
"Bangun Hani...Hani....Hani....bangun, ko bisa tidur di sini sih?" Maria mengguncang-guncang bahu Hani
"hemmmmhhh....." tubuh Hani menggeliat, perlahan kedua matanya terbuka
"Ya ampun Hani, kamu menginap semalaman di kantor ya ish...ish.." Maria bertanya
Hani mengangguk, mengiyakan pertanyaan Maria. Ia melihat jam di dinding , sudah pukul 08.30 pagi rupanya . Beberapa karyawan yang lain sudah mulai siap-siap untuk bekerja , Dera masuk ke ruangan dapur menaruh minuman favoritnya di kulkas, ia melihat Hani dan Maria di sana
"Jadi semalam kamu enggak pulang Han? kamu lembur sampai jam berapa?" Tanya Dera
"iya, sebenarnya pekerjaanku udah selesai jam sepuluh malamlah kira-kira, tapi semalam turun hujan dan seingatku aku lagi nungguin teh manis untukku..eh" Hani mengusap lehernya, matanya melirik ke sisi meja, sebuah gelas berisi teh ada disana masih utuh ,namun teh itu sudah dingin .
"Ini selimut punyamu Hani? indahnya...lembut dan harum bunga mawar seperti gambarnya" Maria menarik selimut itu lalu menciuminya
"Ini bukan punyaku,Maria"
mungkinkah selimut dan bantal ini punya Dion? apa dia menungguiku semalaman ya?
"Ini punya Di...." Belum sempat Hani berkata, tiba-tiba Dino datang dan menarik selimut itu
"Kembalikan, ini bukan punyamu kan" Katanya dengan nada membentak
Maria dan Dera saling bertukar pandang
Dino menggulung sembarang selimut itu lalu menyeretnya dan satu tangannya menjinjing bantal , lalu pergi meninggalkan ruangan dapur, sampai diambang pintu ia menolehkan kepalanya ke belakang menatap tajam Hani lalu satu kakinya menendang pintu dengan keras seolah memberi kode peringatan bahaya pada Hani
"Berengsek, pagi-pagi udah cari ribut aja sih, kalau bukan karena dia..."
"Kalau bukan karena dia pacarku , aku akan menciumnya, ya kan , itu yang mau kamu ucapkan Hani" Ucap Maria , sikutnya menyenggol-nyenggol lengan Hani
Dera tersenyum, " Jadi ini alasanmu ya tidak bisa menginap di kostku semalam? kamu dan Dino lembur bersama"
"Oh ayolah teman-teman, aku tidak ada hubungan dengan ******** gila itu, sudah ah aku mau ke atas mau lanjut kerja" Geram Hani , gadis itu meninggalkan Dera dan Maria yang sedang meledeknya
" Hoi, Hani .... kamu belum mandi dan ganti pakaian loh" kata Maria setengah berteriak
"Biarin"
"Apa perlu aku bilang sama pak Dino kamu butuh bantuan?"
__ADS_1
" Awas kalian, aku tidak mau berteman dengan kalian berdua lagi" Hani menendang pintu kaca ruangan di dapur lalu berjalan pergi
"Lihat sifat mereka berdua sangat mirip kan, seperti kucing dan tikus yang selalu bertengkar setiap bertemu tetapi di balik itu mereka saling mengagumi, benar kan dugaanku Dera? " Maria berceloteh
"Mungkin saja tapi sebaiknya itu tidak terjadi" Dera menggelengkan kepalanya tanda tak setuju
"Kenapa? Jangan-jangan kamu juga naksir sama pak Dino ya?"
"Bukan,, aku hanya merasa ada yang janggal. Kamu ingat tunangan pak Dino yang bernama Zara itu? "
"oh iya, tapi dia kan sudah kabur entah kemana"
"Tidak Maria, aku yakin sekali Zara tidak kabur, dia mungkin menghilang"
"Menghilang bagaimana maksudnya?"
"Kamu ingat tidak saat acara gathering family kantor di puncak, Zara menghilang dan tak kembali lagi"
" Ya aku ingat, saat itu bertepatan saat pak Dino mau melamarnya di depan semua karyawan kantor kan tetapi dia tidak muncul-muncul juga disana ?"
"Itu dia Maria , aku yakin sekali dia menghilang, dia sangat mencintai pak Dino tidak mungkin dia kabur begitu saja"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
" Aku tahu ini karena pernah bertemu dengan kedua orangtua Zara , sampai saat ini mereka diam-diam terus mencari Zara dan mencurigai beberapa orang " Dera menambahkan penjelasannya
"Kamu bikin aku merinding tau" Maria mengelus dan menggosok lengannya sendiri
Tanpa mereka berdua menyadarinya, seseorang dalam bayang-bayang hitam telah mendengar percakapan mereka sejak tadi. Sosok itu lalu tersenyum menyeringai lalu berkata " Tunggu saja kalian berdua juga akan segera menyusul Zara"
🌕🌕🌕🌕
Kedatangan Hani di ruangan kerjanya sudah disambut Nana dan Merlyn. Merlyn duduk anggun di pinggiran meja kerja Hani , kedua tangannya ia tangkupkan pada kakinya yang duduk menyilang. Hari ini Merlyn mengenakan setelan kemeja polos hijau tua dan celana kulot hitam bergaris. Rambutnya diikat kuncir kuda .
"Sudah bangun Hani? maaf ya membuatmu sampai lembur semalaman di kantor" Sapa Merlyn ramah, ada senyum simpul di bibirnya yang merah berkilau
"ah, ya bu , saya yang seharusnya minta maaf" Hani menundukkan sedikit kepalanya
" Tidak apa-apa Hani, kemarilah masuk ke ruanganku, ada yang mau aku bicarakan berdua saja" Merlyn turun dari meja lalu berjalan menuju ruangannya, menyusul Hani di belakangnya
__ADS_1
Ruangan kerja Merlyn cukup besar, ada sebuah sofa panjang di sudut ruangan itu. Satu tembok di bagian lainnya dihabiskan untuk rak-rak besar yang penuh dengan buku-buku tebal, dan tembok yang lain diisi nakas kayu berisi lilin-lilin berwarna merah yang berjejeran tak menyala. Ada juga beberapa cangkir bermotif lukisan yang digantung secara miring.
"Silahkan duduk Hani" ucap Merlyn, dirinya pun duduk di kursinya , ia memutar kursinya dengan gerakan bahunya
Hani mengamati seisi ruangan itu, beberapa patung kayu dengan mata bolong dan mulut yang menganga di paku sejajar di dekat jendela , kemudian matanya berpindah pada
Tiga tangkai mawar segar yang ditaruh di vas kaca di atas meja kerja Merlyn.
"Baiklah, saya akan langsung kepada intinya saja ya Hani" Merlyn berkata, kini kedua sikutnya ia tempelkan di mejannya
Hani menggigit-gigit bibirnya sedikit cemas
"Aku sudah dengar rumor yang terjadi di kantor ini, Apa kamu sedang menjalin hubungan dengan adikku Dino?"
Hani terenyak dengan pertanyaan itu, apa-apaan ini? pikirnya gusar. Tidak pernah dan tidak akan mungkin dirinya menjalin hubungan cinta dengan manusia gila itu. Jelas tidak mungkin. tapi tunggu kenapa Bu Merlyn bilang kalau Dino itu adiknya? apakah dia kakaknya ?
" Maaf bu, saya tidak punya hubungan apapun dengan pak Dino, hanya sebuah kesalahpahaman saja. Mohon maafkan saya"
Merlyn tersenyum mendengarnya
" Atau kamu lebih menyukai adikku yang satunya lagi ? dengan Dion?"
Hani menggeleng, mengernyitkan alisnya
"Hmmhh... saya dan Dion hanya berteman, tidak lebih dari itu Bu Merlyn" ujarnya ,meski belakangan ini ia mengakui ia merasa nyaman setiap dekat dengan Dion
" Jadi siapa yang akan kamu pilih nantinya Hani?" Merlyn masih mencecarnya , tidak puas dengan jawaban Hani sebelumnya
Hani diam tidak menjawab. Ia sendiri merasa bingung ,kedua lelaki itu belum pernah menyatakan cinta untuknya, jadi kenapa dia harus menentukan salah satu dari mereka
Merlyn menarik nafasnya, " Hani, aku tahu keduanya adalah adikku yang sangat aku sayangi. Tapi aku lebih menjagokan Dion, karena Dia lebih tulus menyayangimu "
" ....."
"Baiklah tidak usah dipikirkan sekarang , kamu bisa mempertimbangkannya matang-matang , ya Hani. Sekarang kembalilah bekerja ke mejamu"
"Baik bu"
Mendadak kepalanya mulai berdenyut
__ADS_1
apakah aku sedang menuju kisah cinderella dimana aku si gadis biasa-biasa saja kini mendadak ditaksir pangeran kaya raya bahkan dua pangeran sekaligus? tidak Hani kau tidak boleh banyak mengkhayal karena kisah cinderella itu hanyalah dongeng
aku ini hanya seonggok pasir biasa di pantai, yang keadaanya bisa dipungut dan di buang sesuka hati, aku bukanlah mutiara , aku hanya pasir pantai yang terinjak-injak orang lain dan hanyut terbawa ombak .Dan siapakah pangeran yang mau membawa pasir pantai ke dalam istananya ? jawabannya tentu saja tidak ada.