
Enjoy!
---
"Ah, yeah!"
Desahan wanita di bawah Jake mengisi pendengarannya yang tengah berayun pasti penuh hentakan.
Kedua wajah mereka memerah dengan kilat keringat membanjiri tubuh.
Jake terus menghunjam dengan mata terpejam, rasa nikmat dan pikiran yang berkecamuk bercampur, menggulung hasratnya.
Ia membalik tubuh wanita itu dengan sekali sentak, menjambak kasar rambut tersebut hingga punggung wanita itu melengkung. Jake hanya berfokus menuntaskan rasa panas di tubuhnya. Gerakan Jake semakin kasar, membuat mata sayu wanita itu terbelalak sesaat dengan rasa sakit di kepalanya. Namun wanita berambut pirang itu tampak tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langkanya karena bisa bercinta dengan seorang Jake Ryver. Ia memilih terpejam menikmati apapun yang pria seksi itu lakukan padanya.
----------------
Pukul tiga pagi ketika manik legam Jake melirik jam di ponselnya. Ia menyibak selimut yang sempat membungkus tubuhnya.
Langkahnya berderap menjauh, meraih potongan pakaian untuk menutup tubuh bagian bawahnya, lalu menyambar gelas dan sebotol cairan keemasan, kemudian duduk pada single sofa di samping dinding kaca hotel.
Jake menuangkan whiskey ke dalam gelas. Ia menyandarkan tubuh, memandang datar pada wanita yang tak ia ingat siapa namanya di ranjang sana yang tengah tertidur menelungkup dengan selimut yang hanya menutupi sampai batas pinggangnya.
Diteguknya minuman itu bersamaan dengan pikirannya yang melayang.
Potongan-potongan kehidupan liarnya bermunculan. Deretan berbagai macam pesta dengan para wanita yang menggoyangkan tubuh seksi mereka, mengelilingi Jake. Bercinta dengan penuh hasrat panas yang menderu. Menikmati bergelas-gelas alkohol dengan tawa para wanita dalam rangkulannya.
Hidup dikelilingi wanita sudah menjadi bagian dari gaya hidup, kebiasaan yang melekat pada dirinya. Lagi, Jake meneguk whiskeynya. Ia terkekeh membayangkan dirinya menjadi pria normal yang bertahan dengan satu wanita dalam hidupnya. Itu terasa berat, mustahil dan sedikit konyol.
Ia menikmati dan membenci para wanita dalam satu waktu. Jake tak mampu menyangkal bahwa kaum wanita memiliki pusat candu baginya di tubuh mereka. Namun, Jake juga masih dapat mengingat dan merasakan bagaimana kesakitan dan penderitaannya karena sosok wanita.
Lalu, Jake mendesah kasar ketika bayangan Vello dan Zerenity silih berganti memerangkap benaknya. Kini, ada dua wanita yang menjadi pengecualian serta menjadi ambisinya.
Namun itu hanya berakhir menjadi ambisi kosong karena ia cukup menyadari kecacatannya untuk menggapai wanita tersebut.
Jake bangkit dari duduk, menempelkan lengan bawahnya pada dinding kaca. Matanya jatuh memandang jauh di sana pada malam yang tak menyurutkan kota dari kesenyapan.
Jika Vello memang tak mungkin untuk ia raih, maka Zerenity pada akhirnya sengaja tak ia gapai. Ya, Jake telah menghentikan langkahnya sebelum ia melumuri dirinya sendiri dengan kebusukan yang akan semakin menyengat.
Mungkin inilah hidupnya dan akan selalu seperti itu. Lagi pula, bukankah ia sudah terbiasa tersiksa oleh bayangan Vello yang memesona? Mungkin ia hanya butuh menikmatinya karena mungkin sebenarnya hanya itu yang ia butuhkan. Merasa hidup pada hatinya yang mati, karena pada kenyataannya ketika sosok Zerenity hadir, tangan kotor Jake tak kuasa untuk menyentuh wanita itu. Pendosa yang menginginkan wanita suci.
----------------
"Jadi kau memilih melupakan saudara kembar itu?" Tanya Miles di tengah-tengah hirup pikuk dan dentuman musik yang memekakkan telinga.
Miles dan Jake sedang berdiri di sisi ruangan sebuah mansion salah satu artis yang tengah menyelenggarakan pesta.
"Apakah aku baru saja berkata demikian?" Jake menyesap minuman alkoholnya, sementara matanya mengedar pada orang-orang yang hadir di sana. Gelak tawa serta beberapa orang yang sedang bercumbu, menghinggapi pandangannya, kemudian ia kembali menoleh pada Miles yang baru saja mengembuskan asap rokok.
"Aku tak mengatakan menghindari Scarlet."
"Tapi dia adalah saudara Zerenity, bukan?" Miles menyodorkan sekotak rokok yang segera diterima Jake dan menyalakannya.
"Zerenity belum menyukaiku. Ia hanya bersikap baik, dan Scarlet tampaknya memiliki prinsip yang sama denganku."
Kali ini sorot legam Jake jatuh pada sosok yang tengah mereka bicarakan. Ya, Scarlet berada di sana. Tertawa ringan bersama pria, sang pemilik pesta yang sedang merangkul pundaknya di sofa panjang dengan beberapa pria lainnya.
Kening Jake berkerut memandang rokok yang baru ia sesap. "Rasanya seperti sampah!"
Miles tergelak maklum karena Jake sudah terbiasa menikmati cerutu, namun meskipun demikian Jake tetap kembali menghisap rokok itu.
"Jadi kita belum sampai untuk membicarakan cinta?"
Pertanyaan Miles segera membuat Jake menoleh dan terkekeh geli. "Itu lebih terdengar sampah di banding rokok ini."
Miles tersenyum miring sebagai tanggapan.
Pandangan Jake kembali terkunci pada sosok Scarlet yang tengah saling berbisik dan sesekali tertawa lepas. Perasaan risih menghinggapi matanya ketika bayangan Zerenity terlintas di sana. Jake mengembuskan napas kasar, fisik mereka benar-benar identik. Jika saja penampilan Scarlet tak terlihat seksi dengan full make up seperti saat ini, mungkin Jake akan mengira itu adalah Zerenity dan ia akan menarik wanita itu untuk menyingkir dari para pria.
"Hai Jake." Seorang wanita menghampiri dengan senyum menggodanya.
Jake menyambut senyuman menggoda itu lalu matanya menilik sesaat pada pakaian yang menyenangkan indranya.
"Kau datang sendiri?" Tanya Jake membuka obrolan mereka.
__ADS_1
Miles terkekeh melihat hal itu, ia segera menyingkir untuk mengambil minuman dan bergabung dengan yang lain.
Sementara tak jauh dari sana, Scarlet masih melempar gurauan dengan pria di sampingnya. Seorang aktor yang beberapa minggu lalu berkenalan dengannya.
Kehidupan di balik layar memang begitu berbeda. Pria yang di kenal publik sebagai sosok berkarisma, namun nyatanya ia hampir tak ada bedanya dengan para pria kebanyakan yang Scarlet kenal.
Scarlet berdecak ketika ponselnya bergetar dan menunjukkan notifikasi panggilan dari Fordrix. Ia mengabaikan panggilan itu. Mengetahui bahwa Fordrix hanya akan mengomel padanya terkait jam malam dan mengingatkan untuk memikirkan Zerenity.
"Kekasihmu?"
Scarlet hanya menanggapi pertanyaan pria itu dengan senyuman, namun tak sengaja maniknya menabrak pada sosok pria yang tengah duduk di tengah-tengah empat wanita di kanan kirinya, Jake.
Jantung Scarlet tersentak bahagia bercampur cemburu memandang pria itu. Jake tampak tertawa dengan satu tangan merangkul pundak salah seorang wanita, sementara tangannya yang lain memegang gelas.
Lebih dari itu yang membuat dada Scarlet bergemuruh gusar adalah tangan-tangan liar di sana yang menjelajahi dada bidang Jake, Scarlet telah merasakan keras dan kokohnya dada itu dan ia tak ingin wanita lain turut menikmatinya.
Ketika Scarlet ingin memalingkan wajah, Jake lebih dulu menguncinya di sana. Keduanya saling berpandangan lekat. Membakar pikiran mereka masing-masing untuk membuat ruang kosong dalam penerimaan getaran tali pandang mereka.
Jake melempar senyum menggodanya di sana untuk Scarlet. Wanita yang lagi-lagi menyulut gairahnya dalam waktu singkat hanya dengan sorot mata walnut yang kini berkilat mendamba sekaligus cemburu itu.
Sementara Scarlet sudah tak mampu lagi memedulikan pria di sampingnya dan justru hanyut dalam pandangan seksi di sana. Dada Scarlet kini terasa sesak karena terisi kegelisahan oleh mata Jake yang membahayakan tubuh bawahnya.
Scarlet beranjak, memilih menyerah sekaligus menantang dengan berjalan menjauh. Duduk pada bar stool, memesan segelas minuman untuk mengisi cairan dirinya yang tiba-tiba mengering, ulah Jake.
Ketika martini telah sampai di tangan Scarlet, saat itu pula Jake berdiri di sampingnya. Scarlet melipat bibir, menahan senyum.
"Seseorang melarikan diri beberapa hari lalu."
"Seseorang menggunakan kamarku dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih," balas Scarlet cepat seraya tersenyum, menoleh pada Jake.
Keduanya terkekeh. "Jadi aku harus mengucapkan terima kasih sekarang?"
"Terlambat, tapi yeah, aku akan mempertimbangkannya," canda Scarlet. Ia bahagia telah membuat Jake menyingkir dari tangan-tangan wanita itu.
"Tidak, itu akan terasa membosankan."
Kedua alis Scarlet terangkat ketika ia baru saja meminum martininya, kembali menoleh pada Jake. Penasaran sekaligus rindu pada wajah tampan itu.
"Jadi aku harus bekerja keras untuk mendapatkan terima kasihmu? Curang!" Scarlet tergelak namun ia juga berdebar tentang apa yang diinginkan pria itu.
"Kalau begitu tantanglah aku juga," jawab Jake santai dengan senyuman misterius yang menggairahkan mata Scarlet.
Jemari Scarlet bergetar halus dalam cengkeramannya pada gelas, "oke."
Jake meneguk minumannya sendiri, lalu mata legam itu berpendar menanti tantangan Scarlet.
"Jika kau bisa tahan malam ini tanpa sentuhan dan interaksi dengan para wanita yang ada di sini, aku akan memberikan ciuman kita yang sempat terputus," terang Scarlet mengakhiri kata dengan menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya berdesir kala mengingat ciuman panas mereka.
Jake tersenyum lebar, "kalau begitu hal yang sama juga harus kau lakukan. Singkirkan para lelaki di sekitarmu dan kau mendapatkanku malam ini."
Keduanya lantas terdiam. Scarlet seketika kehilangan cara untuk bernapas karena mendengar janji penuh undangan yang menggoda. Sementara Jake tak sabar untuk segera menyesap bibir yang tengah di gigit oleh sang pemiliknya tersebut.
Tawa halus Scarlet memecah mereka. Ia mengambil gelasnya dan turun dari bar stool.
"Apakah itu berarti 'ya'?" Jake tersenyum miring yang di sambut Scarlet dengan tawa, lalu matanya mengerling manja sebelum meninggalkan Jake.
Mereka berpisah untuk saling menemukan. Kembali tenggelam dalam lautan pesta dengan janji mereka masing-masing. Ya, keduanya saling memperhatikan dalam interaksi dunia mereka.
Sesekali keduanya menebar senyum menggoda oleh permainan kecil mereka. Ya, keduanya tahu bahwa diri mereka saling menginginkan bahkan sebenarnya tak membutuhkan permainan ini, namun tak ada salahnya dengan mengubah gaya berburu mereka dengan sedikit sentuhan permainan yang akan membangkitkan gelora di puncaknya.
Malam semakin larut, sang DJ telah beraksi menghentak sunyi, menghidupkan mansion untuk melupakan hari.
Scarlet masuk ke tengah-tengah lautan manusia dan menggoyangkan tubuhnya. Sebelah tangannya memegang kepala, sementara tangan lainnya terbebas ke udara.
Ia terkejut ketika seseorang merengkuh pinggangnya dari belakang, dan ketika ia menoleh, Scarlet menemukan Jake di sana.
Pria itu tersenyum begitu tampan, namun sorotannya terasa liar di tengah rengkuhannya yang kuat tapi tetap terasa lembut merajuk.
"Biarkan aku menemanimu."
"Kau tidak bisa, aku sedang berjanji pada seseorang untuk tak berinteraksi dengan pria," jawab Scarlet yang begitu kontras dengan gerakan tangannya bersandar di pundak Jake.
"Siapa pria bodoh yang memintamu demikian?" Bisik Jake terkekeh, namun suara itu terlampau dekat, tepat di depan telinga Scarlet, hingga wanita itu dapat mencium aroma tubuh Jake nikmat.
__ADS_1
"Kau mengenalnya."
Scarlet membalik tubuhnya agar Jake tak melihat wajahnya yang memerah. Namun, apa yang ia dapatkan justru membuat tubuhnya bergetar. Jake merapatkan diri, memeluk perutnya.
"Kalau begitu mari kubantu menyelesaikan permainan ini," bisik Jake lagi, bersamaan dengan menggigit lembut cuping Scarlet.
Perilaku itu membuat Scarlet tersentak, pria itu berhasil mengalirkan gelenyar di sepanjang darahnya. Namun, Scarlet berusaha tak terjadi apapun. Ia tetap menggoyangkan tubuhnya begitu pula dengan Jake.
Tangan Jake berlahan menyusuri, membunuh dengan sentuhannya yang menggetarkan. Sementara Scarlet menikmati cara pria itu menyiksa tubuhnya. Ia memeluk leher Jake, menyandarkan kepalanya dengan pasrah di dada pria tersebut.
"Kita harus pergi," bisik Jake seraya menciumi sepanjang leher Scarlet dengan sesekali menghirup dalam aroma tubuh wanita itu yang memabukkan.
"Tidak," Scarlet terpejam, jemarinya menelusup pada sela-sela rambut Jake.
Jake membalik tubuh Scarlet lalu menaikkan dagu wanita itu dengan telunjuknya.
"Ya, kita harus pergi."
Sejujurnya Scarlet sudah tak mampu lagi memandang Jake. Pria itu terlalu tangguh untuknya. Sentuhannya selalu menjadi kelemahan terbesar karena Scarlet ketakutan itu akan menjadi candu yang mengikat. Namun, mengabaikan anugerah dari pandangan pria menantang di depannya jelas adalah tindakan bodoh.
"Sepertinya seseorang telah tak sabar," goda Scarlet akhirnya.
"Apakah kau tidak demikian?"
Jake menyatukan kening mereka, membuat hidung keduanya saling merajuk dan berbagi napas panas.
"Tidak," jawab Scarlet menggigit bibirnya sendiri. Tangannya bermain di dada kokoh itu.
"Pembohong," bisik Jake tepat di bibir Scarlet sesekali menggodanya dengan menyentuh bibir itu tanpa menyesapnya. "Katakan kau menginginkannya."
Gerakan tubuh Scarlet terhenti. Perintah itu terdengar mantap dan menggairahkan. Jake yang mengetahui kerisauan Scarlet, semakin membujuknya dengan menyiksa punggung oleh sentuhan yang tak sanggup untuk Scarlet tolak. Terlebih sebelah tangan pria itu mencengkeram bokong Scarlet dan menyentaknya untuk semakin menghimpit milik mereka.
"Katakan, Scar. Katakan kau begitu menginginkan hadiah dariku."
Jake kembali menyerangnya tanpa ampun. Menghujani leher Scarlet dengan sentuhan laharnya yang panas dan nikmat. Mengendusnya, menyesapnya dan sesekali memberikan lum*tan di telinga Scarlet, hingga cengkeraman tangan Scarlet di dadanya melemah.
"Kau memaksaku?" Scarlet masih mempertahankan sisa-sisa kekuatannya dengan menyatukan pandangan mereka yang jelas-jelas telah menggelap.
"Ya, bukankah paksaanku begitu nikmat? Katakan!"
Lagi-lagi perintah itu justru menghanguskan jiwa Scarlet. Darahnya mengalir deras, menggila, menanti serangan.
"Ya, aku mengingin-"
Tanpa peringatan, kalimat Scarlet terpotong begitu saja karena Jake segera menyerbu bibir merah merekah itu.
Tak ada sentuhan lembut di bibir itu. Mereka memaklumi dan menyadari karena keduanya telah menahan diri sedari tadi untuk memetik hasrat yang berlimpah di dalam tubuh mereka.
Jake kembali berhasil melumpuhkan Scarlet dan Scarlet bahagia telah dilumpuhkan oleh pria panasnya.
Lidah mereka saling membelit, saling menyesap dan berlari menggapai nikmat di dalam. Sampai-sampai jemari Scarlet berkeringat dan bergetar menyusuri dada keras itu dan ketika sebelah tangannya berlabuh di lengan penuh otot milik Jake, pria itu menggigit bibir bawahnya dan Scarlet seketika mencengkeram kuat lengan Jake. Scarlet meyakini kukunya menyisahkan bekas di sana. Ia tak tahu lagi harus melampiaskan di mana hunjaman rasa yang mengulungnya tanpa henti karena ulah Jake.
"Kita tak butuh di sini lagi."
...To Be Continue...
CAST:
- Scarlet Robinson
- Jake Ryver
- Miles
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
Sneak Peek & Info? Follow IG @saltedcaramely_
__ADS_1