Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 1


__ADS_3

Enjoy!


--


BRAAK!


Jake sengaja menabrakkan punggung wanita itu ke dinding kamar hotel yang dingin. Mereka telah terbelit hasrat panas dalam pertukaran saliva.


"Oh ...."


Wanita berambut blonde itu menengadahkan kepala ketika jiwanya melayang oleh sentuhan bibir Jake di sekitar lehernya. Sementara tangan pria itu telah sibuk pada bokongnya padat.


Jemari wanita itu mencengkeram rambut hitam Jake agar ia tak kehilangan sensasi gila ini, sementara sebelah tangannya berusaha mencari milik Jake yang pasti begitu menggetarkannya. Jake tahu wanita tersebut tak sabar, bahkan ketika pandangan mereka beradu di night club beberapa jam lalu.


Jemari mereka bergerak tangkas saling menyingkirkan penghalang tubuh untuk menyambut sentuhan liar keduanya.


Mata wanita itu terbakar seketika saat melihat lekukan otot dan beberapa tato yang tersebar di tubuh Jake. Jemarinya merayap mendamba.


Mereka berjalan ke arah ranjang tanpa memisahkan benang ciuman.


Wanita itu tersenyum ketika Jake menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang.


"Ehmm!" desah wanita itu seraya menggigit bibir bawahnya karena tak kuasa oleh bujuk rayu lidah Jake yang menghampiri kulit tubuhnya yang telah berpasrah diri.


Terlebih gesekan rambut halus di sekitar rahang pria tersebut turut menyiksa kulitnya dengan nikmat.


Jake menyeringai ketika melihat wanita itu begitu menikmati sentuhannya. Tentu saja tak ada yang akan mampu menolak dan mengabaikan kedasyatan sentuhan seorang Jake Ryver.


Mereka bilang, Jake terlalu memesona, terlalu panas, bahkan setiap wanita yang berhasil menghangatkan ranjang Jake, tak akan pernah menyesali kenikmatan yang telah diraihnya. Jake terlalu percaya diri? C'mon! Pada kenyataannya itulah yang mereka perbincangkan di belakang Jake, terutama mereka yang telah bercinta dengan pria itu.


Entah mengapa mereka selalu mendamba pada pria yang jelas-jelas brengsek seperti Jake. Kadang Jake tak mampu mengerti jalan pikir mereka, tapi ia cukup menikmati ketika mereka selalu bersedia merangkak untuk kembali merasakan dobrakan Jake yang panas di dalam lorong kenikmatan mereka.


Kini Jake mengarahkan miliknya dan wanita itu dengan senang hati memberikan yang Jake inginkan dari bibirnya.


"Oh, baby!" Jake terpejam merasakan kenikmatan yang selalu ia dapat dengan mudah hampir setiap malam.


Wanita itu semakin bersemangat bekerja menyenangkannya. Sampai ia mempersembahkan diri dengan rintihan memohon, agar Jake memasukinya.


Mereka tergulung ombak yang saling menghunjam panas. Desahan dan racauan keduanya mengisi ruang kamar oleh aroma percintaan yang menguar.


----------------------


Mata Jake mengerjap, keningnya berkerut karena merasakan cahaya matahari yang menyelinap di sela-sela tirai kamar hotel.


Ia terduduk sembari mengusap wajah. Jake menoleh pada seorang wanita yang tengah tidur menghadap dirinya, kemudian memalingkan wajah. Ia menyingkap selimut, mandi lalu segera berpakaian.


"Holy Shit!"


Matanya terbelalak ketika melihat jam pada arloji yang akan ia kenakan.


"Good morning, Handsome."


Jake tak menghiraukan sapaan wanita itu yang sudah terduduk di ranjang sembari menutupi bagian tubuh atasnya dengan selimut. Jake lebih memilih mengenakan sepatu sneakernya.


Wanita itu berdecak karena diabaikan. "Kau akan pergi sekarang?"


"Ya," jawab Jake sedikit malas.


Bukankah itu sebuah basa basi yang tak penting? Apakah Jake terlihat akan ke kamar mandi dengan pakaian yang telah rapi seperti ini?


Jake menata rambutnya di depan cermin kemudian memasukkan ponsel ke saku celana.


"Kau akan menelponku, bukan?"


Jake berbalik menghadap wanita itu. "Aku rasa tidak, Estell." ia tersenyum.


"Siapa Estell? Namaku Daisy!"


"Maaf aku tak mampu mengingatnya." Jake terkekeh seraya meraih ponselnya yang bergetar.


"Hai Sayang .... Daddy akan menjemputmu sebentar lagi. Duduklah manis dan Daddy akan segera tiba, oke? .... Anak Daddy memang pintar."


"Kau sudah memiliki anak?!" Mata wanita itu terbelalak dengan wajah memerah marah.


"Begitulah." Jake tersenyum tanpa dosa seraya memasukkan kembali ponselnya.


"Bye, Grace."


"Daisy!"


Jake menyempatkan mengecup pipinya dan berbisik, "kau nikmat sekali semalam." kemarahan itu tiba-tiba surut bergantikan senyuman. Jake tertawa dalam hati dan segera keluar kamar hotel.


Bagi Jake, tak ada gunanya mengingat nama para wanita yang singgah, sementara ia hanya butuh menikmati mereka semalam.


Bagi Jake, hampir semua wanita hanya sebagai wadah penyalur hasrat. Setelahnya mereka hanya sebuah sampah yang tak patut untuk di pungut kembali setelah ia memakainya.


Hampir semua wanita? Ya tentu saja, karena Jake memiliki seorang wanita sebagai pengecualiannya.


Seorang wanita yang berhasil membuatnya terpaku ketika lingkaran matanya memandang sosok wanita berambut golden blonde yang kala itu tengah turun dari sebuah private jet dengan mengenakan sebuah coat kelabu. Seorang wanita yang kala itu tengah melarikan diri bersama kekasih sekaligus sahabat Jake.


Jake mengira, ia hanya terpana oleh kecantikan dan anggunan wanita tersebut, tapi nyatanya itu sebuah kesalahan besar ketika tanpa ia inginkan, ia hanyut begitu dalam saat semakin mengenal wanita itu.


Ketika manik Jake terjerat oleh cahaya teduh mata kelabu itu, Jake menyadari bahwa wanita itu adalah sebuah permata di tengah-tengah tumpukkan kerikil wanita di kehidupannya.


Pandangan buruknya terhadap wanita perlahan bergeser, memberikan pengecualian pada wanita tersebut.


Vellonica, satu-satunya wanita yang berhasil menggetarkan aliran darah Jake oleh segala kesederhanaan sikap yang begitu elegan, namun terasa hangat dan nyata. Bahkan hanya dengan melihat Vello, jantung Jake berlari mencari segala yang mampu ia gapai dari wanita tersebut, meskipun itu hanya sebuah bayangan seorang Vello.


-----------------------


"Daddy!!"


Gadis mungil berusia empat tahun dengan rambut golden blonde yang di ikat ponytail itu berlari sembari merentangkan tangannya, kemudian segera masuk, menubrukkan diri ke dada Jake.


Jake bukan ayah kandungnya. Ingat itu baik-baik! Ia hanya seorang uncle dari sahabat ayahnya, yang entah mengapa tak bisa gadis mungil itu panggil dengan 'daddy', sementara ketika Jake mengajarinya, ia dengan mudahnya mengucap 'daddy' pada pria tersebut, dan itu berlangsung hingga saat ini.


Jake terkekeh. Mengecup pipi itu dengan gemas. "Siap bersenang-senang Little Angel?"


Gadis mungil itu mengangguk berkali-kali dengan menggemaskan. Jake tak tahan untuk tak mencubit hidungnya.


"Nona Liora sangat tidak sabar untuk bertemu Anda, Tuan. Maafkan saya terpaksa menelepon Anda tadi karena Nona Liora terus memohon."


Sofia, seorang pelayan yang sudah Jake kenal dengan baik itu tampak menunduk, tak enak hati padanya.


"Tak apa, Sofi." Jake bangkit dari berjongkok seraya menggendong Liora yang memeluk lehernya.


Sofia membantu memasangkan sebuah car seat di kursi belakang mobil Maserati Levante. Jake khusus membawa mobil itu ketika bepergian bersama Liora. Sementara Ferrari-nya adalah mobil khusus untuk membawa para wanita. Salah satu benda yang menjadi kebanggaannya dan sering kali mempermudah mencapai apa yang ia inginkan.



Bukankah para wanita menyukai pria-pria kaya? Meskipun di antara mereka pasti akan ada yang begitu munafik, tapi mereka jelas tak akan menolak pria tampan yang menawarkan tumpangan dengan sebuah mobil Ferrari, dan mobil SUV meskipun mahal, tak akan memiliki power lebih besar dari pada supercar. That's a fact!


"Ini semua perlengkapan yang di butuhkan Nona muda, Tuan." Sofia meletakkan sebuah tas bayi berukuran sedang di dekat car seat tempat Liora sudah duduk manis.

__ADS_1


Jake mengangguk dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Vello.


--------------------


Senyum Jake tak pernah surut memandang Liora yang tengah berlarian dengan beberapa teman baru di dalam playground.


Ia baru saja mengambil duduk setelah sebelumnya sempat bermain dengan Liora di sana. Mendorong ayunan yang gadis kecil itu naiki, serta menangkap tubuh mungil Liora yang tertawa riang ketika turun dari perosotan.


Tawa ceria anak mungil bermata kelabu itu begitu mirip dengan Vello, wanita tersebut selalu menyita isi otaknya, bahkan hingga beberapa tahun ini.


Jake tak menyangka perasaannya terhadap Vello terus bertahan, bahkan bersama dengan tumbuhnya Liora yang masih segar di ingatan Jake ketika ia menggendong bayi mungil itu dengan darah dan tali plasenta yang masih terhubung. Kini bayi itu sudah mampu berlarian dengan celotehan yang selalu membuatnya rindu.


Hampir satu jam Jake berada di playground tapi tak membuatnya di landa kebosanan karena pandangannya yang tersita oleh keceriaan Liora.


Hampir satu jam itu pula, ia menyadari bahwa ia telah berhasil memecah konsentrasi para wanita yang berada di sana. Terlebih ketika Jake sesekali menoleh pada mereka dan melemparkan senyum yang membunuh jantung para wanita tersebut.


Jake beranjak dari duduk setelah melirik sesaat pada jam tangannya. Ia memanggil Liora. Gadis mungil itu segera berlari dengan beberapa peluh keringat, tapi tak menyurutkan keceriaan di wajah menggemaskan itu. Poni depannya terlihat sedikit basah.


Jemari Jake menyeka keringat di wajah Liora dengan tisu sembari membujuk gadis mungil itu meninggalkan playground untuk makan siang.


"Tapi Liora masih ingin bermain." Bibirnya mencebik dengan suara kecil menggemaskan.


Jake membawa Liora duduk di pangkuannya. "Yakin masih ingin bermain? Daddy mendengar suara di perut Liora sudah berteriak ingin meminta makan."


"Perut Liora bisa berbicara?" Mata kelabu itu mengerjap beberapa kali.


"Tentu saja."


Jake menundukkan kepala dan mendekatkan telinganya ke perut Liora, bersamaan dengan jemarinya yang menggelitik perut kecil itu.


Liora seketika tertawa terbahak-bahak, membuat Jake turut tertawa hingga mereka benar-benar menjadi pusat perhatian di sana.


Ujung mata Jake menangkap seorang wanita berambut brunette panjang yang turut tersenyum menyaksikan itu semua dari kejauhan sana.


"Kita makan siang, setelah itu membeli ice cream. Setuju?"


"Setuju!! Ice cream, ice cream. Yeay!"


Liora menaikkan satu tangannya dengan antusias. Jake terkekeh gemas.


"Tapi Liora ingin es krim yang berwarna warni, seperti pelangi, Daddy."


"Pelangi? Oke, tetapi dengan syarat Liora harus menghabiskan makan siang nanti."


Liora mengangguk mantap.


"Janji?"


"Janji! Pinky promise."


Jake dan Liora mengaitkan kelingking, kemudian tertawa bersama. Pria itu segera menggendong Liora dan beranjak meninggalkan playground.


--------------------


Lalu lalang suster dan pengunjung rumah sakit, mengiringi langkah Jake menyusuri koridor dengan menggandeng Liora di sisinya.


Beberapa dari para suster tampak tersipu ketika Jake melempar senyum menggoda.


Jake menggeleng pelan seraya terkekeh. Mereka selalu begitu mudah.


"Mommy! Mommy!"


Liora segera melepas gandengan tangan Jake dan berlari pada seorang dokter wanita berambut golden blonde yang sudah berjongkok dengan tangan terentang. Anak tersebut segera masuk dalam dekapan wanita cantik itu.


"Hai Seksi," Jake terkekeh.


Bukankah ini sangat lucu? Ketika di luar sana Jake begitu bebas menjamah tubuh para wanita, sedangkan pada Vello ia hanya mampu mencuri-curi pada hal kecil. Tapi itu semua sudah mampu menetramkan hatinya yang hampa.


"Kau terlihat sangat lelah."


Mereka berjalan beriringan menyurusi koridor untuk keluar dari rumah sakit dengan mengandeng Liora yang berada di tengah-tengah mereka.


Jake memang sengaja menjemput Vello agar ia dapat bertemu dengan anaknya sekaligus mengantar keduanya pulang.


"Ya, dua operasi tadi benar-benar menguras tenaga."


Jake tersenyum lembut. Senyum yang hanya ia tampilkan pada Vello.


Pria itu tak pernah kehabisan rasa kagum pada Vello. Ia dengan jelas mengerti perjalanan hidup wanita itu selama beberapa tahun mengenalnya dan Jake semakin mengagumi, ketika wanita itu berhasil menggapai mimpi sebagai seorang dokter bedah syaraf sekaligus seorang istri dan ibu yang begitu hebat.


Jake berkali-kali mendapati dirinya menggelengkan kepala oleh keberuntungan Dexter, sahabanya sekaligus suami Vello, karena berhasil menemukan wanita yang luar biasa sempurna.


Lagi-lagi Jake terkekeh miris dalam hati karena menyadari bahwa ia begitu brengsek menyukai istri dari sahabatnya sendiri. Semua yang bermula dari gurauan justru kini menjadi nyata. Ia tak dapat menghindari lagi.


Bahkan Jake menikmati dirinya ketika mereka berjalan bertiga seperti ini. Ia seperti memiliki Vello dengan utuh. Orang yang tak mengenal mereka pasti akan berpikir bahwa mereka adalah pasangan suami istri dan Jake menyukai dugaan yang salah itu. 


Jake tahu, Vello tak akan pernah memandangnya. Hati wanita itu telah dimiliki Dexter, begitu pun sebaliknya, dan ia tak pernah berniat untuk merenggut Vello. Ia hanya tak mampu menahan diri untuk selalu menginginkan Vello mengisi aliran darahnya.


Ia tau itu adalah kombinasi bodoh dan brengsek yang sempurna dan Jake telah gila karenanya.


"Apakah kau ingin mampir makan terlebih dahulu? Aku tahu restoran Asia enak yang baru saja buka, tak jauh dari sini." tanya Jake ketika baru saja memasangkan seatbelt pada Liora yang duduk di car seat.


Vello tersenyum dan menerima tawaran Jake. Mobil Maserati itu segera melaju menuju restoran.


---------------------


"Dexter tampaknya sudah berhasil meyakinkan para pemegang saham," ujar Jake membuka pembicaraan di tengah-tengah jalanan malam kota Manhattan.


Kabarnya Dexter telah kembali ke Manhattan malam ini dari perjalanan bisnisnya di Witwatersrand.


Jake sangat tahu polekmik yang di hadapi Dexter ketika pria itu dihadapkan pada kenyataan serta tanggung jawab untuk memegang sebuah perusahaan besar yang sebelumnya bukan merupakan dunia seorang Dexter.


"Ya, aku sangat bersyukur Jake. Kau tahu bagaimana ia begitu bekerja keras untuk itu. Kami hampir saja kehilangan waktu bersamanya."


"Tapi kau tahu ia akan selalu menyempatkan waktu untuk kalian." Jake tersenyum teduh. Ia bersyukur, kadang sisi rasionalnya bekerja dengan baik pada saat-saat tertentu.


Vello mengangguk dengan senyuman. Ia mengerti bagaimana Vello juga belajar berbesar hati untuk sering di tinggalkan oleh Dexter karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan Dexter sering bepergian ke beberapa negara yang menjadi cabang perusahaannya.


Ingin rasanya Jake mencuri waktu itu untuk bisa bersama Vello, namun ia dengan sekuat tenaga menahan kadar kebrengsekannya.


-------------------


Liora tengah tertidur ketika Jake menggendongnya memasuki rumah dan mendapati Dexter yang berjalan kearahnya dan Vello.


Dexter memeluk sang istri. Keduanya berciuman sebelum akhirnya Dexter beralih memandang Jake.


"Great to see you, man!" sapa Jake.


Mereka bersalaman dan saling menepuk punggung.


"Terima kasih sudah mengantar istri dan anakku." Dexter mengambil alih gendongan Liora.


"Tak masalah, bagaimana tambang di Witwatersrand?" mereka berjalan beriringan melewati ruang tamu.

__ADS_1


"Semakin baik, terlebih kami berhasil memenangkan tender untuk pasar Asia Tenggara."


"Kerja kerasmu membuahkan hasil, Dex."


"Dydy is that you?" mata Liora masih terpejam di tengah gumamannya.


"Ya, Sayang," jawab Dexter datar seperti biasa.


Liora tersenyum. Mengeratkan pelukan di leher Dexter. "Liora ingin tidur di temani Dydy."


Jake tersenyum memandang gadis kecil yang berbicara dengan keadaan mata terpejam itu.


"Oke," jawab Dexter kembali datar. Ia mengusap rambut golden blonde tersebut seraya mengecup sisi kepala Liora.


Jake dan Dexter memang memiliki banyak perbedaan sifat. Dexter adalah tipe pria dingin, datar, dan lebih banyak melakukan tindakan di banding perkataan.


Kesamaan memiliki hidup keras dan pekerjaan di masa lalu yang membuat mereka begitu dekat, hingga menjadi sahabat. Hal itu salah satu yang membuat Jake menciptakan pagar besi pada kebrengsekannya untuk tak merenggut Vello dan tetap menjaga persahabatannya dengan Dexter.


Ia tak akan membiarkan dirinya melakukan hal bodoh yang dapat menyebabkan ia kehilangan seorang sahabat yang rela mati untuknya. Jake tak akan menemukan sahabat seperti itu di dunia ini selain Dexter, begitupun ia yang rela mati untuk melindungi Dexter. Hanya luka di tubuh mereka yang dapat menjadi saksi bagaimana keduanya saling melindungi.


Dulu, mereka sama-sama memiliki kesamaan dengan membenci wanita, meskipun cara mereka berbeda. Jika Dexter membenci kaum wanita dengan cara tak mau mendekat kecuali untuk membunuhnya, Jake justru mendekati mereka, menikmati, membuat mereka memohon di bawahnya, kemudian membuang layak mereka sampah.


Namun pandangan buruk terhadap wanita yang di miliki Dexter dan diri Jake, tak berlaku pada satu wanita, Vello. Ia adalah sebuah pengecualian.


"Sebotol bir setelah aku menidurkan Liora?"


"Tidak, lain waktu saja. Aku harus mengecek bar setelah ini."


Dulunya bar tersebut adalah milik mereka, namun semenjak Dexter harus memimpin perusahaan besar, sahabatnya itu menyerahkan bar tersebut untuk menjadi milik Jake. Tiga bar yang dulu mereka bangun, kini telah Jake kembangkan hingga berjumlah puluhan dengan berbagai macam konsep yang tersebar di beberapa kota besar di Amerika.


"Baiklah." Dexter menepuk lengan Jake, sebelum akhirnya ia meninggalkan Jake menuju kamar Liora.


"Terima kasih sudah mengantar dan menemani Liora hampir seharian," ujar Vello ketika ia mengantarkan Jaje hingga depan mobil.


"Aku senang melakukannya."


Mereka saling melempar senyum, kemudian berpelukan singkat. Ia mengecup pipi pria itu sebelum akhirnya Jake melajukan mobil meninggalkan rumah Vello dan Dexter.


---------------------


Jake melangkah memasuki The Planet. Bar miliknya yang berada di pusat kota Manhattan, sekaligus kantor pusatnya yang berada di lantai atas gedung ini.


The Planet adalah salah satu bar yang ia usung dengan desain cukup mewah. Permainan lampu kristal di sepanjang langit-langit gedung, memancarkan warna keemasan di dalam bar, selain itu sofa dan bar stool beledu turut menyumbangkan kesan mewah pada bar ini.


Meskipun demikian, The Planet masih tergolong bar pada taraf pengunjung menengah ke atas di antara bar milikku lainnya, karena beberapa di antaranya memang ia target kan untuk pengunjung kelas atas.



"Gimme some bad news," kata Jake pada seorang bartender pria berambut bergelombang yang menjadi salah satu teman dekatnya di beberapa tahun terakhir.


Jake mengambil duduk di bar stool beledu merah. Berhadapan dengan Miles yang mengenakan seragam dari kemeja putih yang dipadukan dengan rompi dan dasi hitam, sementara lengan kemeja itu di gulung rapi hingga mencapai siku.


"Well, tak ada kabar buruk hari ini, Bos. Pengunjung ramai seperti biasanya."


Meskipun mereka dekat, namun Miles dapat menempatkan diri sebagai karyawan ketika berada di bar.


Jake mengangguk, tapi matanya memperhatikan sekitar. Ia cukup perfeksionis jika itu menyangkut pekerjaan dan ia tak ingin ada satu pelanggan yang merasakan ketidaknyamanan di barnua.


Miles dengan sigap meracik minuman yang biasa Jake minum. Ia memasukkan gula kotak, bitters, satu sendok air, kemudian ia tumbuk halus, lalu menuangkan es batu dan bourbon whiskey.


"Ada seorang pengunjung wanita yang beberapa waktu ini sering kemari, Bos. Ia juga datang hari ini." Miles mengerat kulit jeruk, memerasnya dan menyapukan ke sepanjang lingkaran bibir gelas lalu memasukkan kulit jeruk itu ke dalam whiskey.


Ia segera menyodorkan old fashioned whiskey pada atasannya.


"Sounds good." Jake menyesap gelas minumannya.


"Arah jam enam, Bos. Ia cukup cantik," kekeh Miles.


Jake menaikkan satu alisnya, kemudian memutar kursi, mencari keberadaan wanita tersebut.


Tepat di arah jam enam, terdapat seorang wanita berambut brunette panjang. Di sampingnya ada seorang wanita lain berambut pendek dengan satu pria. Ketiganya duduk di sofa setengah lingkaran dan tengah asik melempar canda.


"Yang aku maksud wanita berambut panjang itu, Bos." bisik Miles, mengetahui isi pikiran Jake. "Dia bernama Scarlet, seorang pelukis."


Mata Jake segera memindai wanita itu dari bawah hingga atas tanpa terlihat sedikitpun bahwa ia tengah berperilaku kurang ajar dengan pandangan matanya.


Wanita yang Miles sebut bernama Scarlet itu tengah mengenakan mini dress hitam berkilau dengan tali spaghetti.


Hmm, kakinya jenjang dan mulus. Ia memiliki pinggang yang ramping. Untuk bokong, Jake tak bisa mengomentarinya karena ia sedang duduk. Jake mulai menyukai fisik wanita itu sejauh ini, namun sayang, ketika matanya berhenti pada dada wanita itu, hatinya mendesah malas. Dada itu terlalu kecil untuk selera Jake, meskipun ia yakin ukuran itu masih pas ketika tangan Jake menangkupnya.


Pandangan Jake mulai naik pada wajah itu. Bibir yang berbalut lipstick merah darah itu membuat maniknya terhibur sesaat karena ia memang menyukai jenis bibir yang tak terlalu tebal.


Tahu bagaimana rasanya mencium bibir wanita yang tebal? Itu terasa seperti tengah mencium sepotong daging steak. Beberapa pria menyukainya, tapi Jake tak menyukai itu. Meskipun di sini para wanita berlomba-lomba untuk membuat bibir mereka tebal dengan berbagai cara agar terlihat sensual dan seksi.


Sesaat kemudian Jake melihat mata cokelat itu bertabrakan dengan mata legamnya.


Jake tersenyum menawan dan menaikkan gelas whiskey-nya. Ia tampak elegan agar ia tak terlihat tengah terpergok memandangi wanita.


Jake melihat wanita bernama Scarlet itu menyambut senyum dengan rona di pipi dan turut mengangkat gagang gelas cocktail yang berbentuk segitiga terbalik. Mereka minum dalam sorot pandang, sampai Jake memutar tubuh, sementara ia tahu wanita itu tetap memantri pandangan pada sosoknya.


"Biasa saja." komentar Jake seraya meletakkan gelas yang nyaris habis.


Miles tergelak. Ia rasa Miles mengetahui bahwa memang ia bukan pria yang mudah terkesan, meskipun ia banyak mengencani para wanita. Mungkin karena itulah Jake menjadi terlalu terbiasa melihat wanita cantik hingga terasa biasa saja untuknya.


Tak seperti Vello yang tidak hanya cantik, tapi juga manis, lembut, dan anggun. Oh c'mon Jake!


...To Be Continue...


CAST:


- Jake Ryver



- Scarlet Robinson



- Vellonica



- Liora Brylee



- Dexter



- Miles


__ADS_1


Thank you sudah baca chapter ini.


Sneak Peek chapter? IG @saltedcaramely_


__ADS_2