To Kill A Mockingbird

To Kill A Mockingbird
Episode 11


__ADS_3

Bab11



Sewaktu kami kecil, aku dan Jem membatasi kegiatan kami



pada bagian selatan lingkungan kami, tetapi ketika aku sudah lama duduk di kelas dua dan rasa penasaran terhadap Boo Radley menjadi makin basi, daerah bisnis Maycomb lebih memikat kami, membuat kami sering melewati jalan di depan rumah Mrs. Henry Lafayette Dubose. Kami tak mungkin pergi ke kota tanpa melewati rumahnya, kecuali mau memutar sejauh dua kilometer. Pertemuan-



pertemuan kecil dengan Mrs. Dubose sebelum ini membuatku tak ingin bertemu lagi dengannya, tetapi, kata Jem, aku toh, harus tumbuh dewasa juga suatu saat.



Mrs. Dubose tinggal sendirian, hanya ditemani seorang gadis Negro yang selalu melayaninya, dua rumah di sebelah utara rumah kami. Tangga depan rumahnya curam dan rumahnya terdiri dari dua bagian yang disambungkan oleh sebuah ruang tamu. Dia sudah sangat tua; hampir sepanjang hari dia tinggal di tempat tidur dan sisanya dihabiskan di kursi roda. Menurut desas-desus, dia



menyimpan sebuah pistol CSA, tersembunyi di balik tumpukan tebal syal dan baju hangatnya.



Aku dan Jem membencinya. Kalau dia sedang berada di teras ketika kami lewat, dia memelototi kami dengan pandangan murka, melayangkan berbagai pertanyaan tentang perilaku kami dengan bengis, dan memberi kami ramalan melankolis tentang seperti apa jadinya kami setelah dewasa kelak, yaitu bukan siapa-siapa. Kami sudah lama menyingkirkan gagasan melewati rumahnya dengan berjalan di seberang jalan; itu malah membuat dia melantangkan suara sehingga semua tetangga bisa mendengar.



Tak ada yang bisa kami lakukan untuk menyenangkan hatinya. Jika aku berkata seceria mungkin, "Hai, Mrs. Dubose," aku menerima jawaban, "Apa-apaan kamu hai-hai padaku, anak jelek! Seharusnya kamu bilang, selamat sore, Mrs. Dubose!"



Dia kejam. Suatu saat dia mendengar Jem menyebut ayah kami dengan "Atticus", dan dia naik pitam. Selain menyebut kami bocah paling kurang ajar dan tidak sopan yang melewati rumahnya, kami diberi tahu bahwa sayang sekali ayah kami tidak menikah lagi se- telah kematian ibu kami. Tak akan pernah ada perempuan yang lebih baik daripada ibu kami, jadi tak ada gunanya Atticus menunda- nunda, dan sungguh menyedihkan Atticus Finch membiarkan anak- anaknya menjadi liar. Aku tidak ingat ibuku, tetapi Jem ingat"dia kadang bercerita tentangnya padaku"kemarahannya langsung



meledak ketika Mrs. Dubose meneriakkan kata-kata ini.



Jem"setelah menghadapi Boo Radley, anjing gila, dan berbagai hal menyeramkan lainnya"menyimpulkan bahwa berhenti di tangga depan Miss Rachel dan menunggu Atticus adalah tindakan pengecut. Dia menetapkan bahwa kami harus berlari sampai tikungan kantor pos setiap sore untuk menyambut Atticus saat dia pulang bekerja. Tak terhitung lagi berapa kali Atticus mendapati Jem marah gara-gara sesuatu yang diucapkan Mrs. Dubose ketika



kami lewat.



"Tenanglah, Nak," Atticus biasa berkata. "Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Angkatlah kepalamu dan jadilah lelaki terhormat. Apa pun yang dikatakannya kepadamu, tugasmu adalah tidak membiarkan dia membuatmu marah."



Jem mengatakan, penyakit Mrs. Dubose tentu tidak parah kalau bisa berteriak-teriak seperti itu. Ketika kami bertiga mendekati rumahnya, Atticus membuka topi lalu melambai dengan gagah kepadanya dan berkata, "Selamat sore, Mrs. Dubose! Anda kelihatan seperti lukisan sore ini."



Aku tak pernah mendengar Atticus menyebutkan jenis lukisan yang dia maksud. Dia menceritakan hal-hal yang terjadi di gedung pengadilan, dan berkata bahwa dia berharap dengan sepenuh hati



Mrs. Dubose akan mengalami hari yang indah besok. Dia mengem- balikan topi ke kepala, mengangkatku ke bahunya tepat di hadapan Mrs. Dubose, dan kami pulang dalam remang cahaya senja. Pada saat-saat beginilah aku merasa bahwa ayahku, yang membenci senapan dan tak pernah ikut perang, adalah lelaki paling berani yang pernah ada.



Pada sore setelah hari ulang tahun Jem yang kedua belas, dia merasa bahwa uang hadiahnya memberati saku sehingga kami berjalan ke kota lebih awal. Menurut Jem, uangnya cukup untuk membeli lokomotif miniatur untuk dirinya dan tongkat mayoret untukku.



Sudah lama aku menginginkan tongkat itu: dijual di V.J. Elmore, berhiaskan payet dan perada, harganya tujuh belas sen. Waktu itu ambisiku adalah tumbuh besar dan memutar tongkat bersama band SMA Maycomb County. Setelah aku berhasil mengembangkan bakatku sampai bisa melempar tongkat ke atas dan hampir menangkapnya ketika turun, Calpurnia tak mengizinkanku masuk ke rumah setiap kali dia melihat tanganku memegang tongkat. Aku merasa, aku dapat memperbaiki keterampilanku dengan mengguna- kan tongkat mayoret sungguhan, dan menurutku, Jem murah hati



sekali mau membelikannya buatku.



Mrs. Dubose sedang duduk di teras ketika kami lewat.



"Kalian berdua mau ke mana siang hari begini?" serunya. "Kalian membolos, ya? Akan kutelepon kepala sekolah dan kuadukan kalian!" Dia mengendalikan roda kursi dan berbalik dengan sempurna.



"Ah, sekarang kan hari Sabtu, Mrs. Dubose," kata Jem.



"Tak ada bedanya kalaupun hari Sabtu," katanya tak jelas. "Aku ingin tahu, apakah ayah kalian tahu kalian berada di mana?"



"Mrs. Dubose, kami sudah biasa pergi ke kota berdua sejak kami setinggi ini." Kata Jem sambil menunjuk ke pahanya.



"Kalian jangan bohong padaku!" serunya. "Jeremy Finch, Maudie Atkinson memberitahuku bahwa kau merusak tanaman scuppernong-nya pagi ini. Dia akan memberi tahu ayahmu dan kau akan berharap dirimu tidak akan pernah lagi melihat sinar matahari! Kalau minggu depan kamu belum dikirim ke sekolah anak nakal, namaku bukan Dubose!"



Jem, yang belum pernah berada di dekat tanaman scuppernong Miss Maudie sejak musim panas lalu, dan yang tahu bahwa Miss Maudie tak akan memberi tahu Atticus kalaupun dia mendekati tanamannya, segera saja menyangkal.



"Kamu jangan membantah!" teriak Mrs. Dubose. "Dan kamu""



dia menudingkan jarinya yang keriput padaku""buat apa kamu pakai overall begitu? Kamu mestinya memakai rok dan kamisol, Nona Muda! Kalau tak ada yang mengubah perilakumu, kamu akan tumbuh dan berakhir jadi seorang pelayan"seorang Finch menjadi pelayan di O.K. Caf""hah!"



Aku ketakutan. O.K. Caf" adalah kafe remang-remang di sisi utara alun-alun. Aku menyambar tangan Jem, tetapi dia melepas-



kannya.



"Ayo, Scout," bisiknya. "Jangan pedulikan, angkat saja kepalamu



dan jadilah lelaki terhormat."



Tetapi, Mrs. Dubose mencegah kami, "Tak hanya seorang Finch menjadi pelayan, tetapi satu lagi di gedung pengadilan membela nigger!"



Tubuh Jem membeku. Tembakan Mrs. Dubose tepat mengenai sasaran dan perempuan tua itu menyadarinya.



"Iya, memang, mau jadi apa dunia ini kalau seorang Finch pun berani menentang didikan orangtua? Akan kuberi tahu!" Dia memasukkan jarinya ke mulut. Ketika dia menariknya keluar, seuntai air liur panjang keperakan mengikutinya. "Ayahmu tak lebih baik daripada nigger dan sampah yang dibelanya!"



Wajah Jem memerah. Aku menarik-narik lengan bajunya, dan pidato kecaman tentang degenerasi moral keluarga Finch meng- iringi kepergian kami. Premis utamanya adalah bahwa setengah keluarga Finch memang sudah sakit jiwa, tetapi andai ibu kami masih hidup, kami tak akan jatuh ke keadaan seperti ini.



Aku tak yakin bagian mana yang paling menjengkelkan Jem, tetapi aku tersinggung dengan penilaian Mrs. Dubose tentang kesehatan mental keluargaku. Aku sudah hampir terbiasa men- dengar hinaan yang ditujukan pada Atticus, tetapi ini kali pertama- nya hinaan itu berasal dari orang dewasa. Kecuali komentarnya tentang Atticus, kami sudah terbiasa dengan serangan Mrs. Dubose.



Tanda-tanda datangnya musim panas mulai terasa di udara"ber- diri di bawah bayangan terasa sejuk, tetapi matahari terasa hangat, yang berarti masa-masa indah akan tiba: tak ada sekolah dan Dill



akan datang.



Jem membeli lokomotifnya dan kami mampir di Elmore untuk membeli tongkat mayoretku. Jem tidak menikmati acara belanja ini; dia menjejalkan lokomotifnya ke saku dan berjalan pulang di sampingku tanpa berkata-kata. Pada perjalanan pulang, aku hampir menabrak Mr. Link Deas, yang berkata, "Hati-hati, Scout!" ketika



aku gagal menangkap tongkat, dan sewaktu kami menghampiri rumah Mrs. Dubose, tongkatku sudah kotor karena jatuh ke tanah berkali-kali.



Dia tidak sedang berada di teras.



Pada tahun-tahun berikutnya, aku terkadang bertanya-tanya apa tepatnya yang membuat Jem melakukannya, apa yang membuatnya melanggar ikatan "Jadilah lelaki terhormat, Nak" dan fase moralitas sadar-diri yang baru-baru ini dia masuki. Omong kosong tentang Atticus membela nigger yang diterima Jem mungkin sama banyaknya dengan yang kuterima, dan aku percaya bahwa dia bisa menahan amarahnya"sifat alaminya memang pendamai dan tidak gampang marah. Namun, pada saat itu, kupikir satu-satunya penjelasan untuk tindakannya adalah bahwa dia meng- alami kegilaan sementara selama beberapa menit.



Perbuatan Jem adalah sesuatu yang mungkin kulakukan andaikan Atticus tidak melarangku, yang kuasumsikan termasuk tidak bertengkar dengan wanita tua yang mengesalkan. Kami baru saja tiba di gerbangnya ketika Jem merebut tongkatku dan berlari sambil mengayun-ayunkan tangannya dengan liar, naik tangga ke halaman depan Mrs. Dubose, melupakan segala yang dikatakan Atticus, melupakan bahwa Mrs. Dubose menyimpan pistol di balik syalnya, melupakan bahwa andaipun tembakan Mrs. Dubose memeleset, tembakan pelayannya, Jessie, mungkin tidak me- meleset.



Dia baru tenang kembali setelah memotong kuncup-kuncup di setiap semak kamelia Mrs. Dubose, setelah tumpukan kuncup hijau dan daun berserakan di tanah. Dia membengkokkan tongkatku dengan lututnya, mematahkannya jadi dua, dan mencampak-



kannya.



Pada saat itu, aku sudah menjerit-jerit. Jem menjambak rambut- ku, berkata bahwa dia tak peduli, perbuatan itu akan dilakukannya lagi kalau ada kesempatan, dan jika aku tidak tutup mulut, dia akan



mencabut setiap rambut dari kepalaku. Aku tidak tutup mulut dan dia menendangku. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap. Jem menarikku dengan kasar, tetapi tampak menyesal. Tak ada yang bisa dikatakan.



Kami tidak menyambut Atticus pulang sore itu. Kami meng- endap-endap di dapur sampai Calpurnia mengusir kami. Entah bagaimana caranya, Calpurnia sepertinya mengetahui semua kejadian sore itu. Dia memang sumber penghiburan yang kurang memuaskan, tetapi dia memberi Jem biskuit beroleskan mentega panas yang dirobek menjadi dua oleh Jem dan dibagi denganku. Rasanya seperti kapas.



Kami ke ruang tamu. Aku mengambil majalah football, me- nemukan gambar Dixie Howell, menunjukkannya kepada Jem dan berkata, "Dia mirip kamu." Itulah ucapan paling baik hati untuknya yang terpikir olehku, tetapi tak membantu. Dia duduk di jendela, membungkuk di kursi goyang, merengut, menunggu. Cahaya siang memudar.



Beberapa saat, yang terasa bagaikan dua abad geologis, ke- mudian, kami mendengar sol sepatu Atticus menggesek tangga depan. Pintu kawat menutup, ada jeda"Atticus berada di dekat gantungan topi di ruang tamu"dan kami mendengarnya memang- gil, "Jem!" Suaranya seperti angin musim dingin.



Atticus menyalakan lampu langit-langit di ruang duduk dan mendapati kami di sana, diam membeku. Dia membawa tongkatku di satu tangan; rumbai kuningnya yang kotor terseret di karpet. Dia menjulurkan tangan satunya; kuncup-kuncup kamelia gemuk



berada di situ.



"Jem," katanya, "apa kau pelakunya?"



"Ya, Sir."



"Mengapa kaulakukan?"



Jem berkata perlahan, "Dia bilang, kau membela nigger dan



sampah."



"Kau melakukan ini karena dia berkata begitu?" Bibir Jem bergerak, tetapi "Ya, Sir"-nya tak terdengar.



"Nak, aku tak meragukan bahwa kau merasa terganggu oleh ejekan teman-temanmu tentang aku yang membela nigger, seperti yang kaukatakan, tetapi melakukan hal seperti ini kepada perem- puan tua yang sakit-sakitan sungguh tak termaafkan. Aku sangat menyarankan kau pergi ke rumah Mrs. Dubose dan berbicara dengannya," kata Atticus. "Langsung pulang setelahnya."



Jem tidak bergerak.



"Ayo," kataku.



Aku mengikuti Jem keluar dari ruang duduk. "Kembali ke sini," kata Atticus kepadaku. Aku kembali.



Atticus mengambil majalah Mobile Press dan duduk di kursi goyang yang beberapa saat sebelumnya diduduki Jem. Aku sungguh tak mengerti bagaimana dia bisa duduk tenang membaca surat kabar ketika putra satu-satunya kemungkinan besar sedang di- bunuh dengan senjata peninggalan Tentara Konfederasi. Memang, Jem kadang membuatku jengkel sampai aku ingin membunuhnya, tetapi kalau dipikir-pikir, hanya dialah yang kupunyai. Atticus tampaknya tak menyadari ini, atau kalaupun menyadari, dia tak peduli.


__ADS_1


Saat itu aku membencinya, tetapi kalau kita sedang punya masalah, kita mudah lelah: tak lama kemudian aku bersembunyi dalam pangkuannya dan tangannya merangkulku.



"Kau sudah terlalu besar untuk dibuai," katanya.



"Kau tak peduli apa yang terjadi padanya, Atticus," kataku. "Kau hanya mengirimnya ke sana untuk ditembak padahal dia cuma



membelamu."



Atticus mendorong kepalaku ke bawah dagunya. "Belum waktunya untuk khawatir," katanya. "Aku tak pernah menyangka



bahwa Jem akan kehilangan kesabarannya karena hal ini"kusangka aku akan lebih banyak mendapat masalah darimu."



Kubilang, aku tak mengerti mengapa kami harus bersabar, tak ada teman sekolah yang kukenal yang harus bersabar tentang apa pun.



"Scout," kata Atticus, "saat musim panas tiba nanti, kau harus



bersabar untuk hal-hal yang jauh lebih buruk " aku tahu, ini tidak adil bagimu dan Jem, tetapi kadang-kadang kita harus menerima keadaan, dan cara kita membawa diri saat keadaan memburuk" yah, yang bisa kukatakan adalah, kalau kau dan Jem sudah besar, barangkali kau akan melihat kembali kejadian ini dengan simpati dan mengerti bahwa aku berusaha untuk tidak mengecewakan kalian. Kasus ini, kasus Tom Robinson, menyangkut hakikat nurani manusia"Scout, tak ada gunanya aku pergi ke gereja dan beribadat kepada Tuhan kalau aku tidak mencoba menolong dia."



"Atticus, sepertinya kau keliru "."



"Kenapa?"



"Yah, sepertinya sebagian besar orang merasa mereka benar dan kau salah "."



"Mereka memang berhak berpikir begitu, dan mereka berhak untuk dihormati pendapatnya," kata Atticus, "tetapi sebelum aku mampu hidup bersama orang lain, aku harus hidup dengan diriku sendiri. Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang."



Ketika Jem kembali, dia mendapatiku masih di pangkuan Atticus. "Bagaimana, Nak?" tanya Atticus. Dia menurunkanku, dan aku mengamati Jem diam-diam. Tampaknya dia masih utuh, tetapi raut wajahnya aneh. Mungkin Mrs. Dubose memberinya satu dosis



calomel .



"Aku sudah membersihkan halaman dan meminta maaf, tetapi sebenarnya aku tidak menyesal, dan aku akan mengurus halaman- nya setiap Sabtu dan mencoba menumbuhkannya lagi."



"Tak ada gunanya meminta maaf kalau kau tidak menyesal," kata Atticus. "Jem, dia sudah tua dan sakit-sakitan. Kau tak bisa menuntut pertanggungjawabannya untuk perkataan dan per- buatannya. Tentu, aku lebih suka kalau dia berkata begitu kepadaku daripada kepada kalian, tetapi kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan."



Jem terpaku menatap motif mawar di karpet. "Atticus," katanya, "dia ingin aku membaca untuknya."



"Membaca untuknya?"



"Ya, Sir. Dia ingin aku datang setiap sore seusai sekolah dan pada hari Sabtu untuk membaca keras-keras untuknya selama dua jam. Atticus, apakah harus?"



"Tentu."



"Tetapi dia ingin aku melakukannya selama sebulan." "Berarti kau akan melakukannya selama sebulan."



Jem meletakkan jempol kakinya pelan-pelan di tengah mawar dan menekannya. Akhirnya dia berkata, "Atticus, kalau di trotoar aku tidak keberatan, tetapi di dalam rumah"gelap dan menyeram- kan. Di langit-langitnya ada bayangan dan yang lain "."



Atticus tersenyum tegas. "Bukankah kau suka berkhayal? Pura- pura saja kau berada di rumah Radley."



Senin sore keesokan harinya, aku dan Jem menaiki tangga depan yang curam ke rumah Mrs. Dubose dan melangkah ke aulanya yang terbuka. Jem, yang dipersenjatai Ivanhoe dan pengetahuannya yang luas, mengetuk pintu sebelah kiri.



"Mrs. Dubose?" panggilnya.



Jessie membuka pintu kayu itu dan membuka selot pintu kawat.



"Kamukah itu, Jem Finch?" tanyanya. "Kamu mengajak adikmu. Aku tak tahu""



"Suruh dua anak itu masuk, Jessie," kata Mrs. Dubose. Jessie membiarkan kami masuk, lalu pergi ke dapur.



Bau menusuk menyeruak ketika kami melewati ambang pintu, bau yang sering kudapati di rumah berdinding batu yang membu- suk karena hujan, yang di dalamnya terdapat lampu minyak batu bara, gayung, dan seprai murahan yang tidak dikanji. Bau seperti itu selalu membuatku takut, waspada, siaga.



Di pojok ruangan terdapat tempat tidur berwarna perunggu dan Mrs. Dubose berbaring di atasnya. Aku bertanya-tanya apakah tingkah Jem telah membuatnya terbaring di situ, dan sejenak aku merasa kasihan padanya. Dia berbaring di bawah tumpukan selimut perca dan hampir tampak ramah.



Ada wastafel pualam di samping tempat tidurnya; di atasnya berdiri sebuah gelas berisi sendok kecil, obat tetes telinga berwarna merah, sekotak kapas penyerap, dan jam beker baja berkaki tiga.



"Jadi, kau membawa adikmu yang dekil itu, ya?" adalah sapaannya.




Aku menyangka akan diomeli, tetapi dia hanya berkata, "Kamu boleh mulai membaca, Jeremy."



Jem duduk di kursi beralas bambu dan membuka Ivanhoe. Aku



mengambil satu kursi lagi dan duduk di sampingnya.



"Lebih dekat," kata Mrs. Dubose. "Ke samping tempat tidur sini." Kami memajukan kursi. Inilah jarak terdekatku dengannya, dan hal yang paling ingin kulakukan adalah segera memundurkan



kursi.



Mrs. Dubose buruk sekali. Wajahnya sewarna dengan sarung bantal kotor dan sudut mulutnya berkilau oleh air liur, yang mengalir turun seperti glasir pada kerut-kerut dalam di sekeliling dagunya. Bintik-bintik ketuaan menodai wajahnya, dan matanya yang pucat memiliki pupil hitam yang kecil. Tangannya dipenuhi



tonjolan-tonjolan kecil dan kutikulanya tumbuh melewati kuku. Bibir bawahnya menggantung dan bibir atasnya menonjol; sesekali dia menarik bibir bawahnya ke bibir atasnya dan dagunya ikut terbawa. Gerakan ini membuat air liurnya mengalir turun lebih cepat.



Aku tidak mau melihat lebih banyak dari yang terpaksa kulihat. Jem membuka kembali Ivanhoe dan mulai membaca. Ketika menemukan kata yang tidak dia pahami, Jem melompatinya, tetapi Mrs. Dubose mengetahuinya dan menyuruhnya mengeja kata itu. Jem membaca barangkali selama dua puluh menit, dan selama itu aku memandangi kerangka perapian yang ternodai jelaga, ke luar jendela, ke mana pun agar aku tak perlu melihat Mrs. Dubose.



Selagi Jem membaca, kuperhatikan koreksi Mrs. Dubose semakin sedikit dan jarang sehingga Jem bahkan membaca suatu kalimat dengan sangat tidak jelas. Mrs. Dubose tidak mendengarkan.



Aku menoleh ke tempat tidur.



Sesuatu terjadi padanya. Dia berbaring telentang, dengan selimut sampai ke dagu. Hanya kepala dan bahunya yang tampak. Kepalanya bergerak kiri-kanan perlahan. Sesekali dia membuka mulutnya lebar-lebar dan aku bisa melihat lidahnya menggelom- bang samar. Untai air liur mengumpul di bibirnya; dia mengisapnya, lalu membuka mulut lagi. Mulutnya bekerja terpisah dari bagian tubuhnya yang lain, bergerak keluar dan masuk, seperti cangkang



kerang di air surut. Kadang-kadang bibirnya mengeluarkan suara, "Pt," seperti zat kental yang akan mendidih.



Aku menarik lengan baju Jem.



Dia menoleh padaku, lalu pada tempat tidur. Kepala Mrs. Dubose menoleh kepada kami, dan Jem berkata, "Mrs. Dubose, Anda tidak apa-apa?" Mrs. Dubose tak menjawab.



Dering jam beker mengejutkan kami. Semenit kemudian, dengan saraf masih bergelenyar, aku dan Jem sudah berada di trotoar, berjalan menuju rumah. Kami tidak kabur. Jessie yang



mengeluarkan kami: sebelum jam itu berhenti berbunyi, dia sudah ada di kamar, mendorong aku dan Jem keluar.



"Syuh," katanya, "kalian pulanglah."



Saat melewati pintu, Jem terlihat ragu.



"Sudah waktunya minum obat," kata Jessie. Ketika pintu berayun menutup di belakang kami, kulihat Jessie berjalan cepat ke tempat tidur Mrs. Dubose.



Baru pukul 15.45 ketika kami sampai di rumah. Jadi, aku dan Jem menendang-nendang bola football di halaman belakang sampai tiba waktunya menyambut Atticus. Atticus membawakan dua pensil kuning untukku dan majalah football untuk Jem, yang kuduga adalah hadiah terselubung untuk sesi hari pertama kami bersama Mrs. Dubose. Jem menceritakan apa yang terjadi.



"Dia membuatmu takut?" tanya Atticus.



"Tidak, Sir," kata Jem, "tapi dia jahat. Mungkin dia ayan atau apa. Dia sering meludah."



"Dia tidak melakukannya dengan sengaja. Kalau sedang sakit, kadang orang tidak enak dilihat."



"Dia membuatku takut," kataku.



Atticus memandangku melalui kacamatanya. "Kau tak perlu ikut dengan Jem, kan?"



Sore berikutnya di rumah Mrs. Dubose masih sama dengan yang



pertama, dan juga berikutnya, sampai akhirnya suatu pola terbentuk: segala sesuatu dimulai dengan normal"maksudku, Mrs. Dubose merecoki Jem beberapa lama tentang topik kesukaannya, kame- lianya, dan kecintaan ayah kami pada nigger; dia semakin jarang bersuara, lalu diam. Jam beker berbunyi, Jessie mengusir kami, dan sisa hari itu menjadi milik kami.



"Atticus," kataku suatu sore, "apa sebenarnya arti pencinta



nigger?"



Wajah Atticus suram. "Ada yang memanggilmu begitu?"



"Tidak, Sir, Mrs. Dubose memanggilmu begitu. Setiap sore sebelum Jem mulai membaca, dia melakukan pemanasan dengan memanggilmu begitu. Francis memanggilku begitu Natal kemarin, itu kali pertama aku mendengarnya."

__ADS_1



"Karena itukah kau menyerangnya?" tanya Atticus.



"Ya, Sir "."



"Lalu, mengapa kau menanyakan artinya?"



Aku mencoba menjelaskan kepada Atticus bahwa bukan perkataan Francis yang membuatku marah, melainkan cara dia mengatakannya. "Seolah dia mengataiku cewek ingusan atau sebangsanya."



"Scout," kata Atticus, "pencinta nigger hanyalah julukan yang tak ada artinya"sama seperti anak ingusan. Sulit dijelaskan"orang yang bodoh dan tak berharga menggunakan kata ini saat mereka merasa seseorang mementingkan Negro di atas kepentingan mereka sendiri. Kata ini ditujukan pada orang-orang seperti kita, ketika mereka ingin menamai kita dengan istilah yang rendah dan buruk."



"Jadi, sebenarnya kau bukan pencinta nigger, ya?"



"Justru iya. Aku sungguh-sungguh mencoba mencintai semua orang " aku kadang-kadang bingung"Sayang, bukanlah hinaan kalau kita dipanggil dengan sesuatu yang dianggap orang nama



yang buruk. Jadi, jangan sampai Mrs. Dubose membuatmu sedih. Dia sendiri punya cukup masalah."



Suatu sore sebulan kemudian, Jem sedang bersusah payah membaca Sir Walter Scout, begitu Jem menyebutnya"yang dimaksud oleh Jem adalah Sir Walter Scott, sastrawan Skotlandia yang karyanya antara lain Ivanhoe dan Rob Roy"dan Mrs. Dubose mengoreksinya setiap kali, ketika seseorang mengetuk pintu. "Masuk!" teriaknya.



Atticus memasuki ruangan. Dia menghampiri tempat tidur dan



memegang tangan Mrs. Dubose. "Aku pulang dari kantor dan tidak bertemu dengan anak-anak," katanya. "Aku menduga mereka masih di sini."



Mrs. Dubose tersenyum padanya. Sungguh aku tak bisa mengerti bagaimana dia bisa memaksa diri berbicara kepada Atticus, padahal dia tampak sangat membencinya. "Kau tahu sekarang jam berapa, Atticus?" katanya. "Tepat jam lima lebih empat belas menit. Jam beker dipasang untuk jam lima tiga puluh. Aku ingin kau tahu itu."



Aku tiba-tiba menyadari bahwa setiap hari kami tinggal sedikit lebih lama di rumah Mrs. Dubose, bahwa jam beker berbunyi beberapa menit lebih lambat setiap hari, dan bahwa penyakit ayannya bisa saja kambuh sebelum jam itu berbunyi. Hari ini hampir dua jam dia mengganggu Jem tanpa ada tanda-tanda penyakit ayannya akan kambuh, dan aku merasa terperangkap tanpa ada harapan untuk selamat. Jam beker adalah tanda kebebasan kami; jika suatu hari ia tak berbunyi, apa yang harus kami lakukan?



"Aku merasa hari membaca Jem sudah hampir habis," kata Atticus.



"Hanya seminggu lagi, rasanya," kata Mrs. Dubose, "untuk memastikan "."



Jem bangkit. "Tapi""



Atticus mengangkat tangannya dan Jem terdiam. Dalam



perjalanan pulang, Jem berkata dia hanya wajib melakukannya selama sebulan dan waktu sebulan itu sudah habis dan ini tidak



adil.



"Hanya seminggu lagi, Nak," kata Atticus.



"Tidak," kata Jem.



"Ya," kata Atticus.



Minggu berikutnya, kami kembali ke rumah Mrs. Dubose. Jam beker sudah tak berbunyi lagi, tetapi Mrs. Dubose melepaskan kami dengan, "Sudah cukup," begitu larut senja sehingga Atticus sudah



membaca koran di rumah ketika kami kembali. Meskipun penyakit ayannya tidak pernah kambuh lagi, dalam hal-hal lain, dia adalah dirinya yang dulu: ketika Sir Walter Scott menguraikan panjang- lebar tentang selokan dan istana, Mrs. Dubose menjadi bosan dan mengganggu kami.



"Jeremy Finch, sudah kubilang, kamu akan menyesal sudah merusak kameliaku. Sekarang, kamu menyesal, kan?"



Jem bilang, dia menyesal sekali.



"Jangan sangka kamu bisa mematikan bunga Snow-on-the- Mountain milikku, ya? Hah, kata Jessie, bagian atasnya sudah tumbuh lagi. Lain kali kamu tahu cara melakukannya dengan benar, kan? Kamu akan mencabut sampai akarnya, kan?"



Jem bilang, tentu saja.



"Jangan menggumam padaku, Nak! Angkat kepalamu dan katakan, ya, Ma"am. Tapi kamu mungkin enggan mengangkat kepala, kalau ayahmu seperti itu."



Jem pun menaikkan dagunya dan memandang Mrs. Dubose dengan wajah tanpa kebencian. Setelah berminggu-minggu, dia telah melatih ekspresi sopan dan berjarak yang bisa ditampilkan pada Mrs. Dubose untuk menjawab ucapan-ucapannya yang paling membekukan darah.



Akhirnya, hari itu tiba. Ketika Mrs. Dubose berkata, "Sudah cukup," suatu sore, dia menambahkan, "Dan hukumanmu sudah



selesai. Selamat sore."



Sudah selesai. Kami melompat-lompat di trotoar dengan kelegaan luar biasa, meloncat-loncat dan melolong.



Musim semi itu menyenangkan: hari terasa lebih lama sehingga memberi kami lebih banyak waktu untuk bermain. Benak Jem terutama dipenuhi statistik penting setiap pemain footballuniversitas di negeri ini. Setiap malam, Atticus membacakan halaman olahraga surat kabar. Alabama bisa masuk pertandingan Rose Bowl lagi tahun ini, jika dinilai dari calon pemainnya, yang tak satu pun



namanya bisa kami ucapkan. Atticus sedang membacakan kolom Windy Seaton suatu sore ketika telepon berdering.



Dia mengangkatnya, lalu pergi ke gantungan topi di ruang tamu. "Aku mau ke rumah Mrs. Dubose sebentar," katanya. "Aku tak akan lama."



Tetapi, Atticus pergi sampai jauh melewati waktu tidurku. Ketika pulang, dia membawa kotak permen. Atticus duduk di ruang duduk dan meletakkan kotak itu di lantai di samping kursinya.



"Apa maunya?" tanya Jem.



Kami sudah sebulan lebih tidak bertemu dengannya. Dia tidak pernah ada di teras lagi ketika kami lewat.



"Dia meninggal, Nak," kata Atticus. "Dia meninggal beberapa menit yang lalu."



"Oh," kata Jem. "Bagus."



"Memang bagus," kata Atticus. "Dia tidak menderita lagi. Dia sudah lama sakit. Nak, tahukah kamu mengapa dia suka kejang- kejang seperti orang berpenyakit ayan?"



Jem menggeleng.



"Mrs. Dubose adalah pencandu morfin," kata Atticus. "Sudah bertahun-tahun dia memakainya sebagai pereda rasa sakit. Dokter yang meresepkannya. Dia telah melewatkan sisa hidupnya dengan morfin dan meninggal tanpa banyak rasa sakit, tetapi dia memang sinis""



"Sir?" kata Jem.



Kata Atticus, "Tepat sebelum kau bertingkah dulu, dia meneleponku untuk membuatkan surat wasiatnya. Dr. Reynold berkata dia hanya punya beberapa bulan lagi. Urusan bisnisnya sudah diatur, tetapi katanya, "Masih ada satu hal yang belum



diatur.""



"Apa itu?" Jem bingung.



"Katanya, dia akan meninggalkan dunia ini tanpa berutang apa



pun pada siapa pun. Jem, kalau seseorang sakit separah dia, sebenarnya tak apa-apa memakan obat untuk meringankan rasa sakit, tetapi baginya tidak. Katanya, dia berniat melepaskan diri dari morfin sebelum meninggal, dan itulah yang dilakukannya."



Kata Jem, "Maksudmu, karena itukah dia kelihatan seperti orang sakit ayan?"



"Benar. Selama kau membaca untuknya, aku ragu dia men- dengar sepatah kata pun. Seluruh pikiran dan tubuhnya ber- konsentrasi pada jam beker. Kalau dia tidak menghukummu, aku sendiri yang akan menyuruhmu membaca untuknya. Mungkin itu dapat mengalihkan perhatiannya. Ada alasan lain""



"Apakah saat meninggal dia bebas dari morfin?" tanya Jem.



"Sebebas udara gunung," kata Atticus. "Dia sadar sampai detik terakhir, hampir. Sadar," dia tersenyum, "dan mengajak bertengkar. Dia masih tak setuju dengan tindakanku dan berkata aku mungkin akan melewatkan sisa hidupku menebusmu dari penjara. Dia me- minta Jessie mengambilkan kotak ini untukmu""



Atticus meraih dan memungut kotak permen itu. Dia menyerah- kannya kepada Jem.



Jem membukanya. Di dalam, dikelilingi gumpalan kapas lembap, adalah kamelia putih, berlilin, sempurna. Setangkai Snow- in-the-Mountain .



Mata Jem hampir melompat dari kepalanya. "Iblis-neraka tua, iblis-neraka tua!" serunya, mencampakkannya. "Kenapa dia menggangguku terus?"



Secepat kilat Atticus berdiri di hadapannya. Jem membenam- kan kepalanya di kemeja Atticus. "Sss-t," katanya. "Kurasa itu caranya memberitahumu"segalanya baik-baik saja sekarang, Jem, segalanya baik-baik saja. Kau tahu, dia perempuan terhormat yang



hebat."



"Perempuan terhormat?" Jem mendongak. Wajahnya merah.



"Setelah segala hal yang dituduhkannya padamu, perempuan ter- hormat?"



"Ya. Dia memiliki pandangan pribadi tentang banyak hal, sangat berbeda denganku, mungkin ". Nak, tadi aku berkata, kalau kau tidak kehilangan kesabaran sehingga dia menghukummu, akulah yang akan menyuruhmu membaca untuknya. Aku ingin kau melihat sesuatu dalam dirinya"aku ingin kau melihat keberanian sejati, alih-alih mendapat konsep bahwa keberanian selalu identik dengan lelaki bersenapan. Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau meram- pungkannya, apa pun yang terjadi. Kau jarang menang, tetapi kadang-kadang kau bisa menang. Mrs. Dubose menang, seluruh 45 kg dirinya. Menurut pandangannya, dia meninggal tanpa berutang apa pun dan pada siapa pun. Dia orang paling pemberani yang pernah kukenal."



Jem memungut kotak permen itu dan melemparnya ke api. Dia mengambil kamelianya, dan ketika aku berangkat tidur, kulihat dia sedang mengelus-elus kelopaknya yang lebar. Atticus sedang membaca surat kabar.



__ADS_1


__ADS_2