
Bab10
Atticus sudah uzur; usianya hampir lima puluh. Waktu aku dan
Jem bertanya mengapa dia begitu tua, katanya dia terlambat memulai, yang kami kira memengaruhi kemampuan dan ke- jantanannya. Dia jauh lebih tua daripada para orangtua teman se- kolah kami, dan tak ada yang dapat aku atau Jem katakan tentang dia ketika teman-teman kami berkata, "Kalau ayah-ku "."
Jem gila football. Atticus tak pernah terlalu lelah untuk
menemani berlatih, tetapi kalau Jem ingin men-tackle dia, Atticus berkata, "Aku sudah terlalu tua untuk itu, Nak."
Ayah kami tidak punya keistimewaan apa-apa. Dia bekerja di kantor, bukan di toko. Atticus tidak mengendarai truk sampah untuk pemerintah county, dia bukan sheriff, dia tidak berkebun, bekerja di bengkel, atau melakukan apa pun yang bisa menimbul- kan kekaguman orang.
Selain itu, dia berkacamata. Mata kirinya hampir buta, dan mata kiri yang bermasalah adalah kutukan keluarga Finch. Kalau
ingin melihat sesuatu dengan lebih jelas, dia menoleh dan melihat dengan mata kanannya.
Dia tak melakukan hal-hal yang dilakukan ayah teman-teman sekolah kami: dia tak pernah berburu, dia tak pernah bermain poker atau memancing atau minum alkohol atau merokok. Dia duduk di rumah dan membaca.
Bagaimanapun, dengan sifat-sifat ini, ternyata dia tidak terus menjadi seseorang yang tidak-menonjol seperti yang kami inginkan: tahun itu, seluruh sekolah membicarakan dirinya yang membela Tom Robinson, dan tak satu pun memujinya. Setelah perkelahianku dengan Cecil Jacobs, aku menetapkan kebijakan pengecut. Kabar yang tersebar adalah Scout Finch tak mau berkelahi lagi karenaayahnya tak mengizinkan. Ini tidak sepenuhnya benar: demi Atticus, aku tak akan berkelahi di depan umum, tetapi keluarga adalah lahan pribadiku. Aku akan berkelahi mati-matian dengan orang dalam lingkup sepupu jauh. Francis Hancock, misalnya, tahu itu.
Ketika menghadiahi kami senapan angin, Atticus tak mau mengajari kami cara menembak. Paman Jack yang mengajari kami dasar-dasarnya; katanya, Atticus tidak tertarik pada senapan. Kata Atticus kepada Jem suatu hari, "Aku lebih suka kau menembaki kaleng timah di halaman belakang, tetapi aku tahu kau akan memburu burung. Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mocking-
bird"sejenis murai bersuara merdu"itu dosa."
Itulah sekali-kalinya aku pernah mendengar Atticus berkata tentang sesuatu yang menyebabkan dosa, dan aku menanyakannya kepada Miss Maudie.
"Ayahmu benar," katanya. " menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apa pun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu
dosa."
"Miss Maudie, lingkungan ini sudah tua, ya?"
"Sudah ada sebelum kota ini ada."
"Bukan, Ma"am, maksudku, orang-orang di jalan kita semuanya sudah tua. Anak-anak yang tinggal di sekitar sini hanya aku dan Jem. Mrs. Dubose hampir berumur seratus tahun dan Miss Rachel sudah tua, kau dan Atticus juga."
"Lima puluh tahun belum terlalu tua," kata Miss Maudie pendek. "Aku belum didorong-dorong pakai kursi roda, bukan? Ayahmu juga belum. Tetapi aku harus katakan, Yang Kuasa cukup baik hati membakar mausoleum tua milikku itu, aku sudah terlalu tua untuk merawatnya"mungkin kau benar, Jean Louise, lingkungan ini
cukup mapan. Kau tidak banyak bergaul dengan anak sebayamu, ya?"
"Hanya di sekolah."
"Maksudku, orang dewasa yang masih muda. Kau beruntung, Nak. Kau dan Jem beruntung karena usia ayahmu. Andai ayahmu baru tiga puluh tahun, hidupmu pasti berbeda."
"Tentu saja. Atticus tak bisa berbuat apa-apa "."
"Kau pasti terkejut kalau tahu," kata Miss Maudie. "Dalam tubuhnya masih ada semangat yang membara."
"Apa yang bisa dia lakukan?
"Dia bisa membuat seseorang begitu terlindung sehingga orang
lain tak bisa mengganggunya."
"Yang benar saja "."
"Eh, apa kau tidak tahu, dia adalah pemain checker terbaik di kota ini. Waktu masih tinggal di Landing, Atticus Finch bisa mengalahkan siapa pun di kedua sisi sungai."
"Ya Tuhan, Miss Maudie, aku dan Jem selalu mengalah-
kannya."
"Sudah waktunya kau tahu, itu karena dia sengaja mengalah. Tahukah kau dia bisa memainkan Jew"s harp?"
Prestasi kecil Atticus ini malah membuatku semakin malu.
"Tapi "," kata Miss Maudie.
"Tapi apa, Miss Maudie?"
"Bukan apa-apa. Bukan apa-apa"kusangka dengan semua itu kau akan bangga padanya. Tak semua orang bisa memainkan Jew"s harp. Nah, jangan ganggu para tukang kayu yang sedang bekerja. Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengurus azaleaku dan tak bisa mengawasimu. Bisa-bisa kau tertimpa papan."
Aku ke halaman belakang dan menemukan Jem sedang mencoba menembak sebuah kaleng timah dengan gigih. Usaha yang tampak bodoh karena banyak burung bluejay di sekitarnya. Aku kembali ke halaman depan dan selama dua jam menyibukkan diri mendirikan benteng rumit di sisi teras, yang terdiri atas roda, kerat jeruk, keranjang cucian, kursi-kursi teras, dan bendera AS kecil hadiah dari sekotak popcorn pemberian Jem.
Ketika pulang untuk makan malam, Atticus mendapatiku membungkuk, membidik ke seberang jalan. "Kau sedang menembak apa?"
"Pantat Miss Maudie."
Atticus berbalik dan melihat targetku yang besar sedang membungkuk di atas semaknya. Dia mendorong topinya ke belakang kepala dan menyeberangi jalan. "Maudie," panggilnya, "kupikir sebaiknya aku memperingatkanmu. Kau terancam bahaya besar."
Miss Maudie menegakkan tubuh dan melihat ke arahku. Katanya, "Atticus, kau iblis dari neraka."
Ketika kembali, Atticus menyuruhku membongkar benteng. "Jangan sampai aku memergokimu lagi sedang mengarahkan senapan itu pada orang," katanya.
Andai saja ayahku memang iblis dari neraka. Aku mengajak Calpurnia membicarakan topik itu. "Mr. Finch? Wah, banyak sekali yang bisa dia lakukan."
"Apa misalnya?" tanyaku.
Calpurnia menggaruk kepala. "Yah, aku tak tahu juga," kata- nya.
Jem menegaskan prasangkaku atas ketidakmampuan Atticus ketika dia bertanya kepadanya mengenai kemungkinan dia
bergabung dengan kelompok jemaat Metodis. Kata Atticus, lehernya bisa patah kalau dia bergabung, dia sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti itu. Jemaat Metodis ingin melunasi pinjaman gerejanya, dan menantang jemaat Baptis untuk bermain touch football. Sepertinya semua Ayah di kota kami ikut bermain, kecuali Atticus. Jem sebenarnya tak mau menonton pertandingan itu, tetapi karena tak mampu menolak football dalam bentuk apa pun, dia pun berdiri murung di tepi lapangan bersamaku dan Atticus, menonton ayah Cecil Jacobs membuat touchdown untuk regu Baptis.
Pada suatu Sabtu, aku dan Jem memutuskan untuk menjelajah sambil membawa senapan angin kami, kalau-kalau kami menemukan kelinci atau tupai. Kami sudah berjalan sekitar lima ratus meter melewati Radley Place ketika kulihat Jem memicingkan mata menatap sesuatu di ujung jalan. Dia memutar kepalanya ke satu sisi dan melihat dari sudut matanya.
"Kau lihat apa?"
"Anjing tua di sana itu," katanya.
"Itu Tim Johnson tua, kan?"
"Ya."
Tim Johnson adalah anjing milik Mr. Harry Johnson yang mengemudikan bus Mobile dan tinggal di tepi selatan kota. Tim adalah anjing pemburu burung berwarna merah hati; binatang
kesayangan Maycomb.
"Sedang apa dia?"
"Aku tak tahu, Scout. Sebaiknya kita pulang."
"Yah, Jem, ini kan Februari."
"Aku tak peduli. Aku mau beri tahu Cal."
__ADS_1
Kami berlomba pulang dan berlari ke dapur.
"Cal," kata Jem, "ikutlah dengan kami ke trotoar sebentar."
"Buat apa, Jem? Aku tidak bisa ikut ke trotoar setiap kali kauminta."
"Anjing tua di ujung jalan itu agak aneh."
Calpurnia menghela napas. "Aku tak bisa membalut kaki sembarang anjing. Ada perban di kamar mandi, ambillah, kerjakan sendiri."
Jem menggeleng. "Dia sakit, Cal. Ada yang aneh."
"Memangnya apa yang dia lakukan, mau menangkap ekornya sendiri?"
"Tidak, dia seperti ini."
Jem megap-megap seperti ikan koki, membungkukkan bahu, dan menggeleparkan tubuh. "Dia seperti itu, hanya sepertinya dia tak ingin berbuat begitu."
"Apakah kau sedang berbohong, Jem Finch?" nada suara Calpurnia meninggi.
"Tidak, Cal, sumpah, aku tidak bohong."
"Apa anjing itu berlari?"
"Tidak, dia hanya jalan biasa, lambat sekali, sampai hampir tak kelihatan. Dia berjalan ke arah sini."
Calpurnia membasuh tangannya dan mengikuti Jem ke halaman. "Aku tidak melihat ada anjing," katanya.
Dia mengikuti kami melewati Radley Place dan melihat ke arah yang ditunjuk Jem. Tim Johnson tak lebih dari titik di kejauhan, tetapi sudah lebih dekat. Dia berjalan terseok-seok, seolah-olah kaki kanannya lebih pendek daripada kaki kirinya. Dia mengingatkanku akan mobil yang terperangkap di kolam pasir.
"Dia timpang," kata Jem.
Calpurnia menatap, lalu mencengkeram bahu kami, dan membawa kami berlari pulang. Dia menutup pintu kayu di belakang kami, mengangkat telepon, dan berseru, "Sambungkan dengan
kantor Mr. Finch!"
"Mr. Finch!" teriaknya. "Ini Cal. Saya bersumpah demi Tuhan, ada anjing gila di jalanan"dia datang ke arah sini, ya Sir, dia"Mr. Finch, saya berani bersumpah"Tim Johnson tua, ya Sir " ya Sir " ya""
Dia menutup telepon dan menggeleng ketika kami mencoba bertanya apa yang dikatakan Atticus. Dia mengetuk-ngetuk kait telepon dan berkata, "Miss Eula May"tidak, Ma"am, saya sudah selesai bicara dengan Mr. Finch, jangan disambungkan lagi" dengar, Miss Eula May, bisakah Anda menelepon Miss Rachel dan Miss Stephanie Crawford dan orang-orang yang tinggal di jalan ini dan memberi tahu mereka ada anjing gila datang? Tolong, Ma"am!"
Calpurnia mendengarkan. "Saya tahu sekarang Februari, Miss Eula May, tetapi saya bisa mengenali anjing gila hanya dengan melihatnya. Tolong, Ma"am, cepatlah!"
Calpurnia bertanya kepada Jem. "Apa keluarga Radley punya telepon?"
Jem mencari di buku telepon dan berkata tidak. "Mereka toh tak akan keluar, Cal."
"Aku tak peduli, aku akan memberi tahu mereka." Dia berlari ke teras depan, aku dan Jem di belakangnya. "Kalian
tinggal di dalam rumah!" serunya.
Pesan Calpurnia telah diterima oleh para tetangga. Setiap pintu yang bisa kami lihat tertutup rapat. Sosok Tim Johnson belum terlihat. Kami menyaksikan Calpurnia berlari ke arah Radley Place, mengangkat rok dan celemek di atas lutut. Dia menaiki pintu depan dan menggedor pintu. Karena tak mendapat jawaban, dia berseru, "Mr. Nathan, Mr. Arthur, ada anjing gila! Ada anjing gila!"
"Seharusnya dia memutar ke belakang," kataku. Jem menggeleng. "Tak ada bedanya sekarang," katanya.
Sia-sia saja Calpurnia menggedor pintu. Tak ada yang meme- dulikan peringatannya; sepertinya tak ada yang mendengarnya.
Ketika Calpurnia berlari ke teras belakang, sebuah mobil Ford hitam masuk ke garasi. Atticus dan Mr. Heck Tate keluar dari mobil itu.
Mr. Heck Tate adalah sheriff di Maycomb County. Tinggi badannya sama dengan Atticus, tetapi tubuhnya lebih kurus. Pria berhidung panjang itu mengenakan sepatu bot berlubang logam mengilap, celana berpipa melebar, dan jaket penebang kayu. Di sabuknya terpasang sebaris peluru. Dia membawa senapan berat. Ketika dia dan Atticus tiba di teras, Jem membuka pintu.
"Mestinya sudah sampai di sini," kata Calpurnia, menunjuk ke jalan.
"Dia tidak berlari?" tanya Mr. Tate.
"Tidak, Sir, dia masih pada tahap menggelepar, Mr. Heck." "Apakah sebaiknya kita kejar dia, Heck?" tanya Atticus.
"Sebaiknya kita tunggu, Mr. Finch. Anjing gila biasanya berjalan lurus, tetapi tidak pasti juga. Dia mungkin saja mengikuti jalan yang berbelok"mudah-mudahan begitu, atau dia akan masuk ke hala- man belakang Radley. Kita tunggu saja sebentar."
"Sepertinya anjing itu tidak akan masuk ke halaman Radley," kata Atticus. "Dia pasti terhalang oleh pagar. Dia mungkin mengikuti
jalan "."
Kusangka mulut anjing gila akan tampak berbuih, dia akan berlari, melompat, dan menyambar leher, dan kusangka penyakit anjing gila hanya muncul pada bulan Agustus. Andai Tim Johnson bertingkah seperti itu, aku tentu tidak setakut ini.
Tak ada yang lebih mencekam daripada jalan yang sepi menanti. Pepohonan diam, mockingbird tidak bernyanyi, tukang kayu yang
bekerja di rumah Miss Maudie tidak terlihat. Aku mendengar Mr. Tate mengendus, lalu membersihkan hidungnya. Kulihat dia memindahkan senapannya ke dalam siku. Kulihat wajah Miss Stephanie Crawford terbingkai dalam jendela kaca di pintu depannya. Miss Maudie muncul dan berdiri di sampingnya. Atticus meletakkan kakinya pada kursi dan menggosokkan tangannya perlahan di sisi paha.
"Itu dia," katanya lirih.
Tim Johnson muncul, berjalan sempoyongan di tepi-dalam tikungan yang berdekatan dengan rumah Radley.
"Lihat dia," bisik Jem. "Kata Mr. Heck, jalannya lurus. Dia bahkan tak bisa tetap berada di jalan."
"Dia lebih mirip anjing sakit," kataku.
"Andai ada sesuatu di hadapannya, pasti dia akan langsung menyerangnya."
Mr. Tate meletakkan tangan di kening dan mencondongkan tubuh ke depan. "Anjing itu memang gila, Mr. Finch."
Tim Johnson maju selambat siput, tetapi dia tidak bermain atau mengendus dedaunan: dia berjalan lurus menuju satu arah tertentu dan sepertinya termotivasi oleh kekuatan tak terlihat yang mendorongnya mendekati kami. Kami melihat dia gemetar seperti kuda mengusir lalat; rahangnya membuka dan menutup; dia berjalan dengan oleng, tetapi seolah-olah ditarik perlahan ke arah kami.
"Dia mencari tempat untuk mati," kata Jem.
Mr. Tate berbalik. "Dia masih jauh dari mati, Jem, dia belum
mulai."
Tim Johnson tiba di jalan samping yang melintang di depan Radley Place, dan sisa otaknya yang malang membuat dia berhenti dan tampak menimbang-nimbang jalan mana yang akan dia ambil. Dia melangkah beberapa kali dengan ragu dan berhenti di depan gerbang Radley; lalu dia mencoba berbalik, tetapi tampak ke-
sulitan.
Kata Atticus, "Dia sudah berada dalam jarak tembak, Heck. Sebaiknya kautembak saja sekarang sebelum dia mengambil jalan samping"entah siapa yang berada di balik tikungan. Masuklah, Cal."
Calpurnia membuka pintu kawat, menguncinya, lalu mem- bukanya kembali dan memegang kaitnya. Dia mencoba merintangi aku dan Jem dengan tubuhnya, tetapi kami bisa melihat keluar dari bawah lengannya.
"Tembak saja, Mr. Finch." Mr. Tate menyerahkan senapan kepada Atticus; aku dan Jem hampir pingsan.
"Jangan buang waktu, Heck," kata Atticus. "Ayo."
"Mr. Finch, ini harus diselesaikan dengan sekali tembak."
Atticus menggeleng kuat-kuat, "Jangan berdiri saja, Heck! Dia tak akan menunggu seharian""
"Demi Tuhan, Mr. Finch, lihat dia di mana! Kalau memeleset, pelurunya akan kena rumah Radley! Tembakanku tidak begitu bagus, kau tahu itu!"
__ADS_1
"Aku sudah tiga puluh tahun tak pernah menembak""
Mr. Tate hampir melempar senapan itu kepada Atticus. "Aku akan merasa lega kalau kau menembak sekarang," katanya.
Samar-samar, aku dan Jem menyaksikan ayah kami mengambil senapan dan melangkah ke tengah jalan. Dia berjalan cepat, tetapi
aku melihatnya seolah-olah sedang berjalan di dalam air: waktu merayap memualkan.
Ketika Atticus menaikkan kacamatanya, Calpurnia bergumam, "Tuhan, bantulah dia," dan meletakkan tangannya di pipi.
Atticus menaikkan kacamatanya ke kening; kacamata itu tergelincir turun, dan dia menjatuhkannya ke jalan. Dalam hening kudengar kacamata itu berderak retak. Atticus menggosok mata dan dagunya; kami melihatnya mengedip-ngedipkan matanya.
Di depan gerbang Radley, Tim Johnson telah membuat
keputusan dengan sisa otaknya. Dia akhirnya berbalik, mengikuti arah yang semula dia tempuh, ke jalan kami. Dia maju dua langkah, lalu berhenti dan mendongak. Kami melihat tubuhnya terpaku.
Dengan gerakan begitu cepat sehingga seolah-olah lolos dari pandangan kami, tangan Atticus menarik kokang seraya mengangkat senapan itu ke bahunya.
Senapan itu meletus. Tim Johnson melompat, terjatuh, dan ambruk ke trotoar menjadi gundukan cokelat-putih. Dia tak tahu apa yang mengenainya.
Mr. Tate melompat turun dari teras dan berlari ke arah Radley Place. Dia berhenti di depan anjing itu, berjongkok, berbalik, dan mengetukkan jari pada keningnya di atas mata kiri. "Tembakanmu memeleset sedikit ke kanan, Mr. Finch," serunya.
"Sejak dulu memang begitu," jawab Atticus. "Andai ada pilihan, aku lebih suka pistol."
Dia membungkuk dan memungut kacamatanya, menggerus lensa yang pecah itu menjadi bubuk dengan tumitnya, menghampiri Mr. Tate, dan berdiri memandangi Tim Johnson.
Pintu terbuka satu demi satu, dan lingkungan itu perlahan menjadi hidup. Miss Maudie berjalan menuruni tangga bersama Miss Stephanie Crawford.
Jem terpaku. Aku mencubitnya supaya dia bergerak, tetapi
ketika Atticus melihat kami menghampiri, dia berseru, "Kalian di
sana saja."
Ketika Mr. Tate dan Atticus kembali ke halaman, Mr. Tate tersenyum. "Akan kuminta Zeebo mengambilnya," katanya. "Kau belum banyak melupakannya, Mr. Finch. Kata orang, kemampuan seperti itu tak akan pernah usang."
Atticus diam saja.
"Atticus?" kata Jem.
"Ya?"
"Tak apa-apa."
"Aku melihatnya, One-Shot Finch"Finch Sekali Tembak!"
Atticus memutar dan menghadap Miss Maudie. Mereka saling memandang tanpa berkata apa-apa, dan Atticus masuk ke mobil sheriff. "Kemarilah," katanya kepada Jem. "Jangan mendekati anjing itu, mengerti? Jangan dekati dia. Dia sama bahayanya, mati ataupun hidup."
"Ya, Sir," kata Jem. "Atticus""
"Apa, Nak?"
"Tidak apa-apa."
"Kau kenapa, Nak, tak bisa bicara?" kata Mr. Tate, menyeringai kepada Jem. "Baru tahu ya, ayahmu""
"Diam, Heck," kata Atticus, "ayo, kita kembali ke kota."
Ketika mereka melaju pergi, aku dan Jem pergi ke tangga depan Miss Stephanie. Kami duduk menantikan Zeebo datang mengendarai truk sampah.
Jem duduk membisu dalam kebingungan, dan Miss Stephanie berkata, "Ck-ck-ck, siapa sangka ada anjing gila di bulan Februari. Mungkin dia tidak gila, hanya miring. Aku tak ingin melihat wajah Harry Johnson ketika dia pulang dari Mobile dan mengetahui Atticus Finch menembak anjingnya. Pasti anjing itu penuh kutu gara-gara pergi ke suatu tempat""
Kata Miss Maudie, Miss Stephanie pasti berbeda omongannya
andai Tim Johnson masih ada di jalanan, andai dia tahu bahwa mereka akan mengirim kepala anjing itu ke Montgomery.
Jem akhirnya bisa sedikit menyuarakan isi hatinya, "Kaulihat dia, Scout? Kaulihat dia hanya berdiri? " dan tahu-tahu tubuhnya rileks, kelihatannya seolah senapan itu bagian dari dirinya " dan dia melakukannya dengan sangat cepat, seperti " aku harus mem- bidik selama sepuluh menit sebelum aku bisa mengenai sesuatu
"."
Miss Maudie menyeringai jahil. "Nah, Miss Jean Louise,"
katanya, "masih beranggapan ayahmu tak bisa apa-apa? Masih malu?"
"Tidak, Ma"am," kataku malu-malu.
"Aku lupa memberi tahu waktu itu bahwa selain memainkan Jew"s harp, Atticus Finch adalah penembak terjitu di Maycomb County pada masanya."
"Jitu "," tiru Jem.
"Betul, Jem Finch. Kurasa omongan kalian akan berubah sekarang. Heran, apa kalian tidak tahu kalau saat remaja dia dijuluki Ol" One-Shot? Waktu masih tinggal di Landing, kalau dia menembak lima belas kali dan mengenai empat belas burung merpati, dia akan mengeluh karena menyia-nyiakan amunisi."
"Dia tak pernah cerita apa-apa tentang itu," gumam Jem. "Tak pernah cerita apa-apa, ya?"
"Tidak, Ma"am."
"Kenapa dia tak pernah berburu lagi sekarang?" kataku.
"Mungkin aku bisa menjawab," kata Miss Maudie. "Seperti apa pun ayahmu, yang pasti, dalam hatinya, dia beradab. Kejituan menembak adalah karunia Tuhan, bakat"oh, memang tetap harus berlatih untuk menyempurnakannya, tetapi menembak itu berbeda dengan bermain piano dan semacamnya. Kurasa dia mungkin
menggantung senapan ketika dia menyadari bahwa Tuhan telah memberinya keunggulan yang tak adil di atas sebagian besar makhluk hidup. Kurasa dia memutuskan dia tak akan menembak sampai terpaksa, dan hari ini dia terpaksa."
"Tampaknya dia akan bangga tentang ini," kataku.
"Orang yang berakal sehat tak pernah berbangga dengan bakatnya," kata Miss Maudie.
Kami melihat Zeebo datang. Dia mengambil garu dari belakang truk sampah dan dengan hati-hati mengangkut Tim Johnson. Dia
melempar anjing itu ke dalam truk, lalu menuangkan sesuatu dari jerigen ke tanah tempat Tim jatuh. "Kalian jangan kemari beberapa lama," katanya.
Ketika kami tiba di rumah, aku berkata kepada Jem, kita akan punya bahan pembicaraan di sekolah hari Senin nanti. Jem berpaling padaku.
"Jangan cerita apa-apa, Scout," katanya.
"Apa? Jelas aku akan cerita. Tidak semua ayah anak-anak di sekolah penembak terjitu di Maycomb County."
Kata Jem, "Kupikir, kalau dia ingin kita tahu, dia pasti sudah cerita. Kalau dia bangga akan hal ini, dia pasti sudah cerita."
"Mungkin dia hanya lupa," kataku.
"Tidak, Scout, ini sesuatu yang tak akan kamu mengerti. Atticus sudah sangat tua, tetapi aku tak peduli kalau dia tak bisa apa- apa"aku sama sekali tak peduli kalau dia tak bisa melakukan apa pun."
Jem memungut batu dan melemparnya dengan riang ke garasi. Sambil mengejarnya, dia berseru, "Atticus adalah lelaki terhormat,
seperti aku!"
__ADS_1