Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part34


__ADS_3

Dengan dibantu seorang pegawai restaurant Hani menuntun Dino sampai masuk ke dalam mobil


"Yakin mau mengemudi mobil sendiri? kita naik taksi saja ya ?"


Dino menggelengkan kepalanya


"jangan ragukan kemampuanku, aku ini seorang laki-laki tangguh tahu" sahut Dino percaya diri


mendengar itu membuat Hani ingin tertawa sekencang-kencangnya sekarang namun ia urungkan, ia hanya menampilkan senyum menggelitik di ujung bibirnya


"kau tak percaya Hani?"


"ya ya aku percaya" Hani menyudahi pembicaraan itu


Dino menarik telapan tangan Hani dengan lembut lalu menggenggamnya, seakan minta dimaklumi laki-laki itu tak ingin menerima protes dari gadis disampingnya


"akan kubuktikan ucapanku" tutur laki-laki itu


ia mulai menginjak pedal gas mobilnya,mobil pun melaju perlahan


rona wajah kedua manusia itu berseri, ketika genggaman tangan mereka saling membaur merasakan kehangatan kulit masing-masing. Rasa rindu ketika dua jiwa mendekat, rasa malu ketika kedua pasang mata mereka bertemu , Hani membuang wajahnya menghadap kaca jendela mobilnya, melihat mobil-mobil lain yang melaju


sialan, aku tidak boleh terlihat jinak seperti ini dihadapannya, tapi entah kenapa saat ini perasaan yang aneh tiba-tiba melonjak dari dadaku... gumam Hani di dalam hatinya


sedangkan Dino ia sama sekali tak terlihat kesulitan menyetir dengan satu tangan, pandangannya sesekali menoleh pada Hani yang duduk disampingnya. Tangannya masih menggenggam tangan gadis itu


rona yang kuhafal dulu dan dan tak kusangka akan kembali lagi saat ini, setelah pertemuan kembali kami yang selalu menegangkan


aku ingin menyusun kalimat yang bisa merangkum semua rasa penasaranku tentang dirinya....


aku ingin dia tahu tentang aku yang dulu pernah di kenalnya


tapi bagaimana caranya.....


tak ada yang bisa Dino lakukan saat ini, yang ia tahu nyawa gadis itu sedang bahaya karena kakaknya mengincarnya. Ia tidak mungkin blak-blak an mengatakan bahwa sosok kakaknya hanyalah semu semata, karena itu akan menimbulkan masalah baru bagi keluarganya nanti


"Aku tak akan kembali ke kantor, aku butuh istirahat, pakaianku juga basah perlu diganti"


"Ya , kau benar" timpal Hani


"Aku akan istirahat di rumahmu, manis"


"Ya, ide yang bagus" jawab Hani lagi sedikit tak fokus, ketika akhirnya ia menyadarinya ia protes kepada Dino " kenapa harus dirumahku, kau kan punya rumah sendiri"


"Rumahku terlalu besar dan mewah, aku perlu istirahat beberapa jam di rumah kecilmu itu"


"Coba saja, aku tidak akan membukakan pintu rumahku padamu, kunci rumahnya ada padaku"


Dino tersenyum melihat ekspresi Hani yang menurutnya menggemaskan, di mata lelaki itu sosok Hani telah berubah jauh . Tidak seperti dulu Hani yang sekarang terlihat lebih galak dan pemberani, ia juga bisa menangkap pancaran semangat akan hidup yang berkobar di mata gadis itu.


Mereka berdua sudah tiba di depan pintu rumah Hani


"Coba saja kau buka, kunci rumahku masih ada di dalam tas di kantor, direktur muda yang tampan" ejek Hani


"Aku tidak butuh itu,manis....." Dino mengeluarkan sebuah kunci yang bentuknya sama persis dengan kunci rumah milik Hani


Kunci itu dimasukan kedalam lubang pintu, ia memutar kuncinya dua kali ke arah kiri

__ADS_1


ceklek ceklek


pintu pun terbuka , Dino mencabut kunci itu lalu memutar-mutarnya dengan jari telunjuknya di hadapan Hani "Lihat kan" ucapnya dengan senyum kemenangan


"bagaimana bisa? kau ? " Hani memicingkan matanya mengarah ke wajah Dino


"Ini hal yang kecil dan mudah. Jangan salah paham aku melakukan ini demi keamananmu Hani, percayalah"


demi keamananku katanya? kenapa dia terus saja bertindak menyebalkan dan dengan entengnya demi keamananku? sialan


"kenapa kau terus saja berkata demi keamananku, demi keamananku, memangnya aku ini kenapa, jelaskan alasannya ?"


"Belum saatnya manis, aku tak bisa menceritakannya sekarang"


"Baiklah karena aku tak menemukan alasan yang tepat, setelah ini aku akan pergi melaporkan tindakan menyebalkanmu ini ke kantor polisi, karena sudah tanpa izin menduplikat kunci rumah milik orang lain"


"oh ayolah, jujurlah Dino " tanya Hani lagi dengan sedikit memaksa , ia hanya ingin tahu motif Dino saja , ia tak ada niat sedikitpun untuk melangkahkan kakinya ke kantor polisi


" hmmmmhhh.... bagaimana menjelaskannya padamu ya! kalau aku jujur kau pasti tak akan percaya"


" Aku akan coba percaya ucapanmu "


"Baiklah kalau kau memaksa, begini Hani, apa kau tidak sadar , ada seorang penguntit mengikutimu"


"oh ya! tapi sampai detik ini aku masih baik-baik saja! dimana kau melihat orang itu menguntitku ? lelaki atau perempuan?"


"lelaki"


"seperti apa ciri-cirinya?"


"hey, bukankah semua ciri-ciri itu ada padamu, pak direktur muda yang tampan!" tebak Hani


sialan,aku lupa kalau wajah kakakku itu mirip denganku, bathin Dino


" Hebat sekali, si penguntit yang dicurigai itu akhirnya membuka kedoknya sendiri" seru Hani sambil membuat gerakan tepuk tangan yang ringan


" Hani,.itu bukan aku"


"Mau mengelak lagi Hah?" Hani bersiap akan melayangkan tamparannya di pipi lelaki itu


ia benar-benar sudah geram dan ini kesempatan yang bagus sebagai alasan untuk menamparnya


ia menyesal kenapa di dalam mobil tadi sempat-sempatnya ia merasakan jantungnya berdegup kencang. yah pasti ada yang salah dengan jantungku! gumam Hani


sebelum tangan itu mendarat di pipi Dino, Dino tiba-tiba bersin dengan kuat dan berulang kali , kedua tangannya ia lingkarkan di bahunya sendiri lalu dengan memelas ia bertanya pada gadis di depannya itu


" Kau punya paracetamol Hani, sepertinya aku terserang demam, hatchi ... hatchi.."


Hani memandang lelaki itu geram, baru saja ia akan menamparnya namun dewi keberuntungan kini dipihak Dino


"kau menyebalkan, brengsek" umpat Hani ia masuk ke dalam kamarnya, mengambil pakaian miliknya dari lemarinya


"ganti pakaianmu, taruh pakaian kotor nya di mesin cuci" Hani memberi sepasang kaos dan celana pendek berwarna oranye gelap bermotif kucing kepada Dino


Dino mendeliknya tak percaya


"tidak ada pakaian laki-laki di rumahku jika itu maksud tatapanmu" Hani mendengus sebal

__ADS_1


"yah, tidak buruk juga! aku akan coba memakainya agar kau senang manis, dimana obat paracetamolnya?"


"ambil sendiri sana di kulkas, aku mau kembali ke kantor"


"siapa yang menyuruhmu kembali ke sana, kau tidak lihat, bossmu saja ada di rumahmu sekarang"


"kau bukan bossku, bossku adalah bu Merlyn yang otaknya sangat waras tidak seperti adiknya"


Hani keluar dengan membanting pintu rumahnya,


"Tunggu, Hani..." Dino mencegat lengan Hani dari arah belakang


"ada apa lagi... lepaskan tanganmu"


Dino melepaskan tangannya, "Berhati-hatilah Hani.... Merlyn tidak sebaik yang kau bayangkan"


Hani acuh tak perduli seolah tak ingin mendengar lagi ucapan dari mulut Dino, ia bahkan menunjukan pada lelaki itu, bagaimana kuatnya ia menendang tiang besi pos surat di pekarangan rumahnya


Dino menyandarkan bahunya di ambang pintu rumah Hani dengan tersenyum ,melihat gadis itu pergi


"Hani, kau sudah banyak berubah....." ucapnya


🌕🌕🌕🌕


Hari mulai sore,


Brian dan istrinya melangkahkan kedua kaki mereka kedalam sebuah ruangan minim penerangan, ruangan rahasia mereka di rumah mereka sendiri.Dinding ruangan itu terlihat suram karena lembab dan berlumut


"Mengapa sampai sekarang gadis itu masih hidup, sayang?" Sang istri bertanya pada suami yang berdiri disampingnya


angin mulai berembus menyelimuti rumah mereka, Rumah yang besar dengan pekarangan yang luas. Pintu-pintu di rumah itu terbuka secara otomatis seiring bayangan hitam memasuki rumah itu


"Apa anak kita menyukai gadis itu? anak kita sudah tumbuh dewasa, sayang"


"Kita akan mendengar alasannya, sebentar lagi " jawab Brian tanpa menolehkan wajahnya , tatapannya masih tajam menatap sebingkai pigura


Bayangan hitam muncul dibelakang mereka, anak kedua mereka telah datang rupanya


"selamat datang anakku, Dion " sang ibu menyambut kedatangan anaknya


"jangan menyentuhnya papa" pinta Dion


bayangan hitam itu perlahan membentuk sosok Dion yang pucat, kedua matanya menyala merah Semburan cahaya senja dari jendela menyorot pundak Dion


"dia sudah ditandai untuk ditumbalkan"


"tidak papa, jangan Hani,......" ada jeda dalam ucapannya " biarkan Hani hidup "


"Dan kau akan mati akhirnya"


Dion menundukkan kepalanya,matanya masih menyala merah


"Jangan papa, jangan dia....." ucapnya pelan memohon


terima kasih untuk semua pembaca


mohon berikan like dan komentar jika suka 😊

__ADS_1


__ADS_2