Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part27


__ADS_3

Ruangan itu tak sepenuhnya gelap, karena sebagian dibelah oleh sorot cahaya yang masuk. Cahaya itu berasal dari jendela-jendela kaca, menyorot sosok Dion yang tengah duduk di kursinya, melukis di atas sebuah kanvas . Ruangan itu adalah miliknya, tak ada orang lain yang pernah memasukinya bahkan ketika kedua orangtuanya berkunjung ke dunianya, mereka hanya sampai berdiri di sudut pintu ruangan. Ada banyak lukisan yang ditutupi kain putih yang mengelilingi hampir separuh ruangan. Di sudut dinding dekat jendela-jendela kaca, sebuah meja kayu dipenuhi tumpukan kertas-kertas kosong, dan kotak- kotak yang berisi pensil,kuas,cat ,dan arang hitam yang dibuatnya sendiri .


Jari-jari putih pucat laki-laki itu bergerak membuat sketsa gambar seorang gadis. Gadis itu sedang duduk terlelap dalam mimpi dengan sehelai selimut membungkus hangat tubuhnya. Namun lukisan itu belum sempurna, bentuk bibir gadis dalam lukisan itu belum dibuatnya. Dion mengedip dan tersenyum lalu ia memejamkan kedua matanya,mengingat garis-garis bibir Hani, teman masa kecil yang di cintainya, yang kini sudah tumbuh dewasa semakin cantik


🌕🌕🌕🌕


Matahari sudah tenggelam satu jam yang lalu dan diganti langit hitam yang mendung. Hujan mulai turun saat Hani mendorong pintu kaca loby kantor dengan satu tangannya lalu menahannya selama beberapa detik agar Dera dan Maria bisa berjalan keluar. Mereka bertiga sudah janjian akan menginap bersama di kost Dera malam ini. Kost Dera hanya butuh lima belas menit perjalanan dengan berjalan kaki, tetapi kini di depan mereka hujan sudah menyambut mereka


Mereka memutuskan menunggu di depan gedung kantor sampai hujan kiranya mereda


"Mau mandi hujan, teman-teman?" kata Maria menawarkan, ia mengulurkan telapak tangannya menghadap ke langit ,membiarkan tetes-tetes air hujan berjatuhan di kedua telapak tangannya


"No, aku enggak mau sakit" Tolak Dera, ia menggerakkan ujung telunjuknya


Maria memicingkan matanya kepada Hani tetapi Hani juga menggelengkan kepalanya tanda penolakan


Lalu seekor kucing berwarna kelabu dengan pupil mata kuning yang terang menghampiri Hani. Kucing itu langsung menggelung dirinya diantara kedua kaki Hani yang sedang berdiri


meong...meong...meong...meong , kucing itu mengeong


Hani berjongkok lalu menggendongnya di lengannya.


"Kucing manis, kamu kedinginan ya" Tanya Hani pada kucing berwarna kelabu itu.


meong....meong...meong...meong....


"Kamu iri ya karena aku pakai sweater, sayangnya ini bukan punyaku, kalau punyaku sudah pasti kuberikan padamu pus" Hani menggaruk kuping kucing itu


Maria menyeringai sambil memicingkan matanya " sweater itu punya pak Dino kan ?"


"Bukan, sweater ini milik orang lain" jawab Hani


"Masa? bohong nih?"


"Kenapa juga harus bohong, memang sweater ini bukan punya manusia gila itu ko"


"Terus punya siapa?"


"hmmmmhh......" jawab Hani sambil menggigit bibirnya, sedikit ragu untuk memberitahu kedua temannya itu


"Oh jadi ada rahasia nih diantara kita bertiga"


"Baiklah, nanti aku ceritakan kalau kita sampai ke kost Dera, setuju ? tapi ini akan menjadi rahasia kita bertiga saja ok?"


"Setuju" jawab Dera dan Maria hampir bersamaan


🌕🌕🌕🌕

__ADS_1


Hujan masih turun semakin deras.


Ada mobil yang mendekat ke arah mereka. Seperti disengaja oleh si pengemudi mobil , lampu depan mobil itu menyoroti Hani . Lalu kaca pintu mobil di sisi pengemudi terbuka , ada tangan yang melambai ke arah Hani , satu telunjuknya bergerak-gerak seolah memberi kode agar Hani segera masuk ke dalam mobil


"Siapa dia Hani?" Dera bergumam


Hani mengangkat bahunya sama tak tahunya


Lalu kucing itu melompat ke bawah ,terlepas dari pelukan Hani karena kaget dengan suara klakson mobil


Tiinn....Tinnn...Tinnn.... Tinnn......


"Hey, bisa matikan lampu dan klakson mobilnya tuan?" Maria berjalan mendekat sisi pintu mobil dan wajahnya sangat terkejut setelah tahu sosok pengemudi mobil itu


" eh, Pak Dino" ucap Maria terkejut


"Sialan dia lagi" gerutu Hani


Pintu mobil terbuka, Dino berjalan cepat menarik lengan Hani, membawanya masuk ke dalam mobilnya


"Lepasin... aku enggak mau ikut kamu," tolak Hani, namun cengkraman Dino di lengannnya lebih kuat, dengan satu kali tarikan saja membuat gadis itu harus berjalan terseret mengimbangi gerakan kaki Dino .


Maria dan Dera tak bisa berbuat apa-apa, mereka berdua hanya bisa saling menatap dan melihat mobil itu melaju meninggalkan area kantor dalam derasnya air hujan


"Oh tidak, semoga firasat burukku tidak terjadi pada Hani" cemas Dera , ia tampak mondar-mandir sambil memegangi kepalanya


"Kita harus melakukan sesuatu ...." Dera berhenti sebentar


Mereka harus menghubungi seseorang untuk dimintai tolong, tapi siapa? Dera merasa pikirannya buntu


Lalu sebuah nama melintas di kepalanya


" Yah aku tahu, Kita harus menghubunginya , Maria apa kamu tahu nomer ponsel Bu Merlyn?"


"Ada di buku telepon karyawan, tapi kenapa kita malah minta tolong Bu Merlyn ? bagiku dia terlihat sama menyeramkannya dengan Pak Dino"


"Tentu saja mereka sama-sama menyeramkan karena mereka itu sedarah"


"Serius kamu Dera?" kaget Maria tak percaya


"Ayo Maria, tak ada waktu untuk menjelaskan sekarang" Dera masuk kembali ke dalam gedung kantornya menyusul Maria di belakangnya


Mereka harus bergerak cepat,sebelum hal yang lebih buruk menimpa teman mereka


🌕🌕🌕🌕


Dino melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus kegelapan dalam derasnya air hujan.

__ADS_1


"Turunkan kecepatan mobilnya Dino,,, kamu mau kita kecelakaaan, dengar ya aku enggak sudi mati bareng sama manusia gila kayak kamu" Gertak Hani, ia masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Dino di lengannya. Laki-laki itu tak mengindahkan permintaanya , ia malah tertawa keras, meski satu tangannya mencengkram Hani , ia sama sekali tak terlihat sulit mengendarai setir mobil dengan hanya satu tangan


"HA HA HA HA HA HA, coba saja dilepas manis, kamu tidak cukup kuat"


"Salah apa aku sama kamu Hah? Kenapa selalu berbuat kasar terhadapku "


Mobilpun berhenti secara mendadak karena Dino menginjak remnya , kalau bukan karena safety belt yang dikenakan Hani, mungkin saja saat ini kepalanya sudah terbentur mobil


"Kamu mau tahu kenapa? karena ini" Kedua tangan Dino berusaha melepas sweater yang dikenakan Hani sekarang, Ia menarik paksa sweater itu agar lepas dari kepala Hani


" Apa-apaan kamu Dino, jangan gila, kamu mau memperkosaku di sini?"


Dino tidak menjawab, ia semakin tertawa kencang membuat gadis itu takut. Percuma saja, Hani tidak bisa melawannya, tenaga Dino lebih kuat karena ia laki-laki dan lagi posisi mobil mereka berhenti saat ini ada di pinggir jalan yang sepi minim penerangan. Percuma juga Hani berteriak karena suaranya tak akan terdengar, di luar hujan masih turun dengan derasnya


Hani mulai menangis, ia meronta sebisanya


namun Sweater itu akhirnya terlepas dari tubuhnya. Hani menarik nafasnya dalam-dalam, ia memohon dengan menggelengkan kepalanya, kedua tangannya ia silangkan di depan tubuhnya yang hanya berbalut bra.


Bra itu pertahanan terakhirnya , sebelum tubuhnya terlihat lebih jauh lagi di hadapan laki-laki itu. Hani sungguh menyesal kenapa tadi sore ia malah melepas kemeja kantornya dan hanya mengenakan sweater ini


"Jangan Dino kumohon" pinta gadis itu terisak-isak


Namun Dino hanya menatapnya tajam penuh amarah


🌕🌕🌕🌕


Segera Dino membuka kaca jendela mobilnya dan melemparkan jauh-jauh sweater itu, sweater milik Dion kakaknya.


"Apa? kenapa dia malah membuangnya keluar? apa dia mau menghilangkan barang bukti?" cemas Hani di dalam hatinya


tetapi kecemasan Hani salah, selanjutnya Dino mengambil sesuatu di dalam tas kertas yang ada di jok belakang mobil . Tubuh Dino membungkuk sedikit, untuk meraihnya . Setelah dapat, Dino melemparkan sebuah kemeja bermotif kotak berwarna merah ke wajah Hani


"Pakai itu, itu kemejaku"


"......" Hani tak menjawab, mata gadis itu masih basah dan sembab


"Kenapa malah bengong? cepat pakai kemejanya, kemejaku lebih aman kamu pakai, aku tidak akan mengintip, cepatlah nanti kuantar kamu pulang ke rumahmu" suara Dino sedikit membentak, kini ia memalingkan wajahnya tak melihat ke arah Hani


apa-apaan dia? dia tidak ingin menodaiku, dia bertingkah seperti ******** hanya karena aku memakai sweater milik kakaknya,


dia benar-benar sudah gila


"Cepat dipakai, atau aku malah berubah pikiran setelah melihat tubuhmu seperti ini aku ini laki-laki normal tahu"


Hani mengangguk, meski kepalanya dipenuhi banyak sekali pertanyaan tentang laki-laki disampingnya itu, ia dengan cepat memakai kemeja itu, setidaknya ia harus berpakaian untuk menutupi tubuhnya .


Hujan di luar masih belum mereda, angin menggiring dan mengumpulkan awan-awan mendung di lengkungan langit sana. Membuat warna malam semakin gelap dan pekat .

__ADS_1


__ADS_2