
Enjoy!
---
Zerenity tersenyum melepas kepergian pelanggan sekaligus teman lamanya, Samantha yang baru saja berkunjung ke cake shop-nya dengan seorang perempuan yang baru ia kenal bernama Zoey. Seorang yang manis dan tampak ceria, meskipun kata Samantha ia tengah di landa patah hati.
Kepala Zerenity mendongak memandang langit siang kota London yang tampak begitu cerah, namun mulai terasa dingin karena telah memasuki musim gugur. Ia meraih udara sebanyak mungkin untuk mengisi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak oleh bayangan kenangan seorang pria yang tinggal di kota ini.
Setelah melempar pandangannya sesaat pada jalanan kota dengan para pejalan kaki di trotoar bata dan lalu lalang bus tingkat berwarna merah yang seakan tengah meyakinkannya, bahwa ia memang sudah berada di kota pria yang telah menoreh rasa menyakitkan ini, Zerenity memutuskan kembali masuk ke dalam Robin's.
Ia melewati beberapa orang yang sibuk memilih kue yang mereka inginkan serta antrean panjang di jalur kasir. Zerenity bersyukur pemandangan ramai ini yang selalu ia temukan di cake shop-nya.
Melihat banyak yang menyukai kuenya, membuat ia begitu bahagia dan penuh rasa syukur. Hal ini merajuknya untuk segera menepis bayangan kenangan menyakitkan yang sempat terlintas. Zerenity memilih mengisi kepalanya dengan ide-ide menu baru yang bisa ia coba ciptakan sembari menunggu waktunya untuk bertemu dengan seorang agen properti yang menjual bangunan di sebelah cake shop-nya berada.
"Chef," sapa beberapa karyawan Zerenity yang berada di dalam dapur. Seorang dari mereka baru saja menyelesaikan tugasnya menghias beberapa loyang apricot cupcake. Sementara yang lain mengecek oven dan membuat adonan beberapa jenis cheesecake.
"Silakan lanjutkan tugas masing-masing. Maaf, aku hari ini ikut di dapur kalian." Zerenity tersenyum pada mereka yang di sambut tawa kecil para karyawannya.
"Bagaimana Anda bisa menyebut ini dapur kami sementara cake shop ini adalah milik Anda, Chef Zerenity?" celetuk salah seorang karyawan pria yang mengenakan kacamata. Ia terkekeh.
"Karena aku juga ingin kalian merasa memiliki dapur ini, sehingga kalian bisa nyaman dalam bekerja dan bebas menuangkan ide," jawab Zerenity sembari memperhatikan mereka satu persatu. Memastikan bahwa mereka benar-benar merasa nyaman bekerja selama ini.
"Tentu, Chef," jawab mereka serempak dengan senyum lebar.
Zerenity menyambut senyum mereka lalu segera memakai apron untuk tenggelam dalam ide-ide di kepalanya. Tak lupa untuk mengikat rambutnya ke atas dengan tiga kali ikatan serta mencuci tangan.
Iringan musik menemani kegiatan mereka di dalam dapur. Pada kondisi ini ia juga dapat sekaligus menilai kinerja para karyawannya. Beberapa dari karyawan itu melempar canda dalam bekerja namun tetap cepat dan sigap melakukan tugas masing-masing, meskipun ada satu dua orang yang tampaknya perlu Zerenity ajak bicara seorang diri, karena ia melihat mereka kurang dapat bekerja sama dan memperlambat timnya.
"Chef Zerenity."
Seketika tubuh wanita itu menegang mendengar suara di belakangnya. Tangannya yang tengah mengaduk isian krim pistachio, terhenti. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik sampai hatinya sudah kembali tercabik meskipun ia belum melihat pemilik suara dengan aksen Spanyol dan Inggris yang begitu kental, ciri khasnya.
"Zeren ...." suara itu kembali memaksa masuk dalam pendengaranku.
Zerenity menarik napas dalam dan memilih segera berbalik karena jelas tak mampu menghindari kedatangan pria tersebut. Ketika tubuhnya berbalik, ia baru menyadari bahwa seisi dapurnya telah sepi, menyisahkan mereka berdua dengan hanya ditemani suara musik yang tiba-tiba terdengar samar karena seluruh perhatiannya telah berpusat pada seorang pria bermata kelabu yang berdiri tak jauh darinya dengan membawa sebuah buket bunga.
Ia tampan, selalu tampan. Rambut golden blonde-nya tertata rapi dengan beberapa anak rambut yang jatuh di dahinya. Zerenity juga melihat beberapa rambut halus mulai tumbuh di sekitar rahang pria itu. Wajah yang dulu selalu bisa mendamaikan hatinya, kini tengah mencoba menyunggingkan senyum canggung padanya, sementara ia sendiri yakin hanya mampu memberikan tatapan datar pada pria itu.
Pandangan Zerenity jatuh sesaat pada tubuh pria itu yang terbalut kaus hitam dan coat cokelat yang tampak berkelas dan mahal. Sementara hidungnya dapat mencium aroma maskulin yang khas di tengah-tengah aroma manis kue di dapur. Pria itu ternyata belum mengganti parfum yang biasa ia gunakan. Parfum yang dulu Zerenity pilihkan untuknya.
Nadi Zerenity terasa membeku seiring kenangan yang bermunculan dari wangi parfum yang memicu memorinya. Rindu yang terasa pahit mulai merasuk perlahan.
"Zeren ...."
Ia melangkah perlahan yang seketika membuat kaki Zerenity bergerak mundur. Pria itu menyadari itu dan Zerenity melihat sebelah tangannya terkepal karena kecewa. Percayalah, Zerenity lebih kecewa pada pria itu sejak lama.
"Aku dengar kau datang ke London, maka dari itu aku terbang dari Indonesia untuk menemuimu."
Zerenity tersenyum getir mendengar perkataannya. Segera ia membalikkan kembali badannya. "Pergilah, Rush." Bahkan suaranya jelas terdengar tercekat ketika ia harus menyebut nama itu.
Zerenity menumpukan kedua telapak tangannya pada meja stainless, sementara ia berusaha meraih udara yang terasa menipis di dapur karena kehadiran pria tersebut.
Sang pria bermata kelabu itu menghampiri, berdiri di samping Zerenity. "Aku membeli bunga untukmu." Russell menyodorkan padanya.
Zerenity bergeming, sibuk mengontrol dadanua yang terasa nyeri. Suara itu, wangi parfum itu, wajah itu, seluruh yang melekat pada dirinya membuat ia kembali tersiksa oleh rasa sakit bercampur rindu. Ya Tuhan, ternyata segala usahanya selama ini tak membuahkan hasil apapun ketika Russell dengan mudahnya datang padanya.
"Zeren, aku mohon. Tak bisakah kita berdamai?"
"Berdamai?" gumam Zerenity lirih.
Kepalanya menoleh dan mendongak pada pria itu. Menembus manik kelabu yang dulu begitu ia rindukan.
Russell Guerrero Shawn, seorang yang dulu kali pertama ia kenal sebagai salah satu senior ketika mereka masih berada di pendidikan kuliner. Kini pria itu telah menjadi seorang chef terkenal dengan banyak restoran di berbagai negara serta pebisnis yang sukses.
Ia adalah pria pertama yang membuat Zerenity kembali percaya bahwa cinta itu nyata.
Masih Zerenity ingat hangat rengkuhan Russell yang menemani tiap malamnya. Masih ia ingat bagaimana mereka selalu berbagi dapur di apartemen mereka setiap hari. Membuat ide-ide brilian bersama-sama, entah itu masakan ataupun kue. Masih 8a ingat pula kebiasaan buruknya yang tak mau menutup pasta gigi setelah memakainya. Kebiasaan anehnya yang tak ingin selimut menutupi jari kakinya. Bagaimana Zerenity bisa melupakannya, sedangkan dulu mereka telah hidup bersama selama lima tahun?
Setiap saat Zerenity menanti hari di mana Russell akan melamarnya, namun yang ia dapatkan adalah kata perpisahan tanpa ada alasan yang jelas dan Zerenity menemukan ia melamar seorang gadis Indonesia enam bulan kemudian.
Zerenity tertatih melewati hari menyesakkan yang hanya ditemani Scarlet dan Fordrix. Meskipun kini hatinya telah terbuka dan merasakan cinta dari segala perhatian yang Fordrix berikan, namun ia tak mampu menyangkal kenangannya bersama Russell. Waktu indah kebersamaan mereka terlalu lama dan rasa pahit yang pria itu berikan terlalu kuat menempel pada dinding hatinya yang dulu di isi oleh Russell.
"Kau terlihat lebih kurus dari kita terakhir bertemu." Russell memandang Zerenity lekat dengan sebelah tangan terangkat merapikan anak rambut wanita tersebut. Zerenity segera menepis tangannya, meskipun ia tak mampu melakukannya dengan kasar. Dulu, ia bahkan tak sanggup menampar Russell ketika pria itu memecah batinnya.
"Apa yang kau inginkan, Rush?" tanya Zerenity lirih.
Entah mengapa maniknya jatuh pada jari manis Russell yang kosong tanpa cincin. Apakah mereka gagal menikah?
"Te extraño mucho (Aku sangat merindukanmu)."
Ya Tuhan bahasa itu. Hidup dengan Russell lima tahun, membuat Zerenity dapat berbahasa Spanyol. Dulu ia sangat membanggakan kemampuan itu, tapi tidak sekarang.
Bibirnya membentuk garis tipis, hatinya teriris. Kepalanya menggeleng. "Jangan mengada-ada, Rush."
Tangan Zerenity kembali sibuk mengaduk krim dengan cepat, menyalurkan rasa sakit hatinya pada Russell. Tahun memang berganti, namun luka itu masih sama. Nyatanya waktu tak bisa menyembuhkan luka yang ia kira telah mengering oleh cinta yang tumbuh dari perhatian Fordrix.
__ADS_1
Russell menahan tangan Zerenity dan segera menggeser wadah krim itu menjauh. "Kau sangat tahu jika terlalu lama mengaduknya, maka krim ini akan pecah dan menjadi mentega."
Zerenity menarik napas dalam. Perkataannya benar. Ia meraih cokelat yang telah ia lelehkan dan menuangkannya ke dalam cetakan silikon lalu memasukkannya ke dalam lemari pendingin.
Zerenity rasa lebih baik menghiraukannya karena ia jelas-jelas tak bisa mengusir pria itu. Zerenity harap nantinya Russell akan lelah karena ia abaikkan dan Russell memilih pergi.
Russell diam memandang Zerenity sampai wanita tersebut larut dalam pekerjaannya. Beberapa saat kemudian mata Zerenity melirik pada Russell yang justru saat ini sibuk mengecek oven, lalu mengeluarkan beberapa loyang kue yang telah matang. Tampaknya ia tengah mengambil alih tugas para karyawan Zerenity yang telah ia usir tadi. Zerenity juga baru menyadari bahwa Russell telah melepas coat-nya dan memakai apron.
"Kau bisa meninggalkannya, Rush. Chef besar sepertimu tak pantas berada di sini."
"Sebesar apapun seorang chef, tempat mereka tetap di dapur," jawabnya ringan tanpa menoleh dan mulai sibuk menghias mini cheesecake, setelah mengintip sesaat pada kaca pintu dapur untuk melihat mini cheesecake yang terpajang di etalase.
Zerenity mendesah. "Bukan seperti itu bentuk hiasannya." Zerenity terpaksa mendekat pada Russell. Mengambil piping bag yang pria itu pegang dan memberikan contoh.
Russell tersenyum. "Maaf, Chef."
Zerenity berpura-pura tak mendengarnya dan menyerahkan kembali piping bag saat ia sudah menyelesaikan menghias satu mini cheesecake sebagai contoh untuk Russell.
Pria bermata kelabu itu segera meneruskan menghias sesuai contoh yang Zerenity berikan. Mereka larut dengan pekerjaan masing-masing.
Zerenity tak pernah meragukan keahlian seorang Russell di dapur, entah itu ketika ia memasak atau membuat kue. Bahkan hanya dengan kehadirannya sudah mampu merangkap beberapa karyawan Zerenity tadi yang berada di sini. Bekerja dengan cepat, teliti dan bersih adalah gambaran seorang Russell jika berada di dapur. Pria itu selalu terlihat tampan dan seksi dengan aktifitasnya itu, terlebih oleh wajahnya yang serius. Ya Tuhan, Zerenity segera tersadar dan mengembalikan fokusnya.
"Aku tak pernah memintamu menggantikan tugas para karyawanku. Aku tak mampu menggaji seorang Chef Russell," ujar Zerenity bermaksud mengusir pria itu. Berlama-lama dengannya seperti ini dapat membuat ia terjerat oleh pusaran masa lalu.
"Bayar aku dengan kue buatanmu." Russell tertawa kecil seraya melirik.
Zerenity menggeleng pelan. Mengembalikan kesibukannya dengan membuat isian dari pistachio serta cokelat.
"Kau masih ingat Vello, bukan? Adikku."
Ya, tentu Zerenity ingat satu-satunya adik yang begitu Russell sayangi, meskipun ia hanya tahu wajahnya karena belum pernah bertemu dan berkenalan.
"Ya, aku ingat," kata Zerenity kemudian.
"Dia sedang berkunjung ke London bersama suami dan anaknya."
"Lalu?"
"Anak Vello sangat lucu, kau pasti akan menyukainya."
Tangan Zerenity yang tengah sibuk, terhenti oleh kata-kata Russell. Mengapa Russell harus menceritakan itu padanya? Pria itu dapat membuatnya salah paham dan semakin terluka. "Apa maksudmu, Rush?"
Zerenity mendengar helaan napasnya. Russell berjalan mendekat. "Aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Kurasa ini waktu yang tepat, kau berada di sini dan adikku juga sedang berkunjung."
Zerenity tertawa getir oleh kalimatnya. "Mengenalkanku sebagai apa?"
"Sebagai pasanganku?"
Kening Zerenity berkerut, lalu menggelengkan kepala oleh kata-kata Russell yang tak masuk akal.
"Bukankah bertahun-tahun lalu kau yang sudah mengakhirinya? Bukankah enam bulan setelah berpisah dariku, kau melamar seorang gadis Indonesia? Mengapa bukan dia saja yang kau kenalkan pada keluargamu?" tanya Zerenity pahit sampai ia tak mampu menelan salivanya sendiri.
Russell tertegun, Zerenity rasa pria itu tak menyangka bahwa ia mengetahui kabar itu.
"Lagi pula aku sudah tak mencintaimu. Aku mencintai pria lain," kata Zerenity kemudian.
"Siapa?"
"Ford," jawabnya mantap.
Russell memandang Zerenity tak percaya kemudian ia menggeleng pelan. Ia terkekeh. "Ia sahabatmu. Jangan jadikan Ford sebagai benteng untuk menolakku, mi Angel (Malaikatku)."
Jantung Zerenity tiba-tiba terasa berhenti berdetak ketika mendengar panggilan Russell padanya. Ya Tuhan, Zerenity tak mampu mendengar panggilan itu lagi.
"Tidak, Rush. Aku mencintainya. Ia yang selalu menemaniku saat kau meninggalkanku penuh luka kala itu."
"Jadi kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" pandang Russell tajam.
Pertanyaan Russell seakan menghantam Zerenity. Ia terdiam, tak mampu menjawab. Ia mengalihkan matanya dari pandangan Russell yang berusaha menguncinya.
Russell kembali menghela napas, namun terasa lebih ringan. Mungkin karena ia mengerti arti keterdiaman Zerenity. Ia mengusap rambut mantan kekasihnya. Tubuh itu menjauh, kembali sibuk oleh loyang-loyang yang siap dihias.
"Cake shop-mu sangat ramai, kau tak berniat memperlebar atau membuat cabang baru?"
"Aku sedang mengusahakannya."
Tanpa mereka sadari, Zerenity dan Russell melebur dalam perbincangan, terlebih Russell yang membagi ilmunya dalam pengelolaan karyawan dan keuangan yang efisien.
Suasana di antara mereka mencair begitu saja seiring menit yang bergulir. Perbincangan mereka melebar sampai pada kabar teman-teman keduanya yang kini telah tersebar di berbagai belahan dunia dengan kesuksesan mereka masing-masing.
Russell beberapa kali menarik ingatan Zerenity tentang kejadian-kejadian lucu ketika masa pendidikan mereka yang membuat Zerenity akhirnya tertawa bersama Russell.
Russell tak berubah. Pria itu masih seperti pria yang Zerenity kenal dahulu, yang begitu serius jika berada di dapur dan cenderung ketus pada orang lain, namun tidak jika telah mengenalnya lebih dekat. Sesungguhnya Russell adalah pria yang hangat.
"Aku ingin mendengar komentarmu," kata Zerenity pada Russell tanpa menoleh karena matanya sibuk mengamati karya yang baru saja selesai ia hias.
__ADS_1
"Apa namanya?"
"Chocolate with pistachio tartlets atau mungkin saat diletakkan di etalasi aku akan memberinya nama midnite forest."
"Mengapa?" Russell memperhatikan dengan detail sembari memutar piring secara perlahan.
"Karena itu yang aku rasakan saat membuatnya."
Manik kelabu itu merangkak pada mata walnut Zerenity, kemudian pria itu tersenyum hangat.
Dada Zerenity terasa sempit, matanya terasa perih melihat senyum yang sudah lama tak menyapa maniknya. Seketika rasa rindu kembali menyergapnya.
Russell memotong midnite forest itu hingga menampakkan lapisan dalam yang terdiri dari mangkok yang terbuat dari cokelat, krim pistachio serta lingkaran pipih krim cokelat yang di balur dengar saus dark chocolate.
Russell menyuapkan sesendok ke mulutnya, kemudian memandang Zerenity tajam beberapa saat, sementara ia mencecap rasa dengan teliti. Kebiasaan khasnya yang terkadang membuat Zerenity berdebar, seakan tengah menjadi salah satu kontestan lomba.
Zerenity jadi teringat beberapa kali melihatnya di layar TV saat pria itu menjadi juri tamu pada kompetisi memasak. Russell memang cocok sebagai juri.
"Nice. Aku suka dengan beberapa tekstur kasar pistachio yang masih bisa aku rasakan, sehingga bisa memberikan variasi pada krim cokelatnya yang lembut. Kau juga tepat memilih dark chocolate untuk menyeimbangkan rasa yang manis."
"Benarkah?" Zerenity lantas mencicipinya sendiri dan sependapat dengan komentar Russell.
Tanpa sengaja mata Zerenity jatuh pada cokelat di sudut bibir Russell. Secara spontan Zerenity mengarahkan ibu jarinya ke bibir Russell dan pria itu juga melakukan hal yang sama padanya. Tanpa mereka sadari, mereka saling menghapus cokelat di sudut bibir kemudian melakukan kebiasaan mereka, saling memasukkan ibu jari ke bibir dan menghilangkan cokelat tersebut dengan lidah.
Tubuh Zerenity seketika bergetar merasakan sapuan lidah Russell pada ibu jarinya, sementara manik mereka telah saling menjerat dalam pusaran masa lalu.
Pandangan hangatnya seakan menarik segala kenangan indah yang telah Zerenity kubur dalam. Masa-masa manis mereka seketika bertebaran di depannya. Saat mereka saling melempar canda di dapur, saat Russell mengecup keningnya dengan hikmat, saat Russell memeluknya dari belakang ketika mereka tidur, saat pria itu mengusap rambutnya kala Zerenity sedih dan Zerenity yang mendekapnya saat Russell jatuh bangun meraih mimpi.
Entah siapa yang memulai, kini bibir mereka saling berpagut. Russell menyesap bibir atas mantan kekasihnya begitu dalam namun tetap terasa lembut dan menghanyutkan. Zerenity dapat merasakan rindu yang membelenggu Russell. Begitupun dirinya.
Russell merapatkan tubuh mereka dengan memeluk pinggang Zerenity begitu erat, sementara jemari Zerenity merangkak dari dada Russell ke pundak dan berlabuh pada tengkuk.
Russell memperdalam ciuman mereka. Dapat Zerenity rasakan lidah pria tersebut yang menerobos dan membelai lembut lidahnya. Ia benar-benar tenggelam oleh gulungan ombak masa lalu yang Russell bawa.
"Aku tahu masih ada cinta di hatimu untukku, begitupun aku yang masih selalu mencintaimu," bisik Russell di sela-sela ciumannya yang hangat namun penuh desakan yang menggebu.
Jantung Zerenity berdebar mendengar kalimat itu. Manis kebahagiaan dan kepahitan beriringan memerangkapnya.
Ruang hati yang dulu Russell tinggalkan, nyatanya masih terbuka merindu. Meskipun suara lain di hatinya tetap menentang oleh luka dan menyentak dadanua untuk mengingat bahwa Fordrix yang pantas mengisi jiwanya. Fordrix tak pernah melukainya, Fordrix selalu ada untuknya, sahabat prianya ity tak pernah mengecewakannya seperti yang telah dilakukan Russell padanya. Zerenity hanya perlu menunggu Fordrix menyatakan perasaannya. Namun, apakah benar Fordrix mencintainya? Atau Zerenity yang telah salah mengartikan bentuk perhatian Fordrix selama ini? Apakah penantiannya pada Fordrix akan berakhir manis? Atau berakhir menjadi sebuah luka seperti penantiannya pada lamaran Russell dulu?
"Ini sangat salah, Rush."
Zerenity melepas ciuman mereka, lalu mengusap dada Russell.
"Aku yang salah karena dulu telah melepasmu."
Russell membelai sisi wajah Zerenity. Maniknya begitu lekat, membuat Zerenity dapat menyelami lingkaran kelabu itu dengan mudah dan tak berhasil menemukan kebohongan di mata Russell yang hangat.
"Aku tahu ini terlalu cepat untuk pertemuan kita kembali setelah sekian tahun. Namun aku tak mampu membendungnya, mi Angel. Aku tak sanggup menunggu lebih lama lagi setelah melihat mata indahmu dan suaramu. Kembalilah padaku, aku mohon."
Russell mendaratkan kecupan lembut di pipi Zerenity. Namun, bibir itu seakan tak ingin pergi. Ia justru menanamkan kecupan-kecupan yang merajuk jiwa Zerenity. Tiap sentuhan bibirnya yang mendarat di kening, hidung, pelipis, dan dagu Zerenity, seakan tengah menaburkan kembali kebahagiaan mereka yang dulu.
"Aku merindukanmu," bisik Russell mengusap luka hati Zerenity.
Zerenity tak ingin mempercayai perkataan itu namun tiap sentuhan pria itu benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Batin Zerenity menjerit rindu.
Bibir Russell kembali tersemat pada bibirnya. Mengisi dengan cintanya yang sehangat dulu. Belaiannya di pipi Zerenity seakan mendorong ketakutan terhadap luka untuk segera menjauh.
Zerenity kembali jatuh, pertahanannya hancur dalam sekejap oleh dobrakan rindu yang merajuk relung hatinya yang sepi menanti.
Lidah mereka saling membelit. Segala pikiran Zerenity kini hanya mampu melihat pada Russell yang kini kembali. Mengapa Zerenity begitu lemah? Namun kenangan mereka nyatanya terlalu kuat mengisi aliran darahnya.
Mereka berbagi napas tipis, enggan untuk memisahkan bibir mereka yang telah merindu lama. Ciuman Russell masih begitu manis, namun Zerenity mampu merasakan getaran yang buas terselip dalam kelembutan Russell ketika ******* bibir atas dan bawahnya secara bergantian serta gerakan lidah yang membawanya melambung.
"Kita memang tidak seharusnya berpisah mi Angel, yang seharusnya pergi adalah Scarlet."
Seketika Zerenity membuka mata, mendorong tubuh Russell dengan keras hingga pelukan mereka terurai.
"Apa maksudmu, Rush?!"
...To Be Continue...
CAST:
- Zerenity Robinson
- Russell Guerrero Shawn
Thank you sudah baca sampai chapter ini.
__ADS_1
Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_