Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part32 (kejahatan yang tersembunyi)


__ADS_3

Dan ritual itu membutuhkan tumbal, ada harga yang harus dibayarkan untuk sebuah kehidupan baru yang dipaksakan yaitu pengorbanan darah manusia, para gadis utamanya. Dino tahu itu sejak kecil, tetapi ia hanya tahu saja tanpa pernah sekalipun ikut terlibat dalam ritual itu. Meski begitu jauh dilubuk hatinya ia menyadari bahwa ia juga secara tidak langsung telah menyimpan kejahatan yang tak termaafkan


Entah sudah berapa banyak darah para gadis tak berdosa itu menggenang di ruangan ini , di ruangan tempat Dino berdiri sekarang.


Saat itu terjadi,usianya baru menginjak sebelas tahun, ia dan kakaknya Merlyn mengintip di balik dinding menyaksikan ritual pertama yang dilakukan kedua orangtuanya.


Ia masih ingat malam itu adalah malam bulan purnama, orbit bulan menampakkan lingkaran yang sempurna. Tak ada yang menghalangi pijaran cahayanya yang terang di langit malam itu karena tak ada awan-awan yang menyelimutinya.


Memorinya merekam dengan sangat baik apa yang terjadi saat itu. Kedua orangtuanya berdiri saling berpegangan tangan, mereka mengitari benda-benda yang ada ditengahnya. Sebatang lilin yang dinyalakan, apinya terlihat berkedip-kedip terkena tiupan udara dan banyak kupasan kelopak bunga mawar merah yang masih segar berserakan di kaki kedua orangtuanya . Tak jauh dari kedua orangtuanya , nampak seorang gadis tergeletak kaku dengan setangkai mawar di dadanya, kedua mata gadis itu terpejam karena sejatinya nafas gadis itu sudah terhenti . Di samping tubuh gadis itu ada sebuah lukisan dengan potret Dion, kakaknya yang telah mati


Lalu terlihat bibir ibunya bergerak menggumamkan mantera dengan bahasa yang Dino tak paham, mantera itu disenandungkan seperti lagu ratapan yang menyedihkan, ada duka yang tersirat di pelupuk mata kedua orangtuanya, duka yang sama yang ia juga rasakan karena kehilangan kakaknya , Dion.


Ritual itu berhasil memanggil jiwa kakaknya, sosok Dion terdorong keluar dari lukisan itu, menembus permukaan kanvas. Kedua mata Dion masih terpejam, warna tubuhnya sama pucatnya saat ia hidup dulu . Dino kecil tersentak melihat keajaiban itu.


Saat papa dan mamanya mengulurkan tangan bersamaan lalu merangkul Dion . Dino menggerakan kakinya mundur beberapa langkah lalu lari secepatnya darisana saat ia melihat kedua mata kakaknya terbuka,menatap lurus ke arahnya. Ia berlari sejauh kakinya melangkah ,menembus kegelapan malam . Ia sadar meskipun umurnya masih sebelas tahun, ia tahu konsep hidup dan mati bagi manusia. Tapi apa yang dilihatnya beberapa saat lalu sungguh mengguncang jiwanya


🌕🌕🌕🌕


Kini setelah lima belas tahun berlalu, ritual pengorbanan itu masih dijalankan agar sosok Dion tetap hidup di samping keluarga mereka

__ADS_1


Dino tak bisa menghentikannya ,walaupun ia ingin . Ia pura-pura tak tahu dan tak mau tahu sampai akhirnya enam bulan yang lalu Zara ,kekasih yang dicintainya menghilang begitu saja tanpa jejak. Polisi mengatakan kemungkinan Zara melarikan diri bersama lelaki lain yang dicintainya karena tubuh Zara tak pernah ditemukan. Ia sekarang yakin jika Zara juga termasuk gadis yang ditumbalkan darahnya karena Hani mengatakan ia bertemu Zara di sebuah alun-alun dekat kantor. Semua orang juga tahu bahwa alun-alun itu tak pernah ada di peta kotanya. Alun-alun yang dimaksud hanya ada di dunia yang Dion tinggali.


Dino mempunyai firasat bahwa Hani adalah giliran berikutnya untuk ditumbalkan


Ada satu hal yang membuat Dino bertanya-tanya tentang sosok Hani, dan itu terjawab saat ia membuka kembali kamar miliknya dan kakaknya saat masih kecil di rumahnya. Didalam album foto berdebu yang tak pernah dilihatnya lagi selama belasan tahun itu , ada beberapa foto mereka bertiga saat kecil di rumah sakit.


" Apakah ini yang dinamakan Dejavu, berengsek?" Dino mendekatkan suaranya pada lukisan berpotret kakaknya seolah mengajak bicara


"Kau bilang dia milikmu yang berharga? aku tak akan membiarkanmu mengambil kehidupan manusia lagi, dengar setan, kau itu sudah mati lima belas tahun yang lalu" Dino masih berbicara, kini ia membuat sayatan di lukisan itu, tepat di pipi kakaknya.


HA HA HA HA HA HA , Dino tertawa , suaranya menggema di antara lukisan-lukisan


"aku dan gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama daripada kau yang hanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, kau tidak tahu kan , kalau aku diam-diam mengunjungi kamar perawatannya"


HA HA HA HA HA HA Dino kembali tertawa


namun tak ada suara balasan dari Dion, walaupun di dunia sana Dion mendengarkannya dengan seksama. Ia meringis memegangi pipinya yang terluka karena goresan yang ditusukkan adiknya


" Dan sekarang dia akan menghabiskan banyak waktu denganku dibandingkan kau,kakakku. Kau sudah mati sedangkan aku masih hidup, waktuku duapuluh empat jam penuh siang dan malam"

__ADS_1


"Bye-bye kakakku tersayang" Dino berbisik menyeringai , sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan


Seiring langkah kaki Dino , aliran darah mengalir keluar dari lukisan kakaknya yang tadi diajaknya bicara. Darah itu mengalir keluar dari pipi kakaknya, membasahi kertas kanvas itu


🌕🌕🌕🌕


Dino menemukan Hani saat jam istirahat makan siang di kantornya, Ia lebih memilih menyembunyikan sosoknya dibalik pintu kaca-kaca diluar sambil memperhatikan gadis itu mencium aroma teh di tangannya. Disampingnya ada Dera dan Maria yang menemani . Ia tahu ketiga mulut wanita itu sedang membicarakan dirinya dan kakaknya


Hani , aku bahagia sekali bisa bertemu lagi denganmu, aku tak pernah membayangkan ini sebelumnya, karena kupikir kau dan kakakku sudah mati , lima belas tahun yang lalu. apa kau lolos dari kebakaran rumah sakit itu Hani? kenapa kau bisa hidup sehat sampai sekarang? maaf aku tak bisa langsung mengenalimu, Hani


apa kau sudah melupakan diriku di masa lalu


apa kau juga tak mengenali diriku yang sekarang? Bathin Dino, matanya tak bisa berhenti memperhatikan Hani di dapur itu


yang Dino tahu, Hani dan Dion adalah pasien leukimia yang dirawat di rumah sakit kanker PERMATA HATI, kamar mereka bersebelahan itulah sebabnya mereka sering bertemu. Hani suka mengunjungi kamar kakaknya, dan Ia sering pergi ke kamar rawat inap Hani yang ada disamping kamar kakaknya. Mereka bertiga saling berbagi tawa dan harapan , kadang-kadang di saat kakaknya Dion tertidur selepas kemoterapy, Dino sering bermain berdua dengan Hani saja. Kesehatan mereka berdua sebenarnya membaik dari hari ke hari, pengobatan itu berhasil , angka harapan hidup untuk keduanya semakin panjang. tetapi hari naas itu terjadi, kebakaran rumah sakit menewaskan banyak pasien, dokter, dan perawat di rumah sakit itu termasuk kakaknya, Dion dan Hani gadis kecil yang baru beberapa minggu dikenalnya karena hampir setiap hari ia memgunjungi kakaknya di rumah sakit


Kebakaran itu meninggalkan duka di hati semua orang, khususnya di hati keluarga pasien dan dokter yang bertugas di sana.


Desas desus menyebutkan bahwa kebakaran di rumah sakit PERMATA HATI adalah unsur kesengajaan namun polisi tak dapat menemukan bukti dan pelaku yang bisa dimintai pertanggung jawaban di depan hukum.

__ADS_1


__ADS_2