Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 8


__ADS_3

Enjoy!


---


Scarlet membaca kata demi kata yang Zerenity taburkan dalam diary mereka. Hatinya sesak mengetahui kejadian di London. Russell kembali tega mempermainkan hati saudaranya dan menjadikan Scarlet sebagai alasan. Pria itu benar-benar brengsek!


Dada Scarlet bergemuruh, jemarinya terkepal. Sudah cukup kesakitan yang di dapat Zerenity selama ini, mengapa pria seperti Russell harus kembali menorehkan luka pada saudaranya?


Scarlet beranjak dari ranjang, menutup diary mereka dengan mengembuskan napas berat. Ingin Scarlet mendekap Zerenity dengan erat dan menjauhkan segala orang jahat di sekitarnya. Saudaranya layak mendapatkan kebahagian murni.


Kini, hanya tersisa Fordrix yang menjadi harapan Scarlet untuk dapat membahagiakan Zerenity. Namun mengapa pria itu tak kunjung memberikan Zerenity kepastian?


Manik walnut Scarlet melirik pada paperbag hitam di dekat nakas, kemudian ia tersenyum mengingat pesan Zerenity untuk mengantarkan kaus milik Jake.


Nadinya seketika bergetar ketika melafalkan nama Jake di dalam jiwanya. Kali ini bahkan Scarlet memiliki alasan kuat untuk bertemu dengan Jake.


Bibir berlapis lipstick merahnya menyunggingkan senyum lebar kala mengingat permintaan Zerenity tadi pagi. Scarlet tahu, saudaranya tidak hanya memberinya kesempatan besar untuk bertemu dengan Jake, namun saudaranya juga ingin menyembunyikan diri sesaat dari orang lain. Scarlet mengerti, Zerenity selalu membutuhkan ruang untuk merasa terasing.


Scarlet memandang pantulan dirinya di dalam cermin untuk memastikan penampilannya benar-benar siap untuk menerjang panasnya seorang Jake.


Mini dress biru gelap dengan V line pada bagian dada yang berpotongan rendah, melekat dengan sempurna di tubuhnya. Sementara tangannya terbalut oleh potongan kain berlengan panjang.


Ya, Scarlet siap menggoyahkan perhatian Jake pada dunia. Segera ia meraih mini slingbag hitam dan paperbag berisi kaus putih pria itu, lalu kaki jenjangbya melangkah keluar kamar.


Baru saja Scarlet membuka handle pintu apartemen ketika maniknya melebar melihat sosok pria di ambang pintu. Saat itu juga api dalam dadanya yang sempat redup, menyala.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tak ada nada ramah yang dapat Scarlet berikan untuk seorang Russell yang berdiri di hadapannya.


"Panggil Zeren. Aku ingin bicara padanya," pandang Russell tajam dengan suara tak bersahabat pada Scarlet.


"Setelah apa yang kau lakukan padanya di London, kau ingin berbicara padanya? Jangan harap, Rush!" Scarlet berdecih, "bukankah harusnya kau berbicara denganku?"


Iris kelabu milik Russell mengamati pakaian yang sedang Scarlet kenakan, kemudian menatapnya tajam ketika mata mereka bertemu.


"Tak ada yang perlu aku bicarakan pada orang sepertimu."


PLAAK!


Tangan panas Scarlet mendarat pada pipi pria tersebut. "Harusnya itu yang kau dapatkan dari Zeren!"


Russell memegang pipinya yang memerah dan pandangannya semakin menyorot Scarlet.


"Sampai kapan kau akan di sini, Scar? Zeren bisa melakukan tamparan ini tanpa bantuan darimu, jika ia ingin."


"Aku akan selalu berada disisinya, melakukan apa yang tidak ia mampu lakukan pada orang lain dan jangan harap untuk bisa menyakitinya lagi!"


Russell menggeram, mencengkeram kedua lengan Scarlet. "Aku mencintai Zeren lebih dari apapun! Kau tahu aku selalu siap melindunginya!"


"Lalu mengapa kau justru meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain?" pandangan Scarlet menembus mata Russell yang berapi.


Manik Russell membulat seketika dan Scarlet segera terkekeh.


Scarlet meraih kerah baju pria itu dan mencengkeram erat. Emosinya bagai air yang telah mendidih.


"Kau pikir kami tak tahu? Kau benar-benar telah menjadi pria brengsek, Rush!"


Gigi Scarlet menggeletuk merasakan penyesalannya. "Harusnya dulu aku tak memercayakan dirimu untuk Zeren."


"Kau pikir kau siapa? Berhentilah ikut campur dalam hubunganku dengannya. Apakah kau tak sadar diri, Scar?"


"Apa maksudmu?"


"Segala perilakumu yang membuat hubungan kami hancur, tapi Zeren selalu membelamu!"


Scarlet berdecih, mengeratkan cengkeramannya di baju Russell dan menarik tubuh itu hingga bibir mereka begitu dekat.


"Kau benar-benar pecundang, Rush," desisku.


Russell tersenyum sinis padanya, membuat Scarlet semakin muak. Russell mendekatkan bibirnya, hingga nyaris menyentuh bibir Russell, ia balas berdesis, "suatu saat kau akan menyadari bagaimana kehadiranmu yang justru menambah beban hidup, Zeren."


Russell melepas paksa cengkeramannya, kemudian berderap lebar menyusuri lorong. Meninggalkan jemari Scarlet yang bergetar karena ingin memukul wajah pria itu.


---------------------


Coat putih baru saja terlepas dari tubuh Scarlet dan ia genggam bersamaan dengan jemarinya yang terkait pada tali paperbag berisi kaus milik prianya yang seksi. Prianya? Oh, ijinkan Scarlet menyebutnya demikian meskipun pria itubelum menjadi miliknya, sebentar lagi, ya sebentar lagi dan harus.


Scarlet meneguk salivanya sendiri karena gugup ketika kakinya melangkah keluar dari lift dan berjalan ragu sekaligus mendamba menuju pintu cokelat di ujung sana.


Di dekat pintu tersebut terdapat sebuah meja yang tampak kosong. Sepertinya itu adalah meja dari sekretaris Jake. Akhirnya Scarlet memilih melangkah mendekat pada handle pintu meskipun kakinya terasa lemah karena kegugupan yang merasukinya.


Scarlet mengetuk pintu dengan hati berdebar dan mendengar suara Jake samar menjawab untuk mempersilakan masuk. Tuhan, bahkan suara samar Jake saja sudah berhasil membuat kerja jantungnya semakin berantakan.

__ADS_1


Ketika Scarlet berhasil membuka pintu dan menemukan Jake di balik meja di ujung sana, maniknya memanas, terlebih Jake mendongak dan tersenyum padanya.


Oh, bagaimana bisa Scarlet melewatkan pemandangan ini seumur hidupnya. Pandangannya dahaga menjelajahi sosok prianya di depan sana yang tengah mengenakan kemeja hitam dengan dasi merah yang sudah tampak longgar di lehernya, sementara Jake menggulung kemeja itu hingga mencapai siku, menampakkan tato yang semakin membuat ia terlihat seksual di mata Scarlet. Bahkan wajah lelahnya begitu menggairahkan.


"Scarlet?"


Suara khas Jake yang seksi dan begitu Scarlet dambakan, kini seakan memberiku hadiah dengan pria itu yang menyebut namanya. Jake, kau benar-benar menggoda.


"Hai ...." Scarlet mempersembahkan senyumnya yang memang sudah sepantasnya Jake dapatkan karena telah membahagiakan Scarlet dalam waktu sekejap oleh suaranya.


Jake bangkit dari kursinya. Melangkah mengitari setengah meja yang menjadi kekuasaannya dalam bekerja, kemudian ia berderap pasti dan jantan, menghampiri Scarlet dengan senyum tampannya yang membuat Scarlet tak mampu berpaling.


"Senang melihatmu."


Jake berhenti tepat di hadapan Scarlet, seakan tahu bahwa Scarlet tak akan mampu memandangnya jika kaki itu terayun selangkah lagi, karena Scarlet mendapati dirinya yang begitu lemah sekaligus berani jika terkait tentang Jake.


"Aku datang mengantarkan titipan Zeren untuk mengembalikan kausmu."


Scarlet bersyukur perkataannya dapat lolos dengan baik, meskipun rasanya benar-benar tercekat di ujung lidahnya karena pesona Jake terlalu membunuhnya. Sebelah tangan Scarlet menyodorkan paperbag yang segera diterima oleh Jake.


"Dia berpesan maaf karena tak bisa mengembalikannya sendiri."


"Tak masalah." lagi, senyum itu, kini membuat tubuh bagian bawah Scarlet berkedut.


Jake meletakkan paperbag itu di meja kecil dekat sofa, kemudian kakinya berderap menuju mini bar di sudut ruangan. Scarlet hanya mampu mengekori dengan matanya yang berkilat pemuja. Segala gerakan yang Jake ciptakan selalu tampak memesona bagi Scarlet.


"Apakah kau keberatan jika menemaniku minum?" Jake menengok, memperlihatkan tato di sisi leher dan anting berliannya. Ah, rasanya Scarlet ingin membelai tato itu dan meremangkan tengkuk Jake.


"Aku tak keberatan jika hanya satu gelas." Scarlet tersenyum pada Jake, tak mampu menolak dengan sedikit kebohongan. Scarlet bahkan rela menemani Jake hingga botol terakhir.


"Aku tak bisa berjanji." Jake terkekeh, menghibur Scarlet lagi dengan suara-suara pria itu yang selalu membuatnya mengalami ear orgasm.


Oh, Scarlet benar-benar ingin membuat pria itu mendesahkan namanya tepat di telinganya saat ini juga.


Jake bergerak piawai membuka sebotol wine dan menuangkannya pada dua gelas, kemudian ia berbalik, menyodorkannya pada Scarlet.


"Untuk pertemuan kita kembali."


Rupanya Jake masih mengingat perbincangan mereka saat itu. Seketika lutut Scarlet lemas. Ia hanya mampu tersenyum yang ia yakini dengan pipi merona. Sama sekali tak ingin seperti wanita lugu di depan pria itu, namun kalimat Jake benar-benar mengingatnya pada janjinya sendiri untuk membuat Jake terpenjara bersamanya.


Mereka bersulang dengan jari kaki Scarlet yang mengerut karena menahan diri agar tak menerjang Jake saat ini juga.


Mata mereka saling menjerat ketika meminum wine tersebut, dan terpaksa terputus saat Jake mempersilakan Scarlet duduk di sofa bersama dirinya, mereka begitu dekat, nyaris berhimpit.


Bagaimana Scarlet tak semakin menginginkan Jake dan semakin ingin membuat pria itu bertekuk lutut padanya jika seperti ini? Scarlet harus bisa mendapatkannya karena kepala Scarlet berdenyut-denyut oleh penasaran yang hebat dan ia meyakini pasti bahwa Jake memiliki rasa yang begitu nikmat. Pria itu digilai para wanita karena sebuah alasan kuat dan Scarlet ingin merasakan Jake dengan caranya.


Scaret telah mengetahui hampir siapa saja wanita yang pernah merasakan malam panas dengan Jake dan Scarlet selalu di serang rasa cemburu bersamaan dengan tekatnya yang semakin kuat untuk mendapatkan Jake


Jake, Scarlet akan berusaha menjinakanmu. Tunggulah dengan tenang dan puaskan dirimu pada wanita di luar sana sebelum kau tak dapat melihat mereka lagi setelah bersama Scarlet. Ya, itulah tekad Scarlet.


Ia bersumpah akan membuat Jake memohon dengan memanggil namanya di antara kedua kakinya yang mengapit wajah tampan Jake.


Membayangkan hal itu saja sudah membuat Scarlet gelisah dan basah.


Segera Scarlet usir angan-angan panasnya bersama Jake ketika pria itu bergumam rendah, memanggil nama Scarlet di gelas ketiga mereka.


"Scar ...."


"Ya?"


Scarlet memberanikan diri menyatukan pandangannya pada Jake meskipun ia harus mengalami napas yang terputus-putus. Menyesakkan, namun sensasi ini begitu candu.


Jake menggoyangkan wine yang masih tersisa di gelas bergagang tingginya. Mata legam itu jatuh sesaat di sana, namun sebelum Scarlet benar-benar merasa kehilangan oleh pandangan Jake yang panas itu, ia kembali membentangkan tali tatapannya pada Scarlet, tak hanya terbentang, namun pria itu mengikat kuat hingga Scarlet merasa bahagia tertawan oleh sorot mata Jake.


"Aku rasa kau harus memenuhi janjimu padaku."


Scarlet tersentak bersamaan dengan dadanya yang berdentum karena senang. Ia terkekeh, menunduk sesaat untuk menetralkan aliran darahnya yang deras karena mata Jake yang menguarkan rasa panas.


"Shall we go now?" mata Scarlet mengerling menggoda.


"Ya."


Walnut Scarlet dan pendengarannya terkesima pada kemantapan Jake dalam berujar dan mata legam itu yang berkilat hasrat. Bagaimana Scarlet dapat menolak Jake sementara tubuhnya begitu mendamba?


Scarlet mengangguk kemudian dan mereka segera meninggalkan gedung. Dalam perjalanan di mobil mewah Jake, Scarlet bersusah payah untuk tak sering menatap pria itu yang begitu jantan ketika mengendarai mobil. Tangan yang bertato itu begitu matang dan mantap menggenggam setir, sampai Scarlet ingin merasakan cengkeraman Jake yang sekuat itu di pinggangnya.


Berdua bersama Jake seperti ini benar-benar tak bisa membuat Scarlet tak menanti di mana Jake akan melebur di dalamnya.


Scarlet tak mampu memikirkan pria lain karena pesona Jake yang penuh hasrat terus menghantuinya.


Mereka berbincang beberapa kali, namun Scarlet tak bisa mengingat kalimat apa saja yang telah lolos dari bibirnya yang justru ingin selalu mengucap nama Jake.

__ADS_1


Bahkan jemari yang berada di pangkuannya berkeringat karena terus menyangkal pada kenyataan bahwa satu langkah mimpinya telah menjadi nyata saat ini. Ya, Scarlet masih sulit memercayai bahwa kini ia tengah duduk di kursi mobil Ferrari Jake, bersama pria itu yang tengah mengemudikan dengan begitu gagah menuju apartemen Scarlet.


Pria brengsek ini benar-benar sialan tampan saat menyetir. Sorot matanya tampak begitu tajam saat melihat jalanan di depan sana, namun dalam sekejap ia juga mampu memandang Scarlet dengan legamnya yang lunak. Santai, namun Scarlet tetap dapat melihat jurang hasratnya di dalam sana.


Sebelah tangan Jake bertumpu pada armrest sementara tangannya yang lain mencengkeram setir dengan gerakan piawai.


Lalu bibir Jake? Selalu mengeluarkan suara seksinya yang memabukkan dengan segala kecerdasannya membawa Scarlet dalam perbincangan yang menyenangan. Ia memang bukan pria brengsek sembarang dan Scarlet menyukainya.


"Jadi di sini kalian tinggal?" gumam Jake sembari mendongak pada gedung apartemen Scarlet setelah membawa mobilnya ke sisi jalan.


"Ya, aku dan Zerenity tinggal di sini. Tak terlalu besar, mengingat kami hanya tinggal berdua."


Scarlet memandang Jake sesaat sebelum maniknya turun bersamaan dengan jemarinya yang akan melepas seatbelt, namun seketika gerakan tangan Scarlet terhenti oleh jemari lain yang berada di sana, Jake.


Walnut Scarlet merangkak dan mendapati wajah Jake yang begitu dekat dengannya. Ia yakin kini pipinya pasti sudah merona. Debaran jantungnya telah bertalun sampai ia berharap Jake tak mendengarnya.


KLIK!


Seatbelt terlepas dari tubuh Scarlet, namun Jake seakan tak ingin berhenti menyiksanya dengan semakin mendekatkan diri pada Scarlet, menyingkirkan seatbelt itu. Scarlet tahu Jake menjadikan seatbelt itu hanya sebagai alasan dan Scarlet menyukai caranya.


Pipi mereka saling menempel ketika Jake mengembalikan seatbelt pada tempatnya kemudian secara perlahan, pria itu menebar bara pada kulit pipi Scarlet sampai hidung mereka saling menyentuh yang seketika membuat tubuh Scarlet tersengat.


Scarlet nyatanya benar-benar lemah, ia tak sekuat dugaannya dalam menghadapi Jake yang handal.


Mata legam itu benar-benar menyitanya tanpa gentar, sementara bibir Scarlet dapat merasakan embusan napas Jake yang hangat dan lembut.


Belum cukup dari itu, Jake mencoba melumpuhkan pertahanan Scarlet dengan mengusapkan jemari kokohnya di lengan Scarlet. Kini wanita bermanik walnut itu menyesali, mengapa ia memilih mini dress berlengan panjang jika ia tahu, Jake akan meletakkan tangannya di lengan Scarlet karena ia benar-benar serakah ingin merasakan sentuhan itu langsung dalam kulitnya.


"Katakan, apakah kau membutuhkan bantuanku untuk sampai dengan selamat masuk dalam apartemenmu?" bisik Jake dengan segala rayuan yang jelas terpatri di maniknya yang berkilat-kilat.


Scarlet tak mampu. Jemari Scarlet merangkak mengusap dada Jake yang keras, membuat jarinya seperti menemukan tempat untuk tinggal, karena Scarlet terus menginginkan jemarinya menari di dada Jake.


"Apakah kau tak keberatan?" balas Scarlet berbisik setelah mengembuskan napas terputus. Sementara jemarinya mulai memainkan dasi Jake.


"Aku ingin memastikanmu masuk ke dalam apartemen dengan selamat dan membuatmu dapat bermimpi indah." Jake mengadu hidungnya dengan Scarlet sampai membuat tubuh Acarlet meremang hingga ujung kaki.


Pria di depannya benar-benar seorang yang berbahaya. Scarlet di ambang kehancuran yang nikmat jika bibirnya mengijinkan. Ya, Scarlet menginginkan Jake segera.


"Dan bagaimana caramu membuat mimpi indah untukku?" jemari Scarlet semakin liar bergerak menyentuh rahang Jake yang tegas dan menyenangkan jarinya oleh gesekan rambut halus di sana.


Jake tersenyum menggoda yang membuat Scarlet ingin segera menerjangnya di sini, detik ini juga. Jemari Jake turun perlahan. Menyiksa Scarlet oleh sentuhan pria itu yang membuat tubuh bawah Scarlet berdenyut-denyut nikmat, hingga berlabuh pada paha Scarlet. Ah, kini kulit Scarlet dapat merasakan jemari Jake yang buas.


"Mengapa tak kita cari tahu sekarang?" Jake kembali memainkan hidungnya pada Scarlet, menggesek siksa, bergerak liar di sisi wajah Scarlet menebar napas panasnya untuk mengisi lapisan kulit Scarlet. Menyatakan geloranya yang berpijar.


Scarlet sampai harus menahan napas dan ingin merintih karena sentuhan sederhana ini saja sudah membuatnya basah dan terluka dengan nikmat.


Manik Scarlet tak sanggup menatap dunia, sampai ia memilih terpejam dan menengadahkan kepalanya untuk menerima segala daya rajuk Jake padanya. Kecupan-kecupan Jake di sekitar lehernya serta tangan pria itu yang tak lelah untuk mematikan sarafnya.


Jemari Scarlet menelusup pada sela rambut Jake, hanya untuk sekedar menyatakan bahwa Scarlet masih tersadar dan menerima pemberian Jake yang menyenangkan.


Scarlet tak ingin Jake meninggalkannya begitu saja. Scarlet tak ingin tertatih menyakitkan setelah menerima pemberian Jake yang terasa sebagai anugerah. Scarlet menginginkan ia yang meninggalkan Jake dan membuat pria itu merangkak menghampirinya lagi untuk mempersembahkan tubuhnya yang nikmat.


Seketika kelopak mata Scarlet terbuka. Mendorong dada Jake dengan lembut agar pria itu dapat melihat wajah Scarlet yang telah menggelap karena ulah pria bermata legam tersebut.


Scarlet tersenyum sembari menyapu ujung telunjuknya di bibir Jake yang lembut. Oh, bahkan jemari Scarlet saja sudah merasa bahagia dan menghantarkan bayangan di benak Scarlet jika bibirnya yang langsung menyentuh bibit itu. Kenyal, lembut, dan beraroma wine, uh!


"Simpan itu sebagai utangmu karena aku pun menyimpan rasa penasaran itu."


Tangan Scarlet segera meraih handle pintu mobil karena tak sanggup menahan diri jika terus bersama Jake.


"Terima kasih sudah mengantarku. Bye, Jake."


Tak seperti dugaan Scarlet, Jake justru semakin tersenyum menggoda padanya. Merelakan Scarlet pergi namun maniknya tetap menjerat Scarlet hingga wanita itu keluar dari mobil.


Ferrari merah itu segera pergi meninggalkan Scarlet, menyisahkan jejak pertahanan wanita brunette itu dengan lututnya yang lemas dan tubuh yang basah. Oh, Jake kau benar-benar berbahaya!


...To Be Continue...


CAST:


- Scarlet Robinson



- Jake Ryver



- Russell Guerrero Shawn


__ADS_1


Thank you sudah baca sampai chapter ini.


Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_


__ADS_2