
Hani mengangkat gelas teh manis ke hidungnya, membaui aroma gula yang bercampur dengan daun-daun teh yang telah dikeringkan.Aroma manis yang disukainya sejak kecil
sementara itu orang-orang di kantor membuat rumor bahwa dirinya menjalin hubungan dengan Dino, seorang direktur di kantor dimana mereka bekerja , hanya karena sebuah lukisan yang menggambarkan sosok dirinya tergantung di dinding dapur kantor ini. Mereka semua hanya tidak tahu saja bahwa bukan Dino lah yang membuatnya
"Bagaimana kamu bisa yakin bukan pak Dino yang membuatnya untukmu Hani, yah meski bukan dia sendiri yang membuat dengan tangannya tapi dia bisa membayar pelukis lain kan" tanya Dera
"Tentu saja aku tahu, karena aku kenal sendiri dengan pelukis yang melukis diriku, dia ada disampingku saat aku duduk tertidur disana" jawab Hani sambil mencicipi teh di tangannya
Teh hangat ini selain menghangatkan dirinya yang sedang demam juga membuat pernafasannya jauh lebih baik.
"Kalau diperhatikan sepertinya itu saat kamu menginap di kantor kan beberapa hari yang lalu kan?" gumam Maria ia mengingat selimut bermotif bunga mawar yang sempat ia pegang itu
Hani mengangguk tersenyum " iya kamu benar, itu adalah saat aku tertidur di dapur ini" jawabnya
"Siapa yang menemanimu waktu itu Hani?" selidik Dera
"iya, siapa Hani? beritahu kami?" Maria juga bertanya dengan antusias
Hani menghabiskan teh manis di gelasnya dalam satu tegukan lalu membisu , ingatannya tiba-tiba mengingat kejadian semalam tak lama setelah ia memukul belakang kepala Dino dengan teflon , dirinya mengobati luka saudara kembar itu berbarengan . Setelah Dino sadar dari pingsannya , Dino dan Dion duduk berjauhan di sofa ruang tamu rumah Hani. ia memberi sekantong es batu yang sudah dibungkus kain dan menempelkannya di kepala Dino . Dino tidak mengalami lecet karena hantaman itu sedangkan luka yang di dapat Dion lebih parah. Darah bercucuran dari hidung dan bibirnya yang robek. Ketika Hani mengusap darah itu dengan tisue ditangannya ,sesuatu yang ajaib dan janggal terjadi. Aliran darah itu terhenti lalu mengering dengan lebih cepat
Membuat Hani bertanya-tanya di hatinya
__ADS_1
Hani kembali ke kesadarannya yang kini sedang duduk bersama kedua temannya di dapur kantornya
"Dera, apa setiap manusia punya daya sembuhnya yang berbeda-beda?"
"ya itu tergantung dari kondisi fisik dan nutrisi di tubuhnya, reaksi tubuh setiap manusia itu berbeda contoh kecilnya ada orang yang mempunyai keloid di bekas jahitan paska operasi dan ada juga yang tidak punya . tapi kenapa bertanya begitu? kamu bahkan belum menjawab pertanyaan kami tadi soal pelukis yang kamu tahu itu" tutur Dera
"Hani, apa dia laki-laki yang mau kamu ceritakan saat rencana kita menginap di kost Dera waktu itu?" tanya Maria menyambung penuturan Dera
Hani mengangguk " Ya, baiklah aku akan ceritakan semuanya pada kalian tapi jaga rahasia ok"
Hani menjelaskan semuanya tentang Dion sejak perkenalan pertamanya di malam setelah mimpi buruk yang didapatnya di kereta, Hani juga bilang karena Dionlah ia bisa mendapatkan pekerjaan di sini .
"Laki-laki yang aku maksud bernama Dion, dia saudara kembar Dino, direktur kita yang gila itu"
"Tapi Hani, kenapa dia tidak ikut mengelola perusahaan ayahnya ini? Bu Merlyn dan Pak Dino saja punya jabatan bagus disini, memang sih perusahaan ini bukan perusahaan yang besar, perusahaan ini adalah perusahaan pribadi milik Pak Brian dan Bu Brian yang adalah orangtua mereka sendiri, harusnya semua anak mereka juga ikut bekerja kan? kenapa dia malah jadi jualan bakso ?"
pertanyaan Maria masuk akal, tapi sebenernya ada yang lebih menggangguku apa jangan-jangan sosok yang mirip dengan Pak Dino di lantai empat waktu itu adalah laki-laki yang bernama Dion? tapi kenapa dia keluar dari lukisan anak kecil itu,? aku belum punya bukti yang akurat, aku tidak akan menceritakan soal apa yang kulihat waktu itu kepada Hani untuk sementara ini , Dera bersuara di dalam hatinya
"kalau yang aku lihat selama ini, hubungan mereka sebagai saudara kembar terbilang sangat buruk, tapi wajar saja sih kalau lihat temprament Dino yang meledak-ledak, siapapun akan menyingkir meski mereka pernah hidup di rahim yang sama. mungkin Dion tidak tahan hidup berdekatan dengan saudara kembarnya . Ya kalian masih ingat waktu aku dibawa paksa ke dalam mobil si Dino gila itu kan? untung saja Dion menghadang mobil itu di perjalanan"
pandangan Dera dan Maria saling bertemu, mereka ingat kejadian malam itu, mereka menelpon Bu Merlyn perihal Dino yang menyeret Hani masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Tentu saja setelah mengetahui kabar itu Merlyn meminta Dion , adiknya yang satu lagi untuk membantu Hani
"aku jadi penasaran ingin bertemu saudara kembarnya Pak Dino, apa wajah mereka sangat mirip Hani?" tanya Maria
"ya wajah mereka mirip, tapi kalau sudah bertemu beberapa kali, kamu pasti tau kalau wajah mereka berbeda dan lagi sifat mereka sangat berbanding terbalik seperti surga dan neraka" tutur Hani
Maria dan Dera tertawa mendengar penuturan Hani
"kamu berlebihan Hani" Dera menggelengkan kepalanya tanda tak setuju
"kenapa surga dan neraka ? kenapa tidak langit dan bumi saja Hani?" tanya Maria menimpali
"karena langit dan bumi itu sama-sama indah. tapi aku tahu Dion dan Dino tidak seperti itu, saat aku berada berdampingan dengan salah satu dari mereka aku merasakan kenyaman dan perlindungan , tapi di sisi lain ketakutan dan kengerian itu seperti ada dihadapanku " jawab Hani, ia bangkit dari duduknya lalu mencuci gelas kotor miliknya ,menangkupkannya kembali di lemari kitchen set serba putih itu di dapur kantornya
🌕🌕🌕🌕
Ruangan lukisan di lantai empat tampak sunyi, tak ada siapapun disana sekarang kecuali Dino yang tengah berdiri menatap sebuah lukisan anak kecil laki-laki, yang adalah sosok Dion saat kecil. Dino ingat lukisan ini dibuat papa nya tak lama setelah peringatan kematian Dion. Saat itu papanya sangat terpukul dengan kepergian anak lelaki yang disayanginya itu. Dino menyadari sejak kecil papanya lebih condong sayang kepada Dion dibanding dirinya, meski mereka saudara kembar dengan kemiripan fisik yang nyaris mutlak , namun sifat,perangai,hoby dan bakat mereka berlainan. Dion kakaknya sejak kecil sudah terlihat bakat melukisnya yang juga dimiliki papa ,mama dan kakaknya Merlyn sedangkan dirinya tidak menyukai lukisan , menggambar saja ia tidak terlalu pintar.
Dion dengan sifat kalem dan lembutnya selalu disukai orang-orang .Sedangkan ia suka bersikap onar dan sedikit kasar, ia tak pernah mempermasalahkan itu karena ia juga sangat menyayangi kakaknya Dion, ia bahkan menangis tak henti-hentinya saat di pemakaman Dion waktu itu,lima belas tahun yang lalu .
Orang-orang hanya berfokus tentang kesedihan orangtua yang kehilangan putranya tetapi tak ada yang pernah bertanya padanya bagaimana perasaanya saat saudara kembar yang pernah berbagi makanan bersama sejak rahim itu telah tiada, seperti akar pohon yang dicerabut paksa dari tanah. seperti itulah rasa yang Dino rasakan
__ADS_1
lalu suatu hari papa dan mamanya pergi berkelana ke tempat yang dirahasiakan, saat kembali lagi ke rumah , Papa dan Mamanya mulai melakukan semacam ritual untuk menghidupkan Dion kembali . Ritual itu berhasil , kakaknya kembali hidup di sisi keluarga mereka namun tidak hidup di dunia yang sesungguhnya. Kakaknya berhasil hidup kembali dan tumbuh dewasa di dunia yang lain. Dunia itu diciptakan dan di rawat baik oleh keluarganya di gedung kantor ini.
Di balik ratusan lukisan-lukisan yang ada di lantai empat inilah , kakaknya berada .