
Hani tiba dikantor kembali pada pukul setengah tiga sore, hani tahu tinggal satu setengah jam lagi jam kantornya akan usai
ia berpikir keras alasan apa yang akan ia utarakan pada Merlyn nanti
"ya Hani darimana saja kau, kalian bersenang-senang sampai lupa waktu kerja" Maria menyambutnya di loby kantor
"yah ceritanya panjang" hani mendesah
"Sepanjang apa ceritamu itu? aku akan dengan senang hati mendengarkannya." Maria menggodanya
Hani menarik nafas panjang, ia mengeluarkan kalung id card dari saku kemejanya lalu menempelkannya pada dinding penghubung bermotif atmosfer agar dinding itu terbuka
"Dimana pak Dino sekarang Hani, harusnya kau kembali bersama kan?" Maria masih menanyainya
pintu dinding bergeser terbuka otomatis. Hani belum masuk melangkahkan kakinya , ia menoleh pada meja resepsionist dimana Maria sedang berdiri disana
"Dia sedang tidur di rumahku" jawab Hani
" ya ampun , jadi kalian melanjutkannya di tempat tidur, luar biasa " raut wajah Maria terlihat gembira bukan main saat mendengar penuturan sahabatnya itu
" Itu tidak seperti yang kau bayangkan Maria, nanti saja kujelaskan ya, aku harus kembali ke ruangan kerjaku sekarang"
Hani masuk dengan setengah berlari menuju tangga ke lantai empat, dimana Merlyn dan Nana sedang membicarakan keberadaanya sekarang.
sebelum dinding pintu itu tertutup kembali, Maria menjawabnya "tentu saja kau harus menceritakan cerita cintamu itu pada aku dan Dera "
Ia mengeluarkan ponsel dari laci meja kerjanya, melihat-lihat foto kebersamaan mereka bertiga (dirinya, Dera dan Hani)
"Aku tidak menyangka akan punya teman calon istri direktur hi hi hi" gumamnya senang
🌕🌕🌕🌕
__ADS_1
"Jangan papa... jangan dia" ucap Dion memohon
Tak ada jawaban dari Brian , istri di sampingnya mencoba membela keinginan putranya yang telah mati itu
"Sayang, anak kita sudah memohon, kita hanya perlu mencari gadis lain saja bukan?"
Brian melangkahkan kakinya mendekat pada sebuah dipan kayu, ia berjalan mengitari keempat sisinya. Di atas dipan itu terbujur kaku tubuh kecil Dion. Tubuh itu telah lama berhenti bernafas dan bergerak namun jiwa anaknya berhasil ia datangkan kembali di sisinya namun itu semua butuh pengorbanan nyawa manusia. Mereka sudah melakukan ritual tersebut selama belasan tahun tanpa diketahui orang lain. Dan sekarang anaknya tak ingin melakukannya lagi hanya demi seorang gadis yang baru ditemuinya.
Brian melepas kacamatanya lalu menaruhnya di samping pigura. Di dalam pigura itu terbingkai foto Hani yang seharusnya adalah korban tumbal berikutnya. Tidak hanya ada foto Hani saja, pada dinding yang berhadapan dengan lemari itu ada puluhan foto para gadis yang telah mati.
"Aku tidak bisa..... melakukannya Papa, aku mencintainya, aku mencintai Hani " tutur Dion dalam isakan tangisnya
Ia kini berlutut di hadapan kedua orangtuanya, sorot matanya mulai meredup tak lagi menyala seperti tadi, relung matanya kini hanya tampak berwarna hitam tak berdasar
Sang ibu menghampiri anak lelakinya itu, seakan ia mampu memahami perasaan cinta yang dirasakan anaknya sekarang
Brian tidak bergeming melihat putranya menangis, ia melanjutkan ritualnya, dengan kekuatan magisnya sebotol kaca transparan berisi darah manusia kini berada dalam genggamannya , ia membuka tutupnya lalu menuangkannya pada tubuh kecil Dion yang telah mati
Dion merasakannya, darah yang dituangkan papanya barusan kini mengalir dalam tubuh pucatnya. Kulitnya berangsur berubah menjadi terlihat lebih hidup
sebelum Brian meninggalkan ruangan itu, ia berhenti sebentar disamping anaknya yang masih berlutut menangis. Ia menjatuhkan botol kosong itu dari genggamannya di hadapan Dion
Pruk...bunyi botol itu menggelinding di lantai
"Semestinya kau sudah tahu , botol itu harus secepatnya kau isi kembali nak, atau aku sendiri yang akan melakukannya"
Seiring langkah kaki Brian meninggalkan ruangan rahasia itu, suara jeritan dan ratapan tangis Dion semakin keras terdengar. Gelombang suaranya memenuhi seisi rumahnya yang megah. Menyiratkan kesedihan yang mendalam
Brian menatap kebun bunga mawar yang terletak dibelakang rumah mereka dari balik kaca jendela. Meski ia belum kembali memakaikan kacamatanya, ia bisa melihat tangkai bunga-bunga mawar itu bergoyang-goyang
ratapan tangis putranya masih terdengar di telinganya, Ia tahu putranya kini sedang dikuasai air mata karena dimabukkan cinta pada seorang gadis bernama Hani yang beberapa minggu lalu menjadi karyawan di perusahaanya. Ia beberapa kali bertemu gadis itu saat anaknya yang satunya lagi berbuat keonaran di kantornya
__ADS_1
Gadis itu memang cantik tapi apa alasan yang membuat putranya jatuh hati kepadanya? dibandingkan gadis-gadis lain yang telah dulu mati , kecantikan yang dimiliki Hani tidak ada apa-apanya. Brian akan mencari tahunya segera
🌕🌕🌕🌕
Matahari sudah terbenam satu jam yang lalu dan Hani masih berkutat dengan pekerjaanya. Layar komputernya masih menyala, jari-jarinya masih melesat mengetik di papan keyboard , matanya fokus mengamati angka-angka yang harus disamakannya dengan yang tertera pada dokumen-dokumen yang bertumpuk di atas meja kerjanya
tadi siang saat Merlyn menanyainya, Hani menceritakan jujur apa yang telah terjadi dengan Dino, Hani meminta maaf berulangkali pada Merlyn karena ia benar-benar tak tahu jika adik atasannya itu phobia berat dengan daging
Merlyn menerima alasan keterlambatan Hani ke kantor namun Merlyn mengatakan yang membuat kepala Hani sampai saat ini terngiang-ngiang.
"Kamu tahu tidak Hani,.adikku itu bisa tidak akan makan sampai beberapa hari kedepan setiap kali phobianya muncul" ucap Merlyn serius
sialan ...sialan kalau dia tidak bisa makan berhari-hari dia bisa saja mati kan? dan aku bisa saja dituduh sebagai penyebabnya
aku harus apa sekarang.... harus apa .... decaknya kesal
layar komputer di depan matanya tiba-tiba menampilkan bayangan wajah Dino dengan pose menggodanya
apaaa....tidak mungkin... sialan kau... rasain ini Hani memukul-mukul layar komputer kerjanya dengan tangannya sendiri
"Hey Hani, kalau kau sudah tak sanggup mengerjakannya, matikan saja komputernya lalu pulang , aku juga akan pulang sebentar lagi" rupanya Nana memperhatikan tingkah Hani dari meja kerjanya. Nana membereskan dokumen-dokumen yang sebenarnya belum selesai ia input ke dalam komputernya tapi ia memutuskan akan melanjutkannya esok hari. Dengan ujung jarinya ia mengklik shutdown pada komputer kerjanya.
"Pulang saja, Merlyn juga sudah pulang, apa kau mau tidur dikantor lagi seperti waktu itu?"
"Engghh.. mba Nana boleh aku bertanya sesuatu"
"tanya saja, kalau bisa aku jawab akan aku jawab menurut pendapatku"
"........." Hani sejenak ragu
"Cepatlah tanyakan saja, jarang sekali aku sedang punya mood baik seperti sekarang ini"
__ADS_1
bersambung ......
mohon tinggalkan like n komentar ya jika kalian suka 😊