To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird
Episode 19


__ADS_3

Bab19



Thomas Robinson meraih ke samping, meletakkan jemarinya di



bawah lengan kiri, dan mengangkatnya. Dia menaruh lengannya ke atas Alkitab dan tangan kirinya yang mirip karet mencoba menyentuh sampul hitam itu. Seraya mengangkat tangan kanannya, tangannya yang tak berfungsi tergelincir dari Alkitab dan menimpa meja kerani. Dia mencoba lagi ketika Hakim Taylor menggeram, "Cukup, Tom." Tom bersumpah, lalu naik ke kursi saksi. Atticus segera men-



dorongnya untuk bercerita kepada kami:



Tom berusia dua puluh lima tahun; dia sudah menikah dan memiliki tiga anak; dia pernah berurusan dengan hukum, dia pernah menerima hukuman tiga puluh hari karena tindak ke-



kerasan.



"Tindak kekerasan, ya," kata Atticus. "Perilaku macam apa yang Anda lakukan?"



"Berkelahi dengan orang lain, dia mencoba menikam saya." "Dia berhasil?"



"Ya, Sir, sedikit, tetapi tidak cukup untuk menyakiti saya. Anda tahu, saya"" Tom menggerakkan bahu kirinya.



"Ya," kata Atticus. "Kalian berdua terbukti bersalah?"



"Ya, Sir, saya harus menjalani hukuman karena tak bisa membayar denda. Orang yang itu membayar denda."



Dill mencondongkan tubuh di depanku dan bertanya kepada Jem, apa yang sedang dilakukan Atticus. Kata Jem, Atticus sedang menunjukkan kepada juri bahwa Tom tidak menyembunyikan rahasia.



"Apakah Anda kenal dengan Mayella Violet Ewell?" tanya Atticus.



"Ya, Sir, saya harus melewati rumahnya untuk pergi dan pulang dari ladang setiap hari."



"Ladang milik siapa?"



"Saya memetik untuk Mr. Link Deas."



"Apakah Anda memetik kapas pada bulan November?"



"Tidak, Sir, saya bekerja di halaman rumahnya pada musim gugur dan musim dingin. Saya bekerja cukup teratur untuknya sepanjang tahun, dia punya banyak pohon pecan dan lainnya."



"Anda berkata, Anda harus melewati tempat Ewell untuk pergi dan pulang bekerja. Apakah ada jalan lain yang bisa ditempuh?"



"Tidak, Sir, sepanjang yang saya tahu."



"Tom, apakah Mayella pernah berbicara denganmu?"



"Ya pernah, Sir, saya menganggukkan topi kalau lewat, dan suatu hari dia meminta saya masuk pagar untuk memotong-motong



lemari untuknya."



"Kapan dia memintamu memotongi lemari?"



"Mr. Finch, itu sudah lama, musim semi lalu. Saya ingat karena waktu itu musim panen dan saya membawa cangkul, tetapi dia bilang dia punya kapak. Dia meminjamkan kapak itu dan saya me- motong-motong lemari itu untuknya. Katanya, "Kukira, aku harus



memberimu lima sen, ya?" dan saya bilang, "Tak usah, Ma"am, tak perlu membayar." Lalu, saya pulang. Mr. Finch, itu terjadi musim



semi lalu, lebih dari setahun yang lalu."



"Apakah Anda pernah ke sana lagi?"



"Ya, Sir."



"Kapan?"



"Yah, saya sering ke sana."



Hakim Taylor secara naluriah meraih palunya, tetapi membiarkan tangannya tergolek. Gumaman di bawah kami mereda tanpa bantuannya.



"Dalam situasi apa?"



"Maaf, Sir?"



"Mengapa Anda sering memasuki pagar?"



Kerutan di kening Tom Robinson mengendur. "Dia memanggil saya masuk, Sir. Sepertinya setiap kali saya lewat di situ, dia punya sesuatu untuk saya kerjakan"memotong kayu bakar, membawakan air untuknya. Dia menyiram bunga merah itu setiap hari""



"Apakah Anda dibayar untuk jasa Anda?"



"Tidak, Sir, tidak setelah dia menawarkan lima sen pertama kali. Saya senang melakukannya, Mr. Ewell sepertinya tidak membantu dia sama sekali, begitu pula adik-adiknya, dan saya tahu dia tak punya uang untuk diberikan."



"Di mana anak-anak yang lain?"



"Mereka selalu ada, di segala tempat. Sebagian dari mereka suka menunggui saya bekerja, sebagian lagi menonton dari jendela."



"Apakah Miss Mayella mengobrol dengan Anda?" "Ya, Sir, dia mengobrol dengan saya."



Selagi Tom Robinson memberikan kesaksiannya, aku menyadari bahwa Mayella Ewell tentulah orang yang paling kesepian sedunia. Dia bahkan lebih kesepian daripada Boo Radley, yang belum pernah keluar rumah selama dua puluh lima tahun. Ketika Atticus bertanya apakah dia punya teman, dia seperti tak tahu apa yang dimaksud,



lalu dia menyangka dia sedang diejek. Dia sama menyedihkannya, kupikir, dengan anak blasteran yang disebut Jem: orang kulit putih tak mau berurusan dengannya karena dia tinggal bersama babi; orang Negro tak mau berurusan dengannya karena dia berkulit putih. Mayella tak bisa hidup seperti Mr. Dolphus Raymond, yang lebih suka berteman dengan orang Negro karena dia tidak memiliki tanah di tepi sungai dan dia tidak berasal dari keluarga tua yang baik-baik. Tak ada yang berkata, "Memang begitu cara hidup mereka," tentang keluarga Ewell. Penduduk Maycomb memberi mereka keranjang Natal, uang santunan, dan tamparan. Tom Robinson mungkin satu-satunya orang yang pernah berbuat baik padanya. Tetapi Mayella bilang Tom menodainya, dan ketika dia berdiri, dia memandangnya seolah-olah Tom adalah kotoran yang menempel kakinya.



"Apakah Anda pernah," Atticus menyela renunganku, "pada suatu ketika, memasuki tanah Ewell"apakah Anda pernah menginjakkan kaki di tanah Ewell tanpa undangan lisan dari salah seorang anggota keluarga?"



"Tidak, Sir, Mr. Finch, tak pernah. Saya tak akan melakukannya, Sir."



Kadang-kadang, Atticus berkata bahwa salah satu cara untuk membedakan seorang saksi berbohong atau berkata jujur adalah dengan mendengar daripada memerhatikan: aku menerapkan



caranya"Tom menyangkalnya tiga kali dalam satu napas, tetapi tidak tergesa-gesa, tidak ada nada ratapan dalam suaranya, dan kudapati diriku memercayainya, meskipun dia terlalu banyak menyangkal. Dia tampaknya seorang Negro terhormat, dan seorang Negro terhormat tak akan pernah memasuki halaman seseorang



seenaknya.



"Tom, apa yang terjadi pada Anda pada malam tanggal 21 November tahun lalu?"



Di bawah kami, penonton menarik napas bersama-sama dan



mencondongkan tubuh ke depan. Di belakang kami, orang-orang Negro melakukan hal yang sama.



Tom adalah seorang Negro yang berkulit hitam beledu, tidak mengilap, tetapi seperti beledu hitam lembut. Warna putih matanya bersinar pada wajahnya, dan ketika dia berbicara, kami melihat giginya sekilas-sekilas. Andaikan tidak cacat, lelaki itu tentu berpenampilan menawan.



"Mr. Finch," katanya, "saya sedang pulang seperti biasa sore itu, dan waktu saya melewati tempat Ewell, Miss Mayella sedang di teras, seperti yang dikatakannya. Suasananya sepi sekali, dan saya tak tahu kenapa. Saya sedang mencari tahu kenapa, sambil lewat, ketika dia meminta saya masuk dan membantunya sebentar.



Ya, saya masuk pagar dan melihat ke sekeliling, mencari kayu bakar untuk dipotong, tetapi saya tak lihat apa-apa, dan katanya, "Tidak, aku ada pekerjaan untukmu di dalam rumah. Pintu tua itu sudah lepas engselnya dan musim gugur sebentar lagi tiba." Kata saya, "Ada obeng, Miss Mayella?" Dia berkata dia punya. Ya, saya menaiki tangga dan dia mengisyaratkan agar saya masuk, dan saya masuk ke ruang depan dan memandangi pintu. Kataku, Miss Mayella, pintu ini sepertinya bagus. Lalu, dia menutup pintunya di wajahku. Mr. Finch, saya sedang bertanya-tanya mengapa suasana sepi sekali dan saya menyadari bahwa tak ada satu anak pun di tempat itu, tidak satu pun, dan kataku, Miss Mayella, di mana anak-anak?"



Kulit beledu hitam Tom tampak mengilap, dan dia menyapukan tangan ke wajahnya.



"Kata saya, anak-anak di mana?" lanjutnya, "dan katanya"dia tertawa sedikit"katanya mereka semua pergi ke kota untuk membeli es krim. Katanya, "Perlu setahun penuh untuk menabung tujuh keping koin lima sen, tetapi aku berhasil. Mereka semua sedang ke kota."



Tom tampak tidak nyaman, tetapi bukan akibat kelembapan udara. "Lalu, apa yang Anda katakan kemudian, Tom?" tanya



Atticus.



"Saya berkata, seingat saya, wah, Miss Mayella, sungguh pintar Anda memperlakukan mereka. Dan dia berkata, "Menurutmu begitu?" saya merasa dia tidak memahami apa yang saya pikirkan" maksudku pintar dia menabung seperti itu, dan dia baik sekali mentraktir mereka."



"Saya mengerti, Tom. Lanjutkan," kata Atticus.



"Saya bilang, saya sebaiknya pergi, saya tak bisa berbuat apa- apa untuknya, dan dia berkata, bisa kok, dan saya bertanya apa,



dan dia berkata naik saja ke kursi di sana dan turunkan kotak itu dari atas lemari."



"Bukan lemari yang sama dengan yang Anda potong?" tanya Atticus.



Saksi tersenyum. "Bukan, Sir, yang lain. Hampir setinggi ruangan. Jadi, saya melakukan yang disuruhnya, dan saya baru menjangkau ketika tahu-tahu dia"dia menyambar kakiku, me- nyambar kakiku, Mr. Finch. Dia membuat saya takut sekali sehingga saya melompat turun sampai kursi terguling"itu satu-satunya perabot yang berantakan di ruangan itu, Mr. Finch, ketika aku meninggalkannya. Saya bersumpah demi Tuhan."


__ADS_1


"Apa yang terjadi setelah Anda membuat kursi terguling?" Tom Robinson diam seribu basa. Dia melirik ke Atticus, lalu ke



juri, lalu ke Mr. Underwood yang duduk di seberang ruangan.



"Tom, Anda sudah bersumpah untuk mengungkapkan ke- benaran. Bisa diceritakan?"



Tom mengusap mulutnya dengan gugup.



"Apa yang terjadi setelah itu?"



"Jawab pertanyaannya," kata Hakim Taylor. Sepertiga cerutunya



sudah lenyap.



"Mr. Finch, saya turun dari kursi itu dan berbalik dan dia



menerkamku."



"Menerkam Anda? Dengan kasar?"



"Tidak Sir, dia"dia memelukku. Dia memeluk pinggang saya."



Kali ini palu Hakim Taylor berdentam keras, dan saat itu terjadi, lampu di langit-langit menyala di ruang pengadilan. Kegelapan belum datang, tetapi matahari sore sudah meninggalkan jendela. Hakim Taylor segera menertibkan suasana.



"Lalu, apa yang dia lakukan?"



Saksi menelan ludah dengan susah payah. "Dia naik dan mencium pipi saya. Katanya, dia belum pernah mencium lelaki dewasa dan baginya mencium nigger pun tak ada bedanya. Katanya, apa yang dilakukan papanya padanya tidak masuk hitungan.



Katanya, "Balas ciumanku, nigger." Kataku, "Miss Mayella, biarkan saya keluar," dan mencoba lari, tetapi dia membelakangi pintu dan aku harus mendorongnya. Saya tak ingin menyakitinya, Mr. Finch, dan saya berkata, "biarkan saya lewat," tetapi waktu saya mengatakan itu, Mr. Ewell di sana berteriak lewat jendela."



"Apa yang dikatakannya?"



Tom Robinson menelan ludah lagi, dan matanya melebar. "Sesuatu yang tak pantas dikatakan"tak pantas didengar anak- anak di sini""



"Apa yang dikatakannya, Tom? Anda harus bercerita pada juri apa yang dikatakannya."



Tom Robinson memejamkan matanya rapat-rapat. "Katanya, "Dasar pelacur, kubunuh kau.""



"Lalu, apa yang terjadi?"



"Mr. Finch, saya kabur secepat mungkin, saya tak tahu apa yang



terjadi."



"Tom, apakah Anda memerkosa Mayella Ewell?"



"Tidak, Sir."



"Apakah Anda menyakitinya dengan cara apa pun?" "Tidak, Sir."



"Apakah Anda menolak cumbuannya?"



"Mr. Finch, saya mencoba. Saya mencoba sebisa mungkin tanpa menyakitinya. Saya tak ingin menyakitinya, saya tak ingin men- dorongnya atau apa pun."



Tahu-tahu terpikir olehku bahwa dengan caranya sendiri, tata krama Tom Robinson sama baiknya dengan Atticus. Sampai ayahku menjelaskan kepadaku setelah itu, aku tidak mengerti kepelikan masalah Tom: dia tak mungkin berani memukul seorang perempuan berkulit putih dalam keadaan apa pun dan berharap bisa berumur panjang, jadi dia mengambil kesempatan pertama untuk kabur" yang bisa disimpulkan orang lain sebagai tanda pasti orang yang bersalah.



"Tom, kembali lagi ke Mr. Ewell," kata Atticus. "Apakah dia mengatakan sesuatu pada Anda?"



"Tidak ada, Sir. Mungkin saja dia mengatakan sesuatu, tetapi saya tidak lagi ada di sana""



"Cukup," sela Atticus tajam. "Apa yang Anda dengar, siapa yang dia ajak bicara?"



"Mr. Finch, dia berbicara dan memandang Miss Mayella." "Lalu, Anda lari?"



"Itulah yang saya lakukan, Sir."




"Saya takut, Sir."



"Mengapa Anda takut?"



"Mr. Finch, kalau Anda seorang nigger sepertiku, Anda pasti



takut juga."



Atticus duduk. Mr. Gilmer sedang berjalan ke kursi saksi, tetapi sebelum sampai, Mr. Link Deas bangkit dari deretan penonton dan



mengumumkan:



"Aku hanya ingin kalian semua tahu satu hal sekarang juga. Bahwa anak itu sudah bekerja padaku selama delapan tahun dan aku tak pernah mendapat setitik pun masalah darinya. Tidak setitik



pun."



"Diam!" Hakim Taylor terjaga penuh dan menggeram. Wajahnya bersemburat merah muda. Ajaibnya, ucapannya tidak terganggu oleh cerutunya. "Link Deas," bentaknya, "kalau Anda ingin mengatakan sesuatu, Anda bisa mengatakannya di bawah sumpah dan pada saat yang tepat, tetapi sampai saat itu, Anda keluar dari ruangan ini, dengar? Keluar dari ruangan ini, Sir, dengar? Celaka kalau saya harus mendengar ulang catatan kasus ini lagi!"



Hakim Taylor menatap tajam kepada Atticus, seolah-olah menantangnya untuk berbicara, tetapi Atticus menundukkan kepala dan tertawa sendiri. Aku teringat sesuatu yang pernah dikatakannya tentang komentar resmi Hakim Taylor yang kadang melebihi tugasnya, tetapi hanya sedikit pengacara yang mau menyikapinya. Aku menoleh kepada Jem, tetapi Jem menggeleng. "Toh, yang bangkit dan berbicara bukan salah seorang anggota juri," katanya. "Kalau keadaannya begitu, kurasa baru berbeda. Mr. Link hanya mengganggu ketertiban atau sebangsanya."



Hakim Taylor menyuruh notulis menghapus segala sesuatu yang sudah dituliskan setelah "Mr. Finch, kalau Anda seorang nigger sepertiku, Anda pasti takut juga!" dan menyuruh juri mengabaikan gangguan tadi. Dia memandang dengan curiga ke deretan tengah bangku penonton dan menunggu, kukira, Mr. Link Deas benar- benar keluar. Lalu, dia berkata, "Silakan, Mr. Gilmer."



"Anda pernah dihukum tiga puluh hari karena mengganggu ketertiban umum, Robinson?" tanya Mr. Gilmer.



"Ya, Sir."



"Seperti apa penampilan nigger itu ketika Anda selesai meng-



hajarnya?"



"Dia mengalahkan saya, Mr. Gilmer."



"Ya, tetapi Anda terbukti bersalah, bukan?"



Atticus mengangkat kepalanya. "Hanya tuntutan ringan, dan sudah ada di catatan, Pak Hakim." Kurasa dia kedengaran lelah.



"Biarkan saksi menjawab," kata Hakim Taylor, sama lelahnya. "Ya, Sir, tiga puluh hari."



Aku tahu bahwa Mr. Gilmer akan dengan tulus berkata kepada juri bahwa orang yang terbukti bersalah mengganggu ketertiban umum akan dengan mudah tega menodai Mayella Ewell, itulah satu-satunya alasan yang diperlukannya. Alasan seperti itu bisa membantu.



"Robinson, Anda pandai memotong lemari dan kayu bakar dengan satu tangan, bukan?"



"Benar, Sir."



"Cukup kuat untuk mencekik perempuan dan membantingnya ke lantai?"



"Saya tak pernah melakukannya, Sir."



"Tapi Anda cukup kuat untuk melakukannya?"



"Saya kira ya, Sir."



"Anda sudah lama mengincarnya, bukankah begitu, Boy?" "Tidak, Sir, saya tak pernah memandangnya."



"Jadi, Anda baik sekali mengerjakan semua pekerjaan memotong dan menimba buatnya, begitu kan, Boy?"



"Saya hanya mencoba membantunya, Sir."



"Baik hati sekali Anda, Anda punya pekerjaan di rumah setelah pekerjaan rutin Anda, bukan?"



"Ya, Sir."

__ADS_1



"Mengapa Anda tidak mengerjakan yang itu alih-alih membantu



Mayella Ewell?"



"Saya mengerjakan keduanya, Sir."



"Anda tentu sibuk sekali. Mengapa?"



"Mengapa apa, Sir?"



"Mengapa Anda bersemangat sekali mengerjakan pekerjaan



perempuan itu?"



Tom Robinson ragu, mencari jawaban. "Kelihatannya tak seorang pun membantu dia, seperti saya bilang""



"Dengan Mr. Ewell dan tujuh anak di tempat itu, Boy?"



"Yah, saya bilang, kelihatannya mereka tak pernah mem- bantunya""



"Anda memotong kayu bakar untuknya, dan Anda me- ngerjakannya murni dari kebaikan hatimu, Boy?"



"Mencoba membantunya, saya bilang."



Mr. Gilmer tersenyum suram kepada juri. "Anda orang yang baik sekali, rupanya"melakukan semua ini tidak untuk satu sen pun?"



"Ya, Sir. Saya kasihan sekali padanya, dia tampaknya bekerja lebih keras daripada yang lain""



"Anda merasa kasihan pada dia, Anda merasa kasihan padanya?" Mr. Gilmer tampaknya siap terbang ke langit-langit.



Saksi menyadari kekeliruannya dan bergerak gelisah di kursi. Tetapi, kerusakan sudah terjadi. Di bawah kami, tak ada yang menyukai jawaban Tom Robinson. Mr. Gilmer berhenti cukup lama agar perkataan itu tertanam.



"Nah, Anda melewati rumah itu seperti biasa, tanggal dua puluh satu November yang lalu," katanya, "dan dia meminta Anda masuk dan membelah lemari?"



"Tidak, Sir."



"Anda menyangkal bahwa Anda melewati rumahnya?"



"Tidak, Sir"dia bilang dia punya pekerjaan untuk saya di dalam



rumah""



"Menurutnya, dia memintamu membelah lemari, benar?" "Tidak, Sir, tidak benar."



"Lalu, maksudmu, dia berbohong, Boy?"



Atticus berdiri, tetapi Tom Robinson tidak memerlukannya. "Saya tidak mengatakan dia berbohong, Mr. Gilmer, saya bilang dia salah



ingat."



Sepuluh pertanyaan berikutnya, sementara Mr. Gilmer meng-



ulang versi kejadian Mayella, saksi tetap bersikeras bahwa Mayella keliru.



"Bukankah Mr. Ewell mengusirmu dari tempat itu, Boy?" "Tidak, Sir, rasanya tidak."



"Rasanya, maksudmu bagaimana?"



"Maksudku, saya tidak tinggal cukup lama hingga dia mengusir saya."



"Anda sangat jujur tentang hal ini, mengapa Anda kabur secepat itu?"



"Saya bilang, saya takut, Sir."



"Kalau nuranimu bersih, mengapa Anda takut?"



"Seperti yang saya bilang sebelumnya, nigger mana pun tidak akan aman berada dalam"situasi bermasalah seperti itu."



"Tetapi, Anda kan tidak berada dalam situasi bermasalah" Anda bersaksi bahwa Anda menolak Miss Ewell. Apakah Anda takut bahwa dia akan menyakiti Anda, sehingga Anda lari, makhluk ber- badan besar seperti Anda?"



"Tidak, Sir, saya takut akan dibawa ke pengadilan seperti sekarang."



"Takut ditangkap, takut harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu?"



"Tidak, Sir, takut harus mempertanggungjawabkan sesuatu



yang tidak saya perbuat."



"Anda menghinaku, Boy?"



"Tidak, Sir, saya tidak bermaksud demikian."



Hanya sampai di sini aku mendengar pemeriksaan Mr. Gilmer karena Jem menyuruhku mengajak Dill keluar. Entah mengapa, Dill mulai menangis dan tak bisa berhenti; mulanya tanpa suara, lalu isakannya terdengar oleh beberapa orang di balkon. Kata Jem, jika aku tidak pergi bersamanya, dia akan memaksaku, dan Pendeta Sykes berkata aku sebaiknya pergi, jadi aku pergi. Dill tampaknya



baik-baik saja hari itu, tak ada yang salah, tetapi rupanya dia belum pulih sepenuhnya akibat kabur dari rumah.



"Kamu merasa tak enak?" tanyaku, ketika kami sampai di dasar tangga.



Dill mencoba menenangkan diri selagi kami menuruni tangga selatan. Mr. Link Deas berdiri sendirian di tangga teratas. "Ada yang terjadi, Scout?" tanyanya ketika kami lewat. "Tidak, Sir," jawabku sambil menoleh. "Dill ini, dia sakit."



"Ayo kita keluar, berteduh di bawah pohon," kataku. "Sepertinya kamu kepanasan." Kami memilih pohon ek terbesar dan duduk di bawahnya.



"Dia, yang membuatku tak tahan," katanya.



"Siapa, Tom?"



"Mr. Gilmer tua itu memperlakukannya seperti itu, berbicara jahat begitu padanya""



"Dill, itu tugasnya. Nah, kalau tidak ada jaksa penuntut"ya, kita tidak akan membutuhkan pengacara pembela, kukira."



Dill mengembuskan napas dengan sabar. "Aku tahu semua itu, Scout. Cara dia berbicara yang membuatku mual, benar-benar mual."



"Dia memang semestinya bersikap seperti itu, Dill, dia sedang memeriksa""



"Dia tidak seperti itu ketika""



"Dill, mereka kan saksi dari pihaknya."



"Tapi Mr. Finch tidak bersikap seperti itu kepada Mayella dan Ewell ketika dia memeriksa mereka. Cara lelaki itu selalu me- manggilnya "boy" dan menyeringai padanya, dan menoleh ke juri setiap kali dia menjawab""



"Dill, dia kan memang cuma seorang Negro."



"Aku tak peduli sedikit pun. Yang begini ini tidak benar, pokoknya tidak boleh memperlakukan mereka seperti itu. Tak ada orang yang berhak berbicara seperti itu"pokoknya membuatku



mual."



"Itu cuma gaya Mr. Gilmer, Dill, dia memperlakukan semua saksi seperti itu. Kau belum pernah melihatnya benar-benar galak. Wah, sewaktu"bagiku hari ini Mr. Gilmer seperti mencoba setengah hati. Mereka semua memperlakukan saksi seperti itu, sebagian besar pengacara, maksudku."



"Mr. Finch tidak begitu."



"Dia bukan contoh yang bagus, Dill, dia"" Aku mencoba mencari dalam ingatanku, mencari frasa tajam khas Miss Maudie Atkinson. Aku mendapatkannya, "Dia tetap sama, baik di ruang pengadilan maupun di jalan umum."



"Bukan itu maksudku," kata Dill.



"Aku tahu maksudmu, Nak," kata sebuah suara di belakang kami. Kami menyangka suara itu berasal dari batang pohon, tetapi ternyata dari Mr. Dolphus Raymond. Dia melongok dari balik batang kepada kami. "Kamu bukan terlalu sensitif, hal-hal seperti itu



memang membuatmu mual, kan?"

__ADS_1




__ADS_2