
Enjoy!
---
Ferrari merah Jake melaju dengan begitu santai di tengah jalanan yang lengang. Ia tak ingin menginjak gas lebih dalam agar ia dapat sedikit lama bersama Zerenity.
Bibirnya tersenyum kecil setelah melarikan matanya sesaat pada wajah damai Zerenity yang terpejam. Sepertinya Zerenity begitu kelelahan sampai ia jatuh tertidur. Jake masih mengingat bagaimana bibir merah muda milik Zerenity, hari ini tampak begitu pucat. Apa ia sedang tak enak badan?
Tanpa pikir panjang Jake meletakkan telapak tangannya di kening Zerenity dengan hati-hati. Suhu tubuh wanita itu normal. Jake mendesah lega. Mungkin Zerenity hanya kelelahan.
Jake kembali melirik Zerenity lalu terkekeh. Ini adalah kali pertama seorang wanita tertidur di mobilnya. Terasa menggelikan, karena biasanya para wanita akan lebih banyak gugup jika bersama Jake di dalam mobil atau justru dengan berani memandang ke arahnya dan melontarkan kalimat-kalimat seduktif untuk membangkitkannya.
"Zeren ... Zeren." kekeh Jake seraya menggeleng pelan.
Untung saja Jake masih mengingat rute apartemen tempat saudara kembar itu tinggal. Jika tidak, mungkin ia akan membangunkan Zerenity karena ia jelas tak akan membawa wanita itu ke panthousenya. Tak ada wanita yang akan ia biarkan menginjakkan kaki pada tempat tinggalnya. Jika ada, Jake pastikan itu hanya Vello.
Vello? Jake jadi teringat perkataan Zerenity yang menjelaskan ketidaksukaannya pada kopi, hal itu benar-benar menyentak Jake dari bayangan Vello yang selalu ada pada Zerenity. Hampir saja ia tenggelam dalam gulungan manisnya senyum Vello di wajah Zerenity. Ya, mereka orang yang berbeda. Vello sangat menyukai kopi, berbanding terbalik dengan wanita di sampingnya saat ini.
Namun bukankah itu hanya perkara selera? Jake akan tetap berusaha mendapatkan Zerenity demi membebaskan siksaan dari ketidakmampuannya memiliki Vello. Jake sudah hampir gila dengan selalu menginginkan istri dari sahabatnya sendiri.
Jake berdecak ketika melirik pada ponsel Zerenity yang bergetar di atas dashboard dengan tampilan layar bertuliskan nama Fordrix. Segera ia ambil dan mematikan ponsel itu. Mengapa setiap ia bertemu dengan Zerenity, harus ada nama Fordrix di tengah-tengah mereka? Memuakkan bagi Jake.
"Mom ... Dad ...." suara rintihan Zerenity secepat kilat membuat Jake menoleh, mengaburkan kekesalahan yang sempat singgah.
Zetenity mengigau, namun lebih dari itu, Jake terkesiap dengan buliran keringat yang membanjiri wajah Zerenity. Kening wanita berkerut dalam sampai menciptakan jejak lipatan di ujung mata.
Jake segera menepikan mobil di bahu jalan. Melepas seatbelt, menepuk perlahan pipi Zerenity dan mengusap buliran keringat dingin pada kulit wajah Zerenity yang saat itu terasa begitu panas.
"Zeren ...."
Wajah ketakutan jelas tercetak di paras Zerenity yang lembut. Apakah mimpi wanita itu begitu mengerikan? Jake menjatuhkan pandangan pada kedua tangan Zerenity yang terkepal di pangkuan paha.
"Mom ... Dad ...."
Zerenity menggeleng, napasnya terlihat berat terputus-putus, membuat Jake semakin diserang rasa khawatir.
"Zeren, bangunlah."
Jake mengguncang bahunya, namun sesaat kemudian tubuh Zerenity justru bergetar dengan wajah memucat yang membuat ia semakin panik.
"Pergi!!!"
"ZEREEENNN!!!" sentak Jake tanpa sadar.
Zerenity terbelalak, berhasil keluar dari mimpi buruknya dengan napas memburu. Manik walnut-nya kemudian berlarian gusar.
Jake meraih dagu Zerenity, membawa wanita itu menghampiri pandangannya. "Kau berada di mobilku. Tadi hanya mimpi buruk."
Jake membelai wajah Zerenity yang penuh keringat dingin dan merapikan anak rambut yang menghalangi.
Zerenity terpaku menatap Jake. Ia masih terkejut dan berusaha menghilangkan jejak ketakutan yang masih tersisa.
Pandangan mereka terikat. Entah mengapa Jake merasakan jeritan pada iris walnut yang biasanya terlihat lembut. Namun tak ada sama sekali tanda-tanda Zerenity akan menangis, meskipun tubuhnya saat ini masih bergetar dan membuat Jake segera meraih Zerenity masuk dalam dekapan. Jake tak tahu, ia hanya menuruti instingnya dan berharap hal ini dapat meredakan ketakutan wanita bermanik walnut tersebut.
Panas. Rasa itu yang Jake dapatkan saat ini, ketika seluruh tubuhnya mendekap wanita tersebut. Mengapa Zerenity bisa tiba-tiba mengalami demam seperti ini?
"Hanya mimpi, Zeren."
Jake tak tahu apakah perkataannya dapat menenangkan Zerenity, namun ia terus mendekap Zerenity. Membelai rambut panjang yang beraroma vanilla dan tanpa sadar membuat ia terpejam menghirup. Terbuai sesaat oleh wangi rambut Zerenity yang lembut.
Zerenity terdiam tanpa membalas pelukan Jake, namun tubuhnya yang semula bergetar telah berangsur sirna.
Ia melepas pelukan yang membuat Jake segera menemukan wajah pucat Zerenity.
"Maaf ...." gumam Zerenity dingin. Ia juga tak memandang Jake.
"Kau demam." kata Jake tak memedulikan perkataan Zerenity dengan mengusap pipi itu menggunakan punggung tangannya.
Tanpa Jake sangka, Zerenity menurunkan tangan Jake lalu memandangnya.
"Bisakah kau mengantarku pulang sekarang?"
----------------
Zerenity keheranan ketika melihat Jake turut melepas seatbelt. Mereka telah sampai.
"Aku akan mengantarmu sampai di depan pintu."
Jake tak tahu, namun membiarkan Zerenity berjalan seorang diri, sementara ia tahu tubuh itu sedang deman tinggi, ia rasa bukan pilihan yang tepat. Ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Zerenity.
"Kau tak harus -"
Jake segera keluar dari mobil, sengaja memotong perkataan wanita itu agar tak ada bantahan dari Zerenity.
"Ayo." kata Jake dengan senyuman, setelah membukakan pintu mobil untuk Zerenity.
Mereka berjalan memasuki lobi apartemen dengan keterdiaman. Begitupun ketika mereka telah masuk ke dalam lift.
"Kau bisa menceritakan padaku." ujar Jake memecah kesunyian mereka.
Zerenity menoleh. Akhirnya ia memandang Jake.
"Itu hanya mimpi kosong. Aku bahkan sudah lupa." Zerenity tertawa kecil yang terdengar hambar di telinga Jake, bahkan Jake tak bisa melihat manisnya tawa wanita itu seperti biasanya. Tawa seorang Vello.
Jake tersenyum. Mengetahui kebohongan dari bibir Zerenity. Baiklah, tak apa.
"Apakah ada Scarlet?"
"Kau ingin bertemu dengannya? Aku dapat membangunkannya nanti, untukmu."
Kepala Jake segera menggeleng dengan terkekeh. "Mungkin lain waktu. Tujuanku bertanya agar kau tak sendirian dengan kondisi tubuhmu yang demam seperti ini."
__ADS_1
Zerenity hanya mengangguk bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Jake memperhatikan langkah Zerenity yang tampak mengambil jarak dengannya. Belum sempat ia memikirkan penyebab hal itu, maniknya sudah membuat bibirnya mendesah malas. Fordrix berada di depan pintu tak jauh dari mereka seraya melipat tangan di depan dada.
"Ford." Zerenity berlari kecil.
"Syukurlah. Dari mana saja kau selarut ini?"
Fordrix membingkai wajah Zerenity dengan rautnya yang cemas. "Aku meneleponmu tadi, tapi nomormu tidak aktif. Lihatlah sekarang, kau kembali demam."
"Benarkah? Aku tak tahu kau meneleponku. Maaf sudah membuatmu khawatir." Zerenity tersenyum kecil, namun Jakedapat melihat binar bahagia di manik itu karena perhatian Fordrix. Tak seperti kala walnut itu memandangnya tadi. Sial!
Tapi tak apa, tak lama lagi semua akan terbalik.
--------------------
Sore ini senyum Jake tak mampu surut. Ia mengetuk-ngetukkan jari pada setir mobil mengikuti irama musik.
Tak ada yang membuat ia sesemangat ini selain pertemuannya dengan Vello beberapa saat lagi pada acara barbeque yang di selenggarankan di rumah Vello dan Dexter. Damn! Jake benar-benar merindukukannya.
Jake melirik tiga boneka kelinci berukuran sedang di bangku samping, kemudian ia tersenyum. Para keponakan manisnya pasti akan menyukai itu. Miles telah menyiapkan boneka itu dan mengantarkan ke rumahnya tadi pagi.
Segera saja, tak membutuhkan waktu lama, Jake tiba di rumah milik Dexter dan Vello. Kediaman yang hangat di tengah-tengah desain bangunan yang terbilang sederhana untuk sekelas CEO perusahaan ternama. Jake selalu kagum pada gaya hidup keduanya yang tak seperti kalangan sekelas mereka pada umumnya.
Perlahan Jake mulai mendengar suara anak-anak kecil ketika ia telah memasuki bagian tengah rumah.
"Kejar aku, kejar aku." tawa seorang gadis mungil yang Jake yakini adalah Haven, putri dari Everley, adik sepupu Dexter.
"Ayo Ileen, kita kejar Haven!" Liora terdengar riang bersamaan suara kaki-kaki kecil yang berlarian.
"Tunggu Ileen, Kak Liora." suara asing gadis mungil turut terdengar.
Namun tak berselang lama kemudian para anak-anak kecil tersebut muncul dari sisi ruangan lain.
BRUUK!
Jake terkekeh memandang Haven yang baru saja menabraknya karena sibuk berlari dengan menoleh ke belakang.
Gadis mungil berambut blonde itu mendongak, membuat Jake dapat melihat mata Haven yang biru sejernih lautan. "Uncle Jake!" pekiknya riang yang langsung memeluk kaki Jake.
"Daddy!" sambut Liora turut berhambur.
Jake berjongkok memeluk keduanya serta menciumi pipi mereka dengan gemas.
"Untuk kalian." Jake memberikan satu persatu boneka kelinci yang telah ia bawa. "Masih ingat yang aku ajarkan, setelah menerima harus menjawab apa?"
Keduanya mengangguk cepat dan berujar bersamaan.
"Terima kasih Uncle Jake yang paling tampan."
"Terima kasih Daddy yang paling tampan."
Jake tertawa puas mendengarnya. Mengacak gemas puncak kepala mereka. Namun kemudian ia tersenyum pada gadis mungil berusia tiga tahun, sebaya dengan Haven. Ia berwajah blasteran Asia dengan mata dan rambut cokelat yang gelap. Ia menggigit ujung jarinya. Tampak malu-malu.
Aileen menggangguk pelan dengan masih menggigit ujung jempolnya.
"Untukmu." Jake tersenyum memberikan boneka kelinci untuk Aileen.
Matanya yang mungil mengerjap beberapa kali. Tampak ragu untuk menerima pemberian Jake.
Mereka menoleh pada langkah kaki yang mendekat. Seorang wanita muda, berparas Asia Tenggara, menghampiri mereka dengan membawa semangkok salad.
Jake dapat memastikan ia adalah istri dari Russell karena Jake menemukan percampuran wajah Russell dan wanita tersebut pada Aileen.
"Mama, boleh Ileen menerimanya?" tanya Aileen dengan bahasa yang tidak Jake ketahui artinya.
"Boleh, Sayang," jawabnya sembari tersenyum.
Aileen akhirnya menerima boneka pemberian Jake.
"Thank you, Uncle." ia menunduk malu.
Jake terkekeh, mengusap rambut Aileen. Memaklumi gadis mungil itu yang pasti begitu canggung karena bertemu dengan orang asing.
"Your welcome."
Jake bangkit dari berjongkok. Tersenyum pada wanita tersebut. Semakin Jake perhatikan, ternyata istri Russell begitu cantik. Ke mana saja ia selama ini sampai tak pernah menghabiskan malam bersama wanita Asia Tenggara? Mungkin Jake bisa mulai mencarinya untuk nanti malam.
"Kau pasti istri Russell." Jake menyodorkan tangan. Wanita itu menyambut perkenalan mereka.
"Iya, aku Lilla."
"Jake."
"Daddy, ayo kita taman belakang!" seru Liora dengan senyum lebar.
"Oke, ayo kita ke sana." balas Jake tersenyum dan mengangguk pada Lilla agar ia turut bersama mereka.
Ketika Jake hendak melangkah, Liora mencegahnya dengan mengulurkan kedua tangan di depan Jake.
Jake dan Lilla tertawa mengerti maksud Liora. Segera ia gendong keponakan kesayangannya tersebut dan menggandeng Aileen di sisi kanan. Haven turut menggandeng saudara sepupunya.
"Jake, kau sudah datang."
"Hai Vello." Jake mempersembahkan senyum terbaiknya.
Liora segera turun dari gendongannya dan kembali berlarian dengan kedua saudaranya. Termasuk Lilla yang berjalan ke arah meja besar di sisi taman. Meletakkan semangkok salad yang ia pegang sedari tadi.
Sementara Vello berlari kecil menghampiri Jake dengan sebuah kasual dress di bawah lutut bermotif floral yang berayun anggun seiring gerakan tubuhnya.
Jake terpejam sesaat ketika Vello memeluknya dan mereka saling mengecup pipi. Mematri kelembutan Vello yang menentramkan tubuhnya. Shit! Mengapa pesona Vello tak pernah teralih darinya?
__ADS_1
Napas Jake berembus berat, mendapati dirinya yang justru semakin menginginkan Vello. Ia benar-benar harus mendapatkan Zerenity setelah ini. Jake melihat Vello yang sudah berlalu dan kemudian ia segera mengalihkan pandangan.
Geoffrey, suami Everley menatap Jake lalu terkekeh penuh arti.
Jake menghampirinya seraya mendengkus. Geoffrey orang pertama yang mengetahui perasaan Jake pada Vello meskipun Jake tak pernah berniat memberitahukannya. Pria itu terlalu jeli. Mantan agen MI5, sialan!
Pria bermata biru itu menyodorkan sebotol minuman pada Jake. "Aku kira kau tak akan datang." katanya dengan nada mengejek yang segera membuat Jake berdecak malas.
Geoffrey terkekeh dan mereka saling mendentingkan botol minuman, bersulang. Jake menenggaknya kasar.
"Hai Jake." sapa Everley menghampiri.
"Kau semakin cantik saja." goda Jake setelah mengecup pipi sepupu Dexter.
Everley memutar bola matanya malas setelah menyalang menatap Jake. Pria itu segera terkekeh. Everley dengan keketusannya. Wanita itu bilang perilaku Jake sangat mirip dengan seseorang penyanyi yang ia benci.
"Geoff, kau belum berhasil menjinakkan Eve rupanya." lirik Jake jenaka pada Geoffrey.
"Ia hanya jinak jika bersamaku." kekeh Geoffrey.
"Kau terlalu percaya diri Geo!" decak Everley dengan wajah memerah.
Jake dan Geoffrey tertawa mendengar nada ketus Everley.
Nyatanya bagaimanapun sikap keras dan ketusnya seorang Everley yang terkesan tidak romantis, ia tak dapat memungkiri bahwa dirinya memiliki panggilan spesial untuk Geoffrey. Sama seperti Dexter pada Vello.
Mengapa orang-orang harus memiliki panggilan khusus seperti itu pada pasangan mereka? Tak cukupkah status untuk menyuarakan sebuah kepemilikan? Menggelikan.
"Bukan adikku jika tak seperti itu pada pria." Dexter berjalan bersama Russell, bergabung dengan mereka.
"Wah Mr. CEO kita muncul." goda Jake.
Dexter berdesis yang membuat mereka semua tertawa karena sangat tahu, Dexter tak suka dengan julukan itu. Jika bukan karena diminta, Dexter lebih senang hidup di dunia bebas dengan pisau dan pistol di balik pinggang dari pada pena yang selalu terselip di jasnya.
Mereka saling mendentingkan botol yang mereka genggam, begitupun dengan Russell.
Sesaat kemudian mereka semua saling berbagi tugas, atau lebih tepatnya mereka karena Jake justru sibuk melarikan diri dengan bermain bersama para malaikat mungil.
Memasak memang tak pernah cocok untuk Jake. Namun jika yang memasak adalah wanita seksi dengan hanya berbalut apron, tentu akan berbeda cerita nantinya.
Sesekali pandangan Jake tersita oleh interaksi tiga keluarga di depannya. Apakah ia akan berada di posisi mereka suatu saat nanti? Dapatkah ia terikat hubungan sakral seperti mereka? Sementara ia telah terbiasa menghabiskan malam bersama para wanita yang berbeda? Jika iya, siapa wanita yang dapat siap menerima segala kebrengsekannya?
Jake mendesah berat. Memasukkan kedua tangan pada saku celana. Memandang Vello yang baru saja tertawa lepas oleh berbincangannya dengan Lilla dan Everley, sementara Dexter memeluk pinggang Vello.
Wanita seperti Vello adalah sosok yang terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kenyataan di hidup Jake. Jikapun ada yang sama sempurnanya seperti Vello, tangan Jake yang kotor ini tak akan berani untuk menyentuhnya.
Entah mengapa tiba-tiba Zerenity hadir di benaknya. Terbayang sorot mata yang tak pernah bersinar untuknya, bahkan sejak kali pertama mereka bertemu.
Jake tertunduk dan tersenyum miring. Tergelitik untuk semakin menjerat Zerenity. Membuat wanita itu tak dapat berpaling darinya. Terlebih ada bayangan Vello yang selalu bersamanya. Ya, Jake rasa Zerenity orang yang tepat untuk menjadi penyalur egonya. Namun, bagaimana dengan Scarlet? Ah, sial! Mengapa saudara kembarnya itu juga begitu menarik hasrat Jake?
...To Be Continue...
CAST:
- Jake Ryver
- Zerenity Robinson
- Vellonica Diosa
- Dexter
- Liora Brylee
- Russell Guerrero Shawn
- Lilla Vebilla Shawn
- Aileen Shawn
- Geoffrey Lincoln
- Everley
- Haven
Pembaca My Devil Bodyguard & Unreachable Man pasti familiar dengan tokoh-tokoh yang muncul di atas tadi 😂 Mereka mampir bentar yaa di chapter ini 🤭
Pembaca Unreachable Man pasti heran, jadi Eve sm Geoff?? selamat terheran-heran ria teman 🙊 Tunggu kelanjutan chapter Unreachable Man yang belum bisa aku janjikan kapan 😂
__ADS_1
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_