
Bab24
Calpurnia mengenakan celemeknya yang paling kaku. Dia
membawa senampan kue charlotte, mundur ke pintu ayun dan mendorong perlahan. Aku mengagumi betapa luwes dan anggunnya dia menangani makanan lezat yang berat itu. Begitu pula Bibi Alexandra, kukira, karena dia membolehkan Calpurnia melayani hari ini.
Kami sudah berada di ujung bulan Agustus, mendekati ambang
September. Dill akan berangkat ke Meridian besok; hari ini dia pergi bersama Jem ke Pusaran Barker. Jem takjub bercampur marah saat mendapati tak ada seorang pun yang pernah mau berepot-repot mengajari Dill berenang, keterampilan yang dianggap Jem sepenting berjalan. Mereka melewatkan dua sore di sungai; karena mereka bilang akan berenang telanjang dan aku tak boleh ikut, jadi aku membagi saat-saat sepiku di antara Calpurnia dan Miss Maudie.
Hari ini Bibi Alexandra dan kalangan misionarisnya sedang bertengkar hebat di setiap sudut rumah. Dari dapur, aku mendengar
Mrs. Grace Merriweather memberi laporan di ruang duduk tentang kehidupan kumuh suku Mrunas, setidaknya begitulah kedengar- annya. Mereka menempatkan kaum perempuan di gubuk ketika waktunya tiba, apa pun artinya itu; mereka tak memiliki nilai keke- luargaan"aku tahu itu membuat Bibi stres"mereka mengharuskan anak-anak menjalani ujian yang mengerikan ketika mereka berusia tiga belas tahun; mereka merangkak bersama penyakit puru dan ulat buah, mereka mengunyah dan meludahkan kulit pohon ke belanga umum lalu mabuk-mabukan dengan meminumnya.
Segera setelah itu, wanita-wanita terhormat itu berhenti mengobrol untuk menikmati penganan.
Aku tak tahu sebaiknya aku masuk ke ruang makan atau tetap di luar. Bibi Alexandra menyuruhku bergabung dengan mereka saat menikmati penganan; tidak perlu menghadiri bagian bisnis per- temuan, katanya aku pasti bosan. Aku mengenakan baju Hari Minggu merah muda, sepatu, dan rok dalam, dan berpikir bahwa jika aku menumpahkan sesuatu, Calpurnia harus mencuci bajuku lagi untuk besok. Ini hari yang sibuk untuknya. Aku memutuskan untuk tidak masuk.
"Boleh kubantu, Cal?" tanyaku, ingin menolong.
Calpurnia berhenti di ambang pintu. "Diamlah seperti tikus di pojok itu," katanya, "dan kau boleh membantuku mengisi nampan
kalau aku kembali."
Dengung lembut suara perempuan mengeras ketika dia membuka pintu, "Wah, Alexandra, aku belum pernah melihat kue charlotte seperti itu " bagus sekali " aku tak bisa membuat kulitnya seperti ini, tak pernah bisa " siapa yang menyangka tart dewberry kecil " Calpurnia? " siapa sangka " ada yang sudah cerita bahwa istri pendeta " tida-ak, eh iya, dan yang satu lagi belum berjalan
"."
Keributan itu menyurut, dan aku tahu mereka semua sudah
dilayani. Calpurnia kembali dan meletakkan poci perak berat ibuku pada nampan. "Poci kopi ini benda langka," gumamnya, "sudah tak dibuat lagi sekarang ini."
"Boleh aku membawanya masuk?"
"Asal kau berhati-hati dan tidak menjatuhkannya. Letakkan di ujung meja dekat Miss Alexandra. Di sana dekat cangkir dan yang lain. Dia yang akan menuangkan."
Aku mencoba mendorong pintu dengan pantat seperti yang dilakukan Calpurnia, tetapi pintunya tidak bergerak. Dengan menyeringai, Calpurnia membukakannya untukku. "Hati-hati, ya, berat. Jangan dilihat, biar tidak tumpah."
Perjalananku berhasil: Bibi Alexandra tersenyum cerah. "Tinggallah bersama kami, Jean Louise," katanya. Ini bagian dari kampanyenya untuk mengajariku menjadi perempuan terhormat. Sudah lumrah bahwa setiap nyonya rumah kalangan tersebut mengundang tetangganya untuk menikmati penganan, baik mereka penganut Baptis atau Presbiterian, yang menjelaskan kehadiran Miss Rachel (tidak mabuk), Miss Maudie, dan Miss Stephanie Crawford. Agak gugup, aku duduk di sebelah Miss Maudie dan bertanya-tanya mengapa kaum perempuan mengenakan topi hanya untuk pergi ke rumah seberang. Sekelompok perempuan selalu memberiku ketakutan samar dan hasrat kuat untuk berada di
tempat lain, tetapi perasaan ini yang disebut Bibi Alexandra sebagai
"manja".
Perempuan-perempuan ini tidak tampak kepanasan dalam balutan kain tipis bercorak pastel: sebagian besar berbedak tebal, tetapi tidak memakai pemerah pipi; satu-satunya lipstik yang dikenakan di ruangan adalah Tangee Natural. Cutex Natural berkilauan di kuku jari, tetapi perempuan-perempuan yang lebih muda mengenakan Rose. Mereka menguarkan aroma wangi seperti surga. Aku duduk diam, setelah menaklukkan tanganku dengan
cara memegang lengan kursi erat-erat, dan menunggu seseorang berbicara padaku.
Gigi palsu emas Miss Maudie berkelip. "Pakaianmu bagus sekali, Miss Jean Louise," katanya. "Di mana celanamu hari ini?"
"Di bawah baju saya."
Aku tidak berniat melucu, tetapi mereka tertawa. Pipiku memanas ketika aku menyadari kesalahanku, tetapi Miss Maudie memandangku dengan serius. Dia tak pernah menertawakanku kecuali aku memang melucu.
Dalam keheningan tiba-tiba yang mengikuti, Miss Stephanie Crawford berseru dari seberang ruangan, "Cita-citamu apa, Jean Louise? Pengacara?"
"Tidak, Ma"am, saya belum memikirkannya "," jawabku, bersyukur bahwa Miss Stephanie cukup baik hati untuk mengubah topik. Segera aku mulai memilih pekerjaan yang kuinginkan. Perawat? Penerbang? "Ng "."
"Wah, kusangka kamu ingin menjadi pengacara, kamu sudah mulai menghadiri pengadilan."
Mereka tertawa lagi. "Stephanie itu kocak," kata seseorang. Miss Stephanie tersemangati untuk meneruskan topik itu, "Kamu tak ingin menjadi pengacara?"
Tangan Miss Maudie menyentuh tanganku dan aku menjawab ringan, "Tidak, Ma"am, saya ingin jadi wanita terhormat saja."
Miss Stephanie memandangku curiga, memutuskan aku tidak berniat kurang ajar, dan memuaskan diri dengan, "Hm, kamu tak akan berhasil sampai kamu mulai lebih sering mengenakan rok."
Tangan Miss Maudie menggenggam tanganku erat, dan aku tak berkata apa-apa. Kehangatannya sudah cukup.
Mrs. Grace Merriweather duduk di sebelah kiriku, dan aku merasa akan sopan kalau berbicara dengannya. Mr. Merriweather, seorang Metodis taat yang berada di bawah tekanan, rupanya tak melihat adanya kesan pribadi dalam menyanyikan, "Anugrah (grace)
yang menakjubkan, betapa indah kedengarannya, yang me- nyelamatkan sampah sepertiku ."" Namun, menurut pendapat umum Maycomb, Mrs. Merriweather telah menyembuhkannya dari kebiasaan mabuk-mabukan dan menjadikannya warga yang cukup berguna. Karenanya, pastilah Mrs. Merriweather adalah perempuan paling taat di Maycomb. Aku mencari topik yang menarik baginya. "Apa yang kalian pelajari sore ini?" tanyaku.
"Oh, Nak, suku Mrunas yang malang," katanya, dan langsung diam. Perlu sedikit pertanyaan lanjutan.
Mata cokelat besar Mrs. Merriweather selalu berlinang air mata ketika dia memikirkan kaum tertindas. "Tinggal di rimba tanpa siapa-siapa kecuali J. Grimes Everett," katanya. "Tak ada orang berkulit putih yang mau mendekati mereka kecuali J. Grimes Everett yang suci."
Mrs. Merriweather memainkan suaranya seperti organ: setiap kata yang diucapkannya menerima ketukan penuh: "Kemiskinan " kegelapan " imoralitas"tak ada yang tahu selain J. Grimes Everett. Kamu tahu, ketika gereja menunjukku untuk melakukan perjalanan ke tanah perkemahan itu, J. Grimes Everett berkata padaku""
"Dia ada di sana, Ma"am? Saya sangka""
__ADS_1
"Pulang berlibur. J. Grimes Everett berkata padaku, katanya "Mrs. Merriweather kamu tak punya bayangan, tak punya bayangan,
apa yang kita lawan di sana." Itu yang dikatakannya kepadaku."
"Ya, Ma"am."
"Kukatakan padanya, "Mr. Everett," kataku, "kaum perempuan di Gereja Episcopal Metodis Maycomb Alabama Bagian Selatan mendukung Anda seratus persen." Itu yang kukatakan kepadanya. Dan kamu tahu, pada saat itu dan di situ juga aku bersumpah dalam hatiku. Aku berkata pada diri sendiri, kalau aku pulang, aku akan memberi ceramah tentang suku Mrunas dan membawa pesan J. Grimes Everett kepada Maycomb, dan itulah yang kulakukan."
"Ya, Ma"am."
Ketika Mrs. Merriweather menggeleng, ikal hitamnya bergoyang. "Jean Louise," katanya, "kamu gadis beruntung. Kamu tinggal di rumah Kristiani bersama orang Kristen dan di kota Kristen. Di sana di tanah J. Grimes Everette, tak ada apa-apa kecuali dosa dan ke- kumuhan."
"Ya, Ma"am."
"Dosa dan kekumuhan"apa tadi Gertrude?" Mrs. Merriweather mengalihkan perhatiannya kepada perempuan yang duduk di sampingnya. "Oh, itu. Aku selalu bilang, maafkan dan lupakan, maafkan dan lupakan. Yang harus dilakukan gereja adalah mem- bantunya menjalani hidup Kristiani bagi anak-anak itu sejak sekarang. Mestinya ada di antara kaum lelaki yang ke sana dan memberi tahu pendeta itu untuk menyemangatinya."
"Maaf, Mrs. Merriweather," aku menyela, "kalian membicarakan Mayella Ewell?"
"May"? Bukan, Nak. Istri orang kulit gelap itu. Istri Tom, Tom""
"Robinson, Ma"am."
Mrs. Merriweather berpaling kembali ke tetangganya. "Ada satu hal yang benar-benar kuyakini, Gertrude," dia melanjutkan, "tetapi, ada orang yang tak melihatnya dengan caraku. Kalau kita memberi tahu mereka bahwa kita memaafkan mereka, bahwa kita sudah
melupakannya, maka seluruh hal ini akan berlalu."
"Ah"Mrs. Merriweather," aku menyela sekali lagi, "apa yang akan berlalu?"
Sekali lagi dia berpaling kepadaku. Mrs. Merriweather termasuk orang dewasa tanpa anak yang merasa perlu memakai nada suara yang berbeda saat berbicara dengan anak-anak. "Tak ada apa-apa, Jean Louise," katanya, dengan perlahan dan agung, "para tukang masak dan pekerja ladang hanya merasa tidak puas, tetapi mereka sudah tenang sekarang"mereka menggerutu sepanjang hari sete-
lah pengadilan itu."
Mrs. Merriweather berpaling kepada Mrs. Farrow, "Gertrude, kubilang tak ada yang lebih memecah perhatian daripada orang kulit hitam yang merajuk. Mulut mereka turun sampai ke sini. Mengacaukan harimu kalau ada yang melakukannya di dapurmu. Kau tahu apa yang kukatakan kepada Sophy-ku, Gertrude? Kataku, "Sophy," kataku, "kamu benar-benar tidak bersikap Kristiani hari ini. Yesus Kristus tak pernah menggerutu dan mengeluh." Dan tahu tidak, itu bermanfaat baginya. Dia mengangkat pandangannya dari lantai dan berkata, "Tidak, Mrs. Merriweather, Yesus tak pernah menggerutu." Kuberi tahu ya, Gertrude, jangan pernah kau me- lepaskan kesempatan bersaksi untuk Tuhan."
Aku teringat organ kecil kuno di gereja di Finch"s Landing. Waktu aku masih kecil sekali, dan aku bersikap baik seharian, Atticus mengizinkanku memompa puputannya, sementara dia memainkan lagu dengan satu jari. Nada terakhir akan tetap terdengar selama masih ada udara yang menahannya. Mrs. Merriweather sudah kehabisan udara, kukira, dan sedang memulihkan pasokannya ketika Mrs. Farrow menyiapkan dirinya untuk bicara.
Mrs. Farrow adalah wanita yang berperawakan mengagumkan dengan mata pucat dan kaki kecil. Rambutnya baru dikeriting sehingga menampakkan ikal-ikal kecil ketat kelabu. Dia adalah perempuan kedua paling taat di Maycomb. Dia memiliki kebiasaan
aneh mengawali segala sesuatu yang dikatakannya dengan suara
mendesis lirih.
"Mrs. Farrow, aku tak tahu akan jadi apa masyarakat kita di sini." S-s-s Aku bilang padanya, "memang demikian kenyataannya.""
Mrs. Merriweather mengangguk dengan bijak. Suaranya membubung di atas denting cangkir kopi dan suara kecapan lembut dari para perempuan yang sedang mengunyah hidangan lezat. "Gertrude," katanya, "aku bilang, yah, ada juga orang yang baik tapi tersesat di kota ini. Baik, tapi tersesat. Orang-orang di kota ini yang menyangka mereka berbuat benar, kataku. Nah, jangan sampai keluar dari mulutku siapa orangnya, tetapi sebagian orang di kota ini menyangka mereka berbuat baik baru-baru ini, padahal yang mereka lakukan hanyalah menggemparkan kota. Hanya itu yang mereka lakukan. Mungkin kelihatan seperti tindakan yang benar pada saat itu, aku tak tahu pasti, aku tidak memahami bidang itu, tetapi kemuraman " ketidakpuasan " kuberi tahu saja, kalau Sophy-ku mempertahankan sikapnya sehari lagi, aku pasti memecatnya. Tak pernah terpikir dalam otaknya itu bahwa satu- satunya alasan aku mempekerjakannya adalah karena sekarang ini masa depresi dan dia memerlukan upahnya yang sedolar seperempat setiap minggu."
"Makanannya bukan tongkat yang digelontorkan, bukan?"
Miss Maudie yang bicara. Dua garis kencang muncul di sudut mulutnya. Sedari tadi dia duduk diam di sampingku, cangkir kopinya seimbang di atas satu lutut. Aku sudah lama ketinggalan
jalinan percakapan, ketika mereka berhenti membicarakan istri Tom Robinson, dan menyibukkan diri memikirkan Finch"s Landing dan sungai. Pemahaman Bibi Alexandra terbalik: bagian bisnis pertemuan itu membekukan darah, jam sosialnya mengerikan.
"Maudie, aku yakin aku tak tahu apa maksudmu," kata Mrs.
Merriweather.
"Aku yakin kamu tahu," kata Miss Maudie pendek.
Dia tak berkata apa-apa lagi. Kalau Miss Maudie marah, kata- katanya ketus dan sedingin es. Sesuatu telah membuatnya sangat
marah, dan mata kelabunya sedingin suaranya. Mrs. Merriweather memerah, melirik kepadaku, dan membuang muka. Aku tidak bisa melihat Mrs. Farrow.
Bibi Alexandra bangkit dari meja dan segera mengedarkan penganan, dengan rapi menarik Mrs. Merriweather dan Mrs. Gates dalam percakapan cepat. Ketika dia sudah membuat mereka asyik mengobrol dengan Mrs. Perkins, Bibi Alexandra melangkah mundur. Dia memberi Miss Maudie pandangan terima kasih, dan aku terheran-heran tentang dunia wanita. Miss Maudie dan Bibi Alexandra tak pernah benar-benar dekat, dan sekarang Bibi mengucapkan terima kasih diam-diam kepada Miss Maudie untuk sesuatu. Untuk apa, aku tak tahu. Aku cukup puas mengetahui bahwa bisa saja Bibi
Alexandra diserang cukup hebat sehingga dia berterima kasih untuk bantuan yang diterimanya. Tak ragu lagi, aku harus segera memasuki dunia ini, di mana pada permukaannya perempuan-perempuan wangi berayun perlahan, mengipas gemulai, dan meminum air dingin.
Tetapi, aku lebih betah di dunia ayahku. Orang-orang seperti Mr. Heck Tate tidak memerangkap dengan pertanyaan lugu untuk mengejek; bahkan Jem tidak sangat kritis kecuali kita mengatakan sesuatu yang bodoh. Kaum perempuan tampaknya hidup dengan sedikit menyimpan rasa takut pada kaum lelaki, tampak enggan untuk menyetujui mereka sepenuh hati. Tetapi, aku menyukai kaum
lelaki. Ada sesuatu pada diri mereka, sebanyak apa pun mereka menyumpah dan minum dan berjudi dan mengunyah tembakau; seberapa pun tak menyenangkannya mereka, ada sesuatu tentang mereka yang kusukai secara naluriah " mereka tidak""Munafik, Mrs. Perkins, munafik sejak lahir," Mrs. Merriweather berkata. "Setidaknya kita tak menanggung dosa itu di sini. Orang di utara membebaskan budak, tetapi tidak pernah terlihat mereka duduk semeja dengan para bekas budak. Setidaknya kita tak menipu dan berkata pada para budak, ya kalian sama baiknya dengan kami
tetapi jangan dekat-dekat. Di selatan sini kita hanya berkata, kalian hidup dengan cara kalian dan kami hidup dengan cara kami. Kurasa perempuan itu, Mrs. Roosevelt, sudah kehilangan akal"benar- benar kehilangan akal, datang ke Birmingham dan mencoba duduk bersama mereka. Andaikan aku Wali Kota Birmingham, aku tentu""
Yah, kami berdua bukan Wali Kota Birmingham, tetapi aku ingin menjadi Gubernur Alabama kelak: aku akan membebaskan Tom Robinson begitu cepat sehingga Masyarakat Misionaris tak akan punya waktu untuk mengatur napas. Calpurnia sedang berbicara dengan tukang masak Miss Rachel tempo hari tentang betapa sulitnya Tom menerima keadaan dan dia tidak berhenti berbicara sewaktu aku masuk ke dapur. Katanya, tak ada yang bisa dilakukan Atticus untuk membuat penjara lebih mudah untuknya, bahwa hal terakhir yang dikatakannya kepada Atticus sebelum mereka membawanya ke penjara adalah, "Selamat tinggal, Mr. Finch, tak ada yang bisa Anda lakukan sekarang, jadi tak ada gunanya mencoba." Kata Calpurnia, Atticus memberi tahunya bahwa pada hari mereka membawa Tom ke penjara, Tom sudah putus asa. Kata Calpurnia, Atticus mencoba menjelaskan keadaan pada Tom, dan bahwa dia harus benar-benar berusaha tidak kehilangan harapan karena Atticus benar-benar mencoba membebaskannya. Tukang masak Miss Rachel bertanya kepada Calpurnia mengapa Atticus tidak
bilang saja ya kamu akan bebas, dan berhenti di situ"sepertinya itu akan menghibur Tom. Calpurnia berkata, "Karena kau tidak tahu hukum. Hal pertama yang kaupelajari kalau berada dalam keluarga hukum adalah bahwa tak ada jawaban pasti untuk apa pun. Mr. Finch tak bisa berkata begitu kalau dia tidak yakin keadaannya memang begitu."
Pintu depan membanting dan kudengar langkah Atticus di ruang tamu. Secara otomatis aku bertanya-tanya pukul berapa sekarang. Belum waktunya dia pulang, dan pada hari-hari Ma-
syarakat Misionaris berkumpul, dia biasa berada di kota hingga hari gelap.
__ADS_1
Dia berhenti di ambang pintu. Topinya di tangan, dan wajahnya pucat.
"Permisi, Ibu-Ibu," katanya. "Silakan dilanjutkan pertemuannya, jangan sampai saya mengganggu. Alexandra, bisakah kau ikut denganku ke dapur sebentar? Aku ingin meminjam Calpurnia beberapa lama."
Dia tidak melewati ruang makan, tetapi kembali ke ruang tamu dan masuk ke dapur dari pintu belakang. Aku dan Bibi Alexandra menemuinya. Pintu ruang makan terbuka lagi dan Miss Maudie bergabung dengan kami. Calpurnia sudah setengah bangkit dari kursinya.
"Cal," kata Atticus, "Aku ingin kau ikut bersamaku ke rumah Helen Robinson""
"Ada masalah apa?" tanya Bibi Alexandra, waspada melihat wajah ayahku.
"Tom meninggal."
Bibi Alexandra meletakkan tangan ke mulutnya.
"Dia ditembak," kata Atticus. "Dia hendak kabur. Sewaktu jadwal olahraga. Kata mereka, dia tiba-tiba berlari lintang pukang ke pagar dan mulai memanjatnya. Tepat di depan mereka""
"Apakah mereka tidak mencoba mencegahnya? Tidakkah mereka memberi peringatan?" suara Bibi Alexandra gemetar.
"Ya, penjaga berteriak agar dia berhenti. Mereka menembakkan beberapa kali ke udara, lalu mereka pun menembaknya. Mereka mengenainya tepat ketika dia melewati pagar. Kata mereka, andai dia punya dua tangan yang normal, dia sudah berhasil, gerakannya demikian cepat. Tujuh belas lubang peluru di tubuhnya. Mereka tidak perlu menembaknya sebanyak itu. Cal, aku ingin kau ikut bersamaku dan bantu aku memberi tahu Helen."
"Ya, Sir," gumamnya, menggerapai celemeknya. Miss Maudie menghampiri Calpurnia dan melepaskan ikatannya.
"Ini harus jadi yang terakhir, Atticus," kata Bibi Alexandra.
"Tergantung caramu melihatnya," kata Atticus. "Apa artinya seorang Negro, kurang-lebih, di antara dua ratus narapidana? Dia bukan Tom bagi mereka, dia narapidana yang hendak kabur."
Atticus bersandar pada lemari es, menaikkan kacamata, dan menggosok mata. "Kita punya kesempatan baik," katanya. "Aku menceritakan pikiranku, tetapi aku tak bisa dengan jujur mengatakan bahwa kita memiliki lebih dari kesempatan baik. Kukira Tom sudah lelah menghadapi kesempatan yang diberikan orang kulit putih dan lebih suka mengambil kesempatan sendiri. Siap, Cal?"
"Siap, Mr. Finch."
"Kalau begitu, ayo."
Bibi Alexandra duduk di kursi Calpurnia dan membenamkan wajah dalam tangan. Dia duduk diam, begitu diam hingga aku khawatir dia jatuh pingsan. Kudengar Miss Maudie bernapas seolah- olah dia baru menaiki tangga, dan di ruang makan para wanita mengobrol dengan gembira.
Kusangka Bibi Alexandra sedang menangis, tetapi ketika dia melepaskan tangan dari wajahnya, dia tidak menangis. Dia tampak lelah. Dia berbicara, dan suaranya datar.
"Aku tak bisa bilang aku menyetujui segala yang dilakukannya,
Maudie, tetapi dia kakakku, dan aku hanya ingin tahu kapan ini akan berakhir." Suaranya meninggi, "Ini mengoyak dirinya. Dia tidak banyak menunjukkannya, tetapi ini mengoyak-ngoyaknya. Aku pernah melihatnya ketika"apa lagi yang mereka inginkan darinya, Maudie, apa lagi?"
"Apa yang diinginkan siapa, Alexandra?" Miss Maudie bertanya. "Maksudku warga kota ini. Mereka mau saja membiarkan dia melakukan apa yang mereka terlalu takut untuk lakukan sendiri" mereka takut rugi. Mereka mau saja membiarkan dia merusak
kesehatannya untuk melakukan apa yang mereka takut lakukan, mereka""
"Jangan keras-keras, nanti terdengar," kata Miss Maudie. "Pernahkah kau memikirkannya begini, Alexandra? Baik Maycomb tahu atau tidak, kami memberikan penghargaan tertinggi yang bisa kami berikan kepada seseorang. Kami percaya dia akan bertindak benar. Sesederhana itu."
"Siapa?" Bibi Alexandra tak pernah tahu bahwa sikapnya mirip dengan keponakannya yang berusia dua belas tahun.
"Segelintir orang di kota ini yang berkata bahwa keadilan tidak ditandai dengan Hanya untuk Kulit Putih; segelintir orang yang berkata bahwa pengadilan yang adil adalah untuk semua, bukan untuk kita saja; segelintir orang yang punya cukup kerendahan hati untuk berpikir, ketika mereka melihat seorang Negro, aku hadir hanya berkat kebaikan Tuhan." Ketegasan lama Miss Maudie kembali, "Segelintir orang di kota ini yang punya latar belakang, itulah mereka."
Andai aku lebih memerhatikan, aku sudah punya sekeping informasi lagi untuk menambah definisi Jem tentang latar belakang, tetapi kudapati diriku gemetar dan tidak bisa berhenti. Aku sudah pernah melihat Penjara Enfield, dan Atticus pernah menunjukkan lapangan olahraganya kepadaku. Ukurannya sebesar lapangan football .
"Jangan gemetar," perintah Miss Maudie, dan aku berhenti. "Bangun, Alexandra, kita sudah cukup lama meninggalkan
mereka."
Bibi Alexandra bangkit dan merapikan beberapa kerutan rusuk korset pada pinggulnya. Dia mengambil saputangan dari ikat pinggang dan menyeka hidungnya. Dia merapikan rambut dan berkata, "Apakah kelihatan?"
"Tidak sedikit pun," kata Miss Maudie. "Kau sudah tenang, Jean
Louise?"
"Ya, Ma"am."
"Mari kita bergabung dengan mereka," katanya suram.
Suara mereka seketika terdengar ketika Miss Maudie membuka pintu ke ruang makan. Bibi Alexandra di depanku, dan aku melihat kepalanya mendongak ketika dia melewati pintu.
"Oh, Mrs. Perkins," katanya, "Anda perlu kopi lagi. Biar ku- ambilkan."
"Calpurnia sedang ada urusan sebentar, Grace," kata Miss Maudie. "Coba kuberikan beberapa potong lagi tart dewberry ini. Kamu dengar apa yang dilakukan sepupuku tempo hari, yang suka memancing itu? "."
Demikianlah mereka melanjutkan acara itu, menyusuri barisan wanita tertawa, mengitari ruang makan, mengisi cangkir kopi, menawarkan kue, seolah-olah satu-satunya yang harus disesali adalah musibah rumah tangga sementara karena kehilangan Calpurnia.
Senandung lembut dimulai lagi: "Ya, tentu saja, Mrs. Perkins, J. Grimes Everett itu santo martir, dia " perlu menikah jadi mereka kabur " ke salon setiap Sabtu sore " begitu matahari terbenam. Dia tidur bersama " ayam, sekerat penuh ayam sakit, kata Fred itulah yang memulai, kata Fred "."
Bibi Alexandra memandang ke seberang ruangan padaku dan tersenyum. Dia memandang nampan kue di meja dan mengangguk padanya. Dengan hati-hati, kuangkat nampan itu dan melihat diriku berjalan ke Mrs. Merriweather. Dengan tata krama terbaik di depan tamu, aku bertanya apakah dia mau sepotong. Lagi pula, jika Bibi bisa menjadi wanita terhormat pada saat seperti ini, aku juga bisa.
__ADS_1