
Bab15
Setelah banyak menelepon, banyak memohon atas nama
terdakwa, dan sepucuk surat pemberian maaf yang panjang dari ibunya, diputuskan bahwa Dill boleh tinggal. Kami menikmati bersama sepekan yang damai. Setelah itu, rasanya tak ada apa-apa lagi. Sebuah mimpi buruk mendatangi kami.
Mimpi itu dimulai suatu malam seusai makan. Dill sedang bertamu; Bibi Alexandra duduk di kursinya di pojok, Atticus di
kursinya di dekat jendela; aku dan Jem di lantai, membaca. Pekan itu tenang: Aku mematuhi Bibi; Jem sudah terlalu besar untuk bermain di rumah pohon, tetapi dia mau membantu aku dan Dill membuat tangga tali baru untuk rumah itu; Dill mendapatkan rencana sempurna untuk memaksa Boo Radley keluar tanpa perlu biaya (letakkan sebaris permen lemon dari pintu belakang ke halaman depan, pasti dia akan mengikutinya, seperti semut). Seseorang mengetuk pintu depan, Jem membukanya, dan memberi tahu bahwa tamunya adalah Mr. Heck Tate.
"Ajak dia masuk, Nak," kata Atticus.
"Sudah. Ada beberapa orang di halaman, mereka ingin kau keluar."
Di Maycomb, lelaki dewasa hanya berdiri di halaman depan saat bertamu untuk dua alasan: kematian dan politik. Aku bertanya- tanya, siapa yang meninggal. Aku dan Jem pergi ke pintu depan, tetapi Atticus berseru, "Ayo masuk lagi ke rumah."
Jem menyalakan lampu ruang duduk dan menempelkan hidungnya ke kawat jendela. Bibi Alexandra memprotes. "Cuma sebentar, Bibi. Ayo kita lihat siapa mereka," katanya.
Aku dan Dill melihat melalui jendela lain. Sekerumunan lelaki berdiri mengitari Atticus. Mereka semua tampak berbicara ber-
samaan.
"" memindahkan dia ke penjara county besok." Mr. Tate sedang berkata, "Aku tak mau cari masalah, tetapi aku tak bisa menjamin tak akan ada "."
"Jangan konyol, Heck," kata Atticus. "Ini Maycomb." "" aku hanya bilang, aku agak cemas."
"Heck, kita sudah memperoleh satu penundaan untuk kasus ini. Itu cukup untuk memastikan tak ada yang perlu dibuat cemas. Sekarang hari Sabtu," kata Atticus. "Sidang mungkin hari Senin. Kau
bisa menampungnya semalam, kan? Kurasa tak ada warga Maycomb yang tak suka bahwa aku punya klien, di masa-masa sulit begini." Gumaman lega berhenti ketika Mr. Link Deas berkata, "Tak ada orang di sekitar sini yang mau macam-macam, yang kucemaskan adalah warga Old Sarum " kau tidak bisa meminta"
apa itu, Heck?"
"Perubahan tempat," kata Mr. Tate. "Tapi, yah, sekarang sudah
tak ada gunanya."
Atticus mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar. Aku menoleh
kepada Jem, yang melambaikan tangan agar aku diam.
""lagi pula," kata Atticus, "kau tidak takut pada mereka, kan? "... tahu seperti apa mereka kalau sedang mabuk."
"Mereka biasanya tidak minum-minum pada hari Minggu, hampir sepanjang hari mereka ke gereja "," kata Atticus.
"Tapi ini peristiwa khusus "," seseorang berkata.
Mereka bergumam dan mendengung sampai Bibi berkata, jika Jem tidak menyalakan lampu ruang keluarga, dia akan mem- permalukan keluarga kami. Jem tidak mendengar.
""tak mengerti mengapa kau harus bersinggungan dengan kasus itu," Mr. Link Deas sedang berkata. "Berbuat begini hanya mendatangkan kerugian, Atticus. Maksudku, kau bisa kehilangan semuanya."
"Kau benar-benar berpendapat begitu?"
Pertanyaan ini berbahaya. "Kau benar-benar merasa ingin bergabung bersama mereka, Scout?" Bibi Alexandra berdiri di belakangku. Bam, bam, bam, dan buahku di papan dam pun tersapu bersih. "Kau benar-benar ingin keluar, Nak? Bacalah ini." Jem pun berjuang semalaman membaca pidato-pidato Henry W. Grady.
"Link, klienku bisa dihukum mati, tetapi dia baru akan dihukum setelah kebenaran diungkapkan," Atticus berkata dengan tenang. "Dan kau tahu apa kebenaran itu."
Kembali terdengar gumaman di antara kerumunan itu, semakin mengancam ketika Atticus kembali ke tangga terbawah tangga depan dan para lelaki itu semakin mengepung.
Tiba-tiba Jem berteriak, "Atticus, telepon berdering!"
Para lelaki tersentak dan menyebar; mereka adalah orang-orang yang kami temui setiap hari: pedagang, petani kota; Dr. Reylonds juga ada; juga Mr. Avery.
"Angkatlah, Nak," seru Atticus.
Mereka serentak tertawa melihat kekikukan Jem. Ketika Atticus
menyalakan lampu langit-langit ruang duduk, didapatinya Jem di jendela, pucat pasi, dengan bekas kawat yang sangat kentara pada hidungnya.
"Kenapa pula kalian semua duduk bergelap-gelapan?" tanyanya.
Jem menyaksikannya memungut koran sore dan kembali duduk di kursi. Aku kadang berpikir Atticus menenggelamkan setiap krisis hidupnya di balik Mobile Register, Birmingham News, dan Montgomery Advertiser .
"Mereka memburumu, ya?" Jem menghampirinya. "Mereka ingin memojokkanmu, ya?"
Atticus menurunkan koran dan memandang Jem. "Apa yang baru kau baca?" tanyanya. Lalu, dia berkata lembut, "Tidak, Nak, mereka teman-teman kita."
"Apa mereka bukan"geng?" Jem menatap Atticus melalui sudut matanya.
Atticus mencoba menahan senyum, tetapi tak berhasil. "Tidak, di Maycomb tak ada kelompok yang suka bikin kacau dan omong kosong semacam itu. Aku tak pernah mendengar ada geng di Maycomb."
"Ku Klux pernah memburu orang-orang Katolik."
"Aku juga belum pernah mendengar ada orang Katolik di
Maycomb," kata Atticus, "kau salah mengerti dengan peristiwa lain. Dulu sekali, sekitar 1920, memang ada Klan, tetapi lebih berupa organisasi politik saja. Lagi pula, mereka tak bisa menemukan siapa pun untuk ditakut-takuti. Mereka pernah mondar-mandir di depan Mr. Sam Levy suatu malam, tetapi Sam hanya berdiri di terasnya dan mengatakan uniknya jalan hidup ini; dialah yang menjual seprai yang mereka buat sebagai jubah dan topeng. Karena Sam membuat mereka malu, mereka pun pergi."
Keluarga Levy memenuhi semua kriteria menjadi Orang Baik-
Baik: mereka melakukan yang terbaik dengan pengetahuan yang mereka punyai, dan sudah lima generasi dari keluarga mereka tinggal di petak tanah yang sama di Maycomb.
"Ku Klux Klan sudah lenyap," kata Atticus. "Tak akan kembali lagi."
Aku berjalan pulang bersama Dill dan kembali tepat untuk mendengar Atticus berkata kepada Bibi, "" setuju saja dengan keperempuanan Selatan seperti orang lain, tetapi bukan untuk melestarikan fiksi sopan dengan mengorbankan nyawa manusia," ucapan yang membuatku curiga mereka baru bertengkar lagi.
Aku mencari Jem dan menemukannya di kamarnya, di tempat tidur, berpikir serius. "Mereka bertengkar lagi?" tanyaku.
"Bisa jadi. Bibi terus merecokinya tentang Tom Robinson. Dia hampir berkata bahwa Atticus mempermalukan keluarga. Scout " aku takut."
"Takut apa?"
"Takut karena Atticus. Kalau-kalau ada yang menyakitinya." Jem lebih suka bersikap misterius; pertanyaan-pertanyaanku hanya ditanggapi dengan, pergilah dan jangan ganggu aku.
Besoknya adalah hari Minggu. Dalam jeda antara Sekolah Minggu dan Ritual Gereja ketika jemaat meluruskan kaki, kulihat Atticus berdiri di halaman dengan kerumunan lelaki lain. Mr. Heck Tate hadir, dan aku bertanya-tanya apakah dia sudah bertobat. Dia
tak pernah ke gereja. Mr. Underwood pun hadir. Mr. Underwood tak menyukai organisasi apa pun kecuali Maycomb Tribune; dia adalah pemilik tunggal, editor, dan pencetaknya. Hari-harinya dilewatkan di mesin linotipe, dan dia menyegarkan diri sesekali dari poci anggur ceri yang selalu menemaninya. Dia jarang mengum- pulkan berita; orang-oranglah yang membawakan berita kepadanya. Katanya, dia menyusun setiap edisi Maycomb Tribune di kepalanya dan menuliskannya pada linotipe. Ini bisa dipercaya. Pasti ada sesuatu yang istimewa sehingga bisa memancing Mr. Underwood
keluar.
__ADS_1
Aku mencegat Atticus yang melewati pintu masuk, dan dia berkata bahwa Tom Robinson sudah dipindahkan ke penjara Maycomb. Dia juga berkata, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku, bahwa andai saja Tom Robinson ditahan di situ sejak awal, tak akan ada keributan. Aku menyaksikannya duduk di baris ketiga dari depan, dan mendengar dia bernyanyi menggemuruh, "Lebih Dekat Kepadamu, Tuhan," beberapa nada di belakang kami semua. Dia tak pernah duduk bersama Bibi, Jem, dan aku. Dia senang sendirian di gereja.
Kedamaian semu yang menyelimuti kami pada hari Minggu menjadi lebih menjengkelkan dengan kehadiran Bibi Alexandra.
Atticus langsung pergi ke kantornya setelah makan siang; saat kami kadang-kadang menjenguknya, kami akan mendapatinya duduk di kursi putar, membaca. Bibi Alexandra menyiapkan diri untuk tidur siang selama dua jam dan mengancam kami kalau ribut di halaman, para tetangga sedang beristirahat, katanya. Jem yang sudah beranjak tua lebih senang di kamarnya dengan setumpuk majalah football. Jadi, aku dan Dill melewatkan setiap hari Minggu merayap di Deer"s Pasture"Padang Rusa.
Menembak dilarang pada hari Minggu. Jadi, aku dan Dill menendang-nendang bola football milik Jem di hamparan rumput beberapa lama, tetapi dengan cepat kami merasa bosan. Dill bertanya
apakah aku ingin mengganggu Boo Radley. Kataku, tidak baik mengganggunya, dan aku melewatkan sisa sore itu bercerita kepada Dill tentang peristiwa musim dingin lalu. Dia sangat terkesan.
Kami berpisah pada waktu makan malam, dan setelah makan, aku dan Jem mulai tenggelam dalam kegiatan rutin malam hari, ketika Atticus melakukan sesuatu yang menarik perhatian kami: dia masuk ke ruang duduk sambil membawa kabel listrik tambah- an yang panjang. Di ujungnya terdapat bola lampu.
"Aku mau keluar dulu," katanya. "Kalian pasti sudah tidur kalau
aku kembali, jadi kuucapkan selamat malam sekarang."
Sembari berkata, dia memakai topi dan keluar lewat pintu belakang. "Dia membawa mobil," kata Jem.
Ayah kami memiliki beberapa sifat unik: salah satunya, dia tak pernah makan makanan penutup; yang lain, dia senang berjalan kaki. Sejauh yang kuingat, selalu ada Chevrolet dalam kondisi bagus di garasi, dan Atticus menggunakannya untuk bepergian sejauh ber- kilo-kilometer dalam rangka perjalanan bisnis, tetapi di Maycomb dia berjalan kaki ke dan dari kantornya empat kali sehari, total menempuh sekitar tiga kilometer. Katanya, satu-satunya olahraganya adalah berjalan. Di Maycomb, jika orang berjalan tanpa tujuan pasti di benaknya, bolehlah diyakini bahwa benaknya tak mampu memiliki tujuan pasti.
Kemudian, aku mengucapkan selamat malam kepada Bibi Alexandra dan Jem, dan sudah lama membaca buku ketika kudengar Jem ribut-ribut di kamarnya. Suaranya saat beritual menjelang tidur sudah begitu akrab bagiku sehingga aku mengetuk pintunya, "Kenapa kau tidak tidur?"
"Aku mau ke kota sebentar." Dia sedang mengganti celana.
"Kenapa? Ini hampir jam sepuluh, Jem."
Dia tahu, tetapi tetap mau pergi.
"Kalau begitu, aku ikut. Walau kau bilang tidak boleh, aku tetap ikut, jelas?"
Rupanya Jem beranggapan bahwa dia harus berkelahi denganku untuk menahanku di rumah, dan kukira dia berpikir bahwa perkelahian akan membuat Bibi marah, jadi dia menyerah dengan
enggan.
Aku berpakaian dengan cepat. Kami menunggu sampai lampu Bibi padam, dan kami menuruni tangga belakang diam-diam. Tak ada bulan malam ini.
"Dill pasti ingin ikut," bisikku.
"Ya sudah, ajak saja," kata Jem geram.
Kami melompati dinding garasi, melintasi halaman samping Miss Rachel, dan mendekati jendela Dill. Jem menyiulkan kicau burung puyuh. Wajah Dill muncul di jendela, menghilang, dan lima menit kemudian membuka kunci jendela kawat dan merangkak keluar. Dasar sudah berpengalaman, dia baru berbicara setelah kami di trotoar. "Ada apa?"
"Rasa ingin tahu Jem lagi kambuh," penyakit yang menurut Calpurnia menjangkiti semua anak lelaki pada usianya.
"Aku hanya punya firasat," kata Jem, "hanya firasat."
Kami melewati rumah Mrs. Dubose, kosong dan terbengkalai, kamelianya tumbuh di antara ilalang dan alang-alang. Ada delapan rumah lagi sampai ke tikungan kantor pos.
Sisi selatan alun-alun sepi. Semak raksasa memenuhi setiap pojok, dan di antaranya pagar besi berkilau di bawah lampu jalan. Sebuah lampu memancarkan cahaya di toilet umum, tetapi selain itu, sisi gedung pengadilan itu gelap. Blok-blok lebih besar yang diisi berbagai toko mengelilingi blok gedung pengadilan; cahaya remang menyala dari dalam.
Saat memulai praktik hukumnya, kantor Atticus terletak di gedung pengadilan. Tetapi, setelah beberapa tahun, dia pindah ke
kantor yang lebih tenang di gedung Bank Maycomb. Ketika kami mengitari tikungan alun-alun, kami melihat mobil Atticus diparkir di depan bank. "Dia ada di dalam," kata Jem.
Jem mengintip lewat pintu bank untuk memastikan. Dia memutar gagang pintu. Pintunya terkunci. "Ayo kita ke ujung jalan.
Mungkin dia mengunjungi Mr. Underwood."
Mr. Underwood tak hanya memimpin kantor Maycomb Tribune, dia juga tinggal di sana. Maksudnya, di atas kantor. Dia meliput berita pengadilan dan penjara hanya dengan menonton dari jendela lantai atasnya. Gedung kantor itu terletak di pojok barat laut alun- alun, dan untuk ke sana, kami harus melewati penjara.
Penjara Maycomb adalah gedung county yang paling tua dan paling jelek. Kata Atticus, bentuknya seperti sesuatu yang didesain Sepupu Joshua St Clair. Gedung itu jelas merupakan impian seseorang. Karena sangat tidak serasi dengan kota yang memiliki toko-toko berwajah persegi dan rumah-rumah beratap curam, penjara Maycomb menjadi miniatur lelucon Gothic selebar satu sel dan setinggi dua sel, lengkap dengan benteng pertahanan kecil dengan per- mukaan bergerigi dan fondasi batu yang tinggi. Kesan gedung khayalannya bertambah dengan tembok depan yang terbuat dari batu bata merah dan jeruji baja tebal pada jendela gerejanya. Bangunan itu tidak berdiri di bukit sepi, melainkan diapit Toko Peralatan Tyndal dan kantor Maycomb Tribune. Penjara ini adalah satu-satunya bahan obrolan Maycomb. Pembencinya berkata gedung itu seperti kakus Victorian; pendukungnya berkata, gedung itu mem- beri kesan yang mantap dan patut dihormati, dan tak ada orang asing yang akan curiga bahwa isinya penuh dengan orang nigger .
Ketika menyusuri trotoar, kami melihat satu-satunya lampu
yang menyala di kejauhan. Aneh, kata Jem, "di luar penjara tak ada
lampu."
"Sepertinya di atas pintu," kata Dill.
Kabel perpanjangan menjuntai di antara jeruji jendela lantai dua dan menuruni sisi gedung. Diterangi cahaya dari satu-satunya bola lampu itu, Atticus sedang duduk bersandar ke pintu depan. Dia duduk di salah satu kursi kantornya, dan dia sedang membaca, tak menyadari serangga malam yang menari-nari di atas kepala.
Aku hendak berlari, tetapi Jem mencegahku. "Jangan ke sana,"
katanya, "dia mungkin tak suka. Dia tak apa-apa, ayo kita pulang. Aku hanya ingin melihat dia ada di mana."
Kami mengambil jalan pintas melintasi alun-alun ketika empat mobil berdebu masuk dari jalan raya Meridian, berbaris lambat. Mereka mengitari alun-alun, melewati gedung bank, dan berhenti di depan penjara.
Tak ada yang keluar. Kami melihat Atticus mengangkat kepala dari korannya. Dia menurunkan koran itu, melipatnya lambat- lambat, menjatuhkannya ke pangkuan, dan mendorong topinya ke belakang kepala. Dia tampaknya telah menduga mereka akan datang.
"Ayo," bisik Jem. Kami berlari melintasi alun-alun, menyeberangi jalan, sampai tiba di bawah naungan pintu Jitney Jungle. Jem meng- intip dari balik toko itu. "Kita bisa lebih dekat," katanya. Kami berlari ke pintu Toko Peralatan Tyndal"cukup dekat, tapi tersembunyi.
Sendiri-sendiri atau berdua-dua, beberapa orang lelaki keluar dari mobil. Bayangan mewujud menjadi sosok-sosok saat cahaya menerangi mereka yang bergerak ke arah pintu penjara. Atticus tetap di tempatnya. Para lelaki itu menyembunyikannya dari pan- dangan.
"Dia di dalam, Mr. Finch?" kata seseorang.
"Ya," kami mendengar Atticus menjawab, "dan sedang tidur.
Jangan dibangunkan."
Untuk mematuhi ayahku, terjadilah sesuatu yang belakangan kuanggap sebagai aspek jenaka yang menyebalkan dalam situasi yang tidak lucu: para lelaki itu berbicara hampir berbisik.
"Kamu tahu apa yang kami inginkan," seseorang yang lain berkata. "Minggir dari pintu itu, Mr. Finch."
"Silakan kalian berbalik dan pulang lagi, Walter," kata Atticus ramah. "Heck Tate ada di sekitar sini."
"Tidak," kata lelaki lain. "Kelompok Heck jauh di dalam hutan,
mereka tak akan keluar sampai pagi."
"Oh ya? Kenapa bisa begitu?"
"Mereka ditelepon karena seseorang mendengar bunyi tem- bakan," jawabnya. "Apa itu tak terpikir olehmu, Mr. Finch?"
"Terpikir, tetapi tadinya tidak percaya. Nah," suara ayahku masih sama, "situasinya jadi berubah, ya?"
__ADS_1
"Jelas," kata suara yang berat. Pemiliknya hanya berupa bayangan.
"Kamu benar-benar berpendapat begitu?"
Ini kali kedua aku mendengar Atticus melontarkan pertanyaan itu dalam dua hari, dan ini berarti seseorang akan diserang. Ini terlalu bagus untuk dilewatkan. Aku memisahkan diri dari Jem dan berlari secepat mungkin mendekati Atticus.
Jem memekik dan mencoba menangkapku, tetapi aku sudah lebih dulu dari dia dan Dill. Aku menyeruak melalui tubuh-tubuh yang gelap dan bau dan masuk ke lingkaran cahaya.
"H-ai, Atticus?"
Kusangka dia akan terkejut, tetapi wajahnya mematikan keceriaanku. Kilasan rasa takut meredup dalam matanya, tetapi muncul kembali ketika Dill dan Jem masuk ke dalam cahaya.
Bau wiski basi dan kandang babi terasa menusuk hidung, dan ketika memandang ke sekeliling, aku menemukan bahwa mereka
semua adalah orang asing. Mereka bukan orang-orang yang kulihat sebelumnya. Rasa malu yang panas menjalari tubuhku: aku telah melompat penuh kemenangan ke dalam lingkaran orang yang belum pernah kutemui.
Atticus bangkit dari kursinya, tetapi dia bergerak lambat, seperti orang tua. Dia meletakkan korannya sangat hati-hati, berlama-lama menyesuaikan lipatannya dengan jari. Jemari itu sedikit gemetar.
"Pulanglah, Jem," katanya. "Bawa Scout dan Dill pulang." Kami terbiasa langsung mematuhi perintah Atticus, meskipun tak
selalu dengan senang hati, tetapi dari cara berdirinya, Jem sepertinya tidak berniat bergerak.
"Kubilang, pulang."
Jem menggeleng. Ketika kepalan Atticus naik ke pinggang, kepalan Jem pun begitu, dan ketika mereka saling menentang, aku dapat melihat sedikit persamaan di antara mereka: mata dan rambut cokelat lembut Jem, wajahnya yang oval dan telinga yang mungil adalah warisan ibu kami, dihadapkan dengan rambut hitam Atticus yang beruban dan garis wajahnya yang persegi, tetapi entah bagaimana, keduanya mirip. Sikap mereka yang saling menentang membuat mereka mirip.
"Nak, aku bilang, pulang."
Jem menggeleng.
"Akankukirimdiapulang," kataseoranglelakitegap,mencengkeram kerah Jem dengan kasar. Dia menarik Jem sampai-sampai kakinya hampir tidak menyentuh tanah.
"Jangan sentuh dia!" Langsung kutendang lelaki itu. Karena aku bertelanjang kaki, aku kaget melihat dia jatuh terjengkang benar- benar kesakitan. Aku berniat menendang tulang keringnya, tetapi mengarah terlalu tinggi.
"Cukup, Scout." Atticus meletakkan tangannya pada bahuku. "Jangan menendang orang. Tidak"" katanya, ketika aku ingin me- minta dukungan.
"Tak boleh ada orang yang memperlakukan Jem seperti itu,"
kataku.
"Baiklah, Mr. Finch, suruh mereka pergi," geram seseorang. "Kaupunya waktu lima belas detik untuk menyuruh mereka pergi."
Di tengah-tengah perkumpulan aneh ini, Atticus berdiri, mencoba membuat Jem mematuhinya. "Aku tidak mau pergi," adalah jawabannya yang kukuh untuk ancaman, permintaan Atticus, dan akhirnya, "Tolong, Jem, bawa mereka pulang."
Aku sudah mulai bosan mendengarnya, tetapi merasa Jem punya alasan sendiri untuk berbuat begitu, kalau mengingat apa yang akan terjadi jika Atticus berhasil menyuruhnya pulang. Aku memandangi kerumunan di sekeliling kami. Malam itu malam musim panas, tetapi sebagian besar dari mereka mengenakan overall dan kemeja denim yang dikancingkan hingga kerah. Kupikir mereka mungkin terbiasa merasa kedinginan karena lengan baju mereka tidak digulung, melainkan dikancingkan pada pergelangan. Sebagian memakai topi yang ditarik hingga menutupi telinga. Wajah-wajah mereka tampak garang, dengan mata mengantuk, seolah-olah mereka tidak terbiasa terjaga hingga larut malam. Aku mencari lagi wajah yang kukenal, dan di tengah kerumunan itu, aku menemukan satu.
"Hai, Mr. Cunningham."
Lelaki itu sepertinya tak mendengar sapaanku.
"Hai, Mr. Cunningham. Bagaimana kabar masalah warisan itu?"
Urusan hukum Mr. Walter Cunningham kuketahui dengan baik; Atticus pernah menjelaskannya panjang lebar. Lelaki bertubuh besar itu mengedipkan mata dan mengaitkan jempolnya pada tali overall . Dia tampak tak nyaman; dia berdeham dan berpaling. Sapaanku yang ramah gagal total.
Mr. Cunningham tidak memakai topi, dan setengah kening
atasnya tampak pucat dibandingkan dengan wajahnya yang terbakar matahari, yang membuatku yakin dia biasanya mengenakan topi. Dia menggeser kakinya yang terbungkus sepatu kerja berat.
"Anda tidak ingat saya, Mr. Cunningham? Saya Jean Louise Finch. Anda pernah membawakan kami kacang hickory, ingat?" Aku mulai merasakan kesia-siaan, seperti yang dirasakan seseorang ketika dilupakan oleh seorang kenalan.
"Saya satu sekolah dengan Walter," aku memulai lagi. "Dia kan anak Anda? Iya kan, Sir?"
Mr. Cunningham tergerak untuk mengangguk sedikit. Rupanya dia mengenaliku juga.
"Dia sekelas dengan saya," kataku, "dan prestasinya bagus. Dia anak baik," tambahku, "baik sekali. Kami pernah mengajaknya pulang makan siang. Mungkin dia pernah cerita tentang saya, saya pernah memukulinya, tetapi dia baik sekali setelahnya. Titip salam buatnya, ya?"
Atticus pernah berkata, mengobrolkan hal-hal yang diminati orang yang kita ajak bicara, bukan tentang apa yang kita minati, adalah hal yang sopan. Mr. Cunningham tidak memperlihatkan minat pada anaknya. Jadi, aku mencoba mengajaknya bicara tentang kasus warisannya sekali lagi sebagai upaya terakhir untuk membuatnya nyaman.
"Sengketa warisan memang bikin pusing," aku menasihatinya, ketika aku perlahan menyadari fakta bahwa aku berbicara kepada semua orang di situ. Mereka semua memandangiku, sebagian mulut mereka setengah terbuka. Atticus sudah berhenti membujuk Jem: mereka sedang berdiri bersama di samping Dill, menatapku seolah- olah aku membuat mereka kagum. Bahkan, mulut Atticus setengah terbuka, suatu sikap yang pernah disebutnya tak beradab. Kami beradu pandang dan dia menutup mulutnya.
"Nah, Atticus, aku baru berkata pada Mr. Cunningham bahwa
sengketa warisan memang bikin pusing, tetapi bukankah menurutmu sebaiknya dia tidak khawatir, kadang-kadang menyelesaikan kasus warisan butuh waktu lama " bahwa kalian akan menghadapinya bersama "." Aku perlahan kehabisan kata-kata, sambil bertanya- tanya kebodohan apa yang sudah kulakukan. Masalah warisan rasanya cukup bagus untuk bahan obrolan ruang duduk.
Aku mulai merasakan keringat berkumpul di tepi rambut; aku bisa menghadapi apa pun, kecuali ditonton oleh banyak orang. Mereka begitu khidmat.
"Ada apa?" tanyaku.
Atticus tidak mengatakan apa-apa. Aku menoleh dan mendongak melihat Mr. Cunningham, yang sama-sama terpana. Lalu, dia melakukan hal yang aneh. Dia berjongkok dan memegang kedua bahuku.
"Akan kusampaikan salammu, gadis kecil," katanya.
Lalu, dia berdiri dan melambaikan tangannya yang besar. "Ayo pergi," serunya. "Kita pergi, teman-teman."
Seperti datangnya, sendirian atau berdua-dua, mereka masuk kembali ke mobil mereka yang bobrok. Pintu dibanting, mesin terbatuk, dan mereka pun pergi.
Aku berpaling kepada Atticus, tetapi Atticus sudah menghampiri penjara dan sedang menempelkan wajahnya ke dinding. Aku menghampirinya dan menarik lengan bajunya. "Kita bisa pulang sekarang?" Dia mengangguk, mengeluarkan saputangan, mengusap wajahnya sekali, dan membersihkan hidungnya kuat-kuat.
"Mr. Finch?"
Suara serak yang lirih datang dari kegelapan di atas, "Mereka sudah pergi?"
Atticus melangkah mundur dan memandang ke atas. "Sudah," katanya. "Tidurlah, Tom. Mereka tak akan mengganggumu lagi."
Dari arah yang lain, sebuah bunyi lain membelah kegelapan malam. "Jelas tidak akan. Sedari tadi aku melindungimu, Atticus."
Mr. Underwood dan moncong senapan berlaras gandanya melongok dari jendela di atas kantor Maycomb Tribune .
Saat itu sudah jauh melewati waktu tidurku dan aku mulai merasa lelah. Tampaknya Atticus dan Mr. Underwood akan mengobrol selama sisa malam; Mr. Underwood dari jendelanya dan Atticus dari jalan. Akhirnya Atticus kembali, mematikan lampu di atas pintu penjara, dan mengambil kursinya.
"Boleh kubawakan, Mr. Finch?" tanya Dill. Sejak tadi dia diam saja.
"Wah, terima kasih, Nak."
Aku dan Dill melangkah bersama di belakang Attius dan Jem menuju kantor Atticus. Dill direpotkan dengan kursi dan langkahnya lebih lambat. Atticus dan Jem jauh di depan kami, dan aku ber- asumsi bahwa Atticus sedang memarahinya karena Jem tak mau pulang, tetapi aku keliru. Ketika mereka melewati lampu jalan, Atticus menjulurkan tangan dan membenamkan tangannya ke rambut Jem, salah satu gerakan yang mencerminkan kasih sayangnya.
__ADS_1