Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 17


__ADS_3

Enjoy!


---


"Kau tahu mulut wanita cepat sekali jika menyebarkan gosip," keluh Miles pada Jake sembari memasukkan bahan makanan ke dalam lemari pendingin. Miles belum mendapatkan informasi akurat penyebar rumor tentang Jake.


Siang ini Miles tengah berada di penthouse Jake setelah membeli bahan makanan dan mengurus perawatan mobil-mobil Jake yang bertebaran di beberapa kota.


"Jika aku menemukan pelakunya sudah aku lubangi mulutnya dengan dessert eagle!" Jake menghempaskan dirinya ke sofa. Lalu menyandarkan tengkuknya pada sandaran sofa seraya memejamkan matanya.


Kepalanya berdenyut-denyut mengingat kekesalannya pada pandangan para wanita beberapa hari ini yang membuatnya kesulitan mendapatkan mangsa di Circle.


Jake mengidap penyakit kelamin? Gonore? Sifilis? HIV? Simpang siur deretan nama penyakit kelamin kini bersanding di samping nama Jake. What the f*ck! Bahkan ada yang mengatakan pernah melihat Jake keluar dari ruang spesialis kulit dan kelamin! Apa-apan itu? Tangan Jake terkepal kuat. Ia berusaha mengingat-ngingat siapa saja yang berpotensi menyebarkan rumoh tersebut.


Namun, matanya kembali terbuka ketika merasakan ponselnya bergetar. Dengan malas ia membenahi duduknya lebih tegap, tapi kemudian ia berdeham ketika melihat nama yang muncul di layar.


"Ya, Vello," sapa Jake dengan suara yang berubah lembut dan seketika membuat Miles terkikik geli.


Sementara Jake memijat dahinya setelah mendengar kata-kata Vello di seberang sana.


"Tidak, itu hanya rumoh. Aku sehat, Vello. Aku bersih," ujar Jake berusaha mempertahankan suara lembutnya.


"Ya, percayalah padaku. Oke?" Desah Jake kesal bercampur malu.


Miles dengan sekuat tenaga melipat bibir agar tawanya tak meledak. Secepat itu rumoh menyebar hingga sampai pada Vello. Bosnya benar-benar ditimpa musibah yang konyol.


"Lupakan rumor bodoh itu. Bagaimana kabarmu?" Jake kembali menyandarkan kepalanya di sofa.


Miles hanya melirik sesaat kemudian menggelengkan kepala. Ia kembali memasukkan bahan makanan beku ke dalam freezer kemudian berderap mendekat pada sang bos sekaligus teman baiknya itu.


"Nanti malam kau ada undangan pernikahan." Miles menyerahkan sebuah undangan di atas meja depan, yang hanya ditanggapi lirikan dari Jake. "Jangan remehkan undangan itu. Ia calon partner bisnismu yang menguntungkan. Aku pulang." Miles mengenakan coat-nya dan segera melenggang pergi.


-------------------


Scarlet berjalan dengan penuh semangat menyusuri pertokoan yang berada di Madison Avenue.


Hari ini ia akan menghabiskan banyak uang di rekening Zerenity untuk berbelanja. Salah satu kegiatan favorit seluruh wanita, termasuk dirinya, namun tidak dengan Zerenity.


Scarlet mendesah, mengingat sifat Zerenity yang terlalu penuh perencanaan dan perhitungan terhadap uangnya sendiri. Sibuk menabung untuk mengembangkan target cabang Robin's dan memberi pada orang di sekitarnya, sementara ia lupa menyenangkan dirinya sendiri.


Bahkan Scarlet tadi harus kembali berdebat dengan saudaranya tersebut perihal ini. Namun, bukan Scarlet jika tidak berlaku nekat dan di sinilah ia berada dengan sederet kartu ATM gendut milik Zerenity di dalam tasnya. Ya, karena seberapa banyak uang yang Zerenity keluarkan untuk orang lain di sekitarnya, uang itu seakan kembali dengan jumlah berlipat.


Senyum Scarlet mengembang sesaat pada pelayan yang membukakan pintu ketika ia melangkah masuk ke dalam salah satu brand fashion ternama. Ia segera meminta pelayan tersebut mengantarkan pada bagian gaun malam.


Lingkaran walnut-nya menilik dengan detail gaun-gaun yang disarankan. Banyak potongan seksi yang membuatnya ia ingin membeli gaun tersebut, namun tidak.  Kali ini ia akan mencarikan gaun yang sesuai dengan gaya Zerenity untuk ke acara pesta pernikahan salah satu investornya nanti malam.


Senyum Scarlet segera mengembang lebar ketika ia menemukan sebuah gaun putih tulang dengan payet berkilau yang menghiasi sepanjang gaun tersebut. Potongannya tampak sederhana, namun terlihat begitu berkelas dan anggun.


"Aku ingin mencoba yang ini."


-------------------


Beberapa paperbag berbagai merek mengisi tangan Scarlet dan menemani langkah wanita itu menuju Givenchy yang terletak tak jauh darinya saat ini. Scarlet masih mengingat betul bahwa merek tersebut baru saja meluncurkan perhiasan terbaru. Ia berjanji setelah membeli perhiasan tersebut, ia akan segera pulang. Ah! Mengapa berenti berbelanja terasa begitu berat?


Scarlet sesekali memerhatikan beberapa pesan yang masuk di layar ponselnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika pandangannya tak sengaja mengenali seseorang tak jauh di sana.


"Roscoe?" Gumam Scarlet tak percaya dengan jantungnya yang serasa terhenti sejenak.


Pria berambut blonde gelombang dengan garis rahang tegas itu berjalan berlawanan arah dengan Scarlet, mengenakan setelan jasnya yang berbalut coat kelabu. Sementara pandangan pria itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Ya, Scarlet tak mungkin salah melihat.


"Roscoe!"


Scarlet berjalan cepat dengan menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya.


Jantung Scarlet semakin berdebar ketika pikirannya mantap mengenali pria di sana. Demi Tuhan, Scarlet telah mencari keberadaan pria itu selama bertahun-tahun. Ia tak akan membiarkan dirinya kehilangan jejak pria itu lagi.


"Roscoe!" Scarlet mulai berlari gusar ketika pria itu berjalan menghampiri sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan.


"Scarlet!" Sebuah tangan menarik lengan Scarlet yang memaksanya berhenti.


"Ford?" Kening Scarlet berkerut heran.


"Aku memanggilmu sedari tadi. Mengapa kau justru berlari?" Tanya Fordrix tersengal.


"Aku-"


Bibir Scarlet terbuka hendak menjawab tapi ia segera menoleh untuk mencari keberadaan Roscoe terlebih dahulu.


Matanya berlarian menyibak lalu lalang orang-orang namun ia tak menemukan Roscoe di sana. Pria itu sudah berlalu bersama mobil hitam yang tadi dihampirinya.


"F*ck!" Geram Scarlet seraya menghentakkan kakinya. Dadanya terasa sesak, ia seakan tak mampu menggapai oksigen yang berserakan di sekitarnya. Tangan Scarlet terkepal kuat.


Ia baru saja merasa kelegaan yang hebat ketika maniknya menemukan Roscoe di sana, namun kini ia harus kembali hampa. Ia kembali kehilangan Roscoe di depan matanya.


Sudah bertahun-tahun ia tak menemukan jejak Roscoe. Pria yang menjadi denyut nadinya, dan ketika ia melihat wajah itu di antara bayangan buram orang-orang yang berlalu lalang dihadapannya, Scarlet seakan kembali hidup.


"Mengapa? Siapa yang sedang kau cari?"


"Mengapa kau menarikku, Ford?" Sentak Scarlet.


"Apa maksudmu?"


"Kau membuatku kehilangannya!"

__ADS_1


"Siapa yang kau maksud?"


"Lupakan!" Sergah Scarlet cepat. Ia melangkah cepat. Suasana hatinya memburuk seketika. Emosinya berkumpul di dada.


Fordrix melihat punggung Scarlet yang perlahan menjauh. Ia tersenyum puas. Fordrix tahu betul siapa yang sedang Scarlet kejar dan Fordrix tak akan membiarkan mereka bertemu.


"Kau belanja banyak sekali," kata Fordrix ketika ia sudah menyamai langkahnya dengan Scarlet.


Scarlet melirik tajam sekitas. "Sudah tahu banyak, tapi kau tak berniat membawakannya!"


Fordrix terkekeh dan segera mengambil alih belanjaan Scarlet. "Zerenity akan marah besar jika tahu kau menghabiskan uangnya." Ia tak memedulikan nada ketus Scarlet.


Scarlet memutar bola matanya. Malas menanggapi. Ia melingkarkan tangannya di lengan Fordrix.


"Aku lapar. Traktir aku makan!"


-------------------


Zerenity masih mengingat dirinya yang tertunduk merona ketika hazel milik Fordrix mengamati gaunnya dengan senyuman hangat khas pria tersebut. Saat itu Fordrix baru saja muncul dari balik pintu apartemen untuk menjemputnya. Ya, sahabat baik yang telah Zerenity cintai itu bersedia mendampinginya ke acara pernikahan salah seorang investor Robin's. Pengantin tersebut juga menggunakan Robin's dalam acara mewah itu dan Zerenity ingin memastikan semua berjalan lancar.


"Kau sangat cantik," puji Fordrix yang membuat Zerenity menjadi gugup. Namun, seakan mengerti kegugupan yang melanda Zerenity, Fordrix menaikkan dagu mungil yang tertunduk itu hingga berhasil memandangnya.


Fordrix kembali tersenyum hangat dan Zerenity tak pernah gagal untuk membalas senyuman itu. Fordrix membantu Zerenity mengenakan coat-nya, lalu menggenggam jemari lembut itu sebelum keduanya berjalan menyusuri lorong apartemen.


Sampai mereka berada di ballroom acara pun. Zerenity sesekali masih mencuri pandangan pada Fordrix yang tampak begitu tampan dalam balutan tuxedo-nya.


Zerenity seakan tak membutuhkan siapapun saat ini selain Fordrix yang berada di sampingnya. Lagi-lagi rasa takut kehilangan kembali menyergahnya, namun kali ini Zerenity dengan cepat menepis hal itu sejauh mungkin. Malam ini adalah malam yang sempurna dan ia tak ingin terkacaukan oleh pikirannya sendiri.


Ketika Zerenity menghela satu napas berat, Fordrix sempat melirik dan mengusap jemari lentik yang melingkupi lengannya, mengira Zerenity hanya gugup, karena memang beberapa orang memandang ke arah mereka.


Usapan itu membujuk mata Zerenity merangkak pada Fordrix dan ia menemukan pria itu berujar, "jangan gugup. Mereka melihat ke arah kita karena kau tampak cantik."


Bulu mata lentik Zerenity mengerjap beberapa saat, sebelum akhirnya ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia mengambil napas lebar berulang kali ketika mendapati kebenaran pada perkataan Fordrix.


Zerenity tak pernah bisa menjadi pusat perhatian. Ia tak pernah mampu mengontrol pikiran dari efek tatapan orang-orang ke arahnya. Ia takut. Bisa jadi di balik itu semua, mereka mengejek Zerenity, bukan? Zerenity meneguk salivanya dengan kasar dan rengkuhan tangannya semakin erat pada Fordrix.


Fordrix membawa Zerenity pada deretan meja minuman dan memberikan segelas jus jeruk. Ia mengusap pipi Zerenity ketika wanita itu tertunduk tak nyaman.


"Lihat, pandangan mereka bukan mengejekmu. Mereka memandangmu kagum, Zeren. Mereka sepakat dengan pendapatku bahwa kau memang sangat cantik malam ini," bisik Fordrix meyakinkan tanpa bualan.


Pada kenyataannya gaun yang telah Scarlet pilihkan memang menyempurnakan paras lembut nan cantik seorang Zerenity, membuat ia tampil semakin anggun.



Payet putih berkilau memenuhi hingga ujung gaun dengan pola yang begitu detail. Sementara pada bagian pinggang samping terdapat aksen lipatan gaun yang mempertegas keanggunan dengan kombinasi hiasan tali sutra yang mengelilingi pinggang ramping Zerenity.


Sedang pada bagian lengan yang menyusuri pundak, berbentuk sabrina, terpisah dengan bahan transparan yang membuat kulit mulus Zerenity membayang di antara hiasan payet dan surai brunette yang dibiarkan tergerai sebagian, karena sebagian lainnya Zerenity singkap ke belakang pundak dengan hiasan rambut berbahan manik mutiara yang membentuk jelujur ranting.


Fordrix geram terhadap masa lalu Zerenity yang membuat wanita itu bersembunyi dari dunia yang sesungguhnya telah memberikan sinar. Bahkan Fordrix masih dapat mengingat jelas bagaimana Zerenity sengaja berlari dari kesempatan emas yang sering kali menghampirinya. Harusnya Zerenity sudah sama atau bahkan lebih sukses dan terkenal dibanding Russell, namun setiap ada kesempatan untuk membuatnya bersinar, Zerenity tak pernah mau menerimanya. Ia selalu menurunkan kemampuannya sendiri agar tak terlihat mencolok di tengah teman-temannya selama masa pendidikan hingga saat ini.


Zerenity tak pernah ingin tampil. Tak pernah ingin orang lain melihatnya. Sudah berulang kali media menawarkan Zerenity untuk menjadi juri tamu bahkan juri utama di kontes memasak acara TV, namun Zerenity memilih selalu menolak. Ketika media meliput kesuksesan Robin's yang menjadi destinasi nomer satu pecinta cake di New York, serta lima besar di Amerika, Zerenity justru memilih managernya mewakili ia untuk memberikan keterangan pada media.


Ketakutan melakukan kesalahan dan diolok oleh orang-orang di sekitarnya selalu menjadi bayangan yang menjelma bagai racun dipikiran Zerenity.


"Mr. Fordrix?" Sela seorang pria yang langsung membuat Fordrix dan Zerenity menoleh.


"Mr. Edward, apa kabar?" Fordrix dan orang tersebut segera bersalaman disusul Zerenity kemudian.


Ketiganya berbincang bersama di tengah-tengah Jake yang berdiri tak jauh di sana dan menangkap dua sosok yang ia kenali. Jake membutuhkan waktu beberapa saat untuk meyakinkan dirinya siapa wanita yang ada di samping Fordrix. Zerenity atau Scarlet? Namun dari penampilannya yang cantik natural bersamaan senyum halus yang menghiasi wajah itu, Jake akhirnya meyakini wanita itu adalah Zerenity.


Seketika itu pula Jake lebih banyak mengabaikan beberapa wanita yang sedari tadi duduk berbincang dengannya dan hanya menanggapi sekedarnya. Padahal tadinya ia sudah gembira karena ternyata para wanita yang hadir di sini tak tahu tentang rumoh yang menempel padanya.


Dari interaksi hangat dan pandangan Fordrix di sana untuk Zerenity, Jake baru menyadari ia keliru selama ini. Hangatnya tatapan itu meskipun terlihat sama, namun berbeda dari yang Zerenity berikan pada Fordrix.


Lama Jake memperhatikan bahasa tubuh Zerenity yang mulai tak nyaman dengan semakin bertambahnya beberapa orang yang turut bergabung dalam perbincangan di sana, hingga pada akhirnya Jake menangkap Zerenity undur diri, yang Jake tebak beralasan untuk mengambil jus jeruknya yang sudah habis, namun nyatanya Zerenity menyingkir dari lingkaran itu. Terdiam beberapa saat di meja deretan minuman dan meraih dengan ragu segelas champagne.


Ketika Zerenity menoleh dan tak sengaja menemukan pandangannya pada Jake, tiba-tiba Jake spontan beranjak dari duduknya.


"Shit!"


Beberapa wanita yang mengelilinginya pun tampak keheranan dan sejujurnya ia juga heran oleh respon tubuhnya sendiri. Sial! Apa ia malu Zerenity melihat sisi nakal-nya?


Ah, ternyata benar apa kata Scarlet. Jake rupanya memang populer di kalangan wanita. Sekilas, Zerenity dapat melihat tatapan penuh dambaan di binar para wanita di sana dan Jake terlihat menikmati itu. Ingatan-ingatan tentang perkataan Scarlet terhadap Jake bermunculan seketika di kepalanya.


Zerenity tersenyum kecil. Jake menyambut senyuman semanis Vello itu seraya menghampiri.


Malam ini Jake tampak semakin tampan dalam balutan tuxedo hitamnya. Rambut gelap itu ditata begitu rapi, menambahkan kesan elegan seorang Jake, yang terkadang terlihat santai di tengah gayanya mewah oleh berbagai merek terkenal yang melekat pada tubuhnya.


Sebagai wanita normal, Zerenity jelas tak bisa menampik ketampanan Jake yang selalu unik. Pria itu seakan memang terlahir dengan anugerah keliaran dalam bingkai ketampanan dan melebur pada sifatnya yang menyenangkan. Jake seperti seorang pangeran dengan sejuta bahaya menantang yang dapat membuat banyak wanita tersesat dengan mudah di dalamnya.


"Kau di sini," sambut Zerenity.


"Yeah, pengantin prianya adalah salah satu rekan bisnisku," balas pria itu santai namun berbeda dengan pandangannya pada Zerenity yang terlampau lekat, hingga seketika membuat Zerenity salah tingkah.


Zerenity mengangguk kemudian memilih meneguk champagne-nya untuk melarikan diri dari kegugupan. Ia baru menyadari bahwa mata legam milik Jake dapat begitu tajam dan mengalirkan sesuatu yang asing dalam tubuhnya.


Champagne mengaliri tenggorokannya. Ia sudah lama sekali tak meminum ini, atau lebih tepatnya ia sudah tak pernah menyentuh minuman beralkohol, rendah sekali pun.


"Mengapa?" Tanya Zerenity ketika Jake beralih memperhatikan arah belakangnya. Ia ikut menoleh ke belakang dan tak menemukan hal aneh.


"Bisakah kau berbalik sebentar?" Raut serius Jake membuat Zerenity menurutinya meskipun heran.


Wangi lembut beraroma vanilla dari surai brunette Zerenity yang bergerak pelan, menggelitik penciuman Jake.

__ADS_1


"Apa kau tak melupakan sesuatu?" Pertanyaan Jake semakin membuat Zerenity bingung setelah kembali menghadap pria tersebut.


"Di mana sayapmu?"


"A-apa?"


Jake melipat bibirnya dengan wajah jenaka. Menunggu Zerenity memproses perkataannya.


"Ya Tuhan!" Semburat rona merah yang tampak menggemaskan di mata Jake segera menghinggapi wajah Zerenity. Tawa wanita itu menghibur pendengaran Jake. Lalu Zerenity menggelengkan kepala.


Keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya Jake berujar. "Tapi sungguh, kau cantik sekali malam ini. Hmm ... tidak tidak. Tapi memesona? Mengagumkan? Entahlah. Seluruh pujian terasa pantas kau miliki." Aku Jake jujur, namun benar-benar terdengar seperti bualan sang don juan.


Bahkan kepala Jake masih berpikir keras untuk mencari kata yang tepat untuk menggambarkan wanita dihadapannya ini. Meskipun hanya candaan, namun Zerenity memang tampak layaknya bidadari yang menanggalkan sayapnya. Gaun putih itu membalut tubuhnya dengan sempurna, make up yang dikenakannya terasa pas dan menunjang wajah Zerenity yang memang lembut dan cantik. Belum lagi jika ia mendengar suara Zerenity yang menenangkan, seperti Vello.


Tuhan rasanya tak adil ketika menciptakan dua wanita tersebut. Keduanya terlalu sempurna di mata Jake, hingga ia terjerat untuk memiliki namun juga ketakutan untuk menyentuhnya.


Zerenity merasakan panas di pipinya melebihi pujian yang di dengarnya tadi dari Fordrix. Tawa Zerenity kemudian berubah menjadi tawa kaku.


Jake terkekeh pelan, namun manik legamnya enggan berlalu dari wajah Zerenity yang menentramkan bagai surga. Tubuh Jake bergejolak. Sengatan menjalar di tubuh seiring lingkaran matanya menjelajahi tiap sudut pada garis wajah Zerenity. Hidung mancung namun terlihat mungil menggemaskan. Bibir merah muda yang membuat ia ingin mengecupnya dengan penuh rasa hormat dan kehati-hatian. Dagu kecil yang seakan terasa pas jika telunjuk dan ibu jari Jake menahannya untuk tetap menatap ke arah mata legamnya. Serta pipi yang sempat bersemu merah ulahnya, membuat Jake diserang murka jika bukan dirinya yang menciptakan rona itu.


Jake meneguk susah payah perasaan aneh yang menghampiri sel tubuhnya. Tidak-tidak, ia sudah bertekad untuk berhenti mengejar Zerenity. Wanita itu bak berlian indah yang terlarang untuk ia sentuh. Napas Jake terbuang kasar karena kekesalannya pada rasa yang ia terima. Ia harus segera pergi dari sini.


"Baiklah kalau begitu -"


"Zeren, aku mencarimu," potong Fordrix menghampiri.


Keduanya menoleh ketika pria itu sudah sampai di antara mereka.


"Maaf, aku hanya mengambil minum."


Fordrix tersenyum kecil pada Zerenity dan menyapa Jake, sebelum akhirnya kembali pada wanita bergaun putih tersebut.


Keduanya tahu, mereka saling menyembunyikan kebencian untuk tetap bersikap dewasa.


Siapa yang menyukai sahabat baiknya didekati oleh seorang pria berengsek yang tak bisa tidur tanpa wanita di ranjangnya? Fordrix sudah mengetahui jejak seorang Jake, meskipun ia tak dapat menemukan terlalu banyak informasi, namun ia rasa, itu sudah lebih dari cukup.


Sementara Jake, walaupun ia tak benar-benar tahu alasan tak menyukai Fordrix, namun keberadaannya yang selalu bersama Zerenity dan tatapan hangat yang didapatkan pria itu, benar-benar membuat Jake muak.


"Kurasa lebih baik kita menyapa mempelai sekarang. Mr. Edward tertarik mendiskusikan lebih lanjut tentang ideku tadi. Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu." Raut Fordrix terlihat bersalah di tengah suaranya yang antusias. Pria itu dilema.


Jake menyeret pandangannya pada Zerenity yang tampak kurang nyaman atas usulan Fordrix.


"Tapi aku masih perlu ... baiklah."


"Tidak, kau bisa pulang bersamaku nanti."


Apa yang baru saja kau lontarkan, Jake? Ah sial! Harusnya ia bisa menahan mulutnya yang asal berbunyi dan menuruti kerja otaknya untuk segera berlari dari Zerenity. Mengapa ia harus menjebak dirinya sendiri dan membuat kerja kepala dan hatinya semakin berat?


...To Be Continue...


CAST:


- Jake Ryver



- Zerenity Robinson



- Fordrix



- Scarlet Robinson



- Miles



Thank you sudah baca sampai chapter ini.


INFO PENTING❤


Mohon dibaca baik-baik.


TRAPPED BY OBSESSION PINDAH LAPAK KE "NOV*LME"


Jadi, TBO hanya sampai chapter 17 yaa di sini. Selanjutkan temen-temen yang masih berkenan, bisa baca ke lapak sebelah.


Kalau nggak pengen ke sebelah, nggak apa-apa. Nggak ada paksaan dan Mely berterima kasih karena sudah baca TBO sampai sejauh ini. 🙏


Untuk temen-temen yang bersedia baca di sebelah, nanti bisa mulai baca TBO di chapter 36 ya. Kenapa? Karena di sana Mely buat chapter pendek yang isinya 1rban kata, jadi CHAPTER 18 SETARA DENGAN CHAPTER 36 DI SANA.


TBO di "NOV*LME" PUBLISH SETIAP HARI.


Makasi banyak untuk seluruh pembaca TBO di sini, terlebih yang nanti bersedia baca TBO di lapak yang baru. Te amo mucho! ❤


See you 💕


IG @saltedcaramely_

__ADS_1


__ADS_2