Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 16


__ADS_3

Enjoy!


---


Sejak Jake melangkahkan dirinya masuk ke dalam Circle night club, berpasang-pasang mata tak henti-hentinya mencuri pandangan padanya. Namun, ini bukanlah pandangan mendamba seperti yang ia terima selama ini. Beberapa dari mereka berbisik dan itu membuat Jake semakin merasa risih.


Jake kembali memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Tak ada yang aneh dari gaya berpakaiannya.


"Jake, mengapa dari tadi orang-orang melempar tatap aneh padamu?" Tanya Miles ketika mereka sudah mengambil duduk. Ia turut memperhatikan kaus yang tengah Jake kenakan.


"Kau juga merasa demikian, bukan? Sialan!" Balas Jake. Ia menyapu pandangan dan para wanita di sekitarnya segera mengalihkan tatapan pada hal lain, namun beberapa dari mereka tampak tertawa geli dan ada pula yang memandangnya kasihan sebelum mereka memalingkan wajah.


"Aku rasa seseorang baru saja menyebar rumor tentangmu," kekeh Miles.


Jake segera melirik tajam pada teman dekatnya itu. "Siapa yang berani membuat rumor tentangku?"


Miles menggangkat bahunya santai. Namun, seakan mengerti oleh tatapan tajam yang tak berhenti terus menyerangnya, Miles mendesah kasar.


"Oke, Bos. Aku akan mencari tahu." Ia segera bangkit dari kursinya. "Ia benar-benar tak bisa melihatku bersantai sejenak," gerutunya kemudian.


----------------


Scarlet dan Zerenity berjalan memasuki supermarket dengan earphone yang terpasang di telinga Zerenity. Hal yang beberapa kali ia lakukan ketika sedang bepergian di tempat ramai.


Sejak Zerenity memegang setir kemudi sampai ia berganti memegang troli, Scarlet belum juga selesai menceritakan kegiatan panasnya bersama Jake beberapa hari lalu. Padahal Zerenity sudah membaca cerita itu pada diary mereka.


"Bagaimana bisa ada makhluk seperti Jake?" Seru Scarlet terus menggebu.


Zerenity terkikik geli. "Buktinya ada," jawabnya santai seraya memilih beberapa merek oatmeal.


"Kau harus tahu bahwa aku sudah kembali merindukan tubuhnya yang memenuhiku."


Zerenity hanya mengangguk-angguk sabar sembari memecah perhatiannya pada beberapa barang yang ia masukkan ke dalam troli.


"Oh, Zeren! Ketika miliknya melesak, ia seperti membawaku masuk ke dalam surga."


Mata Zerenity terpejam dengan bibir terlipat dalam. Ya ampun, haruskan ia mendengarkan hal itu? Lagi?


"Gerakannya, sentuhannya, bahkan aroma tubuhnya membuatku tak bisa percaya bahwa aku masih berada di ranjang yang berguncang."


"Pria itu benar-benar sialan seksi yang nyata!" Ujar Scarlet dan Zerenity bersamaan dengan intonasi yang berbeda, Scarlet yang menggebu, sementara Zerenity dengan nada malas.


"Mengapa kau tahu apa yang akan aku katakan?" Scarlet tergelak.


"Bagaimana aku tidak tahu jika aku sudah mendengarkan perkataanmu itu berulang kali?" Desah Zerenity seraya memijat keningnya. Mendadak ia merasa pusing karena saudaranya sendiri.


"Benarkah? Aku tak menyadarinya." Scarlet kembali tertawa tanpa beban, kemudian ia berdecak, "Jake benar-benar terlahir sempurna."


"Kau bilang ia sempurna, namun di mobil tadi kau juga mengatakan ia berengsek. Jadi, mana yang benar?" Zerenity menggelengkan kepala.


"Kau tahu ia kombinasi dari itu semua." Scarlet terkekeh.


Mau tak mau, Zerenity turut terkekeh, lalu ia tersenyum. "Mungkin ia berengsek, tapi ia juga pria yang baik dan menyenangkan, bukan?"


Zerenity belum pernah melihat keberengsekan Jake seperti yang sering Scarlet ceritakan, namun ia yakin Jake juga pria yang baik di balik itu semua, karena Jake tak pernah memperlakukannya dengan buruk selama ini.


"Baik? Entahlah. Tapi mungkin kau benar. Setiap orang memiliki dua sisi, itulah mengapa manusia sempurna."


"Sempurna?"


"Iya. Apa Tuhan mengatakan malaikat dan iblis, sempurna? Tidak, bukan? Justru Tuhan mengatakan manusialah yang sempurna karena manusia memiliki kedua sifat itu."


Kalimat yang meluncur santai dari Scarlet seketika membuat tangan Zerenity yang akan mengambil sekotak susu, terhenti. Ia menjadi teringat pada perkataan neneknya dahulu.


"Ya, kau benar. Manusia memiliki kuasa untuk menentukan pilihan mereka untuk condong ke mana," jawabnya kemudian dengan mengembangkan seberkas senyum.


"Sepertimu, sempurna."


Senyum Zerenity berubah kecut. Ia mengambil barang tadi dan memasukkannya ke dalam troli.


"Tidak, kau tau aku cacat," lirihnya.


"Jangan katakan itu, Sist. Kau sempurna dan kau berharga."


Senyum Zerenity sedikit mengembang, lalu keduanya beralih pada lorong lain. "Jadi kapan kalian akan pergi berkencan?"


"Kencan?" Scarlet tergelak yang membuat kening Zerenity berkerut heran.


"Kalian tak berpacaran?"


"Tentu saja tidak!"


"Aku tak mengerti. Kau selalu mengatakan cemburu dan ingin memiliki Jake sepenuhnya. Aku kira kau mencintainya."


Lagi-lagi tawa Scarlet semakin lebar seakan perkataan Zerenity sangat menggelikan.

__ADS_1


"Jangan konyol, Zeren! Aku memang menginginkannya. Bagaimana bisa aku rela melihat pria panas seperti Jake dinikmati wanita lain, terlebih setelah aku merasakannya sendiri?"


Zerenity terdiam dengan pikiran yang berputar di kepalanya. Ia mengira Scarlet menemukan pria yang dicintainya, mengingat saudaranya yang begitu menggilai Jake, sampai Zerenity takut membuat Scarlet cemburu. Namun, ternyata saudaranya masih seperti dulu.


"Dan aku telah memilikinya dengan caraku sendiri."


"Maksudmu?"


"Bukan berpacaran. Tapi aku membuatnya hanya bisa bercinta denganku." Scarlet kembali tertawa mengingat rencana yang telah ia jalankan.


"Scar?" Tanya Zerenity waspada. Terkadang saudaranya memiliki ide yang di luar batas.


"Aku membuat rumor ia terkena penyakit kelamin," bisik Scarlet terkikik.


"Kau gila!"


Seketika itu pula orang-orang menoleh padanya.


"Maaf ...." Zerenity tersenyum kikuk dan segera mengembalikan fokusnya pada Scarlet. "Scar, apakah kau benar-benar hilang akal? Jangan seperti itu!" Desak Zerenity gusar.


Scarlet hanya tertawa sebagai tanggapan, sementara Zerenity akhirnya hanya mampu mendesah pasrah, menggelengkan kepala tanpa mampu berkata-kata lagi.


-------------------


"Apakah kita jadi ke Robin's sebelum pulang? Aku ingin mencoba midnite forest, bukankah itu menu barumu?" Tanya Scarlet ketika keduanya baru selesai membayar belanjaan di kasir.


"Ya, aku juga ada janji bertemu dengan klien beberapa jam lagi. Tunggu." Zerenity segera meraih ponselnya dan memilih duduk di dekat pintu keluar supermarket untuk menghubungi salah seorang karyawan, memastikan jadwalnya hari ini.


Baru saja ia mengirim pesan ketika perhatiannya tersita pada suara bentakan seorang ayah tak jauh darinya.


"Zeren jangan melihat ke sana," peringat Scarlet, namun pandangan Zerenity sudah terlanjut terkunci di sana.


PLAAK!


Tubuh Zerenity seketika tersentak kaku. Wajahnya memucat, melihat gadis kecil sekitar usia sepuluh tahun di sana yang baru saja ditampar sang ayah di muka umum.


"Mengapa kau selalu membuat Ayah malu?" Pria dewasa itu mencengkeram lengan anak perempuannya dengan kuat, sementara anak tersebut menunduk dengan terisak.


"Tak bisakah kau jadi anak baik seperti saudaramu? Lihatlah Bianca yang begitu penurut, tak sepertimu yang sulit diatur!" Tunjuk sang ayah bergantian pada anaknya dan seorang gadis kecil lain di sana.


Tubuh Zerenity bergetar, membeku. Bayangan-bayangan masa lalu seketika memenuhi ingatannya. Pendengar Zerenity kian terasa jauh seiring Scarlet yang berlari menghampiri pria dewasa di depan sana, dan ketika Scarlet memaki pria itu lalu memukulnya, saat itu pula kesadaran Zerenity hilang.


-------------------


"Mengapa kau selalu membuat Daddy malu?" Sentak Darren pada putri kecilnya, Zeze yang masih berusia lima tahun.


PLAAK!


Tamparan keras itu hampir saja membuat Zeze terpelanting jika saja Darren tak segera mencengkeram sebelah lengannya.


Madison, istri Darren segera berlari dari kejauhan untuk menghampiri.


"Mengapa kau tak bisa seperti teman-temanmu?" Darren mengguncang kasar kedua lengan Zeze. "Lihat mereka!" Telunjuk Darren menunjuk ke arah teman-teman Zeze yang tengah melihat kearahnya beserta beberapa tetangganya yang lain.


Air mata Zeze semakin luruh. Tak ada yang melakukan apapun selain hanya menatapnya, menjadikan ia sebuah objek tontonan. Meskipun beberapa dari mereka tampak terlihat iba. Namun pandangan itu semakin membuat Zeze malu. Dengan mata berkaca-kaca Zeze melihat wajah sang ayah yang tengah memerah murka, membuat ketakutan pada ayahnya semakin membelenggu.


Mereka tengah berada di acara pesta barbeque dengan beberapa tetangga yang hadir.


"Mereka tak membuat onar, mereka penurut. Mereka tak berbuat ceroboh sepertimu!"


Zeze tertunduk dengan tangisan deras di pipinya. Kemarahan ayahnya muncul karena Zeze tak sengaja menyentuh sebuah gelas yang ada di meja dan membuat gelas itu pecah.


"Darren ...." Madison, sang istri menghampiri suaminya agar Darren menurunkan emosinya karena ia tahu, tak ada seorangpun yang berani menegur suaminya tersebut, namun pria itu menepis tangan sang istri.


"Biarkan, Maddie! Biarkan ia malu, agar ia belajar untuk tak melakukan hal ceroboh seperti tadi!"


"Maafkan Zeze, Daddy," isak Zeze dengan suara tercekat. Ia mencoba menggapai tangan sang ayah, namun pria itu memilih enggan.


"Maafkan Zeze, Daddy. Maafkan Zeze." Ia kembali mencoba meraih, namun semua yang ada di sekitarnya tiba-tiba terasa begitu jauh, seakan sesuatu telah menarik mereka dan Zeze berakhir pada sebuah taman belakang kosong.


"Maafkan, Zeze, Daddy," tangis Zeze dengan tubuh semakin bergetar.


"Zeren, bangunlah."


Suara Fordrix yang menelusup pada pendengarannya membuat Zerenity segera membuka mata. Napasnya memburu, pandangannya yang berkaca-kaca berlarian.


"Hey, itu hanya mimpi buruk," usap Fordrix lembut pada pipi Zerenity yang basah, begitu pula dengan rambut wanita tersebut. Keringat dan air mata telah melumurinya di tengah kedinginan malam.


Zerenity menggapai pandangannya pada kehangatan di manik hazel Fordrix. Terdiam sesaat, keduanya terkunci oleh pasang mata mereka.


"Mengapa kau bisa ada di sini?" Tanya Zerenity pada akhirnya setelah menyadari ia tengah berada di kamar dengan Fordrix yang tidur di sampingnya.


"Scarlet menghubungiku. Kesadaranmu kembali hilang karena apa yang kau lihat tadi di supermarket."


Zerenity tertunduk, "maafkan aku telah merepotkanmu."

__ADS_1


"Bukan masalah." Fordrix segera meraih Zerenity masuk dalam dekapannya.


"Kembalilah tidur, aku di sini menjagamu," bisik Fordrix sabar seraya mengusap punggung Zerenity.


Zerenity menenggelamkan wajahnya di dada Fordrix. Tubuhnya masih bergetar oleh ingatan masa lalu yang merangkak masuk dalam mimpinya.


Ingatan itu seakan ingin semakin menyiksanya, ketika Zerenity mencoba memejamkan mata. Bayangan-bayangan masa kecilnya kembali bermunculan.


Bentakan-bentakan sang ayah memenuhi lorong pendengaran Zerenity, seakan semuanya kembali terjadi.


"Temanmu sudah bisa warnai rapi di dalam garis. Mengapa kau belum bisa?"


"Lihat, temanmu Allison! Ia penurut dan tak banyak bertanya jika ayahnya berbicara! Mengapa kau tak bisa seperti itu?"


"Teman-temanmu sudah pandai berhitung, kau mengerjakan soal sederhana seperti ini saja tidak bisa!"


"Kapan kau akan menjadi anak kebanggaan Daddy? Kau hanya bisa membuat malu!"


"Tak bisakan sekali saja kau tak merepotkan?"


"Lihat anakmu, Maddie! Kau tak becus mengajarinya!"


Tanpa sadar Zerenity mencengkeram erat kaus yang Fordrix kenakan, seiring jemarinya yang berkeringat dan tubuhnya yang bergetar ketakutan. Berbagai tatapan pasang mata yang menyaksikan tiap ayahnya marah kepadanya, turut melekat kuat dalam ingatan Zerenity, bagaikan cambuk yang melesat melukai tiap detak jantungnya.


"Zeren, aku di sini," bisik Fordrix lembut.


"Aku takut, Ford. Aku malu ...."


"Sssttt ... itu sudah berlalu." Fordrix terus mengusap punggung Zerenity dengan sabar, sementara dirinya sendiri mengumpat turut terluka.


"Cobalah untuk tidur, semua akan baik-baik saja."


Zerenity mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba merilekskan tubuhnya. Ia merasakan Fordrix membelai rambutnya lalu menanamkan kecupan di sana.


Dalam diam, Zerenity mengembangkan sedikit senyumnya. Ia semakin menenggelamkan wajah di dada Fordrix. Memejamkan matanya. Namun hingga beberapa saat tak ada rasa kantuk sedikitpun yang menghampirinya.


Fordrix yang mengetahui Zerenity belum dapat tertidur, mencoba membuatnya tenang dengan mengajak wanita itu berbincang tentang beberapa hal ringan. Perlahan, Zerenity larut pada topik pembicaraan mereka sampai sesaat kemudian Zerenity mendongak cepat.


"Ada apa?"


Wajah Zerenity berubah gusar. "Aku memiliki janji dengan seorang klien."


Fordrix tersenyum, ia mengusap kedua pipi Zerenity. "Scarlet sudah menggantikanmu. Ia dibantu oleh karyawanmu untuk menemui klien itu, dan klienmu sepakat menggunakan Robin's."


Zerenity menghela napas lega, ia kembali menyandarkan wajahnya di dada Fordrix. Ia bersyukur kliennya sepakat menggunakan Robin's untuk acara ulang tahun perusahaan tersebut, karena perusahaan itu adalah salah satu perusahaan terbesar di New York yang tentunya akan sangat membantu menaikkan popularitas Robin's.


"Aku harus berterima kasih padanya. Ia selalu menolongku."


"Ya," jawab Fordrix tersenyum kecil lalu mendesah samar. Ia terus mengusap punggung Zerenity, sementara pikirannya menerawang jauh menembus pada jendela kamar yang tak tertutupi tirai. Membelah malam yang pekat.


Sedang Zerenity semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana dengan hidupnya jika tak ada Scarlet dan Fordrix. Kedua orang yang ia cintai. Rasanya ia tak akan sanggup jika kehilangan mereka. Terlebih keberadaan Fordrix saat ini yang semakin membuat Zerenity jatuh tenggelam dalam segala perlakuan dan perhatiannya. Semakin membuat Zerenity hanyut pada arus cinta yang bahkan mungkin tidak pria itu sadari.


Zerenity ketakutan, sangat ketakutan apabila pria itu pergi darinya. Ia sudah lebih dari kata bergantung pada pria yang telah menjadi sahabatnya hampir sepuluh tahun ini. Pria yang begitu mengerti tentang dirinya dan bertahan di sisinya lebih dari siapapun.


Pria yang menarik Zerenity dari ruang gelap masa lalu ketika tak ada seorangpun yang peduli padanya kala itu.


"Maafkan aku selalu merepotkanmu. Terima kasih," lirih Zerenity kembali meneteskan air matanya.


Matanya terpejam ketika ia merasakan Fordrix kembali menanamkan kecupan yang begitu dalam di pucak kepalanya.


Air mata Zerenity semakin mengalir dalam keterdiamannya. Tanpa sadar ia menggenggam erat kaus yang Fordrix kenakan, menyalurkan ketakutan yang menjeratnya.


...To Be Continue...


CAST:


- Zerenity Robinson



- Jake Ryver



- Scarlet Robinson



- Fordrix



- Miles


__ADS_1


Thank you sudah baca sampai chapter ini.


Sneak Peek & Info? Follow IG @saltedcaramely_


__ADS_2