
Enjoy!
---
BRAAK!!
Suara bantingan pintu yang dibuka kasar oleh Jake, segera mendobrak kesunyian apartemen Scarlet. Namun, si pemilik hunian itu sama sekali tak keberatan, bahkan setelah Jake menutup pintu itu menggunakan kakinya. Mungkin karena Scarlet tak memiliki kesempatan sedetik pun atau mungkin tak peduli karena Jake benar-benar menyita segala kewarasannya.
Pria itu terus memagut bibirnya seraya mendorong tubuh mereka semakin dalam menuju tengah ruangan.
"Ehm!"
Keduanya melepas coat yang mereka kenakan dengan buru-buru. Membuangnya begitu saja di lantai. Lalu Scarlet mencengkeram erat kedua ujung kaus Jake sebelum ia membantu melepas kaus tersebut.
Ciuman mereka terpisah dan saat itu pula napas Scarlet tercekat, melihat pahatan tubuh itu. Tato menyebar di lengan dan sebagian dada Jake, menambahkan pesona liar tersendiri di mata Scarlet. Tangannya bergetar meraba, dan seketika kulit Scarlet tersengat.
Oh, apa yang baru ia sentuh ini? Dada itu benar-benar kokoh, keras, dan hangat sampai jemarinya ingin selalu berlindung di sana.
Pandangannya merangkak menghampiri wajah Jake untuk meyakinkan diri bahwa pria itu benar-benar nyata.
Jake tersenyum begitu tampan sekaligus menggairahkan dengan napasnya yang tersengal, namun kemudian pria itu kembali menerjang bibir Scarlet. Jake menggendong tubuh itu dan mendudukkannya di meja bar. Tangannya meloloskan ritsleting mini dress Scarlet yang terletak di belakang, sementara bibirnya mengecupi sepanjang leher dan bahu Scarlet.
Scarlet menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Matanya terpejam tak berdaya merasakan serbuan Jake. Ah, ini begitu membahayakan pertahanan Scarlet, namun ini begitu nikmat sampai ia didera rasa pusing.
"Apakah kau begitu menginginkanku?" Goda Scarlet, merasakan tangan Jake yang nakal di dadanya.
Jake melemparkan senyumannya yang mengundang hasrat di tengah matanya yang berkilat-kilat, membuat Scarlet tak tahan.
Ia menarik tengkuk Jake dan bibir mereka kembali berperang. Deru napas Jake yang panas, aroma tubuh Jake yang jantan, membuat Scarlet dilanda sesak, ingin menghirupnya untuk menghidupkan kalbunya.
Bibir Scarlet berganti menyapu sisi wajah Jake. Menggesekkan hidungnya di sana, kemudian bergerak rapuh namun pasti ke telinga, lalu berbisik rayu, "seberapa besar kau menginginkanku?"
"Sebesar dan sekeras aku akan menghunjammu. Kau yakin sanggup menerimanya?" Jake menyeringai, seraya mengusapkan jemarinya di inti Scarlet, sampai wanita itu terbelalak sesaat dan menggigit bibirnya lagi.
Wajah Scarlet menjauh, ia tersenyum penuh godaan. "Mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan padaku." Tangan Scaret yang lembut dan lentik itu menari di dada Jake, membuat pria itu lagi-lagi menahan desakan tubuhnya untuk tak segera menerjang Scarlet.
Jake menggeram dan tangannya mengencang, merengkuh pinggung Scarlet. Wanita itu benar-benar menyulut hasratnya berkali-kali lipat. Ia jelas mendengar nada tantangan liar yang menggoda. Shit!
Manik Jake turun ketika Scarlet melepas ikat pinggangnya dengan lihai dan menjatuhkan celana pria itu. Jake menarik tatapannya kembali pada Scarlet. Semakin ingin tahu apa yang akan dilakukan wanita menggairahkan ini selanjutnya.
"Apa para wanita itu menyenangkanmu seperti ini?"
Oh fu*k! Mata Jake semakin menggelap menerima tangan Scarlet yang menggodanya di bawah sana. Ia sudah lebih dari sering merasakan ini, namun sentuhan malam ini terasa berbeda di tangan Scarlet. Bahkan ketika jemari itu masih terhalang, belum benar-benar menyentuhnya.
Jantung Scarlet tersentak bahagia ketika Jake kembali menerjang bibirnya dengan gerakan yang semakin buas. Sesungguhnya jemarinya di bawah sana bergetar karena tak kuasa merasakan kesiagaan yang kuat milik Jake. Namun, bagaikan candu, jemari Scarlet tak berdaya jika harus meninggalkannya.
Lengkuhan dan desahan keluar di sela-sela bibir mereka yang saling menggulung ketika Jake secara gesit melepas penghalang di dada Scarlet dengan dua jari, lalu tangan lebar itu menyerang puncaknya.
Kepala Scarlet mendongak, dadanya mengencang, membusung ketika bibir Jake menyapunya, sampai-sampai jari kaki Scarlet berkerut merasakan tangan dan lidah yang panas itu. Jake benar-benar liar, ia terlalu handal, terlalu menggetarkan, terlalu menggairahkan.
Namun, hal yang sama juga terjadi pada Jake. Darahnya memompa keras, merasakan kenikmatan yang berkali-kali nabraknya karena tangan Scarlet begitu piawai membuatnya melambung, sementara dada itu begitu manis. Ada apa ini? Mengapa wanita ini begitu menggairahkan dan begitu nikmat?
Dalam sekali tarikan mini dress dan penghalang bawah wanita itu jatuh ke lantai. Jake terperangah melihat tubuh wanita itu yang tak pernah ia bayangkan akan seindah ini. Ia berkali-kali mengatakan tubuh Scarlet kurang dalam kategori tipenya, namun ia juga tak mampu mendeskripsikan apa yang ia lihat saat ini. Terlalu memesona sampai matanya terasa pedih dan tubuhnya bergejolak untuk melesat.
Jake segera menggendong Scarlet dan menjatuhkannya di ranjang. Ia menyeringai ketika tubuh itu memantul resah dengan indah, sampai rambut brunette-nya berserakan. Tampak semakin seksi.
Sementara Scarlet di bawah sana tak kuasa melihat pahatan tubuh Jake yang membuat tiap sarafnya membeku.
Ketika Jake akan membungkuk menemuinya, satu kaki Scarlet menahan dengan jemari kaki di dada keras itu.
"Ingin menikmatiku?" Suara Scarlet yang genit dengan usapan kaki di dada Jake, seketika membakar tubuh pria itu.
Wanita itu masih mampu menggodanya di tengah kilatan hasrat pada manik walnut-nya yang kini tampak kelam. Tiap embusan napasnya yang membuat dada kencang itu mengembang, mengalirkan denyutan keras di tubuh Jake.
"Menikmatimu? Tidak, Scar," bisik Jake dengan suaranya yang mengoyak pendengaran Scarlet dengan begitu menggairahkan. Terlebih pandangan Jake yang sengaja meleburkan hasratnya dan usapan tangan Jake di kaki Scarlet yang membuat wanita itu lunglai.
"Aku akan menarikku." Jake menyentak pergelangan kaki Scarlet hingga tubuh itu semakin dekat dengan pinggang Jake.
Tangan Jake bergerak mengusap milik Scarlet. Mengalirkan gelenyar nikmat yang menyiksa.
"Masuk-"
"Ah!"
__ADS_1
"Pada mimpi yang bahkan tak pernah sanggup kau mimpikan." Jake menyeringai mendapati jarinya yang semakin basah.
Scarlet terpejam tak berdaya. Gerakan jari itu begitu tangkas dan tepat, hingga membuat bibir Scarlet mengering pucat. Scarlet bergerak gelisah karena Jake telah menawannya dengan sensasi gila yang menikam.
"Kau begitu basah, Scar. C'mon, kau bahkan belum merasakan milikku," ejek Jake tanpa menghentikan jarinya yang berlari di sana.
"Dasar kau pria brengsek seksi, Jake!" Umpat Scarlet semakin terpejam dengan wajah memerah.
Jake tergelak. Merasa menang oleh godaan Scarlet. Namun itu tak menyurutkan wanita tersebut, meskipun dengan sisa-sisa jiwanya.
Scarlet menumpukan tubuhnya dengan kedua siku, lalu satu kakinya mengusap milik Jake.
Mata mereka bertemu dan Scarlet dengan jelas melihat rahang Jake yang mengeras bersamaan dengan pria itu yang meneguk kasar salivanya.
"Shit!" Jake mendongak terpejam merasakan bagaimana Scarlet menghancurkan kekuatannya dengan kenikmatan.
Kini Scarlet yang menyunggingkan senyum kemenangan. Ia menjempit kain penutup terakhir milik Jake lalu menariknya ke bawah dengan jantung berdebar.
Segera saja Scarlet diserang gulungan ombak api ketika maniknya menatap kekuasaan Jake. Tubuhnya berkedut, badannya semakin bergetar karena Jake juga tak menghentikan jarinya di bawah sana.
Dada bidang Jake mengembang kuat mengisi udara pada parunya yang menyempit ketika melihat bagaimana mawar merah yang basah di bawah sana tampak begitu memicu geloranya.
Dengan gusar, Jake menarik tubuh Scarlet hingga terduduk, menyerahkan miliknya dalam kuasa wanita tersebut.
"Kau membutuhkan bantuanku, Jake?" Lirih Scarlet mendayu dengan matanya yang mengerling, sementara telunjuknya menyapu kekokohan Jake.
What the fu*k! Tatapan dan suara itu seakan sebuah kobaran api yang menjalar di sepanjang arus deras darah Jake.
Ia menggeram, egonya berderak namun dalam waktu bersamaan, hasratnya juga semakin berpijar.
"Ya, Scar." Suara Jake bergetar rendah penuh penekanan yang membuat Scarlet yakin ia bisa merasakan pelepasan jika saja suara itu kembali mengalun.
"Memohonlah dengan baik, Jake," goda Scarlet kembali dengan jarinya.
Jake menyeringai. Telunjuknya menyapu garis rahang Scarlet kemudian dikecupnya bibir merekah itu. "Buktikan, Scar. Buktikan kau bukan saingan mereka."
Napas Scarlet seketika tercekat. Tubuhnya membeku namun di dalam dirinya terasa panas. Manik mereka saling menjerat. Tak percaya dengan cara Jake membalas tuntutannya dengan begitu menggairahkan tanpa membuat dirinya sendiri menjadi rendah.
Lagi, Jake mengecup bibir itu dengan sekali sapuan lidah, sebelum kembali berbisik mantap namun penuh rayuan. "Prove it, Scar. I'm begging you."
Lengkuhan mereka saling membakar nadi. Sampai-sampai kepala Jake terasa berat. Ia menindih tubuh Scarlet. Membagikan sulutan api yang telah memenuhi tubuhnya dengan sapuan bibir di sepanjang pahatan menawan di bawahnya.
Scarlet berkali-kali mengumpat dalam hati karena ia hanya mampu merintih nikmat dengan kerapuhan di tubuhnya. Rambut halus di dagu Jake membawa percikan tersendiri yang terus merasuk sementara lidah dan bibir Jake mengunci kenikmatan itu pada lapisan terdalam kulitnya.
Ketika keduanya menyatu, Scarlet dan Jake sepakat meninggalkan pijakannya pada dunia untuk terjerembah bersama dalam palung penuh api.
-------------------
Kelopak mata Jake segera mengerjap meraih kesadaran ketika sayup-sayup mendengar suara dari luar kamar.
"Dan dia mengatakan akan menghubungi pria itu lagi." Suara tawa yang Jake yakini dari Scarlet terdengar di sana. Hal itu segera membuat Jake menoleh ke samping.
Wanita itu sudah lebih dulu bangun rupanya. Jake menyibak selimut yang membungkus tubuh telanjangnya.
"Temanmu benar-benar tak peka oleh penolakan." Kini terdengar kekehan pria yang Jake yakini adalah Fordrix.
Kening Jake berkerut. Ia melihat jam dinding. Nyatanya sudah menjelang siang. Entah mengapa pikirannya mengalirkan tanya, apakah Fordrix menginap semalam? Jika ya, berarti lelaki itu tidur bersama Zerenity?
Jake mendesah kesal tanpa sebab. Ia segera berpakaian.
"Sudah jangan mentertawakannya terus. Apakah kau jadi berangkat Scar?" Kini suara Zerenity turut menyapa pendengaran Jake.
"Ya, mereka sudah menungguku. Oke, aku harus pergi sekarang sebelum terlambat. Bye!"
Jake berderap masuk ke kamar mandi, kemudian tak lama dari itu ia keluar dengan tubuh yang lebih segar.
Mata legam Jake menemukan wanita yang ia yakini Zerenity, tengah duduk di sofa bersama Fordrix. Tentu saja, seingatnya tadi Scarlet berpamitan untuk pergi.
Sebelah rambut Zerenity terselip di balik telinga dengan wajah polos tanpa make up yang tampak begitu manis. Jake tersenyum tipis.
"Ya kau dulu melakukannya! Bahkan orang yang saat itu duduk di samping kita tahu." Zerenity tertawa.
"Jangan katakan lagi, Zeren." Fordrix terkekeh malu.
__ADS_1
"Lalu kau, aw! Stop, Ford." Zerenity memekik kemudian tertawa geli ketika Fordrix menarik wanita itu masuk dalam rangkulannya dengan satu tangan menutup mulut Zerenity sementara tangannya yang lain menggelitik pinggang wanita tersebut.
Tawa keduanya memenuhi ruangan sampai tak menyadari Jake telah berdiri tak jauh dari mereka. Jake memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, kemudian berdeham.
Fordrix segera melepaskan rangkulannya, sehingga membuat Zerenity dengan mudah mendongak dengan jejak keceriaannya.
"Selamat ...." Zerenity melirik jam dinding sekilas, "pagi," sambungnya dengan senyum kemudian.
Jake meringis mengusap tengkuknya kikuk. "Selamat pagi."
Ia jelas merasa tak nyaman karena bangun terlalu siang di tempat tinggal orang lain. Biasanya ia tak menghiraukan hal tersebut karena para wanitanya tinggal seorang diri atau karena mereka menginap di hotel. Tidak seperti sekarang.
Fordrix dan Jake saling mengangguk menyapa sambil berlalu. Sama-sama tak ingin berbasa-basi.
"Kau pasti lapar, aku baru saja menghangatkan sarapan untukmu."
"Kau tak perlu repot seperti ini."
Zerenity menggeleng, lalu berderap masuk ke dalam dapur dengan diikuti Jake dari belakang.
"Kau tampak ceria sekali pagi ini," celetuk Jake yang memperhatikan Zerenity yang terlihat lebih semangat dari biasanya.
"Benarkah?" Balas Zerenity tertawa halus. Ia menyodorkan sepiring cheesesteak quesadillas beserta saus.
Kemudian ia menuangkan jus jeruk dan secangkir kopi. Jake memperhatikan dalam diam, bagaimana Zerenity tak lagi bertanya, mengingat sarapan mereka saat itu.
"Kau akan membuat sesuatu?" Tanya Jake ketika melihat Zerenity mengeluarkan beberapa bahan dari lemari pendingin.
"Ya, tidak lengkap jika tak ada sayuran. Kau makanlah, ini tak akan lama."
"Zeren kau tak harus-" Perkataan Jake tertahan dengan sendirinya saat Zerenity telah memotong tomat ceri.
Jake mendesah samar dan memilih memakan sarapannya. Perkataan Zerenity tepat, tak lama setelahnya wanita tersebut menyodorkan salad yang berisi bayam, alpukat, tomat, dan beberapa campuran bahan lain.
Dengan lahap Jake menyantap makanan buat Zerenity bersama wanita itu yang menemaninya berbincang di meja bar. Lagi pula, masakan Zerenity memang lezat. Terlebih ia terbiasa makan, makanan beku dan cepat saji. Jika diingat, hanya dua kali ini ia sarapan dengan nutrisi lengkap seperti ini.
Di tengah-tengah perbincangan mereka, mata Zerenity beberapa kali berlari pada Fordrix di sofa yang sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya.
Jake melirik Fordrix sesaat yang tampak tak terganggu dengan keakraban dirinya dengan Zerenity.
Namun kemudian seberkas kilau di mata walnut Zerenity berpendar ketika Fordrix beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka.
"Maaf aku harus pergi, seseorang menemukan informasi penting yang sedang aku cari."
"Ya tak apa. Hati-hati di jalan." Zerenity mengembangkan senyumnya.
Fordrix tersenyum hangat. Membelai lembut surai brunette itu, kemudian keduanya saling mengecup pipi.
"Jake." Fordrix berpamitan dengan menepuk pundak Jake dan keduanya saling mengangguk.
Mata Zerenity terus mengikuti sampai Fordrix lepas dari jarak pandangnya dan ketika matanya bertabrakan dengan pandangan Jake yang lekat padanya, pria itu tahu pasti Zerenity tengah menelan kekecewaan di manik walnut-nya.
...To Be Continue...
CAST:
- Scarlet Robinson
- Jake Ryver
- Zerenity Robinson
- Fordrix
__ADS_1
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
Sneak Peek & Info? Follow IG @saltedcaramely_