
Enjoy!
---
Mereka berbagi napas tipis, enggan untuk memisahkan bibir mereka yang telah merindu lama. Ciuman Russell masih begitu manis, namun Zerenity mampu merasakan getaran yang buas terselip dalam kelembutan Russell ketika ******* bibir atas dan bawahnya secara bergantian serta gerakan lidah yang membawanya melambung.
"Kita memang tidak seharusnya berpisah mi Angel, yang seharusnya pergi adalah Scarlet."
Seketika Zerenity membuka mata, mendorong tubuh Russell dengan keras hingga pelukan mereka terurai.
"Apa maksudmu, Rush?!"
---------------------
"Kau tahu apa maksudku," pandang Russell nanar.
Zerenity tak mengerti mengapa Russell memberikan tatapan nanar seperti itu sementara perkataannya menikam jantung Zerenity?
"Dia saudaraku, Rush," ujar Zerenity nyaris merintih karena ini terasa lebih menyakitkan di banding ucapan perpisahannya dulu.
"I know, but ...." Russell meraih kedua lengan Zerenity namun wanita itu segera mundur.
"Mengapa kau menginginkan ia pergi? Apa karena perkataannya yang selalu frontal dan sikapnya yang agresif? Apa itu mengganggumu? Dia saudaraku, Rush. Bagaimana kau dapat setega itu menginginkan kami berpisah?"
"Mi Angel. Kau memiliki aku. Kau tak ingat bagaimana kita melalui lima tahun bersama? Aku ada untukmu, aku dapat melindungimu, kau dapat mengandalkan apapun padaku, aku dapat membahagiakanmu. Kau dan aku tak membutuhkan Scarlet."
Zerenity menutup mulut tak percaya oleh perkataan Russell. Bagaimana kalimat demi kalimat menyakitkan itu dapat terucap dari bibir seorang Russell?
"Inikah alasanmu meninggalkanku dulu? Karena keberadaan Scarlet?" lirih Zerenity.
Russell mengangguk perlahan dengan sorotan mata yang tak mampu lagi Zerenity artikan karena tubuhnya tiba-tiba terasa tak berdaya. Zerenity kembali mundur beberapa langkah hingga pinggangnya menabrak meja. Ia menumpukan kedua tangannya di sana, sementara maniknya lemah memandang Russell.
"Mengapa, Rush? Apakah jika aku memintamu untuk meninggalkan Vello, kau mau melakukannya?"
Kedua tangan Russell terkepal. Ia berderap mendekat. "Scarlet dan Vello berbeda."
"Mereka sama-sama saudara perempuan, Rush!" bentak Zerenity tak mampu membendung desakan panas di dadanya.
"Mi Angel ...." geram Russell tertahan.
"Pergilah, Rush. Aku mohon. Aku tak ingin kembali membentakmu. Luka yang kau berikan sudah lebih dari cukup."
Zerenity tertunduk, tak ingin menatap wajah pria itu.
Kembali Zerenity dengar suara geraman Russell. "Aku terbang kemari hanya untuk menemuimu! Tak bisakah kau menghargai keberadaanku dan berhenti untuk selalu membela Scarlet?" bentak pria bermata kelabu tersebut.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?" lirih Zerenity tanpa menatap Russell yang saat itu telah diselimuti amarah di sekujur tubuhnya.
Dulu Zerenity akan selalu mendekapnya kala ini terjadi, namun saat ini hatinya benar-benar berdenyut nyeri. Apakah selama lima tahun Zerenity tak cukup menghargai Russell? Bagaimana bisa Zerenity tak membela saudaranya sendiri? Scarlet tak pernah berbuat salah apapun pada Russell.
Zerenity mendongakkan kepala perlahan untuk mencari secercah jawaban atas ketidakmampuannya memercayai perkataan Russell.
"God! Zeren!" Russell mengusap kasar wajahnya yang memerah. Ia melangkah cepat lalu mencengkeram kedua lengan mantan kekasihnya. Zerenity dapat mendengar deru napas pria itu yang memburu.
"Kau tahu betapa aku sangat mencintaimu," ujar Russell dengan suara rendah, sementara maniknya menatap Zerenity tajam, namun Zerenity dapat melihat luka di matanya yang tak ia ketahui karena apa.
"Hargai perasaanku, mi Angel. Hargai posisiku sebagai pria yang selalu ada di sisimu selama lima tahun kita bersama. Apakah waktu selama itu tak cukup membuatmu yakin bahwa aku lebih dari cukup untukmu?"
Zerenity benar-benar tak mengerti. Tentu ia begitu yakin pada Russell, namun bukan berarti hal itu membuatnya merasa layak untuk meninggalkan saudaranya sendiri. Russell memiliki saudara, Zerenity rasa pria itu lebih dari tahu arti sebuah persaudaraan.
Sungguh, perkataan Russell juga melukainya, seakan Zerenity tak pernah sekalipun menghargainya. Dulu, Russell selalu menjadi prioritas dan pusat kebahagiaan Zerenity. Apa yang pria itu katakan seakan Zerenity adalah wanita yang buruk, sementara ia telah memberikan seluruh hidupnya untuk Russell.
Manik kelabu itu kini berkilat api, sementara pundaknya naik turun karena napasnya yang memburu oleh amarah.
Zerenity memilih menunduk karena tak sanggup melihat emosi Russell yang turut merobek batinnya.
Russell menghempaskan tangannya dari kedua lengan Zerenity dan ia lihat ujung sepatunya yang perlahan menjauh. Pelan, Zerenity memberanikan diri mendongak dan ia melihat Russell sudah berada di dekat pintu. Pria itu menyugar rambutnya dengan kasar.
BRAK!
Russell membanting apronnya ke meja lalu menggenakan coat-nya dengan kasar. Sebelah tangannya merogoh saku celana yang seketika membuat Zerenity lemas, karena ia mendapati Russell mengeluarkan sebuah cincin dan memasangnya di jari manis. Russell tak menyadari bahwa Zerenity melihat hal menyakitkan itu.
Pria itu melangkah lebar dan bersamaan dengan suara pintu dapur yang tertutup, tubuh Zerenity merosot ke lantai.
Jadi Russell telah menikah? Lalu apa maksudnya dengan semua perlakuannya tadi? Mengapa Russell juga tega meminta saudara Zerenity untuk pergi?
Pertubi-tubi Zerenity di serang oleh pertanyaan yang menusuk kepala dan dadanya, hingga ia meringkuk memeluk lututnya.
Zerenity tak mampu menahan kesakitan ini. Rasa ini seakan pisau tumpul yang mencoba menusuk jiwanya. Memaksa dan menghunjam keras tanpa memberi pengampunan pada luka yang ia kira telah terobati oleh Russell.
Tangannya bergetar kala melepas ikat rambut dan membawa rambutnya ke sebelah pundak. Zerenity menyisir rambutnya sendiri dengan sela jari, sedang pandangannya kosong bersama hati yang terasa hampa dengan luka bernanah di dalamnya.
--------------------------
Suara informasi penerbangan serta lalu lalang orang-orang yang menggeret koper, mengiri langkah kaki Jake.
Ia baru saja tiba di bandara LaGuardia, bandara yang paling dengan penthousenya di Manhattan. Jake baru kembali dari Oregon, mengunjungi beberapa barnya yang berada di sana.
Senyum menggodanya terlempar pada beberapa pramugari yang berpapasan dengannya. Beberapa dari mereka tersipu malu dan beberapa lainnya balas melempar senyum menggoda pada Jake. Pria itu tertawa dalam hati mendapat hiburan dari wajah cantik mereka.
__ADS_1
Masih Jake ingat ketika dalam pesawat seorang pramugari beberapa kali sengaja melewati kursinya dan menanyakan hal-hal yang mungkin dapat ia bantu, sementara Jake tahu itu hanyalah alasannya saja. Jake menikmati hiburan itu, ia melempar senyum menggoda pada pramugari itu dan wanita itu semakin gencar mencuri perbincangan dengannya, terlebih ketika akhirnya pramugari tersebut memberikan secarik kertas berisi nomor ponselnya pada Jake.
Begitu mudahnya, bahkan Jake tak perlu bersusah payah mengejar. Ia mencoba ingat kembali wajah itu dan Jake mendapati wanita tersebut memang cantik dengan bentuk tubuh yang seksi. Namun sayang, Jake tak akan mengabulkan mimpi panas peamugari itu karena Jake sudah membuang kertas itu tepat ketika ia turun dari pesawat. Wanita sampah.
Jake membelokkan tubuh, berniat memasuki kafe untuk memesan minuman, namun langkahnya melambat ketika melihat wanita yang jelas telah ia kenal. Wanita berambut brunette itu berjalan berlawanan arah dengannya, keluar dari kafe dengan membawa paper cup minuman, sedang tangan lainnya menggeret koper.
Manik legam Jake memperhatikan pakaian wanita itu dari bawah hingga atas untuk meyakinkan diri siapa wanita bermata walnut di depan sana. Wanita tersebut mengenakan coat cokelat serta kemeja putih yang ia masukkan ke dalam celana jeans biru terang.
Scarlet atau Zerenity? Ketika ia menggerakkan jemari dan menyelipkan anak rambut ke balik telinganya dengan lembut, entah mengapa Jake yakin bahwa ia Zerenity.
Senyum Jake mengembang dan memilih melangkah kearahnya di banding niat awal Jake untuk masuk ke dalam kafe. Zerenity menyadari keberadaan Jake karena manik walnut itu sibuk melihat ke arah samping.
Jake memperhatikan paper cup yang ia bawa. Jika Jake sengaja membuat mereka bertabrakan dan isi dari minuman itu tumpah ke kaus putih yang tengah Jake kenakan, ia rasa mereka akan memiliki alasan kuat untuk bertemu lagi di lain hari, karena ia yakin Zerenity akan berupaya mencuci kausnya nanti.
Langkah kaki Jake semakin mantap berjalan ke arahnya dan ....
BRAAK!
"Ya Tuhan!" Zerenity memekik memandang minuman berwarna cokelat itu tumpah membasahi kaus putih Jake.
Damn! Minuman ini lumayan panas.
"Jake?" manik walnut itu semakin membulat ketika pandangannya merangkak mencapai wajah Jake.
"Zeren ... Scar?" tanya Jake tak yakin karena suara pekikan itu membuat ia bingung mengenali saudara kembar tersebut.
"Aku Zerenity. Maafkan aku yang tak hati-hati saat berjalan. Bodohnya aku."
Zerenity meraih tisu dalam tasnya dengan buru-buru, kemudian mengusapkan ke kaus Jake, berusaha mengeringkan serta membersihkan noda yang jelas-jelas tak mungkin dapat hilang dengan tisu itu. Jake menyembunyikan bibirnya menahan senyum.
Zerenity mendongak dan Jake dapati wajah itu terlihat sangat khawatir. Dalam satu waktu raut wajah itu mengingatkan Jake terhadap Vello ketika istri sahabatnya itu melihat wajah Jake yang dulu penuh luka.
Mengapa Zerenity selalu berhasil memunculkan bayangan Vello dalam tubuhnya? Sialan! Vello, Jake merindukanmu.
"Apakah kulit perutmu tak apa-apa? Minuman cokelatku tadi masih panas."
Jake semakin menyembunyikan bibirnya melihat kekhawatiran Zerenity. "Yeah, itu cukup panas."
Manik walnut itu semakin melebar dengan raut penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku, aku benar-benar tak sengaja. Kuharap kulitmu tak sampai melepuh." ia terus mengusap kaus Jake.
"Apakah kau ingin mengeceknya?" Jake menaikkan satu alisnya, menggoda.
"Apa?" Zerenity mendongak heran.
"Aku bisa membuka kausku agar kau dapat melihat apakah kulitku melepuh atau tidak." menggoda di tengah raut khawatir Zerenity tiba-tiba terasa menyenangkan.
"Benarkah?" kekhawatiran itu semakin menyita wajah Zerenity
"Kau harus mengeceknya." Jake meraih ujung kausnya dan menaikkannya perlahan.
"Jangan di sini!" ia cepat-cepat menurunkan kaus Jake.
"Oh kau ingin di tempat sepi yang hanya ada kita berdua? Baiklah."
"Apa? Bukan begitu!" raut khawatir bercampur salah tingkah Zerenity membuat Jake benar-benar tak kuasa meledakkan tawa.
Tawa Jake lolos yang disambut oleh keheranan Zerenity
"Kau benar-benar lucu. Jangan terlalu khawatir seperti itu. Kulitku tak mungkin sampai melepuh," ujar Jake dengan jejak tawa.
"Kau yakin?"
"Jika kau tak yakin, aku dapat dengan senang hati membuka kausku untukmu," jawab Jake dengan wajah jenaka yang langsung membuat wajah Zerenity memerah.
"Tidak, tidak perlu. Aku percaya."
Jake tersenyum menyambut wajah malu wanita itu.
"Kalau begitu biarkan aku membelikan baju dan mencuci kausmu." Zerenity memperhatikan penuh rasa bersalah kaus putih Jake yang sudah ternoda banyak cairan cokelat.
Jake tersenyum lebar. See? Sesuai rencananya.
"Tak perlu. Aku tak ingin merepotkanmu. Aku cukup mengenakan jaket untuk menutupi noda ini." Jake meraih jaket yang memang tengah ia bawa bersama kopernya.
"Tidak, tidak. Aku tak repot sama sekali."
"Baiklah."
Kau memang jenius, Jake!
Merekapun berjalan menuju sebuah toko baju tak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
Zerenity dan Jake memasuki toko baju tersebut dan segera disambut oleh sederet kaus-kaus yang bertuliskan New York, Manhattan dan LaGuardia. Yeah, karena letak toko ini berada di dalam bandara, tentu lebih banyak pakaian yang ditujukan sebagai souvenir.
Jake mengikuti Zerenity dari belakang yang sibuk memilih kaus untuknya. Sesekali ia menoleh pada pria bermata legam tersebut.
"Mengapa?"
__ADS_1
"Sepertinya ukuran tubuhmu tidak berbeda dengan Ford."
"Ford?"
"Ya, sahabatku yang sempat berkenalan denganmu saat di Robin's."
"Oh," respon Jake singkat karena ia baru mengingat nama calon rivalnya.
Zerenity meraih sebuah kaus polos dengan satu kantong di bagian dada kanan. Ia membawa kaus itu ke depan Jake, mengamatinya.
"Burgundy?"
Zerenity tersenyum manis, lagi-lagi mengingatkan Jake pada Vello.
"Kurasa warna ini cocok."
"Oke." Jake balas tersenyum.
Sebenarnya ini kali pertama seorang wanita memilihkan pakaian untuk Jake, dan pria menyukai apa yang Zerenity pilihkan untuknya.
Senyum Zerenity kembali terukir ketika Jake keluar dari fitting room dengan memakai kaus burgundy pilihannya.
"Kau harus mau menerima traktiran minum denganku karena kau tak membolehkanku untuk membayar kaus ini," ujar Jake beralasan agar mereka dapat sering bertemu.
Zerenity tertawa kecil, tawa seorang Vello. "Bagaimana aku bisa membiarkanmu membayar sedangkan itu bentuk tanggung jawabku."
"Baiklah aku menyerah," Jake terkekeh.
Mereka beriringan keluar dari toko dengan Zerenity yang menenteng kantong plastik berisi kaus putih Jake yang akan ia cuci.
"Kau pulang naik apa? Kita bisa pulang bersama jika kau mau." tanya Jake ketika mereka berjalan mengarah keluar bandara.
"Aku -"
"Zeren."
Belum sempat Zerenity menjawab pertanyaan Jake, seorang pria memanggilnya dengan berlari kecil ke arah mereka, Fordrix.
"Maaf aku telat. Kau pasti telah menunggu lama," ujar Fordrix dengan napas tersengal.
Zerenity menggeleng pelan, "tidak."
Fordrix tampak sedikit lega kemudian menoleh ke arah Jake. Mereka bersalaman dan Zerenity menjelaskan pada pria itu mengapa mereka bisa bertemu di sini.
"Kutebak Zeren yang memilihkan warna kaus itu untukmu."
"Ya," Jake tersenyum, terselip rasa bangga karena wanita yang Fordrix sukai memilihkan pakaian untuk Jake. Sorry brother. Jake terkekeh dalam hati.
Fordrix tertawa kecil kemudian mengacak rambut Zerenity. "Kau selalu saja memilihkan warna burgundy. Untung bukan aku yang membeli kaus itu karena seisi walk in closet-ku sudah hampir penuh dengan warna burgundy pilihanmu."
Tunggu ... apa? Jadi warna itu Zerenity pilih bukan karena menurutnya cocok untuk Jake? Tapi karena itu warna yang biasa ia pilih untuk Fordrix?? What the f*ck!
"Mau bagaimana lagi, warna burgundy selalu terlihat bagus." Zerenity terkekeh yang entah mengapa menjadi terdengar menyebalkan di telinga Jake.
Wajah Fordrix tiba-tiba melunak. Ia merapikan rambut Zerenity.
"Jangan berpura-pura ceria. Sudah kubilang untuk pergi bersamaku jika akan ke London. Mengapa kau begitu nekat, huh?"
"Aku tak apa, Ford." Zerenity berusaha mengembangkan senyumnya.
"Kemarilah." Fordrix menarik Zerenity masuk dalam rengkuhannya.
Oh c'mon! Haruskan Jake berada di tengah-tengah drama mereka berdua? Terlebih Jake tak tahu apapun yang tengah mereka bicarakan.
"Aku tak apa-apa, Ford. Aku baik-baik saja," ujar Zerenity seraya mempererat tangannya di pinggang Fordrix yang sesungguhnya ia hanya sedang menguatkan dirinya sendiri.
Jake memalingkan wajah dengan malas karena ia seperti tak ada di antara mereka. Benar-benar sialan!
...To Be Continue...
CAST:
- Jake Ryver
- Zerenity Robinson
- Fordrix
- Russell Guerrero Shawn
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
__ADS_1
Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_