
Enjoy!
---
Zerenity merapatkan coat kelabu yang tengah ia kenakan bersamaan dengan walnut-nya yang menengadah, memandang papan nama restoran dengan tulisan Cuatro's.
Udara dingin di sekitar memaksa masuk ke dalam labirin dadanya untuk menenteramkan paru-paru yang sesak karena tubuhnya sesaat lagi akan masuk ke dalam restoran tersebut.
Jika saja bukan karena Mr. Andrew, salah seorang yang beberapa hari lalu memesan wedding cake di Robin's, mungkin Zerenity tak akan berada di sini sekarang untuk menyerahkan contoh chocolate truffles padanya, sekaligus untuk berdiskusi terkait konsep wedding cake dan beberapa jenis dessert di pernikahan orang tersebut.
Mengapa dari semua tempat dan semua restoran, orang tersebut harus memilih Cuatro's? Restoran milik Russell. Zerenity mendesah pasrah. Tak ada gunanya pula ia mengeluh.
Lagi pula, sepertinya Zerenity yang terlalu berlebihan karena Russell tak mungkin saat ini sedang berada di sini. Mengingat cabang Cuatro's yang ada di sini hanya salah satu dari sekian banyak cabang yang dimilikinya.
Zerenity memantapkan langkahnha masuk ke dalam restoran sembari menggenggam erat paperbag berisi chocolate truffles dan meminta salah seorang pelayan mengantarnya ke ruang VIP yang telah dipesan oleh Mr. Andrew dan calon istrinya.
Pelayan tersebut membawa Zerenity ke lantai atas pada sebuah ruangan dengan dinding kaca yang menampilkan panorama malam kota Manhattan, memerangkap meja berbentuk persegi dengan empat kursi.
Segera ia tanggalkan coat yang ia kenakan dan meraih duduk pada salah satu kursi yang menghadap pada pintu. Pandangannya memilih terbentang pada dinding kaca di samping kanannya untuk menikmati lampu-lampu kota di kejauhan sana yang merangkak menghibur maniknya dari kepenatan.
Hari ini terasa sangat melelahkan bagi Zerenity. Setelah selesai dengan Mr. Andrew dan calon istrinya, Zerenity berencana berendam air hangat dengan menghirup aroma terapi.
Belum sempat Zerenity terjerat oleh cahaya malam di luar sana, suara pintu yang terbuka segera membuat maniknya menyeret ke arah depan dan seketika itu pula tubuhnya kaku.
Tak sebanding dengan dadanya yang berdenyut nyeri, sosok pria di depan sana justru mengembangkan senyum hangatnya untuk Zerenity setelah menutup pintu.
Zerenity segera meraih energi tubuhnya yang tersekat untuk segera bangkit dari kursi.
"Mi Angel, please ...." ia menahan Zerenity dengan lengan bawahnya yang melingkar di perut Zerenity ketika wanita itu hendak melewati tubuh pria berpostur tinggi tegap tersebut.
Zerenity menepis pelan tangan Russell untuk melanjutkan langkahnya, namun Russell kembali mencegah dan justru menariknya masuk dalam dekapan.
"Lo siento, mi Angel. (Maafkan aku, Malaikatku.)" kedua lengan Russell semakin erat memeluk mantan kekasihnya dan Zerenity merasakan embusan napas Russell di sisi kepalanya dengan bibir Russell yang menanamkan kecupan dalam di sana.
"Lepaskan aku Rush ...." bisik Zerenity bergetar sembari berusaha meronta.
------------------
"Kau benar, aku sudah menikah. Ia istriku." Russell menyodorkan ponsel berisi foto pernikahannya dengan seorang wanita berwajah Asia Tenggara, berambut ikal.
Entah kata seperti apa yang dapat Zerenity rangkaikan untuk menggambarkan rasa menyakitkan yang seketika menjalar pada tubuhnya. Beribu jarum seakan menghunjam pembuluh darahnya, merobek, lalu menumpahkan kepahitan sampai Zerenity terasa mati.
Zerenity tak sanggup mendengar ini. Harusnya ia tak memberi kesempatan pada Russell untuk berbicara, jika Zerenity tahu hanya racun yang akan pria itu tebarkan dari tiap katanya. Cukup sudah Zerenity tersayat dari cincin yang tersemat di jari manis Russell.
Oksigen di sekitar Zerenity mendadak lenyap, tak mampu ia raih. Pandangan Zerenity pada Russell perlahan terasa jauh. Aksen Inggris-Spanyol itu berdengung pada lapisan jiwanya yang merangkak pergi.
"Ini bukan pernikahan seperti yang kau bayangkan, mi Angel. Aku selalu mencintaimu. Aku akan menceraikannya."
Zerenity tak mampu menggerakkan tubuhnya bahkan sekedar untuk berpaling dari wajah Russell. Ia ingin berlari dari ruangan ini sekarang juga. Tak peduli pada penjelasan omong kosong Russell.
Pria itu sudah menikah. Pria itu meninggalkannya dengan cepat. Pria itu memilih menikahi wanita lain. Lalu, bagaimana bisa Russell sekarang mengatakan selalu mencintainya sementara Russell dapat bertahan bertahun-tahun dalam ikatan pernikahan dengan wanita itu?
"Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan besar. Ijinkan aku menggapaimu kembali. Kita mulai dan selesaikan semua bersama, seperti dulu. Hanya ada kau dan aku. Cukup kita."
Russell berusaha menarik Zerenity setelah menghempaskannya penuh luka? Ia tega menceraikan wanita yang menjadi istrinya saat ini? Dan lagi, 'kita'?
"Tanpa Scarlet?" suara yang dingin dan tawa hambar, lolos dari bibir Zerenity begitu saja.
Wajah Russell yang penuh penyesalan seketika menajam, manik kelabu itu berkilat amarah. Suaranya meluncur dengan berat dan dalam. "Ya, tanpa Scarlet."
Saat itu juga tiba-tiba pandangan Zerenity menggelap bagai tertutup tembok hitam. Tolong, jangan! Namun Zerenity tak dapat melakukan apapun. Kesadarannya hilang bersamaan dengan luka yang membelenggu.
-----------------
Zerenity melangkah cepat keluar dari Cuatro's sembari melepas ikatan rambutnya dan menyampirkan ke sebelah pundak. Menyisir rambutnya dengan sela-sela jari. Berkali-kali ia menghela napas, namun debaran jantungnya masih terus terasa menyakitkan.
Segala perkataan Russell seakan terus berlarian di lorong pendengarannya. Berulang tanpa henti. Memaksanya mengingat ucapan demi ucapan yang membuat ia ingin berteriak.
Masih dapat Zerenity ingat ketika kesadarannya kembali dan Russell tengah mendekapnya dengan erat seraya terus membelai rambutnya. Membisikkan nama Zerenity berulang kali. Namun, tak ada kehangatan lagi dari tubuh itu yang mampu Zerenity rasakan selain kesakitan oleh luka yang pria itu torehkan kembali.
Langit malam yang pekat membuat jiwanya ingin segera bersembunyi dan tenggelam pada awan di atas sana. Namun, apa yang mampu Zerenity lakukan jika saat ini saja ia sudah kembali merapatkan coat kelabunya, karena hawa dingin yang menusuk dan memilih masuk pada kafe di seberang jalan untuk mendapatkan segelas cokelat panas.
Zerenity melirik jam di pergelangan tangannya dengan jemari yang menggenggam tali paperbag chocolate truffles-nya, ketika mendapati suasana kafe tampak sepi dengan seorang pelayan di sudut ruangan yang baru saja membalik kursi di atas meja. Pantas saja, ini sudah pukul sebelas malam.
Setelah menghela napas, Zerenity memilih tetap berjalan pada meja kasir untuk memesan.
"Maaf, cokelat panas baru saja habis. Apakah kau ingin mengganti dengan secangkir kopi?"
"Hmm, tidak kalau begitu." desah Zerenity sebelum menyunggingkan senyum tipis, tak enak hati karena ia tak jadi memesan. Petugas kasir itu tersenyum maklum di wajahnya yang tampak lelah.
Tampaknya mereka memiliki kesamaan, sama-sama merasa lelah. Terlebih batin Zerenity.
Zerenity baru saja berbalik ketika sebuah suara mencegah langkahnya dan membuat ia spontan menengok.
"Mau berbagi cokelat panas denganku?"
Zerenity mengerjap tak menyangka. Jake tersenyum ramah, berdiri di area pengambilan pesanan yang tak jauh darinya.
__ADS_1
"Aku berjanji tak akan balas dendam." ujar Jake seraya melirik sesaat pada paper cup di tangannya dengan wajah jenaka.
Tawa Zerenity seketika lolos di susul tawa pria itu. Perkataan Jake mengingatkannya pada insiden beberapa hari lalu saat mereka bertabrakan di bandara.
"Aku tak menyadari kau ada di sini." kataku ketika ia berjalan mendekat.
"Begitupun aku, Zeren."
Jake dan Zerenity melangkah keluar kafe setelah ia menyerahkan paper cup cokelat panasnya untuk Zerenity.
"Minumlah lebih dulu. Bibirmu tampak pucat."
Zerenity menerima dengan malu. Ingin rasanya ia menolak, tapi cokelat panas benar-benar sedang ia butuhkan saat ini.
"Tampaknya musim dingin akan datang lebih cepat." Jake menengadah sesaat pada langit malam, sementara kedua tangannya bersembunyi pada coat hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
Lidah Zerenity segera terbuai oleh manisnya cokelat dan kerongkongannya menghangat oleh cairan kental tersebut.
Jake memandang Zerenity setelah paper cup itu berpindah ke tangannya. "Aku tak sabar menunggu salju pertama yang akan turun." manik legam itu berbinar di tengah senyuman Jake yang mengembang. Ia tampak begitu antusias seperti anak kecil yang menanti membuat boneka salju.
Zerenity menyambutnya hanya dengan senyum tipis. Ia tak menyukai musim dingin, lebih dari itu, ia benci salju.
"Apakah kau membawa mobil? Jika tidak, kita bisa pulang bersama. Ini sudah sangat larut."
"Aku -"
"C'mon! Aku memaksa." Jake memandang Zerenity dalam, namun kemudian ia kembali tersenyum ramah, meskipun Zerenity masih dapat melihat manik itu yang sarat akan penegasan.
Zerenity tertawa kecil sekaligus tak enak hati. "Maaf aku terus merepotkanmu."
Jake semakin tersenyum lebar, mengerti bahwa Zerenity akhirnya menyetujui tawaran pria itu. Ia segera membawa Zerenity pada sebuah mobil Ferrari merah yang tak jauh dari tempat mereka berjalan.
---------------
"Untukmu."
Zerenity mengulurkan paperbag sesaat setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Chocolate truffles buatanku. Anggap saja karena kau sudah bersedia mengantarku pulang." terangnya berusaha menjawab keheranan yang sempat terlihat di wajah tampan Jake.
Jake terkekeh menerima paperbag itu dan entah mengapa membuat Zerenity turut tertawa kecil.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita memakannya bersama?"
"Di sini? Sekarang?" Zerenity mengerjap bingung di tengah-tengah Jake yang membuka paperbag itu hingga menampakkan box persegi di dalamnya.
"Terlihat sangat enak. Apakah isi di dalamnya berbeda-beda?"
"Ya, tapi aku sendiri sudah lupa dan sulit mengenali masing-masing isiannya." Zerenity tertawa kecil.
Jake terdiam melihat tawa manis Zerenity yang lagi-lagi menyapa pandangan dan pendengarannya dengan merdu. Membuat jejak-jejak bayangan Vello semakin melekat di paras lembut Zerenity.
Sorot mata Jake yang begitu lekat hampir membuat Zerenity gugup, sampai akhirnya Jake tersenyum hangat. "Menarik!"
Jake segera mengambil satu buah dengan lapisan cokelat berwarna merah dan mengigitnya, kemudian kelopak mata pria itu menyembunyikan manik legamnya.
Zerenity mengigit bibir bawahnya khawatir sekaligus penasaran dengan isian apa yang pria itu makan. Sejujurnya Zerenity sendiri belum mencoba truffles-nya.
"This is so damn good." lingkaran gelap Jake memandang Zerenity dengan senyum pria itu yang mengembang.
"Benarkah? Rasa apa di dalamnya?"
"Aku merasakan karamel bercampur rasa apel dan ini enak sekali."
"Benarkah seenak itu?"
"Apakah kau selalu meragu pada hasil buatanmu sendiri?" ia menyodorkan setengah gigitan truffles-nya ke bibir Zerenity. "Ini sangat enak."
Bulu mata Zerenity mengerjap beberapa kali. Terkejut dan juga bingung. Apakah tak apa jika ia menerima suapan Jake? Bukankah itu adalah gigitan milik pria itu tadi? Apakah hal itu tak terlalu intim? Bayangan Scarlet segera menyerang pikiran Zerenity. Namun ia tak mampu menolak. Zerenity selalu lemah untuk menolak orang lain. Akhirnya ia memilih mengambil truffles itu dari tangan Jake dan memakannya sendiri dengan canggung.
Jake sedikit tertegun namun kemudian ia terkekeh. Memaklumi.
"Mari kita coba yang lain bersama."
Jake mengambil satu chocolate truffles dengan taburan bubuk cacao, menggigitnya lalu memberikan potongan itu pada Zerenity. Wanita tersebut kembali menerima dengan jemarinya, tak membiarkan Jake menyuapi, atau ia akan merasa bersalah pada Scarlet.
Lembutnya dark chocolate bercampur dengan rasa kayu manis yang tipis segera menguasai indra pencecap mereka.
"Aku benci ini!" kening Jake berkerut bersamaan dengan pangkal hidungnya yang membuat ia tampak begitu lucu.
"Kau tak menyukai kayu manis?" Zerenity terkekeh.
"Sangat tak menyukainya!"
"Mengapa?"
__ADS_1
"Kau tahu? Rasanya seperti memakan obat tradisional Asia dan lagi aromanya sangat aneh." gerutu Jake tanpa sadar yang membuatnya tampak seperti anak kecil yang tengah mengadu dengan penuh kekesalan. Zerenity tak tahan untuk tidak tertawa karena itu.
"Hei, apa yang kau tertawakan?" dengkus Jake.
"Tidak ada." Zerenity berusaha melipat bibirnya untuk menahan tawanya agar tak kembali meluncur. Jake seperti orang yang tengah bermusuhan dengan sebuah kayu manis.
Jake berdecak namun kemudian segera mengambil chocolate truffles lain dan kali ini ia tampak menyukai isian tersebut.
"Kau menyukainya?" Zerenity mulai memakan potongan yang Jake berikan.
"Yeah! Cheesecake selalu enak, bukan?" Jake terkekeh. Zerenity mengangguk menyetujuinya. Lagi, pria itu menularkan tawa padanya.
Manik Zerenity memandang Jake lekat di tengah mulutnya yang menikmati rasa cheesecake yang lembut bercampur dengan baluran cokelat. Kelezatan itu perlahan kabur oleh perhatiannya yang tersita oleh Jake.
Pria itu terlihat tampan malam ini, begitupun seperti sebelum-sebelumnya. Coat hitam dan kemeja navy membalut tubuhnya yang bertato, menyisahkan tato di punggung tangan dan sisi leher. Penampilannya selalu menguarkan gaya Jake yang liar sekaligus elegan. Namun, mengapa Zerenity tak menangkap auranya sebagai pria panas seperti yang digambarkan oleh Scarlet padanya? Zerenity justru menangkap Jake sebagai pria yang menyenangkan dan hangat. Jake seakan mampu menjerat siapa saja untuk dapat langsung berteman dengannya. Bahkan Zerenity nyaris terlupa oleh pertemuan pahitnya dengan Russell ketika ia melihat Jake dengan pembawaannya yang santai dan bersahabat.
Jake seperti tak memiliki sekat pada orang lain untuk masuk dalam kehidupannya. Tak seperti Zerenity yang memiliki benteng besar nan gelap.
"Tampaknya sekarang kau yang tak menyukai isian ini. Kau tak menyukai kopi?" celetuk Jake terkekeh ketika mereka memakan chocolate truffles berisi krim cappucino.
Zerenity menggeleng tegas dan bersusah payah menelan truffles itu agar segera menghilang dari lidahnya. Jika saja truffles ini ia buat untuknya sendiri, Zerenity tak akan memasukkan komponen kopi di dalamnya.
"Mengapa?"
Zerenity menaikkan kedua pundaknya. "Entah, aku tak nyaman dengan rasa asam yang tertinggal di dinding mulut setelah meminum atau memakan hal yang berisi kopi."
Jake terdiam. Zerenity segera diserang rasa gugup, bersamaan dengan pikirannya yang keheranan. Apakah ia telah salah ucap? Pandangan Jake padanya kali ini terasa berbeda. Pria itu menjeratnya dengan manik legam yang tiba-tiba terasa seperti Jake tengah masuk dalam diri Zerenity.
Namun untungnya itu tak berlangsung lama. Jake kembali mengembangkan senyum bersahabatnya yang segera mengikis kegugupan pada diri Zerenity.
"Ada apa?"
"Tak apa. Setiap orang memang tak ada yang benar-benar sama."
Kening Zerenity berkerut samar akan jawaban Jake yang membuatnya heran. Ia tak memahami maksud perkatakaan itu, namun ia memilih segera mengabaikan hal tersebut dengan mereka kembali menikmati truffles dan tak berselang lama dari itu, Jake mulai menjalankan mobilnya, mengantar Zerenity pulang.
---------------
Gelap dan hening, dua kata itu menyergap Zerenity ketika ia membuka mata.
Tubuhnya keluar dari kamar sembari sebelah tangannya mengusap mata agar kesadarannya benar-benar terkumpul.
Sementara itu tangannya yang lain menggandeng boneka rajut dengan tinggi 30 sentimeter berbentuk gadis berambut panjang yang mengenakan chef jacket berwarna putih.
Boneka itu bernama Zeze, sama seperti panggilan dari kedua orang tuanya. Ibunya khusus merajut boneka itu untuk Zerenity sebagai hadiah ulang tahun putrinya yang kelima kala ini. Zerenity tahu, meskipun saat ini ia telah berusia 16 tahun, namun kebiasaan membawa Zeze tak pernah lepas.
"Mom, Dad?" panggilnya dengan suara serak seraya menuruni tangga karena ia tak menemukan kedua orang tuanya di dalam kamar.
Penerangan yang remang dan suasana yang terlampau sunyi membuatnya mengeratkan genggaman tangannya pada Zeze.
Tak ada orang tua Zerenity di manapun. Ia kembali memanggil kedua orang tuanya, namun lagi-lagi tak ada jawaban. Entah mengapa, Zerenity merasa gelisah.
Zerenity menengok pada pintu halaman belakang yang tampak terbuka. Maniknya sedikit berbinar karena merasa lega, mereka pasti berada di sana.
Kakinya melangkah lebar tak sabar. Namun, pintu itu terasa perlahan menjauhinya.
Zerenity berhenti dan mengamati sekitarnya yang tiba-tiba menyempit menjadi lorong panjang dengan pintu halaman di ujung sana.
Debaran jantung Zerenity mempompa kuat. Ketakutan mengungkungnya. Ia segera berlari berusaha mengapai handle pintu dengan susah payah. Ia ingin bertemu orang tuanya dan keluar dari lorong panjang ini.
"Mom, Dad ...." panggilnya bergetar, namun kakinya tak lelah untuk mengejar pintu tersebut, tapi usahanya seakan sia-sia. Zerenity seperti berlari di tempat karena sekuat apapun ia berlari, pintu itu tak kunjung mampu ia raih.
Zerenity semakin ketakutan, terlebih tiba-tiba suara sirine ambulans bergaung di kedua telinganya.
Zerenity kian berlari, namun suara itu seperti mengejarnya dan memerangkap jiwanya hingga ia terhenti dengan tubuh bergetar hebat. Berjongkok menutup telinga rapat-rapat.
"Pergi!!!"
"ZEREEENNN!!!"
...To Be Continue...
CAST:
- Zerenity Robinson
- Jake Ryver
- Russell Guerrero Shawn
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
__ADS_1
Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_