
Mereka tiba di dapur, Dion menarik laci kitchen set paling bawah dengan satu tangannya, di dalamnya ada beberapa bungkus minuman sachet sekali seduh, satu tangannya lainnya membuka laci di bagian atas, didalamnya berjejer gelas-gelas kaca dan beberapa mangkuk kecil melamin yang bertumpuk rapi.
Dion mengambil satu gelas di tangannya lalu ia menoleh ke belakang. Ke sisi meja makan dapur ruangan kantor dimana Hani duduk. Gadis itu terlihat letih dan sedikit mengantuk,beberapa kali ia menutup mulutnya saat menguap
"Mau minum apa Han? " Tanya Dion
"Apa saja, yang penting hangat, hoamm....." Jawab Hani menggeleng lambat-lambat sambil menguap .
Kini ia bersandar ke arah depan ,menelungkupkan tubuhnya ke permukaan meja dihadapannya, kedua tangannya ia jadikan bantalan untuk kepalanya sendiri
"Baiklah,ku buatkan teh manis hangat ya" ucap Dion. Ia mengambil satu kantong kertas teh kemasan lalu menarik talinya.
Dion menuangkan air panas dari teko listrik ke sebuah gelas di depannya, dengan hati-hati satu tangannya mencelupkan sebuah kantong teh kemasan, lalu menambahkan dua sendok teh gula pasir, kemudian mengaduknya dengan sendok kecil. Air di dalam gelas langsung berubah warna menjadi pekat , pertanda serbuk\-serbuk daun teh sudah menyatu dengan sempurna . Aroma teh hangat yang manis langsung menyeruak memenuhi ruangan . Sambil terus mengaduk sesekali Dion melirik ke arah jendela di sampingnya, jendela itu tingginya seukuran dinding di dapur ini. jendela itu dibiarkan sengaja tak dipasangkan linen gorden supaya para karyawan dikantor bisa melihat jelas apa yang ada di balik jendela itu saat makan siang bersama.
Di balik jendela itu ada sebuah kolam ikan kecil dengan air mancur buatan di tengah-tengahnya.
Dion ingat betul saat kecil hampir setiap hari mamanya suka mengajak dia dan adik kembarnya ke kantor ini untuk mengantarkan bekal makanan untuk papanya yang sedang bekerja di lantai atas. Tidak seperti Dino yang selalu minta gendong mamanya, Dion kecil lebih suka menunggu di tepi kolam ikan itu. Mengamati ekor yang bergerak-gerak dari setiap ikan yang berenang.
"Rasanya aku sangat lelah,Dion... rasanya aku kehilangan harapanku, sekarang aku merasa aku kehilangan semangat hidup, aku ingin pergi dari dunia ini menyusul semua keluargaku, aku rindu sekali pada mereka" ucap Hani sendu
Sesuatu di dalam perkataaan Hani barusan membuat Dion tertegun, ia masih ingat pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tak bertemu. Saat itu Hani dengan semangatnya mengatakan ia memiliki harapan hidup yang sudah direncanakan . Tetapi apa yang didengarnya barusan seakan-akan Hani ingin sekali mengakhiri hidupnya.sendiri Ada apa dengan Hani sekarang?
Dion berhenti mengaduk lalu berbalik untuk menghadap Hani , satu tangannya memegang kuping gelas berisi teh manis hangat yang sudah siap, namun gadis itu malah tertidur .
Hujan diluar sana makin terdengar deras turun, di selingi suara petir yang bersahut-sahutan. Malam kian larut dan makin dingin .
Dion berjalan mendekati Hani dan duduk di sampingnya, ia menaruh gelas berisi teh di sisi meja . Ia meletakkan satu sikut tangannya di meja menatap Hani dengan dagu bertumpu pada tangan , laki-laki itu tertegun memandangi wajah Hani yang sudah terlelap dalam buaian mimpi. Ia tersenyum, senyumnya begitu sedih, ia mulai menangis .
__ADS_1
Jari-jarinya terulur, mengelus lembut bibir Hani yang lemas dengan ujung telunjuk tangannya yang pucat. Lalu telunjuk itu bergerak ke atas menepiskan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian kedua mata gadis itu
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, apa kau ingat tentang kita Hani? Apa sekarang kau sudah melupakanku? " Bisik Dion , air mata itu makin deras mengalir di pipinya yang pucat
🌕🌕🌕🌕
FLASHBACK KE MASA KECIL
Hani kecil bertemu dengan Dion kecil pertama kalinya ketika merayakan pesta pergantian tahun baru di sebuah rumah sakit dimana mereka berdua dirawat. Sebuah bangsal perawatan anak didekorasi khusus dengan aneka pita berwarna-warni dan balon-balon yang berhamburan di lantai . Para perawat dan para dokterlah yang menyulap ruangan itu menjadi bernuansa ceria khusus untuk pasien anak-anak yang menderita leukimia
Hani kecil dan Dion kecil duduk bersisian di kursi masing-masing dengan tiang infus disamping lengan mereka. Seorang perawat berdiri di setiap barisan anak-anak itu,mengawasi jikalau sewaktu-waktu ada pasien anak yang pingsan atau meninggal mendadak.
Di depan mereka, di atas sebuah panggung kecil , seorang dokter lelaki paruh baya mengajak bernyanyi dengan gitar ukulele di lengannya, memainkan nada-nada riang, melupakan sejenak penyakit yang menggerogoti tubuh anak-anak kecil di ruangan itu. Berpura-pura bahwa mereka semua memiliki harapan untuk hidup
"Hey, botak kenapa tidak ikut menyanyi?" tanya Hani kecil melirik Dion kecil yang diam saja sejak tadi tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa
Dion kecil menoleh dengan lambat, mengangkat sebelah alis matanya " Siapa kamu?"
Seorang perawat yang berdiri dibelakang mereka tersenyum dengan perkataan gadis kecil ini, ia tahu gadis kecil ini tengah meledek sekaligus menggoda seseorang disampingnya
" Aku pasien acute lymphocytic leukimia" ucap Dion kecil dengan jutek tanpa menyebutkan namanya
"oh, kalau aku, hmmmhhh ibuku bilang aku terkena leukimia jenis AML" Balas Hani kecil tersenyum
"Ayo kita main tebak-tebakkan, siapa yang akan mati duluan di antara kita berdua?" Hani kecil menyeringai menatap Dion kecil
"Mungkin....."
Belum sempat Dion kecil mengucapkan perkataannya, perawat di belakang mereka menghampiri , mengelus lembut pundak anak-anak kecil itu dengan kedua tangannya
lalu berkata
__ADS_1
"Tidak akan ada yang meninggal, kalian berdua akan sembuh secepatnya, percaya padaku"
🌕🌕🌕🌕
FLASHBACK OFF
Dion menyelimuti tubuh Hani dengan selimut merah bermotif bunga mawar miliknya, dan menaruh sebuah bantal kecil dibawah kepala Hani yang kini tertidur
Setelah Dion berjaga di sisi Hani semalaman, tubuhnya berangsur-angsur menghilang seiring cahaya fajar menyinari gedung kantor itu melalui jendela .
"Aku bahagia bisa bertemu kembali dengan mu Hani" lirih Dion
🌕🌕🌕🌕
Merlyn hampir menyentuh selimut itu ketika tangan seseorang menahannya
"Jangan, biar saja seperti itu" kata pria paruh baya itu , kacamatanya nampak berkilat karena cahaya pagi menyorotnya
"Papa, bukankah ini selimut milik Dion?" Tanya Merlyn kepada papanya
"Ya, selimut dan bantal ini milik adikmu, rupanya dia sedang jatuh cinta dengan gadis ini" Pria itu menyeringai, menampilkan mimik wajah yang tak bisa di tebak
Merlyn balas tersenyum, menatap Hani yang masih terlelap dalam tidurnya.
" Apa dia korban berikutnya , papa?"
"Ya, kamu harus pastikan adikmu Dino tidak mengganggu ritual kita," ucap pria itu lalu pergi meninggalkan ruangan dapur
" baik papa" jawab Merlyn patuh
Dan meski percakapan mereka membicarakan nyawa Hani, gadis itu tak mendengarnya sama sekali, ia masih terlelap dalam mimpi panjangnya
__ADS_1