Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part23


__ADS_3

Merlyn masuk ke ruangannya lalu keluar satu menit kemudian sambil menenteng tas laptop di lengan kanannya, lampu di ruangannya dibiarkan menyala


"Tolong dimatikan lampu ruangan saya ya sekalian kalau kalian sudah selesai nanti" ucap Merlyn lalu melenggang keluar , menuruni anak tangga yang langsung menyambutnya di luar pintu ruangan


"Ya bu" jawab Hani


Hani memandangi tubuh belakang Merlyn dari sisi pintu ruangan kerjanya yang terbuka, mendengarkan langkah sepatu high heels hitamnya yang terdengar berirama. Memandangi sosok atasannya tersebut sampai menghilang di ujung anak tangga terakhir


cantik sekali wanita itu, desah Hani


Semakin hari Hani merasa semakin kagum dengan managernya , meski di awal-awal pertemuan mereka. Merlyn nampak misterius tetapi sikap Merlyn sangat baik terhadap stafnya,bahkan kepada Nana sekalipun, ia tak pernah memarahinya. Merlyn selalu tersenyum anggun setiap berbicara. Hani suka sekali memandangi wanita cantik bukan karena ia memiliki hasrat yang menyimpang. hanya saja bagi Hani kecantikan dan feminitas setiap wanita itu punya nilai pesona tersendiri . Membuat ia kadang-kadang sedikit iri dan tak percaya diri dengan kecantikan yang ia miliki


"Aku juga ingin terlihat cantik seperti bu Merlyn" ia tersenyum sendiri membayangkan pinggulnya dan lekukan tubuhnya berubah. Lengan dan pinggul yang molek seperti yang Merlyn miliki.


Yah, di saat dunia modern lebih menghargai perempuan kurus tinggi langsing berdada rata sebagai simbol kecantikan. Merlyn justru menonjol dengan kecantikan kuno yang dimilikinya. Dada dan pinggul yang menonjol serta lekukan pinggang yang sempurna seperti hasil memakai korset bertahun-tahun


Hani mendengar Nana mengumpat setelah managernya pergi,


"Sialan dia malah pulang " Nana menggebrak meja, ia mematikan komputernya , meraih tas selempang kulit miliknya, dan mengambil ponsel di dalamnya


"Lihat ini udah jam sembilan malam, aku juga mau pulang ke rumah sekarang" tanpa membereskan dokumen yang masih menumpuk di meja kerjanya, gadis berambut pendek itu melangkahkan kakinya bergegas keluar


"Hey, Hani mau lembur sampai jam berapa di sini? Di luar sebentar lagi hujan tuh, dengar ada suara petir" imbuh Nana


"Masih banyak data yang belum selesai mba Nana, mba Nana pulang duluan saja, nanti aku menyusul "


"Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu, kalau besok Bu Merlyn tanya-tanya, bilang kita berdua pulang bareng, oke? nanti aku bilang sama security di depan kalau kamu masih disini?"


"Hmmmmhhh....oke" sahut Hani mengiyakan


Ketika Nana sudah pergi, Hani berkosentrasi penuh untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. sesekali ia mendengar gemuruh petir bersahut-sahutan di luar sana


aku harus cepat-cepat, semoga hujan belum turun saat aku pulang nanti , ia bergumam

__ADS_1


🌕🌕🌕🌕


"Eheemm.... Boleh aku ganggu sebentar" Dion berdehem . Ia sudah ada disana berdiri tersenyum di ambang pintu memakai sweater rajutan yang rapi


Hani melirik ke arah pintu


"dion! Ko bisa ada disini !" Serunya


Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia jelas sedang mencari alasan


"Memangnya aku enggak boleh ada di kantor ini ya"


"Ahh, bukan begitu. Maksudku aku hanya terkejut saja"


"Kebetulan, aku lagi main-main disekitar sini, tadinya aku mau ketemu papa, tapi dia sudah pulang ke rumah rupanya"


"Masuklah Dion, duduk sini"


Hani menarik satu kursi disebelahnya , kursi yang tak ada pemiliknya,namun Dion tak mendudukinya , ia justru berdiri di sisi Hani


"Aku tidak bisa pulang ke rumah Han" Dion mengangkat bahunya


"Ah aku tahu kamu tidak berani pulang ke rumah pasti karena si brengsek gila Dino itu kan?"


Dion tertawa mendengar jawaban Hani yang terkesan blak-blakan , ia mengalihkan pembicaraan "mau kubuatkan minuman tidak? Di dapur ada banyak minuman sachet sekali seduh,kamu mau minum apa? Teh? Coklat panas? Kopi?"


"Aku malah enggak tahu kalau di dapur kantor , ada banyak minuman yang bisa diminum, " Hana mendelik memandang Dion


Dion menunduk mendekati Hani,ia menyentuh lembut kepala Hani lalu mengacak-ngacak rambut gadis yang mempesona itu dengan gemas


"Kamu saja yang tidak tahu, mau ikut ke dapur bersamaku ? "


"Baiklah aku ikut setelah aku selesaikan pekerjaanku " Hani menjawab

__ADS_1


Setengah jam kemudian ,mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan kantor tanpa mematikan lampu-lampunya. Sedangkan ruangan-ruangan yang lain tampak gelap karena semua karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Hani bergidik ngeri, ia membayangkan komputer yang menyala giba-tiba, keyboard yang berterbangan ke udara atau gorden yang menyibak dengan sendirinya seperti di film-film horor yang biasanya ia lihat. Dion melihat Hani yang terdiam seperti tahu apa yang gadis itu pikirkan.Lalu Dion menyalakan saklar-saklar lampu yang menempel didinding membuat semua ruangan menyala,terang benderang


"Tidak usah takut, semua lampu sudah kunyalakan" gumam Dion sambil bersiul, lalu melesat menuruni anak tangga


Hani mengikutinya dari belakang, ia melirik ke bawah kaki Dion. Melihat apa yang dikenakan Dion sekarang. Sepasang sandal tipis berbusa empuk berwarna cokelat . Alas sandal itu terlihat putih bersih tak kotor sama sekali.


Apa dia memakai sandal itu dari kedainya sampai ke sini? Kenapa sandalnya tidak kotor?


Dion berhenti, ia menatap Hani dibelakangnya ,ia tahu Hani sedang mengamati dirinya


"Kamu mau pakai sandal ini juga Han?"


Hahhh, darimana dia bisa tahu pikiranku? batin Hani terkejut


"Engghh... Enggak perlu" Hani merasa tenggorokannya mendadak tersumbat, ia perlu mencari alasan. Sebelum ia mencoba mengatakan sesuatu ,Dion malah menjulurkan tangannya,meraih tangannya dengan lembut. Lalu laki-laki itu tersenyum, sekilas Hani melihat ada kilatan di kedua mata Dion yang Hani sendiri tidak mengerti


Suara gemuruh petir di luar gedung kantornya makin terdengar jelas di telinga Hani, perlahan terdengar rintik air hujan yang jatuh.


"Sudah turun hujan di luar sana" kata Hani bergetar, ia melirik ke tangan Dion yang masih menempel di tangannya sendiri


"Ya, aku juga dengar"


"........" Hani diam tidak menggerakan mulutnya,entah kenapa tiba-tiba lidahnya terasa kelu tak bisa digerakkan, tangannya juga sedikit gemetar


"Kamu kedinginan karena hujan turun, Han?" Dion bertanya , ia melepaskan genggaman tangannya lalu membuka sweater rajutannya untuk selanjutnya dipakaikan kepada Hani


"Aku masih pakai kaos , sweaternya untuk kamu saja Han" Dion memakaikan sweaternya di tubuh Hani ,


Hani diam saja, pipinya sekarang berubah merona, gemetarnya pun mendadak hilang


perasaannya kini bercampur aduk, sebenarnya tadi Hani gemetar karena ia merasa takut melihat sesuatu berpijar dibalik mata lelaki itu

__ADS_1


Namun lelaki itu malah menganggap dirinya gemetar karena kedinginan


apa sih yang sudah aku pikirkan? bukankah ini memalukan sekali , ucap Hani pada dirinya sendiri


__ADS_2