To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird
Episode 18


__ADS_3

Bab18



Namun, seseorang menggemuruh lagi.



"Mayella Violet Ewell"!"



Seorang gadis berjalan ke kursi saksi. Ketika mengangkat tangan dan bersumpah bahwa bukti yang diberikannya adalah kebenaran, seluruh kebenaran, dan hanya kebenaran, semoga Tuhan me- nolongnya, dia tampak rapuh. Tetapi ketika duduk menghadap kami di kursi saksi, dia menjadi dirinya yang sesungguhnya, seorang



gadis bertubuh gempal yang terbiasa melakukan pekerjaan berat. Di Maycomb County, mudah membedakan seseorang yang mandi secara teratur dengan seseorang yang hanya membasuh tubuhnya setahun sekali: Mr. Ewell tampak terbakar; seolah-olah berendam semalaman telah melenyapkan perlindungan lapisan tanah sehingga kulitnya menjadi sensitif terhadap cuaca. Mayella tampaknya mencoba menjaga kebersihan tubuhnya, dan aku



teringat akan barisan bunga geranium merah di halaman kabin keluarga Ewell.



Mr. Gilmer meminta Mayella memberi tahu juri dengan kata- katanya sendiri apa yang terjadi pada malam tanggal 21 November tahun lalu, hanya dengan kata-katanya sendiri, tolong.



Mayella duduk diam.



"Di mana Anda sore itu?" Mr. Gilmer memulai dengan sabar. "Di teras."



"Di teras yang mana?"



"Hanya ada satu, teras depan."



"Anda sedang apa di teras?"



"Tidak sedang apa-apa."



Hakim Taylor berkata, "Ceritakan saja apa yang terjadi. Anda bisa, kan?"



Mayella menatapnya dan tangisnya meledak. Dia menutup mulutnya dengan tangan dan tersedu. Hakim Taylor membiarkannya menangis sejenak, lalu berkata, "Sudah, cukup. Jangan takut pada siapa pun di sini, asalkan Anda berkata jujur. Semua ini asing bagi Anda, saya tahu, tetapi Anda tak perlu malu dan tak perlu takut. Anda takut apa?"



Mayella mengatakan sesuatu di balik tangannya. "Apa?" tanya hakim.



"Dia," sedunya, menunjuk Atticus.



"Mr. Finch?"



Dia mengangguk kuat-kuat, sambil berkata, "Saya tak ingin dia



melakukan pada saya apa yang dilakukannya pada Papa, mencoba membuatnya mengaku kidal "."



Hakim Taylor menggaruk rambutnya yang putih tebal. Jelas dia belum pernah berhadapan dengan masalah seperti ini. "Berapa usia Anda?" tanyanya.



"Sembilan belas setengah," kata Mayella.



Hakim Taylor berdeham dan mencoba, meski tak berhasil, berbicara dengan nada menenangkan. "Mr. Finch tak berniat menakuti Anda," geramnya, "dan kalaupun iya, ada saya yang bisa



menghentikannya. Itu salah satu gunanya saya duduk di sini. Nah, Anda sudah besar, jadi duduklah dengan tegak dan ceritakan" ceritakan apa yang terjadi pada Anda. Anda bisa melakukannya, bukan?"



Aku berbisik kepada Jem, "Apakah dia waras?"



Jem memicingkan mata melihat kursi saksi. "Aku tak tahu," katanya. "Dia cukup pintar untuk membuat hakim merasa kasihan padanya, tetapi dia bisa saja"ah, entahlah."



Sesudah kembali tenang, Mayella melirik kepada Atticus, ketakutan sekali lagi, dan berkata kepada Mr. Gilmer, "Begini, Sir, saya sedang di teras"dan dia datang, dan, nah, ada lemari tua di halaman yang dibawa Papa untuk dipotong jadi kayu bakar"Papa menyuruh saya mengerjakannya selagi dia pergi ke hutan, tetapi saya tidak merasa cukup kuat waktu itu, jadi dia mampir""



""Dia" siapa?"



Mayella menunjuk Tom Robinson. "Saya harus meminta Anda lebih spesifik," kata Mr. Gilmer. "Notulis tak bisa menuliskan gerakan dengan baik."



"Orang itu," katanya. "Robinson."



"Lalu, apa yang terjadi?"



"Saya bilang, "Kemarilah, nigger, dan potonglah lemari ini untukku, aku ada lima sen untukmu." Dia bisa melakukannya dengan mudah. Jadi, dia masuk ke halaman dan saya masuk ke



rumah untuk mengambilkan uang dan saya berbalik dan tahu-tahu dia ada di hadapan saya. Rupanya, dia menyergap saya dari be- lakang. Dia mencekik saya, memaki saya, dan berkata kotor"saya melawan dan berteriak, tetapi dia mencekik saya. Dia memukul saya terus-terusan""



Mr. Gilmer menunggu sampai Mayella menenangkan diri: dia telah memilin saputangannya menjadi tali yang berkeringat: ketika dia membukanya untuk menyeka wajahnya, saputangan itu sudah menjadi kain kusut, hasil dari tangannya yang panas. Dia menunggu



Mr. Gilmer bertanya lagi, dan ketika Mr. Gilmer tidak bertanya, dia berkata, ""dan dia membanting saya ke lantai dan mencekik saya dan menodai saya."



"Anda berteriak?" tanya Mr. Gilmer. "Anda berteriak dan me- lawan?"



"Rasanya ya, berteriak sekuat tenaga, menendang dan berteriak sekeras mungkin."



"Lalu, apa yang terjadi?"



"Saya tak terlalu ingat, tapi kemudian ayah saya sudah di ruangan, berdiri di dekat saya dan berteriak "Siapa pelakunya, siapa pelakunya?" lalu saya pingsan dan kemudian Mr. Tate menarik saya dari lantai dan memapah saya ke ember air."



Rupanya, kesaksian ini telah memberi Mayella rasa percaya diri, tetapi tidak seperti ayahnya yang lancang: dia melakukannya dengan berhati-hati, seperti kucing yang sedang mengamati keadaan sambil mengayun-ayunkan ekornya.



"Anda berkata, Anda melawannya sekuat tenaga? Dengan menggigit dan mencakar?" tanya Mr. Gilmer.



"Jelas," Mayella meniru ayahnya.



"Anda yakin dia memerkosa Anda?"



Wajah Mayella menekuk, dan aku takut dia akan menangis lagi. Alih-alih, dia berkata, "Dia mengerjakan apa yang dia inginkan."



Mr. Gilmer mengingatkan penonton pada hari yang panas dengan



menyeka kepalanya dengan tangan. "Cukup untuk saat ini," katanya ramah, "tetapi tetaplah di kursi. Saya rasa Mr. Finch yang jahat akan menanyakan beberapa hal."



"Negara dilarang membuat saksi berburuk sangka pada pengacara terdakwa," gumam Hakim Taylor kaku, "setidaknya tidak



saat ini."



Atticus bangkit sambil menyeringai, tetapi alih-alih berjalan ke kursi saksi, dia membuka jas dan mengaitkan jempol pada rompi, lalu berjalan perlahan melintasi ruangan ke jendela. Dia memandang



ke luar, tetapi tampaknya tidak terlalu tertarik dengan apa yang dilihatnya, lalu berbalik dan berjalan ke kursi saksi. Dari pengalaman selama bertahun-tahun yang panjang, aku tahu dia sedang mencoba memutuskan sesuatu.



"Miss Mayella," katanya sambil tersenyum, "saya akan mencoba supaya tidak menakutimu sejenak, belum. Kita berkenalan saja dulu. Berapa usia Anda?"



"Saya bilang, sembilan belas, saya sudah bilang pada Pak Hakim di situ." Mayella menggerakkan kepalanya ke meja hakim dengan kesal.



"Memang sudah bilang, memang sudah. Anda harus bersabar dengan saya, Miss Mayella, saya sudah mulai tua dan tak bisa mengingat seperti dulu. Saya mungkin menanyakan hal-hal yang sudah Anda katakan tadi, tetapi Anda tetap akan menjawab, kan? Bagus."



Aku tak dapat melihat apa pun dalam raut wajah Mayella yang dapat membuat Atticus merasa yakin bahwa dia akan mendapatkan kerja sama sepenuh hati dari saksinya. Mayella sedang meman- danginya dengan marah.



"Saya tak mau menjawab kalau kau terus mengejek," kata- nya.



"Ma"am?" tanya Atticus, bingung.



"Kalau kau mengejek saya terus."



Hakim Taylor berkata, "Mr. Finch tidak mengejek Anda. Anda ini kenapa?"



Mayella memandangi Atticus dari bawah kelopak matanya yang setengah tertutup, tetapi dia berkata kepada hakim, "Kalau dia terus memanggilku Miss Mayella. Saya tak harus menerima ejekannya, saya menjadi saksi bukan untuk itu."



Atticus melanjutkan perjalanannya ke jendela dan membiarkan Hakim Taylor menangani hal ini. Hakim Taylor bukan sosok yang mengundang rasa kasihan, tetapi aku merasa kasihan padanya ketika dia mencoba menjelaskan. "Cara bicara Mr. Finch memang



begitu," katanya kepada Mayella. "Kami sudah bertahun-tahun bekerja sama di pengadilan, dan Mr. Finch selalu sopan kepada semua orang. Dia tidak mencoba mengejekmu, dia mencoba bersikap sopan. Caranya memang begitu."



Hakim bersandar lagi. "Atticus, mari kita lanjutkan, dan tolong dicatat bahwa saksi tidak diejek, bertentangan dengan pan- dangannya."



Aku bertanya-tanya apakah pernah ada orang yang memanggil Mayella dengan sebutan "Miss" atau "Miss Mayella" seumur hidupnya; mungkin tak pernah sehingga dia tersinggung oleh kesopanan biasa ini. Seperti apakah kehidupannya? Aku segera tahu.



"Anda berkata, Anda sembilan belas tahun," Atticus melanjutkan. "Anda berapa bersaudara?" Dia berjalan dari jendela kembali ke kursi saksi.



"Tujuh," katanya, dan aku bertanya-tanya apakah mereka semua mirip dengan spesimen yang pernah kulihat pada hari pertama aku mulai bersekolah.



"Anda anak sulung? Anak tertua?"



"Ya."



"Sudah berapa lama ibu Anda wafat?"



"Tak tahu"sudah lama."



"Anda pernah bersekolah?"


__ADS_1


"Membaca dan menulis sebaik Papa di sana."



Suara Mayella mirip dengan Mr. Jingle dalam buku yang sedang



kubaca.



"Berapa lama Anda bersekolah?"



"Dua tahun"tiga tahun"tak tahu."



Perlahan tetapi pasti, aku mulai melihat pola pertanyaan Atticus: dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak dianggap Mr. Gilmer cukup tak relevan atau tak berarti untuk mengajukan keberatan, Atticus diam-diam melukiskan kehidupan rumah tangga Ewell bagi



juri. Juri mengetahui hal-hal berikut: cek santunan mereka jauh dari cukup untuk memberi makan seluruh keluarga, dan ada kecurigaan kuat bahwa Papa menghabiskannya untuk minum-mi- num"dia kadang-kadang pergi ke rawa berhari-hari dan pulang dalam keadaan sakit; cuaca jarang cukup dingin untuk memerlukan sepatu tetapi kalau cuacanya dingin, mereka bisa membuat sepatu bagus dari robekan ban tua; seluruh keluarga mengambil air dengan ember dari sungai yang mengalir di satu sisi tempat pembuangan sampah"mereka menjaga daerah sekitar sungai itu agar bebas dari sampah"dan menjadi tanggung jawab masing-masing untuk menjaga kebersihan tubuh: kalau ingin mandi, airnya harus diambil sendiri; anak-anak yang lebih kecil sering terserang flu dan penyakit kulit; ada seorang wanita yang kadang berkunjung dan menanyakan kepada Mayella mengapa dia tidak bersekolah"dia menuliskan jawabannya; karena dua anggota keluarga sudah bisa membaca dan menulis, sisanya tak perlu lagi belajar"Papa memerlukan mereka di rumah.



"Miss Mayella," kata Atticus, memotong penjelasannya, "gadis sembilan belas tahun seperti Anda pasti punya teman. Siapa teman- teman Anda?"



Saksi mengerutkan kening, seolah-olah bingung. "Teman?"



"Ya, apakah Anda tidak kenal dengan orang lain yang sebaya, lebih tua atau lebih muda? Lelaki dan perempuan? Teman biasa?"



Permusuhan yang ditunjukkan Mayella, yang sudah mereda menjadi kenetralan yang dilakukan dengan enggan, berkobar lagi. "Kau mengejekku lagi, Mr. Finch?"



Atticus menganggap pertanyaan Mayella menjawab per-



tanyaannya.



"Anda mencintai ayah Anda, Miss Mayella?" adalah yang



berikut.



"Mencintainya, maksudmu apa?"



"Maksud saya, apakah dia baik pada Anda, apakah kalian ber- dua akrab?"



"Dia baik-baik saja, kecuali saat""



"Kecuali kapan?"



Mayella menoleh kepada ayahnya, yang duduk dengan kursi bersandar di pagar. Dia duduk tegak dan menunggunya men- jawab.



"Kecuali tak pernah," katanya. "Kataku, dia baik-baik saja." Mr. Ewell bersandar lagi.



"Kecuali saat dia mabuk?" tanya Atticus, begitu lembut sehingga Mayella mengangguk.



"Apakah dia pernah memburu Anda?"



"Maksudmu?"



"Kalau dia sedang"marah, dia pernah memukul Anda?



Mayella memandang sekeliling, kepada notulis pengadilan, kepada hakim. "Jawab pertanyaannya, Miss Mayella," kata Hakim Taylor.



"Ayah saya tak pernah menyentuh rambut saya seumur hidup saya," dia menyatakan dengan tegas. "Dia tak pernah menyentuh saya."



Kacamata Atticus melorot sedikit, dan dia menaikkannya lagi. "Kita sudah mengobrol enak, Miss Mayella, dan sekarang saya kira lebih baik kita membahas kasus ini. Anda berkata, Anda meminta



Tom Robinson datang memotong"apa tadi?" "Lemari, lemari yang banyak lacinya di satu sisi." "Apakah Anda kenal baik dengan Tom Robinson?"



"Maksudmu?"



"Maksud saya, apakah Anda tahu siapa dia, di mana ting-



galnya?



Mayella mengangguk. "Saya tahu dia siapa, dia melewati rumah



saya setiap hari."



"Apakah ini kali pertamanya Anda memintanya masuk ke dalam



pagar?"




"Ya, kali pertama."



"Anda belum pernah mengundangnya masuk ke halaman sebelum ini?"



Mayella sudah siap sekarang. "Belum, jelas belum."



"Satu kali "belum" sudah cukup," kata Atticus tenang. "Anda belum pernah memintanya bekerja sambilan untuk Anda sebelumnya?"



"Mungkin pernah," Mayella mengaku. "Ada beberapa orang nigger di sekitar situ."



"Anda ingat kapan kejadiannya?"



"Tidak."



"Baiklah, sekarang ke peristiwanya. Anda berkata, Tom Robinson berada di belakang Anda di ruangan, ketika Anda berbalik, benar?"



"Ya."



"Anda berkata, dia "mencekik, memaki, dan berkata kotor!"" benar?"



"Betul."



Tahu-tahu ingatan Atticus menjadi lebih teliti. "Anda berkata, "dia menangkap saya dan mencekik saya dan menodai saya!""



benar?"



"Itu yang saya bilang."



"Anda ingat dia memukuli wajah Anda?"



Saksi ragu.



"Sepertinya Anda cukup yakin bahwa dia mencekik Anda.



Waktu itu Anda melawan, ingat? Anda "menendang dan berteriak sekeras mungkin!" Apakah Anda ingat dia memukuli wajah Anda?"



Mayella diam. Dia tampaknya mencoba memperjelas sesuatu bagi dirinya. Kuduga sejenak dia melakukan seperti siasat Mr. Heck Tate dan aku, berpura-pura ada orang di hadapan kami. Dia melirik Mr. Gilmer.



"Ini pertanyaan mudah, Miss Mayella, jadi akan saya coba lagi. Apakah Anda ingat dia memukuli wajah Anda?" Keramahan menghilang dari suara Atticus; dia berbicara dengan suara profesional yang datar dan berjarak. "Apakah Anda ingat dia me- mukuli wajah Anda?"



"Tidak, saya tidak ingat apakah dia memukulku. Maksudku, iya saya ingat, dia memukulku."



"Apakah kalimat Anda yang terakhir itu jawaban Anda?



"Hah? Ya, dia memukul"saya hanya tidak ingat, saya benar- benar tidak ingat " kejadiannya cepat sekali."



Hakim Taylor memandang tegas kepada Mayella. "Jangan menangis, gadis kecil"" dia memulai, tetapi Atticus berkata, "Biarlah dia menangis kalau mau, Pak Hakim. Kita punya banyak waktu."



Mayella terisak dengan murka dan memandang Atticus. "Saya akan menjawab pertanyaan apa pun darimu"menyuruh saya ke



sini untuk mengejek saya, ya? Saya akan menjawab pertanyaan apa



pun dari""



"Bagus," kata Atticus. "Hanya ada beberapa lagi. Miss Mayella, supaya tidak membosankan, Anda bersaksi bahwa terdakwa memukul Anda, mencengkeram leher Anda, mencekik Anda, dan menodai Anda. Saya ingin Anda yakin Anda mengenali orang yang tepat. Bisakah Anda mengidentifikasi lelaki yang memerkosa



Anda?"



"Bisa, itu orangnya di situ."



Atticus berpaling kepada terdakwa. "Tom, berdirilah, supaya Miss Mayella bisa melihatmu baik-baik. Inikah orangnya, Miss Mayella?"



Bahu Tom Robinson yang berotot bergerak di bawah kemejanya yang tipis. Dia bangkit dan berdiri dengan tangan kanan pada punggung kursi. Dia tampak tak seimbang, aneh, tetapi bukan karena caranya berdiri. Lengan kirinya tiga puluh senti lebih pendek daripada lengan kanannya, dan terkulai mati di sisinya. Pada ujungnya terdapat tangan kecil yang mengerut, dan dari sejauh balkon pun aku tahu bahwa tangan itu lumpuh.



"Scout," Jem mendesah. "Scout, lihat! Pak Pendeta, dia lumpuh!"



Pendeta Sykes mencondongkan tubuh di depanku dan berbisik kepada Jem. "Tangannya tersangkut di mesin kapas, tersangkut di mesin kapas Mr. Dolphus Raymond sewaktu masih kecil " hampir mati kehabisan darah " menarik semua ototnya lepas dari tulangnya""

__ADS_1



Atticus berkata, "Inikah lelaki yang memerkosa Anda?" "Tepat sekali."



Pertanyaan Atticus berikutnya hanya satu kata. "Bagaimana?" Mayella naik pitam. "Saya tak tahu bagaimana caranya, tetapi



dia yang melakukannya"sudah kubilang, kejadiannya cepat sekali saya""



"Mari kita telusuri dengan tenang"" kata Atticus, tetapi Mr. Gilmer menyela dengan keberatan: Atticus bukan sedang menanyakan sesuatu yang tidak relevan atau tidak penting, tetapi sedang mengintimidasi saksi.



Hakim Taylor tertawa lepas. "Oh, duduklah, Horace, dia sama sekali tidak sedang melakukannya. Yang ada, saksinya yang menakuti Atticus."



Hakim Taylor adalah satu-satunya orang di ruang pengadilan yang tertawa. Bahkan bayi-bayi pun diam, dan aku mendadak



bertanya-tanya apakah mereka kehabisan napas di dada ibu mereka.



"Nah," kata Atticus, "Miss Mayella, Anda bersaksi bahwa terdakwa mencekik Anda dan memukuli Anda"Anda tidak berkata bahwa dia menyelinap di belakang Anda dan memukul Anda hingga pingsan, tetapi Anda berbalik dan dia ada"" Atticus kembali ke meja, dan dia menekankan kata-katanya dengan mengetukkan buku jarinya pada kursi. ""apakah Anda ingin mempertimbangkan kembali kesaksian Anda?"



"Kau ingin saya menceritakan sesuatu yang tidak terjadi?"



"Tidak, Ma"am, saya ingin Anda menceritakan sesuatu yang terjadi. Sekali lagi ceritakan, tolong, apa yang terjadi?"



"Saya sudah bilang apa yang terjadi."



"Anda bersaksi bahwa Anda berputar dan dia ada. Lalu, dia mencekik Anda?"



"Ya."



"Lalu, dia melepaskan leher Anda dan memukul Anda?" "Sudah saya bilang, iya."



"Dia mememarkan mata kiri Anda dengan kepalan kanannya." "Saya menghindar dan kepalan"kepalannya menyerempet,



itu yang terjadi. Saya menghindar dan kepalannya menyerempet." Mayella akhirnya melihat arah pertanyaan Atticus.



"Anda tiba-tiba menjadi jelas tentang hal ini. Sejenak yang lalu,



Anda tak bisa mengingat dengan baik, ya?"



"Saya bilang, dia memukul saya."



"Baiklah. Dia mencekik Anda, memukul Anda, lalu memerkosa



Anda, benar?"



"Jelas benar."



"Anda gadis yang kuat, apa yang Anda lakukan selama itu terjadi, hanya menerima saja?"



"Sudah saya bilang, saya berteriak dan menendang dan



melawan""



Atticus melepaskan kacamata, mengarahkan mata kanannya kepada saksi, dan menghujaninya dengan pertanyaan. Hakim Taylor berkata, "Satu per satu pertanyaannya, Atticus. Beri saksi ke- sempatan menjawab."



"Baiklah, mengapa Anda tidak lari?"



"Saya mencoba "."



"Mencoba? Apa yang mencegah Anda?"



"Saya"dia membanting saya. Itu yang dilakukan, dia mem- banting saya dan naik ke atas saya."



"Anda berteriak selama ini?"



"Jelas."



"Lalu, mengapa anak-anak yang lain tidak mendengar Anda? Di mana mereka? Di tempat pembuangan sampah?"



Tak ada jawaban.



"Di mana mereka?"



"Mengapa teriakan Anda tidak membuat mereka datang berlarian? Tempat pembuangan sampah lebih dekat daripada hutan, bukan?"



Tak ada jawaban.



"Atau Anda baru berteriak setelah Anda melihat ayah Anda di jendela? Anda baru terpikir untuk berteriak saat itu, bukan?"



Tak ada jawaban.



"Apakah Anda berteriak pertama pada ayah Anda, alih-alih pada Tom Robinson? Begitukah?"



Tak ada jawaban.



"Siapa yang memukuli Anda? Tom Robinson atau ayah



Anda?"



Tak ada jawaban.



"Apa yang dilihat ayah Anda di jendela, kejahatan pemerkosaan, atau pembelaan terbaik untuk kejadian itu? Mengapa Anda tidak mengungkapkan yang sebenarnya, Nak? Bukankah Bob Ewell me-



mukuli Anda?"



Ketika Atticus berpaling dari Mayella, tampangnya seperti sedang sakit perut, tetapi wajah Mayella menunjukkan hal yang berbeda: campuran rasa ngeri dan murka. Atticus duduk kelelahan dan membersihkan kacamata dengan saputangan.



Mendadak Mayella berbicara dengan fasih. "Ada sesuatu yang ingin saya katakan," katanya.



Atticus mengangkat kepala. "Anda ingin menceritakan apa yang terjadi?



Namun, Mayella tak mendengar nada ramah dalam ajakannya. "Ada sesuatu yang ingin saya katakan, dan setelah itu saya tak akan ngomong lagi. Nigger di situ itu menodai saya, dan kalau kalian semua para pria terhormat tak mau bertindak, berarti kalian semua pengecut, pengecut, semuanya. Sikap kalian yang terhormat tak ada artinya"semua sapaanmu dan Miss Mayella-mu tak ada artinya, Mr. Finch""



Lalu, dia benar-benar menangis. Bahunya gemetar dengan isakan marah. Dia menepati kata-katanya. Dia tak menjawab pertanyaan lagi, bahkan ketika Mr. Gilmer mencoba memulihkan ketenangannya. Kukira jika dia tidak semiskin dan sebodoh itu, Hakim Taylor sudah memenjarakannya untuk penghinaan yang ditunjukkannya kepada semua orang di ruang pengadilan. Entah bagaimana, Atticus telah mengenainya dengan telak, aku tak



paham, tetapi dia tak senang melakukan hal tersebut. Dia duduk dengan kepala menunduk, dan aku belum pernah melihat seseorang mendelik kepada orang lain dengan kebencian yang diperlihatkan Mayella ketika dia meninggalkan kursi saksi dan berjalan melewati



meja Atticus.



Ketika Mr. Gilmer memberi tahu Hakim Taylor bahwa negara sudah selesai, Hakim Taylor berkata, "Sudah waktunya kita semua beristirahat. Kita akan bertemu sepuluh menit lagi."



Atticus dan Mr. Gilmer bertemu di depan meja hakim dan berbisik,



lalu mereka meninggalkan ruang pengadilan melalui pintu di belakang kursi saksi, yang merupakan pertanda bagi kami semua untuk melurus- kan kaki. Aku mendapati bahwa sedari tadi aku duduk di tepi bangku panjang, dan sekarang sedikit mati rasa. Jem bangkit dan menguap, Dill juga, dan Pendeta Sykes mengusap wajahnya dengan topi. Suhunya paling sedikit sembilan puluh derajat, katanya.



Mr. Braxton Underwood, yang sedari tadi duduk diam di kursi yang dicadangkan untuk Media, menyerap kesaksian itu dengan otaknya yang mirip spons, membiarkan matanya yang getir mengembara ke balkon Kulit Hitam, dan beradu pandang dengan- ku. Dia mendengus dan berpaling.



"Jem," kataku, "Mr. Underwood melihat kita."



"Tak apa-apa. Dia tak akan bilang pada Atticus, dia hanya akan menyebutkannya di halaman sosial Tribune." Jem kembali berbicara dengan Dill, menjelaskan, kukira, bagian-bagian terbaik dari pengadilan ini padanya, tetapi aku bertanya-tanya apa saja hal itu. Tak ada debat berkepanjangan antara Atticus dan Mr. Gilmer dalam hal apa pun; Mr. Gilmer tampaknya agak enggan melakukan pekerjaannya; saksi dituntun seperti kerbau dicocok hidung, dan tidak banyak keberatan yang dilontarkan. Namun, Atticus pernah memberi tahu kami bahwa dalam sidang pengadilan Hakim Taylor, pengacara mana pun yang merupakan penafsir kaku atas bukti biasanya menerima instruksi dari meja hakim dengan kaku. Dia



menjelaskannya padaku; Hakim Taylor mungkin kelihatan malas dan bekerja sambil tidur, tetapi dia jarang membatalkan putusannya, dan itulah yang penting. Kata Atticus, Hakim Taylor adalah hakim



yang baik.



Pada saat ini, Hakim Taylor kembali dan menaiki kursi putarnya. Dia mengambil sebatang cerutu dari saku jaket dan memeriksanya dengan saksama. Aku menonjok Dill. Setelah lulus pemeriksaan sang hakim, cerutu itu digigit dengan ganas. "Kami kadang ke sini untuk menonton dia," aku menjelaskan. "Ini akan berlangsung



selama sisa sore ini. Lihat saja." Tak menyadari penelitian publik dari atas, Hakim Taylor membuang ujungnya yang putus dengan meludahkannya dengan piawai dari bibirnya dan berkata "Fluk!" Dia mengenai tempat meludah dengan begitu jitu; kami bisa mendengar ujung cerutu itu mencemplung. "Pasti dia jago melempar bola kertas," gumam Dill.



Biasanya, waktu jeda berarti eksodus besar-besaran, tetapi hari ini orang tidak bergerak. Bahkan para Pemalas, yang gagal mempermalukan orang lebih muda agar memberikan tempat duduk, tetap berdiri di sepanjang dinding. Kukira Mr. Heck Tate mencadangkan toilet county untuk petugas pengadilan.



Atticus dan Mr. Gilmer kembali, dan Hakim Taylor melirik jamnya. "Sudah hampir jam empat," katanya, sesuatu yang menarik, karena jam gedung pengadilan tentu sudah berbunyi setidaknya dua kali. Aku tak mendengarnya atau merasakan getarannya.



"Bisakah kita coba menyelesaikannya sore ini?" tanya Hakim Taylor. "Bagaimana, Atticus?"



"Saya rasa, bisa," kata Atticus.



"Anda punya berapa saksi?"



"Satu."



"Ya panggillah."

__ADS_1




__ADS_2