Tumbal Lukisan

Tumbal Lukisan
part29


__ADS_3

Di dalam kamarnya , Dion melirik ke jendela-jendela kamarnya yang beberapa saat lalu Hani tutupi dengan alasan tak baik membiarkan angin malam masuk ke kamarnya dan kini mereka berdua duduk bersama dengan posisi punggung Dion membelakangi Hani. Gadis itu sedang menggunting kaos yang dikenakannya dari bawah sampai ke kerah kaos lalu gunting itu bergerak lagi membelah bagian lengan sampai kaos yang dikenakannya lepas sempurna


Hani menarik nafasnya dalam-dalam, luka itu cukup dalam terlihat jelas oleh matanya jaringan pembuluh darah itu tersayat , membuat aliran darah merembas keluar


"Kita pergi ke rumah sakit saja ya, aku tidak yakin aku bisa melakukannya" ucap Hani terus terang. Ia bukan tamatan medis yang ahli dalam menjahit luka , bahkan menjahit sarung bantal yang robek pun ia jahit asal-asalan


"Aku yakin kamu bisa Han, tolonglah aku , aku tidak mau menemui dokter"


Lalu Hani terkejut dengan sebuah kotak persegi panjang yang disodorkan Dion, kotak itu berisi peralatan hecting set untuk merawat luka. Hani hanya tahu benda benda berwarna silver itu seperti gunting dan pinset dengan berbagai bentuk. Benang, gulungan kain kasa, bethadine dan beberapa botol cairan yang Hani tidak tahu apa namanya


Dion punya ini semua dan aku mungkin dirumahku hanya ada satu botol kecil bethadine dan beberapa lembar hansaplast saja


Hani mendengarkan arahan dari mulut Dion cara menggunakan alat-alat itu


"Baiklah, kalau ada malpraktek jangan pernah tuntut aku ya" bisik Hani sebelum ia memulainya


Dion mengangguk menjawab " tenang saja"


Gadis itu berusaha meredam rasa gemetar di jari-jarinya saat menyentuh tepi luka di punggung Dion. Ia bisa merasakan kulit tubuh laki-laki ini sangat dingin, ia berpikir mungkin akibat kehujanan tadi


"Siap, tahan sakitnya ya?" Ucap Hani seperti perawat yang siap melakukan operasi kecil pada pasiennya


Pertama-tama jaringan luka didisinfektasi dengan cairan bethadine lalu dibersihkan dengan cairan perhydrol lalu dibilas dengan cairan NacI . Hani tampak berusaha berkonsentrasi penuh melakukannya , ia memegang kulit pada tepi luka dengan sarung tangan lalu jarum itu ditembuskan pada sisi jaringan kulit kemudian ia membuat simpul benang dari benang plain catgut setelah jarum ditembuskan , ia menjahit dengan sangat hati-hati. Wajahnya berkeringat karena ini pengalaman pertamanya


Setelah selesai menjahit ia membungkus luka di punggung dan di lengan Dion dengan kain kasa.


"Huuftt selesai" Hani menyeka keringat di dahinya


"kamu tidak merasa kesakitan?" Hani bertanya cemas


Dion tersenyum lemah, ia menggelengkan kepalanya lalu menaruh telapak tangannya di rambut gadis itu


"tidak ,aku tidak merasa sakit, terima kasih ya Hani"


"aku enggak habis pikir sama kelakuan adikmu itu, kalian itu saudara kembar ,wajah kalian saja mirip tapi kelakuan dia udah kayak orang kesurupan dan kamu , sikapmu jauh sekali dengannya,"


"memang aku bersikap seperti apa Han?" tanya Dion tersenyum menggodanya, entah kenapa Hani jadi salah tingkah sendiri dengan pertanyaan itu , pipinya kini memerah


"yah, pokoknya kamu tuh,.sikap kamu itu lebih sopan dari si berengsek gila itu"


Dion tertawa lemah "begitu ya?"


"kamu enggak keberatan kan aku sebut dia berengsek gila? kalau bukan berengsek apa namanya coba, lihat kamu sampai luka parah seperti ini, harusnya kamu lapor polisi atau bilang kejadian ini sama orangtuamu Dion"


Dion menggelengkan kepalanya " adikku itu orang yang sangat baik Han, semua ini terjadi karena ulahku yang menyakiti hatinya"


masa sih? seingatku kamu saja tidak pernah meninggikan nada suaramu saat berbicara

__ADS_1


"aku sudah mengambil seorang gadis yang berharga dari sisinya"


sekarang Hani mulai mengerti kepingan teka-teki ini ,


"maksudnya Zara?"


"kamu tahu Zara , Han?"


Hani mengangguk " iya aku pernah bertemu dengannya sekali di alun-alun dekat kantor"


Dion menatap Hani dengan ekpresi yang Hani sendiri tidak mengerti , ia bangkit berdiri lalu berjalan membuka lemari besi di ujung kamar dekat jendela , memakaikan tubuhnya kaos dan jaket lalu berkata


"ayok Hani, kuantar kamu pulang"


"tapi kamu kan masih sakit"


Dion menarik lembut tangan Hani membantunya berdiri " aku sudah merasa baikan berkat kamu Han"


🌕🌕🌕🌕


Sepanjang perjalanan menuju rumah Hani, dia terus berbicara di dalam hatinya , mengenai Zara, Dion, dan Dino. Ia menebak-nebak


mungkin awalnya Dino dan Zara adalah sepasang kekasih lalu Dion merebutnya, apa seperti itu? seperti kisah cinta segitiga yang banyak orang lain alami? tetapi kenapa aku harus terlibat juga dalam pertikaian mereka?


Seolah suara hati Hani dapat didengar telinga Dion, laki-laki itu menghentikan langkah kakinya, ia membungkukkan sedikit tubuhnya menatap wajah gadis itu dengan senyuman lalu mencubit kecil hidung Hani


"kamu cemburu Han?" tanyanya


"jujur saja?"


"enggak ko, kamu jadi orang jangan kepedean, aku enggak cemburu dengan Zara ko" meski Hani berkata begitu, warna pipinya menunjukan hal yang sebaliknya , pipinya masih bersemu merah


lalu kenapa kau bilang tadi kau mengambilnya? apa alasannya? apa yang sudah terjadi sebenarnya?


"hubunganku dengan Zara tidak seperti yang kamu bayangkan Han, aku tidak menyukai gadis itu sedikitpun"


"kalau begitu siapa gadis yang kamu sukai" Hani blak-blakan bertanya, ia tak bisa menahannya lagi


"......." Dion tak menjawabnya, ia berjalan beberapa langkah di depan Hani, wajahnya nampak bahagia memandang langit di atasnya sekarang. langit sudah tak mendung seperti tadi, kini di atasnya bintang-bintang nampak berkelap-kelip di lengkungan langit sana


Hani menyusulnya, ia semakin penasaran


"kenapa enggak dijawab? ahh aku tahu dia teman kecilmu itu kan?" tebak Hani


Dion tersenyum menjawab " ya, dia teman kecilku, sejak dulu perasaanku tak berubah terhadapnya"


"tuh kan benar, kalau boleh tahu siapa namanya?"

__ADS_1


"ra....."


"ra...." mulut Hani terbuka mengikuti ucapan Dion


" Rani? Rara, Ratu , Raline, Ratih, siapa-siapa?" cecar Hani penasaran


Dion tertawa " Ra....Hasia dong"


HA HA HA HA HA HA HA .....


"ih enggak lucu tahu" Hani mendelik sebal melihat Dion


Dion mengacak-ngacak gemas rambut Hani


aku tidak akan mengatakannya Hani, sampai kamu sendiri menemukan nama gadis yang aku sukai itu , gumam laki-laki itu di dalam hatinya


🌕🌕🌕🌕


Ketika mereka berdua memasuki jalan menuju rumah Hani, listrik mendadak padam


"Heran deh, kenapa sering banget mati lampu sih?" Hani mencari ponsel di dalam tasnya


tanpa Hani tahu, dalam kegelapan Dion tersenyum geli, karena itu semua adalah perbuatannya


"oh iya, aku dari kemarin ingin menanyakannya sampai lupa terus, aku minta nomer ponselmu ya, biar kita lebih gampang berkomunikasi"


Dion diam sebentar, ia tampak mencari alasan untuk pertanyaan itu


"tidak usah pakai ponsel pun, aku akan menemuimu setiap hari"


"oh,terima kasih aku merasa tersanjung tapi aku juga perlu nomer ponselmu Dion"


"aku tidak punya benda seperti yang kamu pegang itu"


"Apaaa? kamu enggak punya? kamu hidup di dunia mana sih? ponsel itu penting banget di zaman modern sekarang ini"


Dion mengambil ponsel milik Hani lalu mengamatinya, ia dengan wajah polosnya membolak balik benda itu ditangannya


"apa ini sama dengan telepon rumah?" tanya Dion


"yah meski prinsipnya sama tetapi perbedaanya adalah kalau telepon rumah ada kabelnya, kalau ponsel tidak perlu pakai kabel, lihat ini ... ini namanya smartphone artinya ponsel pintar, selain telponan kita bisa sms , berselancar pakai internet, selfie pakai kamera, dan masih banyak lagi, contohnya pakai senter ini untuk menerangi jalan"


Dion tak menyahutnya, ia melihat takjub benda berbentuk persegi panjang itu bercahaya


"kamu serius enggak punya ponsel?"


"aku memang tidak punya, aku juga tidak butuh benda itu,.masuklah ke rumah Han, aku juga mau pulang" Dion mengembalikan ponsel milik Hani ke pemiliknya , ia terlihat sedikit merajuk lalu berjalan pergi meninggalkan rumah Hani

__ADS_1


"hey, apa dia marah terhadapku hanya karena ini, tapi aneh sekali bukan, di zaman canggih seperti sekarang dia tidak memilikinya, apalagi papanya punya perusahaan , jelas kalau masalahnya uang itu tidak masuk akal"


Ketika Hani sedang memutar kunci pintu rumahnya, listrik di perkampungan kembali menyala bercahaya


__ADS_2