
Bab8
Untuk alasan-alasan yang tak bisa dipahami oleh peramal-
peramal paling berpengalaman di Maycomb County, musim gugur pada tahun itu berubah menjadi musim dingin. Selama dua minggu, kami merasakan cuaca terdingin sejak 1885, kata Atticus. Kata Mr. Avery, pada Prasasti Rosetta tertulis bahwa jika anak-anak tidak mematuhi orangtuanya, mengisap rokok, dan terus bertengkar, musim akan berubah: aku dan Jem dibebani rasa bersalah karena
turut menyumbang penyebab terjadinya penyimpangan alam, yang menimbulkan ketidakbahagiaan bagi para tetangga kami dan ketidaknyamanan bagi diri kami sendiri.
Mrs. Radley tua meninggal pada musim dingin itu, tetapi kematiannya hampir tidak menimbulkan pengaruh"para tetangga jarang melihatnya, kecuali saat dia menyiram bunga kananya. Aku dan Jem memutuskan bahwa Boo akhirnya membunuhnya, tetapi ketika Atticus kembali dari rumah Radley, katanya Mrs. Radley me- ninggal karena penyakit; hal ini membuat kami kecewa.
"Ayo tanyakan," bisik Jem.
"Kau saja yang tanya, kau kan lebih tua."
"Justru itu, mestinya kau yang tanya."
"Atticus," kataku, "apa Mr. Arthur ada di situ?"
Atticus memandangku dengan tegas melalui korannya, "Tidak."
Jem mencegahku bertanya lebih lanjut. Katanya, Atticus masih sensitif soal hubungan kami dan keluarga Radley, dan mendesaknya bukanlah tindakan bijak. Jem merasa bahwa Atticus menganggap kegiatan yang kami lakukan pada malam musim panas lalu tidak hanya sekadar strip poker. Jem tak punya dasar yang jelas untuk membuktikan perasaannya, katanya ini hanya sekadar firasat.
Keesokan paginya aku bangun, melihat ke luar jendela, dan hampir mati ketakutan. Jeritanku mendatangkan Atticus yang sedang berada di kamar mandi, baru setengah bercukur.
"Dunia mau kiamat, Atticus! Lakukan sesuatu"!" Aku menyeretnya ke jendela dan menunjuk.
"Dunia tidak kiamat," katanya. "Itu hujan salju."
Jem bertanya kepada Atticus apakah hujannya akan berlangsung lama. Jem juga belum pernah melihat salju, tetapi tahu apa sebenarnya salju itu. Kata Atticus, dia tak tahu lebih banyak tentang salju daripada Jem. "Tapi, kurasa, kalau saljunya berair seperti itu, hujan salju ini lama-lama menjadi hujan biasa."
Telepon berdering dan Atticus meninggalkan sarapannya untuk menjawab. "Tadi itu Eula May," katanya ketika kembali. "Aku mengutip ucapannya""Karena belum pernah turun salju di Maycomb County sejak 1885, hari ini sekolah diliburkan.""
Eula May adalah operator telepon yang paling populer di Maycomb. Dia dipercayai untuk menyampaikan pengumuman pada masyarakat, undangan pernikahan, menyalakan sirene kebakaran, dan memberikan petunjuk pertolongan pertama jika Dr. Reynolds
sedang pergi.
Ketika akhirnya Atticus berhasil menenangkan kami dan menyuruh kami memusatkan perhatian pada sarapan kami daripada keluar jendela, Jem bertanya, "Bagaimana caranya membuat boneka salju?"
"Aku tak tahu sama sekali," kata Atticus. "Aku tak ingin mengecewakan kalian, tetapi aku ragu saljunya akan cukup lengket untuk dijadikan bola salju sekalipun."
Calpurnia masuk dan mengumumkan bahwa menurutnya salju di luar cukup lengket. Ketika kami berlari ke halaman belakang, tanah telah tertutupi lapisan tipis salju basah.
"Kita tak boleh berjalan-jalan di atasnya," kata Jem. "Lihat, setiap langkahmu membuang salju sia-sia."
Aku menoleh untuk mengamati jejak kakiku pada salju yang lunak. Kata Jem, kalau kami menunggu sampai salju turun lebih banyak, kami bisa mengumpulkannya untuk membuat boneka salju. Aku menjulurkan lidah dan menangkap sekeping besar salju. Lidah- ku rasanya terbakar.
"Jem, saljunya panas!"
"Bukan, tapi saking dinginnya, jadi terasa membakar. Jangan dimakan, Scout, kamu menyia-nyiakannya. Biarkan saljunya turun."
"Tapi aku ingin jalan-jalan di situ."
"Aku tahu! Kita ke rumah Miss Maudie saja."
Jem melompat-lompat melintasi halaman depan. Aku mengikuti jejaknya. Waktu kami berada di trotoar depan rumah Miss Maudie, Mr. Avery mengadang kami. Wajahnya merah muda dan perutnya yang buncit tertekan oleh sabuknya.
"Lihat kan hasil perbuatan kalian?" katanya. "Sejak peristiwa Appomattox, belum pernah turun salju di Maycomb. Gara-gara anak nakal seperti kalian, musim jadi berubah."
Aku bertanya-tanya apakah Mr. Avery tahu, betapa pada musim panas lalu kami mengintai dengan penuh harap agar dia mengulangi
pertunjukannya, dan aku berpikir, kalau hujan salju ini ganjaran untuk kenakalan kami, berbuat dosa sepertinya boleh juga. Aku tak bertanya-tanya dari mana statistika meteorologis Mr. Avery berasal: datangnya langsung dari Prasasti Rosetta.
"Jem Finch, hei, Jem Finch!"
"Miss Maudie memanggilmu, Jem."
"Kalian tetaplah berdiri di tengah halaman. Di dekat teras ada tanaman thrift yang terkubur salju. Jangan diinjak!"
"Ya, Ma"am!" seru Jem. "Bukankah cuacanya indah, Miss Maudie?"
"Indah apanya! Kalau malam ini udara membeku, azaleaku akan hancur!"
Sunhat topi dengan pinggir lebar untuk menutupi kepala dan leher dari sengatan sinar matahari"usang Miss Maudie berkilau dengan kristal salju. Dia sedang membungkuk, membungkus semak- semak kecil dengan karung goni. Jem bertanya untuk apa dia berbuat begitu.
"Supaya tanaman ini tetap hangat," katanya.
"Bagaimana bunga tetap hangat? Bunga kan tak punya darah."
"Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, Jem Finch. Yang kutahu hanyalah bahwa kalau malam ini udara membeku, tanaman ini akan membeku, jadi aku harus membungkusnya. Jelas?"
"Ya, Ma"am. Miss Maudie?"
"Apa, Nak?"
"Bolehkah aku dan Scout meminjam sebagian saljumu?"
"Demi surga, ambil saja semua! Ada keranjang persik tua di kolong rumah, angkut saja dengan itu." Mata Miss Maudie menyipit. "Jem Finch, hendak kamu apakan saljuku?"
"Lihat saja nanti," kata Jem, dan kami memindahkan salju sebanyak mungkin dari halaman Miss Maudie ke halaman kami dalam sebuah operasi yang basah dan berlumpur.
"Kita mau membuat apa, Jem?" tanyaku.
"Lihat saja nanti," katanya. "Sekarang, ambil keranjangnya dan angkut ke sini semua salju yang bisa kaukumpulkan dari halaman belakang. Jangan lupa jalan di atas jejak yang sudah ada ya," dia memperingatkan.
"Apa kita mau bikin boneka salju bayi, Jem?"
"Bukan, boneka salju betulan. Kita harus bekerja keras."
Jem berlari ke halaman belakang, mengambil cangkul kebun, dan mulai menggali dengan cepat di belakang tumpukan kayu, menimbun cacing-cacing yang ditemukannya di satu sisi. Dia masuk ke rumah, kembali dengan membawa keranjang cucian, mengisinya dengan tanah, lalu membawanya ke halaman depan.
Ketika kami sudah punya lima keranjang tanah dan dua keranjang salju, Jem berkata bahwa kami sudah siap untuk memulai.
"Tapi kan semua ini kelihatannya acak-acakan?" tanyaku.
"Sekarang kelihatannya acak-acakan, tapi nanti tidak," katanya.
Jem meraup tanah, menepuk-nepuknya hingga menjadi sebuah gundukan, lalu menambahkan seraup tanah lagi, dan seraup lagi sampai dia mendapatkan sebentuk tubuh.
"Jem, aku belum pernah dengar ada boneka salju nigger," kataku.
"Dia tak akan lama berwarna hitam," dengusnya.
Jem memungut beberapa ranting pohon persik dari halaman belakang, menjalinnya, dan membengkokkannya menjadi tulang lalu melapisinya dengan tanah.
"Mirip Miss Stephanie Crawford yang sedang berkacak ping- gang," kataku. "Gendut di tengah dan lengannya kecil kurus."
"Kubuat lebih besar." Jem menyiramkan air pada boneka lumpur dan menambahkan tanah. Dia memandanginya sambil berpikir sejenak, lalu membentuk perut besar di bawah garis pinggang
boneka. Jem menoleh padaku, matanya berbinar-binar, "Mr. Avery bentuknya agak mirip boneka salju, kan?"
Jem meraup salju dan mulai melapisi boneka itu. Dia hanya mengizinkan aku melapisi bagian belakang, mengerjakan sendiri bagian yang bisa dilihat umum. Perlahan-lahan, Mr. Avery menjadi putih.
Dengan menggunakan potongan kayu untuk mata, hidung, mulut, dan kancing baju, Jem berhasil membuat Mr. Avery tampak murka. Setangkai kayu bakar melengkapi bonekanya. Jem me- langkah ke belakang dan mengamati ciptaannya.
"Bagus sekali, Jem," kataku. "Dia kelihatannya hampir-hampir bisa bicara."
__ADS_1
"Iya, ya?" katanya malu-malu.
Karena kami tak sabar menunggu Atticus pulang untuk makan malam, kami meneleponnya dan berkata bahwa kami punya kejutan besar untuknya. Dia tampak terkejut ketika melihat sebagian besar halaman belakang berpindah ke halaman depan, tetapi dia memuji pekerjaan kami. "Tadi aku tak tahu bagaimana kau akan me- lakukannya," katanya kepada Jem, "tetapi mulai sekarang, aku tak akan pernah mengkhawatirkan kau akan jadi seperti apa kelak, Nak, kau selalu punya ide."
Telinga Jem memerah karena pujian Atticus, tetapi dia mendongak tajam ketika dilihatnya Atticus melangkah mundur.
Atticus memicingkan mata pada boneka salju itu beberapa saat. Dia menyeringai, lalu tertawa. "Nak, aku tak tahu kelak kau akan jadi apa"insinyur, pengacara, atau pelukis potret. Kau hampir bisa di- tuduh melakukan penghinaan terhadap seseorang di halaman depan kita. Kita harus menyamarkan teman kita ini."
Atticus menyarankan Jem mengurangi sedikit bagian depan ciptaannya itu, menukar kayu bakar dengan sapu, dan memakaikan
celemek.
Jem menjelaskan bahwa kalau saran Atticus itu dijalankan,
boneka saljunya akan berlumpur dan tak akan jadi boneka salju lagi.
"Aku tak peduli apa yang akan kaulakukan, asalkan kau berbuat sesuatu," kata Atticus. "Kau tak boleh membuat karikatur para tetangga begitu saja."
"Ini bukan karaktertur," kata Jem. "Cuma mirip saja."
"Mr. Avery mungkin tak akan berpikir gitu."
"Aku tahu!" kata Jem. Dia berlari menyeberang jalan, menghilang ke halaman belakang Miss Maudie, dan kembali dengan penuh kemenangan. Dia memasang sunhat Miss Maudie pada kepala boneka salju itu dan menjejalkan gunting tanaman pada sikutnya. Kata Atticus, itu cukup.
Miss Maudie membuka pintu depannya dan keluar ke teras. Dia memandang kami dari seberang. Mendadak dia menyeringai. "Jem Finch," panggilnya. "Kau anak nakal, kembalikan topiku, Nak!"
Jem memandang Atticus, yang menggeleng. "Dia cuma cerewet," katanya. "Dia sangat terkesan dengan"prestasimu."
Atticus berjalan ke trotoar Miss Maudie, lalu mengobrol asyik sambil melambai-lambaikan tangan. Satu-satunya frasa yang terdengar olehku adalah "" mendirikan morfodit bagus di halaman! Atticus, kau tak akan bisa membesarkan mereka dengan baik!"
Sorenya, hujan salju reda, suhu menukik turun, dan saat malam tiba, ramalan terburuk Mr. Avery pun terwujud: Calpurnia
menyalakan setiap perapian di dalam rumah, tetapi kami masih saja kedinginan. Saat Atticus pulang malam itu, dia berkata bahwa kami harus siap-siap menderita, dan bertanya kepada Calpurnia apakah dia mau tinggal bersama kami malam itu. Calpurnia memandang langit-langit tinggi dan jendela-jendela panjang di rumah kami lalu berkata bahwa sepertinya dia akan merasa lebih hangat di rumahnya. Atticus mengantarkannya pulang dengan
mobil.
Sebelum aku tidur, Atticus menambahkan batu bara dalam
perapian di kamarku. Katanya, termometer menunjukkan angka enam belas, bahwa ini malam terdingin sepanjang ingatannya, dan bahwa boneka salju kami di luar padat membeku.
Rasanya baru beberapa menit, ketika seseorang memba- ngunkanku dengan mengguncang tubuhku. Baju hangat Atticus diselimutkan ke badanku. "Sudah pagi lagi?"
"Sayang, bangun."
Atticus menyodorkan mantel mandi dan jaketku. "Kenakan mantelmu dulu," katanya.
Jem berdiri di samping Atticus, tampak bingung dan kusut. Dia mencengkeram bagian leher jaketnya dan memasukkan tangan
lainnya ke saku. Dia tampak aneh, sepertinya tiba-tiba badannya jadi kegemukan.
"Cepat, Sayang," kata Atticus. "Ini sepatu dan kaus kakimu."
Dengan bingung, aku mengenakannya. "Apa sekarang sudah pagi?"
"Belum, baru jam satu lewat. Cepatlah."
Akhirnya, kusadari bahwa suatu hal buruk telah terjadi. "Ada apa?"
Pada saat itu, Atticus sudah tak perlu memberitahuku lagi. Seperti burung yang tahu kapan hujan akan turun, aku pun tahu jika suatu masalah telah terjadi di lingkungan kami. Suara selembut kain
taffeta dan bunyi berisik yang teredam menjalariku dengan ke-
ngerian tanpa daya.
"Rumah Miss Maudie, Sayang," kata Atticus lembut.
Di pintu depan, kami melihat api menyeruak dari jendela ruang makan Miss Maudie. Seolah-olah menegaskan apa yang kami lihat, sirene kebakaran meraung, dengan nada meninggi lantang, men-
jerit.
"Rumah itu terbakar habis, ya?" Jem merintih.
"Sepertinya begitu," kata Atticus. "Sekarang dengarlah, kalian berdua. Pergilah ke depan Radley Place dan berdiri di sana. Jangan menghalangi jalan, mengerti? Kalian bisa melihat ke arah mana angin bertiup?"
"Oh," kata Jem. "Atticus, apa kita harus mulai memindahkan perabot keluar?"
"Belum, Nak. Turuti kataku. Larilah ke sana. Jaga Scout, ya. Jangan sampai dia lepas dari perhatianmu."
Atticus mendorong kami agar berjalan ke arah gerbang depan Radley. Kami berdiri menyaksikan jalanan terisi orang dan mobil, sementara api melahap rumah Miss Maudie tanpa suara. "Kenapa mereka tak cepat-cepat, kenapa mereka tak bergegas "," gumam Jem.
Kami melihat alasannya. Truk kebakaran yang sudah tua, rusak karena cuaca dingin, sedang didorong dari kota oleh sekelompok orang. Ketika selang disambungkan ke pipa air, selang itu meletus dan air menyemprot ke atas, mengalir ke trotoar.
"Oh-h Tuhan, Jem "."
Jem merangkulku, "Ssst, Scout," katanya. "Belum waktunya kita khawatir. Akan kuberi tahu kalau sudah waktunya."
Para lelaki Maycomb, berpakaian seadanya, mengangkuti perabot dari rumah Miss Maudie ke halaman di seberang jalan. Aku
melihat Atticus mengangkut kursi goyang kayu ek yang berat milik Miss Maudie, dan berpikir betapa baiknya dia menyelamatkan benda paling berharga bagi Miss Maudie itu.
Kadang, kami mendengar teriakan. Lalu, wajah Mr. Avery muncul di jendela atas. Dia mendorong kasur keluar jendela menuju jalan dan melempar perabot sampai orang-orang berseru, "Turunlah, Dick! Tangganya akan roboh! Keluarlah, Mr. Avery!"
Mr. Avery mulai memanjat keluar jendela.
"Scout, dia terjepit "," Jem berbisik. "Oh Tuhan "."
Mr. Avery terjepit ketat. Aku membenamkan kepala di bawah lengan Jem dan tidak mampu melihat lagi sampai Jem berseru. "Dia bisa melepaskan diri, Scout! Dia tidak apa-apa!"
Aku mendongak dan melihat Mr. Avery melintasi teras atas. Dia menjulurkan kakinya melompati pagar dan meluncur menuruni pilar, lalu jatuh tergelincir. Dia jatuh, menjerit, dan menimpa semak di halaman Miss Maudie.
Tiba-tiba aku menyadari bahwa orang-orang sedang menjauhi rumah Miss Maudie, menyusuri jalan ke arah kami. Mereka tak lagi mengangkuti perabot. Api sudah jauh memasuki lantai dua dan melahap rumah itu sampai ke atap: kerangka jendela tampak hitam mengelilingi jingganya api yang menyala-nyala.
"Jem, jadi mirip labu""
"Scout, lihat!"
Asap berarak ke rumah kami dan rumah Miss Rachel layaknya kabut dari tepi sungai, dan orang-orang menariki selang-selang ke arah itu. Di belakang kami, truk pemadam kebakaran dari Abbottsville meraung mengitari tikungan dan berhenti di depan rumah kami.
"Bukunya "," kataku.
"Apa?" kata Jem.
"Buku Tom Swift itu, itu bukan punyaku, itu punya Dill "."
"Jangan khawatir, Scout, belum waktunya kita khawatir," kata Jem. Dia menunjuk. "Lihat ke sana."
Di antara kerumunan tetangga, Atticus berdiri sambil mem- benamkan tangannya dalam saku jaket. Sikapnya sama seperti saat dia sedang menonton pertandingan football. Miss Maudie berdiri
di sampingnya.
"Lihat, Atticus juga belum khawatir," kata Jem.
"Kenapa dia tak naik ke salah satu rumah?"
__ADS_1
"Dia terlalu tua, bisa-bisa lehernya patah."
"Apa sebaiknya kita memintanya mengeluarkan barang-barang
kita?"
"Sebaiknya kita tidak mengganggu dia, dia pasti tahu kapan waktu yang tepat," kata Jem.
Truk pemadam kebakaran Abbottsville mulai memompa air ke rumah kami; seorang lelaki yang berdiri di atap menunjuk ke tempat-tempat yang paling membutuhkannya. Aku menyaksikan Morfodit Bagus kami menghitam dan roboh; sunhat Miss Maudie mendarat di atas onggokannya. Gunting tanamannya tak terlihat lagi. Di antara rumah kami, rumah Miss Rachel, dan rumah Miss Maudie yang panas membara, para lelaki sudah lama menanggal- kan jaket dan mantel mandi. Mereka bekerja dengan mengenakan kemeja piama dan kaus yang diselipkan pada celana, tetapi aku mulai menyadari bahwa aku perlahan-lahan membeku di tempatku berdiri. Jem mencoba membuatku tetap hangat, tetapi lengannya saja tidak cukup. Aku melepaskan diri darinya dan mencengkeram bahuku. Dengan melompat-lompat kecil, aku dapat merasakan kakiku.
Satu lagi truk pemadam kebakaran muncul dan berhenti di depan rumah Miss Stephanie Crawford. Tak ada pipa air untuk satu selang lagi, dan orang-orang mencoba membasahi rumah itu dengan tabung pemadam kebakaran kecil.
Atap aluminium Miss Maudie memadamkan api. Dengan bergemuruh, rumah itu runtuh; api memancar ke mana-mana, diikuti dengan tebaran selimut dari orang-orang yang berada di
atap rumah tetangga, memukuli bunga api dan bongkahan kayu yang membara hingga padam.
Subuh menjelang ketika orang-orang mulai beranjak, mula-mula satu per satu, lalu berkelompok. Mereka mendorong truk kebakaran Maycomb kembali ke kota; truk Abbottsville kembali ke pangkalan- nya, truk ketiga tetap tinggal. Kami mengetahui keesokan harinya bahwa truk itu berasal dari Clark"s Ferry, seratus kilometer dari
sini.
Aku dan Jem menyelinap ke seberang jalan. Miss Maudie sedang
menatap lubang hitam berasap di halamannya, dan Atticus menggeleng untuk memberi tahu kami bahwa Miss Maudie sedang tidak ingin diajak bicara. Atticus membimbing kami pulang, me- rangkul bahu kami untuk menyeberangi jalan yang penuh es. Katanya, Miss Maudie akan menginap di rumah Miss Stephanie untuk sementara.
"Ada yang mau cokelat panas?" tanyanya. Badanku gemetar ketika Atticus menyalakan kompor.
Selagi kami minum cokelat panas, aku melihat Atticus memandangiku, pertama dengan rasa ingin tahu, lalu dengan ketegasan. "Bukankah aku menyuruh kau dan Jem tetap berdiri di tempat itu?" katanya.
"Kami di sana, kok. Kami tetap""
"Lalu, selimut siapa itu?"
"Selimut?"
"Ya, Nak, selimut. Itu bukan milik kita."
Aku melihat ke bawah dan ternyata aku menggenggam selimut wol cokelat yang tersampir di bahuku, seperti perempuan Indian.
"Atticus, aku tak tahu, Sir " aku""
Aku menoleh kepada Jem untuk meminta jawaban, tetapi Jem malah lebih bingung daripadaku. Katanya, dia tak tahu bagaimana tiba-tiba bisa ada selimut, kami benar-benar menuruti perintah Atticus, kami berdiri di samping gerbang Radley, jauh dari semua
orang, kami tidak bergerak sesenti pun"Jem berhenti.
"Mr. Nathan ada di tempat kebakaran," dia meracau. "Aku melihat dia, aku lihat, dia sedang menarik-narik kasur"Atticus, aku sumpah
"."
"Tak apa-apa, Nak." Atticus menyeringai perlahan. "Sepertinya malam ini seluruh penduduk Maycomb keluar rumah. Jem, rasanya ada kertas pembungkus di lemari. Ambillah dan kita akan""
"Atticus, jangan, Sir!"
Jem sepertinya sudah kehilangan akal. Dia mulai menyemburkan
seluruh rahasia kami, sama sekali tidak memedulikan keamanan posisiku, apa lagi keamanannya, dia tak meninggalkan satu hal pun, ceruk, celana, semuanya.
"" Mr. Nathan menutup pohon itu dengan semen, Atticus, dan itu dilakukannya agar kami tak menemukan barang-barang" sepertinya dia memang gila, seperti orang bilang, tapi Atticus, aku bersumpah demi Tuhan, dia belum pernah menyakiti kami, dia belum pernah mencederai kami, dia bisa saja menggorok leherku dari telinga ke telinga malam itu, tetapi dia malah berusaha menjahitkan celanaku " dia tak pernah menyakiti kami, Atticus""
Atticus berkata, "Tunggu, Nak," begitu lembut sehingga aku merasa sangat lega. Kelihatannya dia tak mengerti satu kata pun yang diucapkan Jem karena yang dikatakan Atticus hanyalah, "Kau benar. Lebih baik kita rahasiakan cerita dan selimut ini di antara kita saja. Suatu hari nanti, mungkin, Scout bisa mengucapkan terima kasih padanya untuk menyelimutinya."
"Berterima kasih pada siapa?" tanyaku.
"Boo Radley. Kau begitu sibuk menonton kebakaran sehingga kau tak tahu waktu dia menyelimuti tubuhmu."
Perutku rasanya mencair dan aku hampir muntah ketika Jem menyodorkan selimut itu dan beringsut mendekatiku. "Dia
menyelinap keluar dari rumah"berbalik"menyelinap masuk lagi ke rumah, dia yang melakukannya!"
Atticus berkata datar, "Jangan sampai kejadian ini meng- ilhamimu untuk bertingkah lagi, Jeremy."
Jem merengut, "Aku tak melakukan apa-apa padanya," tetapi aku melihat percik petualangan baru memadam di matanya. "Coba pikir, Scout," katanya, "andai kau berbalik, kau pasti bisa melihat
dia."
Calpurnia membangunkan kami pada tengah hari. Atticus
sudah memberitahunya bahwa kami tidak perlu bersekolah hari itu, kami tak bisa belajar apa-apa kalau tidak tidur. Calpurnia menyuruh kami mencoba membersihkan halaman depan.
Sunhat Miss Maudie tergeletak dilapisi es tipis, seperti lalat yang terfosil dalam batu ambar, dan kami harus menggali tanah untuk mendapatkan gunting tanaman. Kami menemukan Miss Maudie di halaman belakangnya, memandangi rumpun azalea yang gosong dan beku.
"Kami mengembalikan barang-barangmu, Miss Maudie," kata Jem. "Kami ikut menyesal."
Miss Maudie memandang sekeliling, dan bayangan seringai khasnya melintasi wajahnya. "Memang sejak dulu aku ingin rumah yang lebih kecil, Jem Finch. Halamannya jadi lebih luas. Bayangkan, aku akan punya lebih banyak tempat untuk azaleaku sekarang!"
"Anda tidak sedih, Miss Maudie?" tanyaku, kaget. Kata Atticus, hanya rumah itulah harta miliknya.
"Sedih, Nak? Mengapa harus sedih? Aku membenci kandang sapi tua itu. Sudah ratusan kali aku terpikir untuk membakarnya sendiri, tapi aku bisa-bisa dipenjara."
"Tapi""
"Tak usah mencemaskan aku, Jean Louise Finch. Ada banyak cara yang belum kauketahui untuk melakukan sesuatu. Aku bisa membangun rumah kecil dan menerima dua pengontrak kamar
dan"wah, aku akan memiliki halaman tercantik di Alabama. Halaman keluarga Bellingrath akan kelihatan mengenaskan kalau
aku sudah mulai!"
Aku dan Jem saling memandang. "Kenapa bisa sampai terjadi kebakaran, Miss Maudie?" tanyanya.
"Tak tahu, Jem. Mungkin cerobong asap di dapur. Tadi malam aku menyalakan api di sana untuk menghangatkan tanamanku yang ada dalam pot. Kudengar kau bertemu teman tak terduga tadi malam, Miss Jean Louise."
"Dari mana Anda tahu?"
"Atticus memberitahuku ketika dia akan berangkat ke kota tadi pagi. Jujur saja, aku juga ingin berada bersamamu waktu itu. Dan tentunya aku akan cukup pintar untuk berbalik."
Miss Maudie membuatku bingung. Meskipun hampir seluruh benda miliknya habis terbakar dan halaman kesayangannya kacau- balau, dia masih menaruh perhatian besar pada urusanku dan Jem.
Rupanya dia melihat kebingunganku. Katanya, "Satu-satunya yang membuatku cemas tadi malam adalah bahaya dan kehebohan yang diakibatkannya. Seluruh lingkungan ini bisa saja terbakar. Mr. Avery harus istirahat di tempat tidur selama seminggu"dia benar- benar terbakar. Dia terlalu tua untuk melakukan hal-hal seperti itu dan aku sudah bilang padanya. Kalau urusanku sudah beres dan kalau Stephanie Crawford sedang lengah, aku akan segera mem- buatkan kue Lane untuk Mr. Avery. Si Stephanie sudah tiga puluh tahun mengincar resepku, dan kalau dia pikir resep itu akan kuberikan kepadanya hanya karena aku menginap di rumahnya, dia harus berpikir lagi."
Kupikir jika Miss Maudie menyerah dan memberikan resep itu, Miss Stephanie tetap saja tak akan bisa mengerjakannya. Miss Maudie pernah menunjukkan resep itu padaku: di antaranya, resep itu membutuhkan secangkir besar gula.
Hari masih siang. Udaranya sangat dingin dan cerah, dan kami mendengar jam di gedung pengadilan berdentang, lalu menimbulkan serangkaian bunyi bising sebelum menunjukkan waktu. Warna hidung Miss Maudie belum pernah kulihat sebelumnya, dan aku menanyakannya.
"Aku sudah di luar sini sejak jam enam," katanya. "Mestinya sudah membeku sekarang." Dia mengangkat tangan. Jaringan kecil yang keriput malang-melintang di telapaknya, cokelat karena tanah dan darah kering.
"Tanganmu jadi rusak," kata Jem. "Mengapa tidak mencari orang Negro saja?" Tak ada nada ingin menolong dalam suaranya ketika dia menambahkan, "Atau aku dan Scout, kami bisa bantu."
Kata Miss Maudie, "Terima kasih, Nak, tetapi kau juga punya pekerjaan di sana." Dia menunjuk halaman kami.
"Maksud Anda, Morfodit itu?" tanyaku. "Ah, itu bisa kami rapikan dengan cepat."
Miss Maudie menatapku, bibirnya bergerak tanpa suara. Tiba- tiba dia meletakkan tangannya di kepala dan berseru dengan semangat. Ketika kami meninggalkannya, dia masih tergelak.
Kata Jem, dia tak tahu apa yang salah dengan Miss Maudie" memang seperti itulah Miss Maudie.
__ADS_1