
pov Dion
Apa ini satu-satunya cara aku melindungimu
jika pun aku menghilang akhirnya nanti
aku ingin kau tak terluka,kumohon....
Jangan menangis.....
Harapanku, kenanganku, kekasihku
aku berusaha menaikkan suaraku
lalu kusadari betapa sia-sianya perlawananku ini
Kumohon, jangan menangis....
Bertahanlah, bersabarlah
tak ada yang bisa kita perbuat untuk menghentikan hati yang telah kehilangan
hati itu sedang terluka oleh pecundang seperti diriku ini.
Gadisku, tidakkah kamu tahu
di dunia manapun kita bernafas
akhir cinta yang manis hanyalah ilusi
tetapi Hani, aku bersumpah dengan nafasku tak akan kubiarkan ragamu terluka
aku bertanya-tanya kembali
mungkinkah kita akan berada di jalan yang sama lagi? jalan yang dapat mempertemukan kita di titik dunia yang sama
meski aku tahu, akan ada kesedihan tak berujung setelahnya nanti
🌕🌕🌕🌕
"Zara " desah Hani tak percaya
apa yang dilihat Hani adalah benar, sosok wanita di dalam pigura yang kadung pecah itu memang Zara yang beberapa hari lalu di lihat Hani
"Minggir...." bentak Dino kepada Hani , ia mengambil pigura itu, lalu meletakkan kembali di atas meja kerjanya
"Dimana kamu melihat Zara? dimana? cepat katakan padaku sekarang" Dino bertanya, ia menarik paksa Hani berdiri
kurang ajar benar ini manusia,habis sudah kesabaranku amarah Hani mulai meluap
Hani diam tak menjawab , sekarang gantian sorot mata Hani yang murka,, lalu Hani membuka mulutnya
__ADS_1
"tidak akan kuberitahu pada orang berengsek seperti kamu , cuih...." Hani meludah tepat di wajah Dino
"cepat katakan padaku sekarang. cepat katakan, cepat katakan dimana Zara sekarang?" teriak Dino semakin frustasi
ia mendorong tubuh Hani merapat ke dinding, lalu tangannya memukul-mukul dinding di samping wajah Hani
Dino membungkuk sedikit,menempelkan keningnya sejajar dengan kening Hani. Helai-helai rambut Hani yang tergerai di keningnya mulai basah karena keringat tipis yang mengalir di kening Dino. pergelangan tangan kiri Hani dicengkeram kuat oleh Dino,membuat tulangnya terasa sakit. Dalam posisi sedekat ini Hani sulit bergerak, entah kenapa Hani bisa merasakan kesedihan laki-laki yang ada didepannya kini
Kedua mata Dino merah,basah. Ekspresi mata yang terluka ,lalu ia mulai menangis terisak. Air matanya jatuh justru ke pipi Hani, air matanya itu rasanya hangat
aku bisa melihat ia sedang dibanjiri kesedihan besar dari penderitaan yang ditanggungnya. laki-laki ini tak sejahat yang aku kira, suara hati Hani di dalam hatinya
Tubuh Dino merosot perlahan, ia melepas cengkraman jari-jemarinya di pergelangan tangan Hani , lalu berlutut di depan Hani
"Apa dia masih hidup? Dimana dia sekarang?" tanya Dino terisak, suaranya dipenuhi kerinduan yang putus asa
Hani memegang pergelangan lengan kirinya, meski sudah dilepaskan rasanya tetap meninggalkan denyutan dinadinya. tetapi kini Hani jadi merasa kasihan melihat Dino
Hani memejamkan keduamatanya,mengingat kejadian dimana dirinya dan Zara bertemu
"beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang gadis yang cantik, ia bertanya padaku seperti apa rasanya kehilangan orang yang sangat disayanginya,.... dia sangat cantik dengan liontin yang dikenakannya"
Dino mendongakan wajahnya ke atas menghadap Hani,mendengarkan Hani berbicara mengenai kekasihnya,Zara
"dimana kalian bertemu?" ada harapan dalam binar tatapan Dino
"didekat sini, aku tidak yakin tempatnya tapi itu seperti alun-alun atau taman"
pintu ruangan terbuka , seseorang membukanya dari luar
"Hani, kamu baik-baik saja?"
Hani menoleh,rupanya itu Dera. Dera terlihat begitu khawatir dengan keadaan Hani. Dera melihat seisi ruangan yang berantakan namun ia bersyukur lega karena Hani masih baik-baik saja
Ada hening beberapa saat diantara mereka bertiga sebelum akhirnya Dino berlari keluar
Hani ingin menyusul Dino, tetapi lengan Dera mencegahnya
"mau kemana kamu Hani, sudah gila apa?"
"Dera, aku merasa aku melihat sesuatu yang harus aku selesaikan,aku harus mengejarnya sekarang"
"jangan Hani, percayalah padaku, jangan pernah ikut campur dalam urusan siapapun di kantor ini,.kamu akan menyesalinya nanti"
🌕🌕🌕🌕
Cahaya bulan terlihat berwarna keperakan dibalik kaca-kaca kantor gedung tempat Hani bekerja . ia ,Merlyn dan mba nana masih berkutat dengan pekerjaannya di dalam ruangan mereka, sementara departemen yang lain sudah pulang sejak sore tadi
"kenapa sih berkas-berkas ini naiknya jam empat sore, lihat sudah jam berapa ini dan kita masih harus lembur tanpa tambahan uang lemburan" ucap Nana kesal , ia melirik Hani . namun Hani tak membalasnya
"hey, kamu enggak dengar ya Hani?"
__ADS_1
"aku dengar ko mba Nana, tapi memang data-data ini tak bisa keluar sebelum jam makan siang, aku sudah menelepon kepada departemen lain dibawah" jawab Hani tetap fokus dengan layar komputer didepannya, jari-jarinya melesat diantara tombol-tombol keyboard
"bisa gila aku kalau setiap hari lembur terus-terusan " Nana membanting pulpennya di atas meja kerjanya
Ponsel di dalam tas Hani bergetar, Hani meraihnya dan menempelkannya di samping telinganya, lalu sedikit merendahkan suaranya menjadi bisikan
"ada apa Dera,aku masih lembur?"
"kenapa belum juga pulang? apa mau menginap di kantor? ini sudah hampir jam setengah sembilan malam Hani?"
Hani melirik ke arah ruangan Merlyn. pintunya masih tertutup , namun lampu didalamnya masih bercahaya,masih ada aktivitas kantor yang belum selesai
"kamu ijin pulang duluan , ada yang mau aku bicarakan. penting nanti kamu menginap di kost ku ya?"
"mana mungkin aku pulang sedangkan managerku saja masih bekerja?, hal penting apa ? besok kan masih ada waktu,sudah yah aku gak bisa terima telpon lama-lama," Hani memutus sambungan ponselnya.
Hani sekali lagi melirik ke arah ruangan Merlyn, sahut-sahut terdengar suara musik yang keluar dari laptop milik managernya itu
salah satu peraturan di kantornya adalah karyawan dilarang menerima panggilan dari ponsel pribadi selama waktu bekerja kecuali saat istirahat makan siang
"mudah-mudahan enggak kedengaran bu Merlyn"
"kedengaran apa Hani? aku ada dibelakangmu" suara Bu Merlyn menyahut ucapannya , Hani memutar punggungnya sedikit
dan disana ada Merlyn berdiri dibelakangnya tiba-tiba, seperti Hantu
hahh ,,, sejak kapan dia keluar dari ruangannya ? mana mungkin aku tak mendengar pintu ruangannya terbuka?
Merlyn tersenyum, kedua tangannya membawa bingkisan plastik putih berisi makanan
"ayo semuanya, kita makan malam dulu" ajak Merlyn kepada Hani dan Nana
"maaf bu Merlyn tadi saya dapat telepon dari teman"
"ya sudah, santai saja. ayok lihatlah aku beliin kalian nasi goreng ,kamu suka yang pedas atau tidak Hani?"
Nana mendorong kebelakang kursi futuranya, lalu berjalan menghampiri Merlyn, ia mengambil satu bungkusan nasi goreng lalu membuka kertasnya
nasi goreng itu masih hangat, aroma campuran kecap,nasi dan rempah-rempah menghambur keluar,menyeruak ke hidung mereka bertiga
"hmmmhhh.... enak kayaknya nih " Nana menyendokkan suapan pertama di mulutnya
Hani menerima satu bungkus nasi goreng dari Merlyn, "terima kasih ya bu" ucapnya sedikit sungkan
ia melirik Nana yang terlihat lahap makan begitu saja tanpa basa-basi ucapan terimakasih kepada Managernya yang sudah membelikan
"punya kamu enggak pedes, ya Hani... yang pedas sudah diambil Nana"
Hani mengangguk, menandakan itu tak masalah untuknya
"baiklah saya pulang duluan ya Hani,nana ,,, kalau tidak selesai hari ini juga tidak masalah besok masih bisa dilanjutkan"
__ADS_1