Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 5


__ADS_3

Enjoy!


---


Malam baru saja tiba ketika Zerenity melangkahkan kakinya memasuki apartemen, sementara pikirannya berlarian pada kejadian pertemuannya dengan Jake. Haruskah ia menceritakan hal itu pada Scarlet? Apakah itu tak melukai hati saudarny jika ia menceritakan kejadian tadi? Sedangkan Zerenity tahu, bahkan Scarlet belum pada tahap bisa berbicara sesantai itu dengan Jake, tak seperti yang baru saja ia alami tadi.


Sembari memasukkan segala belanjaan yang telah dibeli dari supermarket ke dalam pantry, Zerenity mengingat kembali percakapannya dengan Fordrix ketika di mobil, saat merek baru saja keluar meninggalkan cake shop.


"Dia Jake yang di bicarakan oleh Scarlet?" Fordrix menoleh singkat.


"Ya, kami tak sengaja bertemu di supermarket tadi."


"Lalu bagaimana bisa dia juga datang ke cake shop-mu?" hazel Fordrix melirik Zerenity sedikit tajam dari sebelumnya.


"Kami berbincang saat berbelanja dan ia ingin tahu cake shop-ku."


"Hmm ...." balasnya dingin.


Kening Zerenity berkerut. Tidak biasanya Fordrix seperti itu. Apa pria itu sedang cemburu? Zerenity seger mengenyahkan pikirannya yang terlalu percaya diri.


"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"


"Tidak." jawaban itu terlalu singkat untuk seorang Fordrix yang sedang berbicara dengan Zerenity. Tiba-tiba Zerenity menjadi merasakan perlakuan Fordrix terhadap para karyawan di kantor pria tersebut.


Fordrix menoleh pada Zerenity ketika wanita tersebut terdiam memikirkan jawaban pria di sampingnya yang dingin. Zerenity melihat pria itu kembali tersenyum teduh padanya. Fordrix mengacak rambutnya dengan gemas, lalu terkekeh. Tawa itu membuat Zerenity lega sekaligus kecewa.


"Apakah kau akan menceritakan kejadian tadi pada Scarlet?"


Zerenity sedikit memutar tubuhny untuk menghadap diri Fordrix yang tengah menyetir.


Pria itu kembali berujar, "aku rasa jangan ceritakan pada Scarlet. Aku tak ingin kalian berselisih karena Jake."


Ketika itu Zerenity terdiam menimbang usulan Fordrix karena perkataannya cukup benar. Saat ini pun ia masih bimbang untuk menceritakan pada Scarlet atau tidak, namun mereka tidak terbiasa menyimpan rahasia. Mereka selalu berbagi apapun itu. Mereka bahkan selalu berbagi dairy. Tapi mengingat Scarlet yang begitu gigih mengejar Jake, hatinya merasakan ketidaknyamanan karena terasa tak adil bagi Scarlet.


Ini kesalahannya karena tak enak hati menolak permintaan Jake untuk datang ke cake shop-nya.


"Scar ...." panggilku keluar dari dapur.


Tak ada jawaban dari Scarlet dan Zerenity memilih segera mandi untuk meredakan kebimbangannya.


Tak berselang lama dari itu badannya sudah terasa lebih segar serta pakaiannya yang sudah berganti dengan piyama.


Maniknya melirik sesaat pada diary yang berada di atas nakas. Jemarinya meraba sampul kulit berwarna hitam dengan detail pola jahitan bergaris.


Zerenity mendesah berat, meragu untuk membubuhkan curahan hatinya ke dalam diary tersebut untuk Scarlet.


Ia memilih merebahkan diri di atas ranjang lalu memejamkan mata. Mencari secercah kata hati untuk ia dengar.


"Zeren ...." suara Scarlet mengalun yang seketik membuatnya terjaga.


"Dari mana saja kau?" Zerenity mengubah posisinya menyamping.


"Mencari inspirasi untuk lukisanku, kau tahu aku harus segera memutuskannya, bukan? Deadline pada galeri semakin dekat."


Zerenity mengangguk paham. Scarlet memang berhasil menjadi bagian untuk mengisi galeri milik Percy Gerard, seorang pelukis terkenal yang menjadi idola serta panutan bagi Scarlet. Zerenity sama sekali tak tahu apapun meskipun Scarlet sudah menjelaskan berkali-kali. Sesuatu tentang abstraksionisme dan impresioneisme? Entahlah, Zerenity tak tahu.


Seperti halnya Scarlet yang tak tahu ketika Zerenity membahas soal membuat kue atau masakan.


"Bagaimana acara kencanmu dengan Ford?"


Zerenity terkekeh. "Apakah itu bisa di bilang kencan?"


"Oh, ayolah! Aku tahu kalian saling mencintai."


Zerenity terdiam dan tersenyum kecut.


"Ia pasti akan menyatakan cintanya padamu."


"I hope so ...." lirihku. "Scar?"


"Yup?"


Bibir Zerenity seketika mengering karena gugup. Ia melipatnya sesaat untuk membasahi sekaligus memantapkan ucapan yang sudah di ujung lidah.


"Aku bertemu Jake-mu."


"Apa?"


Zerenity membuang napas dengan berat. "Kami bertemu di supermarket dan dia sempat mampir ke cake shop-ku."


"Apa?" suara Scarlet nyaris memekik.


Rasa bersalah Zerenity semakin menyeruak. Ia memejamkan mata dengan erat beberapa sesaat. "Maafkan aku, Scar. Aku tak enak hati untuk menolak perkataannya. Maafkan aku, jangan marah padaku."


"Katakan padaku sejujurnya, Zeren." tegas Scarlet.


"Kami hanya berbincang dan ia ingin melihat cake shop-ku. Maafkan aku, harusnya aku berani untuk menolaknya. Itu tak akan terjadi lagi, Scar."


"Kau sudah berbincang dengannya selama itu? Ya Tuhan, Zeren!"


"Maafkan aku. Itu benar-benar di luar dugaan."


"Jujur padaku, Zeren! Ia sangat tampan, bukan? Baju apa yang ia kenakan tadi?"


"Apa?" Zerenity tertegun oleh respon Scarlet. Tiba-tiba kerja otaknya terasa begitu lambat.


"Apakah aku harus mengulangnya? Kau jelas-jelas mendengar apa yang aku katakan, Sist."

__ADS_1


"Kau tak marah padaku?"


"Aku lebih tertarik untuk tahu tanggapanmu." jawab Scarlet riang.


Kata-kata Scarlet seketika membuat dada Zerenity terasa lapang. Ia terkekeh.


"Kau benar, ia tampan. Tapi tak setampan Ford."


"Kau mengatakan itu karena kau menyukai Ford."


"Kau juga mengatakan itu karena menyukai Jake," balasku cepat.


"Jake itu sangat seksi, Zeren! Saat kau menatap matanya, kau akan tahu betapa ia sangat menggairahkan."


Tawa Zerenity meledak mendengar Scarlet yang begitu berapi-api saat membicarakan Jake. Betapa begitu luar biasanya seorang Jake di mata Scarlet. Zerenity benar-benar tak pernah melihat saudaranya sampai seperti ini terhadap seorang pria.


"Tapi Jake tak karismatik seperti Ford, dan lagi Ford juga sangat seksi dengan bentuk perhatiannya padaku," Zerenity tak ingin kalah.


"Hah, kau ini! Tapi Ford tak akan membuat tubuh bawahmu basah hanya dengan memandang wajahnya."


Tawa Zerenity lagi-lagi meledak oleh perkataan frontal Scarlet. Ia menggelengkan kepala, lalu beranjak dari ranjang menuju walk in closet.


Zerenity mengeluarkan sebuah koper berukuran sedang dan mulai memilih pakaian untuk ia masukkan ke dalam sana.


"Kau jadi berangkat ke London besok?"


"Tentu saja. Aku sudah tiga bulan tak mengunjungi Robin's di sana dan lagi kata karyawanku, bangunan di sebelah cake shop di jual. Aku berencana membelinya untuk memperlebar Robin's jika harganya sesuai."


-----------------------


Bau khas cerutu segera menyergap penciuman Jake ketika ia baru saja mengembuskan asap dari mulutnya.


Jari kanannya mengapit cerutu, sementara jemarinya yang lain sibuk memijat pelipis, efek kelelahan setelah membaca berbagai laporan perkembangan bar. Ada satu bar di Arizona yang terancam tutup karena kehadiran sebuah bar baru tak jauh dari sana, pesaing lamanya. Jake harus memutar otak untuk pertahankannya, meskipun satu bar itu tak akan membuat bisnisnya seketika hancur, namun bukankah jika ia menyepelekan hal itu maka kehancuran bisnisnya hanya tinggal menunggu waktu? Jake tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


Jake menyandarkan kepala pada punggung kursi sembari kembali menyesap cerutunya penuh nikmat. Memandang langit-langit ruang kerjanya yang tertutupi sekilas oleh asap cerutu sebelum akhirnya lenyap.


Bayangan Vello hadir di kejauhan sana, samar di matanya, namun mampu menaikkan ritme jantungnya. Di tengah-tengah bayangan wajah cantik Vello, tiba-tiba bayangan wanita lain turut hadir. Ia tak secantik Vello, ia juga mungkin tak sepintar Vello, namun ia hadir, Zerenity. Ia tersenyum lembut pada Jake, membuat darah pria itu berdesir hangat.


Seketika Jake mengerjap, lalu menggelengkan kepala. Seorang Vello saja sudah membuatnya pusing, kini hadir Zerenity yang memiliki kesamaan sifat dengan Vello. Ia mendesah. Mengingat Zerenity membuatnya haus untuk semakin mengetahui banyak hal tentang wanita tersebut.


Perkenalannya dengan Zerenity seperti membawa segenggam harapan. Vello jelas tak akan mungkin untuk ia raih. Namun, Zerenity? Sangat mungkin. Jake tak akan membiarkan ia pergi berlalu begitu saja setelah menunjukkan bayangan Vello dalam dirinya yang begitu menjerat.


Yeah, Jake memang tak bisa memiliki Vello, tapi setidaknya Jake masih bisa memilikinya di tubuh Zerenity. Vello, sebesar itu kau membuat Jake gila oleh kelembutanmu.


Jake memilih beranjak, mengemasi barangnya lalu memakai coat hitam. Ia melangkah keluar dan segera menekan tombol lift. Rasanya ia sudah cukup berada di bar hampir seharian setelah ia mengunjungi Robin's cake shop milik Zerenity, siang tadi. Malam ini ia tak berencana datang ke night club, badannya sudah cukup kelelahan.


Langkahnya yang baru saja keluar dari lift tiba-tiba terhenti ketika menemukan Zerenity tengah duduk di sofa, tak jauh dari tempatnya berdiri. Jake tertegun, namun kemudian segera tersadar ketika mendengar tawa wanita itu di sana. Dia Scarlet, bukan Zerenity. Terlebih ketika Jake berhasil meyakinkan dugaannya dengan pakaian serta make up pada diri wanita tersebut.


Jake kembali melanjutkan langkahnya, kemudian berhenti di meja Scarlet, membuat wanita itu dan dua teman lainnya menoleh padanya.


"Hai Scarlet, hi ladies," sapa Jake dengan senyum menawan.


"Hai Jake." Scarlet tersenyum. Ya, senyum dan suara itu bukan Zerenity.


"Scar, kurasa kami harus pergi." Kedua temannya beranjak dan segera meninggalkan mereka. Sengaja membuat Jake dan Scarlet agar dapat mengobrol. Jake hanya berniat menyapa, tapi pria itu akhirnya memilih meraih duduk di samping Scarlet setelah ia sempat meminta salah satu pelayan untuk membereskan meja dan membawakannya segelas old fashioned whiskey untuknya.


"Senang melihatmu kemari," ujar Jake membuka pembicaraan.


"Bagaimana aku bisa tak kemari, sementara barmu begitu nyaman." Scarlet tersenyum, namun Jake mampu melihat matanya yang berani. 


Bagaimana bisa manik walnut yang sama persis, namun pancarannya begitu berbeda? Kedua saudara kembar ini begitu menarik bagi Jake.


"Thanks." Jake menyambut senyumnya. "Untuk bar dan rasa nyamanmu di sini." Jake mendekatkan gelasnya pada Scarlet dan mereka bersulang.


"By the way, aku bertemu dengan saudaramu tadi siang," ucap Jake setelah menyesap whiskey dalam gelasnya.


"Yeah, dia juga sudah bercerita padaku. Kami pasti membuatmu bingung."


Jake terkekeh, "ya, aku sempat mengira dia adalah dirimu."


Scarlet tertawa kecil, tak semanis Zerenity yang serupa dengan tawa Vello.


"Tapi kami memiliki banyak perbedaan. Zerenity cenderung pendiam, sementara aku lebih berani mengeskpresikan apa yang aku rasakan."


Jake tahu, bahkan dalam waktu singkat. "Bagaimana jika kita membicarakan tentangmu?" tanyanya berpura-pura tak tertarik tentang Zerenity.


C'mon, tak ada wanita yang menyukai ketika seorang pria lebih tertarik membicarakan wanita lain dari pada dirinya yang jelas-jelas tengah berhadapan dengan pria itu.


Maka dari itu, seperti yang Jake lakukan pada para wanita biasanya, saat ini ia tengah membuka ruang lebar bagi Scarlet untuk bercerita dan menjadikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Bukankah itu yang selalu wanita inginkan? Di dengar.


"Really? That's so great!" puji Jake ketika Scarlet bercerita tentang projek lukisannya, yang sebenarnya Jake hanya ingin membuat ia lebih bersemangat bercerita. Membuat Jake tampil sebagai pria yang terlihat mengagumi Scarlet.


"You know what? Kau benar. Itu sangat tak adil untukmu. Aku pernah merasakan di posisi sepertimu." respon Jake lagi saat Scerlet menceritakan tentang perlakuan salah satu kawannya yang menyebalkan.


Wanita selalu nyaman pada pria yang mampu mendengarkan dengan baik, melihat sisi luar biasanya, serta berada di pihaknya dengan penuh rasa empati. Jake sudah terlalu hafal untuk itu dan begitulah cara yang ia lakukan untuk mendapatkan para wanita dengan mudah, lalu membuangnya setelah ia menikmati mereka.


Beberapa pria mungkin saja bisa menyentuh mereka hanya dengan tampilan fisiknya, tapi saat pria-pria itu juga berhasil menyentuh perasaan wanita, hanya dengan jentikan jari, pria itu akan membuat sang wanita bertekuk lutut padany. Salahkan mereka yang begitu mengandalkan perasaannya untuk bertindak.


Scarlet terus bercerita, sementara Jake sudah lupa segala ucapannya beberapa menit lalu, lagi pula tak penting untuk ia ingat. Pikiran Jake lebih disibukkan oleh tubuh Scarlet yang menyulut percikan gelora dalam dirinya.


Jake mengakui, Scarlet memang tak berdada besar, namun menariknya wanita tersebut tetap bisa membuat ia betah melihat tubuhnya.


"Senang bisa berbincang denganmu Jake. Tapi aku harus pergi." Scarlet mendesah berat setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Oh c'mon, secepat itu? Kita bahkan belum menghabiskan gelas ketiga," kata Jake berpura-pura tak merelakannya.


Scarlet tersenyum kemudian tertawa kecil. Jake membalas senyumnya hingga ia mendapati semburat merah di pipi Scaret. Ia perhatikan bibir berlipstick merah itu berkali-kali bersembunyi dan keluar dengan berkilau saliva serta lingkaran walnut-nya yang tengah menahan hasrat.

__ADS_1


Sialan! Scarlet benar-benar menggoda. Jake memperhatikan kembali mini dress emerald yang tengah Scarlet kenakan malam ini. Bahu mulusnya dapat ia nikmati dengan jelas dari mini dress-nya yang berpotongan off shoulder.


"Kau membawa mobil sendiri?"


"Ya ...." Scarlet menggigit bibir bawahnya sementara manik itu menjerat Jake dengan rasa panas.


"Aku bisa mengemudikannya untukmu."


Scarle menelan saliva tanpa melepas ikatan apinya pada mata pria itu. Jake yakin, sorot legamnya yang penuh hasrat juga tengah membakar relung jiwa wanita tersebut. Scarlet semakin gelisah, begitupun Jake.


"Maybe next time, ketika kau melihatku," putus Scarlet setelah menarik napas dalam.


Jake tahu tahu wanita itu sedang menahan diri untuk tak menyerahkan raganya dengan mudah pada Jake. Pria itu tahu di dalam diri Scarlet tengah merintih dari gerakan tubuhnya yang gelisah. Jake juga merasakan hal yang sama dari sorot mata Scarlet yang sialan benar-benar merajuk.


Senyum menggoda Jake tersungging menyambut janji undangan Scarlet. "Sure, akan kupastikan itu terjadi dalam waktu dekat."


Scarlet beranjak dengan bibir bawah yang kembali ia gigit. Tak sabar pada pertemuan mereka nanti, begitupun Jake yang benar-benar tertantang untuk merasakan dan meruntuhkan pertahanan hasrat Scarlet padanya.


"Bye, Jake." Scarlet meninggalkan Jake dengan sisa-sisa jejak bara pada tiap langkah dan pinggulnya yang bergerak indah.


Jake terkekeh seraya menggeleng pelan. Zerenity dan Scarlet, shit!


Tubuh Jake baru saja bangkit ketika mata legamnya menangkap sosok pria yang tak asing di matanya. Pria itu memiliki tubuh tegap dan tinggi seperti Jake, namun ia memiliki wajah yang lebih tegas dengan sorot mata tajam dan dingin. Jake mengerjap, berusaha meyakinkan pandangan serta ingatannya. Ia tak ingin malu karena salah menyapa orang. Namun, saat pria di depan sana melihatnya, seketika Jake yakin.


"Holy shit! Kau masih hidup?" Jake tertawa seraya menghampirinya yang juga turut berjalan ke arah Jake.


"Kau tetap teman sialan, Jake!" ujar kawan lama Jake yang bernama Easton. Mereka tergelak bersama.


"Great to see you, Man!" kata Jake kemudian. Mereka bersalaman dan berpelukan, saling menepuk punggung.


"Apa yang membawamu ke New York?"


Merek melangkah pada meja bar dan Jake minta Easton untuk duduk di sana. Sementara ia masuk pada area bartender.


"Bos." seorang karyawan yang berada di dalam segera mengangguk hormat pada Jake.


"Lanjutkan pekerjaanmu."


Jake melepas coat yang ia kenakan dan memakai apron. Ketika ada kawan yang berkunjung kemari, Jake lebih memilih untuk menjamu mereka sendiri.


"Bisnis, aku baru saja terbang dari Seoul. Mengurus seorang keparat."


Jake terkekeh, Easton tak berubah. Sementara Jake sudah lelah pada dunia itu, meskipun terkadang merindukannya.


"Kau dapat bersantai di sini sejenak East. Minuman apa yang kau inginkan?"


"Kau yang akan membuatnya sendiri? Baiklah, beri aku minuman terbaikmu." Easton tersenyum miring.


"Baiklah." Jake segera meracikkan minuman untuk kawan lamanya dari campuran vodka, gordon's gin, serta kina lillet.


"Apakah kau akan cukup lama di sini?  Aku bisa memesankan wanita untukmu," ujar Jake seraya menyodorkan segelas racikannya pada Easton.


Pria itu menggeleng seraya terkekeh. "Aku sudah bertemu seseorang yang bisa membuatku berhenti untuk tak melakukan itu lagi."


"Holy fu*k! Aku tak percaya!" Jake tertawa keras sampai membuat beberapa orang menoleh padanya. Ia tak peduli. Jake condongkan tubuhnya pada Easton, kemudian berbisik, "jadi wanita itu sudah mengambil keperjakaanmu?"


Easton dan Jake memang sama-sama menyukai bermain dengan para wanita, namun Easton memiliki prinsip yang kuat untuk mempertahankan keperjakaannya. Ia sangat salut pada Easton, karena ia jelas tak mampu menahan hal itu di tengah wanita seksi yang merajuk tubuhnya.


Easton terkekeh. Ia menyesap minumannya. kemudian menilainya, "nice."


"Tentu saja," Jake turut terkekeh dan meracik minuman untuk dirinya sendiri.


"Ketika aku bertemu dengannya, aku justru ingin menjaganya dan tak ingin melewati batas, sebelum aku memiliki ia secara utuh."


Tangan Jake yang akan menuangkan whiskey seketika terhenti dan menatap kawannya. Ucapan Easton serupa dengan yang dilakukan Dexter pada Vello.


"Suatu saat, kau akan menemukan seorang wanita yang akan membuatmu berpikir seperti itu, Jake." Easton berucap sebelum kembali menegak minumannya.


...To Be Continue...


Say hello buat bang Easton dari "Light Around Darkness" karya dari Zutriland/Penikmatkopi di Noveltoon.


Easton



-----------------------------


CAST:


- Zerenity Robinson



- Jake Ryver



- Scarlet Robinson



- Fordrix



Thank you sudah baca sampai chapter ini.

__ADS_1


Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_


__ADS_2