Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 12


__ADS_3

Enjoy!


---


Zerenity tersenyum menahan geli, membaca tulisan Scarlet di diary tentang ciuman Jake. Saudaranya begitu berapi-api dalam memuja pria itu.


"Apa yang ingin kau tertawakan?" Dengkus Scarlet tiba-tiba yang membuat Zerenity tersentak.


"Kau benar-benar mengagetkanku." Zerenity mengelus dadanya, kemudian menutup diary mereka.


"Kau pasti ingin mengatakan aku berlebihan!"


"Tidak," kilah Zerenity semakin menahan tawa.


Ia memilih membalikkan tubuh, menilik kembali penampilannya di depan cermin. Blouse sederhana berwarna emerald berlengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans hitam, melekat di tubuhnya dengan sempurna.


"Ia benar-benar pencium yang hebat. Sentuhan bibir dan sapuan lidahnya sangat berpengalaman. Bibirku terasa leleh di dalamnya!"


Zerenity tak kuat lagi menahan diri untuk tak tertawa. Bukan karena ia tak percaya, tapi cara Scarlet menjelaskan yang begitu menggebu-gebu benar-benar menggelikan.


"Teruslah meledekku!"


Zerenity melipat bibir, berusaha menyudahi tawanya. "Lalu mengapa kalian tak bercinta?"


"Tidak Zeren. Aku tak akan membiarkan itu datang dengan cepat, meskipun aku harus merelakan kenikmatan yang baru saja aku sentuh."


Kepala Zerenity mengangguk. Ya, saudaranya memiliki tekad yang sangat kuat. Ia menghargai apapun pemikiran dan keputusan Scarlet.


"Huh! Kini aku tahu mengapa banyak wanita yang tidak bisa berpaling darinya setelah bercinta."


Zerenity memandang dirinya di cermin tanpa menjawab perkataan Scarlet. Benarkah Jake pria yang demikian? Ia menjadi teringat perkataan Fordrix tentang Jake. Yeah, mungkin saja jika mengingat pembawaan Jake yang begitu santai dan bersahabat, tidak diherankan bila banyak wanita yang nyaman berada di dekat Jake.


"Kau akan berangkat sekarang?"


"Ya, aku harus pergi," jawab Zerenity seraya menyampirkan slingbag-nya ke pundak kanan.


Seperti biasa, ia akan berangkat ke Robin's. Namun, hari ini akan terasa melelahkan karena banyak hal yang harus ia urus, salah satunya membenahi pengelolaan karyawan dan keuangan seperti yang telah Russell ajarkan ketika mereka bertemu di London saat itu.


Yeah, meskipun pria itu telah begitu melukai hatinya, namun Zerenity tak akan membuang ilmu mahal yang telah dibagikan oleh Russell untuknya. Pria itu jauh lebih berpengalaman darinya dalam mengelola bisnis dan sudah terbukti berhasil dengan kesuksesannya memegang ratusan cabang restoran dan serta mendirikan salah satu perusahaan agrobisnis di Indonesia.


"Bye, Sist."


"Jangan lupa bawakan lemon cream pie untukku!"


----------------


Sebuah ketukan pintu membuat Fordrix mendongak dan mempersilakan orang di luar sana untuk masuk.


Seorang sekretaris wanita melangkah menghampiri meja Fordrix dan menyerahkan beberapa berkas pada sang general manager.


Matanya memandang memuja pada atasannya yang begitu tampan. Seperti kebanyakan wanita di kantornya, ia hanya mampu sekedar mengagumi tanpa berani mendekat karena general managernya terlalu susah untuk dijangkau. Pria itu seakan memberikan tembok pembatas pada tiap orang di kantor dengan sikapnya yang dingin.


Fordrix menerima tanpa melirik sedikitpun pada sekretarisnya. Ia membuka salah satu map dan memindai seksama isi laporan di dalamnya.


"Aku ingin kau mencari tahu data pembeli lukisan Scarlet Robinson yang dipamerkan di Percy Gerard Gallery, kemarin," ujar Fordrix dengan suaranya yang dingin dan tegas, sembari membubuhkan tanda tangannya.


"Baik, Sir." Wanita berambut pendek itu mengangguk.


Tak merasa asing sedikitpun pada nama wanita yang disebutkan sang general manager, karena itu bukanlah perintah kali pertama yang ia terima. Atasannya memang sudah biasa meminta data pembeli bahkan pengunjung yang datang di lokasi tempat lukisan Scarlet dipamerkan.


"Dan satu lagi," kali ini Fordrix mendongak dengan sorotnya yang tajam. "Cari tahu tentang pria bernama Jake Ryver."


-------------------


Jake menggoyangkan gelas whiskey yang hampir tandas. Ia menarik napas panjang kemudian menunduk menopang dahinya dengan tangan.


Beberapa saat lalu ia baru saja mengakhiri video call dari keponakan manisnya, Liora dan hal itu berujung dengan Vello yang turut bergabung dalam perbincangan.


Kini Jake kembali diserang oleh rasa rindu yang menghimpit. Telinganya serakah untuk kembali mendengar tawa manis dan suara lembut itu, dan matanya ingin berlama-lama memandang wajah cantik Vello, tangan dan bibirnya juga haus untuk mendekap serta mengecup pipi Vello.


Jake kembali mendesah berat. Bayangan Zerenity muncul membawa penawaran, namun lagi-lagi ia harus mengumpat pada kejadian kemarin di galeri.


Jika ia bisa menahan diri agar tak mencium Scarlet, mungkin kini akan tetap berjalan mudah seperti rencana awalnya. Hasrat sering kali membuat ia menjadi pria gegabah. Kini justru ia sendiri yang mempersulit langkahnya.


Jake menegak habis cairan keemasan itu tak bersisa, lalu mendorongnya ke meja. Ia menyandarkan kepala di punggung sofa seraya menatap langit-langit ruang kerjanya.


Ia benar-benar menginginkan saudara kembar tersebut. Ia terkekeh pada keegoisannya. Ya, awalnya ia hanya ingin bermain-main dengan Scarlet, dan menjadikan Zerenity tujuan utama, namun setelah ciumannya dengan Scarlet kemarin, ia sangat ingin membuat wanita itu mendapat ganjarannya berkali-kali lipat setelah meninggalkannya. Ia akan membuat wanita itu memohon padanya seperti para wanita lain ketika di bawahnya.


Ia menarik napas berat sebelum akhirnya bangkit dari duduk dan meraih coat-nya. Jake melirik sesaat pada jam di pergelangan tangan. Belum terlalu larut untuk ke cake shop milik Zerenity. Jake melangkah mantap keluar ruangannya.


Ya, ia harus bertemu Zerenity. Rasa rindunya pada Vello begitu menyesakkan dan ia membutuhkan Zerenity saat ini. Bagaimanapun caranya ia harus bisa memiliki Zerenity dan merasakan nikmatnya Scarlet.


Berengsek? Jangan lupakan kalau itu nama tengah Jake.


Tak membutuhkan waktu lama, Ferrari merah Jake tiba di Robin's Cake Shop. Ia berlari kecil mencapai pintu ketika salah seorang karyawan membalik tanda tulisan 'open' menjadi 'closed'.


"Maaf Tuan, kami baru saja tutup," kata karyawan tersebut dengan segan ketika Jake tetap masuk ke dalam Robin's.

__ADS_1


Baru saja Jake akan berucap ketika Zerenity keluar dari sebuah pintu di belakang meja kasir.


"Jake?"


"Hai." Jake langsung tersenyum.


"Hai." Zerenity membalas dengan senyuman lembutnya.


Lengkungan bibir itu langsung menghangatkan mata Jake. Senyuman yang semanis milik Vello.


Zerenity mempersilakan para karyawannya untuk pulang. Sementara ia tetap berada di dalam. Tak enak hati untuk meminta Jake pulang, sedang pria itu baru saja datang.


"Ingin memakan sepotong kue?" tawar Zerenity ramah.


"Yeah -"


Belum sempat Jake melanjutkan kalimatnya, suara dari perutnya yang keroncongan lebih dulu berbunyi nyaring di tengah kesunyian cake shop. Ia segera mengumpat dalam hati. Seketika wajah Jake memerah karena malu.


Perut sialan! Tak tahu malu! Bedebah!


Zerenity menutup mulutnya terkikik geli. Sedang Jake rasanya ingin membuang wajahnya saat ini juga.


"Sepertinya kau lebih membutuhkan sepiring makan malam. Ayo, aku akan memasakkan sesuatu untukmu."


Jake menggaruk tengkuknya dengan canggung dan tak ada pilihan lain selain mengikuti Zerenity masuk ke dalam dapur. Zerenity membawanya pada dapur kecil yang terpisah dengan dapur produksi. Letakkan berada di sudut ruangan dengan sebuah meja di tengah-tengahnya.


Ia baru tersadar bahwa dirinya memang belum memakan apapun dari siang tadi. Ia merutuki perutnya sendiri. Tak harus berdemo seperti itu juga, bukan? Terlebih di depan wanita yang menjadi incarannya.


"Maaf merepotkanmu."


Sebenarnya, bisa saja Jake mengajak Zerenity untuk makan bersama di luar. Namun, rasanya sangat disayangkan bila ia menolak kesempatan untuk mencicipi masakan Zerenity. Bukankah ia ingin membandingkan masakan Vello dan Zerenity?


"Tidak sama sekali." Zerenity menoleh singkat dengan senyuman lembutnya sebelum ia mengikat rambut menjadi ponytail, membuat Jake kini dapat melihat leher jenjang itu leluasa.


"Apakah kau memiliki alergi tertentu?"


Zerenity membuka lemari pendingin berukuran sedang. Mencari ide makanan apa yang dapat ia masak dengan pilihan bahan yang tak cukup banyak di sana.


"Ya, aku alergi kayu manis."


Kepala Zerenity segera menengok dan kembali tertawa. "Itu bukan alergi. Kau hanya tak menyukainya saja."


Jake tersenyum melihat tawa itu, sangat manis seperti Vello. "Aku alergi dengan rasa dan baunya," ujar Jake keras kepala.


Zerenity terkekeh, menggelengkan kepala. Ia meraih daging skirt steak, serta beberapa jenis daun dan lemon. Ia akan membuat skirt steak dengan saus chimichurri.


Zerenity mengiris dua daging skirt steak tersebut secara tipis di bagian permukaan untuk membuat bumbu mudah meresap, kemudian melumurinya dengan olive oil, lalu menaburkan garam, lada, serta serpihan cabe kering.


Sebenarnya, daging tersebut akan lebih nikmat jika di masak di atas alat pemanggang, namun Zerenity tak bisa melakukan itu dengan keterbatasan alat yang ada dapur ini. Maklum saja, ini bukanlah dapur restoran. Sehingga Zerenity akhirnya memasak dua daging tersebut di atas iron cast, seperti membuat steak dengan teknik pan frying, yaitu memasak dengan sedikit minyak namun menggunakan suhu tinggi. Hal itu bertujuan agar ia mendapatkan warna kecokelatan yang bagus tanpa kehilangan rasa juicy daging di dalamnya.


Di saat itu semua, Jake seperti melihat sisi lain dari seorang Zerenity, di tengah wajah lembutnya namun begitu serius ketika wanita tersebut memasak.


Cara kerja wanita itu begitu cekatan, rapi dan bersih. Seakan tiap langkahnya telah terprogram di dalam kepala cantik itu hingga tak ada yang terlewat dan tak ada waktu yang terbuang.


Gerakan tangan Zerenity yang begitu gesit menggunakan pisau untuk mencincang halus bahan-bahan, terlihat begitu memesona di mata Jake. Ia tak tahu bahwa melihat wanita memasak dapat semenarik ini dan Zerenity tampak begitu seksi dengan kegiatannya, meskipun wanita itu tak memakai pakaian terbuka.


Zerenity membalik dua dagingnya hingga menampilkan sisi yang telah kecokelatan dengan sempurna.


Lalu, ia memindahkan hasil cincangan halusnya pada sebuah mangkok kaca. Cincangan itu terdiri dari bawang putih, daun ketumbar, mint, oregano, adas, dan peterseli. Zerenity juga memarut kulit lemon, memeras buah tersebut dan menuangkan olive oil. Ia mengaduk bahan saus chimichurri itu hingga rata dan menyisihkannya.


"Baunya sangat nikmat," ujar Jake seraya bangkit dari duduknya ketika Zerenity mengangkat daging dari iron cast dan memindahkannya ke cutting board untuk proses resting, agar daging menjadi lebih empuk dan juicy secara merata.


"Yeah, kau benar. Aku jadi ikut lapar." Zerenity terkekeh.


"Dari siapa kau belajar memasak pertama kali?" Jake mendekat.


"My mom. Ia mengajarkanku memasak dari kecil. Kata mom, aku sudah tertarik masak sejak umurku tiga tahun." Zerenity menanggapi dengan membereskan segala peralatan memasaknya.


"Tiga tahun?" Sentak Jake tanpa sadar dan membuat Zerenity tertawa kecil.


"Yeah, aku begitu tertarik setiap kali melihatnya di dapur, aku selalu memperhatikannya. Bahkan kata mom, aku pernah menangis kencang dan marah saat aku melewatkan kesempatan melihat ia memasak untuk sarapan karena aku masih tertidur. Katanya, sejak saat itu aku tak pernah rewel untuk tidur malam, agar aku tak melewatkan kembali kegiatannya memasak."


Jake menangkap mata walnut Zerenity yang tampak berbinar kali ini. Jake tersenyum tanpa sadar.


"Dan ketika umurku lima tahun, aku nekat mempraktekkannya. Aku membuat masakan ini. Aku masih mengingat bagaimana terkejutnya orang tuaku kala ini." Zerenity kembali tertawa kecil dengan maniknya yang menyingkap tabir cahaya masa lalu.


"Masakan ini?" Lagi, Jake dibuat terkejut oleh penuturan wanita ini. Bagaimana bisa gadis mungil yang hanya setahun di atas Liora memasak skirt steak seperti ini?


"Yeah, saat itu satu sisinya gosong." Zerenity tergelak malu.


Jake kembali tersenyum melihat wajah itu yang tampak menggemaskan. Tanpa sadar ia mengacak rambut Zerenity.


Zerenity terkesiap dan mata mereka segera saling bertemu. Namun sebelum itu berlangsung lama, Zerenity segera menurunkan tangan Jake. Ini terasa salah.


Ia memilih kembali pada masakannya. Mengiris daging tersebut hingga menampakkan bagian medium rare yang sempurna. Menuangkan saus chimichurri di bagian atas dan mindahkannya ke piring.


__ADS_1


Mereka berdua makan dalam hening. Namun kemudian Zerenity meletakkan pisau garpunya, dan bertopang dagu melihat Jake.


Ia tersenyum melihat bagaimana Jake begitu lahab saaat makan. Selalu ada kepuasan dan kesenangan tersendiri ketika ia melihat orang lain menikmati masakannya. Seakan waktu yang telah ia gunakan terbayar sempurna.


Sementara itu, Jake tak menyadari bahwa Zerenity tengah memperhatikannya karena ia benar-benar tenggelam oleh rasa masakan wanita itu yang sangat lezat.


Jake tak bisa menyangkal. Bahwa masakan Zerenity memang di atas level Vello, namun bukankah wanita itu memang sudah menekuni dunia masak sejak kecil? Jadi wajar saja, bukan? Vello bukan lawan seimbang seorang Zerenity. Jika Vello menekuni masak sedari kecil, mungkin ia sama hebatnya bahkan lebih dari Zerenity.


Vello tetap luar biasa di mata Jake.


Suara air yang dituangkan pada sebuah gelas di depan Jake segera membuat pria itu mendongak dan menemukan Zerenity di sana.


"Kau sangat kelaparan," kekeh Zerenity dengan mengarahkan matanya pada piring Jake yang terlampau bersih tak bersisa.


Jake turut tertawa. Ia menagak air mineral yang telah Zerenity berikan. "Yeah, masakanmu sangat lezat. Terima kasih. Aku meringankan bebanmu dalam mencuci nanti, bukan?" Canda Jake, ia menyadari piring makannya yang bersih. Bahkan tak ada saus yang tertinggal.


Zerenity tergelak manis di mata Jake. kemudian wanita itu membereskan peralatan makan mereka.


"Apakah ibumu juga seorang chef? Ia pasti sangat hebat." Jake berdiri di dekat area kitchen sink. Di samping Zerenity yang tengah mencuci piring.


"Tidak, ia seorang ibu rumah tangga. Namun masakannya selalu luar biasa. Sayangnya aku belum sempat belajar banyak darinya."


Kali ini Jake melihat pancaran mata Zerenity tampak meredup di tengah senyuman yang berusaha ia kembangkan.


"Mengapa?"


"Karena ia pergi dengan sangat cepat," pandang Zerenity setelah menyelesaikan kegiatannya.


"Maafkan aku," sesal Jake tulus. Ia berpikir dengan membuka pembicaraan tentang ibu Zerenity, ia dapat melihat kembali binar cantik di manik walnut itu, tapi ia telah melakukan kesalahan.


"Tak apa. Itu sudah sangat lama." Zerenity menggeleng pelan.


"Kau sangat merindukannya. Aku mengingat ketika kau memanggilnya dalam tidurmu."


Pupil Zerenity melebar. Ia tak tahu bahwa mimpi buruknya sampai di dengar oleh Jake saat itu. Zerenity menunduk. Ia malu, orang lain melihat panggilan menyayatnya saat itu.


Ia tak ingin mendapat olokan seperti masa remajanya. Ia masih mengingat bagaimana orang di sekitarnya memandang ia layaknya orang gila. Mereka mengasihi sekaligus mengoloknya di belakang sana.


Harusnya ia tak tertidur di mobil Jake. Harusnya ia pulang dengan cepat, karena ia tahu, setiap kali ia kelelahan. Mimpi buruk selalu menyergapnya. Memutar masa lalu yang bernanah.


Seakan sebuah pintu yang terbuka, potongan mimpi-mimpi itu hadir kembali di benaknya. Bunyi sirine ambulans, bergaung di telinga. Darah-darah yang menempel di remputan, melingkupi penglihatannya.


Tubuh Zerenity kembali bergetar dengan wajah yang perlahan memucat. Ia segera berbalik agar Jake tak melihatnya.


Zerenity menarik ikat rambutnya dan menyampirkan surai itu di sebelah pundak. Menyisirnya dengan tangan. Namun, seketika ia tersentak kala Jake memutar tubuhnya menghadap pria itu dan menurunkan tangannya.


"Apakah menyisirnya membuatmu lebih nyaman?" Jake menggantikan menyisir rambut itu dengan tangannya sendiri. Matanya menjerat walnut redup tersebut.


Terpaku, Zerenity tak menyangka ada pria yang belum lama ia kenal, namun mampu menebak dengan tepat. Bahkan Fordrix tak pernah menyadari akan hal itu.


"Kau bisa menangis jika kau ingin. Hanya ada kita di sini. Tak akan ada yang menghakimimu," ujar Jake begitu saja kala menyelami kerapuhan pada mata Zerenity.


Jake merasakan ketakutan pada tubuh Zerenity yang bergetar seperti ketika wanita tersebut bermimpi buruk. Ia melihat luka dan kemarahan pada iris walnut yang biasanya memancarkan keteduhan. Nyatanya terdapat banyak rahasia di balik lingkaran mata tersebut.


Zerenity kembali menggeleng. Tidak, Jake adalah orang asing. Ia tak akan membiarkan Jake mengetahui lebih banyak sisi rapuhnya. Jika yang berada di depannya saat ini adalah Fordrix, pria yang sudah bertahun-tahun ia kenal, Zerenity yakin akan menumpahkan segalanya.


Namun, Zerenity tak dapat menampik. Ia merasakan ketenangan yang perlahan merayap sejak kali pertama Jake menggantikan menyisir rambutnya.


Iris legam dan walnut itu terus terikat tanpa mereka sadari. Sepasang mata hitam itu mencoba menjadi penawar. Membentangkan ruang gulita, menunjukkan bahwa Zerenity dapat bersembunyi di sana dari rasa sakit yang mengejar.


Jake tak tahu apa yang ia lakukan. Bisikan hati menuntunnya sejak mata mereka terjerat.


"No one can judge you."


...To Be Continue...


CAST:


- Zerenity Robinson



- Jake Ryver



- Scarlet Robinson



- Fordrix



Thank you sudah baca sampai chapter ini.


Sneak Peek & Info? Follow IG @saltedcaramely_

__ADS_1


__ADS_2