To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird
Episode 17


__ADS_3

Bab17



"Jem," kataku, "yang duduk di sana itu keluarga Ewell?"



"Ssst," kata Jem, "Mr. Heck Tate sedang bersaksi."



Mr. Tate berpakaian rapi untuk acara ini. Dia mengenakan setelan bisnis biasa, yang membuatnya mirip-mirip dengan lelaki lain: tak ada lagi sepatu bot tinggi, jaket penebang kayu, dan ikat pinggang bertatah peluru. Sejak saat itu, dia tak lagi membuatku takut. Dia duduk mencondongkan diri di kursi saksi, tangannya



menangkup di antara lutut, menyimak jaksa wilayah.



Pengacaranya, Mr. Gilmer, tidak terlalu kami kenal. Dia berasal dari Abbottsville; kami melihatnya hanya saat pengadilan berlangsung, dan itu jarang karena pengadilan tidak menarik bagiku dan Jem. Lelaki yang mulai botak dan berwajah mulus itu mungkin berusia 40 hingga 60-an tahun. Meskipun membelakangi, kami tahu pada salah satu matanya terdapat suatu kekurangan yang dimanfaatkannya: dia kelihatan seperti sedang memandangi seseorang, padahal sebenarnya tidak, jadi dia menyulitkan juri dan



saksi. Juri, menyangka mereka diamati lekat-lekat, diperhatikan dengan saksama; demikian pula para saksi, mereka menyangka hal



yang sama.



"" dengan kata-kata Anda sendiri, Mr. Tate," kata Mr. Gilmer.



"Ya," kata Mr. Tate, menyentuh kacamatanya dan berbicara ke lututnya, "saya dipanggil""



"Bisakah Anda berbicara kepada juri, Mr. Tate? Terima kasih. Siapa yang memanggil Anda?"



Mr. Tate berkata, "Saya dijemput Bob"oleh Mr. Bob Ewell di sana, pada suatu malam""



"Malam kapan, Sir?"



Mr. Tate berkata. "Malam tanggal 21 November. Saya sedang bersiap-siap meninggalkan kantor untuk pulang ketika B"Mr. Ewell masuk, sangat gelisah, dan memintaku cepat ke rumahnya, seorang nigger memerkosa putrinya."



"Anda ke sana?"



"Tentu. Masuk ke mobil dan ke sana secepat mungkin." "Dan apa yang Anda temukan?"



"Menemukan gadis itu berbaring di lantai di tengah-tengah ruang depan, yang di sebelah kanan kalau dari depan. Dia dipukuli cukup parah, tetapi saya mengangkatnya berdiri dan membasuh wajahnya dengan air dari ember di pojok ruangan dan mengatakan



padanya bahwa dia baik-baik saja. Saya bertanya siapa yang menyakitinya dan dia menjawab, Tom Robinson""



Hakim Taylor, yang sedari tadi memerhatikan kukunya, mengangkat kepala seolah-olah menduga akan ada keberatan, tetapi Atticus diam.



""bertanya apakah Tom yang memukulinya, dia mengiyakan. Saya tanya apakah Tom menodainya, dan dia mengiyakan. Jadi, saya pergi ke rumah Robinson dan membawanya kembali. Dia mengidentifikasi Tom sebagai pelaku, jadi saya menahan Tom.



Itulah yang terjadi."



"Terima kasih," kata Mr. Gilmer.



Hakim Taylor berkata, "Ada pertanyaan, Atticus?"



"Ada," jawab ayahku. Dia sedang duduk di belakang mejanya; kursinya miring ke satu sisi, kakinya bersilang dan satu lengannya bersandar pada bagian belakang kursi.



"Anda memanggil dokter, Sheriff? Apakah ada yang memanggil dokter?" tanya Atticus.



"Tidak, Sir," kata Mr. Tate.



"Tidak memanggil dokter?"



"Tidak, Sir," ulang Mr. Tate.



"Kenapa tidak?" Ada ketajaman dalam suara Atticus.



"Ya, saya bisa ungkapkan mengapa saya tidak menelepon. Memang tidak perlu, Mr. Finch. Cederanya sangat parah. Pasti terjadi sesuatu, sudah jelas."



"Tetapi Anda tidak memanggil dokter? Selagi Anda di sana, adakah orang yang menyuruh orang lain memanggil, menjemput, atau membawa gadis itu ke dokter?"



"Tidak, Sir""



Hakim Taylor menyela. "Dia sudah menjawab pertanyaannya tiga kali, Atticus. Dia tidak memanggil dokter."



Atticus berkata, "Saya hanya ingin memastikan, Pak Hakim," dan si hakim tersenyum.



Tangan Jem, yang sedang mencengkeram pagar balkon makin erat. Tiba-tiba dia menarik napas. Menoleh ke bawah, aku tak melihat penyebabnya. Aku jadi bertanya-tanya apakah Jem hanya bertingkah. Dill menonton dengan tenang, begitu pula Pendeta Sykes di sampingnya. "Ada apa?" bisikku, dan mendapat jawaban



singkat, "ssst!"



"Sheriff," Atticus berkata, "menurut Anda, cederanya parah.



Separah apa?"



"Yah""



"Ceritakan saja cederanya, Heck."



"Yah, dia dipukuli di kepala. Sudah ada memar yang muncul di lengannya, dan itu terjadi sekitar tiga puluh menit sebelum""



"Dari mana Anda tahu?"



Mr. Tate menyeringai. "Maaf, itu menurut mereka. Kembali lagi, badannya sudah lebam-lebam waktu saya sampai, dan matanya akan membiru."



"Mata yang mana?"



Mr. Tate mengedip dan menyisir rambutnya dengan tangan. "Coba saya ingat-ingat," katanya lirih, lalu memandang Atticus seolah-olah dia menganggap pertanyaan itu kekanak-kanakan.



"Anda tidak ingat?" tanya Atticus.



Mr. Tate menunjuk ke sosok tak terlihat yang berada sepuluh senti di hadapannya dan berkata, "Yang kiri."



"Tunggu, Sheriff," kata Atticus. "Bagian kiri yang menghadapmu, atau bagian kirimu?"



Mr. Tate berkata, "Oh, iya, itu berarti bagian kanan dia. Mata kanan dia, Mr. Finch. Saya ingat sekarang, wajahnya cedera pada bagian itu "."



Mr. Tate berkedip lagi, seolah-olah sesuatu tiba-tiba tampak jelas baginya. Lalu, dia memutar kepala dan menoleh kepada Tom Robinson. Seolah-olah karena insting, Tom Robinson mengangkat kepala.



Sesuatu juga menjadi jelas bagi Atticus, dan hal itu membuatnya berdiri. "Sheriff, tolong ulangi perkataan Anda tadi."



"Mata kanannya, tadi saya bilang."



"Bukan "." Atticus berjalan ke meja notulis pengadilan dan membungkuk pada tangan yang menulis secepat kilat. Tangan itu berhenti, membalik notes catatan itu, dan si notulis pengadilan berkata, ""Mr. Finch. Saya ingat sekarang, wajahnya cedera pada



bagian itu.""



Atticus memandang Mr. Tate. "Sisi yang mana, Heck?"



"Sisi kanan, Mr. Finch, tetapi memarnya lebih banyak"Anda ingin mendengar tentang itu?"



Atticus tampaknya sedang mempertimbangkan untuk meng- ajukan pertanyaan lain, tetapi mengurungkannya dan berkata, "Ya, di bagian mana lagi cederanya?" selagi Mr. Tate menjawab, Atticus berbalik dan menatap Tom Robinson, seolah-olah berkata ini adalah sesuatu yang tak mereka sangka-sangka.



"" lengannya memar, dan dia menunjukkan lehernya kepadaku. Jelas ada tanda jari pada kerongkongannya""



"Di sekeliling lehernya? Di tengkuknya?"



"Menurut saya, sampai sekeliling lehernya, Mr. Finch." "Menurut Anda begitu?"



"Ya, Sir, lehernya kecil, siapa saja bisa memegangnya dengan""



"Tolong jawab pertanyaan saya dengan ya atau tidak, Sheriff," kata Atticus datar, dan Mr. Tate terdiam.



Atticus duduk dan mengangguk kepada jaksa wilayah, yang menggeleng kepada hakim, yang mengangguk kepada Mr. Tate, yang berdiri kaku dan turun dari kursi saksi.

__ADS_1



Di bawah kami, kepala berputar, kaki bergeser di lantai, bayi dipindahkan ke bahu, dan beberapa orang anak berlari keluar ruang pengadilan. Orang-orang Negro di belakang kami berbisik-bisik lirih; Dill sedang bertanya kepada Pendeta Sykes apa makna semua itu, tetapi Pendeta Sykes berkata dia tidak tahu. Sejauh ini,



semuanya benar-benar membosankan: tak ada yang membentak, tak ada pertengkaran di antara pengacara pihak yang berlawanan, tak ada drama; kekecewaan besar bagi para hadirin, tampaknya. Atticus mengajukan pertanyaan dengan ramah, seolah-olah sedang menangani kasus persengketaan akta. Dengan kemampuannya yang tak terbatas untuk menenangkan lautan bergolak, dia dapat membuat kasus pemerkosaan sekering khotbah. Lenyaplah kengerian dalam benakku tentang wiski basi dan bau peternakan, tentang lelaki garang bermata mengantuk, tentang suara serak yang



memanggil dalam keheningan malam, "Mr. Finch? Mereka sudah pergi?" Mimpi buruk kami sudah lenyap bersama cahaya matahari, segala sesuatu akan beres.



Semua penonton sama santainya dengan Hakim Taylor, kecuali Jem. Mulutnya melengkung menjadi setengah seringai penuh makna, matanya bersinar gembira, dan dia mengatakan sesuatu tentang bukti pendukung, yang membuatku yakin bahwa dia sedang



pamer.



"" Robert E. Lee Ewell!"



Menyahut suara kerani yang menggelegar, seorang lelaki kecil yang bersikap seperti ayam jago bangkit dan berjalan ke kursi saksi, tengkuknya memerah ketika mendengar namanya disebut. Ketika dia berbalik untuk bersumpah, kami melihat bahwa wajahnya berwarna semerah lehernya. Kami juga melihat bahwa namanya tidak mencerminkan sosoknya. Rambut yang baru dikeramas berdiri dari keningnya; hidungnya kurus, runcing, dan berkilau; dia tak punya dagu"dagunya seperti menjadi bagian lehernya yang berge- lambir.



""tolonglah saya Tuhan," dia berkokok.



Setiap kota seukuran Maycomb memiliki keluarga seperti Ewell. Fluktuasi ekonomi tak pernah mengubah status mereka"orang-orang seperti anggota keluarga Ewell selalu disantuni pemerintah, baik dalam kemakmuran maupun dalam krisis. Tak ada petugas sekolah



yang dapat menyuruh anak-anaknya yang banyak itu bersekolah; tak ada petugas kesehatan umum yang dapat membebaskan mereka dari cacat bawaan, cacingan, dan penyakit yang berasal dari lingkungan kotor.



Keluarga Ewell dari Maycomb tinggal di belakang tempat pembuangan sampah kota di rumah yang dulunya kabin orang Negro. Dinding kayu kabin dilapisi dengan lembaran besi kasar, atapnya bergenting tatanan kaleng timah yang dipalu supaya rata. Dilihat sekilas, semua orang akan tahu bentuk asli kabin itu: persegi,



dengan empat kamar kecil yang menghadap ke ruang tengah yang berantakan, berdiri canggung di atas empat gundukan batu gamping yang tak beraturan. Jendelanya hanyalah lubang pada dinding, yang pada musim panas ditutupi dengan secarik kain katun tipis berminyak untuk mencegah masuknya berbagai hama pemakan sampah Maycomb.



Hama-hama itu hanya mendapat sedikit makanan karena setiap hari keluarga Ewell memulung sampah habis-habisan, dan buah pekerjaan mereka (sisa sampah yang tidak dimakan) membuat petak tanah di sekitar kabin itu seperti rumah bermain seorang anak gila: pagarnya adalah potongan ranting, sapu, dan gagang perkakas, di beberapa bagian, kepala palu berkarat, kepala garu yang bergigi miring, pacul, kapak, dan sabit, mencuat di tengah jalinan kawat berduri. Halaman di dalam pagar itu kotor dan dipenuhi sisa-sisa mobil Ford Model-T, kursi dokter gigi buangan, peti es kuno, dan berbagai pernak-pernik: sepatu tua, radio meja usang, pigura, stoples, dan di bawahnya ayam-ayam kurus berwarna jingga mematuk-matuk penuh harap.



Namun, salah satu pojok halamannya mengherankan Maycomb. Berbaris di dekat pagar adalah enam ember sampah dari enamel retak, ditumbuhi bunga geranium merah cerah, dirawat dengan penuh kelembutan bagaikan bunga milik Miss Maudie Atkinson, andaikan Miss Maudie mau mengizinkan geranium tumbuh di



halamannya. Kata orang, bunga-bunga ini milik Mayella Ewell.



Tak ada yang tahu pasti ada seberapa banyak anak di tempat itu. Ada yang bilang enam, ada yang bilang sembilan; selalu ada beberapa anak berwajah kotor yang melongok di jendela saat seseorang lewat. Tak ada yang lewat di situ kecuali pada hari Natal, yaitu ketika gereja-gereja mengirimkan keranjang bantuan, dan ketika Wali Kota Maycomb meminta kami untuk membantu pengangkut sampah dengan membuang pohon dan sampah kami



sendiri.



Pada hari Natal yang lalu, Atticus mengajak kami ke sana untuk mematuhi permintaan Wali Kota. Jalan tanah terentang dari jalan raya, melewati tempat pembuangan itu, hingga ke permukiman Negro sekitar lima ratus meter lebih jauh dari kabin keluarga Ewell. Untuk kembali ke jalan raya, mobil harus mundur atau terus sampai ke ujung jalan baru memutar; kebanyakan orang memutar di halaman depan rumah-rumah orang Negro. Dalam senja Desember yang membeku, kabin mereka tampak rapi dan apik, dengan asap biru muda naik dari cerobong dan pintu berpendar merah dari api di dalam. Aroma lezat menggantung di udara: ayam, daging asap yang digoreng kering seperti udara senja. Aku dan Jem mengendus bau masakan tupai, tetapi perlu orang pedesaan tua seperti Atticus untuk membedakan possum dan kelinci, aroma-aroma yang hilang ketika kami kembali melaju melewati kediaman Ewell.



Yang dimiliki lelaki kecil di kursi saksi itu yang membuatnya lebih baik daripada para tetangga terdekatnya adalah, jika digosok dengan sabun alkali dalam air sangat panas, kulitnya berwarna putih.



"Mr. Robert Ewell?" tanya Mr. Gilmer.



"Itu namaku, Kapten," kata sang saksi.



Punggung Mr. Gilmer menjadi sedikit lebih kaku, dan aku merasa kasihan padanya. Mungkin aku sebaiknya menjelaskan sesuatu sekarang. Aku mendengar bahwa anak pengacara, setelah



melihat orangtua mereka di pengadilan pada saat terjadi perdebatan sengit, sering mendapat kesan yang salah: mereka berpikir bahwa pengacara lawan adalah musuh pribadi orangtuanya, mereka menderita, dan terkejut melihat orangtua mereka sering keluar bergandengan tangan dengan para penyiksa mereka pada waktu istirahat. Ini tidak berlaku bagiku dan Jem. Kami tidak pernah mendapat trauma karena menonton ayah kami menang ataupun kalah. Maafkan aku karena tak bisa menyajikan drama apa pun dalam hal ini; kalau aku mau melakukannya, tentu itu tidak benar.



Namun, kami bisa tahu kapan sebuah debat menjadi lebih dijiwai emosi daripada bersifat profesional, tetapi kami mendapatkan kemampuan ini dari menonton pengacara-pengacara selain ayah kami. Seumur hidup, aku tak pernah mendengar Atticus melantangkan suaranya, kecuali untuk saksi yang tuli. Mr. Gilmer sedang melaksanakan tugasnya, demikian pula Atticus. Lagi pula, Mr. Ewell adalah saksi untuk Mr. Gilmer, dan tidak masuk akal kalau dia bersikap tidak sopan padanya.



"Apakah Anda ayah Mayella Ewell?" adalah pertanyaan ber- ikutnya.



"Yah, kalaupun bukan saya, saya tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, ibunya sudah mati," adalah jawabannya.



Hakim Taylor terusik. Dia berputar perlahan di kursi putarnya dan memandang dengan lembut pada saksi. "Apakah Anda ayah Mayella Ewell?" tanyanya, dengan cara yang membungkam derai tawa di bawah kami.



"Ya, Sir," Mr. Ewell berkata malas.



Hakim Taylor melanjutkan dengan nada ramah, "Ini kali per- tama Anda di pengadilan? Saya tak ingat pernah melihat Anda di sini." Ketika saksi mengangguk, dia melanjutkan, "Baiklah, kita lurus- kan perkaranya sekarang. Tak boleh ada lagi spekulasi tidak senonoh tentang topik apa pun dari siapa pun dalam ruang pengadilan ini selama saya duduk di sini. Anda mengerti?"



Mr. Ewell mengangguk, tetapi menurutku dia tak mengerti. Hakim Taylor menghela napas dan berkata, "Baik, Mr. Gilmer?"



"Terima kasih, Sir. Mr. Ewell, bisakah Anda menceritakan dengan kata-kata Anda sendiri apa yang terjadi pada malam tanggal



21 November?"




"Ya, pada malam tanggal 21 November, saya pulang dari hutan dengan setumpuk kayu bakar dan ketika sampai di pagar, saya mendengar Mayella menjerit di dalam rumah seperti babi ter- tusuk""



Di sini, Hakim Taylor mendelik tajam kepada saksi dan rupanya memutuskan tidak ada maksud buruk dalam spekulasi saksi karena sesaat kemudian Hakim Taylor diam, mengantuk.



"Kapan itu, Mr. Ewell?"



"Tepat sebelum matahari terbenam. Yah, seperti yang saya bilang, Mayella sedang menjerit cukup kuat untuk mengalahkan Yesus"" satu delikan lagi dari kursi hakim membuat Mr. Ewell terdiam.



"Benar begitu? Dia sedang menjerit?" kata Mr. Gilmer.



Mr. Ewell memandang kepada hakim bingung. "Ya, teriakan Mayella berisik sekali, jadi saya tinggalkan kayu itu dan berlari secepat mungkin, tetapi menabrak pagar, dan ketika saya bisa melepaskan diri, saya berlari ke jendela dan melihat"" wajah Mr. Ewell memerah. Dia berdiri dan menuding Tom Robinson. ""saya melihat nigger hitam itu memerkosa Mayella-ku!"



Ruang pengadilan Hakim Taylor biasanya begitu tenang sehingga dia jarang sekali menggunakan palunya, tetapi sekarang dia mengetukkan palunya selama lima menit penuh. Atticus berdiri di hadapan meja hakim dan mengatakan sesuatu kepadanya, Mr.



Heck Tate sebagai petugas keamanan tertinggi di county berdiri di tengah lorong menenangkan ruang pengadilan yang penuh sesak. Di belakang kami, terdengar erangan marah dari orang-orang kulit



hitam.



Pendeta Sykes mencondongkan tubuh di depan aku dan Dill, menarik sikut Jem. "Mr. Jem," katanya, "sebaiknya kau membawa Miss Jean Louise pulang. Mr. Jem, kaudengar?"



Jem menoleh. "Scout, pulanglah. Dill, kau dan Scout pulang." "Kau harus memaksaku dulu," kataku, mengingat nasihat



Atticus yang memberi berkah.



Jem merengut marah padaku, lalu berkata kepada Pendeta Sykes, "Saya rasa tidak apa-apa, Pendeta, dia tidak paham."



Aku sungguh tersinggung. "Aku mengerti, aku bisa mengerti apa pun yang kaumengerti."



"Ah, diamlah. Dia tak mengerti, Pendeta, umurnya belum sembilan tahun."



Mata hitam Pendeta Sykes menatap kami dengan cemas. "Mr. Finch tahu kalian di sini? Yang terjadi di sini tidak pantas untuk Miss Jean Louise ataupun kalian."



Jem menggeleng. "Atticus tidak bisa melihat kami dari jarak sejauh ini. Tak apa-apa, Pendeta."



Aku tahu Jem akan menang karena aku tahu tak ada satu pun yang bisa membuatnya pergi sekarang. Aku dan Dill aman, untuk beberapa lama: Atticus bisa saja melihat kami dari tempatnya, kalau dia berusaha melihat.



Sementara Hakim Taylor memukulkan palunya, Mr. Ewell duduk puas di kursi saksi, menonton hasil karyanya. Dengan satu frasa, dia telah mengubah para pelaku tamasya yang gembira menjadi kerumunan yang merajuk, tegang, dan saling berkasak- kusuk, yang perlahan-lahan terhipnotis oleh ketukan palu yang



semakin melemah sampai satu-satunya suara dalam ruang pengadilan adalah ting-ting-ting samar: seolah-olah sang hakim mengetuk meja dengan pensil.



Kembali menguasai ruang pengadilan, Hakim Taylor bersandar pada kursi. Mendadak dia tampak lelah; usianya terlihat, dan aku berpikir tentang perkataan Atticus"dia dan Mrs. Talyor jarang berciuman"usianya pasti hampir tujuh puluh tahun.



"Ada permintaan," kata Hakim Taylor, "bahwa ruang pengadilan ini dikosongkan dari penonton, atau setidaknya wanita dan anak-



anak, permintaan yang sementara ini ditolak. Orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka simak, dan mereka berhak membiarkan anak-anaknya mendengar, tetapi aku bisa menjamin satu hal: kalian akan menerima apa yang kalian lihat dan dengar tanpa bersuara atau kalian harus meninggalkan ruang pengadilan ini, tetapi kalian baru meninggalkan ruang ini setelah kalian semua menghadapku dengan tuntutan penghinaan terhadap pengadilan. Mr. Ewell, Anda akan menjaga kesaksian Anda dalam batasan penggunaan bahasa Inggris Kristiani, jika itu mungkin. Lanjutkan, Mr. Gilmer."



Mr. Ewell mengingatkan aku pada orang bisu-tuli. Aku yakin dia tak pernah mendengar perkataan Hakim Taylor yang ditujukan kepadanya"mulutnya berjuang diam-diam dengan perkataan itu"tetapi pengaruhnya tampak pada wajahnya. Kepuasan memudar, digantikan dengan kekeraskepalaan berlebihan yang sama sekali tidak menipu Hakim Taylor: selama Mr. Ewell duduk di kursi saksi, sang hakim mengawasinya, seolah-olah menantangnya untuk bertindak keliru.



Mr. Gilmer dan Atticus bertukar pandang. Atticus duduk lagi, menyangga pipinya dengan kepalan dan kami tak bisa melihat wajahnya. Mr. Gilmer tampak agak putus asa. Pertanyaan dari Hakim Taylor membuatnya lebih santai, "Mr. Ewell, apakah Anda melihat terdakwa berhubungan seksual dengan putri Anda?"



"Ya, saya lihat."



Para penonton diam, tetapi terdakwa mengatakan sesuatu. Atticus berbisik kepadanya, dan Tom Robinson diam.



"Anda berkata, Anda di jendela?" tanya Mr. Gilmer.



"Ya, Sir."



"Seberapa tinggi dari tanah?"

__ADS_1



"Sekitar semeter."



"Anda dapat melihat ruangan di dalam dengan jelas?"



"Ya, Sir."



"Seperti apa ruangannya?"



"Berantakan, seperti baru ada yang berkelahi." "Apa yang Anda lakukan ketika melihat terdakwa?"



"Saya berlari mengitari rumah untuk masuk, tetapi dia keluar lewat pintu depan lebih dahulu. Tapi saya lihat siapa orangnya. Perhatian saya tersita untuk Mayella, jadi tidak saya kejar. Saya berlari memasuki rumah, dan dia hanya berbaring di lantai, menjerit-jerit""



"Lalu, apa yang Anda lakukan?"



"Yah, saya lari mencari Tate secepat mungkin. Saya tahu orangnya, tinggal di sana, di sarang nigger, melewati rumahnya setiap hari. Pak Hakim, saya sudah lima belas tahun meminta pemerintah county untuk membersihkan sarang di sana, berbahaya tinggal di dekat mereka, selain menurunkan nilai tanah saya""



"Terima kasih, Mr. Ewell," kata Mr. Gilmer buru-buru.



Si saksi tergesa turun dari kursi dan menabrak Atticus, yang telah berdiri untuk memeriksanya. Hakim Taylor mengizinkan hadirin tertawa.



"Tunggu sebentar, Sir," kata Atticus ramah. "Bolehkah saya menanyakan satu atau dua pertanyaan?"



Mr. Ewell kembali ke kursi saksi, mencari posisi yang nyaman, dan memandang Atticus dengan curiga dan sombong, ekspresi yang umum ditunjukkan oleh saksi Maycomb County ketika ditanyai oleh pengacara lawan.



"Mr. Ewell," Atticus memulai, "orang banyak berlari-lari malam itu. Coba kita lihat, Anda berkata, Anda berlari ke dalam rumah, Anda berlari ke jendela, Anda berlari masuk, Anda berlari ke Mayella, Anda berlari mencari Mr. Tate. Apakah Anda, selama ber- lari-lari ini, berlari mencari dokter?"



"Tidak perlu. Saya sudah lihat apa yang terjadi."



"Tetapi ada satu hal yang tidak saya pahami," kata Atticus. "Apakah Anda tidak mencemaskan kondisi Mayella?"



"Jelas saya cemas," kata Mr. Ewell. "Saya melihat siapa pelakunya."



"Tidak, maksudku kondisi fisiknya. Apakah menurut Anda sifat cederanya memerlukan perhatian medis secepatnya?"



"Apa?"



"Apakah menurut Anda, dia sebaiknya diperiksa dokter, se- cepatnya?"



Saksi berkata itu tidak terpikirkan olehnya, dia tak pernah memanggil dokter untuk anak-anaknya sepanjang hidupnya, dan kalau dia memanggil dokter, biayanya sampai lima dolar. "Cuma itu?" tanyanya.



"Belum," kata Atticus santai. "Mr. Ewell, Anda mendengar kesaksian sheriff, bukan?"



"Maksudnya?"



"Anda berada di ruang pengadilan ketika Mr. Heck Tate sedang bersaksi, bukan? Anda mendengar semua perkataannya, bukan?"



Mr. Ewell mempertimbangkan masalah itu hati-hati, dan tampaknya memutuskan bahwa pertanyaan itu aman untuk dijawab.



"Ya," katanya.



"Apakah Anda setuju dengan penggambaran Mr. Tate tentang luka-luka Mayella?"



"Maksudnya?"



Atticus menoleh kepada Mr. Gilmer dan tersenyum. Mr. Ewell tampak bertekad untuk tidak memberi perhatian pada pihak



pembela.



"Mr. Tate bersaksi bahwa mata kanan Mayella memar, dan dia dipukuli di sekeliling""



"Oh ya," kata saksi. "Saya setuju dengan semua yang dikatakan



Tate."



"Benar?" tanya Atticus ringan. "Saya hanya ingin memastikan."



Dia menghampiri notulis pengadilan, mengatakan sesuatu, dan si notulis menghibur kami beberapa menit dengan membacakan kesaksian Mr. Tate seperti membaca kutipan pasar bursa, ""mata yang mana yang kiri oh iya itu berarti bagian kanan dia mata kanan dia Mr. Finch saya ingat sekarang dia cedera." Dia membalik halaman. "Pada wajah bagian situ Sheriff tolong ulangi perkataan Anda tadi mata kanannya tadi saya bilang""



"Terima kasih, Bert," kata Atticus. "Anda sudah mendengarnya lagi, Mr. Ewell. Anda ingin menambahkan sesuatu? Anda setuju dengan Sheriff?"



"Saya setuju dengan Tate. Mata Mayella menghitam dan dia dipukuli cukup parah."



Lelaki kecil itu tampaknya sudah lupa bahwa sesaat sebelumnya dia dipermalukan hakim. Jelas sekali dia menganggap Atticus lawan yang enteng. Wajahnya kembali memerah; dadanya membusung, dan sekali lagi dia seperti ayam jago kecil berwarna merah. Kupikir dia akan membengkak sampai kemejanya robek saat mendengar pertanyaan Atticus berikutnya.



"Mr. Ewell, Anda bisa membaca dan menulis?"



Mr. Gilmer menyela. "Keberatan," katanya. "Tak bisa melihat apa hubungan antara kemelekan huruf saksi dan kasus ini, tidak relevan dan tidak penting."



Hakim Taylor hendak berbicara, tetapi Atticus berkata, "Pak



Hakim, jika Anda mengizinkan pertanyaan ini dan satu pertanyaan lagi, Anda akan melihat hubungannya."



"Baiklah, mari kita lihat," kata Hakim Taylor, "tetapi pastikan kami melihatnya. Keberatan ditolak."



Mr. Gilmer tampak sama penasaran seperti kami semua, tentang apa pentingnya status pendidikan Mr. Ewell bagi kasus ini.



"Akan saya ulangi pertanyaannya," kata Atticus. "Anda bisa membaca dan menulis?"



"Saya jelas bisa."



"Bisakah Anda menuliskan nama Anda dan menunjukkannya kepada kami?"



"Saya jelas bisa. Memangnya bagaimana lagi saya menan- datangani cek santunan kami?"



Mr. Ewell sedang mengambil hati para warga. Bisik-bisik dan tawa di bawah kami mungkin berkaitan dengan betapa meng- gelikannya dia.



Aku menjadi gelisah. Atticus tampaknya tahu apa yang sedang dilakukannya"tetapi aku merasa dia berburu kodok tanpa lampu. Jangan, jangan, jangan pernah, saat pemeriksaan ulang, bertanya pada saksi sesuatu yang kau belum tahu jawabannya, adalah dalil yang kuserap bersama makanan bayiku. Kalau bertanya juga, kau akan sering memperoleh jawaban yang tak diinginkan, jawaban yang bisa menghancurkan kasusmu.



Atticus merogoh saku-dalam jaketnya. Dia mengeluarkan amplop, lalu merogoh saku jaket dan mencabut penanya. Dia berjalan lebih santai, dan berputar supaya dapat dilihat langsung oleh juri. Dia membuka tutup pena dan meletakkannya perlahan- lahan pada mejanya. Dia mengguncang pena itu sedikit, lalu me- nyerahkannya bersama amplop kepada saksi. "Bisakah Anda menuliskan nama Anda untuk kami?" tanyanya. "Yang jelas, supaya juri dapat melihat Anda melakukannya."



Mr. Ewell menulis pada belakang amplop dan mendongak



dengan tenang untuk melihat Hakim Taylor"yang menatapnya seolah-olah dia adalah bunga gardenia wangi yang mekar di kursi saksi"juga untuk melihat Mr. Gilmer setengah duduk, setengah berdiri di mejanya. Juri sedang mengamatinya, seorang lelaki mencondongkan tubuh ke depan dengan tangan memegang



pagar.



"Apanya yang menarik?" tanyanya.



"Anda kidal, Mr. Ewell," kata Hakim Taylor.



Mr. Ewell berputar marah kepada hakim dan berkata bahwa



dia tidak melihat apa kaitan kekidalannya dengan kasus ini, bahwa dia adalah orang yang taat pada Kristus dan Atticus Finch sedang memanfaatkannya. Pengacara licik seperti Atticus Finch selalu memanfaatkannya dengan cara licik. Dia sudah menceritakan apa yang terjadi, dia bisa mengulanginya berkali-kali"yang kemudian dilakukannya. Tak ada pertanyaan Atticus setelah itu yang bisa menggoyahkan ceritanya, bahwa dia melihat melalui jendela, lalu mengusir nigger itu, lalu lari ke sheriff. Atticus akhirnya me- lepasnya.



Mr. Gilmer menanyakan satu pertanyaan lagi. "Tentang menulis dengan tangan kiri, apakah Anda bisa menggunakan kedua tangan Anda, Mr. Ewell?"



"Jelas tidak, saya bisa menggunakan satu tangan sebaik tangan yang lain. Dua tangan sama baiknya," tambahnya, mendelik pada meja terdakwa.



Jem tampak tertawa diam. Dia memukul pagar balkon perlahan dan berbisik, "Kena dia!"



Aku tak merasa demikian; bagiku, sepertinya Atticus sedang mencoba menunjukkan bahwa bisa saja Mr. Ewell yang memukuli Mayella. Sampai sebegitu aku masih bisa mengikuti. Jika lebam hitam terdapat di mata kanan Mayella, dan dia dipukuli kebanyakan pada sisi kanan, itu cenderung menunjukkan bahwa orang kidal yang melakukannya. Sherlock Holmes dan Jem Finch akan setuju.



Akan tetapi, bisa saja Tom Robinson juga kidal. Seperti Mr. Heck Tate, aku membayangkan seseorang menghadapku, melakukan pantomim mental sebentar, dan menyimpulkan bahwa dia bisa saja memegangnya dengan tangan kanan dan memukulinya dengan tangan kiri. Aku memandang Tom. Dia membelakangi kami, tetapi aku dapat melihat bahunya yang lebar dan lehernya yang tebal. Dia dapat dengan mudah melakukannya. Menurutku, Jem sudah meng- hitung ayam sebelum telurnya menetas.


__ADS_1



__ADS_2