To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird
Episode 3


__ADS_3

Bab3



Menangkap Walter Cunningham di halaman sekolah membuatku



sedikit senang, tetapi ketika aku sedang menggosokkan hidungnya di tanah, Jem mendekat dan menyuruhku berhenti. "Kau lebih besar daripada dia," katanya.



"Dia hampir seumur denganmu," kataku. "Gara-gara dia, aku jadi salah langkah."



"Lepaskan dia, Scout. Memangnya ada apa?"



"Dia tidak bawa bekal," kataku, lalu menjelaskan keterlibatanku



dalam urusan makanan Walter.



Walter sudah bangkit dan berdiri diam, mendengarkan aku dan Jem. Kepalannya setengah disiapkan, seolah-olah menanti serangan dari kami berdua. Aku menjejakkan kaki untuk mengusirnya, tetapi Jem mengulurkan tangan dan mencegahku. Dia memandangi Walter dengan gaya menduga-duga. "Ayahmu Mr. Walter Cunningham dari Old Sarum?" tanyanya, dan Walter mengangguk.



Wajah Walter tampak seperti dia dibesarkan dengan makanan ikan: matanya, sebiru mata Dill Harris, tampak merah dan berair.



Wajahnya tak berwarna, kecuali ujung hidungnya yang merah muda dan lembap. Dia memainkan tali overall-nya, dengan gugup memegang-megang kait logamnya.



Jem tiba-tiba menyeringai padanya. "Walter, makan siang di rumah kami yuk," katanya. "Kami senang kalau kau mau."



Wajah Walter berseri, lalu suram kembali.



Kata Jem, "Ayah kami berteman dengan ayahmu. Scout ini, dia memang gila"dia tidak akan mengajakmu berkelahi lagi."



"Jangan terlalu yakin dulu," kataku. Aku kesal pada Jem yang mengobral janji atas namaku, tetapi menit-menit istirahat siang yang berharga terus berdetak. "Iya, Walter, aku tak akan menye- rangmu lagi. Kau suka kacang mentega? Cal kami jago masak."



Walter berdiri di tempat, menggigit bibir. Aku dan Jem menyerah, dan kami sudah dekat dengan Radley Place ketika Walter berseru, "Hei, aku ikut!"



Ketika Walter berhasil mengejar kami, Jem mengajaknya mengobrol santai. "Di sana ada hantu," katanya ramah, menunjuk rumah Radley. "Pernah dengar tentang dia, Walter?"



"Rasanya pernah," kata Walter. "Aku hampir mati, waktu tahun pertama aku sekolah dan makan kacang pecan itu"kata orang, dia meracuninya dan menaruhnya di dekat pagar sekolah."



Sepertinya Jem tidak terlalu takut lagi pada Boo Radley kalau ada aku dan Walter di sampingnya. Malah, dia semakin sombong,



"Aku malah pernah masuk sampai ke rumahnya," katanya kepada



Walter.



"Orang yang pernah masuk ke rumahnya mestinya sudah tidak lari tunggang langgang lagi setiap kali lewat di situ," kataku pada awan di langit.



"Siapa yang lari, Nona Centil?"



"Kau Jem, kalau tak ada teman."



Pada saat kami sampai di tangga depan, Walter sudah lupa bahwa dia seorang Cunningham. Jem berlari ke dapur dan meminta



Calpurnia menyiapkan piring tambahan karena kami kedatangan tamu. Atticus menyapa Walter dan memulai diskusi tentang panen yang tak bisa dipahami olehku maupun Jem.



"Saya tidak naik ke kelas dua, Mr. Finch, karena saya harus bolos setiap musim semi dan membantu Papa memotong, tetapi sekarang ada satu lagi di rumah yang sudah bisa membantu."



"Apakah dia kalian bayar dengan sekarung kentang?" tanyaku, tetapi Atticus menggeleng padaku.



Selagi Walter menumpuk makanan di piringnya, dia dan Atticus mengobrol seperti dua lelaki dewasa, membuatku dan Jem terheran- heran. Atticus sedang mengomentari masalah-masalah pertanian ketika Walter menyela untuk meminta sirop gula. Atticus memanggil Calpurnia, yang kembali dengan membawa sebotol sirop. Dia berdiri menunggu Walter selesai menuangkan sirop itu banyak-banyak pada sayur dan daging. Gelas susu pun mungkin akan dituangi juga andai- kan aku tak menanyakan, apa-apaan yang dia lakukan itu.



Piring perak berkelentang ketika dia meletakkan botol dan dengan cepat meletakkan tangan di pangkuan. Lalu, dia menun- duk.



Atticus menggeleng lagi padaku. "Tapi makanannya sampai terendam sirop begitu," aku protes. "Semuanya dituangi""



Pada saat itulah, Calpurnia mengajakku ke dapur. Dia sangat marah, dan saat dia sangat marah, tata bahasanya



kacau. Ketika tenang, tata bahasanya sama baiknya dengan tata bahasa siapa pun di Maycomb. Kata Atticus, pendidikan Calpurnia lebih tinggi daripada sebagian besar orang kulit hitam.



Waktu dia memicingkan mata padaku, kerut-kerut kecil di sekitar matanya bertambah dalam. "Ada orang yang cara makannya beda sama kita," bisiknya galak, "tapi kau tak boleh negur mereka di meja gara-gara mereka beda. Anak itu tamumu, dan kalau dia mau makan taplak meja, kaubiarkan saja, ngerti?"



"Dia bukan tamu, Cal, dia cuma seorang Cunningham""



"Tutup mulut. Siapa pun mereka, orang yang melangkahkan kakinya di rumah ini adalah tamu. Jadi, jangan sampai aku pergoki kau mengomentari kebiasaan mereka seolah kau lebih tinggi! Kalian mungkin memang lebih baik dari keluarga Cunnigham, tapi kau tak ada artinya kalau mempermalukan mereka seperti itu"kalau kau tak bisa makan dengan sopan di meja, duduk saja di sini dan makan di dapur!"



Calpurnia mendorongku ke ruang makan melalui pintu-ayun dengan tepukan menyengat. Aku mengambil piringku dan menghabiskan makananku di dapur, tetapi bersyukur karena tak perlu malu menghadapi mereka lagi. Aku mengatakan kepada Calpurnia supaya dia menunggu, aku akan membalas: suatu hari nanti, saat dia tak memerhatikan, aku akan menenggelamkan diri di Pusaran Baker, dan dia akan menyesal. Lagi pula, tambahku, dia sudah membuatku kena masalah hari ini: dia mengajariku menulis dan ini semua salahnya. "Jangan rewel," katanya.



Jem dan Walter berjalan kembali ke sekolah di depanku: tinggal sebentar untuk mengadukan kepada Atticus tentang kejahatan Calpurnia masih sebanding dengan berlari sendirian melewati Radley Place. "Dia memang lebih suka Jem daripada aku," aku menyimpulkan, dan menyarankan agar Atticus tidak membuang waktu untuk mengusirnya.



"Pernahkah kau merenungkan bahwa Jem tidak membuat Cal



cemas sepertimu?" suara Atticus datar. "Aku tak berniat mengusirnya, sekarang atau kapan pun. Kita tak bisa bertahan sehari pun tanpa Cal, pernahkah kau memikirkan itu? Pikirkanlah betapa banyak yang dilakukan Cal untukmu, dan patuhilah perkataannya,



mengerti?"



Aku kembali ke sekolah dengan menyimpan kebencian terhadap Calpurnia hingga suara pekikan tiba-tiba memecahkan dendamku. Aku mendongak dan melihat Miss Caroline berdiri di tengah-tengah ruangan, kengerian melanda wajahnya. Rupanya dia sudah cukup



pulih dari kejadian pagi hari dan menjalani profesinya dengan lebih tabah.



"Dia hidup!" jeritnya.



Anak-anak lelaki bergegas membantunya. Ya Tuhan, pikirku, dia takut tikus. Little Chuck Little, yang memiliki kesabaran fenomenal dengan semua makhluk hidup, berkata, "Ke mana perginya makhluk itu, Miss Caroline? Beri tahu kami ke mana perginya, cepat! D.C."" dia berpaling ke anak di belakangnya""D.C., tutup pintunya dan kita tangkap dia. Cepat, Ma"am, ke mana perginya?"



Miss Caroline menudingkan jarinya yang gemetaran tidak pada lantai atau meja, tetapi pada seseorang bertubuh besar yang tak kukenal. Wajah Little Chuck menjadi tenang dan dia berkata lembut.



"Maksud Anda, dia? Iya, Ma"am, dia memang hidup. Apakah dia membuat Anda takut?"



Miss Caroline berkata putus asa, "Aku sedang berjalan mele- watinya waktu makhluk itu merayap dari rambutnya " tahu-tahu saja merayap dari rambutnya""



Little Chuck menyeringai lebar. "Kutu tak perlu ditakuti, Ma"am. Anda belum pernah lihat? Jangan takut, kembali saja ke meja Anda, lalu kita belajar lagi."



Little Chuck Little adalah seorang lagi penduduk yang tidak tahu dari mana dia akan memperoleh makanannya yang berikut, tetapi dia seorang lelaki terhormat. Dia memegang sikut Miss



Caroline dan membimbingnya ke depan ruangan. "Tak usah kha- watir, Ma"am," katanya. "Tak perlu takut dengan kutu. Saya ambil-



kan air dingin, ya."



Pemilik kutu itu tak menunjukkan minat sedikit pun pada kehebohan yang diakibatkannya. Dia menelusuri kulit kepala di atas keningnya, menemukan kutu itu, dan menjepit makhluk itu di antara jempol dan telunjuknya.



Miss Caroline mengamati proses itu dengan takjub dan ngeri. Little Chuck membawakan air dalam gelas kertas, dan Miss Caroline



meminumnya dengan lega. Akhirnya, dia mendapatkan kembali suaranya, "Siapa namamu, Nak?" tanyanya lembut.



Anak itu berkedip. "Siapa, saya?" Miss Caroline mengangguk. "Burris Ewell."



Miss Caroline memeriksa buku absennya. "Di sini ada satu Ewell, tetapi tak ada nama depannya " bagaimana cara mengeja nama depanmu?"



"Saya tidak tahu. Kalau di rumah, saya dipanggil Burris."



"Nah, Burris," kata Miss Caroline, "menurut Ibu, kamu boleh tidak bersekolah untuk sisa siang ini. Ibu minta kamu pulang dan keramas."



Dari mejanya, Miss Caroline mengeluarkan sebuah buku tebal, membalik-balikkan halamannya dan membaca sebentar. "Obat tradisional yang baik untuk"Burris, Ibu minta kamu pulang dan mencuci rambut dengan sabun alkali. Kalau sudah, obati kulit kepalamu dengan kerosin."



"Untuk apa, Ma"am?"



"Untuk membasmi"eh, kutu. Soalnya, Burris, anak lain bisa tertular, dan tentunya kamu tak mau itu terjadi, bukan?"



Anak itu berdiri. Manusia terdekil yang pernah kulihat. Lehernya abu-abu tua, punggung tangannya berdaki, dan kukunya panjang dan hitam. Dia memicingkan mata pada Miss Caroline dari daerah



bersih seukuran kepalan pada wajahnya. Mungkin tadi tak ada yang memerhatikannya karena hampir sepanjang pagi, aku dan Miss Caroline menghibur anak sekelas.



"Dan Burris," kata Miss Caroline, "tolong mandi dulu sebelum kamu kembali besok."



Anak itu tertawa tak sopan. "Anda tak bisa mengusir saya, Ma"am. Saya memang baru mau pergi"saya sudah cukup lama di sini tahun



ini."



Miss Caroline tampak bingung. "Apa maksudmu?"



Anak itu tidak menjawab. Dia mengeluarkan dengusan pendek dengan nada menghina.



Salah satu anggota kelas yang lebih tua menjawabnya, "Dia anggota keluarga Ewell, Ma"am," dan aku bertanya-tanya apakah penjelasan ini akan gagal seperti upayaku tadi. Namun, Miss Caroline tampaknya mau mendengarkan. "Ada banyak di sekolah ini. Mereka datang pada hari pertama setiap tahun, lalu pergi. Pengawas murid bisa memaksa mereka hadir karena dia mengancam melapor kepada sheriff, tetapi dia sudah putus asa mencoba membuat mereka tetap bersekolah. Menurutnya, dia sudah menegakkan hukum dengan mencantumkan nama mereka di buku absen dan menggiring mereka ke sini pada hari pertama. Ibu mesti mencatat ketidakhadiran mere- ka selama sisa tahun "."



"Tapi, bagaimana orangtua mereka?" tanya Miss Caroline, de- ngan kecemasan yang tulus.



"Tak punya Ibu," jawabnya, "dan Papa mereka suka bikin ma- salah."



Burris Ewell tersanjung dengan penjelasan itu. "Sudah tiga tahun datang ke kelas satu pada hari pertama," dia menambahkan. "Kalau saya pintar tahun ini, mestinya saya akan dinaikkan ke kelas dua "."



Miss Caroline berkata, "Silakan duduk kembali, Burris," dan



begitu dia mengucapkannya, aku tahu dia telah membuat kesalahan besar. Pandangan meremehkan anak itu berubah menjadi amarah.



"Coba saja, Ma"am."



Little Chuck Little berdiri. "Biarkan dia pergi, Ma"am," katanya. "Dia jahat, jahat dan kuat. Bisa-bisa dia malah bikin kacau, dan di sini banyak anak kecil."



Dia termasuk anak yang bertubuh paling kecil, tetapi ketika Burris Ewell berbalik menghadapnya, Little Chuck memasukkan tangan kanannya ke saku. "Hati-hati, Burris," katanya. "Aku lebih



suka membunuhmu daripada melihatmu. Pulanglah."



Burris tampaknya takut pada anak yang tingginya hanya setengahnya itu, dan Miss Caroline memanfaatkan keraguannya, "Burris, pulanglah. Kalau tidak, Ibu akan memanggil kepala sekolah," katanya. "Ibu toh, tetap harus melaporkan hal ini."


__ADS_1


Anak itu mendengus dan melenggang malas ke pintu.



Setelah mencapai jarak aman, dia berbalik dan berseru, "Laporkan saja, tapi terkutuk kau! Belum pernah ada pelacur ingusan yang jadi guru sekolah bisa memaksaku! Kau tak bisa menyuruhku pergi, Missus. Ingat saja, kau tak mengusirku ke mana- mana!"



Dia menunggu sampai dia yakin Miss Caroline menangis, lalu



berjalan ke luar gedung.



Dalam sekejap kami mengerumuni meja Miss Caroline, mencoba menghiburnya dengan berbagai cara. Anak itu memang jahat sekali benar-benar kejam.Ibu tidak perlu mengajar orang-orang sepert itu .. itu bukan kebiasaan Maycomb, Miss Caroline, bukan Ibu mau membacakan cerita? Cerita kucing tadi pagi bagus sekali



Miss Caroline tersenyum, membersihkan hidungnya dan berkata,"Terima kasih, Sayang." membubarkan kami, membuka



buku dan memesona kelas satu dengan narasi panjang mengenai kodok- katak yang tinggal di aula.



Ketika aku melewat Radley Place keempat kalinya hari itu- dua kali dengan lari secepat mungkin- kemuramanku semakin



mendalam, menyamal rumah itu. Jika sisa tahun ajaran ini akan sarat drama seperti hari per tama, mungkin sedikit menyenangkan,



tetapi kemungkinan menempuh sembilan bulan dengan menahan keinginan membaca dan menulis membuatku berpikir untuk kabur



dari rumah.



Menjelang malam, sebagian besar rencana perjalananku sudah siap. Ketika aku dan Jem adu lari di trotoar untuk menyambut



Atticus saat pulang dari kantor, aku tidak memberi banyak perlawanan. Ini kebiasaan kami, menyambut Atticus begitu kami melihatya mengitari tkungan kantor pos di kejauhan. Atticus tampaknya sudah melupakan kesalahanku tadi siang; dia bertanya ini-itu



tentang sekolah. Aku hanya memberikan jawaban-jawaban pendek satu suku kata dan dia tidak mendesakku.



Mungkin Calpurnia merasakan bahwa hariku suram: dia membiarkanku menungguinya memasak makan malam. "Pejamkan mata dan buka mulutmu, aku punya kejutan," katanya.



Dia. jarang membuat roti jagung katanya dia tak pernah punya



waktu, tetapi karena aku dan Jem bersekolah, hari ini beban



kerjanya jadi lebih ringan. Dia tahu aku suka sekalil roti jagung.



"Aku rindu padamu hari ini," katanya."Rumah ini sepi sekali,



sampa-sampai sekitar jam dua aku harus menyalakan radio."



"Kenapa? Aku dan Jem kan tak pernah di rumah kecuali kalau



hujan."



"Aku tahu," katanya, "tapi salah satu dari kalian selalu datang



kalau kupanggil. Aku heran, berapa banyak waktuyang kuhabiskan



untuk memanggilmu dalam sehari. Yah," katanya, bangkit dari kursi



dapur, "cukupwaktu untuk membuat roti jagung. kurasa. Keluarlah



dulu, aku mau menghidangkan makan malam."



Calpurnia membungkuk dan menciumku. Aku keluar, bertanya-



tanya apa yang terjadi padanya. Dia ingin berbaikan denganku,



pasti itu sebabnya. Sejak dulu dia terlalu keras dan sering jengkel



padaku, dan hari ini, akhirnya dia menyadari kekeliruannya. Dia



menyesal dan terlalu keras kepala untuk mengatakannya. Aku lelah



akibat kenakalan-kenakalan yang kulakukan hari itu.



Setelah makan malam, Atticus duduk memegang koran dan



memanggil, "Scout, siap membaca?" Rupanya Tuhan memberiku



beban lebih berat daripada yang bisa kutanggung, jadi aku pergi



ke teras depan. Atticus mengikutiku.



"Ada apa, Scout?"



Kubilang kepada Atticus, aku merasa tidak enak badan, dan



kurasa aku tak akan bersekolah lagi kalau dia tak berkeberatan.




mengeluyur ke saku kemeja tempatnya menyimpan jam; katanya,



dia hanya bisa berpikir dengan cara itu. Dia menunggu dalam



kesunyian yang menyenangkan, dan aku mencoba memperkuat



kedudukanku, "Kau tidak pernah sekolah, Atticus, dan kau baik-



baik saja, jadi aku juga mau di rumah saja. Kau bisa mengajariku



seperti Kakek mengajarimu dan Paman Jack."



"Tidak, aku tak bisa," kata Atticus. "Aku harus mencari nafkah.



Lagi pula, aku bisa dipenjara kalau menahanmu di rumah- malam



ini kau minum magnesia dan besok kau sekolah."



"Aku tak apa-apa kok, benar"



"Sudah kuduga. Nah, ada apa sebenarnya?"



Sedikit demi sedikit kuceritakan padanya nasibkuyang malang



hari ini."һdan katanya, caramu mengajar keliru, jadi kita tak boleh



membaca bersama lagi, kapan pun. Tolong jangan menyuruhku ke



sana lagi, aku mohon, Si."



Atticus berdiri dan berjalan ke tepi teras. Ketka selesai menekuril



rumpun anggur wistaria, dia berjalan kembali kepadaku.



"Pertama-tama," katanya, "kalau kau bisa mempelajari satu



keterampilan sederhana, Scout, kau bisa bergaul lebih baik dengan



berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau



sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya-"



"Sir?"



"kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya."



Kata Atticus, aku belajar banyak hal hari ini, dan Miss Caroline



juga belajar beberapa hal. Dia belajar untuk tidak pernah memberi



sesuatu kepada seorang Cunningham, misalnya, tetapi andai aku



dan Walter tadi menempatkan diri kami dalam posisinya, kami akan



memahami bahwa kekeliruan itu tidak dia sengaja. Kami tak bisa



menuntutya mengetahui semua kebiasaan Maycomb dalam sehari,



dan kami tak bisa menuntut tanggung jawabnya kalau dia tidak



tahu,



"Enak saja," kataku. "Aku juga tak tahu kalau aku tak boleh



membaca untuknya, tapi dia menuntut tanggung jaw abku- dengar



Atticus, aku tak harus bersekolah." Aku meledak dengan pikiran



mendadak "Burris Ewell, ingat? Dia cuma bersekolah pada hari



pertama. Pengawas murid menganggap dia sudah menegakkan



hukum dengan mencantumkan namanya pada daftar absen- "



"Kau tak bisa begitu, Scout," kata Atticuis. "Kadang kadang,



dalam kasus tertentu, lebih baik kita sedikit membengkokkan

__ADS_1



hukum. Dalam kasusmu, hukum tetap kaku. Jadi, kau harus ber-



sekolah."



"Aku tak mengerti kenapa aku harus sekolah kalau dia tidak"



"Dengarlah."



Atticus berkata, keluarga Ewell sudah menjadi aibbagi Maycomb



selama bergenerasi generasi. Sepanjang ingatannya, tak ada satu



pun anggota keluarga ituyang pernah bekerja dengan benar. Dia ber-



kata bahwa pada suatu Natal nant, kalau dia membuang pohon Natal,



dia akan mengajakku dan menunjukkan di mana dan bagaimana



mereka hidup. Mereka manusia, tetapi hidup seperti binatang.



"Mereka boleh bersekolah kapan pun mereka mau, kalau mereka



menunjukkan gejala terlemah bahwa mereka ingin menuntut ilmu,"



kata Atticus. "Ada cara-cara untuk memaksa mereka bersekolah



dengan kekerasan, tetapi konyol kalau kita memaksakan orang



sepertil keluarga Ewell ke lingkungan baru-"



"Kalau aku tak ke sekolah besok, kau akan memaksaku."



"Mari kita simpulkan begini," kata Atticus datar. "Kau, Miss



Scout Finch, adalah orang biasa. Kau harus menaati hukum." Dia



berkata, keluarga Ew ell adalah masyarakat eksklusif yang ber-



anggotakan orang-orang Ewell. Dalam situasi tertentu, orang biasa



dengan bijak membiarkan mereka memperoleh hak tertentu dengan



cara sederhana, yaitu membutakan mata pada beberapa kegiatan



Ewell, Mereka tak perlu bersekolah, misalnya. Contoh lain, Mr Bob



Ewell, ayah Burris, diizinkan berburu dan menjerat di luar



musim.



"Atticus, itu kan keliru," kataku. Di Maycomb County, berburu



di luar musim adalah kejahatan ringan menurut hukum, kejahatan



besar di mata penduduk.



"Memang melanggar hukum," kata ayahku, "dan jelas keliru,



tetapi kalau seseorang menghabiskan uang santunan untuk membeli



wiski hijau, anak anaknya akan menangis kelaparan. Sepenge-



tahuanku, tak ada pemilik tanah di sekitar ini yang membenci anak-



anak itu karena memakan hewan yang ditangkap ayah mereka."



"Mr. Ewell tak boleh begitu-"



"Memang tidak boleh, tetapi dia tak akan mengubah ke-



biasaannya. Apakah kau akan melampiaskan ketidaksukaanmu



pada anak anaknya?"



"Tidak, Sir," gumamku, dan berusaha sekalt lagi memper-



tahankan pendapatku, "tapi kalau aku terus bersekolah, kita tak



boleh membaca bersama lagi ..



"Hal ini sangat mengganggumu, ya?"



"Ya, Sir."



Waktu Atticus memandangku, kulhat ekspresi wajahnya yang



selalu membuatku menduga ada sesuatu. "Kau tahu artinya kom-



promi?" tanyanya.



"Membengkokkan hukum?



"Bukan, kesepakatanyang dicapai dengan sama-sama mengalah.



Caranya begini," katanya. "Kalau kau mengalah dan mengakui



bahwa bersekolah itu perlu, kita akan terus membaca setiap malam



seperti biasa. Setuju?"



"Setuju, Sir!"



"Kita anggap kesepakatan ini sah, tanpa formalitas yang biasa,"



kata Atticus, ketika dia melihatku bersiap-siap meludah.



Saat aku membuka pintu kawat, Atticus berkata, "Omong-



omong, Scout, sebaiknya kau tidak usah bilang apa-apa di sekolah



tentang kesepakatan kita."



"Kenapa tidak?"



"Aku khawatir kegiatan kita akan disambut dengan kecaman



keras dari lembaga pendidikan yang lebih berwenang.'



Aku dan Jem sudah terbiasa dengan diksi ayah kami yang lebih



cocok diterapkan pada surat wasiat, dan kami bebas menyela Atticuis



kapan pun untuk memintanya menjelaskan kata-kata itu kalau



ucapannya tak kami mengert.



"Apa, Sir?"



"Aku tak pernah bersekolah," katanya, "tetapi aku punya firasat



bahwa jika kau memberi tahu Miss Caroline bahwa kita membaca



setiap malam, dia akan memburuku, dan aku tak ingin dia memburu



aku."



Atticus menghabiskan waktunya denganku malam itu, dengan



serius membaca kolom-kolom teks tentang lelaki yang duduk di tiang



bendera tanpa alasan yang jelas, yang memberi alasan cukup bagi



Jem untuk melewatkan Sabtu berikutnya di rumah pohon. Jem



duduk sejak usai sarapan sampai matahari terbenam dan bisa-bisa



bermalam di sana andai Atticus tidak memutus jalur perbekalannya.



Hampir sepanjang hari aku memanjat naik turun, menjadi kurirnya,



menyediakan bacaan, makanan dan minuman, dan sedang mem-



bawakan selimut untuknya, ketika Atticus berkata bahwa kalau aku



tidak mengacuhkannya, Jem akan turun. Atticus benar.



__ADS_1


__ADS_2