
"Kalau begitu, jangan lagi lakuin hal itu lagi, " ucap Rita. Dia dengan tegas mengatakan itu kepada Aung.
"Baiklah, aku akan melakukan seperti yang adikku inginkan. Hanya saja, aku ingin mengomentari sedikit, " ucap Aung. Dia terlihat ragu mengatakannya.
"Komentar apa kak? " tanya Rita lagi.
"Bibirmu sangat manis saat kakak cium, " goda Aung. Dia menampilkan senyum lebarnya itu kepada Rita.
Dia yang mendengarkan itu pun memerah, tapi dia berusaha menahannya. Dia teringat kalau dirinya sudah terjalin pernikahan dengan Yuu sekalipun menggunakan tubuhnya Iwan itu. Jadi, dia tidak boleh melihat lelaki lainnya lagi selain sang suami yang harus ia khawatirkan akibat misi yang benar-benar sudah mengubah seluruh hidupnya saat ini.
"Jangan menggodaku kak, " ucap Rita. Dia tidak bisa membiarkan perjalanan ke masa lalu dengan orang tuanya itu menjadi hubungan terlarang.
Dia tahu kalau jiwanya itu ialah dewi air, tapi bila berhubungan dengan tubuh yang ia pakai ipalah adiknya sendiri. Jadi, dia tetap harus menghindarinya.
"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Jadi, kita berdua harus menontonnya dengan khidmat, " ucap Aung.
Rita hanya mengangguk saja sebagai tanda respon perkataan dari Aung. Dia sangatlah canggung hari ini.
"Kita sudah sampai di kerajaanmu, " ucap mutiara bulan.
Sanjaya yang mendengarkan mutiara bulan itu terlihat canggung. Dia tidak bisa mengungkapannya dengan kata-kata. Dia tahu kalau mutiara bulan melakukannya hanya untuk memulihkan dirinya, tapi dia juga merasa bersalah telah menghianati istrinya yang berhubungan intim dengan mutiara bulan itu.
Mutiara bulan yang tahu akan kecanggungan dari Sanjaya pun mengetahuinya.
"Kau tidak perlu merasa canggung denganku, inilah keinginanku sendiri, " ucap Mutiara bulan.
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, kau bisa menjadi selirku. Apakah kau akan tetap berwujud buntalan ini? " tanya Sanjaya.
"Maaf, aku tidak bisa menjadi selirmu. Itu hanyalah status dunia sedangkan aku bukanlah dari dunia yang bisa kau tangani saat ini, " tolak mutiara bulan.
"Lalu bagaimana dengan wujudmu ini? " tanya Sanjaya.
__ADS_1
"Aku akan tetap berwujud buntalan ini demi melindungimu dari kejauhan. Aku tidak bisa menggunakan wujud manusia di tempat manusia ini bila tidak dalam keadaan darurat, " ucap mutiara bulan.
"Bagaimana bila diriku berada di kondisi darurat? " tanya Sanjaya. Dia sedang menguji mutiara bulan itu, apakah dia memiliki perasaan kepadanya ataukah tidak?
"Aku akan menolongmu, " ucap mutiara bulan itu.
"Bisakah kau tidak menolongku, lalu menyelamatkan anak-anakku saja bila itu terjadi? " pinta Sanjaya.
Sanjaya yang sudah meminta permohonan itu kepada mutiara bulan itu tiba-tiba mengeluarkan simpul cahaya yang tak terlihat. Hal itu, menunjukkan permohonan telah dibuat dan keinginan mutiara bulan untuk dapat menolongnya pun dikekang oleh simpul permohonan itu.
Mutiara bulan yang mendengarkan permohonan itu menangis. Dia tidak bisa melakukan kebebasannya lagi setelah orang itu meminta permohonan kepadanya.
"Kenapa kau menangis? Apakah permohonan ku terlalu berat untukmu? " tanya Sanjaya lagi.
"Bukan begitu, kau harusnya tidak mengatakan permohonan itu secepat mungkin, " keluh mutiara bulan.
"Memangnya kenapa kalau aku mengatakannya lebih awal? Bukankah itu lebih baik? " tanya Sanjaya.
Sanjaya yang mendengarkan itu pun tersenyum.
"Kematian dan kehidupan adalah takdir. Mungkin, takdirku akan mati di tangan kerajaan itu bersama istriku. Jadi, kau bisa menjaga anak-anakku seakan kau melihat cerminan dari diriku, " jawab Sanjaya.
Mutiara bulan yang mendengarkan itu pun terbang ke arah yang lain. Dia tidak dapat menahan kesedihannya lagi hari ini. Dia melupakan penjelasan tentang permohonan itu kepadanya karena kecanggungan yang mereka berdua lewati di tempat rahasia itu.
Mutiara bulan sudah mendapatkan gambaran masa depan yang akan terjadi kepada Sanjaya. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Dia hanya bisa melihat akhir dari keluarga Sanjaya lenyap di bawah perintah Kekaisaran itu.
Sanjaya yang melihat mutiara bulan itu pun pergi. Dia harus melangkahi Kekaisaran saat ini tanpa memberikan mutiara bulan itu kepada mereka.
Dia sudah berpegang teguh pada keputusannya saat ini kalau apa yang ia jalani, tidak akan membuat dirinya menyesal.
Sanjaya menggunakan kudanya untuk menempuh ke Kekaisaran itu. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan peringan tubuh saat berada di Kekaisaran, itu menunjukkan ketidaksopanannya itu.
__ADS_1
Mutiara bulan yang melihat Sanjaya pergi pun mengikutinya dari belakang.
"Aku hanya bisa melihatmu dari belakang tanpa bisa melakukan apa-apa, " gumam mutiara bulan itu. Dia menggunakan wujudnya yang buntalan kapas tak terlihat itu.
"Tidak bisakah akhir cerita ini bahagia? " tanya Rita lagi.
"Itu tidak mungkin. Cerita ini akan berakhir tragis dengan orang tua kita mati di tangan Kekaisaran itu. Mereka benar-benar menginginkan mutiara bulan itu sampai mengancam kita semua, " ucap Aung. Dia mengepalkan tangannya begitu erat lalu dia dapat merasakan aura hitam di hatinya Aung itu.
"Aku tidak tega melihatnya, " ucap Rita. Dia benar-benar takut dengan akhir dari cerita tragis dari orang tua yang sedang ia pakai tubuhnya itu.
Aung pun memeluk Rita lalu cerita pun tetap berlanjut.
"Saya dari panglima perang bernama Sanjaya sudah hadir di gerbang istana, " salam Sanjaya kepada para penjaga gerbang lalu mereka pun membukakakn pintu dan melaporkan kedatangan dari Sanjaya itu.
"Kau sudah datang Sanjaya, " ucap raja itu. Dia sudah tersenyum dengan kehadiran dari Sanjaya. Padahal, dia tidak tahu kalau Sanjaya tidak akan memberikan mutiara bulan itu secara cuma-cuma.
"Salam Yang Mulia Raja, kedatangan saya disini sebelum melaporkan tujuan utama, saya ingin bertanya hal yang penting bagi raja, " ucap Sanjaya.
"Silahkan, aku akan menjawab pertanyaanmu, " jawab raja itu. Dia terlihat meneguk minuman sambil mendapatkan pijatan maupun kipasan dari para selir di sampingnya itu.
"Baiklah, saya berterima kasih sebelumnya karena baginda raja telah mengizinkan saya untuk mengajukan pertanyaan. Apakah tujuan raja untuk menemukan mutiara bulan yang sesungguhnya? " tanya Sanjaya dengan lantang.
Semua orang yang mendengarkan pertanyaan Sanjaya begitu lantang pun segera menatap tajam kepadanya. Sang Raja yang mendengarkan itu pun mengusir semua orang yang ada di aula itu. Dia tidak bisa memberikan jawaban setelah banyak orang menyaksikan mereka berdua.
Ada beberapa orang yang membicarakan Sanjaya.
"Berani sekali dia mempertanyakan tujuan raja dalam mengambil keputusan, " ucap seseorang itu setelah keluar dari aula perjamuan sambil menatap sinis raja itu.
"Ya, nyawanya mungkin banyak sehingga berani. "
Desas-desus itu terdengar oleh Sanjaya dengan pendengaran dirinya yang begitu tajam sebagai ahli bela diri, tapi dia tetap memperteguh keyakinannya itu dalam mempertanyakan raja saat ini.
__ADS_1