
Hani tampak kebingungan saat Dino tiba-tiba merangkulnya sesaat setelah kakinya melangkah keluar dari dapur kantor.
"Kau salah minum obat?" Hani memicingkan matanya,
"Tidak, manis" Dino tersenyum , senyum yang sangat manis , membuat Maria dan Dera saling berbisik. Yah meski terkadang bosnya itu tempramen diluar kendali, ketampanannya sebagai pria tak bisa dilewatkan begitu saja . Wanita manapun pasti akan menerima senyuman manisnya
"Namaku Hani, bukan manis,,, memangnya aku kucing , minggir sana" Hani berusaha melepaskan lengan Dino di bahunya , tapi Dino tak melepaskannya , ia justru merapatkan tubuhnya lebih erat ke tubuh gadis itu
" Ayo ku traktir makan siang" ajak Dino masih dengan senyum yang sama
"Ajak Maria dan Dera juga" jawab Hani
Dino melemparkan pandangan ke dua karyawannya, " Mereka berdua banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, benar kan Maria? Dera?"
Sekarang kedua sikut gadis itu ,bersikutan mereka tahu ucapan bosnya barusan adalah penolakan secara halus
"Engghh Pak Dino benar, kami masih banyak pekerjaan, Hani pergi berdua saja dengan Pak Dino" kata Maria
Maria menarik Dera segera pergi dari sana, sesekali pandangan Dera menoleh ke belakang, sebenarnya dirinya ingin ikut juga, ia ingin berada disamping temannya itu, ia takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Hani
"Baiklah,kita juga pergi manis" Dino meraih telapak tangan Hani,
Hani melotot tak terima , ia berusaha melepaskan genggaman tangan lelaki itu tapi hasilnya sia-sia.
"kau akan aman jika aku terus menggenggammu seperti ini!" Dino menunjukan genggaman tantangan mereka yang menyatu erat di hadapan Hani
sialan, aman apanya? justru aku semakin merasa terancam jika dia menempel terus padaku seperti ini Bathin Hani
🌕🌕🌕🌕
Mereka berdua tiba di lantai satu sebuah mall yang tak jauh dari kantor, karena jam makan siang masih panjang ada banyak outlet makanan yang penuh dan ramai .
Dino masih menggenggam tangan Hani sejak dikantor dan dalam perjalanan mobil tadi, orang-orang yang melihat mereka berpikiran Hani dan Dino adalah sepasang kekasih yang tak rela berpisah. Hani bisa melihatnya dari bisik-bisik dan tatap mata orang-orang yang melihatnya
"Jadi restaurant mana yang akan menjadi makan siang kita, manis"
manis,cih aku ingin mencakar mulutnya itu sekarang, Bathin Hani dalam hatinya, ia tak menjawab pertanyaan Dino
"Di depan sana ada restaurant vegetarian favoritku, mau coba?" Dino menawari Hani masih dengan nada lembut
menyebalkan sekali dia ini,apa sih maunya
__ADS_1
" Kau kan banyak uang, aku bosan di rumah makan sayuran, traktir aku makan steak wagyu lima porsi, bagaimana boss Dino ?" Hani menyeringai
wajah Dino langsung pucat mendengar ucapan gadis itu.
"cih, kau tidak punya uang ya? aku tidak perduli " Hani berjalan menuju restaurant khusus steak di lantai kedua, bibirnya menyunggingkan senyum melihat Dino yang mendadak diam
Mereka berdua sudah duduk di restaurant yang dimaksud. suasana di dalamnya cukup ramai, Dino sengaja memesan meja khusus vip yang tertutup .
seorang waitress memberi buku menu kepada Hani, Hani membacanya sebentar , ia hanya pernah sekali makan steak wagyu saat acara perpisahan teman-teman seangkatan di kampusnya dulu
"Berikan aku menu yang paling mahal di sini sebanyak lima porsi" ucap Hani, ia sedikit mengangkat dagunya
"Medium rare saja" lanjut Hani , ia mengingat tingkat kematangan daging steak yang dulu dimakannya.
waitress itu terdiam sebentar, sebelum akhirnya mencatatnya di note kecil
"Mohon ditunggu beberapa menit, kami akan menyiapkannya segera"
hidangan pun disajikan dengan beberapa pramusaji yang menaruh lima hot plate berisi daging yang masih mengepul asapnya, lalu para pramusaji itu menuangkan brown sauce di atas daging ,kentang dan sayuran.
"terima kasih" ucap Hani , ia melihat saus itu meletup-letup membasahi permukaan daging dan sayuran di pinggirannya
Sesekali pandangan Dino menunduk,kulitnya perlahan berkeringat, rasa mual mulai menyerang pencernaanya, ia berusaha menahan gemetaran di jarinya saat
"Kau benar tidak mau ?" ucap Hani sebelum daging-daging itu masuk ke mulutnya
"tidak, kau makan saja sendiri" Dino melepaskan genggaman tangannya lalu duduk menjauh dari gadis itu
ia menyeka keningnya yang licin karena keringat, udara seakan tak bisa berganti karena hidungnya tak kuat menghirup aroma daging yang memenuhi ruangan.
itu berlangsung sampai Hani menghabiskan tiga porsi steak yang dipesannya, laki-laki itu berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupannya dari Hani
"apa kau akan diam saja di sana, melihatku makan?"
"He he nafsu makanmu bagus sekali Hani, jangan perdulikan aku, habiskan saja makananmu"
Dino berulang kali menyeka peluh di keningnya, wajahnya kini benar-benar pucat, Hani bahkan bisa melihat jelas bagian punggung kemeja yang dipakai laki-laki itu basah karena keringat yang keluar yang terus merembas. Hani menangkap kesan yang tidak disukai Dino dari suasana makan siangnya sekarang
ruangan ini cukup dingin karena pakai ac, dia kenapa ya? apa mungkin dia phobia makan daging? bukankah ini kesempatan bagus untuk menakutinya sekarang? bathin Hani terkekeh
Hani menggeser posisi duduknya mendekat di samping Dino, ia makan dengan tingkah dibuat-buat. Ia menusuk daging dengan garpu lalu mendekatkannya tepat ke wajah Dino
__ADS_1
"ayo ku suapi,buka mulutmu yang lebar ,,,, Aaaaaaa" ucap Hani gemas
Dino tak tahan lagi, ia berlari keluar dari ruangan ke arah toilet , rasa mualnya perlu disalurkan.
"Ha Ha ha .... jadi benar dugaanku, dia phobia makan daging" Hani senang bukan main ,
sesekali, laki-laki itu perlu diberi pelajaran bukan, sekarang aku tahu kelemahannya, gumam Hani
setengah jam sudah berlalu, Hani benar-benar menghabiskan lima porsi steak wagyu seorang diri.
"ah kenyangnya, aku seperti sedang pesta "
seorang pelayan wanita masuk ke ruangan disusul beberapa pelayan lain yang mengangkut semua hot plate dan gelas minuman di atas meja. Hani berdiri, bergegas hendak meninggalkan ruangan. namun dicegah dengan selembar bill yang disodorkan pelayan wanita itu
"Billnya nona,"
"Sialan, orang itu belum juga kembali ke sini , dompetku juga ketinggalan di kantor lagi" gerutu Hani
"bagaimana nona, pembayarannya mau diselesaikan ?"
"Tunggu ya mbak, saya ke toilet sebentar. tenang saya ga akan kabur ko"
🌕🌕🌕🌕
Hani mencari keberadaan Dino di lorong menuju toilet, dia tak ada disana
"apa mungkin dia masih ada didalam toilet?"
sejenak Hani ragu untuk masuk ke dalam toilet pria, tangannya masih diam memegang kenop pintu toilet,
"ah sudahlah, aku terpaksa daripada aku dituntut restaurant dan masuk penjara nanti"
di dalam toilet tidak ada orang lain lagi yang Hani lihat selain Dino yang terlihat berantakan. laki-laki itu duduk di lantai, bersandar pada pintu kamar mandi paling ujung yang terbuka. air dari keran wastafel dibiarkan menyala sampai meluber menggenangi lantai.
Hani menghampiri Dino . Laki-laki itu setengah sadar, rambut,wajah dan pakaian yang dikenakannya sebagian basah
"kamu baik-baik saja Dino?" tanya Hani cemas ia melihat ada air mata yang jatuh dari kedua pipi laki-laki yang dibencinya itu.
Dino menangis karena phobianya, apa dia benar-benar sangat ketakutan Bathin Hani tiba-tiba saja ia jadi merasa bersalah
"Maaf Dino, aku minta maaf"
__ADS_1
Dino membuka matanya , ia tersenyum mendengar permintaan maaf Hani yang terdengar tulus. Lalu laki-laki itu menarik gadis itu ke dalam pelukannya
entah apa yang kurasakan saat ini? meski tubuhnya basah aku merasa pelukannya begitu hangat, perasaanku seperti terhubung dengannya, perasaan ini, perasaan yang pernah aku rasakan di masa lalu ungkap Hani di dalam hatinya