Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 2


__ADS_3

Enjoy!


---


Scarlet belum mampu mengalihkan tatapannya yang terpaku pada wajah pria tampan yang baru saja mengajak ia bersulang.


Udara yang baru saja masuk ke dalam paru-parunya seakan terhimpit di dada seiring jiwanya yang berserakan karena efek senyuman yang masih membayang di mata Scarlet.


Pada detik di mana ia mengembuskan napas, Scarlet menyadari bahwa pria itu akan menyiksa ia setelah ini oleh wajah Jake yang menghantui mimpi sunyi Scarlet.


Bahkan ia masih dapat melukis bayangan wajah itu dengan pasti, meskipun mereka hanya berpandangan singkat. Sungguh, wajah Jake yang tegas dengan bingkai rambut di sekitar rahang dan bibirnya itu seakan menarik jemari Scarlet untuk membelainya. Alis tebal nan hitam itu membuat Scarlet semakin setia untuk mengingat mata legam Jake yang berbahaya namun begitu menggoda dan menantang. Hidung mancungnya membuat Scarlet berdesir halus membayangkan pria itu meraup aroma tubuhnya.


Sementara bibir itu? Oh sungguh, Scarley menginginkan bibir itu menjelajahi tiap jengkal tubuhnyaa yang baru ia tahu bahwa selama ini telah menanti Jake. Ia ingin bibir itu dapat mengucap namanya dengan suara pria itu yang seksi, tepat di telinga Scarlet.


Ketika Scarlet mendengar tawanya bersama Miles di depan sana. Ia tahu, bahwa ia akan selalu menginginkan tawa itu mengisi pendengarannya di penghujung hari.


Scarlet yakin Jake bukanlah pria biasa. Ia pria berbahaya yang Scarlet tahu siap meretakkan hatinya kapan saja jika Scarlet berani melangkah masuk pada lingkaran apinya yang membara. Wanita bermata walnut ini dapat melihat kelihaian Jake menebar racun mematikan pada sorot matanya. Scarlet yakin Jake pria berpengalaman yang begitu mengerti letak kesenangan wanita. Namun Scarlet tetap menginginkannya.


Ini benar-benar gila. Apakah Jake seorang yang nyata? Scarlet tak pernah menginginkan seseorang seyakin dan sebesar ini selama hidupnya, bahkan dalam waktu sesingkat ini, dan Jake membuatnya meragukan kenyataan yang baru saja terjadi, jika saja Rosie tak menepuk pundaknya karena Scarley telah diam terlalu lama.


Scarlet berdeham seraya mencoba meraih pasokan fokusnya untuk kembali pada dua temannya, dan ia berhasil melakukan itu setelah bersusah payah untuk tak melirik ke arah pria bermata legam itu.


Mereka kembali larut dalam canda yang dilemparkan Rosie pada Nick selama beberapa saat. Namun, entah mengapa maniknya kembali menyeret ke arah pria yang tadi duduk di bar stool, dan seketika Scarlet merasa hampa saat melihat pria itu bangkit dari duduk. Melangkah dengan kakinya yang mantap meninggalkan bayangan. Melenggang masuk ke dalam lift dan saat itu pula Scarlet kehilangannya.


Scarlet terserang rasa gelisah. Mengapa pria itu pergi begitu cepat dari mata yang memujanya? Jemari Scarlet terjalin gusar. Ia merasakan desakan hatinya untuk mengenal pria berambut hitam tersebut. Sedikit berharap dapat sekedar mengetahui namanya.


"Aku ingin ke meja bar sebentar." pamit Scarlet singkat pada dua temannya.


"Kau tak berniat untuk mengencani bartender itu, bukan?" goda Rosie yang di sambut tawa oleh Nick.


Mereka tahu bahwa Scarlet beberapa kali berbincang cukup lama dengan Miles. Ia pria yang menyenangkan untuk menjadi kawan bicara.


"Jika itu perlu," jawab Scarlet sambil menyibak rambut panjangnya, meladeni godaan Rosie.


"Go ahead, girl!" Nick menyemangati dibarengi Rosie yang menggeleng dengan terkekeh.


Miles tengah meracik minuman ketika Scarlet melangkahkan kakinya begitu saja tanpa pikir panjang untuk menghampiri barterder tersebut.


"Hai Scarlet." sapa pria itu ramah setelah menyodorkan pesanan minuman pada pelanggan di sudut meja.


Scarlet tersenyum padanya sebagai jawaban. Duduk di atas bar stool merah beledu. Ia memutar jari telunjuknya di bibir gelas cocktail bersamaan dengan pikirannya yang merangkai kata oleh letupan-letupan pertanyaan yang mengisi kepalanya tentang Jake.


Oh sungguh, baru saja melihat pria itu hitungan menit sudah mampu membuatnya resah seperti ini. Bagaimana jika ia melihatnya setiap hari?


"Siapa pria berjas navy tadi, Miles?" akhirnya pertanyaan itu yang meluncur. Scarlet merutuki diriku yang terlalu to the point.


Miles yang baru saja mengelap gelas, melirik Scarlet kemudian terkekeh. Oh, pasti sudah banyak wanita yang telah menanyakan hal serupa padanya.


"Dia adalah bosku. Jake Ryver."


Scarlet mengangguk, meminum cocktailnya untuk menutupi rasa malu. Sementara otaknya bersorak karena berhasil mengetahui namanya dan ya Tuhan, ia pemilik bar ini?


"Kau tertarik padanya?" Ia kembali sibuk mengelap gelas-gelas.


"Dia tampan dan itu tak bisa kupungkiri."


Lagi-lagi Miles terkekeh. Ia meletakkan gelas. Kemudian tangannya bertumpu pada meja bar untuk menatap Scarlet.


"Dia bukan orang yang tepat jika kau berniat mencintainya." katanya dengan sorot mata bersahabat yang mencoba melindungi Scarlet dari rasa sakit.


Wanita itu tersenyum, ternyata dugaannya tepat mengenai Jake. Oh, nama yang pantas untuk pria setampan itu. Bahkan dada Scarlet bergetar saat menyebut namanya di dalam benak.


"Terima kasih Miles, namun kata-katamu membuatku semakin menginginkannya."


Membayangkan banyak wanita berebut mendapatkan perhatian Jake membuat ia semakin ingin melangkah memasuki pusaran aura panasnya. Menyibak para wanita itu.


"Kau wanita yang gigih ternyata." Miles kembali terkekeh, namun sesaat kemudian Scarlet melihat matanya mengarah pada lift.


Scarlet mengikuti arah pandangan itu dan menemukan pria tampannya baru saja melangkah keluar lift.


Jantungnya seketika berdentum nyaring. Jemarinya gelisah di atas meja. Ia terjerat rasa gugup dan mendamba dalam satu waktu ketika maniknya semakin terpatri pada diri Jake yang berjalan ke arah mereka.


Langkah kaki pria itu begitu berkelas namun Scarlet tetap menemukan sisi liar pada auranya. Bagaimana bisa ada pria yang begitu menggetarkan seperti ini?


Darah Scarlet mengalir deras ketika pria itu berhenti di dekatnya dan memandang  Miles. Oh, Scarlet dapat mencium aroma parfumnya yang maskulin. Dadanya semakin meletup bahagia saat menikmati wajah tampan Jake dari dekat. Kini ia tahu, bahwa pria tersebut memiliki tato di sisi lehernya.


Anting berlian di telinganya juga semakin memperlihatkan betapa sempurnanya seorang Jake di mata Scarlet.


"Apa seseorang sudah mengantar pesananku?"


Suara seksi itu kembali Scarlet dengar dan saat itu juga ia mengalami ear orgasm. God, damn! Suara Jake benar-benar merajuk lorong pendengarannya. Suara itu sedikit serak, rendah, namun ringan dan lantang. Bagaimana bisa pria itu memiliki suara seksi dan merdu seperti itu?


Scarlet tak mampu membayangkan reaksi para wanita di luar sana yang telah mendengar desahannya, mengisi seluruh jaringan tubuh mereka. Scarlet benar-benar cemburu.


"Oh, maaf aku tadi lupa memberikannya padamu, Bos."


Sudut mata Scarlet melihat Miles mengambil sebuah kotak kayu dari laci dan segera disodorkan pada Jake. Baiklah, satu lagi yang Scarlet tahu, seorang Jake menyukai cerutu. Pria itu semakin berkelas di matanya.


"Aku menyukai suasana bar milikmu, Mr. Ryver." cetus Scarlet begitu saja karena ia mulai merasakan candu untuk mendengar suaranya.


Pria itu menoleh pada Scarley dan seketika itu juga ia terbunuh oleh mata legam Jake yang panas. Lebih sialnya lagi, Jake tersenyum begitu menawan pada Scarlet.


"Terima kasih banyak. Please, call me Jake." ia menyodorkan tangan dan segera Scarlet raih untuk bersalaman dengannya.


"Scarlet." Ia tersenyum merasakan jemari kokoh itu merenggut jemarinya yang terasa kecil dalam genggaman pria itu


"I know."


Jake kembali tersenyum dan Scarlet membencinya karena Scarlet semakin tahu bahwa dirinya tak akan melepaskan Jake setelah ini. Ia harus dapat memilikinya, meruntuhkan kebuasannya untuk hanya melihat pada Scarlet.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Scarlet sedikit melirik tangannya yang belum juga dilepas oleh Jake.

__ADS_1


"Miles berkata ada wanita cantik bernama Scarlet yang sudah beberapa kali datang ke barku. Dan dia benar, kau wanita yang cantik." lagi, Jake tersenyum. Tiap ucapannya begitu tenang dan berkelas, tak seperti pria yang tengah melempar rayuan murahan.


Scarlet seakan lupa berpijak di bumi ketika mendengar pujian sekaligus senyuman itu. Ia tak mampu, Jake benar-benar pria berbahaya dan berpengalaman.


"Benar begitu, Miles?" Scarlet menoleh sembari tertawa.


Jake melepas jabat tangan mereka dan Scarlet sudah kembali rindu rasa jari itu.


Sementara Miles hanya tertawa sebagai jawaban.


"Baiklah, aku harus pergi. Aku harap kau selalu betah berada di bar ini." ia kembali tersenyum ramah, kemudian segera menghilang dari pandangan Scarlet.


Scarlet membuang napas karena tak rela, namun ia juga bersyukur dapat berkenalan dengan Jake. Ini permulaan yang baik dan Scarlet tak akan berhenti sampai mendapatkannya. Bagaimana bisa Scarlet membiarkan Jake begitu saja sementara pria itu telah menyiksa Scarlet sedemikian rupa oleh pesonanya?


Tak berselang lama dari itu Scarlet segera memutuskan untuk pulang setelah melihat ponselnya yang sedari tadi di penuhi oleh panggilan dari Fordrix.


Benar saja, ketika Scarlet tiba di apartemen, pria itu sudah berdiri di depan pintu. Scarlet memutar bola matanya malas melihat wajah kesal itu.


"Jangan bicara apapun, Ford. Aku malas mendengarnya," ujar Scarlet sembari menekan password apartemen dan membiarkan pria itu menyusul masuk di belakangnya.


"Jika aku tak meneleponmu mungkin kau akan pulang pagi. Ini sudah sangat larut, apakah kau tak memikirkan Zeren?"


Lagi, Scarlet memutar bola matanya. Fordrix selalu berlebihan untuk mengkhawatirkan Zerenity, saudara kembar Scarlet. Sedangkan Zerenity pasti kini telah tertidur pulas. Scarlet terkadang heran melihat perilaku Fordrix yang terlampau memperhatikan Zerenity, tapi mereka tak kunjung menjadi sepasang kekasih.


"Ia pasti sedang tidur, kau ingin aku membangunkannya untukmu?" Scarlet berbalik menghadap Fordrix setelah melepas coat-nya.


"Tak perlu. Aku akan pulang setelah ini." pria itu duduk pada sofa tengah, kemudian mulai sibuk mengangkat panggilan pada ponselnya.


Scarlet mengangkat bahu tak peduli dan segera melenggang ke kamar untuk membersihkan diri dan tidur.


------------------------


Zerenity keluar dari kamar dan menemukan Fordrix yang tertidur dengan posisi duduk di sofa. Pria itu masih mengenakan jas kerjanya meskipun lehernya telah terbebas dari jerat dasi dan kancing.


Wanita itu lirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah dua pagi. Zerenity mendesah iba. Berderap menghampiri Fordrix. Pria itu pasti datang kemari setelah pulang kerja karena mengetahui Scarlet pulang larut.


Zerenity mengambil duduk di samping Fordrix. Ia menyugar rambut dark blonde yang menutupi kening pria tersebut. Wajah tegas nan tampan itu terlihat begitu lelah. Zerenity belai pipii itu bermaksud membangunnya agar dapat berpindah tidur.


Perlahan kelopak mata itu mengerjap dan Zerenity menemukan lingkaran hazel milik Fordrix.


"Hei ...." sapa Zerenity lembut.


Pria itu tersenyum kemudian mengusap wajah dan merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap.


"Badanmu bisa sakit jika tidur di sini. Kau bisa tidur di kamarku."


"Tak perlu. Aku sudah melihatmu. Aku akan pulang sekarang." Fordrix mengusap sisi kepala Zerenity.


Wanita itu menyambut dengan senyum perlakuan manis dari pria bermata hazel tersebut. Fordrix selalu hangat sekaligus protektif pada Zerenity. Sebagai perempuan, Fordrix benar-benar membuatnya merasa dicintai dan dipedulikan lebih dari seorang sahabat.


"Tapi selarut ini?" Zerenity mendongak melihat pria itu bangkit dari duduk. "Tidurlah di sini. Tak baik kau menyetir di tengah tubuhmu yang pasti sangat lelah."


Fordrix memandang Zerenity sejenak dan kembali duduk di sampingnya.


"Tidak," jawab wanita itu lembut seraya menggeleng pelan. Ia jelas berbohong.


Fordrix mendesah kasar. Ia mengetahuinya.


"Apakah kau sudah makan?" Zerenity bangkit dari duduk, berusaha mengesampingkan pembicaraan mereka.


"Aku sudah makan."


Kini Zerenity tahu, giliran Fordrix yang berbohong karena tak ingin membuat wanita tersebut repot.


"Aku akan menghangatkan lasagna untukmu." Zerenity tersenyum lembut pada Fordrix dan segera berderap memasuki dapur, melewati foto dirinya bersama Scarlet yang terpajang di dinding.


"How's your day?" tanya Zerenity pada Fordrix yang mengambil duduk di bar stool. Wanita itu menuangkan jus jeruk untuk Fordrix setelah memasukkan lasagna ke dalam microwave.


"Melelahkan, hari ini aku kembali mengumpulkan para manager karena kembali melihat kerja mereka tidak kolaboratif." desah Fordrix sebelum meneguk jus jeruk.


Zerenity tersenyum maklum, mengingat pria itu yang sangat perfeksionis dan pekerja keras. Hal ini yang membuat perasaannya semakin berkeliaran karena di tengah-tengah itu semua Fordrix selalu menyempatkan untuk mengunjunginya atau sekedar meneleponnya. Sungguh, perhatian pria itu membuat Zerenity sulit untuk mengabaikan Fordrix begitu saja. Ia membuat Zerenity bimbang untuk merespon segala sikap pria itu padanya. Terlebih pada sikap Fordrix yang lembut, sangat berbeda dengan perlakuan pria itu pada orang lain yang justru cenderung dingin.


Zerenity dan Scarlet sudah mengenalnya hampir sepuluh tahun di usia mereka saat ini yang menginjak 27 tahun. Zerenity juga turut mengerti perjalanan karir Ford hingga pada usianya yang ke 30 tahun ini, ia berada di posisi general manager di salah satu perusahaan besar di bidang properti.


Microvawe Zerenity berdenting. Ia segera mengeluarkan lasagna dan menyodorkan pada Fordrix. Wanita tersebut duduk di samping seraya bertopang kepala. Memperhatikan pria tampan di sampingnya. Sesekali ia tersenyum geli karena melihat Fordrix makan dengan lahap.


"Apakah itu cara makan orang yang 'sudah makan'?" ledek Zerenity terkekeh.


Pria itu menoleh dan turut tertawa kecil. "Karena makananmu selalu enak."


Zerenity tertawa. Entah apakah perkataan pria itu benar atau tidak, tapi ia selalu menemukan Fordrix makan dengan lahap segala macam masakannya selama ini, dan Zerenity menyukai itum


Fordrix membawa piring yang telah kosong dan mencucinya. "Apa yang akan kau lakukan besok?" tanya Fordrix tanpa menoleh pada Zerenity yang saat ini memandang punggung tegapnya. Punggung yang selalu ada untuk Zerenity peluk ketika kesedihan melanda.


"Hmm ... tak ada kurasa."


"Mau menemaniku melihat-lihat perabot?"


"Tentu, apa yang akan kau beli?"


"Beberapa, aku mulai bosan dengan suasana di penthouseku. Aku ingin merubahnya sedikit."


Fordrix mengelap tangannya kemudian keluar dari dapur.


"Baiklah."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar Zerenity. Wanita berambu panjang ity menyerahkan kaus dan celana pendek dari lemari yang memang sengaja ia beli untuk Fordrix jika pria itu menginap.


"Thanks."


Zerenity tersenyum dan hendak meninggalkan Fordrix karena ia akan tidur di kamar Scarlet. Namun suara Fordrix mencegahnya.

__ADS_1


"Malam ini tidurlah bersamaku."


-----------------------


Fordrix tersenyum sekaligus bersyukur karena wajah cantik Zerenity yang kali pertama ia lihat ketika pagi datang. Fordrix belai pipi wanita ity yang lembut setelah ia menyingkap surai brunette yang menutupi sedikit wajah teduh itu.


Dugaannya tepat. Setelah beberapa jam mereka tertidur, Fordrix mulai mendengar Zerenity mengigau memanggil kedua orang tua dengan suara menyayat hati.


Peluh keringat membanjiri wajah lembut itu, membuat Fordrix segera menyeka sembari memanggil nama Zerenity untuk menariknya dari mimpi buruk.


Mata walnut itu berlarian ketika ia berhasil menggapai kesadaran.


"That's ok. I'm here," usap Fordrix lembut.


Badannya bergetar hebat dan langsung memeluk Fordrix erat. Pria tersebut membiarkan Zerenity tenggelam di dadanya. Ia balas pelukan wanita itu tak kalah erat bersamaan usapan Fordrix pada punggung Zerenity untuk mengusir rasa takut. Ia mengecup puncak kepala wanita tersebut berulang kali untuk menegaskan bahwa ia akan selalu bersamanya.


Hati Fordrux berdenyut nyeri setiap kali mengetahui hal itu terjadi pada wanita tersebut. Sungguh, Zerenity tak pantas mendapatkan mimpi buruk itu. Ia tak pantas terluka sedalam itu.


Fordrix terus mendekap Zerenity sampai ia kembali tertidur dengan jejak air mata di pipi.


Bayangan ingatan semalam segera menyingkir ketika manik Fordrix menangkap senyuman lembut Zerenity. Wanita cantik itu sudah terbangun dari tidurnya.


"Morning," sapa Fordrix.


"Morning," balas Zerenity dengan suara serak menggemaskan khas bangun tidurnya.


Sesaat kemudian mereka segera beranjak dari ranjang. Zerenity keluar untuk mandi di kamar Scarlet sementara Fordrix menggunakan kamar mandi wanita berambur brunette tersebut.


Ketika ia telah keluar kamar, Fordrix menemukan Scarlet tengah memandangnya dengan mata meledek.


"Tidur bersama Zerenity lagi?"


"Ya," jawab Fordrix sekedarnya dan berderap membuka lemari pendingin, menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya. Ia melirik english breakfast yang sudah tersaji di atas meja bar. Bibirnyq tersenyum. Zerenity telah menyiapkannya karena tak mungkin jika itu adalah Scarlet. Kembarannya itu anti berada di dapur.


Fordrix menoleh bersamaan dengan Scarlet yang membalikkan badan menghadapnya dari arah sofa.


"Bagaimana bisa kalian tidur bersama tanpa melakukan apapun?" kening itu berkerut dalam.


Fordrix tergelak mengetahui rasa penasaran wanita itu yang besar.


"Kami bukan dirimu yang mudah bercinta dengan para pria."


"Jaga bicaramu! Lorong paradise-ku masih bermartabat untuk tak membiarkan sembarang rudal masuk." cetusnya kesal.


Fordrix semakin tergelak melihat kemarahan dan kata-kata frontal itu. "Oke ... oke. Aku percaya." hibur Fordrix. Ia meraih duduk di bar stool. "Apakah kau sudah makan?" tanyanya tanpa menoleh pada Scarlet.


"Sudah, Sayang. Makanlah. Zeren sudah menyiapkannya untukmu."


Fordrix terkekeh mendengar panggilan Scarlet padanya yang  sembarang. Ia tarik sepiring sarapan mendekat dan segera memakannya.


"Ponselmu bergetar sedari tadi."


Fordrix menoleh pada Zerenity yang menyerahkan ponsel padanya. Meskipun mereka mengenakan baju yang sama namun Fordrix dapat mengenali suara lembut yang hanya di miliki oleh Zerenity. Ia sudah terlalu mengenal mereka.


Jemari Fordrix membalas beberapa pesan yang masuk sementara Zerenity duduk di sampingnya. Fordrix menoleh pada Zerenity setelah meletakkan kembali ponselnya.


"Ford, terima kasih sudah menemaniku semalam," ujar Zerenity lembut dengan walnut teduhnya.


Fordrix tersenyum, membelai rambut panjang brunette itu, kemudian mendaratkan kecupan di pipi Zerenity.


"Kau tahu aku akan selalu ada untukmu," ungkap Fordrix tulus seraya mengusap jemari kecil yang selalu menggetarkan hatinya.


Mereka saling melempar senyum menentramkan. "Lanjutkan makanmu." Ia beranjak dari duduk yang Fordrix sambut dengan anggukan.


Namun sesaat kemudian Fordrix tersedak ketika tiba-tiba mendengar Scarlet berteriak. Ia menoleh cepat dan menemukan Scarlet tengah melompat-lompat bahagia dengan ponsel di tangannya.


"Zeren, Ford! Aku berhasil mengetahui tempat pria idamanku sering berkunjung."


"Pria idaman?" keningku berkerut.


"Pria bernama Jake yang semalam kau ceritakan?" sambung Zerenity.


"Kau benar, Sister! Rosie baru saja memberitahuku bahwa Jake sering mengunjungi Circle night club. Malam ini aku harus datang ke sana!" ujar Scarlet penuh tekat.


Fordrix hanya mampu mendesah dan menggelengkan kepala.


"Jake! Aku akan mendapatkanmu."


...To Be Continue...


CAST:


- Scarlet Robinson



- Jake Ryver



- Zerenity Robinson



- Fordrix



- Miles


__ADS_1


Thank you sudah baca sampai chapter ini.


Sneak Peek chapter? IG @saltedcaramely_


__ADS_2