
sekarang gadis kecil itu menangis,satu lengannya ia julurkan meraih ke udara di atasnya
Hani tak tahan lagi, ia mengambil nafas dalam-dalam, menggeserkan tubuhnya perlahan
tenang aku ga boleh panik, aku harus cari bantuan
seorang pria tua bertubuh kurus penuh uban dengan rambut kumis dan janggut yang tampak menyatu tengah berdiri di depan sebuah gapura. Hani berseru ke arahnya
"tolong kek, ada anak kecil pingsan dijalan sana"
merekapun bergegas pergi ke jalan yang di tunjukkan hani
"disini tidak ada siapa-siapa, neng?"
Hani nanar tak percaya, ia menggosokkan kedua matanya lalu membuka matanya melihat sekali lagi ke jalan tempat gadis kecil tadi muntah darah
memang tak ada siapa-siapa disana, gadis kecil itu menghilang tanpa jejak begitu saja
aneh aku belum lama pergi dari sini, kemana perginya gadis itu? tidak mungkin kan kalau ia bangun sendiri? atau sudah ada orang lain yang membantunya saat aku pergi
" tapi tadi memang ada disini pak" ucap Hani , ia menoleh ke arah pak tua yang beberapa detik lalu berdiri disampingnya
pak tua itupun sudah tak ada,menghilang tanpa suara
kengerian kini menerkamnya,meski ia ingin berteriak suaranya tercekat berhenti di ujung lidahnya. Bahunya bergidik
lalu muncul suara-suara bersahutan, suara-suara itu berasal dari sosok-sosok tak kasat mata yang mengelililingi tubuh Hani
jumlahnya mungkin belasan
Hani ....Hani ....Hani..hani....hani ...hani...hani
suara suara itu memekikan namanya berulang-ulang
Hani menahan nafas, ia sadar ia tak punya sisa tenaga untuk lari
ia pasrah dengan apa yang akan menimpanya sekarang
ia menangis lalu terkulai lemas,tubuhnya rubuh jatuh ke aspal jalan. sebelum ia kehilangan kesadarannya Hani melihat sebelah tangan muncul,menangkis tangan-tangan yang ingin mengerumuninya. Sebelah tangan itu menuju ke arahnya lalu menutup kedua mata Hani dengan telapak tangannya yang pucat. telapak tangan yang dingin.
🌕🌕🌕🌕
rasa takutnya masih berlanjut, kesadarannya pergi ke dimensi lain. dirinya kini berada pada puing-puing anak tangga yang sudah hancur. Hani berupaya bangun dengan mengandalkan sikut tangan kanannya sebagai tumpuan, sikutnya bergesekan dengan sebuah pecahan puing yang runcing
"awww... sakit" ia mengaduh. ada perih yang ia rasakan saat melihat sikutnya menetaskan darah
dimana aku sekarang?
__ADS_1
apakah ini mimpi?
apa ini kelanjutan mimpi burukku waktu itu
" siapa kalian semua?" Hani berteriak
suara Hani dibalas dengan geraman rendah lalu berubah menjadi pekikan kemudian berubah menjadi lolongan putus asa
"aku tidak punya urusan dengan kalian " Hani menggertak si pemilik suara-suara menakutkan itu
lalu potongan tangan muncul dalam jumlah yang banyak, tangan-tangan terpotong yang dikorbankan
darah menetes dari ujung kuku-kuku yang tercabut dari tempatnya. tangan-tangan itu bergerak menuju ke arahnya, berusaha meraih leher Hani
otot-otot kaki Hani menegang, ujung-ujung jemari kakinya seperti terpaku di sana
lagi sebelah tangan itu muncul diantara belasan tangan-tangan yang ingin mencekik lehernya, tangan yang sama berwarna pucat
sebelah tangan itu menuju ke arahnya, melewati urat-urat di leher Hani lalu mendarat di pipi kiri Hani. mengelus lembut pipinya membuat gadis itu tersentak , kesadaran Hani kembali ke dunia sesungguhnya
ketika Hani membuka kelopak matanya, sebelah tangan itu masih menempel di pipi kirinya, tangan itu dirasanya menghangat
"kamu sudah bangun?" si pemilik tangan membuka percakapan, ada senyum di bibirnya
"kamu... dion?"
"dimana aku ?" tanya Hani, ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing lalu hidungnya mencium aroma daging memenuhi ruangan
aroma daging yang pernah ia makan di malam sebelumnya
"ditempatku" jawab Dion
Hani melihat ke sekelilingnya. ia sedang berbaring diatas tempat tidur
hani mengingat apa yang menimpanya sebelumnya
gadis kecil,pak tua, suara, tangan...
tangan itu
"aku lihat kamu pingsan di jalan, jadi aku bawa kamu ke kedaiku. ini kamarku , kedai baksoku ada di bawah. ayo diminum dulu minumannya"
Dion memberinya segelas air hangat
ada ragu di wajah Hani , ia menolak gelas itu dengan tangannya
"aku mau pulang,, terima kasih kamu udah menolong" Hani bangkit dari tempat tidur
__ADS_1
Hani menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu, melewati dapur. sebuah gorden berwarna merah sedikit terbuka
itu pasti pintunya , tebak Hani
tebakkannya benar di balik gorden itu adalah ruangan kedai bakso milik Dion
ruangan itu sepi, tak ada satupun pembeli yang ada di sana
kenapa? kenapa disini sepi? padahal didepan adalah jalan utama yang sering dilalui orang-orang dan kendaraan ?
"tunggu aku ikut" Dion memohon pada Hani
"ikut kemana?"
"ke rumahmu" gumam Dion santai
tanpa menunggu persetujuan Hani, Dion sudah berjalan beberapa langkah di depannya
"terus ini kedainya gimana? kalau ada yang beli gimana?
Hani melihat pintu kedai dibiarkan terbuka begitu saja
"enggak akan ada yang beli ko"
"kalau ada?"
"kalau ada ya tinggal bikin sendiri ini "
"terus bayarnya? kan kamu enggak ada?"
Dion membalik punggungnya , lalu mengacak-ngacak poni Hani
"kamu ga berubah ya,masih suka cerewet.. kalau ada pembeli aku gratisin, lagian aku gak butuh uang ini kok"
enggak butuh uang katanya
"ayok ahh, aku udah ga sabar main ke rumahmu" Dion menggenggam tangan Hani mengajaknya berjalan pergi
siapa sebenernya Dion? kenapa ia seperti mengenalku sebelum ini ?
"jangan ngelamun dong, aku kan bukan setan"
mendengar Dion bicara seperti tadi membuat Hani tertawa sendiri
benar juga, aku terlalu berburuk sangka pada orang lain, Dion itu manusia sama sepertiku buktinya telapak tangan Dion terasa hangat
🌕🌕🌕🌕
__ADS_1
Tanpa Hani ketahui, kedai bakso itu perlahan melenyap tertutupi bayangan hitam seiring langkah kaki si pemilik kedai yang bergerak menjauh