
Bab5
Gerutuanku akhirnya memengaruhi Jem juga, seperti yang sudah
kuperkirakan, dan aku lega karena kami mengurangi permainan itu untuk beberapa lama. Namun, dia masih bersikeras bahwa Atticus tak pernah melarang kami, karenanya kami boleh bermain; dan andaikan Atticus pernah melarang kami, Jem sudah memikirkan cara menyiasatinya: dia akan mengubah nama-nama tokohnya, maka kami tak bisa dituduh memainkan apa pun.
Dill menyetujui rencana ini sepenuh hati. Dill sudah mulai menyebalkan, mengekori Jem terus. Di awal musim panas, dia pernah memintaku untuk menikahinya, lalu dia langsung lupa. Dia mengikutiku, menandaiku sebagai miliknya, berkata aku satu- satunya gadis yang akan dicintainya, lalu mengabaikanku. Kupukuli dia dua kali tetapi percuma, dia malah semakin dekat dengan Jem. Mereka melewatkan hari-hari bersama di rumah pohon, bersiasat dan bersekongkol, memanggilku hanya kalau mereka memerlukan pihak ketiga. Namun, aku menjauhkan diri dari persekongkolan
gila-gilaan mereka beberapa lama, dan karena sakit hati disebut anak perempuan, aku melewatkan hampir semua petang yang tersisa pada musim panas itu duduk bersama Miss Maudie Atkinson di serambinya.
Aku dan Jem selalu bebas bermain di halaman Miss Maudie asalkan tidak mengganggu rumpun azaleanya, tetapi hubungan kami dengannya tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Sampai Jem dan Dill menyisihkanku dari rencana mereka, dia hanyalah satu di antara banyak perempuan di lingkungan kami, tetapi keberadaannya relatif tidak membahayakan.
Perjanjian tidak terucap kami dengan Miss Maudie adalah kami boleh bermain di halamannya, memakan anggur scuppernong-nya asal tidak memanjat tanaman merambatnya, dan menjelajahi pe- karangan belakangnya yang luas; persyaratan yang begitu murah hati sehingga kami jarang berbicara dengannya. Kami sangat berhati-hati menjaga keseimbangan hubungan kami yang rapuh, tetapi perilaku Jem dan Dill memaksaku mempererat hubungan dengan Miss Maudie.
Miss Maudie membenci rumahnya: waktu yang dia lewatkan dalam rumah itu adalah waktu yang tersia-sia. Dia seorang janda, wanita bunglon yang bekerja di kebun bunganya dengan menge- nakan topi jerami tua dan overall pria, tetapi, setelah mandi pada pukul lima, dia muncul di teras dan menguasai jalanan dengan
kejelitaan berwibawa.
Dia mencintai segala sesuatu ciptaan Tuhan yang tumbuh di muka bumi, bahkan rumput liar. Kecuali satu. Jika dia menemukan sehelai rumput teki di halamannya, suasana akan berubah ibarat Pertempuran Kedua di Marne"pertempuran saat Perang Dunia I, 15-18 Juli 1918, di dekat Sungai Marne"pecah lagi: dia menyambar rumput itu dengan mangkuk timah dan menyemprotnya dari bawah dengan pembasmi hama, yang katanya sangat kuat dan bisa mem- bunuh kami semua jika kami tidak berdiri jauh-jauh.
"Kenapa tidak dicabut saja?" tanyaku, setelah menyaksikan perjuangan panjang melawan sehelai rumput yang tak sampai tujuh senti tingginya.
"Dicabut, Nak, dicabut?" Dia mengambil tunas yang lunglai dan menjepit batangnya yang mungil. Benih-benih mikroskopis mengalir keluar. "Nah, satu batang rumput teki ini bisa menghancurkan seluruh halaman. Lihat sini. Kalau musim gugur tiba, benih ini mengering dan ditiup angin ke seluruh Maycomb County!" Ekspresi wajah Miss Maudie menunjukkan bahwa peristiwa penyebaran benih rumput teki itu bisa disamakan dengan penyebaran wabah penyakit dalam Perjanjian Lama.
Bahasa yang digunakan Miss Maudie termasuk renyah untuk ukuran penduduk Maycomb County. Dia memanggil kami dengan nama, dan ketika menyeringai, dia memperlihatkan dua taring palsu- nya yang terbuat dari emas. Ketika aku mengaguminya dan berharap memilikinya juga suatu saat kelak, dia berkata, "Lihat sini." Dengan decakan lidah, dia menyodorkan gigi palsunya, suatu tindakan intim yang mengikat persahabatan kami.
Kebaikan Miss Maudie menyebar kepada Jem dan Dill, bilamana mereka beristirahat sejenak dari proyek mereka: kami menuai keuntungan dari bakat yang selama ini disembunyikan Miss Maudie dari kami. Kue buatannya adalah kue terlezat di seluruh lingkungan
kami. Setelah membuka rahasianya kepada kami, setiap kali membuat kue, dia membuat satu kue berukuran besar dan tiga yang berukuran kecil, lalu dia akan memanggil dari seberang jalan, "Jem Finch, Scout Finch, Charles Baker Harris, kemarilah!" Kecepatan kami datang selalu mendatangkan ganjaran.
Pada musim panas, senja hari berlangsung lama dan damai. Aku dan Miss Maudie sering duduk diam di serambinya, mengamati langit berubah dari kuning menjadi merah muda saat matahari terbenam, mengamati burung walet terbang rendah di atas ling-
kungan kami dan menghilang di balik atap gedung sekolah.
"Miss Maudie," kataku suatu senja, "menurutmu, apakah Boo Radley masih hidup?"
"Namanya Arthur dan dia masih hidup," katanya. Dia bergoyang perlahan di kursi besar dari kayu ek. "Kamu bisa mencium wangi mimosaku? Sore ini aromanya seperti napas malaikat."
"Bisa, Ma"am. Tapi, Anda tahu dari mana?"
"Tahu apa, Nak?"
"Bahwa B"Mr. Arthur masih hidup?"
"Pertanyaanmu sungguh mengerikan. Tapi, ya, topik ini memang mengerikan. Aku tahu dia masih hidup, Jean Louise, karena dia belum terlihat digotong keluar."
"Mungkin saja dia mati dan dijejalkan ke cerobong asap." "Dari mana kau mendapat pikiran seperti itu?"
"Kata Jem, menurutnya, itulah yang mereka lakukan." "S-ss-ss. Setiap hari dia makin mirip Jack Finch."
Miss Maudie sudah mengenal Paman Jack Finch, adik Atticus, sejak masih kanak-kanak. Usia mereka hampir sebaya dan mereka tumbuh bersama di Finch"s Landing. Miss Maudie adalah putri pemilik tanah tetangga, Dr. Frank Buford. Meskipun profesi Dr. Buford adalah dokter, obsesinya adalah segala sesuatu yang tumbuh di tanah; karena itulah dia tetap miskin. Paman Jack Finch membatasi minatnya bercocok tanam pada pot jendela di Nashville
dan tetap kaya. Kami bertemu Paman Jack setiap Natal, dan setiap Natal dia berteriak ke rumah sebelah agar Miss Maudie mau menikahinya. Miss Maudie pun balas berteriak, "Berteriaklah lebih keras lagi, Jack Finch, biar orang-orang di kantor pos bisa men- dengarnya, aku tidak bisa mendengarmu!" Aku dan Jem merasa ini cara yang aneh untuk melamar seorang wanita, tetapi Paman Jack memang agak aneh. Dia berkata bahwa dia sedang mencoba mem- buat Miss Maudie kesal, bahwa dia sudah empat puluh tahun men- coba tanpa hasil, bahwa dia orang terakhir di dunia yang
dipertimbangkan Miss Maudie untuk dinikahi tetapi orang pertama yang terpikir untuk digoda, dan pertahanan terbaik untuk mengha- dapinya adalah serangan yang bersemangat, yang semuanya kami pahami dengan jelas.
"Arthur Radley cuma sering tinggal di dalam rumah, itu saja," kata Miss Maudie. "Kau juga tinggal di rumah kan, kalau kau tidak ingin keluar?"
"Iya, Ma"am, tetapi aku pasti ingin keluar. Mengapa dia tidak?"
Mata Miss Maudie menyipit. "Kau kan sudah tahu ceritanya, sama seperti aku."
"Tapi aku belum pernah dengar kenapanya. Belum pernah ada yang memberitahuku kenapa."
Miss Maudie memasang gigi palsunya. "Kau tahu, Mr. Radley tua adalah penganut Baptis pembasuh kaki"Baptis misionaris pe- desaan yang menafsirkan Alkitab secara harfiah."
"Miss Maudie, kau juga penganut paham itu, kan?"
"Cangkangku tidak sekeras itu, Nak. Aku hanya seorang Baptis."
"Bukannya kalian percaya soal membasuh kaki?" "Memang. Tapi di rumah, di bak mandi."
"Tapi kami tak bisa mengikuti komuni bersama kalian""
Rupanya karena memutuskan bahwa lebih mudah men- definisikan pembaptisan primitif daripada komuni tertutup, Miss
Maudie berkata, "Pembasuh kaki meyakini bahwa apa pun yang menimbulkan rasa nikmat adalah dosa. Tahu tidak, pada suatu Sabtu beberapa anggota mereka keluar dari hutan dan melewati tempat ini, lalu berkata padaku bahwa aku dan bunga-bungaku akan masuk neraka."
"Bungamu juga?"
"Ya, Nak. Bungaku juga akan terbakar bersamaku. Menurut mereka, aku terlalu sering melewatkan waktu di alam ciptaan Tuhan dan terlalu jarang tinggal di rumah membaca Alkitab."
Keyakinanku pada Injil mimbar berkurang saat membayangkan Miss Maudie direbus selamanya di berbagai neraka Protestan. Memang, lidahnya tajam, dan dia tidak berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk beramal, seperti Miss Stephanie Crawford. Tetapi, sementara tak ada satu pun orang yang berakal sehat akan percaya pada Miss Stephanie, aku dan Jem menaruh kepercayaan besar kepada Miss Maudie. Dia tak pernah mengadukan kami, tak pernah bermain kucing-kucingan dengan kami, dia sama sekali tidak tertarik pada kehidupan pribadi kami. Dia teman kami. Bagaimana seorang makhluk yang begitu bijak bisa terancam siksaan abadi, aku tak bisa mengerti.
"Itu tak benar, Miss Maudie. Anda adalah wanita terbaik yang kukenal."
Miss Maudie menyeringai. "Terima kasih, Nak. Masalahnya, kaum pembasuh kaki menganggap perempuan sama dengan dosa. Mereka memahami Alkitab secara harfiah."
"Apakah karena itu Mr. Arthur tinggal di rumah, untuk menjauhi perempuan?"
__ADS_1
"Aku tak tahu."
"Aku juga. Rasanya, kalau Mr. Arthur ingin masuk surga, mestinya paling sedikit dia keluar ke teras. Atticus bilang, Tuhan mencintai manusia seperti manusia mencintai dirinya sendiri""
Miss Maudie berhenti bergoyang, dan nada suaranya meninggi. "Kau terlalu muda untuk memahami," katanya, "tetapi kadang- kadang, Alkitab di tangan seseorang lebih buruk daripada botol wiski di tangan"eh, ayahmu."
Aku kaget. "Atticus tak pernah minum wiski," kataku. "Seumur- umur dia tak pernah minum setetes pun"eh, pernah. Katanya, dia pernah minum sedikit dan dia tidak suka."
Miss Maudie tertawa. "Aku tidak sedang membicarakan ayahmu," katanya. "Maksudku, andai Atticus Finch minum sampai
mabuk, dia tak akan sebodoh beberapa orang dalam kondisi terbaik mereka. Selalu ada saja jenis orang yang"yang terlalu sibuk me- mikirkan akhirat sehingga tak pernah belajar hidup di dunia ini. Lihatlah ke ujung jalan dan kau bisa melihat hasilnya."
"Miss Maudie, apakah menurutmu benar, semua hal yang mere- ka bilang tentang B"Mr. Arthur?"
"Hal-hal apa?"
Aku menceritakannya.
"Tiga perempat dari cerita-cerita itu berasal dari orang kulit hitam dan seperempatnya dari Stephanie Crawford," kata Miss Maudie tegas. "Stephanie Crawford bahkan pernah bercerita pada- ku bahwa dia pernah terbangun tengah malam dan melihat Arthur
mengintipnya lewat jendela. Kubilang, lalu apa yang kaulakukan, Stephanie, bergeser di tempat tidur dan menyediakan tempat untuknya? Itu membungkamnya beberapa lama."
Aku yakin memang begitu. Suara Miss Maudie sudah cukup untuk membungkam siapa pun.
"Tidak, Nak," katanya, "rumah itu dirundung duka. Aku ingat Arthur Radley sewaktu masih kecil. Dia selalu berbicara dengan sopan padaku, apa pun perbuatan yang kata orang dia lakukan. Bicara sesopan yang dia mampu."
"Miss Maudie, menurutmu, apakah dia gila?"
Miss Maudie menggeleng. "Andai dia belum gila, mestinya dia
sudah jadi gila sekarang. Apa yang terjadi pada orang lain, kita tak pernah benar-benar tahu. Apa yang terjadi di dalam rumah di balik pintu tertutup, rahasia apa""
"Atticus tak pernah melakukan apa pun padaku dan Jem di dalam rumah yang tak dilakukannya di halaman," kataku, merasa wajib membela orangtuaku.
"Ya Tuhan, Nak, aku sedang mengurai benang, memikirkan ayahmu pun tidak, tetapi omong-omong tentang dia, aku berani berkata begini: Atticus Finch adalah orang yang sama di dalam
rumah dan di jalan umum. Kau mau kubekali poundcake hangat
untuk dibawa pulang?"
Aku mau sekali.
Keesokan paginya, saat aku terbangun, kutemukan Jem dan Dill di halaman belakang, asyik mengobrol. Waktu aku bergabung, seperti biasa, mereka mengusirku.
"Tidak mau. Halaman ini punyaku juga, bukan cuma punyamu, Jem Finch. Aku punya hak yang sama untuk bermain di sini sepertimu."
"Ha-ah," kataku, "siapa yang tiba-tiba jadi pongah?"
"Kalau kau tidak bilang kau mau menurut, kami tak akan memberitahumu apa-apa," lanjut Dill.
"Tingkahmu seperti kau bertambah tinggi dua puluh senti tadi malam! Baiklah, apa?"
Jem berkata dengan tenang, "Kami akan mengirim surat untuk Boo Radley."
"Bagaimana caranya?" aku berjuang menekan ketakutan yang otomatis muncul dalam diriku. Miss Maudie tak akan merasa apa-
apa bicara soal seperti ini"dia sudah tua dan aman di serambinya. Bagi kami, ini masalah lain.
Jem akan memasang surat itu pada ujung tongkat pancing dan menyelipkannya menembus daun jendela. Kalau ada yang datang, Dill akan membunyikan lonceng.
Dill mengacungkan tangan kanannya. Dia memegang sebuah lonceng makan perak milik ibuku.
"Aku akan mengitari rumah ke samping," kata Jem. "Kemarin kami mengamati dari seberang jalan, dan ada daun jendela yang
lepas. Menurutku, setidaknya mungkin aku bisa menempelkan surat itu di kosen jendela."
"Jem""
"Sekarang kau sudah ikut, tidak boleh mundur, kau harus ikut, Nona Centil!"
"Iya, iya, tapi aku tak mau lihat. Jem, ada yang""
"Harus lihat, kau harus mengawasi bagian belakang rumah itu dan Dill akan mengawasi bagian depan rumah dan jalanan, dan kalau ada yang datang, dia akan membunyikan lonceng. Jelas?"
"Ya sudah. Memangnya kau mau menulis apa?"
Kata Dill, "Dengan sangat sopan, kami memintanya keluar sesekali dan menceritakan apa yang dilakukannya di dalam"kami bilang, kami tak akan menyakitinya dan akan membelikannya es krim."
"Kalian gila apa? Bisa-bisa kita dibunuh!"
Kata Dill, "Ini gagasanku. Kupikir, kalau dia keluar dan duduk sebentar bersama kita, perasaannya akan lebih enak."
"Dari mana kau tahu perasaannya sedang tak enak?"
"Yah, bagaimana perasaanmu kalau kau sudah seratus tahun terkurung tanpa makan apa pun kecuali kucing? Pasti janggutnya sudah sepanjang ini""
"Seperti janggut ayahmu?"
"Ayahku tak punya janggut, dia"" Dill berhenti, seolah-olah
__ADS_1
mencoba mengingat.
"Ha, kena kau," kataku. "Dulu kau bilang, waktu kau turun dari kereta, ayahmu punya janggut hitam""
"Asal tahu saja, musim panas lalu janggutnya dia cukur habis! Benar, dan aku punya surat yang bisa membuktikan"dia juga mengirim dua dolar!"
"Teruskan saja"kurasa dia bahkan mengirimmu seragam polisi berkuda. Tapi dia tak pernah muncul, kan? Bohong saja terus,
Nak""
Dill Harris bisa berbohong habis-habisan. Antara lain, dia pernah menumpang pesawat pos tujuh belas kali, sudah pernah ke Nova Scotia, pernah melihat gajah, dan kakeknya adalah Brigadir Jenderal Joe Wheeler yang mewariskan pedangnya kepada Dill.
"Kalian diamlah," kata Jem. Dia berlari ke kolong rumah dan keluar membawa tongkat bambu kuning. "Kira-kira ini cukup panjang tidak, ya, untuk menjangkau dari trotoar?"
"Orang yang cukup berani mendekati dan menyentuh rumah mestinya tak perlu pakai tongkat pancing," kataku. "Kenapa tidak kamu dobrak saja pintu depannya?"
"Ini"be"da," kata Jem, "aku harus bilang berapa kali?"
Dill mengambil sehelai kertas dari saku dan memberikannya kepada Jem. Kami bertiga berjalan dengan hati-hati ke rumah tua itu. Dill menunggu di tiang lampu di pojok halaman depan, sedangkan aku dan Jem menyusuri trotoar yang sejajar dengan sisi rumah. Aku berjalan lebih jauh daripada Jem dan berdiri di tempat yang me- mungkinkan untuk melihat melewati tikungan.
"Kosong," kataku. "Aku tak melihat siapa-siapa."
Jem menoleh kepada Dill, yang mengangguk.
Jem memasang surat pada ujung tongkat pancing, menjulurkan tongkat melintasi halaman dan mendorongnya ke arah jendela yang sudah dipilihnya. Tongkat itu terlalu pendek beberapa senti. Jem
membungkuk sejauh mungkin. Aku mengamati dia menyodok-nyo- dok begitu lama, akhirnya kutinggalkan posku dan mengham-
pirinya.
"Suratnya tak mau lepas dari tongkat," gerutunya, "kalaupun bisa dilepaskan, surat ini tak mau menempel. Kembalilah ke jalan,
Scout."
Aku kembali dan mengamati tikungan jalan yang kosong. Sesekali aku menoleh kembali kepada Jem, yang dengan sabar mencoba meletakkan surat itu di kosen jendela. Surat itu berkali-
kali melayang ke tanah dan Jem menusuknya lagi, sampai-sampai aku berpikir bahwa andai Boo Radley akhirnya menerimanya, dia tak akan bisa membacanya. Aku sedang memandangi jalan ketika lonceng makan berbunyi.
Dengan bahu terangkat, aku memutar, bersiap-siap menghadapi Boo Radley dan taringnya yang berdarah-darah; alih-alih kulihat Dill membunyikan lonceng sekuat tenaga di depan wajah Atticus.
Jem kelihatan kacau sekali, sehingga aku tak tega mengatakan, aku bilang apa. Dia menyeret kakinya, menyeret tongkat di bela- kangnya pada trotoar.
Kata Atticus, "Hentikan bunyi lonceng itu."
Dill berhenti membunyikan lonceng itu; dalam keheningan yang menyusul, aku ingin sekali dia mulai membunyikannya lagi. Atticus mendorong topinya ke belakang kepala dan meletakkan tangannya di pinggang. "Jem," katanya, "kau sedang apa?"
"Tidak ada apa-apa, Sir."
"Aku tak mau dengar itu. Ceritakan."
"Aku hanya"kami hanya mencoba memberikan sesuatu kepada Mr. Radley."
"Kau sedang mencoba memberikan apa kepadanya?"
"Hanya surat."
"Coba kulihat."
Jem menyodorkan secarik kertas kotor. Atticus mengambilnya dan mencoba membacanya. "Mengapa kau ingin Mr. Radley
keluar?"
Kata Dill, "Barangkali dia senang kalau bertemu dengan kami "," dan berhenti ketika Atticus menoleh padanya.
"Nak," katanya kepada Jem. "Aku akan mengatakan sesuatu padamu dan hanya sekali: jangan menyiksa lelaki itu lagi. Ini juga berlaku untuk kalian berdua."
Apa pun yang dilakukan Mr. Radley adalah urusannya. Kalau
dia ingin keluar, dia akan keluar. Kalau dia ingin tinggal di dalam rumahnya sendiri, dia berhak tinggal di dalam tanpa diusik oleh anak-anak yang ingin tahu, yang merupakan istilah untuk menyebut anak-anak seperti kami. Apakah kami suka kalau Atticus masuk begitu saja tanpa mengetuk, saat kami sedang di kamar malam- malam? Kami sebenarnya melakukan hal yang sama kepada Mr. Radley. Perbuatan Mr. Radley mungkin tampak aneh bagi kita, tetapi tidak aneh baginya. Lagi pula, pernahkah kami terpikir bahwa cara yang sopan untuk berkomunikasi dengan orang lain adalah melalui pintu depan, bukannya jendela samping? Terakhir, kami harus menjauhi rumah itu sampai kami diundang ke sana, kami tak boleh melanjutkan sandiwara konyol yang dia lihat kami mainkan atau mengejek siapa pun di jalan ini atau di kota ini"
"Kami tidak mengejek dia, kami tidak menertawakan dia," kata Jem, "kami hanya""
"Jadi itu yang kaulakukan waktu itu, ya?"
"Mengejeknya?"
"Bukan," kata Atticus, "mempertontonkan sejarah hidupnya untuk menghibur para tetangga."
Jem tampak sedikit marah. "Aku tak pernah bilang kami melakukan itu, aku tidak bilang begitu!"
Atticus menyeringai. "Kau baru saja bilang," katanya. "Hentikan omong kosong ini sekarang juga, kalian semua."
Jem melongo.
"Kau ingin jadi pengacara, bukan?" Bibir ayahku tampak aneh, seolah-olah dia mencoba mengendalikan bibirnya untuk menunjukkan ketegasan.
Jem memutuskan tak ada gunanya berdalih, dan terdiam. Ketika Atticus masuk ke rumah untuk mengambil berkas yang terlupa dibawa ke kantor pagi itu, Jem akhirnya sadar bahwa dia tertipu oleh muslihat pengacara yang paling kuno. Dia menunggu dengan jarak yang cukup terhormat dari tangga depan, menyaksikan Atticus meninggalkan rumah dan berjalan ke arah kota. Saat Atticus sudah tak dapat mendengar kami, Jem berteriak, "Tadinya kupikir aku ingin jadi pengacara, tapi sekarang aku tidak yakin lagi!"
__ADS_1