To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird
Episode 23


__ADS_3

Bab23



"Andai saja Bob Ewell tidak mengunyah tembakau," hanya itu



yang dikatakan Atticus.



Namun, menurut Miss Stephanie Crawford, Atticus sedang keluar dari kantor pos ketika Mr. Ewell menghampirinya, mema- kinya, meludahinya, dan mengancam akan membunuhnya. Miss Stephanie"yang, sejauh ini telah memberi tahu kami untuk kedua kalinya bahwa dia ada di sana dan melihat semuanya, lewat



sepulang dari Jitney Jungle"berkata bahwa Atticus tidak berkedip, hanya mengeluarkan saputangan dan mengusap wajahnya dan berdiri membiarkan Mr. Ewell memakinya dengan sebutan yang tak bisa diulanginya meskipun disiksa kuda liar. Mr. Ewell adalah veteran entah perang yang mana; itu, ditambah reaksi damai Atticus, mungkin mendorongnya bertanya, "terlalu sombong untuk berkelahi, keparat pencinta-nigger?" kata Miss Stephanie, Atticus berkata, "tidak, sudah terlalu tua," memasukkan tangan ke saku dan melanjutkan berjalan. Kata Miss Stephanie, kita harus memuji



Atticus Finch, dia tak berperasaan sekali kadang-kadang. Aku dan Jem tidak merasa berita itu menghibur.



"Eh, tapi," kataku, "dia pernah jadi penembak terjitu di county. Dia bisa""



"Kau tahu dia tak akan membawa pistol, Scout. Punya pun tidak"" kata Jem. "Kau tahu dia bahkan tidak membawa pistol waktu di penjara malam itu. Dia bilang, punya pistol adalah un- dangan bagi orang lain untuk menembakmu."



"Ini beda," kataku. "Kita bisa memintanya meminjam."



Kami mengusulkan hal itu padanya dan dia berkata, "Omong kosong."



Dill berpendapat bahwa permohonan yang menyentuh hati Atticus mungkin berhasil: lagi pula, kami akan kelaparan jika Mr. Ewell membunuhnya, selain dibesarkan semata-mata oleh Bibi Alexandra, dan kami semua tahu hal pertama yang akan dilakukan Bibi Alexandra sebelum Atticus dikubur adalah memecat Calpurnia. Kata Jem, upaya kami akan berhasil kalau aku menangis dan mengamuk karena aku masih kecil dan anak perempuan. Itu juga tidak berhasil.



Tetapi, ketika melihat kami luntang-lantung di sekitar lingkungan kami, tidak mau makan, tidak berminat pada kegiatan kami yang biasa, Atticus menyadari betapa kami sangat ketakutan.



Dia menggoda Jem dengan majalah football baru suatu malam; ketika dia melihat Jem membalik-balik halaman dan melemparnya ke samping, dia berkata, "Apa yang mengganggu pikiranmu,



Nak?"



Jem langsung mengatakannya, "Mr. Ewell."



"Apa yang terjadi?"



"Tidak ada. Kami merasa takut untukmu dan menurut kami, kau mesti melakukan sesuatu tentang hal ini."



Atticus tersenyum getir. "Melakukan apa? Membuatkan pe-



rintah-berdamai?"



"Kalau seseorang bilang dia akan membunuhmu, sepertinya dia sungguh-sungguh."



"Dia sungguh-sungguh sewaktu mengucapkannya," kata Atticus. "Jem, coba bayangkan berada pada posisi Bob Ewell sebentar. Aku menghancurkan serpih terakhir kredibilitasnya pada pengadilan itu, kalau memang sebelumnya dia masih punya. Dia harus membalas; orang seperti dia selalu begitu. Jadi, jika meludahi wajahku dan mengancamku bisa menyelamatkan Mayella Ewell dari pemukulan lagi, itu sesuatu yang kuterima dengan senang hati. Dia harus melampiaskannya pada seseorang, dan aku lebih suka dia melampiaskannya padaku daripada anak-anaknya. Kau me- ngerti?"



Jem mengangguk.



Bibi Alexandra memasuki ruangan ketika Atticus sedang berkata, "Kita tak perlu takut pada Bob Ewell, dia sudah melam- piaskannya pagi ini."



"Aku tak akan terlalu yakin soal itu, Atticus," katanya. "Orang seperti dia akan melakukan apa pun untuk membalas dendam. Kau tahu mereka seperti apa."



"Apa yang bisa dilakukan Ewell padaku, Dik?"



"Melakukan sesuatu dengan diam-diam," kata Bibi Alexandra.



"Kau boleh yakin itu."



"Tak ada orang yang punya kesempatan untuk bertingkah dengan diam-diam di Maycomb," jawab Atticus.



Setelah itu, kami tidak takut lagi. Musim panas mulai berakhir, dan kami memanfaatkannya. Atticus meyakinkan kami bahwa tak ada yang akan terjadi pada Tom Robinson sampai pengadilan yang lebih tinggi menelaah kasusnya, dan bahwa Tom punya kesempatan bagus untuk dibebaskan, atau setidaknya kembali mendapat pengadilan. Dia berada di Penjara Enfield di Chester County, tujuh



puluh mil dari sini. Aku bertanya kepada Atticus apakah istri dan anak-anak Tom dibolehkan menjenguknya, tetapi Atticus bilang tidak.



"Kalau dia kalah banding," tanyaku suatu malam, "apa yang akan terjadi padanya?"



"Dia akan dihukum mati," kata Atticus, "kecuali Gubernur memberikan grasi. Belum waktunya cemas, Scout. Kita punya kesempatan bagus."



Jem tergolek di sofa sambil membaca Popular Mechanics. Dia mengangkat kepala. "Ini tidak benar. Dia tidak membunuh siapa- siapa meskipun dia bersalah. Dia tidak mengambil nyawa orang lain."



"Kau tahu perkosaan adalah pelanggaran yang bisa dijatuhi hukuman mati di Alabama," kata Atticus.



"Ya, Sir, tetapi juri tidak perlu memberinya hukuman mati" kalau mereka mau, beri saja dia dua puluh tahun."



"Begitu, ya," kata Atticus. "Tom Robinson berkulit hitam, Jem. Tak ada juri di bagian dunia ini akan berkata, "Menurut kami, Anda bersalah, tapi tidak sungguh-sungguh bersalah," untuk tuntutan seperti itu. Vonisnya harus tidak bersalah atau bersalah."



Jem menggeleng. "Aku tahu ini tidak benar, tetapi aku tak bisa mengerti apa yang salah"mungkin perkosaan jangan jadi pelang- garan yang diancam hukuman mati "."



Atticus menjatuhkan korannya di samping kursi. Dia berkata, dia tak punya keberatan sama sekali tentang hukum perkosaan, sama sekali tidak, tetapi dia sangat cemas ketika negara meminta dan juri memberikan hukuman mati berdasarkan bukti tak langsung. Dia melirikku, melihat aku mendengar, dan memperjelasnya. ""maksudku, sebelum seseorang dihukum mati untuk pembunuhan, misalnya, harus ada satu atau dua saksi mata. Seseorang harus bisa berkata, "Ya, aku hadir dan melihatnya menembak.""



"Tetapi banyak orang yang tewas di tiang gantungan"digan-



tung berdasarkan bukti tak langsung," kata Jem.



"Aku tahu, dan sebagian besar mungkin pantas menerima- nya"tetapi tanpa saksi mata, selalu ada keraguan, kadang-kadang hanya bayangan keraguan. Dalam hukum terdapat istilah "bisa disangkal", tetapi menurutku seorang terdakwa berhak mendapat bayangan keraguan. Selalu ada kemungkinan, semustahil apa pun, bahwa dia tak bersalah."



"Semua kembali pada juri, kalau begitu. Juri mestinya di- singkirkan saja." Jem bersikeras.



Atticus berusaha keras untuk tidak tersenyum, tetapi dia gagal. "Kau keras sekali kepada kami, Nak. Kurasa mungkin ada jalan yang lebih baik. Mengubah hukum. Mengubahnya supaya hanya hakim yang punya kekuasaan menetapkan hukuman dalam kasus dengan ancaman hukuman mati."



"Jadi, pergi saja ke Montgomery dan ubah hukumnya."



"Kau akan terkejut kalau melihat bagaimana sulitnya. Aku tak akan hidup cukup lama hingga hukum berubah, dan jika kau masih hidup saat melihatnya, kau pasti sudah tua."



Ini tidak cukup bagi Jem. "Tidak, Sir, juri seharusnya di- singkirkan saja. Dia sejak awal tidak bersalah dan mereka bilang dia bersalah."



"Andai kau menjadi anggota dewan juri itu, Nak, dan sebelas anak lain sepertimu, Tom tentu sudah bebas," kata Atticus. "Sejauh



ini tak ada hal dalam hidupmu yang mengganggu proses nalarmu. Juri yang mengadili Tom terdiri dari dua belas lelaki yang rasional dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kau melihat ada sesuatu di antara diri mereka dan nalar. Kau melihat hal yang sama pada malam itu di depan penjara. Ketika kawanan itu pergi, mereka tidak pergi sebagai orang yang rasional, mereka pergi karena kita ada di sana. Ada sesuatu di dunia kita yang membuat orang kehilangan akal"mereka tak bisa adil meskipun sudah berusaha. Dalam peng- adilan kita, ketika kesaksian orang kulit putih dipertentangkan



dengan kesaksian orang kulit hitam, orang kulit putih selalu menang. Ini buruk, tetapi inilah fakta kehidupan."



"Tidak berarti itu benar," kata Jem tanpa emosi. Dia memukulkan kepalannya perlahan pada lutut. "Orang tak boleh menjatuhkan vonis bersalah pada seseorang berdasarkan bukti seperti itu"tidak boleh."


__ADS_1


"Kamu tak bisa, tetapi mereka bisa dan mereka baru saja melakukannya. Semakin bertambah usiamu, semakin banyak hal seperti ini kaulihat. Satu-satunya tempat di mana seseorang semestinya mendapatkan keadilan adalah dalam ruang pengadilan, baik kulitnya berwarna apa pun dalam pelangi, tetapi kebencian biasanya terbawa ke dalam petak juri. Semakin kau dewasa, kau akan melihat orang kulit putih menipu orang kulit hitam setiap hari dalam hidupmu, tetapi kau akan kuberi tahu sesuatu dan jangan sampai kau melupakannya"kapan pun seorang kulit putih melakukan itu kepada orang kulit hitam, siapa pun dia, sekaya apa pun dia, atau sebaik apa pun keluarga asalnya, orang kulit putih itu sampah."



Atticus berbicara begitu tenang sehingga kata terakhirnya menggebrak telinga kami. Aku mendongak, dan melihat wajahnya berkobar. "Tak ada yang lebih memuakkan bagiku daripada orang kulit putih bermutu rendah yang memanfaatkan keluguan seorang Negro. Jangan membodohi diri sendiri"semua ini menumpuk dan



suatu hari nanti kita akan menerima balasannya. Kuharap tidak



dalam masa kalian."



Jem menggaruk kepala. Mendadak matanya melebar. "Atticus," katanya, "mengapa orang-orang seperti kita dan Miss Maudie tidak pernah menjadi anggota juri? Kita tak pernah melihat siapa pun dari Maycomb menjadi juri"mereka semua berasal dari hutan."



Atticus bersandar pada kursi goyangnya. Entah mengapa, dia tampak bangga kepada Jem. "Aku bertanya-tanya kapan itu akan terpikir olehmu," katanya. "Ada banyak alasan. Pertama-tama, Miss



Maudie tak bisa menjadi juri karena dia perempuan""



"Maksudmu, perempuan di Alabama tak bisa"?" aku marah.



"Benar. Kukira ini untuk melindungi perempuan kita yang rapuh dari kasus kotor seperti kasus Tom. Lagi pula," Atticus menyeringai, "aku ragu apakah kita pernah bisa merampungkan pengadilan suatu kasus"kaum perempuan akan terus menyela untuk bertanya."



Aku dan Jem tertawa. Miss Maudie sebagai juri akan menge- sankan. Kubayangkan Mrs. Dubose tua dalam kursi rodanya" "Hentikan ketukanmu, John Taylor, aku ingin menanyakan sesuatu pada orang ini." Mungkin leluhur kami adalah orang-orang bijak.



Atticus berkata, "Dengan orang-orang seperti kita"itulah sum- bangsih kita. Kita biasanya mendapatkan juri yang layak kita dapatkan. Warga Maycomb yang gemuk tidak tertarik, sejak awal. Kedua, mereka takut. Lalu, mereka""



"Takut, kenapa?" tanya Jem.



"Yah, bagaimana jika"misalkan, Mr. Link Deas harus memu- tuskan jumlah denda yang diberikan kepada, misalnya, Miss Maudie, kalau Miss Rachel menabraknya dengan mobil. Link tak akan suka kehilangan langganan dari kedua orang itu di tokonya, bukan? Jadi, dia bilang kepada Hakim Taylor dia tak bisa menjadi juri karena tak ada orang yang bisa menjaga toko selagi dia pergi.



Jadi, Hakim Taylor mengizinkannya tidak menjadi juri. Kadang, dia mengizinkannya dengan marah."



"Apa yang membuatnya berpikir, mereka akan berhenti ber- dagang dengannya?" tanyaku.



Jem berkata, "Miss Rachel bisa begitu, Miss Maudie tak akan. Tetapi, pengambilan suara juri itu rahasia, Atticus."



Ayah kami terkekeh. "Perjalananmu masih panjang, Nak. Pengambilan suara juri semestinya rahasia. Menjadi juri memaksa seseorang menetapkan pikiran dan menyatakan pendapatnya



mengenai sesuatu. Orang tak suka berbuat itu. Kadang-kadang, itu tidak menyenangkan."



"Juri Tom jelas menetapkan pikiran dengan terburu-buru," ge- rutu Jem.



Jari Atticus memegang saku-jamnya. "Tidak, mereka tidak terburu-buru," katanya, lebih pada dirinya daripada kepada kami. "Itu satu hal yang membuatku berpikir, baiklah, ini mungkin bayangan permulaan. Juri memerlukan beberapa jam. Hasilnya mungkin vonis yang tak terelakkan, tetapi biasanya mereka hanya perlu beberapa menit. Kali ini"" dia berhenti dan memandang kami. "Kau mungkin ingin tahu bahwa ada satu orang yang perlu dibujuk habis-habisan"mulanya dia mau memberikan vonis sama sekali tak bersalah."



"Siapa?" Jem terkejut.



Mata Atticus berkelip. "Aku tidak boleh mengungkapkannya, tetapi kubilang begini. Dia adalah salah satu teman Old Sarum-mu ...."



"Salah seorang Cunningham?" seru Jem. "Salah satu"aku tak mengenali siapa pun " kau bercanda." Dia menatap Atticus lewat sudut matanya.



"Salah satu kerabatnya. Menurut firasat, aku tidak mencoretnya. Hanya menurut firasat. Bisa saja aku mencoret namanya, tetapi tidak."



"Demi Musa," kata Jem khidmat. "Sesaat mereka mencoba membunuhnya dan sesaat kemudian mereka mencoba mem- bebaskannya " aku tak akan memahami orang-orang itu seumur



hidupku."




mereka, mereka akan mendukungmu sepenuhnya. Atticus berkata, dia punya firasat, tak lebih dari kecurigaan, bahwa mereka me- ninggalkan penjara malam itu dengan rasa hormat yang besar bagi keluarga Finch. Waktu itu juga, katanya, perlu petir dan Cunning- ham lain untuk membuat salah satu dari mereka berubah pikiran. "Kalau kita punya dua di antara mereka di sana, mungkin juri tak akan mencapai suara bulat."



Jem berkata lambat-lambat, "Maksudmu, kau benar-benar menjadikan seseorang yang ingin membunuhmu malam sebelumnya sebagai anggota juri? Bagaimana kau mengambil risiko itu Atticus, bagaimana bisa?"



"Kalau dianalisis, risikonya kecil. Tak ada bedanya antara satu orang yang akan memberikan vonis bersalah dan orang lain yang juga akan memberikan vonis bersalah, bukan? Ada perbedaan kecil terdapat antara orang yang akan memberikan vonis bersalah dan orang yang agak terganggu pikirannya, bukan? Dia satu-satunya ketakpastian dalam seluruh daftar juri."



"Dia apanya Walter Cunningham?" tanyaku.



Atticus bangkit, menggeliat, dan menguap. Sekarang waktu tidur kami memang belum tiba, tetapi kami tahu dia ingin kesempatan membaca korannya. Dia mengambilnya, melipatnya, dan menepuk kepalaku. "Coba kuingat," dia menggumam pada



dirinya. "Dapat. Dia sepupu gandanya Walter Cunningham." "Apa maksudnya?"



"Sepasang perempuan bersaudara menikah dengan sepasang laki-laki bersaudara. Hanya itu yang kubilang"kalian pikirkan sen-



diri."



Aku menyiksa diriku dan memutuskan bahwa jika aku menikahi Jem dan Dill punya adik perempuan yang juga dinikahinya sendiri, anak-anak kami akan menjadi sepupu ganda. "Astaga, Jem," kataku, ketika Atticus sudah pergi, "mereka orang aneh. Bibi mendengar-



nya?"



Bibi Alexandra sedang merajut permadani dan tidak melihat kami, tetapi dia mendengar. Dia duduk di kursinya di samping keranjang jahitan, permadani terbentang di pangkuannya. Mengapa perempuan merajut karpet wol pada malam-malam yang sepanas air mendidih tak pernah jelas bagiku.



"Aku dengar," katanya.



Aku ingat kejadian lama yang mendatangkan bencana ketika aku bergegas membela putra Walter Cunningham. Sekarang, aku senang telah melakukannya. "Begitu sekolah dimulai, aku akan mengajak Walter makan di sini," aku berencana, lupa dengan niat pribadiku untuk memukulinya begitu bertemu lagi dengannya. "Dia juga bisa main ke sini setelah sekolah. Atticus bisa mengantarnya kembali ke Old Sarum. Mungkin dia bisa menginap di sini kadang- kadang, ya Jem?"



"Kita lihat nanti," kata Bibi Alexandra, pernyataan yang kalau keluar darinya selalu berupa ancaman, bukan janji. Kaget, aku ber- paling kepadanya. "Kenapa tidak, Bi? Mereka orang baik-baik."



Dia memandangku melalui bagian atas kacamata menjahit. "Jean Louise, di benakku tak ada keraguan bahwa mereka orang baik-baik. Tetapi, mereka bukan orang seperti kita."



Kata Jem, "Maksudnya, mereka berisik, Scout."



"Berisik bagaimana?"



"Ee, norak. Mereka suka bermain biola dan hal-hal seperti



itu."



"Aku juga suka""



"Jangan konyol, Jean Louise," kata Bibi Alexandra. "Ma- salahnya, kamu bisa menggosok Walter Cunningham sampai berkilap, kamu bisa memakaikan sepatu dan kemeja baru, tetapi dia tak akan pernah menjadi seperti Jem. Lagi pula, ada keturunan mabuk dalam keluarga itu selebar dua kilometer. Perempuan Finch tidak tertarik pada orang semacam itu."



"Bi-bi," kata Jem, "dia belum sembilan tahun."



"Lebih baik dia belajar dari sekarang."



Bibi Alexandra sudah memutuskan. Aku teringat jelas ketika terakhir kali dia menegaskan pendapatnya. Aku tak pernah tahu alasannya. Waktu itu perhatianku terserap pada rencana mengun- jungi rumah Calpurnia"aku ingin tahu, tertarik; aku ingin menjadi "tamu"-nya, melihat cara hidupnya, siapa teman-temannya. Sama saja mustahilnya dengan melihat sisi lain bulan. Kali ini taktiknya berbeda, tetapi tujuan Bibi Alexandra sama. Mungkin untuk inilah dia tinggal bersama kami"untuk membantu kami memilih teman. Aku akan bertahan selama mungkin, "Kalau mereka orang baik- baik, lalu kenapa aku tidak boleh berbaik-baik dengan Walter?"

__ADS_1



"Aku tidak bilang jangan baik-baik padanya. Kamu harus ramah dan sopan padanya, kamu harus sopan kepada siapa pun, Sayang. Tetapi, kamu tak perlu mengajaknya ke rumah."



"Bagaimana kalau dia saudara kita, Bibi?"



"Kenyataannya, dia bukan saudara kita, tetapi andaipun ya, jawabanku tetap sama."



"Bibi," Jem berbicara, "kata Atticus, kita boleh memilih teman, tetapi jelas tak bisa memilih keluarga dan itulah keluarga mereka, baik kita mau mengakuinya atau tidak, dan kita akan kelihatan konyol sekali kalau tak mau mengakui."



"Lagi-lagi ayahmu," kata Bibi Alexandra, "Dan aku masih akan



mengatakan bahwa Jean Louise tidak akan mengundang Walter Cunningham ke rumah ini. Andai dia sepupu ganda orangtuamu pun, dia tetap tak akan diterima di rumah ini kecuali dia datang menemui Atticus untuk urusan bisnis. Nah, titik."



Bibi telah menyimpulkan "Jelas Tidak", tetapi kali ini dia mau memberi alasannya, "Tetapi, aku ingin bermain dengan Walter, Bibi, kenapa tidak boleh."



Dia melepaskan kacamatanya dan menatapku. "Akan kuberi tahu alasannya," katanya. "Karena"dia"itu"sampah, karena itu



kamu tak boleh bermain dengannya. Aku tak membolehkanmu dekat-dekat dengan dia, meniru kebiasaannya, dan belajar entah apa lagi. Sekarang saja kamu sudah cukup jadi masalah bagi ayahmu."



Aku tak tahu apa yang akan kulakukan, tetapi Jem mencegahku. Dia menangkap bahuku, melingkarkan tangannya pada tubuhku, dan memapahku yang menangis marah ke kamarnya. Atticus men- dengar kami dan melongokkan kepalanya lewat pintu. "Baik-baik saja, Sir," kata Jem parau, "tidak ada apa-apa." Atticus pergi.



"Kunyahlah, Scout." Jem merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah permen Tootsie Roll. Perlu waktu beberapa menit untuk menjadikan permen itu menjadi gumpalan yang enak dalam rahangku.



Jem sedang mengatur ulang benda-benda di atas lemarinya. Rambut bagian belakangnya rancung ke atas dan bagian depannya tersisir ke bawah, dan aku bertanya-tanya apakah rambut itu akan pernah kelihatan seperti rambut lelaki dewasa"mungkin kalau dia mencukurnya habis dan menumbuhkannya lagi, rambutnya akan tumbuh rapi. Alisnya semakin tebal, dan kulihat tubuhnya terlihat lebih ramping. Dia semakin tinggi.



Ketika berpaling, dia sepertinya menyangka aku akan menangis lagi karena dia berkata, "Kutunjukkan sesuatu kalau kau janji tidak



bilang siapa-siapa." Aku ingin tahu. Dia membuka kancing kemeja,



menyeringai malu.



"Apa?"



"Kamu tak bisa lihat?"



"Tidak."



"Ini bulu."



"Di mana?"



"Di situ. Di situ itu."



Dia sudah menghiburku, jadi kukatakan bulu itu bagus, tetapi



aku tidak melihat apa-apa. "Bagus sekali, Jem."



"Di ketiakku juga," katanya. "Aku mau mencoba ikut tim football tahun depan. Scout, jangan biarkan Bibi membuatmu marah."



Rasanya baru kemarin dia memberitahuku supaya tidak mem- buat Bibi marah.



"Kau kan tahu dia tidak terbiasa dengan anak perempuan," kata Jem, "setidaknya dengan anak perempuan sepertimu. Dia mencoba membuatmu menjadi perempuan baik-baik. Memangnya kau tak bisa belajar menyulam atau sebangsanya?"



"Enak saja. Dia tidak suka padaku, itu intinya, dan aku tak peduli. Dia menyebut Walter Cunningham sampah, itu yang membuatku marah, Jem, bukan tentang aku jadi masalah buat



Atticus. Kami sudah pernah meluruskan itu, aku tanya pada Atticus apakah dia menganggapku masalah dan katanya tidak juga, paling juga masalah yang selalu bisa dibereskannya, dan aku tidak usah cemas sedikit pun bahwa aku mengganggunya. Nah, soal Walter" anak itu bukan sampah, Jem. Dia bukan seperti keluarga Ewell."



Jem menendang sepatunya lepas dan mengayunkan kakinya ke tempat tidur. Dia bersandar pada bantal dan menyalakan lampu baca. "Kau tahu sesuatu, Scout? Aku sudah mengerti sekarang. Aku banyak memikirkannya akhir-akhir ini dan aku mengerti sekarang. Ada empat jenis manusia di dunia. Ada jenis biasa seperti kita dan para tetangga, ada jenis seperti Cunningham di hutan, jenis seperti



Ewell di tempat pembuangan sampah, dan orang Negro."



"Bagaimana dengan orang Cina, dan orang Cajun di Baldwin



County sana?"



"Maksudku di Maycomb County. Masalahnya adalah, jenis manusia seperti kita tidak suka Cunningham, Cunningham tidak suka Ewell, dan Ewell benci dan memandang rendah orang berkulit



hitam."



Aku bilang, kalau memang begitu, mengapa juri Tom, yang berisi orang seperti Cunningham, tidak membebaskan Tom untuk



membuat Ewell marah?



Jem mengabaikan pertanyaanku yang dianggapnya kekanak- kanakkan.



"Kau tahu," katanya, "Aku pernah melihat Atticus mengetukkan kaki ketika mendengar musik biola di radio, dan dia menyukai kaldu lebih daripada orang lain yang pernah kulihat""



"Berarti itu membuat kita sama dengan Cunningham," kataku. "Aku tak mengerti mengapa Bibi""



"Sebentar, aku belum selesai"memang kita sama, tetapi kita tetap beda, entah bagaimana. Atticus pernah bilang, alasan Bibi begitu menonjolkan keluarga adalah karena yang kita miliki hanyalah latar belakang, sedangkan keluarga kita tak punya kekayaan sama sekali."



"Entahlah Jem, aku tak tahu"Atticus pernah bilang padaku bahwa sebagian besar urusan Keluarga Tua ini konyol karena keluarga semua orang di sini sama tuanya dengan keluarga orang lain. Aku tanya, apakah itu termasuk orang kulit hitam dan Orang Inggris, dan dia bilang ya."



"Latar belakang bukan berarti Keluarga Tua," kata Jem. "Kurasa itu berarti seberapa lama keluargamu bisa membaca dan menulis. Scout, aku sudah mempelajarinya matang-matang dan itu satu- satunya alasan yang terpikir olehku. Suatu saat ketika keluarga



Finch masih di Mesir, salah satu dari mereka mungkin belajar hie- roglif dan dia mengajari anaknya," Jem tertawa. "Bayangkan Bibi bangga karena buyutnya bisa menulis dan membaca"perempuan memilih hal-hal lucu untuk dibanggakan."



"Yah, aku senang kakek buyut kita bisa baca-tulis, sebab kalau tidak, siapa yang mengajar Atticus dan saudara-saudaranya, dan kalau Atticus tidak bisa membaca, kau dan aku pasti bermasalah. Rasanya bukan itu yang namanya latar belakang, Jem."



"Jadi, bagaimana kau menjelaskan mengapa keluarga



Cunningham berbeda dengan kita? Mr. Walter hampir tak bisa menuliskan namanya, aku pernah lihat. Kita hanya sudah mahir menulis dan membaca lebih lama daripada mereka."



"Tidak, semua orang harus belajar, tak ada yang lahir sudah tahu membaca. Walter itu sebenarnya pintar, dia hanya kadang- kadang tidak naik kelas karena dia harus membolos dan membantu ayahnya. Tak ada yang salah padanya. Tidak, Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia."



Jem berbalik dan meninju bantalnya. Waktu dia kembali tenang, mendung menggantung di wajahnya. Mood-nya mulai turun dan aku jadi waspada. Alisnya bertaut; bibirnya membentuk garis tipis. Dia membisu sejenak.



"Pikirku juga begitu," akhirnya dia berkata, "ketika aku seusiamu. Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci? Scout, kurasa aku mulai mengerti sesuatu. Kurasa aku mulai mengerti mengapa Boo Radley tinggal tertutup di rumah selama ini " karena dia ingin tinggal di



dalam."

__ADS_1




__ADS_2