Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part 5


__ADS_3

"aku punya kenalan yang berkerja disana, bilang pada mereka bahwa kamu adalah temanku"


Hani tersenyum senang. ia mencermati nama seseorang dan alamat yang tertera pada kartu yang diberikan Dion.


"dari sini hanya setengah jam perjalanan menggunakan bus, nanti kamu turun di alun-alun kota ambil jalan memutar nanti sudah kelihatan ko gedung perkantorannya" Dion menjelaskan


" dengan apa aku harus berterima kasih Dion?"


"jadilah temanku"


"diterima dengan senang hati" jawab Hani tersenyum


🌕🌕🌕🌕


pov Dion


sudah waktunya berhenti berduka,,,


kami tidak boleh merasa bersalah


gadis-gadis itu memang dirancang untuk ditumbalkan...


darah-darah mereka aku butuhkan untuk mengisi hidup dalam duniaku


seperti gadis yang baru saja aku temui


ibuku sudah menandainya dalam mimpi buruknya di kereta


dan aku menghampirinya memakai topeng pahlawan


tiket sudah dilampirkan


gema kematian akan menghantuinya secepatnya


ia memiliki rambut bergelombang di atas bahu

__ADS_1


sepasang bola mata yang hitam dan bibir yang merona


kecantikannya seperti muncul dari rimba fantasiku yang terdalam


ia gadis cantik yang membuat adrenalinku bergejolak


mengingatkanku akan gadis yang pernah aku sukai dulu


aku bertanya-tanya dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada


apakah ia gadis yang sama?


apakah ia gadisku yang pergi saat aku hampir meregang nyawa....


lalu bertanya padaku apa harapanku?


tidakkah ia tahu bahwa harapan hanyalah emosi terpendam yang menyedihkan


meskipun begitu bertahun-tahun yang lalu mungkin aku sempat meyakininya dan aku ingin mengatakannya kencang-kencang saat ini di depan wajahnya bahwa aku ingin hidup sampai usia seratus tahun


🌕🌕🌕🌕


Setengah jam perjalanan ia turun di depan alun-alun. Fajar masih menahan setengah cahaya malamnya.  Hani berusaha mengingat percakapannya semalam dengan Dion


"Harusnya semalam aku minta nomer ponselnya" ia menggerutui dirinya. Tangan kananya mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya. Ujung jemarinya mengelus huruf-huruf yang timbul berwarna perak


Rian Hariwijaya, manager HRD


*hebat juga si Dion bisa punya kenalan manager Hrd lagi, kenapa bukan dia saja yang melamar ke sana ya? pikir Hani


ah sudahlah kenapa juga dipikirkan*


" Semangat, ini pasti jadi rezeki aku " Hani menyemangati  dirinya sendiri , ia melihat sekitar. Alun-alun masih nampak sepi. 


Ia memutuskan berjalan melihat keadaan di sekitarnya, mungkin akan ada orang yang bisa ditanyainya. Sejauh matanya memandang ia hanya merasakan kengerian. Pagar-pagar runcing berkarat mengelilingi bangunan ruko-ruko tua yang berwarna kusam termakan usia, sebagian dinding luarnya berlumut basah.  Angin pagi menerbangkan aroma samar-samar , membuat penciumannya menghirup sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.

__ADS_1


  Tiga meter di depannya terdapat sebuah kolam ikan yang terbuat dari pecahan batu-batu alam dengan patung gadis kecil bermata bolong di tengahnya. Hani mendekat ke arahnya. Sedikit melongokkan kepalanya . Tak ada apa-apa disana. Tak ada air dan tak ada ikan disana .


Seseorang dengan kedua kaki telanjang tanpa alas sedang mengamati Hani sejak tadi


Lalu bahunya dicengkram bukan dari depan melainkan dari samping. Ia menoleh.


Seorang gadis muda dengan gaun hitam transparan menatapnya dengan pandangan penuh dendam. Meski terlihat pucat wajah gadis muda itu penuh riasan.


"Cari siapa di sini?" Gadis itu bertanya,menghakimi Hani


" Ah,maaf bisa lepaskan tanganmu, ini terasa sakit"


" Cari siapa di sini?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya tanpa melepaskan cengkramannya di bahu Hani


" Aku cari alamat, aku mau melamar kerja "


Gadis muda itu menurunkan tangannya. Lalu berjalan menghadapi Hani dari depan.


Dengan satu tangan saja sudah membuat bahuku sakit,siapa gadis ini sebenarnya, kenapa berkeliaran dengan gaun transparan yang memperlihatkan pakaian dalamnya sendiri, Hani gemetar bertanya pada dirinya sendiri


Semakin gadis itu mendekat ke arahnya, ia semakin jelas menghirup sesuatu. Seperti sesuatu yang terbakar ,aroma daging yang hangus.


Hani bergidik. Ia ingin lari tapi kedua kakinya membeku tak bisa digerakkan. Gadis muda itu menatap lurus padanya, seakan ingin beradu pandang dengannya. Mau tak mau Hani melihat lebih jauh ke dalam mata gadis itu. Menyeramkan dan penuh dendam


Nafas Hani terhenti . Hening


Hani melangkah mundur dan meremas ujung kemejanya dengan tangan yang gemetaran lalu mengucapkan permohonan


"Kumohon,bisakah aku pergi sekarang "? Suara Hani berubah serak menahan ketakutan


Dan untuk pertama kalinya gadis misterius itu hampir terlihat tersenyum


" Namaku Zara , aku akan mengantarmu , tunjukkan alamatnya padaku"


Dengan nafas yang tercekat Hani menyodorkan kartu nama yang dipegangnya sejak tadi

__ADS_1


"Ikuti aku, aku tahu tempat ini"  Zara membalik badannya dan mulai berjalan beberapa langkah  di depan Hani yang tak berkutik


__ADS_2