Trapped By Obsession

Trapped By Obsession
CHAPTER 4


__ADS_3

Enjoy!


---


Zerenity merasakan kenyamanan pada rangkulan tangan Fordrix di pundaknya. Mereka tengah menyusuri deretan macam-macam sofa yang terpajang di kanan kiri. Ya, akhirnya rencana Fordrix untuk meminta Zerenity menemaninya membeli perabot terlaksana hari ini.


"Bagaimana dengan yang ini?" tunjuknya pada sebuah sofa panjang berwarna champagne.


"Apakah ini tak terlalu terkesan klasik? Sementara penthousemu modern minimalis."


"Hmm kau benar. Kalau begitu mana yang lebih cocok?"


"Biru itu, mungkin?" tunjuk Zerenity pada sofa panjang di sebelah kanan mereka.


"Oke, aku akan mengambilnya." Fordrix menoleh pada Zerenity dengan senyum hangatnya.


Zerenity menyambut dengan senyum terbaiknya. Pria itu mengacak rambut Zerenity dengan gemas yang seketika membuat debaran jantung Zerenity berserakan.


"Kami ambil sofa itu." tunjuk Fordrix dengan suara tegasnya pada seorang petugas wanita yang segera mengangguk.


Zerenity terkadang heran pada perilaku Fordrix yang selalu bisa berubah begitu drastis ketika pada orang lain.


"Istri Anda memiliki pilihan yang sangat bagus, Tuan."


Pipi Zerenity seketika merona mendengar perkataan petugas itu. Ia mendongak mencoba mencari tahu respon Ford dan pria itu ternyata turut menoleh padanya dengan senyuman khasnya yang menenangkan. Tak menyanggah sama sekali oleh dugaan yang salah tersebut.


Zerenity segera melarikan wajahnya, tak tahu harus senang ataupun sedih oleh sikap Fordrix.


Pria bermata hazel itu membawa rangkulannya pada Zerenity untuk melanjutkan langkah mencari meja kopi dan beberapa hiasan dinding. Sama halnya ketika memilih sofa, pria itu tak pernah mendebat sedikitpun pada pilihan Zerenity dan beberapa kali mereka memilih barang yang sama.


Apa yang mereka lakukan saat ini benar-benar terasa seperti sedang mengisi rumah mereka berdua. Perlakuan Fordrix yang tak pernah melepas rangkulan tangannya pada Zerenity dan memprioritaskan pendapat wanita itu, membuat petugas yang mendampingi mereka semakin yakin bahwa mereka adalah pasangan, karena orang tersebut semakin sering menyebut dengan 'suami Anda' dan begitu sebaliknya.


Sejujurnya Zerenity tak bisa menampik dentuman kebahagiaan yang menggetarkan dadanya. Ia benar-benar telah jatuh pada kenyamanan Fordrix dan tak tahu bagaimana jika suatu saat pria itu pergi dan memiliki kekasih yang ternyata bukan dirinya.


Zerenity tak akan mungkin sanggup. Itu pasti akan menjadi sebuah mimpi terburuknya. Ia telah terbiasa oleh kehadiran Fordrix selama sepuluh tahun ini. Tiba-tiba dadanya terasa sesak oleh bayangan ketakutan yang mencoba memenjarakannya.


Fordrix melepas rangkulan tangannya untuk menyentuh bahan meja dan tanpa sadar Zerenity meraih lengan Fordrix dan memeluknya. Hal itu membuat pria tersebut menoleh padanya. Raut wajah bingung Fordrix membuat Zerenity tersadar oleh apa yang baru saja ia lakukan. Zerenity yakin pipinya bersemu merah karena malu. Zerenity hendak melepas pelukan di lengannya namun Fordrix dengan cepat mencegah hal itu terjadi. Pria tampan itu tersenyum pada Zerenity seakan menyatakan bahwa ia tak keberatan sama sekali oleh perilaku sahabatnya.


Ya Tuhan, harus seperti apa Zerenity mengkondisikan hatinya?


Fordrix mengusapkan jemarinya pada tangan Zerenity yang masih memeluk lengannya seraya membawa wanita berambut brunette itu kembali melangkah melihat perabot yang lain. Ini terasa begitu nyaman.


Tak berselang lama dari itu Zerenity melihat Fordrix berdecak ketika ponselnya berbunyi. Zerenity hanya memperhatikan Fordrix yang seketika berubah serius saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Suara tegas dan dinginnya segera muncul ketika mengangkat panggilan yang Zerenity yakini datang dari tempat pria itu bekerja.


"Saya tidak mau tahu, saat saya datang semuanya harus sudah siap," sentak Fordrix mengakhiri panggilan teleponnya.


Pria itu membuang napas kasar kemudian wajah Fordrix melunak ketika manik hazelnya bertemu dengan Zerenity.


"Ada masalah di kantor yang harus aku selesaikan sekarang. Maaf aku tak bisa menemanimu berbelanja di supermarket setelah ini."


Zerenity tersenyum maklum meskipun ada rasa kecewa yang terselip karena pekerjaan tetap menyitanya di tengah hari libur.


"Tak apa aku mengerti."


Mereka berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan transaksi.


"Tapi aku masih bisa mengantarmu ke supermarket, yang menjadi masalah adalah apakah kau tak apa-apa jika harus pulang sendiri nanti?" tanya Fordrix ketika ia menyerahkan kartu debit pada petugas kasir.


Zerenity terkekeh. "Apa yang kau khawatirkan? Kau tahu aku sudah terbiasa pergi sendirian."


Fordrix tersenyum tipis, "aku tahu, aku hanya merasa tak nyaman membiarkan kau pulang sendiri sementara kau berangkat bersamaku dan rencana aktifitas kita hari ini harus gagal."


"Ayolah, Ford. Aku tak apa." Zerenity mengusap lengan pria tersebut untuk meyakinkannya. Ia tersenyum hangat dan membelai sisi kepala Zerenity, membawa wanita itu kembali pada lautan kenyamanannya.


--------------------


Jake membuka lemari pendingin di dapur dan langsung berdecak ketika melihat isi di dalamnya nyaris kosong.


Terpaksa Jake meraih hanya sebotol jus apel dan borrito beku yang tersisa satu. Ia masukkan borrito itu ke dalam microwave sementara tangannya yang lain menekan nomor panggilan Miles.


Jake sudah menyiapkan segala umpatan karena pria itu telat mengisi lemari pendinginnya. Miles memang tidak hanya sekedar bartender sekaligus kawannya, tapi mungkin ia juga dapat dikatakan sebagai asisten pribadi karena ia hampir mengurus segala keperluan Jake, termasuk persediaan makan dan kebutuhan rumah. Tentu saja ia mendapat gaji yang jauh lebih besar dibanding karyawannya yang lain.


Umpatan Jake sudah di ujung lidah ketika Miles lebih dulu menahannya dengan segala penjelasan dan minta maafnya karena lupa mengisi lemari pendingin Jake.


"Kau berbelanjalah sendiri untuk kali ini Bos. Sekali ini saja. Maafkan aku. Aku tak bisa meninggalkan adikku yang masih menjalani operasi, kau tahu ia tak memiliki siapa-siapa selain diriku."


"Baiklah, semoga Mark segera pulih. Sampaikan salamku saat ia siuman setelah operasi," kata Jake akhirnya dan segera menutup panggilan.


Jake tahu Miles tak sedang berbohong. Ia mengerti dengan baik kondisi keluarga Miles dan Jake pernah menjenguk adik kawan sekaligus karyawannya tersebut yang memang memiliki kelainan pada organ dalam. Hal itu yang membuat Jake merangkap banyak pekerjaan untuk Miles karena ia tahu, memberikan Miles uang secara cuma-cuma hanya akan menodai harga diri pria tersebut.


----------------------


Jake dorong troli di depannya dengan langkah malas. Berbelanja di supermarket adalah salah satu aktifitas yang ia benci, karena itu ia menyerahkan tugas berbelanja pada Miles selama ini.


Tak ada yang lebih membosankan dari berjalan di tengah berbagai barang yang tertata meninggi hingga membentuk lorong-lorong, tapi di sinilah Jake sekarang. Melempar segala barang-barang yang ia rasa sudah habis bersediannya ke dalam troli tanpa mempedulikan label harga.


Beberapa ibu-ibu muda tampak mencuri pandangan pada Jake dan pria itu segera melempar senyum menggoda pada mereka untuk sekedar mengusir kebosanannya berada di sini.


Tiba-tiba terlintas di kepala Jake perkataan Miles tentang supermarket saat mereka berada di night club beberapa hari lalu.


"Kapan kau terakhir ke supermarket? Lebih baik kau mencari jodohmu di sana."


"Wanita idaman yang keibuan dan bisa memasak tentu akan sering ke supermarket."


Jake mengumpat dalam hati mendapati dirinya yang tiba-tiba teringat perkataan asal dari mulut Miles. Tampaknya bartendernya itu ingin Jake menurunkan gajinya karena membuat Jake sekarang berada di sini dan mengingat kata-kata konyolnya.


Tubuh Jake berbelok ke lorong di sebelahnya dan menemukan seorang wanita berambut brunette panjang yang tampaknya tengah begitu serius membandingkan dua merek deterjen cair.


Jake menggeleng pelan. Haruskah wanita itu menghabiskan menitnya hanya untuk itu? Memang apa bedanya? Bukankah sudah jelas sama-sama bisa membersihkan pakaian?


Tunggu ... sepertinya Jake mengenali wanita itu, namun siapa? Mata Jake segera mengamati wanita itu dari bawah hingga atas sementara pikirannya berlari menarik segala ingatan tentang para wanita yang pernah ia temui atau mungkin yang pernah bercinta dengannya.


Lagi, Jake mengumpat dalam hati. Ia yakin pernah bertemu dengan wanita itu beberapa waktu ini. Jake mendesah malas karena ia mendapati dirinya memang begitu payah untuk mengingat wanita, kecuali Vello tentunya, namun jika sudah lupa seperti ini rasanya benar-benar mengganjal di otak Jake.


Jake menyerah oleh ingatan payahnya dan memilih mengambil gambar wanita itu dan mengirim pada Miles. Hanya berselang dua menit pria itu sudah membalas pesannya.

__ADS_1


Miles:


Scarlet, pelangganmu di bar. Kau benar-benar payah!


Jake terkekeh membenarkan perkataan Miles. Ingatannya segera mengeluarkan segala memori tentang Scarlet termasuk pertemuan mereka ketika di night club beberapa hari lalu. Damn! Jake tak tahu bahwa ternyata Scarlet dapat begitu menggoda. Ia cukup menyukai cara wanita tersebut menarik atensinya.


Segera Jake masukkan kembali ponselnya dan memandang Scarlet yang baru saja beralih pada rak di seberangnya.


Kening Jake sedikit berkerut karena menemukan hal janggal. Seingatnya Scarlet adalah wanita yang berpakaian cukup berani, setidaknya selama dua kali mereka bertemu, namun saat ini Jake justru menemukan ia berpakaian kasual dengan blouse putih berlengan mencapai siku, sementara blouse bagian depannya Scarlet masukkan ke dalam celana jeans hitam dan membiarkan bagian belakang menutupi bokong. Scarlet juga tak mengenakan full make up dan bibirnya tak menggunakan lipstick merah seperti saat Jake bertemu dengannya. Entah saat ini wanita tersebut menggunakan lipstick berwarna natural atau memang itu warna asli bibirnya.


Jake berpikir mungkin Scarlet memang sengaja berpakaian santai karena hanya ke supermarket.


Jake mengembalikan fokus dan kembali memasukkan barang yang sekiranya ia butuhkan. Namun tanpa sengaja mata mereka saling bertabrakan sesaat. Jake pikir Scarlet akan tersenyum menyapanya, namun ia memalingkan wajah begitu saja seperti tak mengenali Jake.


Saat itu juga Jake tersentak karena diabaikan. Seketika harga dirinya seakan tercoreng. Jake tak pernah di abaikan oleh para wanita terlebih wanita itu yang beberapa hari lalu jelas-jelas mencoba mendapatkan perhatiannya.


Jake melihat Scarlet tengah berjinjit berusaha menggapai cairan pewangi pakaian.


Ia menoleh pada Jake, "permisi, maaf, bisakah kau membantuku mengambil itu?"


Jake cukup tertegun dengan suara lembut yang baru saja ia dengar darinya, namun kemudian Jake terkekeh dan menghampiri Scarlet.


"Mana yang kau inginkan?"


"Itu, kemasan yang berwarna merah."


Segera Jake ambil dengan mudah cairan pewangi pakaian yang Scarlet inginkan lalu memasukkannya ke dalam troli yang telah terisi beberapa jenis bahan makanan.


Hmm, jadi ia bisa memasak? Pikir Jake.


"Thanks," suara itu kembali mengalun lembut disertai senyum. Seingat Jake, ia tak selembut ini saat berbicara.


"Yeah. Nice trick, by the way." Jake tersenyum miring padanya.


"Maaf?" Wanita itu mengerjap heran.


Kening Jake berkerut. Apakah wanita tersebut baru saja mengalami amnesia? Pandangannya benar-benar seperti tak mengenali Jake. Tiba-tiba pria itu menjadi ragu jika wanita tersebut bukan Scarlet yang sempat berkenalan dengannya. Tapi tidak, Jake yakin ia adalah Scarlet.


"Kau berpura-pura lupa padaku, Scarlet?"


"Oh, maafkan aku. Aku Zerenity, saudara Scarlet." Wanita itu kembali melempar senyum pada Jake.


"Apa?"


Pikiran Jake tak sampai sedikitpun untuk mengira mereka saudara dan kembar. Itu benar-benar di luar kepala Jake.


"Ya, Scarlet adalah saudaraku."


"Oh, aku tak tahu bahwa kalian kembar. Maaf sudah berlaku tak sopan padamu tadi."


Wanita yang baru Jake tahu bernama Zerenity itu tersenyum maklum seraya menggeleng pelan. "Tak apa, kami sering mengalaminya. Kami memang sering membuat orang lain bingung."


Jake terkekeh mendengarnya. Jake dapat membayangkan bagaimana orang-orang mengalami hal serupa dengannya. Jake ulurkan tangannya, "aku Jake."


"Jake?" Zerenity mengerjap beberapa kali, terkejur. Tak menyangka bahwa pria di depannya saat ini adalah Jake yang diceritakan oleh Scarlet. Ia melihat arah tangan Jake yang masih menggantung. "Oh, aku Zerenity." sambut Zerenity kemudian.


--------------------


"Ya, hanya sebuah cake shop kecil. Kau bisa mengunjunginya saat senggang." Zerenity tersenyum lembut sebelum akhirnya memasukkan sosis ke dalam troli.


Manik Jake tersita sesaat pada senyum lembut itu yang beberapa kali ini menerpanya. Senyum selembut itu mengingatkan ia pada Vello. Meskipun Jake tahu mereka memiliki wajah yang sangat berbeda, namun senyum lembut yang keluar dengan begitu tulus, jelas tak dimiliki oleh sembarang orang dan dari sekian banyak wanita yang ia temui, hanya wanita bernama Zerenity yang ternyata mampu menyamai kelembutan senyuman seorang Vello. Hmm, menarik.


"Bagaimana jika aku mengunjunginya sekarang?"


Tangan Zerenity yang akan mengambil sebungkus bacon terhenti. Ia menoleh dengan wajah bingungnya yang ternyata cukup lucu di mata Jake.


"Kau keberatan?"


"Ah, tidak. Tentu kau bisa mengunjunginya. Aku akan sangat senang mendapat pelanggan baru." lagi, senyum itu, Vello.


"Tapi aku tak tahu lokasinya, bisakah kau mengantarkanku ke sana?" bibir Jake meluncur begitu saja.


Zerenity terdiam. Jake membantunya mengambil sebungkus bacon yang tadi akan diambil oleh Zerenity dan memasukkan ke dalam troli. "Jika kau tak keberatan," tambah Jake kemudian.


Jake semakin ingin mengetahui respon wanita bermata walnut tersebut. Ia tahu Zerenity tak menyangka ada seorang pria asing yang tiba-tiba memintanya semobil bersama untuk mengunjungi cake shop-nya.


"Aku tidak keberatan sama sekali." kini Zerenity berusaha mengembangkan senyumnya.


Sejujurnya Zerenity gelisah karena tak enak pada Scarlet, namun tanpa ia ketahui, Jake dapat melihat kegelisahan itu di matanya, meskipun Jake tak tahu karena apa.


Jake menangkap bahwa Zerenity adalah seseorang yang mudah tak enak hati untuk menolak orang lain. Sangat Vello. Namun ini hanya dugaan awal Jake, karena ia belum mengenal Zerenity dengan baik.


Jake mengembangkan senyum menawannya sebagai hadiah atas persetujuan wanita tersebut dan Zerenity nyambut senyuman itu, namun tak ada binar mendamba pada sorot matanya, seperti yang terlihat pada wanita lain selama ini, tak seperti pada saudaranya, Scarlet.


Mengumpat dalam hati, Jake tersentil. Apakah ia tak cukup tampan bagi Zerenity?


Tak berselang lama mereka segera menyelesaikan transaksi belanja dan berjalan ke arah area parkir bersama.


Langkah Jake terhenti, dan menoleh serius pada Zerenity. Ia tergelitik untuk mengetahui sesuatu pada Zerenity. "You know what, sepertinya kita pernah bertemu."


Zerenity turut menghentikan langkahnya. "Benarkah? Di mana?"


Mereka kembali melanjutkan langkah. "Oh tidak, aku baru ingat. Ternyata saat itu aku hanya sedang bermimpi sesuatu yang indah." lempar Jake menggoda.


Seketika itu Jake mendengar tawa lepas dari bibir Zerenity. Damn! Bahkan tawa itu sama manisnya dengan Vello.


"Ya Tuhan, kau pria yang pintar merayu," ujar Zerenity dengan jejak tawa yang masih mengiringi.


Jake tergelak oleh perkataan wanita berambut brunette tersebut. Ia bantu Zerenity memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi lalu selayaknya gentleman, Jake membukakan pintu mobil untuk Zerenity. Sejujurnya Jake cukup menyesali keputusannya dengan membawa Maserati Levante ini, jika ia tahu bahwa pulang dari supermarket ia akan membawa seorang wanita, tentu Jake akan membawa Ferrari F8-nya.


Zerenity menoleh ke bangku belakang ketika Jake baru saja menjalankan mobil.


"Mengapa?"


"Aku melihat ada car seat di bangku belakang."

__ADS_1


"Yeah, itu milik keponakanku. Aku selalu membawa ia dengan mobil ini."


"Benarkah? Apakah keponakanmu perempuan?"


"Ya, bagaimana kau bisa tahu?" Jake menoleh padanya singkat.


"Kurasa kita memang pernah bertemu."


Jake kembali menggeser pandangannya pada Zerenity seraya tertawa. "Kau juga bermimpi indah?"


Lagi, tawa manis itu meluncur, Vello. "Sepertinya aku pernah melihatmu di sebuah playground bersama gadis kecil yang kira-kira berumur empat tahun dengan rambut ponytail berwarna golden blonde." pandangan Zerenity menerawang, mencoba memastikan ingatannya.


Jake mempertahankan pandangannya pada Zerenity beberapa saat sebelum akhirnya mengembalikan fokus pada jalanan di depannya karena tak menyangka bahwa Zerenity pernah melihatnya sebelum inil.


"Ya, dia bernama Liora, anak dari sahabatku,"


---------------------------


Jake baru saja menyerahkan belanjaan Zerenity pada seorang karyawan. Manik legamnya merangkak membaca papan nama bertulis 'Robin's Cake Shop'.


Ya, benar. Ini hanyalah cake shop kecil namun Jake dapat melihat kenyamanan yang bisa membuat orang untuk singgah. Terlebih ketika Zerenity membawanya untuk masuk, dan mendapati dominasi desain modern minimalis pada bagian depan yang langsung di sambut oleh etalase kaca berisi deretan berbagai jenis pastry dan bakery dengan penerangan lampu gantung di atasnya.



Sementara pada bagian samping Jake dapat melihat meja panjang yang menempel pada kaca depan dengan kursi tinggi dari bahan kayu. Terdapat juga sofa panjang beserta meja kayu yang tampaknya terasa nyaman untuk di duduki, di tambah terdapat hiasan tanaman di belakangnya yang menempel pada dinding.



"Nice." puji Jake.


"Thanks. Kue apa yang ingin kau coba?"


Jake sedikit menunduk untuk mengamati satu persatu berbagai macam kue yang terlihat begitu lezat, kemudian ia melarikan pandangannya pada Zerenity.


"Aku lebih tertarik untuk mencoba rekomendasimu." Jake tersenyum.


"Begitu?" Zerenity tertawa kecil. Damn! Sangat manis. Vello, Vello. Jake tersadar dan segera cepat-cepat mengusir bayangan Vello dalam diri Zerenity.


"Bagaimana dengan lemon cream pie? Rasa asam dari lemon dan manis dari krim bisa sangat cocok di lidah."


"Oke."


Zerenity kembali tersenyum lembut dan segera memotong lemon cream pie untuk Jake tanpa meminta tolong pada karyawannya dan ia juga yang menyiapkan secangkir cappucino untuk pria tersebut.


Mata Jake tak lepas sedikitpun darinya ketika Jake sudah mengambil duduk di salah satu kursi. Pikiran Jake melayang mempertanyakan bagaimana bisa Scarlet dan Zerenity memiliki sifat yang begitu berbeda? Jake bahkan baru mengenal mereka dan telah melihat perbedaan yang begitu kentara di antara keduanya. Yeah, di satu sisi karena Jake terlalu berpengalaman dalam mengenal wanita membuat ia lebih mudah untuk membaca mereka. Namun, lebih dari itu bagaimana bisa ia justru melihat bayangan Vello pada Zerenity di tengah-tengah fisik mereka yang jelas-jelas berbeda?


Segala pikiran Jake menyingkir ketika Zerenity telah duduk di depannya dengan membawakan kedua pesanannya.


Jake melirik lemon cream pie di atas meja yang terlihat begitu lezat dengan topping whipcream, irisan lemon dan raspberry, Jake tak sabar untuk memotong dan mencicipinya.



Zerenity benar, kombinasi lemon dan krimnya memang sesuai. Ini sangat enak. Tanpa sadar Jake dengan cepat menghabiskan pie tersebut di tengah-tengah obrolan mereka.


Kini, Jake tahu bagaimana awal mula Zerenity mendirikan cake shop ini dan Jake tak bisa menampik terdapat rasa kagum oleh bakat yang wanita itu memiliki, Jake yakin Zerenity juga pandai memasak, ia menjadi penasaran untuk mencicipi masakan Zerenity. Apakah seenak masakan Vello?


"Kau tak perlu membayarnya nanti di kasir. Hari ini gratis untukmu karena telah mengantarku."


Jake terkekeh. "Kalau begitu apakah aku harus selalu mengantarmu agar dapat menikmati makan gratis di sini?"


Zerenity menjawab gurauan Jake dengan tawanya yang lagi-lagi begitu manis di mata Jake. Namun, Jake harus kehilangan tawa itu ketika wanita tersebut mengangkat panggilan dari ponselnya.


Jake dapat melihat binar bahagia di matanya ketika Zerenity menerima panggilan itu.


"Aku berada di cake shop .... Apakah kau tak lelah jika harus kemari? .... Baiklah."


"Kekasihmu?" tanya Jake ketika panggilan berakhir.


"Tidak, ia sahabatku." jawab Zerenity pahit yang dapat ditangkap dengan baik oleh Jake.


Tak berselang lama, pria yang Jake duga adalah si penelepon itu tiba, terlebih Jake kembali melihat binar bahagia di manik walnut Zerenity.


Pria itu mengecup pipi Zerenity dan mereka saling berkenalan. Dari perilakunya yang mengusap lengan Zerenity dan pandangannya yang intim, Jake merasa pria itu juga menyimpan perasaan pada Zerenity, lalu mengapa mereka masih menjadi sahabat?


"Jake apakah kau keberatan jika kami pergi lebih dulu? Aku dan Zeren masih memiliki acara lain."


"Ford," ujar Zerenity pelan namun masih mampu Jake dengar. Zerenity benar-benar tak enak hati oleh perkataan Fordrix.


Jake tersenyum melihatnya. "Tentu saja, silakan. Aku akan menghabiskan cappucinoku terlebih dulu sebelum pulang."


Zerenity memandang Jake penuh maaf dan Jake tersenyum padanya sebagai jawaban.


Mata Jake terus mengikuti langkah mereka menuju mobil, seiring dengan pikirannua yang kembali terjebak oleh tanya tentang Vello pada diri Zerenity. Ini benar-benar baru kali pertama terjadi. Bahkan setelah empat tahun Jake menggilai Vello. Apa Jake telah melewati batas gila sampai seperti ini? Tapi membiarkan hal langka ini terlewat begitu saja tanpa ia mengenal Zerenity lebih jauh, tentu tidaklah mungkin. Lagi pula Fordrix bukan kekasih Zerenity, bukan?


...To Be Continue...


CAST:


- Jake Ryver



- Zerenity Robinson



- Fordrix



- Miles



Thank you sudah baca sampai chapter ini.

__ADS_1


Sneak Peek chapter & info? IG @saltedcaramely_


__ADS_2