendiri setelah makan malam.
Dia menghela napas dan berkata bahwa memerkosa adalah pelecehan badaniah terhadap seorang perempuan dengan pe- maksaan dan tanpa persetujuan.
"Yah, kalau artinya cuma itu, kenapa Calpurnia tak bisa men- jelaskan ketika aku menanyakan artinya pada dia?"
Atticus tampak merenung. "Kau bilang apa tadi?"
"Aku bertanya pada Calpurnia sepulang dari gereja tempo hari apa artinya, dan dia bilang aku harus bertanya padamu tetapi aku lupa, jadi sekarang aku menanyakannya."
Atticus melipat korannya dan meletakkannya di pangkuan. "Coba ulangi," katanya.
Aku menceritakan padanya secara terperinci tentang perjalanan kami ke gereja bersama Calpurnia. Atticus tampak menikmatinya, tetapi Bibi Alexandra, yang sedang duduk di pojok sambil menjahit tanpa bersuara, meletakkan sulamannya dan menatap kami.
"Kalian pergi ke gereja Calpurnia hari Minggu itu?"
Kata Jem, "Ya, Ma"am, dia mengajak kami."
Aku teringat akan sesuatu. "Ya, Ma"am, dan dia berjanji aku boleh mampir ke rumahnya suatu sore. Atticus, aku mau pergi Minggu depan, kalau boleh, ya? Kata Calpurnia, dia mau men- jemputku kalau kau sudah pergi."
"Tidak boleh."
Bibi Alexandra yang mengucapkannya. Aku menoleh, terkejut, lalu kembali menatap Atticus, cukup cepat untuk menyaksikan lirikan kilatnya ke arah Bibi Alexandra, tetapi sudah terlambat. "Aku
menukas, Aku tidak bicara pada Bibi!"
Untuk seorang pria berbadan besar, Atticus dapat bangkit dari kursi lebih cepat daripada siapa pun yang kukenal. Dia berdiri. "Minta maaf pada bibimu," katanya.
"Aku tidak bertanya padanya, aku bertanya padamu""
Atticus menoleh dan menekanku pada dinding dengan matanya yang dalam. Suaranya terdengar mengerikan, "Minta maaf dulu pada Bibi."
"Aku minta maaf, Bibi," gumamku.
"Nah," katanya. "Supaya jelas: kaupatuhi perkataan Calpurnia, kaupatuhi perkataanku, dan selama bibimu ada di rumah ini, kau juga harus mematuhi perkataannya. Mengerti?"
Aku mengerti, merenung sejenak, dan menyimpulkan bahwa satu-satunya cara aku bisa melarikan diri dengan mempertahankan sedikit harga diriku adalah pergi ke kamar mandi, dan diam di sana cukup lama agar mereka berpikir aku harus buang air. Saat kembali ke ruangan itu, aku berlama-lama tinggal di ruang tamu untuk mendengarkan diskusi sengit yang sedang berlangsung di ruang duduk. Melalui pintu, aku melihat Jem duduk di sofa dengan majalah football menutupi wajahnya. Kepalanya bergerak-gerak seolah-olah halaman majalahnya berisi siaran langsung pertan- dingan tenis.
"" kau harus melakukan sesuatu tentang dia," kata Bibi.
"Kau sudah membiarkan ini berlangsung terlalu lama, Atticus,
terlalu lama."
"Aku tak melihat apa salahnya mengizinkan dia ke sana. Cal akan menjaganya di sana, seperti dia menjaganya di sini."
Siapa "dia" yang sedang mereka bicarakan? Hatiku melesak: aku. Aku merasa seperti berada dalam penjara berdinding kapas merah muda berkanji, dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku mempertimbangkan untuk kabur. Secepatnya.
"Atticus, tak apa-apa berhati lunak, kau orang yang lunak, tetapi
kau punya putri yang harus dipikirkan. Putri yang sedang tumbuh."
"Itu yang sedang kupikirkan."
"Dan jangan mencoba menghindar. Kau harus menghadapinya cepat atau lambat, dan tak ada salahnya kalau malam ini. Kita sudah tak butuh dia lagi sekarang."
Atticus berkata dengan datar, "Alexandra, Calpurnia tak akan meninggalkan rumah ini sampai dia sendiri yang menginginkannya. Kau mungkin berpikir lain, tetapi aku tak mungkin bisa bertahan selama ini tanpa dia. Dia anggota setia keluarga ini dan kau harus menerima keadaan ini sebagaimana adanya. Lagi pula, Dik, aku tak mau kau membanting tulang untuk kami"tak ada alasan untuk melakukan itu. Kita masih membutuhkan Cal seperti biasanya."
"Tetapi, Atticus""
"Lagi pula, aku merasa tidak ada sedikit pun yang salah pada anak-anak karena Cal yang membesarkan mereka. Malah, dalam beberapa hal, dia bersikap keras pada mereka, lebih dari layaknya seorang ibu " dia tak pernah membiarkan mereka lolos kalau mereka memang bersalah, dia tak pernah memanjakan mereka seperti kebanyakan pengasuh berkulit hitam. Dia mencoba membesarkan mereka sesuai dengan pengetahuannya, dan pengetahuan Cal cukup baik"dan satu hal lagi, anak-anak men- cintainya."
Aku bernapas lagi. Bukan aku, hanya Calpurnia yang mereka bicarakan. Kondisiku pulih, aku memasuki ruang keluarga. Atticus sudah kembali terkubur di balik korannya dan Bibi Alexandra menyibukkan diri dengan sulamannya. Tung, tung, tung, jarumnya menembus lingkaran penahan kain. Dia berhenti dan menarik kainnya lebih tegang: tung-tung-tung. Jelas terlihat bahwa dia
sangat kesal.
Jem bangkit dan berjalan melintasi karpet. Dia meng-
isyaratkanku untuk mengikutinya. Dia menuntunku ke kamarnya dan menutup pintu. Wajahnya serius.
"Mereka bertengkar, Scout."
Aku dan Jem sering bertengkar akhir-akhir ini, tetapi aku belum pernah mendengar atau melihat siapa pun bertengkar dengan Atticus. Itu bukan pemandangan yang menyenangkan.
"Scout, cobalah untuk tidak membuat Bibi marah, mengerti?"
Komentar Atticus masih membuat jengkel sehingga aku tak menangkap nada memohon dalam pertanyaan Jem. Amarahku naik lagi. "Kau mau menyuruh-nyuruh aku?"
"Bukan, masalahnya"Atticus sedang banyak pikiran sekarang, kita tak perlu menambah kekhawatirannya."
"Apa misalnya?" Atticus tidak kelihatan punya sesuatu yang khusus dalam benaknya.
"Kasus Tom Robinson yang mencemaskannya setengah mati""
Menurutku, Atticus tidak khawatir tentang apa pun. Lagi pula, kasus itu tak pernah mengganggu kami kecuali sekali seminggu dan itu pun tidak lama.
"Itu karena kau tak bisa menyimpan sesuatu dalam pikiranmu dalam waktu yang lama," kata Jem. "Orang dewasa berbeda, kami""
__ADS_1
Sikap pongahnya yang membuatku gila akhir-akhir ini jadi tak tertahankan. Dia tak mau melakukan apa-apa, kecuali membaca dan menyendiri. Tapi, semua yang dibacanya diceritakan kepadaku, perbedaannya: dulu, karena menurutnya aku akan suka; sekarang, untuk memberiku panduan dan pelajaran.
"Ya Tuhan, Jem! Kau pikir siapa dirimu?"
"Aku serius, Scout, kalau kau membuat Bibi kesal, aku"aku akan memukul pantatmu."
Ucapannya itu membuatku naik pitam. "Dasar morfodit, kubunuh kau!" Karena dia sedang duduk di tempat tidur, dengan mudah aku menjambak rambut depannya dan mendaratkan tinju di mulutnya. Dia menamparku dan aku mencoba meninjunya dengan tangan kiriku, tetapi tonjokan di perutku membuatku terjengkang di lantai. Pukulan itu hampir membuatku sulit bernapas, tetapi tak jadi soal karena aku tahu dia membalas, dia masih mem- balasku. Kami masih setara.
"Sekarang, sudah tidak bisa sombong lagi, kan!" teriakku, menyerbu lagi. Dia masih di tempat tidur dan kuda-kudaku kurang sempurna. Jadi, kuhempaskan diriku padanya sekeras mungkin, memukul, menjambak, mencubit, mencakar. Adu tinju itu dengan cepat berubah menjadi perkelahian. Kami masih bergulat ketika Atticus memisahkan kami.
"Cukup," katanya. "Kalian berdua tidur sekarang."
"Cuh!" kataku kepada Jem. Dia disuruh tidur pada waktu tidurku.
"Siapa yang memulai?" tanya Atticus dengan letih.
"Jem. Dia memerintah-merintah aku. Aku tak perlu menuruti dia, kan?"
Atticus tersenyum. "Kita selesaikan begini saja: kau menuruti Jem kalau dia bisa memaksamu. Adil?"
Bibi Alexandra ada di sana tetapi tidak berkata apa-apa, dan
ketika dia kembali ke ruang tamu bersama Atticus, kami men- dengarnya berkata, "" baru salah satu yang ingin kusampaikan padamu," frasa yang kembali mempersatukan aku dan Jem.
Kamar kami terhubung; sewaktu aku menutup pintu peng- hubungnya, Jem berkata, "Malam, Scout."
"Malam," gumamku seraya melintasi kamar untuk menyalakan lampu. Ketika melewati tempat tidur, aku menginjak sesuatu yang hangat, kenyal, dan cukup mulus. Tidak terlalu mirip karet keras, dan aku punya firasat bahwa benda itu hidup. Aku juga mendengar-
nya bergerak.
Aku menyalakan lampu dan melihat lantai di samping tempat tidur. Apa pun yang kuinjak tadi sudah tak ada. Aku mengetuk pintu Jem.
"Apa," katanya.
"Ular permukaannya seperti apa?"
"Agak kasar. Dingin. Berdebu. Kenapa?"
"Sepertinya ada seekor ular di kolong tempat tidurku. Tolong lihat ke sana."
"Kau bercanda?" Jem membuka pintu. Dia mengenakan celana piama. Aku melihat, dengan rasa puas, bahwa bekas tinjuku masih terlihat di mulutnya. Ketika dia melihat bahwa aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku, dia berkata, "Kalau kau mengira aku akan meletakkan wajahku di lantai untuk mencari ular, kau pasti punya gagasan lain. Tunggu sebentar."
Dia pergi ke dapur dan mengambil sapu. "Sebaiknya kau naik ke tempat tidur," katanya.
"Menurutmu, apa benar ular?" tanyaku. Ini peristiwa langka. Rumah-rumah kami tak punya ruang bawah tanah; dibangun pada blok-blok batu beberapa senti di atas tanah, dan masuknya reptil bukannya tak pernah terjadi, tetapi tidak lazim. Dalih Miss Rachel Haverford untuk minum segelas wiski tanpa es setiap pagi adalah bahwa dia belum sembuh dari rasa takutnya ketika menemukan
seekor ular derik melingkar di lemari pakaian di kamar tidurnya, di atas cuciannya, ketika dia hendak menggantungkan baju santai-
nya.
Jem mengulurkan sapu ke kolong tempat tidur. Aku melihat ke kaki tempat tidur untuk berjaga kalau-kalau ularnya keluar. Tak ada. Jem menyapu lebih dalam.
"Ular bisa mendengus?"
Akhirnya, sesuatu yang berwarna cokelat dekil melesat dari
kolong tempat tidur. Jem mengangkat sapu dan memukul, meme- leset sesenti dari kepala Dill yang tiba-tiba muncul.
"Tuhan yang Mahakuasa." Ucap Jem khusyuk.
Kami menyaksikan tubuh Dill muncul sedikit demi sedikit. Tempatnya sempit. Dia berdiri dan melonggarkan bahunya, memutar pergelangan kakinya, menggosok tengkuknya. Setelah aliran darahnya kembali lancar, dia berkata, "Hei."
Jem menyebut Tuhan lagi. Aku tak mampu berkata-kata. "Aku lapar sekali," kata Dill. "Ada makanan?"
Seperti dalam mimpi, aku ke dapur. Aku membawakannya susu dan setengah loyang roti jagung yang tersisa dari makan malam.
Dill melahapnya, mengunyah dengan gigi depan, seperti kebiasa-
annya.
Akhirnya, aku bisa kembali bersuara. "Bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Ceritanya sungguh ruwet. Segar kembali karena kenyang, Dill menceritakan kisah berikut: setelah dirantai dan ditinggalkan sekarat di ruang bawah tanah (rumah-rumah di Meridian punya ruang bawah tanah) oleh ayah barunya"yang tak menyukainya" dan diam-diam bertahan hidup dengan kacang polong mentah dari petani lewat yang mendengar seruan minta tolong (orang baik ini menyelipkan seikat kacang setangkai demi setangkai melalui
ventilasi), Dill berupaya membebaskan diri dengan menarik-narik rantai dari dinding. Dengan tangan masih terbelenggu, dia berjalan tanpa arah sejauh tiga kilometer dari Meridian, tempat dia menemu- kan pertunjukan hewan kecil-kecilan dan di sana dia mencari uang dengan memandikan unta. Dia mengikuti rombongan pertunjukan ini ke seluruh Mississippi hingga kepekaan akan arahnya yang tanpa cacat menyatakan dia berada di Abbott County, Alabama, di seberang sungai dari Maycomb. Dia berjalan menuju rumah
kami.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Jem.
Dia mengambil tiga belas dolar dari tas ibunya, naik kereta pukul 09.00 dari Meridian dan turun di Simpang Maycomb. Dia berjalan sejauh tujuh belas atau delapan belas dari dua puluh dua kilometer jarak ke Maycomb, berjalan mengarungi semak karena dia khawatir kalau-kalau pihak berwajib sedang mencarinya, dan menumpang sepanjang sisa perjalanannya dengan bergelantung di belakang gerobak kapas. Dia sudah dua jam bersembunyi di bawah tempat tidur, menurutnya; dia mendengar kami di ruang makan, dan denting garpu pada piring hampir membuatnya gila. Dia menyangka aku dan Jem tak akan pernah tidur; dia mem- pertimbangkan untuk keluar dan membantuku memukul Jem,karena Jem sudah jauh lebih tinggi, tetapi dia tahu Mr. Finch akan segera melerai, jadi pikirnya lebih baik dia tetap di tempatnya. Dia lelah, sangat kotor, dan betah.
"Mereka pasti tak tahu kau di sini," kata Jem. "Kami pasti tahu kalau mereka mencarimu "."
"Sepertinya mereka masih mencari-cari di semua bioskop di Meridian." Dill menyeringai.
"Kau harus memberi tahu ibumu ke mana kau pergi," kata Jem. "Kau harus memberi tahu ibumu kau ada di sini ...."
Mata Dill melirik sekilas kepada Jem, dan Jem memandangi lantai. Lalu, dia bangkit dan melanggar aturan yang tersisa dari
masa kecil kami. Dia keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. "Atticus," suaranya terdengar jauh, "bisa ke sini sebentar, Sir?"
Di balik kotoran yang dibasahi oleh keringat, wajah Dill memucat. Aku merasa mual. Atticus berada di ambang pintu.
Dia masuk ke kamar dan berdiri sambil mengantongi tangan,
memandangi Dill.
Akhirnya, aku bisa bersuara, "Tak apa-apa, Dill. Kalau dia ingin kau tahu sesuatu, dia akan mengatakannya."
Dill menoleh padaku. "Maksudku, tak apa-apa," kataku.
"Kau tahu dia tak akan memarahimu, kau tahu kau tidak perlu takut pada Atticus."
__ADS_1
"Aku tidak takut "," gumam Dill.
"Hanya lapar, pasti." Suara Atticus seperti biasa datar dan menyenangkan. "Scout, kita bisa memberi lebih baik daripada seloyang roti jagung, bukan? Berilah dia makan dan saat aku kembali, kita lihat apa yang bisa kita lakukan."
"Mr. Finch, jangan bilang Bibi Rachel, jangan paksa aku kembali, tolong, Sir! Aku akan kabur lagi"!"
"Wah, Nak," kata Atticus. "Tak ada yang menyuruhmu ke mana- mana, kecuali segera tidur. Aku hanya akan mampir untuk memberi tahu Miss Rachel kau ada di sini dan bertanya apakah kau boleh menginap di sini"kau mau, kan? Dan demi Tuhan kembalikan sebagian tanah county di tubuhmu ke tempatnya, pengikisan tanah yang ada sudah cukup buruk."
Dill menatap sosok ayahku yang segera keluar dari kamar.
"Dia bercanda," kataku. "Maksudnya, kau disuruh mandi. Benar kan, sudah kubilang, dia tak akan memarahimu."
Jem berdiri di pojok kamar, tampak seperti pengkhianat. "Dill, aku harus beri tahu dia," katanya. "Kau tak bisa kabur sejauh lima ratus kilometer tanpa diketahui ibumu."
Kami meninggalkannya tanpa berkata-kata.
Dill makan, dan makan, dan makan. Dia belum makan sejak
malam sebelumnya. Dia menghabiskan uangnya untuk membeli tiket, naik kereta seperti yang sudah sering dilakukannya, mengobrol tenang dengan konduktor, yang sudah mengenali Dill, tetapi dia tak berani menggunakan peraturan tentang anak-anak yang bepergian sendirian: kalau anak kehilangan uang, konduktor akan meminjamkan untuk makan malam dan ayahmu akan membayarnya di ujung perjalanan.
Dill melahap makanan sisa dan sedang meraih sekaleng daging dan kacang di lemari makanan, ketika "Do-oo Ye-sus" Miss Rachel
terdengar di ruang tamu. Dill gemetar seperti kelinci.
Dengan tegar dia menerima Tunggu Sampai Kau Kupulangkan, Orangtuamu Sangat Mencemaskanmu, cukup tenang ketika mendengar Itu Gara-Gara Kau Keturunan Harris, tersenyum saat mendengar Kau Boleh Menginap Semalam, dan membalas pelukan yang akhirnya diberikan kepadanya.
Atticus menaikkan kacamata dan mengusap wajah.
"Ayahmu lelah," kata Bibi Alexandra, kata-kata pertamanya setelah rasanya dia diam selama berjam-jam. Sedari tadi dia ada, tetapi tak bisa berkata-kata, kukira. "Kalian tidurlah sekarang."
Kami meninggalkan mereka di ruang makan, Atticus masih memijit wajahnya. "Dari perkosaan ke huru-hara sampai anak kabur," kami mendengar dia tergelak. "Apa lagi yang akan terjadi dalam dua jam ini?"
Karena tampaknya keadaan sudah beres, Dill dan aku memu- tuskan untuk bersikap baik kepada Jem. Lagi pula, Dill harus tidur bersamanya, jadi sekalian saja kami berbicara padanya.
Aku mengenakan piama, membaca beberapa lama, dan mendapati diriku tiba-tiba tak mampu membuka mata. Dill dan Jem tak bersuara; ketika aku mematikan lampu-bacaku, tak ada garis cahaya di bawah pintu ke kamar Jem.
Aku pasti tidur lama sekali, karena ketika seseorang meng- guncangkan tubuhku, ruangan remang dengan cahaya bulan terbenam.
"Minggir, Scout."
"Dia merasa itu tugasnya," gumamku. "Jangan marah padanya."
Dill masuk ke tempat tidur di sampingku. "Aku tidak marah, kok, katanya. Aku cuma ingin tidur bersamamu. Kau belum tidur?"
Saat ini sudah bangun. Dengan malas aku bertanya, "Kenapa
kau kabur?"
Tak ada jawaban. "Aku bilang, kenapa kau kabur? Dia memang jahat seperti katamu?"
"Tidak "."
"Bukannya kalian mau membuat perahu seperti yang kau tulis di suratmu?"
"Dia cuma bilang saja begitu. Kami tak pernah membuat perahu."
Aku menumpukan tubuhku pada sikut, menghadap siluet Dill. "Itu bukan alasan untuk kabur. Mereka sering tidak melakukan apa yang mereka bilang akan mereka lakukan "."
"Bukan itu, dia"mereka hanya tak tertarik padaku." Ini alasan kabur teraneh yang pernah kudengar. "Kok bisa?"
"Yah, mereka selalu pergi ke luar, dan bahkan kalau mereka di rumah, mereka menyendiri di kamar."
"Memangnya apa yang mereka lakukan di kamar?"
"Tidak ada, cuma duduk dan membaca"tapi mereka tidak mau aku bersama mereka."
Aku mendorong bantal ke kepala ranjang dan duduk. "Kau tahu? Aku berencana kabur malam ini karena kelakuan mereka
semua. Kadang aku tidak mau mereka selalu merecoki, Dill""
Dill mengembuskan napas sabar, setengah helaan. ""selamat malam, Atticus pergi seharian dan kadang sampai malam dan pergi ke badan legislatur dan aku tak tahu apa lagi"kau pasti tak mau mereka selalu ada. Dill, kau tidak bisa melakukan apa-apa kalau mereka ada."
"Bukan itu."
Selagi Dill menjelaskan, kudapati diriku bertanya-tanya akan seperti apa hidup ini andai Jem berbeda, bahkan berbeda dari dirinya yang sekarang; apa yang akan kulakukan andai Atticus merasa tidak memerlukan kehadiran, pertolongan, dan nasihatku. Dia tak bisa melewatkan hari tanpaku. Bahkan, Calpurnia pun membutuhkan aku. Mereka memerlukanku.
"Dill, yang kauceritakan salah"orangtuamu tak mungkin bisa hidup tanpamu. Mereka mungkin hanya mengabaikanmu. Lebih
baik begini saja""
Suara Dill terdengar tenang dalam kegelapan, "Masalahnya, yang ingin kukatakan adalah"mereka memang lebih baik hidup tanpaku, aku tak bisa memberi mereka bantuan apa pun. Mereka tidak jahat. Mereka membelikan apa pun yang kuinginkan, tetapi sekarang-kamu-sudah-punya-nah-mainlah. Kau punya sekamar barang. Aku-belikan-kamu-buku-itu-jadi-bacalah." Dill mencoba memperdalam suaranya. "Kau bukan anak laki-laki. Anak laki-laki mestinya keluar rumah dan bermain bisbol dengan anak-anak lain, tidak diam di rumah mencemaskan orangtuanya."
Suara Dill kembali seperti biasa, "Oh, mereka tidak jahat. Mereka mencium dan memelukku untuk mengucapkan selamat malam dan selamat pagi dan selamat tinggal dan bilang mereka mencintaiku"Scout, kita cari bayi, yuk."
"Di mana?"
Dill mendengar ada orang yang punya perahu dan selalu mendayungnya menuju pulau berkabut tempat dia menyimpan semua bayi; kami bisa memesan satu"
"Itu bohong. Kata Bibi, Tuhan menjatuhkan bayi lewat cerobong asap. Setidaknya, rasanya, itu yang dia bilang." Sekali itu, diksi Bibi tidak terlalu jelas.
"Eh, bukan begitu. Kau dapat bayi kalau kau punya pasangan. Tetapi, lelaki ini juga ada"dia punya banyak bayi yang menunggu untuk dibangunkan, dia meniupkan napas ke dalam tubuh mereka "."
Dill memulai lagi. Hal-hal indah melayang di sekitar kepalanya yang penuh mimpi. Dia dapat membaca dua buku sementara aku baru satu, tetapi dia lebih menyukai keajaiban cerita karangannya sendiri. Dia dapat menambah dan mengurang lebih cepat dari kilat, tetapi dia lebih suka dunia senjanya sendiri, dunia tempat bayi-bayi tidur, menunggu dipetik seperti bakung pagi. Dia perlahan-lahan bicara sampai tertidur, membawaku bersamanya, tetapi dalam keheningan pulau berkabutnya, muncul citra kabur sebuah rumah kelabu suram yang berpintu cokelat.
"Dill?"
"Mmm?"
"Menurutmu, kenapa Boo Radley tak pernah kabur?"
Dill menghela napas panjang dan berbalik membelakangiku. "Mungkin dia tak punya tempat yang dituju kalau kabur .""
__ADS_1