
Bab16
Jem mendengarku. Dia melongokkan kepala lewat pintu
penghubung. Selagi dia menghampiri tempat tidurku, lampu Atticus menyala. Kami tak bergerak sampai lampu itu mati; kami mendengarnya membalikkan tubuh, dan kami menunggu sampai dia tak bergerak lagi.
Jem mengajakku ke kamarnya dan menyuruhku berbaring di ranjangnya. "Cobalah tidur," katanya. "Semuanya akan berakhir
setelah besok, mungkin."
Sebelumnya kami masuk diam-diam supaya tidak mem- bangunkan Bibi. Atticus mematikan mesin mobil di jalan masuk dan meluncur mobilnya ke garasi; kami masuk lewat pintu belakang dan terus ke kamar tanpa berkata-kata. Aku sangat lelah dan sudah setengah tertidur ketika ingatan akan Atticus dengan tenang me- lipat koran dan mendorong topi ke belakang berubah menjadi Atticus berdiri di tengah jalan yang kosong dan mencekam, menaikkan kacamatanya. Pemahaman sepenuhnya mengenai
peristiwa malam itu menghantamku dan aku mulai menangis. Jem sangat baik hati saat itu: sekali ini dia tidak mengingatkan bahwa orang yang hampir sembilan tahun tidak pernah lagi menangis.
Pagi itu semua orang tidak terlalu berselera makan, kecuali Jem: dia makan tiga butir telur. Atticus terpana mengagumi Jem; Bibi Alexandra menghirup kopi dan memancarkan gelombang ketidaksetujuan. Anak-anak yang menyelinap keluar pada malam hari adalah aib bagi keluarga. Kata Atticus, dia benar-benar senang karena para aibnya muncul, tetapi Bibi berkata, "Omong kosong. Mr. Underwood ada di kantornya sepanjang peristiwa itu."
"Eh, Braxton itu aneh juga," kata Atticus. "Dia membenci orang Negro, malah tak mau dekat-dekat."
Warga setempat memandang Mr. Underwood sebagai pria pendek yang kasar dan tidak beragama. Ayahnya menamainya Braxton Bragg berdasarkan selera humor yang aneh, nama yang harus ditanggung Mr. Underwood sebisa mungkin. Kata Atticus, orang yang dinamai berdasarkan nama jenderal-jenderal Konfe- derasi lambat laun akan menjadi pemabuk.
Calpurnia sedang menuangkan kopi lagi untuk Bibi Alexandra, dan dia menggeleng padaku yang memasang wajah memohon dan memesona. "Kau masih terlalu kecil," katanya. "Akan kuberi tahu kalau sudah besar." Kopi bisa membantu perutku, sanggahku. "Baik- lah," katanya, dan mengambil cangkir dari lemari. Dia menuangkan
sesendok kopi ke dalamnya dan mengisinya penuh-penuh dengan susu. Aku mengucapkan terima kasih padanya dengan meleletkan lidahku pada cangkir itu, dan mendongak untuk melihat kerutan kening Bibi yang akan segera memperingatkan aku. Tetapi, dia sedang mengerutkan keningnya kepada Atticus.
Dia menunggu sampai Calpurnia masuk kembali ke dapur, lalu berkata, "Jangan berbicara seperti itu di depan mereka."
"Berbicara seperti apa di depan siapa?" tanyanya.
"Seperti tadi di depan Calpurnia. Kaubilang, "Braxton Under-
wood membenci orang Negro" langsung di hadapannya."
"Ah, aku yakin Cal sudah tahu. Semua orang di Maycomb juga tahu."
Akhir-akhir ini, aku mulai melihat perubahan kecil dalam diri ayahku, yang muncul ketika dia berbicara dengan Bibi Alexandra. Dia selalu mempertahankan pendapatnya dengan tenang, tidak pernah menunjukkan kekesalan secara blak-blakan. Ada sedikit kekakuan dalam suaranya ketika dia berkata, "Apa pun yang layak diucapkan di meja ini, berarti layak diucapkan di depan Calpurnia. Dia tahu apa arti dirinya bagi keluarga ini."
"Menurutku, ini bukan kebiasaan yang baik, Atticus. Hal seperti ini membuat mereka melunjak. Kau tahu mereka suka berbicara sendiri. Segala sesuatu yang terjadi di kota ini sudah sampai ke Quarters sebelum matahari terbenam."
Ayahku meletakkan pisaunya. "Aku tak tahu ada hukum yang menyatakan mereka tak boleh berbicara. Mungkin kalau bukan gara-gara kita yang memberi mereka seabrek bahan pembicaraan, mereka akan diam. Kenapa kopinya tidak diminum, Scout?"
Aku sedang memainkannya dengan sendok. "Kusangka Mr. Cunningham teman kita. Kau pernah bilang begitu padaku."
"Dia masih teman kita."
"Tapi tadi malam dia ingin menyakitimu."
Atticus meletakkan sendok di samping pisaunya dan mendorong
piringnya ke samping. "Pada dasarnya Mr. Cunningham orang baik," katanya, "dia hanya punya titik buta, sama seperti kita semua."
Jem angkat bicara. "Jangan disebut titik buta. Dia ingin mem- bunuhmu tadi malam waktu dia baru tiba."
"Dia mungkin menyakitiku sedikit," Atticus mengaku, "tetapi, Nak, kau akan lebih memahami manusia kalau kau sudah lebih besar. Sebuah kawanan selalu terdiri dari manusia, bagaimanapun situasi- nya. Mr. Cunningham adalah bagian dari kawanan tadi malam, tetapi dia masih manusia. Setiap kawanan di setiap kota kecil di
Selatan selalu terdiri dari orang-orang yang kita kenal"mereka tak punya kesan yang baik, ya?
"Memang tidak," kata Jem.
"Jadi, diperlukan seorang anak berusia delapan tahun untuk menyadarkan mereka, bukan?" kata Atticus. "Itu membuktikan satu hal"bahwa kawanan hewan buas bisa dihentikan karena mereka masih manusia. Hmmm, mungkin kita perlu satuan polisi anak-anak " tadi malam kalian membuat Walter Cunningham sejenak berada dalam posisiku. Itu sudah cukup."
Yah, kuharap Jem akan lebih memahami manusia kalau sudah lebih besar; aku tak akan pernah paham. "Lihat saja nanti, hari pertama Walter kembali ke sekolah, akan menjadi hari terakhirnya," tegasku.
"Kau tidak boleh menyentuh dia," kata Atticus datar. "Aku tak mau kalian berdua menyimpan ganjalan karena kejadian ini, apa pun yang terjadi."
"Kaulihat sendiri, kan," kata Bibi Alexandra, "apa akibat dari hal seperti ini. Jangan bilang aku belum pernah memberi tahu."
Atticus berkata, dia tak akan pernah bilang begitu, lalu mendorong kursinya dan bangkit. "Aku ada pekerjaan, jadi permisi. Jem, aku tidak mau kau dan Scout pergi ke kota hari ini, ya."
Ketika Atticus berangkat, Dill melompat-lompat dari ruang tamu
ke ruang makan. "Beritanya sudah tersebar ke seluruh kota pagi ini," dia mengumumkan, "tentang kita melawan seratus orang dengan tangan kosong "."
Bibi Alexandra menatapnya sampai dia terdiam. "Bukan seratus orang," kata Bibi, "dan tak ada yang melawan siapa-siapa. Itu cuma sekawanan Cunningham, mabuk dan mengacau."
"Ah, Bibi, Dill kan bicaranya memang begitu," kata Jem. Dia mengisyaratkan agar kami mengikutinya.
"Jangan keluar dari halaman hari ini," katanya, ketika kami
berjalan ke teras depan.
Rasanya seperti hari Sabtu. Warga dari sisi selatan county melewati rumah kami dalam arus yang santai tetapi terus meng- alir.
Mr. Dolphus Raymond terguncang-guncang di atas kudanya. "Heran, kok dia bisa tetap di pelana, ya," gumam Jem. "Bagaimana dia bisa mabuk-mabukan sebelum jam delapan pagi?"
Gerobak yang dipenuhi perempuan berderak-derak melewati kami. Mereka mengenakan topi bonnet dan pakaian berlengan panjang. Seorang lelaki berjanggut dan bertopi wol mengemudikan gerobak. "Itu orang-orang Mennonit," kata Jem kepada Dill. "Mereka tak punya kancing." Mereka tinggal jauh di dalam hutan,melakukan sebagian besar jual-beli di seberang sungai, dan jarang ke Maycomb. Dill tertarik. "Mereka semua bermata biru," Jem men- jelaskan, "dan lelakinya tak boleh bercukur setelah menikah. Istri mereka suka digelitik dengan janggut."
Mr. X Billups lewat mengendarai bagal dan melambai kepada kami. "Dia lucu," kata Jem. "Namanya memang X, bukan inisialnya. Dia pernah datang ke pengadilan suatu kali dan petugas menanya- kan namanya. Dia bilang, X Billups. Juru tulis memintanya mengejanya dan dia bilang, X. Memintanya lagi dan dia berkata X. Mereka bolak-balik begitu sampai dia menulis X pada selembar kertas dan mengangkatnya agar semua orang bisa melihat. Mereka
bertanya dari mana dia memperoleh nama itu, dan katanya, begitulah orangtuanya mendaftarkan namanya ketika dia lahir."
Selagi penduduk county melewati kami, Jem menceritakan pada Dill sejarah dan sikap umum para tokoh yang lebih terkemuka: Mr. Tensaw Jones memberi suara untuk para politisi pendukung hukum Prohibisi"masa dalam sejarah AS, antara tahun 1920-1933, ketika hukum melarang pembuatan, penyebaran, dan penjualan minuman beralkohol; Miss Emily Davis diam-diam mengisap tembakau; Mr. Byron Waller bisa bermain biola; Mr. Jake Slade memiliki set gigi
__ADS_1
ketiga di mulutnya.
Segerobak warga yang berwajah keras muncul. Ketika mereka menunjuk ke halaman Miss Maudie Atkinson yang tampak menyala dengan bunga-bunga musim panas, Miss Maudie sendiri muncul ke teras. Ada yang unik tentang Miss Maudie"meskipun dia berdiri terlalu jauh dari kami di terasnya sehingga kami tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, kami selalu bisa menduga suasana hatinya lewat caranya berdiri. Sekarang, dia sedang berdiri sambil berkacak pinggang, bahunya membungkuk sedikit, kepalanya miring, kaca- matanya berkilau memantulkan cahaya matahari. Kami tahu dia sedang menyeringai sangat jail.
Si kusir gerobak melambatkan bagalnya dan seorang wanita bersuara melengking berseru, "Dia yang datang dalam kesombongan akan pergi dalam kegelapan!"
Miss Maudie menjawab, "Hati yang riang menjadikan wajah yang ceria!"
Aku menduga para pembasuh kaki itu berpikir bahwa sang Iblis sedang mengutip Alkitab untuk tujuannya sendiri karena sang Kusir segera mempercepat laju bagalnya. Mengapa mereka tidak menyukai halaman Miss Maudie adalah misteri. Yang semakin membuatku penasaran adalah, untuk seseorang yang melewatkan seluruh siang harinya di luar rumah, penguasaan Miss Maudie atas isi Alkitab
sungguh mencengangkan.
"Anda akan ke pengadilan pagi ini?" tanya Jem. Kami berjalan mendekatinya.
"Tidak," katanya. "Aku tak ada urusan di pengadilan pagi ini." "Anda tidak ingin menonton?" tanya Dill.
"Tidak. Menyeramkan, menonton seorang iblis malang diadili untuk memperjuangkan nyawanya. Lihat orang-orang itu, seperti karnival Romawi saja."
"Mereka harus mengadilinya di depan umum, Miss Maudie,"
kataku. "Tidak benar kalau tidak di depan umum."
"Aku tahu itu," katanya. "Hanya karena itu pengadilan umum, bukan berarti aku wajib hadir, kan?"
Miss Stephanie Crawford mampir. Dia mengenakan topi dan sarung tangan. "Ck-ck-ck," katanya. "Lihat orang-orang ini"bisa- bisa orang berpikir William Jennings Bryan akan menyampaikan pidato."
"Dan kau mau ke mana, Stephanie?" tanya Miss Maudie. "Ke Jitney Jungle."
Miss Maudie mengatakan, dia belum pernah melihat Miss Stephanie seumur hidupnya mengenakan topi untuk pergi ke Jitney Jungle.
"Yah," kata Miss Stephanie, "kupikir aku akan mampir sebentar ke gedung pengadilan, untuk melihat apa yang dilakukan Atticus."
"Hati-hati saja, bisa-bisa nanti dia memanggilmu menjadi saksi."
Kami meminta Miss Maudie menjelaskan: katanya, Miss Stephanie tampaknya tahu begitu banyak tentang kasus itu, lebih baik sekalian saja dipanggil untuk bersaksi.
Kami bertahan sampai tengah hari, ketika Atticus pulang untuk makan dan menceritakan bahwa mereka melewatkan sepanjang pagi untuk memilih juri. Setelah makan, kami menjemput Dill dan berangkat ke kota.
Acaranya sungguh meriah. Karena tak ada lagi tempat yang tersisa di pagar penambatan umum, keledai dan gerobak diparkir di bawah setiap pohon yang berdiri. Halaman gedung pengadilan dipenuhi warga yang berpesta piknik di atas hamparan koran, menelan biskuit dan sirop dengan susu hangat dari poci. Beberapa orang menggerogoti ayam dingin dan potongan daging goreng dingin. Yang lebih berada melarutkan makanan dengan Coca-Cola dalam gelas bel. Anak-anak kecil dengan wajah berminyak bermain cambuk-cambukan di antara kerumunan, dan bayi-bayi makan
siang dengan menyusu di dada ibu mereka.
Di ujung halaman itu, orang-orang Negro duduk tanpa bersuara dalam paparan sinar matahari, memakan sarden, biskuit, dan Nehi Cola yang bercita rasa lebih kuat. Mr. Dolphus Raymond duduk bersama mereka.
"Jem," kata Dill, "dia minum dari kantong."
"Belum pernah kulihat orang berbuat begitu," gumam Dill. "Bagaimana supaya isinya tidak keluar?"
Jem tertawa. "Di dalamnya ada botol Coca-Cola berisi wiski. Dia berbuat begitu supaya tidak merisaukan kaum wanita. Lihat saja sendiri nanti, dia akan menghirup minuman itu sepanjang sore, lalu dia akan keluar sebentar dan mengisinya lagi."
"Mengapa dia duduk bersama orang kulit hitam?"
"Selalu begitu. Dia lebih suka mereka daripada kita, kukira. Dia tinggal sendirian, jauh di dekat perbatasan county. Istrinya berkulit hitam dan anaknya blasteran. Nanti kutunjukkan anaknya kalau bertemu."
"Dia tidak kelihatan seperti sampah," kata Dill.
"Memang bukan, dia memiliki satu sisi tepi sungai di sana, dan
dia juga berasal dari keluarga yang sudah tua."
"Lalu, mengapa dia berbuat seperti itu?"
"Memang begitu orangnya," kata Jem. "Katanya, dia tak pernah pulih dari kejadian pada pesta pernikahannya. Dia semestinya menikah dengan salah seorang"wanita Spencer, rasanya. Mereka akan mengadakan pesta besar, tetapi gagal"setelah geladi resik, pengantin perempuan naik ke lantai dua dan menembak kepalanya sendiri. Senapan. Dia menarik picunya dengan jari kaki."
"Apa ada yang tahu penyebabnya?"
"Tidak," kata Jem, "tak ada yang tahu persis mengapa, kecuali Mr. Dolphus. Katanya, karena calon istrinya tahu tentang perempuan kulit hitam kekasihnya. Mr. Dolphus menyangka bisa tetap berhubungan dengan perempuan itu sekaligus menikah juga. Sejak saat itu, dia jadi pemabuk. Tapi, tahu tidak, dia baik sekali pada anak-anak itu""
"Jem," tanyaku, "anak blasteran itu apa?"
"Setengah kulit putih, setengah kulit hitam. Kau sudah pernah lihat, Scout. Kau tahu kan yang berambut merah keriting yang mengantar barang ke toko kelontong. Dia setengah kulit putih.
Mereka menyedihkan sekali."
"Menyedihkan bagaimana?"
"Mereka tidak masuk ke golongan mana pun. Orang kulit berwarna tak mau menerima mereka karena mereka setengah putih; orang kulit putih tak mau menerima mereka karena mereka berwarna, jadi mereka di tengah-tengah, tidak masuk ke mana-mana. Nah, tetapi Mr. Dolphus, kata orang, dia mengirim dua di antara anaknya ke utara. Penduduk utara tak berkeberatan dengan anak blasteran. Nah, itu dia salah satunya."
Seorang anak lelaki kecil memegang tangan seorang perempuan Negro berjalan ke arah kami. Dia tampak sepenuhnya Negro bagiku: kulitnya sangat cokelat dengan hidung pesek dan gigi indah. Kadang, dia melompat-lompat riang, tetapi perempuan Negro itu menyen-
takkan tangannya untuk menghentikannya.
Jem menunggu sampai mereka melewati kami. "Itu salah satu
yang kecil," katanya.
"Bagaimana bisa tahu?" tanya Dill. "Kupikir dia kulit hitam
biasa."
__ADS_1
"Kadang memang tidak bisa, kecuali kau kenal siapa mereka. Tetapi dia jelas-jelas setengah Raymond."
"Tapi, tahu dari mana?" tanyaku.
"Sudah kubilang, Scout, kau akan tahu dengan melihat
mereka."
"Kalau begitu, dari mana kau tahu kita bukan Negro?"
"Kata Paman Jack Finch, kita tidak benar-benar tahu. Katanya, sejauh yang bisa dia telusuri dari leluhur keluarga Finch, kita bukan Negro, tetapi cuma dari pengetahuannya. Kita bisa saja berasal dari Etiopia semasa Perjanjian Lama."
"Yah, kalau kita berasal dari Afrika semasa Perjanjian Lama, itu sudah lama sekali, tidak ada pengaruhnya lagi."
"Aku juga berpikir begitu," kata Jem, "tetapi di sekitar ini, begitu kita punya setetes darah Negro, itu berarti kita sepenuhnya kulit hitam. Hei, lihat""
Ada isyarat tak terlihat yang membuat para penyantap makan siang di blok itu bangkit dan membuang sisa-sisa koran, selotip, dan kertas pembungkus. Anak-anak menyongsong ibu mereka, bayi-bayi digendong di pinggul, sementara para lelaki dengan topi bernoda keringat mengumpulkan keluarga mereka dan meng- giringnya melewati pintu pengadilan. Di ujung halaman, orang-orang Negro dan Mr. Dolphus Raymond berdiri dan menepuk-nepuk celana mereka. Hanya sedikit perempuan dan anak-anak di antara mereka, yang sepertinya membuyarkan suasana liburan. Mereka menunggu dengan sabar di pintu, di belakang keluarga berkulit putih.
"Ayo kita masuk," kata Dill.
"Jangan, sebaiknya kita tunggu sampai mereka masuk, Atticus mungkin tidak suka kalau dia melihat kita," kata Jem.
Gedung pengadilan Maycomb County samar-samar meng- ingatkan orang pada Arlington karena satu aspek: tiang beton yang menyokong atap selatan terlalu besar untuk bebannya yang ringan. Hanya tiang-tiang itu yang tersisa ketika gedung aslinya terbakar pada 1865. Gedung baru dibangun mengitari tiang itu. Atau lebih tepat, dibangun meskipun ada tiang itu. Kecuali teras selatan, gedung pengadilan Maycomb County bergaya Victorian awal,
menyajikan pemandangan yang tidak mengecewakan jika dilihat dari utara. Namun, dari sisi yang berkebalikan, tiang-tiang bulat bergaya Yunani bertabrakan dengan menara jam besar dari abad kesembilan yang menampung pengukur waktu berkarat dan tak bisa diandalkan, pemandangan yang menunjukkan tekad warga untuk mempertahankan setiap pernik fisik masa lalu.
Untuk mencapai ruang pengadilan di lantai dua, kami harus melewati beberapa relung county yang tidak tersentuh sinar matahari: penilai pajak, pengumpul pajak, juru tulis county, pengacara county, juru tulis keliling, hakim waris, semuanya berkantor dalam kerangkeng-kerangkeng yang sejuk dan temaram, yang berbau seperti buku catatan busuk bercampur semen tua yang lembap dan urine basi. Lampu perlu dinyalakan pada siang hari; selalu ada selapis debu pada papan lantai yang kasar. Penghuni kantor-kantor ini adalah makhluk yang cocok dengan lingkungannya: lelaki-lelaki pendek berwajah kelabu yang tampaknya lama tak tersentuh matahari atau angin.
Kami tahu ada banyak orang, tetapi kami tak menyangka seabrek orang berjejalan di aula lantai satu. Aku terpisah dari Jem dan Dill, tetapi terus berjalan ke dinding dekat tangga, tahu Jem akan menjemputku pada akhirnya. Kudapati diriku di tengah-tengah Klub Pemalas, dan berupaya supaya tak mengganggu mereka. Klub Pemalas adalah sekelompok orang tua berkemeja putih, bercelana
khaki dengan tali selempang, yang melewatkan hidup mereka tanpa melakukan apa-apa dan melewatkan hari tua melakukan hal yang sama di bangku pinus di bawah pohon ek di alun-alun. Menurut Atticus, mereka adalah kritikus yang awas tentang urusan gedung pengadilan; mereka menguasai hukum sebaik Hakim Agung sebagai akibat dari pengamatan selama tahun-tahun yang panjang. Biasanya hanya mereka yang menjadi penonton di pengadilan, dan hari ini mereka tampak jengkel dengan gangguan bagi rutinitas mereka yang nyaman. Ketika berbicara, suara mereka terdengar seperti
orang penting tetapi santai. Percakapannya membahas ayahku. "" pikirnya dia tahu apa yang dia lakukan," kata seorang.
"Ah, aku tak sepakat," kata yang lain. "Atticus Finch adalah pembaca yang serius, pembaca yang sangat serius."
"Dia memang membaca, cuma itu yang dia lakukan." Klub itu terkekeh.
"Aku beri tahu sekarang Bill," orang ketiga berkata, "kau tahu pengadilan menunjuk dia untuk membela nigger ini."
"Iya, tetapi Atticus ingin membela dia. Itu yang aku tak suka." Ini berita baru, berita yang memberikan pandangan berbeda tentang situasi ini: Atticus wajib melakukannya, mau tidak mau. Kupikir aneh juga dia tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada kami"kami bisa memanfaatkannya berkali-kali saat membelanya dan membela kami. Dia wajib karena itulah dia melakukannya, berarti lebih sedikit perkelahian dan lebih sedikit pertengkaran. Akan tetapi, apakah itu menjelaskan sikap warga kota? Pengadilan menunjuk Atticus untuk membelanya. Atticus ingin membelanya. Itu yang tidak mereka sukai. Membingungkan.
Orang-orang Negro, setelah menunggu orang kulit putih naik, mulai masuk. "Eh, eh, tunggu dulu," kata seorang anggota klub, mengacungkan tongkat berjalannya. "Jangan naik dulu."
Anggota Klub mulai naik dengan sendi kaku dan berpapasan dengan Dill dan Jem yang turun mencariku. Mereka berkelit melewati
dan Jem berseru, "Scout, ayo, sudah tak ada kursi lagi. Kita harus
berdiri."
"Lihat ke sana," katanya jengkel, ketika orang-orang berkulit hitam naik ke atas. Orang-orang tua di hadapan mereka akan mengambil sebagian besar ruang berdiri. Kami tak beruntung dan semuanya salahku, kata Jem. Kami berdiri dengan merana di dekat
dinding.
"Kalian tidak bisa masuk?"
Pendeta Sykes memandang kami, membawa topi hitam.
"Hai, Pak Pendeta," kata Jem. "Tidak, Scout mengacaukan kami."
"Coba kita lihat apa yang bisa kita lakukan."
Pendeta Sykes beringsut-ingsut ke atas. Beberapa saat kemudian, dia kembali. "Di bawah sudah tak ada tempat duduk. Kalian tidak apa-apa kalau naik ke balkon bersamaku?"
"Mau," kata Jem. Dengan sukacita, kami berlari mendahului Pendeta Sykes ke lantai atas ruang pengadilan. Di sana, kami menaiki tangga beratap dan menunggu di pintu. Pendeta Sykes datang terengah-engah di belakang kami, dan mengarahkan kami dengan lembut menembus orang kulit hitam di balkon. Empat orang Negro bangkit dan memberi kami kursi terdepan.
Balkon Kulit Hitam terletak pada tiga dinding ruang pengadilan, bagai beranda lantai dua, dan dari situ kami bisa melihat semuanya.
Juri duduk di sebelah kiri, di bawah jendela-jendela panjang. Sosok-sosok mereka yang terbakar matahari dan jangkung menunjukkan bahwa mereka semua sepertinya petani, tetapi ini wajar: warga kota jarang menjadi juri, mereka biasanya gagal atau diizinkan tidak ikut. Satu atau dua juri samar-samar tampak seperti Cunningham yang berpakaian bagus. Pada tahap ini, mereka duduk tegak dan waspada.
Jaksa wilayah dan seorang lelaki lain duduk semeja, sementara Atticus dan Tom Robinson duduk di meja yang lain, mereka
membelakangi kami. Buku cokelat dan beberapa sabak kuning terlihat di meja jaksa wilayah; meja Atticus kosong.
Di dalam pagar yang memisahkan penonton dari sidang pengadilan, saksi duduk di kursi beralas kulit. Mereka mem-
belakangi kami.
Hakim Taylor duduk di meja hakim, mirip hiu tua yang mengantuk, sementara ikan pengikutnya menulis dengan cepat di depannya. Hakim Taylor mirip dengan sebagian besar hakim yang pernah kulihat: ramah, berambut putih, berwajah kemerahan, dia
lelaki yang memimpin pengadilan dengan informalitas yang meng- gelisahkan"dia kadang menumpangkan kaki ke meja, dia sering membersihkan kuku dengan pisau saku. Dalam pengadilan tak resmi yang panjang, terutama setelah makan, dia memberi kesan sedang terkantuk-kantuk. Ketika seorang pengacara pernah dengan sengaja mendorong setumpuk buku ke lantai dalam sebuah upaya putus asa untuk membangunkannya, Hakim Taylor bergumam tanpa membuka mata, "Mr. Whitley, kalau melakukan itu lagi, kudenda kau seratus dolar."
Dia orang yang menguasai hukum, dan meskipun tampak menganggap santai pekerjaannya, sebenarnya dia tahu persis tentang kasus yang diajukan ke hadapannya. Hanya sekali Hakim Taylor tampak diam terpaku di pengadilan terbuka, dan keluarga Cunningham menghentikannya. Old Sarum, tanah mereka, didiami oleh dua keluarga yang terpisah sejak awal, tetapi sayangnya memiliki nama yang sama. Keluarga Cunningham menikahi keluarga Coningham sampai-sampai pengejaan namanya bersifat akademis saja"hingga seorang Cunningham menyengketakan seorang Coningham untuk akta tanah dan dibawa ke meja hukum. Selama kontroversi ini, Jeems Cunningham bersaksi bahwa ibunya mengeja namanya Cunningham pada akta dan dokumen lain, tetapi sebenarnya wanita itu seorang Coningham yang tidak mahir mengeja, jarang membaca, dan biasa melamun ketika duduk malam-malam di
beranda depan rumahnya. Setelah sembilan jam mendengarkan keeksentrikan para penghuni Old Sarum, Hakim Taylor menge- luarkan kasus itu dari pengadilan. Ketika ditanya atas dasar apa, Hakim Taylor berkata, "Konspirasi," dan menyatakan dia berharap kepada Tuhan bahwa para penuntut merasa puas setelah setiap pihak dapat mengungkapkan keinginannya di depan umum. Mereka me- mang puas. Memang hanya itu yang mereka inginkan sejak awal. Hakim Taylor memiliki satu kebiasaan menarik. Dia mengizinkan orang merokok di ruang pengadilannya, tetapi dia sendiri tidak
merokok: kadang, jika beruntung, seseorang bisa menontonnya meletakkan sebatang cerutu kering yang panjang ke mulutnya, dan mengunyahnya perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit, cerutu yang tidak dinyalakan itu menghilang, dan muncul lagi beberapa jam kemudian sebagai adonan licin, esensinya terekstraksi dan bercampur dengan getah pencernaan Hakim Taylor. Aku pernah bertanya kepada Atticus, bagaimana Mrs. Taylor bisa tahan berciuman dengannya, tetapi kata Atticus mereka tidak sering berciuman.
Kursi saksi terletak di sebelah kanan Hakim Taylor, dan ketika kami duduk, Mr. Heck Tate sudah duduk di sana.
__ADS_1