Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part28


__ADS_3

Malam semakin dingin menusuk sampai ke tulang. Cuaca bertambah buruk. Angin kencang berembus membuat pohon-pohon berayun-ayun, Hujan semakin deras turun seperti semburan keran air yang patah. Bahkan di dalam mobil, Hani bisa mendengar bunyi air hujan yang jatuh pada kap mobil seperti pemain drum yang bermain menabuhkan drumnya.


Mereka berdua sudah setengah jam duduk di dalam mobil tanpa bersuara. Beberapa kali Hani berpikir apa sebaiknya ia nekat saja berlari menorobos derasnya air hujan daripada duduk berdampingan dengan Dino yang amarahnya gampang sekali meledak.


Dino melirik arlojinya, lalu berkata


"Cepat katakan dimana alamat rumahmu, akan kuantar kamu pulang"


Hani diam saja tak menjawab, ia memandang ke depan . Disana nampak berkabut dan gelap, jalanan lenggang sama sekali , tak ada kendaraan lain yang melintas atau berhenti selain mobil yang kini dinaikinya.


"Turunkan aku dimana saja, aku akan naik taksi" kata gadis itu, ia pelan-pelan melepaskan nafas.


"Kenapa kau keras kepala sekali? padahal aku sudah bersikap baik padamu "


Dasar sialan, .....bersikap baik katanya? seingatnya sejak pertemuan pertama mereka sampai beberapa menit yang lalu , laki-laki ini selalu bertingkah seperti pemburu yang mengamuk. yah meski ia meminjamkan kemejanya untukku, tetap saja itu tak bisa dikatakan perbuatan baik karena sebelumnya ia sudah melucuti pakaianku


"Baiklah nona manis, kau memaksaku untuk membawamu ke rumahku malam ini!" Kaki Dino mulai menginjak pedal gas mobilnya , mobil itu pun melaju kembali


Hani menghela nafasnya sialan sialan sialan batinnya berulang kali


Beberapa meter di depan mobil yang sedang melaju itu Dion berdiri di tengah jalan, tubuhnya nampak seperti siluet gelap diantara derasnya bulir-bulir hujan, satu tangannya memegangi payung yang menutupi sebagian wajahnya


Hani bisa melihatnya, meski jarak pandang mata terlihat kabur diselimuti kabut dan hujan deras, gadis itu tahu bahwa sosok yang sedang berdiri itu adalah Dion


"Hentikan mobilnya Dino, ada kakakmu didepan sana" Hani berusaha mengambil alih setir kemudi, membuat mobil itu oleng ke kanan dan ke kiri


"Aku tidak perduli" Ucap Dino tertawa , tawanya terdengar liar dan mengerikan


"Kamu jangan gila Dino, dia itu kakakmu, kau mau membunuhnya apa?"


Dion masih berdiri disana ,


kulit pucatnya basah terkena derasnya air hujan namun tatapannya tajam ke arah mobil yang melaju cepat ke arahnya seolah tak ada rasa takut jika mobil itu menabrak tubuhnya nanti


Hani memejamkan kedua matanya saat ujung kap mobil itu hampir menyentuh tubuh Dion, ia tak sanggup melihat pemandangan yang mengerikan ini di depan kedua matanya sendiri


ckiiitttt....... decit rem bersuara, mobil yang dikendarai Dino berhenti mendadak. Hani terengah-engah mengatur nafasnya

__ADS_1


syukurlah,mobil ini berhenti tapi bagaimana bisa? pikir Hani , ia melihat kaki Dino yang masih menginjak pedal gas mobil . Seperti ada kekuatan magic yang menahan laju mobil itu


"Berengsek, kubunuh kau sekarang setan" tangan Dino mencari-cari benda di dalam dashboard mobilnya, lalu bibirnya menyeringai tatkala tangannya meraih sebilah pisau . Mata pisau itu nampak berkilat-kilat , Dino menggenggamnya dengan kedua tangannya . Ia segera membuka pintu mobil, melangkah menuju Dion


Dari dalam mobil ,Hani terpaku menyaksikan kedua anak kembar itu bergulat. Dibawah derasnya hujan mereka saling adu pukul, sampai akhirnya salah satu dari mereka jatuh tersungkur ke tanah . Itu adalah Dion


dan adiknya yang berdiri tak jauh di sampingnya langsung menghujamkan pisau itu ke bahu kakaknya,


AAAAAAARGGGHHHH.... Dion berteriak kesakitan , bahkan suaranya terdengar jelas di kedua telinga Hani yang masih duduk terkejut di dalam mobil. Tangan gadis itu memilin-milin ujung bawah kemeja yang dipakainya, wajahnya berkeringat dan menangis sekarang


Dino mencabut pisau yang menancap di bahu kakaknya itu, lalu menghunuskannya lagi di lengan kakaknya. Senjata itu merobek kulit pucatnya . Darah memancar keluar dari tubuh kakaknya yang menggeliat kesakitan itu


Dino masih belum puas ia mencabut kembali senjatanya , ia mengacungkan pisau itu tinggi-tinggi ke udara malam dengan mulutnya yang tertawa penuh kesedihan. Meski enam bulan sudah berlalu ia masih merindukan Zara kekasihnya yang sudah direnggut kakaknya


Ketika pisau itu hendak beraksi lagi, Hani ada di bawah nya melindungi tubuh kakaknya. Gadis itu berlutut dibawah hujan dengan kedua tangan yang ditangkupkan memohon agar Dino berhenti menyakiti kakaknya lagi.


"Jangan Dino, kumohon, kasihanilah kakakmu.... hiks hiks hiks" pinta Hani sambil terisak-isak


Dengan berat hati Dino melempar jauh-jauh pisau itu, entah bagaimana pandangan mata gadis itu telah mampu menembus hatinya . Ia membungkukkan tubuhnya mendekat ke tubuh kakaknya yang kini tergeletak bersimbah darah, satu tangannya mencengkram kaos dan satu tangannya mengepal lalu meninju wajah kakaknya , setelah itu Dino pergi masuk mengendarai mobilnya , melaju pergi meninggalkan Hani dan Dion yang basah kuyup di jalanan yang sepi itu


🌕🌕🌕🌕


"Bertahanlah Dion, kuantar kamu ke rumah sakit " Hani menaruh lengan kiri laki-laki itu di lehernya. Kedua mata Dion masih terpejam, ia pingsan sejak pukulan terakhir yang dilayangkan adiknya tadi. Belum sampai tubuh mereka berdiri sempurna, mereka terpeleset jatuh karena licinnya air hujan.


Hani berusaha membangunkan Dion dengan menepuk-nepuk kedua pipi laki-laki itu,


"Bangunlah Dion, kumohon jangan mati disini" ucapnya terisak-isak sementara tubuhnya sendiri gemetar karena kedinginan


usahanya berhasil, kedua mata Dion yang semula terpejam kini perlahan terbuka. Tangan kanan Dion menjulur,mengusap air mata di pipi gadis itu lalu berkata


"Aku belum mati Han" katanya sambil menyunggingkan senyum , meski tubuhnya merasa kesakitan sekarang, ia tak ingin menunjukannya di hadapan gadis yang dicintainya itu


Hani memeluk Dion sambil terisak-isak, ia bersyukur laki-laki itu masih hidup


Perlahan hujan mulai mereda berganti gerimis, Hani membopong tubuh Dion berdiri dan berjalan bersama


"Kenapa tidak ada taksi atau kendaraan lain yang melintas sih" umpat gadis itu

__ADS_1


Jalanan benar-benar sepi sejak tadi. Tak ada siapapun yang bisa Hani mintai tolong


"Kita pergi ke rumah sakit ya,.lukamu perlu diobati Dion"


Dion menggeleng, " Tidak, antar aku kembali ke kedaiku saja Han" pinta laki-laki itu


"Tapi lukamu parah "


Dion kembali menggeleng "Tidak , aku tidak mau ke rumah sakit, aku bisa berjalan sendiri" Dion melepaskan lengannya di bahu Hani, ia berjalan tertatih-tatih sendirian


Hani tidak diam saja, ia kembali merangkul lengan laki-laki itu


" Baiklah aku antar ke kedai, biar aku membantumu"


🌕🌕🌕🌕


pov Dion


Saat pelupuk mata itu luruh


Kemudian menjadi hujan airmata yang menyedihkan


Meski aku pernah menjadi manusia


Kini aku telah kehilangan kata-kata


Kepingan kaca yang pecah, sayap burung yang patah ataukah denyut nadi yang tersayat


adakah ini karma atas kejahatanku?


Sementara darahku yang bercucuran keluar


Kau berlutut dengan airmata untuk ragaku


Meski kita bertiga pernah tertawa bersama


Sungguh, kini aku telah kehilangan kata-kata

__ADS_1


Ah ,sungguh meski langit biru tak mengubah apapun,aku ingin menemuimu di bawah warna langit yang hangat itu


__ADS_2