Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part24


__ADS_3

Beberapa saat mereka terdiam saling bertukar pandang. Seolah tahu apa yang dipikirkan Hani, Dion merengkuh tubuh Hani dari samping lalu membisikkan kalimat yang mengubah hubungan mereka berdua mulai detik itu juga


"Jangan takut,ada aku di sisimu" Dion berbisik lembut di telinga Hani, membuat pipi gadis itu sekarang kentara bertambah merah bahkan rasanya pipinya bertambah panas.


Hani merasa detak jantungnya melompat seketika ke luar dari rongga dadanya, ia merasa aneh dengan apa yang di rasakannya saat ini


Mungkinkah ia sedang jatuh cinta pada sosok laki-laki yang ada di sampingnya kini?


Lalu Dion menggenggam tangan Hani kembali, genggamannya kali ini lebih erat dari sebelumnya, seperti tak ingin melepaskan Hani kembali


🌕🌕🌕🌕


pov Dion


Beberapa tahun sudah terlampaui dan aku masih selalu saja mencarimu,wahai kenanganku


Bila saja kau tatapkan matamu lebih jauh ke dalam mataku


Kau akan menemukan, banyaknya rasa cinta yang ingin ku berikan padamu


Aku ingin kamu tersenyum untukku di malam yang indah ini


Dibalik jendela di luar sana


Lihatlah....jalanan sudah dibasahi air hujan yang jatuh


Kemarilah ,ku genggam erat tanganmu


Kemarilah, akan ku bawa kau pergi sejenak ke masa lalu


Ke masa sesaat itu


Dimana kaki kita masih sama-sama berjinjit untuk mengintip apa yang orang lain lakukan di balik jendela itu


Apakah masa itu masih berharga di matamu, teman kecilku?


Aku bertanya-tanya apakah kau mengingat baik kenangan kita yang tidak bisa ku pendam lagi


Tidak perduli telah lama waktu telah berlalu


Ku ingin kau tetap tersenyum untukku


Tidak perduli jika akhirnya nanti aku menghilang untuk selamanya


Kini di sisimu,di depan matamu


Maukah kau menghitung air mataku yang mengalir ini?


🌕🌕🌕🌕


Mereka berdua tiba di lantai bawah, mereka masih berjalan bergandengan tangan. Dion tak mau melepaskan genggaman tangannya dari Hani.

__ADS_1


Hani melirik ke arah Dion,lirikan permohonan


"Lepaskan tanganmu, aku malu"


"Tidak ada yang melihat kita" Tolak Dion, senyumnya bertambah lebar , laki-laki itu berada di atas angin


"Hey, dapurnya ada di sebelah sana, kita mau kemana?"


Dion tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum menyeringai. Sorot matanya mencerminkan kegagahan yang tersembunyi selama ini.


Dinding kayu bermotif atmosfer jupiter itu bergeser,terbuka saat Dion mengusap sebuah tombol berwarna kelabu di pojokan dinding. Mereka melangkah bersama menuju loby kantor yang tampak gelap. Hani melirik keluar ke arah jendela-jendela , di luar sana hujan turun semakin deras dan sesekali kilatan petir menggelegar bercahaya seperti membelah jendela-jendela itu. Dion menekan ujung jarinya pada saklar lampu yang menempel di dinding, membuat ruangan loby kantor itu terang. Terang yang sunyi karena hanya mereka berdua saja di kantor ini sekarang


Namun Hani bisa merasakan sekelebat bayang-bayang hitam memandangi mereka berdua dengan misterius,


Dion mengusap-ngusap rambut Hani lalu bergumam"Tak perlu ada yang ditakutkan Hani"


Hani menggelengkan kepalanya " Kurasa ada yang sedang memperhatikan kita, tidakkah kamu merasakannya juga Dion?"


Namun Dion hanya menatap tenang gadis itu lalu merengkuhnya dengan hangat tanpa melepaskan genggaman tangannya


Oh tidak, meskipun aku merasa gundah sebelumnya, Dion memelukku sangat hangat saat ini, rasanya kedua kakiku lemas dan berkeringat, jantungku pun rasanya berdegup sangat keras seperti baru lari sprint seratus meter


Apakah ia bisa mendegarkan gemetaranku ini? Hidungku menempel di kaosnya, mencium harum tubuhnya yang beraroma bunga mawar


Kulit pipiku rasanya bertambah merah dan panas


Mungkinkah aku....


Mungkinkah aku...


Hani mendongakkan kepalanya, "aku sudah tidak apa-apa, bisa lepaskan aku"


Dion tersenyum mengiyakan permintaan Hani, ia melepaskan pelukan dan genggamannya


"Kenapa kamu bawa aku kesini? Dapurnya kan ada di belakang sana! Tadi kamu bilang mau buatkan aku minuman"


Dion berjalan melangkah ke belakang meja resepsionist dimana tempat Maria bekerja seharian di kantor. Ia menarik laci paling bawah , menunjukan pada Hani apa yang ada di dalam laci tersebut . Beberapa pasang sandal busa tipis berwarna cokelat seperti yang Dion pakai saat ini


Bagaimana bisa benda-benda seperti itu ada disana, aneh sekali ? pikir Hani


"Tidak aneh Hani, memang papaku yang menyuruh Maria menaruh sandal-sandal ini di sini supaya aku bisa memakainya, aku menaruh sepatuku di dekat pintu sana Han, kalau tak percaya lihatlah kesana"


Sialan, benar juga sih ini kan kantor milik papanya,ya sesuka hati saja dia mau menyuruh apapun


"Aku mendengarnya Han" ucap Dion berseloroh


"Hah? Apa? kamu dengar apa?"


"Perkataanmu" gumam laki-laki itu


"Aku tidak mengatakan apapun" Hani berusaha mengelak

__ADS_1


"Sialan,benar juga sih ini kan kantor milik papanya, ya sesuka hati saja dia mau menyuruh apapun, begitukan Han?" Dion menirukan persis apa perkataan Hani


"Apa? apa aku mengatakannya keras-keras?" Hani mengernyitkan kedua alis matanya, tak percaya, karena seingatnya ia hanya mengucapkannya di dalam hatinya sendiri


Dion menyeringai,menarik Hani ke kursi yang biasa Maria duduki sebagai resepsionist . Ia sendiri mengambil posisi berjongkok di hadapan Hani


Lalu menarik sebelah kaki gadis itu, memegangi sepatu pantofel cokelat yang dikenakan Hani sekarang


"Mau apa kamu pegang-pegang sepatuku,lepasin "


" Jelek sekali sepatumu, nanti kapan-kapan aku akan meminta papaku supaya membelikan kamu sepatu yang cantik, seperti sepatu milik kakakku"


Hani menutup mulutnya dengan telapak tangannya, berusaha menyembunyikan rasa gelinya


Ha ha ha ha Dion ini laki-laki polos atau kere sih sebenernya, masa mau membelikan sepatu pada seorang gadis saja harus minta papanya! yah tak ada salahnya juga dia minta kepada papanya yang kaya tapi tak usah diucapkan juga bukan?


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Ti....tidak ada ko. hmmmhh.... tadi kalau aku tidak salah dengar, kamu bilang kamu punya kakak?"


"iya, aku punya seorang kakak perempuan" ucapnya sambil melepas sepatu pantofel gadis itu


Dion tersenyum, mengamati jari-jemari kaki gadis itu, jari-jarinya melengkung halus bulat berwarna merah muda


lain halnya dengan yang Hani rasakan sekarang, ia merasa kikuk karena situasi sekarang. ia menggerakan jari-jari kakinya persis di depan wajah Dion seakan meledeknya


"kenapa melihat kaki ku seperti itu? jangan bilang kamu terangsang melihatnya?"


Dion mengangguk lalu tersenyum menyeringai " ya, aku terangsang"


Hani menelan ludahnya


mati aku, apa sih yang sudah aku ucapkan barusan desis Hani


Tanpa Hani tahu dibelakangnya kini, sepasang bola mata tanpa wajah berputar cepat menuju ke arahnya. Pupil mata itu berwarna kelabu dan ada tetesan darah yang keluar setiap bola mata itu berkedip . Dion tahu itu, ia segera mendekatkan wajahnya ke wajah Hani


lalu tatapannya berubah menyeramkan, menakuti sepasang mata misterius yang ada di pundak Hani tanpa Hani ketahui


"kamu kenapa menatapku seperti ini? aku jadi takut " ucap Hani pelan, ujung telunjuknya meremas,memutar sweater Dion yang sekarang melekat di tubuhnya. Setiap takut atau gugup, gadis itu refleks melakukannya


Tatapan mata Dion berubah kembali hangat


"Tidak ada apa-apa, aku hanya bercanda. pakai sandal ini agar kamu lebih nyaman" Dion memakaikan sandal berbusa tipis berwarna cokelat itu ke kedua kaki Hani


"ayo kita ke dapur, tadi aku sudah janji mau buatkan kamu minuman"


Hani bangkit dari kursi yang di dudukinya. Meskipun begitu ia merasa ada yang di sembunyikan Dion darinya


Mereka berdua masuk kembali meninggalkan ruangan lobi, Hani berjalan beberapa langkah di depan Dion menuju dapur


sebelum dinding bermotif atmosfer jupiter itu tertutup sempurna, Dion menoleh ke belakang memastikan agar sepasang bola mata misterius itu tidak mengikutinya

__ADS_1


__ADS_2