
Enjoy!
---
Jake berkali-kali membuang napas kasar serta menggelengkan kepala. Setiap kali otak sialan ini tak lagi disibukkan oleh pekerjaan, ia dengan kurang ajarnya selalu menampilkan bayangan sosok Vello di kepala Jake. Membuat kerja jantungnya kembali berberaian.
Aliran nadi Jake bahkan masih mengingat derasnya sentuhan tangan lembut dan bibir Vello yang mengecup hangat pipinya. Padahal Jake telah berusaha mengikis jejak itu dengan para wanita di tiap malamnya, namun jejak itu memang terlalu tangguh, tak pernah sebanding dengan sentuhan para wanita di luar sana.
Kedua ujung bibir Jake tertarik ke atas mengingat ketika Vello tertawa atau saat wanita tersebut menyunggingkan senyum yang tak pernah Vello sadari bahwa itu selalu memesona.
Vello, Jake begitu ingin memeluknya, ingin mendengar suara lembutnya lagi. Jake raih ponsel dengan cepat dan mencari nama Vello di sana, namun seketika jempolnya tertahan ketika hendak memencet ikon panggilan.
Tidak, tidak. Ia boleh melakukan ini. Sialan! Mengapa ia terus menginginkan Vello?
Jake mengusap wajahnya kasar, kemudian melarikan maniknya pada angka jam yang terdapat di ponsel. Ini sudah terlalu malam untuk menghubungi Vello dengan mencari alasan menanyakan aktifitas Liora. Keponakan cantiknya itu pasti sudah tertidur lelap.
"Vello ... Vello." Jake mendesah frustrasi. Ia jatuhkan tubuhnya di ranjang. Memejamkan mata sesaat, berharap dapat meredakan keinginan besarnya pada Vello, namun hal itu justru membuat otaknya semakin kuat mengambil segala memori yang sudah seharusnya tersimpan rapi dan kini muncul kepermukaan.
Ingatan Jake melayang pada kejadian empat tahun lalu ketika ia menjenguk Vello di rumah sakit, ketika wanita berambut golden blonde itu baru saja berhasil melakukan persalinan mandiri.
Jake masih mengingat suara lembut yang lolos dari bibir Vello.
"Berhentilah hidup seperti itu Jake. Apakah kau tak ingin mencari wanita yang dapat benar-benar mencintaimu? Menjagamu. Kau tahu bahwa di dalam hatimu merasakan kekosongan dalam hiasan kesenangan sesaat, bukan?"
Jake tersenyum tipis kala itu. Ia meraih jemari Vello masuk dalam genggamannya. Melempar candaan agar ia dapat melihat tawa Vello yang manis.
"Someday, I'm promise." kata Jake saat itu sembari mengusap punggung tangan Vello dengan ibu jari, sementara hatinya mengumpat, mengutuk diri, karena ia mulai menyadari bahwa wanita itulah yang ia inginkan untuk mengisi kehampaan hatinya. Jake hanya memberikan Vello janji kosong.
"Aku butuh seseorang untuk kuajak bicara." putus Jake seraya bangkit terduduk di ranjang. Jemarinya kembali lincah pada layar ponsel, lalu mengirim pesan pada Miles.
Sesungguhnya ia menginginkan Dexter untuk menjadi kawan bicaranya, namun bagaimana bisa hal itu terjadi jika yang menjadi topik pembahasannya nanti adalah istri Dexter? Jake benar-benar merasa brengsek pada sahabatnya sendiri.
Sesaat kemudian ia segera berderap pada walk in closet. Mengenakan kaus polos hitam dan jas kasual berwarna cokelat. Memilih deretan jam tangan koleksinya, menyemprotkan parfum dan menyempatkan untuk memperhatikan penampilan serta rambutnya sebelum ia keluar kamar.
Jake segera meninggalkan penthouse dan melajukan Ferrari F8 merahnya menuju Circle night club.
-----------------
Hingar-bingar dan dentuman musik segera menyambut langkah kaki Jake memasuki salah satu night club elit yang sering ia kunjungi.
Di sini, tak sembarang orang mampu untuk masuk. Hanya mereka yang memiliki kantong tebal, namun segala sesuatunya yang berada di dalam memang sangat layak untuk di hargai tinggi, termasuk para jal*ng yang berkelas.
Berpasang-pasang mata wanita segera menarik pandangan ke arah Jake ketika ia berjalan melewati mereka. Pandangan mata mendamba itu Jake hiraukan begitu saja. Ia tak sedang berminat untuk menebar senyum menggoda seperti biasanya.
Miles terkekeh melihat wajah kusut Jake dari sudut meja VIP yang telah dipesan melalui dirinya. Deretan meja VIP ini terbatas sekat kaca dan peredam sehingga suara hingar bingar dan dentuman musik yang memekakkan telinga hanya sedikit menelusup masuk pada area VIP, sementara pandangan mata mereka masih bebas melihat lautan manusia yang sibuk menggapai kesenangan di sana.
"Aku tahu penyebabnya." sambut Miles ketika Jake meraih duduk dan menegak gelas kecil di depannya.
"Sialan, aku benar-benar ingin mendengar suaranya." desah Jake seraya menyandarkan tengkuknya di kepala sofa.
"Hubungi saja dia, apa susahnya."
Jake segera meliriknya tajam. Miles terkekeh.
"C'mon, Man! Wake up, find someone else."
Jake mendengkus, "tak ada wanita seperti Vello di luar sana."
Miles menopang kedua sikunya di paha kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Jake.
"Vello memang hanya satu, tapi wanita sebaik dia tidak hanya satu." pandangnya serius sesaat.
Jake tersenyum remeh pada Miles. Jake yang sudah lebih berpengalaman mengencani wanita dibandingkan Miles dan Jake tak menemukan satupun wanita sebaik dan sesempurna Vello.
"Kau sering mengencani wanita yang mengunjungi tempat seperti ini, bukan? Sekarang aku bertanya padamu. Di mana kau bertemu Vello pertama kali?"
Jake terkekeh remeh, mengetahui arah pembicaraan Miles. "Aku tak sebodoh itu mencari sosok seperti Vello di sini. Mereka yang ada di sini hanya untuk menemaniku menggapai kesenangan malam. Jangan mengajariku soal mengencani wanita, aku lebih berpengalaman di banding dirimu."
Jake berusaha, ia tak tinggal diam begitu saja saat perasaannya pada Vello semakin merasuk. Ia beberapa kali memaksakan diri berkencan untuk mengusir cinta yang salah ini, namun semua wanita itu hanya berakhir paling lama satu minggu dengannya. Mereka tetap para sampah di mata Jake. Mereka bukan Vello, tak ada yang bisa menggantikan sosok wanita lembut itu.
"Well, nyatanya pengalaman tak selalu berbanding lurus dengan hasil. Buktinya kau lebih berpengalaman, tapi justru aku yang lebih dulu mendapat wanita baik-baik," jawab Miles mencemooh seraya menuangkan botol alkohol ke dalam gelas kecil di depannya.
"Apa gunanya kau membanggakan itu ketika kau sendiri yang di putuskan oleh mantan kekasihmu itu?" cibir Jake.
"Aku rela melepaskannya karena aku tahu, bukan aku kebahagiaannya. Cinta tak harus memiliki," ujarnya mengelak dengan sok bijaksana di tengah wajah Miles yang tahu bahwa kata-kata Jake tadi menohoknya.
Jake tergelak dan semakin ingin menyudutkan Miles. "Mengaku saja padaku kalau kau tak cukup memuaskannya sehingga ia berpaling."
"Sialan! Senjataku cukup besar untuk membuatnya susah berpijak."
"Besar tapi bodoh juga untuk apa? Baru tiga menit kuyakin kau sudah keluar." ledek Jake lagi.
"Kau menantangku fours*me?"
Tawaku kembali menyeruak. "Kau yakin ingin berpartner fours*me denganku? Tapi baiklah tak apa."
Miles terdiam sesaat, "oke, kita fours*me. Siapa yang memilih wanitanya?" tanyanya ragu di tengah suaranya yang mencoba berujar mantap dan Jake ingin tertawa geli karena itu.
"Aku bebaskan padamu. Kau saja yang memilih, Tapi sejujurnya aku tak tega jika melihatmu nanti akhirnya hanya menonton kami, karena wanitamu lebih memilih bermain denganku," ujar Jake dengan wajah prihatin.
__ADS_1
"Kau benar-benar bos sialan, Jake!" dengkusnya.
Tawa Jake akhirnya meledak namun kemudian di susul pula oleh umpatan serta tawa Miles.
"Kapan kau terakhir ke supermarket? Lebih baik kau mencari jodohmu di sana," lanjut Miles dengan tawa yang masih mengiringi.
"What the heck! Kau pikir wanitaku di jual di deretan rak supermarket. Di beri barkot, begitu?"
Miles tergelak, "Bisa jadi, bukan? Wanita idaman yang keibuan dan bisa memasak tentu akan sering ke supermarket," celetuknya asal.
Keibuan dan bisa memasak? Perkataan Miles mengingatkan Jake kembali pada sosok Vello. Sial!
"Sepertinya aku salah memilih orang untuk kuajak bertemu. Saranmu terlalu bermanfaat." sarkas Jake seraya meraih botol yang berada di dekat Miles dan menuangkan pada gelasnya sendiri, lalu meminumnya dalam sekali tegak.
Miles terkekeh. "C'mon Jake, saatnya melupakan Vello sejenak."
Mereka berdua segera berjalan ke luar area VIP untuk menikmati lautan manusia yang tengah asik menggoyangkan tubuh mereka. Jake memilih duduk, sementara Miles sudah mulai bergabung bersama orang-orang di sana.
Tak berselang lama, seorang wanita mulai mendekat dan langsung duduk dipangkuan Jake. Ia memang jal*ng yang sudah Jake pesan. Bentuk tubuh dan wajahnya sesuai dengan tipe pria itu. Berambut panjang, bibir yang tak terlalu tebal, tubuh ramping dengan bokong seksi dan berdada besar, namun lebih penting dari itu, ia bersih.
Jake butuh pengalihan dari bayangan Vello yang semakin menekan logikanya.
"Tidak sekarang, Baby," usirnya halus pada wanita itu, karena ia masih belum menginginkannya. Ia datang terlalu cepat, namun tangan Jake dengan nakal mengusap paha ****** tersebut dari mini dress yang tak benar-benar mampu menutupi paha itu.
Dada besar itu menekan Jake, mencoba membangkitkan aliran panas pada darahnua.
"You don't want to taste me?" bisiknya merajuk.
Jake tahu, wanita itu tidak hanya sedang melakukan tugasnya, namun ia juga menginginkan kepuasan untuk dirinya sendiri. Jemari wanita berambut panjang itu mulai menyusuri dada Jake.
Jake melempar senyum menggoda padanya dan seakan mendapat persetujuan dari senyuman itu, bibirnya mulai berkeliaran di leher dan cuping Jake.
----------------------
Scarlet memandang pantulan dirinya di depan cermin toilet Circle night club. Ia rapikan lagi lipstick merah di bibirnya, sebelum akhirnya ia menyisir beberapa helai rambut yang ia rasa kurang rapi, menggunakan jari.
Masih Scarlet ingat ketika Zerenity ada di belakangnya, saat ia sibuk memilih dress yang akan ia kenakan.
"Kenapa kau tak jadi pergi dengan Ford?"
"Kita hanya menunda waktu, ia tak ingin aku kelelahan."
Scarlet memutar bola mata mendengar keprotektifan Fordrix pada Zerenity.
"Apakah Ford sudah mencium bibirmu?"
"Kalian berdua benar-benar aneh. Kurasa harus ada pihak ketiga agar kalian segera sadar bahwa kalian saling mencintai."
Zerenity mendesah lelah, "aku tak tahu, Scar. Ia begitu mudah untuk dicintai, namun begitu sulit untuk aku mengerti arah keinginannya padaku."
Scarlet turut mendesah lelah, ia tahu pasti apa yang Zerenity rasakan. Ford memang berhasil membuat saudaranya nyaman dalam belenggu perhatian dan kepedulian.
"Kau sendiri? Bagaimana bisa kau menginginkan pria bernama Jake itu sampai sebesar ini? Kurasa ia pria pertama yang membuatmu sampai segigih ini."
Scarlet terkekeh, "kau benar, Zeren. Aku tak bisa menjelaskan sosok Jake secara sederhana. Kau akan tahu sendiri ketika aku memperkenalkannya padamu nanti."
Zerenity turut terkekeh, "baiklah. Aku akan sabar menunggu saat itu tiba, meskipun kau telah benar-benar menyiksa rasa penasaranku saat ini."
Scarlet tertawa oleh rasa penasaran saudaranya, sekaligus ingin tahu juga bagaimana tanggapan Zerenity jika sudah melihat sosok Jake.
"Pilihlah mini dress hitam lengan panjang itu," ujar Zerenity kemudian.
"Ya, dress ini memang sangat indah." Scarlet mengambil dress pilihan Zerenity dan menempelkan pada badannya di depan cermin kamar, "namun, apakah kau yakin? Apakah aku tak mengenakan dress merah itu saja?" lirik Scarlet pada mini dress merah yang berada di atas ranjang dengan tali spaghetti dan potongan V line rendah pada bagian dada.
"Kurasa mini dress hitam itu lebih terlihat elegan dengan bahannya yang berkilau dan kau masih terkesan seksi dengan punggung yang terbuka."
"Hmmm ...." Scarlet memandangi lagi dress pilihan Zerenity.
Perkataan saudaranya terasa benar. Jake pasti sudah biasa dikelilingi wanita dengan pakaian super seksi. Ia harus tampil berbeda dari yang biasa pria itu lihat. Ia harus menjerat Jake dengan caranya. Bukan menyerahkan diri begitu saja seperti para jal*ng, dan mini dress pilihan Zerenity terasa sesuai dengan misinya.
Scarlet menarik napas panjang sebelum akhirnya kaki jenjang itu memutuskan meninggalkan cermin di wastafel toilet.
Scarlet tak boleh gagal untuk mendapatkan perhatian Jake, setidaknya pria itu dapat memulai dengan mengingat wajahnya.
Dentuman musik segera menyerang pendengaran Scarlet ketika ia telah keluar dari toilet.
Sarafnua bergetar karena ingin segera melihat sosok prianya yang tampan. Sementara manik walnut-nya berusaha keras memindai pada lautan manusia dengan pencahayaan minim ini.
Gotcha! Scarlet menemukan Jake, namun dadanya tak siap oleh pandangan yang di dapat matanya ketika harus melihat seorang wanita berada dipangkuan Jake. Terlebih tangan dan bibir wanita itu begitu bebas menjelajah pada tubuh kokoh Jake.
Scarlet menggenggam jemarinya erat. Ya, harusnya ia lebih menyiapkan mental untuk melihat kemungkinan ini. Menginginkan Jake pasti lebih sulit dari yang ia bayangkan. Baru akan memulai saja ia sudah merasakan kesakitan sehebat ini.
Ia meraih udara sebanyak mungkin untuk mengisi dadanya yang sesak meskipun udara di sekitarnya tak membuat ia lebih baik karena telah bercampur asap rokok dan bau berbagai macam parfum.
Kitten heels hitam yang Scarlet kenakan segera menyeret tubuh itu ke dance floor. Mengambil posisi yang dapat Jake lihat dengan jelas.
Manik Scarlet bersembunyi sesaat untuk merasakan dentuman musik yang mengisi sela-sela tulangnya, kemudian perlahan tubuhnya mulai bergoyang oleh bius musik yang memerangkap telinganya.
Scarlet mulai merasa rileks. Maniknya terbuka dan kembali melihat sosok Jake di sana yang tengah menikmati sentuhan bibir dari wanita sialan yang membuat jejak di leher pria itu.
__ADS_1
Tubuh Scarlet terasa panas melihat itu, membuat aliran darahnya mengucur deras untuk membawanya semakin meliukkan tubuh di tengah musik.
Kedua tangan Scarlet berada di sisi kepala sementara badannya bergoyang sensual dengan mata menghunus tajam pada sosok Jake di sana. Ia melihat Jake, sebesar ia menginginkan sosok itu hingga keramaian di sekitarnya tiba-tiba terasa buram, terlebih ketika manik legam itu menangkapnya.
Tubuh Scarlet terbakar oleh tatapan yang berhasil ia raih. Darah berdesir membawa tubuhnya semakin meliuk. Jake tersenyum menggoda pada Scarlet di tengah-tengah belaian wanita dipangkuannya.
Oh, Jake benar-benar pria yang panas. Scarlet balas tersenyum pada Jake tanpa menghentikan tubuhnya yang telah terbakar oleh dentuman musik dan maniknya yang membara.
Tubuh Scarlet seketika basah oleh tatapan Jake yang menggoda. Jantungnya berlarian karena berhasil mendapatkan perhatian Jake. Scarlet membuat sentuhan wanita sialan itu tak berarti di tubuh Jake, karena ia telah menjerat atensi Jake.
Baiklah, cukup. Scarlet tak akan menyuguhkan tubuh ini lebih banyak lagi untuk Jake. Ia tak akan menyerahkan jiwanya dengan mudah pada pria itu. Meskipun sesungguhnya jiwa Scarlet telah merintih untuk merasakan diri Jake yang pasti begitu tangguh dan nikmat.
Mereka saling melempar senyum menggoda, sebelum Scarlet memaksa membalikkan badan untuk meninggalkan pesona seorang Jake.
Scarlet berusaha keluar dari desakan para manusia di atas dance floor tapi langkahnya terhenti ketika seseorang pria menghalanginya.
"Hai Seksi, mari bersenang-senang malam ini," ujar pria dengan aroma alkohol yang menyengat dari mulutnya.
Scarlet tersenyum remeh, mendorong dada itu dengan telunjuknya. "Bermimpilah, Dude."
Scarlet hendak pergi namun pria itu mencengkeram tangannya. Manik Scarlet segera menghunuskan pandangan menyalang padanya.
"C'mon, jangan buat aku berlaku kasar."
Sumpah serapah Scarlet hampir saja keluar ketika tiba-tiba pria lain melepas cengkeraman tangan itu.
"Dia bersamaku," ujarnya tajam dengan suara dingin pada pria itu.
"Ford?" Scarlet menoleh heran.
Pria tadi segera mengangkat kedua tangan di depan dada dan segera menyingkir.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ada perlu dengan seseorang," jawab Fordrix seraya menilik penampilan Scarlet dari bawah hingga atas.
"Jangan menceramahiku. Aku bukan Zerenity."
Fordrix tersenyum miring. "Tidak, aku justru heran pakaianmu sedikit tertutup. Pasti Zerenity yang memilihkannya untukmu."
"Tentu saja, siapa lagi. C'mon, Ford. Temani aku." Scarlet tarik tangan sahabatnya untuk kembali pada tengah dance floor, kemudian ia memeluk leher itu dan mulai kembali bergoyang.
"Kupikir kau akan pulang." Fordrix turut mengikuti irama dentuman musik.
"Yeah, tadinya. Namun, berhubung ada kau di sini. Kurasa aku aman jika bertahan lebih lama berada di night club elit ini."
Fordrix terkekeh. Tangannya memeluk pinggang Scarlet. Tubuh mereka meliuk, larut dalam gulungan atmosfir untuk melepas segala beban.
"Kapan kau melepas status tak jelasmu itu pada saudaraku? Jangan menyakitinya."
"Aku tak pernah ingin menyakitinya. Kau tahu aku menyayanginya."
"Kalau begitu jangan gantungkan hatinya." Scarlet berbalik, menggoyangkan tubuhnya di belakang Fordrix.
"Apakah sebesar itu cintanya padaku?" Fordrix memutar pinggang Scarlet untuk kembali menatapnya. Pandangan pria itu tajam tak seteduh jika ia memandang Zerenity.
"Hanya orang bodoh yang tak menyadari hal itu."
Fordrix tersenyum, "thanks, Scar."
Scarlet dan Fordrix kembali larut melewati malam oleh musik dan tubuh mereka yang saling meliuk tanpa ada batas dan melupakan orang di sekitar mereka.
...To Be Continue...
CAST:
- Jake Ryver
- Scarlet Robinson
- Zerenity Robinson
- Fordrix
- Miles
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
Sneak Peek chapter? IG @saltedcaramely_
__ADS_1