
Bab9
"Hei, tarik kembali kata-katamu!"
Perintah yang kuberikan kepada Cecil Jacobs ini adalah awal masa sulit bagiku dan Jem. Tanganku terkepal dan aku siap meng- ayunkannya. Atticus pernah berjanji bahwa dia akan memukulku kalau mendengar aku berkelahi lagi; aku sudah terlalu tua dan terlalu besar untuk hal kekanak-kanakan seperti itu, dan lebih cepat aku belajar menahan diri, keadaan akan lebih baik bagi semua
orang. Aku langsung melupakannya.
Cecil Jacobs membuatku lupa. Sehari sebelumnya, dia mengumumkan di halaman sekolah bahwa ayah Scout Finch membela orang nigger. Aku menyangkalnya, tetapi memberi tahu
Jem.
"Apa maksudnya, berkata seperti itu?" tanyaku.
"Bukan apa-apa," kata Jem. "Tanya saja Atticus, dia akan
memberitahumu."
"Apakah kau membela nigger, Atticus?" tanyaku padanya malam
itu.
"Tentu saja iya. Jangan bilang nigger, Scout. Tidak sopan." "Itu yang dibilang semua orang di sekolah."
"Mulai saat ini, semua orang kecuali satu""
"Kalau kau tak mau aku berbicara seperti itu, kenapa aku disuruh bersekolah?"
Ayahku memandangku lembut, rasa geli tersirat di matanya. Meskipun kami sudah berkompromi, aksiku untuk menghindari sekolah berlangsung dalam berbagai bentuk sejak mengecap hari pertama sekolah: pada awal September aku menyampaikan berbagai keluhan tentang pingsan, pusing, dan sakit perut. Aku bahkan membayar lima sen pada anak lelaki kepala koki Miss Rachel, yang terjangkit cacingan, supaya mengizinkanku menggosokkan ke- palaku pada kepalanya. Aku tidak tertular.
Tetapi, aku mencemaskan hal lain. "Apakah semua pengacara membela n-orang Negro, Atticus?"
"Tentu saja, Scout."
"Lalu, kenapa Cecil bilang kau membela nigger? Cara bicaranya seolah-olah kau punya pabrik alkohol ilegal."
Atticus menghela napas. "Aku hanya membela seorang Negro" namanya Tom Robinson. Dia tinggal di permukiman kecil di seberang tempat pembuangan sampah kota kita. Dia anggota gereja yang sama dengan Calpurnia, dan Cal kenal baik dengan keluarganya.
Katanya, mereka hidup bersih. Scout, kau belum cukup besar untuk memahami beberapa hal, tetapi warga kota berpendapat bahwa aku sebaiknya jangan berbuat banyak untuk membela orang ini. Kasusnya memang unik"baru akan disidangkan musim panas nanti. John Taylor sudah cukup baik memberi kami penundaan "."
"Kalau sebaiknya kau tidak membelanya, lalu kenapa kau-
bela?"
"Ada beberapa alasan," kata Atticus. "Alasan utamanya, kalau aku tidak membelanya, aku tak akan bisa menegakkan kepalaku di kota
ini, aku tak akan bisa mewakili county ini dalam badan legislatif, aku bahkan tak bisa melarangmu atau Jem melakukan sesuatu."
"Maksudmu, kalau kau tidak membela orang itu, aku dan Jem tak perlu mematuhimu lagi?"
"Kira-kira begitu."
"Kenapa?"
"Karena aku tak bisa lagi meminta kalian mematuhiku. Scout, karena memang begitulah pekerjaannya, setiap pengacara sepanjang hidupnya setidaknya mendapatkan satu kasus yang akan meme- ngaruhinya secara pribadi. Sepertinya, kasus inilah kasusku. Kau mungkin akan mendengar omongan buruk tentang hal ini di sekolah, tetapi aku minta satu hal, kalau kau mau: tegakkan kepalamu tinggi-tinggi dan tahan keinginanmu untuk memukul. Apa pun yang dikatakan orang kepadamu, jangan dimasukkan ke hati. Cobalah untuk melawan mereka dengan pemikiranmu ... sebaiknya begitu, meskipun mereka akan terus melawan."
"Atticus, apakah kita akan menang?"
"Tidak, Sayang."
"Lalu, kenapa""
"Hanya karena kita telah tertindas selama seratus tahun sebelum kita mulai melawan, bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berusaha menang."
"Bicaramu mirip Sepupu Ike Finch," kataku. Sepupu Ike Finch
adalah satu-satunya veteran Konfederasi yang masih hidup di Maycomb County. Janggutnya menyerupai janggut Jenderal Hood, yang sering dibanggakannya secara berlebihan. Paling sedikit sekali setahun, Atticus, Jem, dan aku mengunjunginya dan aku harus mengecupnya. Sungguh tidak menyenangkan. Aku dan Jem biasanya dengan sopan mendengarkan percakapan Atticus dan Sepupu Ike yang mengulang-ulang cerita tentang pengalaman perangnya. "Kuberi tahu ya, Atticus," Sepupu Ike biasa berkata, "Kompromi Missouri-lah yang merugikan kita, tetapi andai aku
harus mengalaminya lagi, aku akan tetap menapakkan setiap langkahku ke sana lalu kembali lagi seperti yang pernah kulakukan, lebih dari itu, kita akan mengalahkan mereka kali ini " nah, pada tahun 1864, ketika Stonewall Jackson mampir"maaf, aku salah anak-anak. Si Cahaya Biru sudah di surga waktu itu, semoga Tuhan memberkati alis kudusnya "."
"Kemarilah, Scout," kata Atticus. Aku merangkak ke dalam pangkuannya dan meletakkan kepalaku di bawah dagunya. Dia memelukku dan membuaiku lembut. "Kali ini berbeda," katanya. "Kali ini kita tidak melawan kaum Yankee, kita melawan teman- teman kita. Tapi ingat ini, sepahit apa pun situasinya nanti, mereka masih teman kita dan tempat ini tetap rumah kita."
Dengan mengingat perkataan Atticus, aku menghadapi Cecil Jacobs di halaman sekolah keesokan harinya: "Hei, tarik kembali kata-katamu!"
"Coba saja paksa aku!" bentaknya. "Kata orangtuaku, ayahmu itu bikin malu dan nigger itu seharusnya digantung di tangki air!"
Aku bersiap memukulnya, teringat perkataan Atticus, lalu menurunkan kepalanku, dan pergi meninggalkannya. Teriakan "Scout pengecut!" terngiang-ngiang di telingaku. Itulah kali pertama- nya aku meninggalkan perkelahian.
Entah mengapa, aku merasa, kalau aku berkelahi dengan Cecil, aku akan mengecewakan Atticus. Atticus sangat jarang meminta aku Natal, kami menjemput Paman Jack di Persimpangan Maycomb, dan dia melewatkan seminggu bersama kami.
Sisi buruknya menyangkut raut wajah Bibi Alexandra dan Francis yang kaku.
Kukira aku harus menyertakan Paman Jimmy, suami Bibi Alexandra, tetapi dia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun padaku sepanjang hidupku, kecuali mengatakan "Turun dari pagar" satu kali; aku tak pernah melihat alasan untuk memerhatikannya. Begitu pula Bibi Alexandra. Dahulu sekali, saat mereka masih akrab, Bibi dan Paman Jimmy menghasilkan seorang putra bernama Henry, yang meninggalkan rumah secepat dia bisa, menikah, dan menghasilkan Francis. Henry dan istrinya menitipkan Francis di rumah orangtuanya setiap Natal, lalu mencari kesenangan sen- diri.
Meskipun telah menghela napas sebanyak yang kami mampu, kami tak bisa membujuk Atticus untuk mengizinkan kami melewatkan hari Natal di rumah. Kami pergi ke Finch"s Landing setiap Natal sepanjang ingatanku. Keahlian memasak Bibi Alexandra adalah kompensasi atas pemaksaan melewatkan hari raya agama bersama Francis Hancock. Dia setahun lebih tua dariku, dan aku menghindarinya berdasarkan prinsip: dia menikmati segala sesuatu yang tak kusukai, dan dia terang-terangan tidak menyukai hobiku.
Bibi Alexandra adalah adik Atticus, tetapi ketika Jem bercerita tentang persaudaraan dan bayi yang tertukar, aku menjadi yakin bahwa Bibi Alexandra tertukar sejak lahir, bahwa kakek-nenekku mungkin mendapatkan seorang Crawford, bukan seorang Finch. Seandainya aku pernah mengkhayalkan gunung-gunung, yang tampaknya membuat para pengacara dan hakim terobsesi, Bibi Alexandra mungkin bisa disamakan dengan Gunung Everest: sepanjang hidupku, dia dingin dan dia ada.
Ketika Paman Jack melompat turun dari kereta pada hari Malam
Natal, kami harus menunggu portir menyerahkan dua paket panjang kepadanya. Sejak dulu, aku dan Jem merasa lucu kalau melihat Paman Jack mencium pipi Atticus; hanya mereka berdualah lelaki yang pernah kami lihat saling mencium. Paman Jack berjabatan tangan dengan Jem dan mengayunku ke atas, tetapi tidak cukup tinggi: Paman Jack sekepala lebih pendek daripada Atticus; si bayi dalam keluarga Finch, dia lebih muda daripada Bibi Alexandra. Dia dan Bibi Alexandra berwajah mirip, tetapi kesan yang ditimbulkan wajahnya lebih baik: kami tak pernah curiga pada hidung dan dagunya yang tajam.
Dia salah seorang dari sedikit ilmuwan yang tak pernah membuatku takut, mungkin karena dia tak pernah bersikap seperti dokter. Ketika dia melakukan pemeriksaan kecil padaku dan Jem, misalnya mengeluarkan serpih kayu di kaki, dia memberi tahu kami apa persisnya yang akan dia lakukan, memberi kami perkiraan seberapa besar rasa sakit yang akan timbul, dan menjelaskan kegunaan setiap alat yang dipakainya. Pada suatu hari Natal, aku bersembunyi di pojok, mengusap-usap kakiku yang kemasukan serpih kayu bengkok, tak mengizinkan siapa pun mendekatiku. Ketika Paman Jack berhasil menangkapku, dia membuatku tertawa- tawa dengan menceritakan lelucon tentang seorang pendeta yang begitu membenci pergi ke gereja sehingga setiap hari dia berdiri di depan gerbang gereja dengan mengenakan jubahnya, mengisap
pipa rokok, dan menyampaikan khotbah sepanjang lima menit kepada siapa pun yang menginginkan penghiburan spiritual, yang kebetulan melewatinya. Aku menyela agar Paman Jack memberi tahu kapan dia akan mengeluarkan serpih itu, tetapi dia menunjukkan serpih berdarah yang telah dicabutnya dengan pinset itu dan berkata bahwa dia mencabutnya saat aku tertawa; itulah yang namanya
relativitas.
"Apa isi paketnya?" tanyaku padanya, menunjuk parsel panjang tipis yang diserahkan portir.
"Bukan urusanmu," katanya.
Kata Jem, "Apa kabar Rose Aylmer?"
Rose Aylmer adalah kucing Paman Jack, betina berwarna kuning yang cantik. Kata Paman Jack, dia adalah salah satu dari sedikit perempuan yang dengannya dia bisa tahan berdekatan dalam waktu lama. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Kami mengaguminya.
"Dia makin gemuk," kataku.
"Memang semestinya. Dia makan semua sisa-sisa jari dan kuping yang kudapatkan dari rumah sakit."
"Ah, itu pasti kebohongan brengsek," kataku.
"Maaf?"
Kata Atticus, "Tak usah dipedulikan, Jack. Dia sedang mengujimu. Kata Cal, sudah seminggu ini dia fasih menyumpah-nyumpah."
Paman Jack mengangkat alis dan tak mengatakan apa-apa. Aku berbuat begini berdasarkan suatu teori samar, selain adanya daya pikat dalam sumpah serapah seperti itu, jika Atticus tahu bahwa aku mempelajari kata-kata itu di sekolah, dia tak akan memaksaku ber- sekolah lagi.
Namun, pada acara makan malam itu, ketika aku meminta tolong padanya untuk mengambilkan daging sialan, Paman Jack menudingku. "Temui aku setelah ini, gadis muda," katanya.
Seusai makan malam, Paman Jack masuk ke ruang tamu dan
duduk. Dia menepuk pahanya agar aku duduk di pangkuannya. Aku menyukai bau tubuhnya: aromanya seperti botol alkohol dan sesuatu yang manis menyenangkan. Dia mengusap poniku dan memandangku. "Kau lebih mirip Atticus daripada ibumu," katanya.
"Kau juga sudah sedikit lebih besar dari celanamu."
"Rasanya celanaku pas-pas saja."
"Kau suka mengucapkan kata-kata seperti sialan dan brengsek
sekarang, ya?"
Kataku, sepertinya begitu.
"Yah, aku tak suka itu," kata Paman Jack, "kecuali ada yang memancing-mancingmu untuk menggunakan kata-kata itu. Aku akan tinggal di sini selama seminggu, dan aku tak ingin mendengar kata-kata seperti itu selagi aku di sini. Scout, kau akan mendapat masalah kalau terus-terusan mengucapkan kata-kata itu. Kau ingin tumbuh menjadi wanita terhormat, kan?"
Aku bilang, tidak juga.
"Pasti kau mau. Nah, ayo menghias pohon kita."
Kami menghiasi pohon sampai waktu tidur tiba, dan malam itu aku memimpikan dua paket panjang untukku dan Jem. Keesokan paginya, aku dan Jem terjun menyambarnya: hadiah itu dari Atticus,yang menyurati Paman Jack agar membelikannya untuk kami, dan isinya memang apa yang kami minta.
"Jangan memainkannya di dalam rumah," kata Atticus, ketika Jem membidik sebuah gambar di dinding.
"Kau harus mengajari mereka cara menembak," kata Paman Jack.
"Itu tugasmu," kata Atticus. "Aku lebih baik tidak ikut campur."
Atticus harus menggunakan suara ruang sidangnya untuk mengalihkan kami dari pohon Natal. Dia tak mengizinkan kami membawa senapan angin kami ke Landing (aku sudah mulai
membayangkan menembak Francis) dan berkata bahwa jika kami melakukan hal buruk sekali saja, senapan itu akan disita selama-
__ADS_1
nya.
Finch"s Landing terdiri atas 366 anak tangga yang menuruni tebing dan berujung di dermaga. Lebih hilir lagi, melewati tebing, terdapat sisa-sisa kebun kapas tua, dahulu tempat orang-orang Negro yang bekerja untuk keluarga Finch mengangkuti karung dan hasil panen, menurunkan berblok-blok es, terigu dan gula, peralatan pertanian, dan pakaian-pakaian wanita. Jalan dua arah merentang
dari tepi sungai dan menghilang di antara pepohonan gelap. Pada ujung jalan terdapat rumah putih berlantai dua, dengan beranda yang mengitari kedua lantainya. Pada usia senja, leluhur kami, Simon Finch, membangunnya untuk menyenangkan istrinya yang suka menuntut; tetapi dengan adanya beranda-beranda, rumah itu tak lagi memiliki kemiripan dengan rumah biasa pada zaman itu. Pengaturan di dalam rumah Finch menandakan ketulusan dan kepercayaan mutlak Simon pada anak-anaknya.
Di lantai atas ada enam kamar tidur: empat untuk delapan anak perempuan, satu untuk Welcome Finch, satu-satunya anak lelaki, dan satu untuk kerabat yang bertamu. Cukup sederhana; tetapi kamar para gadis hanya dapat dicapai dengan satu tangga, kamar
Welcome dan kamar tamu hanya dengan tangga yang lain. Tangga para Gadis terletak di kamar orangtua mereka di lantai dasar. Jadi, Simon selalu tahu pukul berapa putri-putrinya pulang dan pergi pada malam hari.
Ada dapur yang terpisah dengan bagian rumah yang lain, yang menyatu dengan rumah itu melalui jalan kayu yang sempit; di halaman belakang terdapat lonceng berkarat yang tergantung di tiang, digunakan untuk memanggil pekerja ladang atau mengirim sinyal bahaya; di atap rumah itu terdapat bagian datar yang disebut Widow"s Walk"Jalan Janda"meskipun tak ada janda yang pernah berjalan di situ"dari situ, Simon mengawasi mandornya, meng-
amati kapal sungai, dan mengintip kehidupan para pemilik tanah
di sekitarnya.
Rumah itu menyimpan legenda umum tentang kaum Yankee" penduduk Amerika Serikat bagian utara: seorang anggota keluarga perempuan Finch, yang baru bertunangan, menyembunyikan barang- barang simpanan untuk pernikahannya agar tak dijarah perampok setempat; dia terjepit di pintu menuju Tangga para Gadis, lalu disiram air dan akhirnya didorong hingga lepas. Ketika kami tiba di Landing, Bibi Alexandra mencium Paman Jack, Francis mencium Paman Jack,
Paman Jimmy berjabatan tangan tanpa berkata-kata dengan Paman Jack, aku dan Jem memberikan hadiah kepada Francis, yang juga memberi kami hadiah. Jem yang bertingkah sok tua mendekati para orang dewasa, meninggalkanku mengobrol dengan sepupu kami.
Francis berusia delapan tahun dan rambutnya tersisir rapi. "Dapat hadiah Natal apa?" tanyaku sopan.
"Apa yang kuminta," katanya. Francis meminta celana selutut, tas kulit warna merah, lima kemeja, dan dasi kupu-kupu yang belum diikat.
"Bagus," aku berbohong. "Aku dan Jem mendapat senapan angin, dan Jem mendapat satu set perlengkapan kimia""
"Mainan, ya?"
"Bukan, set betulan. Dia mau membuatkanku tinta tak terlihat, dan aku akan menyurati Dill dengan tinta itu."
Francis bertanya buat apa aku berbuat begitu.
"Apa kau tak bisa membayangkan wajahnya waktu dia mendapat surat dariku yang tak berisi apa-apa? Dia pasti penasaran."
Mengobrol dengan Francis memberiku perasaan tenggelam perlahan-lahan ke dasar samudra. Dia anak paling membosankan yang pernah kutemui. Karena tinggal di Mobile, dia tak dapat mengadukanku ke pihak berwenang sekolah, tetapi dia berhasil menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya kepada Bibi Alexandra, yang kemudian menumpahkan kecemasannya kepada Atticus, yang
kemudian melupakannya atau memarahiku, yang mana pun yang sedang ingin dilakukannya. Tetapi, sekali-kalinya aku pernah mendengar Atticus berbicara tajam kepada orang lain adalah ketika aku mendengarnya berkata, "Tenanglah, aku berusaha semampuku dengan mereka!" Kalimat itu muncul karena aku suka mengenakan
overall .
Bibi Alexandra sangat gemar membahas pakaianku. Katanya, aku tak mungkin bisa menjadi wanita terhormat kalau aku selalu memakai celana: ketika kubilang aku tak bisa melakukan apa-apa
kalau memakai rok, dia berkata, aku memang semestinya tidak melakukan hal-hal yang mengharuskanku mengenakan celana. Bayangan Bibi Alexandra mengenai kegiatanku mencakup bermain dengan masak-masakan dan mengenakan kalung Add-A-Pearl yang dihadiahkannya ketika aku lahir; lebih dari itu, aku semestinya men- jadi cahaya mentari dalam kehidupan ayahku yang sunyi. Aku mengatakan, orang bisa saja menjadi cahaya mentari sambil bercelana, tetapi Bibi Alexandra berkata bahwa seseorang harus berperilaku seperti berkas cahaya, bahwa aku dilahirkan baik-baik, tetapi tumbuh semakin buruk setiap tahun. Dia menyakiti perasa- anku dan membuatku selalu sebal, tetapi ketika aku menanyakan hal ini kepada Atticus, dia berkata bahwa sudah ada cukup banyak cahaya matahari dalam keluarga kami dan aku boleh melanjutkan kegiatanku, dia tidak berkeberatan denganku yang seperti ini.
Pada makan malam Natal, aku duduk di meja kecil di ruang makan; Jem dan Francis duduk bersama orang-orang dewasa di meja makan. Bibi Alexandra terus mengisolasiku, lama setelah Jem dan Francis lolos untuk duduk di meja besar. Aku sering bertanya-tanya, memangnya menurutnya apa yang akan kulakukan, bangkit dan melemparkan sesuatu? Aku kadang terpikir untuk bertanya padanya, jika dia mengizinkanku duduk di meja besar bersama mereka semua sekali saja, aku akan membuktikan bahwa aku bisa bersikap beradab; bukankah setiap hari aku makan di rumah tanpa
ada kecelakaan besar? Waktu aku memohon Atticus untuk memanfaatkan pengaruhnya, katanya dia tak punya pengaruh" kami tamu, dan kami duduk menurut petunjuk tuan rumah. Dia juga berkata bahwa Bibi Alexandra tak banyak mengerti anak perempuan karena dia tak pernah punya.
Tetapi, masakannya sebanding dengan semuanya: tiga jenis masakan daging, sayuran khas musim panas dari rak makanan, acar pir, dua jenis kue, dan ambrosia merupakan makan malam Natal sederhana. Setelahnya, orang-orang dewasa pindah ke ruang tamu
dan duduk-duduk kekenyangan. Jem berbaring di lantai, dan aku ke halaman belakang. "Pakai jaketmu," kata Atticus lirih, jadi aku tak mendengarnya.
Francis duduk di sampingku di tangga belakang. "Itu yang terbaik sampai sekarang," kataku.
"Nenek pintar memasak," kata Francis. "Dia akan meng- ajariku."
"Anak lelaki tak boleh memasak." Aku cekikikan membayangkan Jem mengenakan celemek.
"Kata Nenek, semua lelaki harus belajar memasak. Lelaki juga harus berhati-hati menghadapi istri dan harus melayaninya kalau sedang sakit," kata sepupuku.
"Aku tak ingin Dill melayaniku," kataku. "Aku lebih suka melayaninya."
"Dill?"
"Ya. Jangan bilang apa-apa dulu, tetapi kami akan menikah kalau kami sudah cukup besar. Dia melamarku musim panas lalu."
Francis tertawa mengejek.
"Memangnya kenapa?" tanyaku. "Dia kan tak apa-apa."
"Maksudmu, si cebol yang kata Nenek menginap di rumah Miss Rachel setiap musim panas?"
"Memang dia yang kumaksud."
"Aku tahu banyak tentang dia," kata Francis.
"Memangnya dia kenapa?"
"Punya, dia tinggal di Meridian."
""dia selalu berpindah-pindah dari saudara ke saudara, dan Miss Rachel mendapat giliran menampungnya setiap musim
panas."
"Francis, kau bohong!"
Francis menyeringai. "Kau memang kadang-kadang bodoh sekali,
Jean Louise. Rupanya kau tak tahu, ya?"
"Apa maksudmu?"
"Kalau Paman Atticus mengizinkanmu bermain dengan anjing liar, itu urusannya, seperti kata Nenek, jadi bukan salahmu. Kurasa bukan salahmu kalau Paman Atticus juga pencinta nigger, tetapi biar kuberi tahu, ini benar-benar membuat malu seluruh keluarga""
"Francis, sialan, apa maksudmu?"
"Ya, yang kubilang tadi. Kata Nenek, sudah cukup buruk ayahmu membiarkanmu tumbuh liar, tetapi sekarang ternyata dia jadi pencinta nigger, kami tak bisa lagi berjalan dengan tegak di jalanan Maycomb. Dia menghancurkan keluarga kita, itulah yang dilakukan- nya."
Francis berdiri dan berlari menyusuri jalan kayu ke dapur tua. Pada jarak yang aman, dia berseru, "Ayahmu itu cuma pencinta nigger!"
"Bukan!" seruku. "Aku tak tahu maksudmu, tetapi hentikan sekarang juga!"
Aku melompat turun dari tangga dan berlari menyusuri jalan kayu. Mudah saja menangkap kerah Francis. Aku menyuruhnya agar cepat menarik kembali kata-katanya.
Francis meronta lepas dan berlari masuk dapur. "Pencinta nigger!" teriaknya.
Ketika mengintai mangsa, jangan terburu-buru. Jangan berkata
apa-apa, dan bisa dipastikan dia akan penasaran dan muncul. Francis muncul di pintu dapur. "Kau masih marah, Jean Louise?" tanyanya dengan hati-hati.
"Aku tak bisa bilang apa-apa lagi," kataku.
Francis keluar ke jalan kayu.
"Tarik kata-katamu, Francis?" Tetapi, aku terlalu cepat bergerak. Francis memelesat kembali ke dapur, jadi aku duduk di tangga. Aku bisa menunggu dengan sabar. Mungkin aku sudah duduk di situ selama lima menit ketika kudengar Bibi Alexandra berbicara, "Mana
Francis?"
"Dia di dapur."
"Dia tahu dia tidak boleh bermain di sana."
Francis muncul di pintu dan berseru, "Nenek, dia mema- sukkanku ke sini dan tak membolehkanku keluar!"
"Ada apa ini, Jean Louise?"
Aku memandang Bibi Alexandra, "Aku tidak memasukkan dia ke sana, Bibi, aku tidak mengurungnya."
"Bohong," seru Francis, "dia tidak membolehkanku keluar!" "Kalian bertengkar?"
"Jean Louise marah padaku, Nenek," seru Francis.
"Francis, keluar sini! Jean Louise, kalau kudengar sepatah kata lagi darimu, akan kuadukan pada ayahmu. Apakah tadi aku mendengarmu mengatakan sialan?"
"Tidak, Ma"am."
"Rasanya iya. Jangan sampai kudengar lagi."
Bibi Alexandra suka menguping di halaman belakang. Begitu dia tak terlihat, Francis keluar dengan mengangkat dagu dan menyeringai. "Jangan main-main denganku," katanya.
Dia melompat ke halaman dan menjaga jarak, menendangi rumput, sesekali berbalik dan tersenyum kepadaku. Jem muncul di teras, memandang kami, lalu pergi. Francis memanjat pohon
akasia, turun, mengantongi tangannya, dan berjalan-jalan mengelilingi halaman. "Hah!" katanya. Aku bertanya, dia pikir dia siapa, Paman Jack? Kata Francis, bukankah aku disuruh duduk dan jangan mengganggunya?
"Aku kan tidak mengganggumu," kataku.
Francis memandangku dengan berhati-hati, menyimpulkan bahwa aku sudah cukup jinak, dan menyanyi lirih, "Pencinta
nigger"."
Kali ini buku jariku robek sampai ke tulang karena gigi
__ADS_1
depannya. Karena tangan kiriku cedera, aku menyerang dengan tangan kanan, tetapi tak lama. Paman Jack menahan tanganku ke badan dan berkata, "Jangan bergerak!"
Bibi Alexandra mengobati Francis, menyeka air matanya dengan saputangan, membelai rambutnya, menepuk-nepuk pipinya dengan lembut. Atticus, Jem, dan Paman Jimmy segera menuju teras belakang begitu Francis mulai menjerit-jerit.
"Siapa yang memulai?" tanya Paman Jack.
Aku dan Francis saling menuding. "Nenek," tangisnya, "dia memanggilku perempuan jalang dan menyerangku!"
"Benarkah itu, Scout?" kata Paman Jack.
"Sepertinya iya."
Ketika Paman Jack memandangku, raut wajahnya seperti Bibi Alexandra. "Kau tahu, aku sudah bilang, aku akan menghukum dirimu kalau kau menggunakan kata-kata seperti itu? Aku sudah bilang, kan?"
"Ya, Paman, tapi""
"Sekarang, kau akan kuhukum. Diam di situ."
Aku sedang mempertimbangkan apakah lebih baik berdiri di situ atau lari, dan aku terlalu lambat memutuskan: Aku berbalik untuk kabur, tetapi Paman Jack lebih cepat. Tahu-tahu aku sudah berhadapan langsung dengan seekor semut kecil yang berjuang mengangkut remah roti di rumput.
"Aku tak mau lagi bicara denganmu sepanjang hidupku! Aku benci kau dan kuharap kau mati besok!" Pernyataanku ini tampaknya membuat Paman Jack makin meradang. Aku berlari ke arah Atticus untuk mencari perlindungan, tetapi dia berkata aku pantas dihukum dan sudah saatnya kami pulang. Aku naik ke kursi belakang mobil tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun, lalu setibanya di rumah aku berlari ke kamarku dan membanting pintunya. Jem mencoba menghiburku, tetapi aku tak ingin di-
hibur.
Aku memeriksa luka-luka pada tubuhku; hanya ada tujuh atau delapan bekas merah, dan aku sedang merenungkan relativitas ketika seseorang mengetuk pintu. Kutanya siapa; Paman Jack menjawab.
"Pergi!"
Paman Jack berkata, kalau aku berbicara seperti itu lagi, dia akan menghukumku lagi, jadi aku diam. Ketika dia masuk ke kamar, aku mundur ke pojok dan memunggunginya. "Scout," katanya, "kau masih membenciku?"
"Tolong pergi saja, Sir."
"Wah, aku tak menyangka kau akan menyalahkanku," katanya. "Aku kecewa padamu"kau pantas dihukum dan kau tahu itu."
"Aku tidak tahu."
"Sayang, kau tidak bisa seenaknya menyebut orang"" "Paman tak adil," kataku, "Paman tak adil."
Alis Paman Jack naik. "Tak adil? Kenapa?"
"Kau baik sekali, Paman Jack, dan kukira aku akan tetap menyayangimu setelah perbuatanmu ini, tetapi kau memang tidak terlalu paham anak-anak."
Paman Jack berkacak pinggang dan memandangku. "Dan kenapa aku tidak paham anak-anak, Miss Jean Louise? Perbuatanmu itu tidak susah untuk dipahami. Perbuatan itu lancang, liar, dan kasar""
"Paman mau memberiku kesempatan untuk memberi tahu atau tidak? Aku tak bermaksud tidak sopan padamu, aku cuma mencoba memberi tahu."
Paman Jack duduk di tempat tidur. Alisnya bertaut, dan dia memandangku. "Baiklah," katanya.
Aku menghela napas panjang. "Yah pertama-tama, Paman takpernah meluangkan waktumu sejenak saja untuk memberiku kesempatan bercerita dari sisiku"Paman langsung saja menyerangku. Kalau aku dan Jem bertengkar, Atticus tak pernah hanya mendengar cerita Jem,
dia mendengar ceritaku juga, dan kedua, Paman melarangku menggunakan kata-kata seperti itu kecuali dipancing-pancing, dan Francis memancingku untuk memukul kepalanya""
Paman Jack menggaruk kepalanya. "Apa cerita dari sisimu, Scout?"
"Francis menyebut Atticus sesuatu, dan aku tak rela mende- ngarnya."
"Francis menyebutnya apa?"
"Pencinta nigger. Aku tak yakin apa artinya, tetapi cara Francis mengucapkannya"kuberi tahu satu hal sekarang, Paman Jack, aku yakin"aku bersumpah demi Tuhan, aku tak bisa cuma duduk diam dan membiarkan dia berkata begitu tentang Atticus."
"Dia menyebut Atticus begitu?"
"Ya, Sir, dan banyak lagi. Katanya, Atticus bisa menghancurkan keluarga besar kita dan dia membiarkan aku dan Jem tumbuh liar "."
Dari wajah Paman Jack, kusangka aku akan dihukum lagi. Tapi ketika dia berkata, "Akan kita lihat lagi masalahnya," aku tahu Francis yang akan dihukum. "Aku akan ke sana lagi malam ini."
"Tolong, Paman, biarkan saja. Tolong."
"Aku tak ingin membiarkannya," katanya. "Alexandra harus tahu soal ini. Memikirkan bahwa"tunggu saja sampai aku menemui anak itu "."
"Paman Jack, tolong berjanjilah satu hal padaku, kumohon, Paman. Janjilah Paman tak akan mengatakan pada Atticus tentang ini. Dia"dia pernah memintaku untuk tidak membiarkan apa pun yang kudengar tentang dia membuatku marah, dan aku lebih suka dia berpikir kami berkelahi tentang hal lain. Tolong, janjilah "."
"Tapi aku tak suka Francis dibiarkan berbuat begitu"" "Biarkan saja. Paman mau membalut tanganku? Masih berdarah
sedikit."
"Tentu mau, Manis. Tak ada tangan lain yang lebih membuatku
senang saat membalutnya. Kemarilah."
Paman Jack dengan sopan membungkuk untuk mempersilakanku ke kamar mandi. Sementara dia membersihkan dan membalut jemariku, dia menghiburku dengan kisah tentang lelaki tua penderita rabun jauh yang lucu, yang memiliki seekor kucing bernama Hodge, dan yang menghitung semua celah di trotoar kalau pergi ke kota. "Nah, sudah," katanya. "Kau akan punya bekas luka yang sangat tidak cantik di jari manismu."
"Terima kasih, Sir. Paman Jack?"
"Ya, Nak?"
"Perempuan jalang itu apa?"
Paman Jack malah menceritakan kisah panjang lain tentang perdana menteri tua anggota badan legislatif yang suka meniup bulu-bulu di udara dan mencoba menjaganya di udara ketika di sekelilingnya semua orang telah kehilangan akal. Kurasa dia men- coba menjawab pertanyaanku, tetapi penjelasannya sama sekali tak masuk akal.
Malam itu, ketika aku semestinya sudah tidur, aku turun ke ruang keluarga untuk mengambil minum dan mendengar Atticus dan Paman Jack sedang berbicara di ruang tamu:
"Aku tak akan menikah, Atticus."
"Mengapa?"
"Bisa-bisa aku punya anak."
Kata Atticus, "Kau masih harus belajar banyak, Jack."
"Aku tahu. Putrimu memberiku pelajaran pertama sore ini. Katanya, aku tak banyak mengerti tentang anak-anak dan mem- beritahukan alasannya. Dia benar juga. Atticus, dia memberitahuku bagaimana aku semestinya memperlakukannya"duh, aku sangat menyesal telah memarahinya."
Atticus tergelak. "Dia pantas dimarahi, jadi jangan terlalu
menyesal."
Dengan tegang, aku menunggu Paman Jack memberi tahu Atticus tentang sisi ceritaku. Tetapi ternyata tidak. Dia hanya bergumam, "Kata-kata makian yang digunakannya sungguh tak terbayangkan. Tapi dia tak tahu makna sebagian besar kata-kata yang diucap- kannya"dia bertanya wanita jalang itu apa "."
"Apa kau memberitahunya?"
"Tidak, aku bercerita tentang Lord Melbourne."
"Jack! Kalau seorang anak bertanya sesuatu, jawablah, demi Tuhan. Jangan berlebihan. Anak-anak adalah anak-anak, tetapi mereka tahu kalau kau menghindar, mereka tahu lebih cepat daripada orang dewasa, dan menghindar hanya akan membingung- kan mereka. Tidak," renung ayahku, "kau mendapatkan penge-
tahuan yang benar sore ini, tetapi dengan alasan yang salah. Bahasa yang buruk adalah tahap yang dilalui semua anak, dan akan berakhir dengan sendirinya, ketika mereka mengerti bahwa mereka tak akan mendapat perhatian dengan cara itu. Sifat Scout yang gampang marah tidak akan hilang. Dia harus belajar menjaga perilakunya dan harus segera, dengan apa yang akan terjadi padanya beberapa bulan ke depan. Tapi dia sudah lebih baik. Jem semakin dewasa dan Scout banyak meneladaninya. Yang dia butuh- kan hanyalah bantuan, sekali-sekali."
"Atticus, kau belum pernah memukulnya."
"Aku mengakui itu. Sejauh ini aku berhasil hanya dengan
mengancamnya. Jack, dia mematuhiku sebaik yang dia bisa. Kadang-kadang dia memang bandel, tetapi dia mencoba."
"Itu bukan jawabannya," kata Paman Jack.
"Tidak, jawabannya adalah dia tahu aku tahu dia mencoba. Itulah yang membedakan. Yang menggangguku adalah dia dan Jem akan harus menyerap hal-hal buruk tak lama lagi. Aku tidak meng- khawatirkan Jem soal menjaga kelakuan, tetapi Scout lebih suka menyerang seseorang daripada menghadapinya kalau harga dirinya
dipertaruhkan "."
Aku menunggu Paman Jack melanggar janjinya. Dia tetap tidak melakukannya.
"Atticus, akan seburuk apa keadaannya nanti? Kau belum sempat membahasnya."
"Tak akan lebih buruk dari sekarang, Jack. Satu-satunya yang kita miliki adalah perkataan seorang kulit hitam untuk melawan perkataan seorang Ewell. Pada intinya, bukti menunjukkan, kau melakukannya, aku tidak melakukannya. Kita tak mungkin mengharapkan Juri lebih memercayai kata-kata Tom Robinson dari- pada kata-kata keluarga Ewell"kau kenal dengan mereka?"
Paman Jack berkata ya, dia ingat. Dia menggambarkan ciri- ciri keluarga itu kepada Atticus, tetapi Atticus berkata, "Kau terlewat satu generasi. Tetapi, generasi yang sekarang sama saja."
"Jadi, apa yang akan kauperbuat?"
"Sebelum aku menyelesaikan kasus ini, aku berniat sedikit mengguncang juri"tetapi kupikir kita akan punya peluang baik untuk naik banding. Aku benar-benar tak bisa menduga apa yang akan terjadi pada tahap ini, Jack. Kau tahu, aku pernah berharap bisa melewatkan hidup tanpa kasus sejenis ini, tetapi John Taylor menunjukku dan berkata, "Kau akan menangani kasus ini.""
"Tapi bukankah kau bisa menolaknya?"
"Benar. Tapi bagaimana aku bisa menghadapi anak-anakku, kalau aku tidak melakukannya? Kau tahu apa yang akan terjadi, Jack, dan aku berharap dan berdoa aku bisa membawa Jem dan Scout melewati semua ini tanpa kepahitan, dan terutama, tanpa terjangkiti penyakit Maycomb. Kenapa orang-orang yang pandai mudah naik pitam jika ada kejadian yang melibatkan seorang Negro, adalah sesuatu yang tak akan pernah kupahami " aku hanya berharap, Jem dan Scout akan mencari jawaban pada diriku, alih-alih mendengarkan warga kota. Kuharap mereka cukup memercayaiku " Jean Louise?"
Kulit kepalaku seperti terlompat. Aku menjulurkan kepalaku. "Sir?"
"Tidurlah."
Aku berlari ke kamarku dan tidur. Paman Jack adalah pangeran yang tidak pernah mengecewakanku. Tetapi, aku tak pernah mengerti bagaimana Atticus tahu aku sedang menguping, dan baru bertahun-tahun kemudian aku menyadari bahwa dia ingin aku mendengar setiap kata yang diucapkannya.
__ADS_1