Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 11


__ADS_3

Para readers kecintaanku, sebelumnya aku mau informasiin kalau TBO berubah sudut pandang penulisannya dari POV1 menjadi POV3 😄


Banyak pertimbangan yang akhirnya membuat aku memutuskan untuk pakai POV3 seperti pada ceritaku yang lain 😂


Aku harap kalian tetap bisa menikmati cerita ini sampai ending.


Te amo!!


--------------


Enjoy!


---


Kedua tangan Fordrix bersembunyi di balik saku celana, sementara lengannya bersandar pada bingkai pintu. Memandang tiga lukisan Scarlet yang beraliran impresionisme yang akan dipamerkan pada sebuah galeri seni di pusat kota New York dalam waktu dekat.


Dari ketiganya, mata hazel Fordrix terjerat pada lukisan seorang wanita yang menari di bibir jurang. Warna cat yang digoreskan di sana begitu dominan dengan warna gelap. Namun warna putih dari beberapa merpati tampak mencolok mengitari bagian atas wanita itu. Seakan sebuah pesan yang ingin diteriakkan Scarlet di dalam sana.


Semakin Fordrix memandangnya, ia semakin merasakan kerapuhan dan kesedihan wanita di dalam lukisan itu, namun ia juga dapat merasakan kerelaan wanita tersebut menerima takdir.


"Bagaimana pendapatmu?"


Fordrix menoleh pada Scarlet yang telah berdiri di sampingnya dengan tubuh menghadap Fordrix. Ia Menyandarkan punggung pada bingkai pintu dengan melipat tangan di depan dada.


"Lukisanmu selalu memukau." lirik Fordrix pada Scarlet sekilas. Goresan cat yang Scarlet berikan memang selalu mudah didengar di batin para orang yang melihatnya.


Sudah selayaknya bagi Scarlet mendapatkan pencapaian dengan bersanding bersama pelukis terkenal yang menjadi idolanya di galeri besar tersebut, karena Fordrix mengerti betul segala jerih parah dan talenta Scarlet.


"Aku ingin -"


"Tidak!" potong Scarlet cepat. "Aku tak akan membiarkanmu membeli salah satu lukisanku lagi."


"Mengapa?" kedua alis Fordrix terangkat.


"C'mon, Ford! Aku ingin merasakan seluruh lukisan itu dibeli oleh orang lain."


Fordrix terkekeh, melarikan kembali hazelnya pada lukisan Scarlet. Ya, perkataan wanita di sampingnya memang benar. Fordrix selalu membeli salah satu lukisan Scarlet, bahkan sejak wanita itu menunjukkan lukisan pertamanya.


"Baiklah," pasrah Fordrix akhirnya tanpa melepas mata hazelnya pada lukisan Scarlet.


"Aku berencana mengundang Jake ke galeri."


Suara antusias Scarlet segera mengalihkan pandangan Fordrix kembali pada wanita di sampingnya yang memakai piyama hitam satin bertali spaghetti dengan celana setengah paha.


"Kau sepertinya benar-benar tertarik padanya." Fordrix kembali terkekeh.


"Tentu saja! Dan kau, jangan mengacaukan pria incaranku lagi untuk kali ini."


Fordrix segera memosisikan tubuhnya berhadapan dengan Scarlet. Turut menyilangkan tangan di depan dada, serta sedikit menunduk pada Scarlet yang memang hanya setinggi dagunya.


Senyum miring Fordrix tercetak dengan pandangannya yang mengintimidasi.


"Aku tak akan mengacaukan jika dia pria baik-baik."


Scarlet berdecak lalu memutar bola matanya. "Jangan berlagak lagi seperti seorang kakak yang protektif, dan lagi, apa definisi pria baik-baik di otakmu? Jika seperti dirimu, aku jelas tak akan meliriknya!"


Fordrix melangkah, mengikis jarak di antara mereka, lalu berbisik. "Kalau begitu aku akan kembali mengacaukan pria-pria di sekitarmu." Ia mengecup pelipis Scarlet singkat sebelum akhirnya ia melangkah ke ruang tengah.


"Dasar kau pria keparat!" seru Scarlet seraya menutup pintu kamar dengan suara bantingan. 


Fordrix tertawa mendengarnya. Ia meraih duduk di sofa depan TV. Hari ini ia memang sengaja berkunjung ke apartemen dua bersaudara tersebut untuk menonton film bersama.


Ia melirik pada seseorang yang mengambil duduk di sampingnya. Fordrix dapat memastikan bahwa wanita itu adalah Zerenity. Terlihat dari bagaimana pemilik walnut tersebut duduk dengan menyikukakan kedua lututnya ke kanan di atas sofa.


Sebelah tangan Fordrix segera terulur, bersandar pada kepala sofa di belakang Zerenity.


"Scarlet tak ikut menonton?" tanya Fordrix dengan mengambil popcorn karamel pada mangkok di pangkuan Zerenity.


"Sepertinya tidak." jawab Zerenity tanpa menoleh karena matanya sudah terjerat oleh tayangan film di depan mereka.


Sebenarnya Zerenity tahu, Scarlet ingin membiarkan saudaranya memiliki waktu berdua dengan Fordrix.


Zerenity mendesah berat, sebelum akhirnya turut memakan popcorn. Ia ingin rileks sesaat, menghibur diri, namun nyatanya pikiran Zerenity masih dipenuhi oleh penggalan-penggalan kalimat Russell yang menyakitkan. Hal itu terus mengitari kepalanya dan semakin membuat ia terluka tanpa henti.


Namun, ia segera menoleh ketika merasakan Fordrix mengusap rambutnya.


"Nikmati filmnya dan lupakanlah dia." pandang Fordrix lembut yang membuat Zerenity tak mampu untuk tidak mempersembahkan senyumnya untuk pria tersebut.


Fordrix selalu mengerti tentang dirinya. Andai saja pria itu mencintainya.


Mangkuk di pangkuan Zerenity segera Fordrix letakkan di atas meja sebelum akhirnya ia menarik wanita tersebut dalam rangkulannya. Zerenity dengan nyaman bersandar di dada Fordrix, sementara tangannya memeluk perut pria tersebut. Ia tersenyum ketika merasakan kecupan Fordrix di puncak kepalanya.


"Ford ...." Zerenity mendongak dengan jantung berdebar oleh pertanyaan yang sesaat lagi akan meluncur dari bibirnya. Rasa ingin tahu dan takut kecewa segera menyergapnya.


"Ya?"


Kedua mata mereka bertemu.

__ADS_1


"Mengapa aku sampai saat ini tak pernah melihatmu berkencan dengan seseorang?"


Fordrix terdiam sesaat, kemudian tersenyum.


"Karena aku telah memilikimu."


Seketika Zerenity hanya mampu terdiam dengan pupil melebar dan jantungnya yang semakin bertalun.


Bibirnya ingin sekali kembali melepas tanya oleh pernyataan Fordrix. Apakah saat ini pria itu tengah menyatakan perasaannya? Zerenity takut apabila ia terlalu percaya diri dan berakhir dengan kekecewaan jika ia salah memahami maksud dari perkataan pemilik mata hazel tersebut, namun ia tak mampu menutupi rasa bahagia hingga senyumnya kembali terbit tanpa mampu berujar.


Fordrix kembali mengusap rambut Zerenity bersamaan dengan pancaran matanya yang selalu teduh untuk wanita tersebut.


Sesaat kemudian keduanya kembali tenggelam dalam film yang mereka tonton dengan perasaan Zerenity yang terasa lebih ringan dari sebelumnya berkat pernyataan Fordrix.


"Scarlet tampaknya benar-benar menyukai Jake." celetuk Fordrix setelah film usai.


"Ya, aku turut bahagia dengan hal itu." Zerenity menoleh dengan senyuman lembutnya.


Fordrix kembali membelai rambut brunette itu. Zerenity memang tak pernah membenci pria-pria yang pernah bersama Scarlet. Tak seperti dirinya.


"Apa pendapatmu tentang Jake?"


Walnut Zerenity merangkak memandang langit-langit apartemen sesaat. "Iya pria yang baik, menyenangkan, dan lucu." Zerenity terkekeh ketika bayangan gerutuan Jake muncul di benaknya saat pria itu memperlihatkan wajah bencinya pada kayu manis serta celetukan-celetukan gurauan rayuan yang membuat ia tertawa.


Zerenity menjatuhkan matanya pada Fordrix namun ia kali ini melihat raut pria itu yang sedikit dingin.


"Benarkah? Aku tak melihatnya demikian." Fordrix memutus pandangan mereka. "Ia lebih terlihat seperti pria brengsek yang memiliki banyak wanita."


Zerenity terdiam mengamati raut wajah Fordrix baik-baik. Ia jelas mendengar nada benci yang terselip di bibir pria itu, lebih dari sekedar berkomentar.


Fordrix menoleh dengan hazelnya yang tajam, namun kemudian melunak ketika bertemu dengan walnut milik Zerenity. "Aku tak menyukai ia berada di sekitar kalian, terlebih di dekatmu."


-------------------


Jake berdiri tak jauh dari Scarlet yang tengah berbicara dengan beberapa pengunjung galeri di depan sebuah lukisan karya wanita tersebut.


Ia segera mengembangkan senyumnya ketika manik legamnya bertemu dengan pandangan Scarlet, sesaat setelah para pengunjung tersebut berlalu.


"Selamat untuk terjualnya lukisanmu." puji Jake ketika ia sudah sampai tepat di depan Scarlet seraya menyodorkan sebuket bunga yang segera diterima oleh Scarlet dengan senyuman.


"Maaf aku terlambat datang."


Scarlet menggeleng. Tak keberatan sama sekali dengan keterlambatan pria tersebut, bahkan ia bersyukur karena dengan begitu, Fordrix tak akan tahu jika ia benar-benar mengundang Jake. Zerenity juga telah pergi, sehingga saat ini Scarlet ingin benar-benar memanfaatkan waktunya bersama dengan pria tampan yang menggairahkan tersebut.


Jake melarikan matanya pada lukisan di depannya. Sebuah lukisan yang membuat Jake harus bekerja keras untuk mencernanya. Lukisan itu seperti bayangan kepala, namun di depannya ada sepasang bola mata yang saling bertatapan dengan siluet seseorang. Lukisan itu terlihat begitu rumit, namun Jake sangat menikmati oleh sapuan perpaduan warna di dalamnya yang begitu indah, serta kombinasi goresan kuas yang tajam dan juga halus di beberapa bagian.


Sementara itu, Scarlet tak bisa untuk tak mencuri pandangan pada pakaian pria itu yang malam ini tampak begitu elegan namun tetap terkesan santai ciri khasnya.


Jake memakai setelan kemeja slimfit biru gelap yang mencetak samar ototnya dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, membuat ia tampak begitu seksi di mata kaum wanita.


Tak sedikit Scarlet menemukan beberapa pasang mata wanita yang memandang ke arah Jake dengan lirikan mendamba.


Ya, prianya memang begitu menggoda. Terlebih dengan posisi berdiri,Scarlet dan Jake yang begitu dekat, ia dapat serakah mencium wangi parfum Jake yang memikat. Ingin rasanya aroma itu menempel di tubuhnya saat ini juga. Jake memang selalu membuat diri Scarlet berdenyut.


Pipi Scarlet memerah karena darah di dalam tubuhnya telah memanas hanya dengan memandang Jake.


Pria itu menoleh pada Scarlet dan mengembangkan senyuman menggoda. Ia tahu apa yang diinginkan wanita tersebut.


Sorot legam Jake berpendar pada pakaian yang tengah Scarlet kenakan. Ia mengenakan rok mini berwarna hitam yang dipadukan atasan berwarna perak tanpa lengan dengan bagian belahan dada berpotongan deep line yang mencapai perut.


Cukup seksi meskipun ukuran dadanya bukanlah tipe seorang Jake, namun entah mengapa Jake selalu menikmati ketika pandangannya menjelajahi tubuh Scarlet. Wanita itu memiliki daya pikatnya sendiri, dan Jake tak bisa menyangkal. Sial!


Scarlet dan Jake melangkah menyusuri lukisan demi lukisan, namun keduanya tahu, bukan ini yang mereka butuhkan sekarang.


Jake berkali-kali mengumpat untuk menghalau daya pikat Scarlet. Targetnya adalah Zerenity, bukan Scarlet. Ia tak ingin langkahnya menjadi terjal untuk mendapatkan wanita itu.


Namun berkali-kali ia melihat bibir merah merekah itu, berkali-kali itu pula ia ingin ********** dan merabakan tangannya di bokong Scarlet. Terlebih Jake sudah beberapa hari ini tak bercinta karena masalah pada cabang bar yang benar-benar memakan waktunya. Ia butuh mengeluarkan energi panas yang telah tertahan.


Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menabrak Scarlet, hingga wanita tersebut memekik terkejut dan terhuyung ke tubuh Jake. Pria itu spontan memeluk pinggang Scarlet.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja," kata orang tersebut, namun kemudian segera berlalu.


"Kau tak apa?" Jake menunduk memandang Scarlet yang tengah mendongak ke arahnya.


Scarlet ingin marah pada orang yang menabraknya tadi, namun posisi ia dan Jake saat ini yang begitu intim, telah mengaburkan rasa kesalnya.


"Tak apa," jawab Scarlet dengan jantung berdebar kuat.


Keduanya terdiam oleh sorot pandang yang sama-sama saling membakar hasrat. Jake mengelus punggung Scarlet perlahan. Oh! Sentuhan itu begitu ringan, namun mampu semakin membangkitkan gelora di tubuh Scarlet.


Scarlet membalas dengan mengusap dada Jake yang keras, membuat Jake kembali mengumpat dalam hati. Sentuhan sederhana itu terasa begitu tajam, merajuk.


Persetan dengan Zerenity, ia bisa memikirkannya nanti!


Tanpa pikir panjang, Jake segera menarik Scarlet menjauh dari pusat ruangan. Sementara Scarlet mengikuti Jake dengan kebingungan yang menyentak.


Jake segera membawa Scarlet pada nursery room dan menguncinya.

__ADS_1


Napas Scarlet terputus-putus ketika Jake mengikis jarak di antara mereka, hingga ia hanya mampu bersandar pada tembok marmer yang terasa dingin.


Tangan Jake mencengkeram lembut pinggang Scarlet, sementara sebelah tangannya membelai pipi wanita tersebut.


Mengapa sentuhan yang terasa seperti serangan ini datang begitu cepat? Tidakkah pria itu tahu bahwa tiap gerakan yang diciptakannya selalu menjadi kelemahan yang didamba oleh tubuh Scarlet?


Scarlet membasahi bibirnya, "apa yang kau inginkan, Jake?" bisik Scarlet sensual.


Jake kembali merasakan jemari lentik Scarlet di dadanya. Sesekali memainkan kancing kemeja Jake yang terbuka.


"Memberi ucapan selamat atas pencapainmu dengan cara yang berbeda," balas Jake berbisik tepat di telinga kanan Scarlet dan mengembuskan napasnya perlahan di sana.


Scarlet seketika terpejam. Tubuhnya meremang. Terlebih tangan Jake mulai bergerak perlahan di punggungnya.


Aroma tubuh pria itu kini benar-benar menyelimuti tubuh dan penciuman Scarlet, melumpuhkan sarafnya di dalam sana.


"Benarkah?" pasrah Scarlet dengan menengadahkan kepalanya. Membiarkan Jake menyusuri lehernya dengan sapuan hidung pria tersebut. Napas hangat yang berembus di sepanjang lehernya benar-benar seperti sebuah bara yang sengaja Jake taburkan.


Jake tersenyum miring ketika ia merasakan penyerahan pada sebelah tangan Scarlet yang memeluk pinggangnya. Ia tahu Scarlet begitu menginginkannya dan Jake tak akan melewatkan hal tersebut. Jake benar-benar tak bisa menahan lagi untuk melepaskan hasratnya yang telah terkurung beberapa hari ini.


Jake mendekatkan bibirnya dan segera mencium Scarlet. Menyesap bagian atasnya dengan lembut namun penuh tuntutan.


"Ehm ...." desah Scarlet tertahan ketika membukakan gerbang untuk lidah Jake dan di saat itu pula, tubuhnya terasa lemas oleh penerimaan ciuman Jake yang luar biasa.


Jake benar-benar seorang yang handal dan pencium yang ulung. Setiap gerakan bibir dan lidah Jake seakan menarik Scarlet untuk menjelajahi hasrat di dalam sana. Segala sesap dan lumatannya begitu lihai membawa nikmat. Scarlet membalasnya, tak ingin ini segera berlalu.


Sebelah tangan Jake menaikkan satu kaki Scarlet dan wanita itu dengan sigap, melilitkan kakinya pada Jake di tengah-tengah ciuman mereka yang semakin mendesak.


Tangan Scarlet mulai bergerak liar di dada keras nan bidang milik Jake. Merayap, menyusurinya, menunjukkan bagaimana tubuhnya begitu menginginkan seorang Jake.


Sementara itu, Jake menyusuri paha mulus Scarlet sebelum tangannya semakin menelusup ke dalam rok dan berlabuh pada bokong yang hanya terbalut g-string. Jake tersenyum puas dalam ciumannya. Tangannya semakin bebas bermain di sana.


Napas Scarlet semakin terputus. Jantungnya berdentum, darahnya deras mengalir di tubuh bagian bawahnya yang berdenyut kala Jake semakin merapatkan dirinya tanpa celah.


Mereka berdua saling mengubah sudut kepala dengan tempo ciuman yang semakin tak terkendali. Terlebih sebelah tangan Jake menangkup puncak Scarlet, membuat wanita itu mendesah di dalam bibir seksi Jake.


Scarlet tak ingin berhenti, begitupun Jake. Ia mencengkeram tengkuk Jake dan mengacak rambut pria itu karena tak kuasa oleh gulungan rasa yang menggila.


Namun, tidak. Scarlet tak boleh membiarkan Jake mendapatkan ia dengan cepat. Kesadaran Scarlet perlahan kembali ketika jemari Jake mulai masuk ke dalam pakaiannya. Memainkan jemarinya di sana.


Ah, tapi itu terlalu nikmat! Umpat Scarlet. Matanya terpejam menerima serangan dan kecupan-kecupan Jake yang telah turun ke lehernya.


Pria itu berhasil membuat lutut Scarlet lemas. Jika saja pria itu tak menghimpitnya ke dinding, mungkin Scarlet sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Bibir Jake seakan menyesap energinya dan menggantikan dengan rasa panas yang menjalar menembus nadi.


Scarlet menarik napas dalam, merutuki tekatnya sendiri sebelum akhirnya ia mendorong dada Jake menjauh.


Jake tersengal, wajahnya memerah hasrat. Mata Scarlet memanas, baru menyadari bahwa Jake berkali-kali terlihat seksi dengan wajahnya yang demikian. Bagaimana jika nanti pria itu mendapatkan pelepasannya? Ah! Tubuh Scarlet kembali berkedut-kedut basah membayangkannya. Tapi tekatnya sudah bulat. Scarlet tak akan membiarkan ini berlanjut dengan mudah.


Scarlet mendekatkan wajahnya, membelai bibir berkilat saliva Jake dengan ibu jari. Oh bibir itu memang benar-benar nikmat rupanya.


"Terima kasih untuk ucapan selamatnya yang menyenangkan." Scarlet tersenyum menggoda, lalu berbisik. "Tidak malam ini, Sayang."


Ia mengerling. Membereskan pakaiannya dengan cepat, kemudian berlalu meninggalkan prianya yang panas.


Jake terdiam memandang pintu kemudian terkekeh. Ia mengusap wajahnya dan menggeleng tak percaya.


Wanita itu berani menyudahi permainan panas mereka yang bahkan baru akan dimulai?


Lagi, ia benar-benar tak habis pikir ada wanita yang meninggalkannya dikala seperti ini. Jake tersinggung? Ya! Namun, lebih dari itu Jake justru semakin ingin meruntuhkan pertahanan Scarlet. Ia akan membuat Scarlet membayarnya berkali-kali nanti.


Jake merapikan pakaian serta rambutnya, kemudian keluar dari ruangan. Dalam langkahnya, ia mantap untuk mendapatkan saudara kembar tersebut. Bukankah ini akan sangat menarik?


Ia meraih ponselnya dari saku dan menghubungi salah seorang model yang sempat berkenalan dengannya kemarin.


"Hai, Baby. Ingin bersenang-senang malam ini? .... Oke, sampai jumpa di sana."


...To Be Continue...


CAST:


- Scarlet Robinson



- Jake Ryver



- Zerenity Robinson



- Fordrix



Thank you sudah baca sampai chapter ini.

__ADS_1


Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_


__ADS_2